Welcome

Sabtu, 16 April 2011

Darkness eyes




Kelima member DBSK duduk di hadapan hakim dengan ekspresi berbeda-beda, namun intinya mereka semua sedang merasa tegang. Junsu menundukkan wajahnya dengan menahan air mata, Jaejoong menatap tajam ke arah juru bicara SM, Yunho hanya menggigiti jempolnya dan terlihat menyembunyikan kegelisahan, sementara Yoochun dan Changmin sudah berlinang air mata dan mereka sama sekali tak bisa mengeluarkan suara.
“Kami menyuruh mereka bekerja keras agar fans mereka bertambah banyak, agar mereka jadi semakin terkenal.” Jelas jubir SM.

“Tapi caramu salah. Setiap penjualan album mereka, kau mematok harus berapa banyak yang terjual, baru kau memberi mereka imbalan. Sedangkan jika jumlah yang terjual itu tidak sesuai kehendakmu, mereka tidak dapat apa-apa. Itu sama saja kau mengeksploitasi mereka!” kuasa hukum DBSK mulai mengambil pembelaan.

“Loh? Perkara itu sudah tertera dalam kontrak, dan mereka berlima sudah menandatanganinya di atas materai, jadi kami tidak bisa dituntut atas tuduhan itu.”

“Tapi bagaimana caramu menjelaskan kenapa kau memaksa mereka bekerja sampai-sampai mereka hanya punya waktu 2 jam untuk tidur dalam sehari? Kau kira mereka itu robot yang bisa kau suruh-suruh tanpa kau beri makan, hah?”

“Selama ini mereka bekerja keras karena memang sedang banyak tawaran untuk mereka. Selama tawaran mengalir dari sana-sini, mana mungkin kami melewatkan kesempatan untuk menerimanya?”

“Kalian memang tamak! Kalian hanya memikirkan kesenangan kalian!” Jaejoong tiba-tiba menyela. Api kemarahan berkobar di matanya.

“Heh dengar ya, kalian berlima itu tidak akan pernah jadi siapa-siapa kalau bukan kami yang menemukan bakat kalian. Seharusnya kalian berterima kasih pada kami karena kami sudah membuat kalian sukses. Kurang ajar sekali kalian sampai menuntut kami seperti ini.”

“Selama bertahun-tahun kami bertahan, sekarang kami sudah lelah. Sebenarnya, selama ini semuanya kami lakukan untuk FANS! Kalau kami melakukannya untuk diri kami sendiri, sudah lama kami akan mengakhiri kontrak kerja dengan KALIAN!!” Jaejoong semakin marah.

“Di mana rasa berterima kasihmu?!” seorang produser eksekutif mulai berdiri.

“Berterima kasih untuk apa?!” Junsu bangkit. “Untuk keegoisan kalian? Untuk ketamakan kalian? Atau, untuk kontrak merugikan yang sengaja kalian buat untuk memanfaatkan kami?”

“Kami tidak pernah memanfaatkan kalian! Kami justru mengangkat nama kalian!”

“Lalu kenapa kami hanya menerima kurang dari 10% dari setiap hasil kerja kami? Kalian kira kami tidak lelah? Kalian kira kami tak ingin menikmati hasil kerja keras kami…?” Yoochun ikut menyambung. Suasana hening untuk beberapa saat.

“Itu karena target yang kami tetapkan tidak berhasil kalian kejar.” 

“Tapi kau tidak pernah membicarakan tentang target itu dari awal! Kau seenaknya mengatakan pada kami tentang target sialmu itu saat konser sudah selesai!” Jaejoong menendang meja di depannya dan berlalu meninggalkan ruang persidangan. Semua yang hadir menjadi semakin tegang saat sosok Jaejoong benar-benar menghilang dari ruangan itu.

“Kalian semua pecundang!” Junsu menyusul Jaejoong meninggalkan ruangan.

“Aku benci SM!” sambung Yoochun yang berlari mengejar Junsu.

Hakim ketua tampak kehabisan akal untuk mengatasi masalah ini. “Sidang ditunda 30 menit.” Katanya sambil mengetokkan palu.

***

“Kau mau ke mana, hyung?” tanya Junsu sambil berusaha tidak menghalangi Jaejoong yang tengah mengemasi barang-barangnya ke dalam koper.

“Aku mau pulang saja.” Jawab Jaejoong datar sambil terus mengangkut barang-barangnya.

“Pulang ke mana?”

“Ke rumah ibuku.” Jaejoong menggendong tas dan menyeret kopernya keluar dari apartment.

“Kau mau meninggalkan kami, hyung?” tanya Yoochun yang baru sampai di ruang tamu. Jaejoong tidak menjawab, dia malah sibuk mencari kunci mobil dan setelah itu melesat keluar tanpa menghiraukan Junsu dan Yoochun.

Saat sampai di mobil, Jaejoong langsung memuat kopernya dan setelah itu masuk ke dalam mobil. Dia menginjak gas sekaligus dan dalam sekejap mobilnya hilang di tikungan. Jujur saja, saat itu dia ingin menangis. Berdebat dengan SM adalah hal yang paling membuatnya muak. Dia menyesal pernah mengikuti audisi itu. Kalau tahu akan begini akhirnya, lebih baik dia tak pernah menjadi siapa-siapa. Mungkin keadaannya akan jauh lebih baik.

Sepanjang jalan ia mengingat segala hal yang pernah dijanjikan SM saat pertama kali mereka mengangkatnya sebagai asuhan. Mereka akan memberinya rumah, mobil, bahkan beberapa barang berharga seperti emas dan baju-baju bagus. Namun pada kenyataannya, Jaejoong tidak pernah menikmati apa-apa. Dia hanya mendapatkan kurang dari 10% dari hasil jerih payahnya. Sungguh, dia ingin mengobrak-abrik gedung SM, membakarnya sekaligus kalau perlu.

Jaejoong menghempaskan tubuhnya ke sofa saat dia sampai di rumah Hana. Kekasihnya yang satu itu langsung menyiapkan minuman hangat untuk Jaejoong.

“Mereka semua brengsek!” omel Jaejoong sambil menggebrak meja. “Aku sudah berusaha untuk sabar menghadapi sikap serakah mereka, tapi kali ini semuanya sudah keterlaluan! Mereka menjadikan kami berlima sebagai budak!”

“Lalu kenapa kau tidak ajak keempat member lain untuk keluar dari SM?” tanya Hana.

“Tidak semudah itu, Hana! Kami masih terikat kontrak selama dua tahun lagi. Dan kami sudah menandatangani surat perjanjian itu.”

“Kenapa waktu itu kau menandatanganinya?”

“Karena aku tidak tahu kalau mereka menyimpan banyak kepalsuan dalam surat itu. Sudahlah, kau bukannya membantuku, malah menyalahkanku.”

“Lalu kau ingin aku bagaimana?”

Jaejoong tidak menjawab, dia hanya memberikan tatapan sinis pada Hana. “Urusi saja tugas-tugas kuliahmu itu.” Ucap Jaejoong sambil beranjak pergi.

“Oppa!” Hana berusaha mengejar, namun Jaejoong tidak menghiraukannya. “Oppa! Kenapa kau jadi marah padaku? Memangnya aku salah apa?!” teriak Hana.

Jaejoong tetap tidak menoleh. Dia beranjak masuk ke mobil dan meninggalkan rumah Hana dengan hembusan napas penuh kemarahan. Percuma saja bicara dengan wanita itu. Seharusnya dia tahu kalau Hana tidak akan bisa membantunya. Saat ini, satu-satunya yang bisa membantunya menyelesaikan masalah ini hanyalah dirinya sendiri.

Di saat Jaejoong tengah menyetir tak tentu arah dan tujuan, ponselnya berbunyi. Dia melihat nama Yunho di layar ponselnya.

“Apa lagi?!” bentak Jaejoong kasar.

“Kau di mana? Kau harus kembali ke studio sekarang!”

“Aku tidak akan pernah kembali ke neraka itu!” Jaejoong mengakhiri sambungan dan langsung melempar ponselnya ke jok sebelah. Ia tidak peduli kalaupun itu menyangkut kepentingannya, ia tetap tidak akan pernah kembali ke studio. Ia sudah muak dengan semua itu.

***

Keempat member DBSK tengah duduk di ruang secretariat SM. sidang telah selesai, dan pihak SM berhasil memenangkannya. Akibat dari kemenangan itu, para member DBSK tidak bisa melepas kontrak begitu saja. Kalau mereka lari, maka SM yang akan mengajukan tuntutan kepada hakim. Dan sudah pasti, mereka tidak akan selamat.

“Di mana anak itu?” tanya manager.

“Aku sudah menghubunginya, tapi dia tidak mau ke sini. Dia juga tidak memberitahu ada di mana dia sekarang.” Jelas Yunho.

“Mungkin Jaejoong hyung pulang ke rumah ibunya.” Jawab Junsu.

“Kalau begitu, tolong kau dan Changmin cari ke sana.” Perintah manager.

“Kenapa harus kami?” Changmin memprotes.

“Jangan banyak tanya! Sudah, laksanakan saja!”

Akhirnya Changmin dan Junsu hanya bisa menurut. Mereka pun beranjak ke rumah keluarga Jaejoong. Butuh 1 jam perjalanan untuk sampai di sana.

“Jaejoong hyung merepotkan saja!” gerutu Changmin sambil mempercepat laju mobilnya.

“Aku takut Jaejoong hyung tidak ada di sana.” Ucap Junsu.

“Loh? Bukannya tadi kau sendiri yang mengatakan bahwa Jaejoong hyung pulang ke rumah ibunya? Kenapa sekarang kau jadi tidak yakin?”

“Aku juga tidak tahu. Aku hanya takut Jaejoong hyung ternyata pergi ke suatu tempat yang sangat jauh. Tempat di mana kita tidak bisa menemukannya, kecuali dia memberitahu kita.”

“Tapi untuk apa dia pergi ke tempat yang jauh seperti itu?”

“Tentu saja untuk menghindari panggilan SM. aku yakin, orang seperti Jaejoong hyung pasti akan tetap mempertahankan keputusannya sampai akhir. Serajin apapun kita memaksanya kembali, dia tidak akan pernah menurut.”

Changmin hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dan setelah itu, sepanjang perjalanan mereka terlarut dalam pikirannya masing-masing.

Ketika sampai di rumah keluarga Jaejoong, mereka turun dan mengetuk pintu. Tak lama pintu dibuka oleh seorang wanita yang kira-kira berusia 28 tahun. mungkin itu kakak perempuan Jaejoong. Tapi setelah ditanya, sesuai dugaan Junsu, Jaejoong tidak ada di sana. Pihak keluarganya malah tidak tahu-menahu mengenai konflik antara DBSK dan SM. mereka juga mengatakan bahwa terakhir kali Jaejoong pulang ke sana adalah enam bulan yang lalu. Namun Junsu dan Changmin tidak menyerah. Mereka pergi ke rumah Hana, siapa tahu Jaejoong ada di sana.

“Tadi dia memang ke sini.” Ucap Hana saat Junsu dan Changmin datang.

“Lalu dia pergi ke mana setelah dari rumahmu?” tanya Changmin.

“Aku tidak tahu. Dia marah dan menganggap bahwa aku telah menyalahkannya, setelah itu dia tak mau mengangkat teleponku. Oppa, kalau kalian menemukannya, beritahu aku, ya? Aku khawatir dengan keadaan Jaejoong oppa.”

“Ya sudah, nanti kami kabari kau lagi. Sekarang kami pergi dulu. Terima kasih atas informasinya ya, Hana?” Changmin melambaikan tangan sebelum akhirnya melesat bersama Junsu untuk kembali ke studio. Pencarian mereka untuk menemukan Jaejoong tidak berhasil.

***

“Tidak akan ada yang bisa menemukanku di sini.” Ucap Jaejoong sambil menghempaskan tubuhnya pada kasur yang empuk. Ia telah ada di Jepang, tepatnya di sebuah hotel di kota Fukuoka. Saat ia melirik ponselnya, ada banyak panggilan dari Hana yang tidak dijawabnya. Ia pasti sedang tidak menyadari panggilan itu, makanya ia tidak menjawab.

Jaejoong bermaksud untuk menekan nomor Hana dan menghubunginya, namun tak jadi saat ia mendengar pintu kamarnya terbuka. Seorang pria dengan jas mewah masuk. Jaejoong tidak mengenal pria itu, yang jelas pria itu sudah berhasil membuatnya kesal karena sudah masuk seenaknya ke kamar ini.

“Siapa kau?! Berani-beraninya kau masuk tanpa permisi! Keluar kau sekarang juga!” bentak Jaejoong sambil menatap pria itu dengan sinis.

“Hei, hei, santai dulu, Kim Jaejoong.” Kata pria itu. Jaejoong terdiam. “Perkenalkan, namaku Lee Heejin. Aku adalah produser eksekutif sebuah rumah produksi terbesar di Asia. Kalau kau mau bergabung denganku, kau akan mendapatkan uang beratus-ratus dollar setiap bulannya.”

“Aku tidak ada waktu untuk mendengarkan tawaranmu itu. Sekarang cepat keluarlah dari kamarku!”

“Baik, baik, aku akan pergi. Ini kartu namaku. Kalau sewaktu-waktu kau berubah pikiran, aku akan siap menerimamu kapanpun kau mau. Selamat sore!” pria itu keluar diikuti dua pengawalnya. Jaejoong menatap kartu nama yang ditaruh pria itu di atas meja. 

“Siapa peduli dengan benda tak berguna ini?!” sinis Jaejoong seraya melemparkan kartu nama itu ke tempat sampah. Ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mulai memejamkan mata. Tapi dering ponsel membuatnya tak jadi memasuki alam mimpi. Jaejoong meraba-raba di bawah bantal dan melihat nama Yoochun di layar ponselnya. Ia pun memutuskan untuk mengangkatnya. “Aku baik-baik saja.” Ucap Jaejoong tanpa menunggu Yoochun menyapanya.

“Kau di mana, hyung? Kami semua sangat mencemaskanmu.” Suara Junsu yang terdengar.

“Kau tak perlu tahu aku di mana, yang jelas aku baik-baik saja.”

“Oppa…” itu suara Hana. Jaejoong segera bangun dari posisi tidurnya.

“Hana?! Kau ada bersama mereka?” 

“Ya, oppa. Aku sangat mencemaskanmu. Kau pulanglah, jangan menghilang seperti ini.”

“Maaf, aku tidak bisa pulang ke sana dalam waktu dekat ini.”

“Keadaan di sini semakin gawat, hyung! Kalau kau tidak kembali, maka habislah kita.” Yoochun baru berbicara.

“Gawat bagaimana?”

“Sidang itu dimenangkan SM, dan kita terikat kontrak eksklusif selama 2 tahun dengan mereka. Kalau kau tidak pulang, SM akan mengajukan tuntutan dan kita semua bisa dipenjara!”

“Brengsek! Keterlaluan sekali mereka! ya sudah, aku akan kembali ke sana secepatnya. Tapi satu hal yang harus kalian ingat, sampai matipun aku tidak akan mau terikat kontrak dengan SM lagi!” 

Klik. Telepon dimatikan. Jaejoong segera mengambil tasnya dan keluar meninggalkan kamar yang masih dipenuhi barang-barangnya. Dia tidak akan lama di Korea. Dia bisa menjanjikannya. Jaejoong menempuh 5 jam yang membosankan di pesawat, ia tertidur dan tidak bermimpi apa-apa. Saat ia bangun, ia sudah sampai di bandar udara di kota Seoul. Hanya butuh 25 menit baginya untuk menyetir mobil yang ia titipkan dan ia akan langsung sampai di studio.

Jaejoong membuka pintu gedung dengan kasar dan mengabaikan sapaan semua orang di sepanjang studio itu. Ia menatap sebuah pintu hijau yang diberi label DBSK, tapi ia tidak masuk ke sana. Ia berjalan lurus, lalu menaiki lift ke lantai 4 dan akhirnya sampai di depan sebuah pintu perak. Tanpa mengetuk atau mengucapkan salam, Jaejoong menerobos masuk.

“Maumu apa, hah?!” serang Jaejoong pada co produsernya yang sedang duduk di kursi. Jae joong mencengkram kerah bajunya dan memaksa pria botak itu untuk berdiri dari kursinya.

“Hei, apa yang kau lakukan? Berani sekali kau melakukan ini pada atasanmu.”

“Kau bukan atasanku lagi!” Jaejoong membanting tubuh co produser itu dengan keras. “Heh orang tua tidak tahu malu, dengar ya! Aku tidak akan pernah mau menandatangani kontrak murahan dengan perusahaan ini lagi! Jadi seperti apapun kau menakut-nakutiku, aku tidak akan pernah takut! Ingat itu baik-baik!”

“Oh ya? Tapi aku bisa dengan mudah memasukkanmu ke penjara.”

“Coba saja.” Jaejoong mengambil selembar surat yang berisikan kontrak kerjanya dengan SM. tanpa berpikir panjang, ia merobek-robek kertas itu menjadi potongan kecil. “Aku tidak pernah takut dengan pengadilan.” Ucap Jaejoong kemudian. Ia melemparkan ponsel yang didapat nya dari perusahaan tepat ke wajah co produser itu. “Dan aku tidak butuh fasilitas apapun darimu!” itu kalimat terakhir Jaejoong sebelum akhirnya ia melangkah keluar dan membanting pintu. Co produsernya tampak sangat geram atas perlakuan Jaejoong tadi.

Dengan cepat Jaejoong kembali menuruni lift dan melangkah ke pintu hijau tadi. Saat ia masuk, ia melihat keempat member DBSK tengah duduk di sana bersama dengan Hana.

“Oppa!” teriak Hana sambil memeluk Jaejoong dengan lega.

“Akhirnya kau datang juga, hyung.” Ucap Junsu.

“Ayo kita pergi dari tempat ini.” Jaejoong sama sekali tidak menunjukkan raut wajah senang. Ia melepaskan pelukan Hana dan mendekat pada keempat membernya.

“Pergi ke mana?” tanya Yunho.

“Kalian ikut saja, yang jelas aku tidak mungkin membawa kalian ke tempat yang salah.”

“Tapi kontrak itu…”

“Jangan pikirkan kontrak itu lagi. Aku sudah memusnahkannya.”

“Apa?!” keempat member saling bertatapan.

“Nanti saja aku jelaskan, sekarang lebih baik kita pergi saja! Ayo!”

“Aku tidak mau.” Changmin menolak.

“Aku rasa aku juga tidak bisa pergi.” Sambung Yunho.

“Terserah kalian saja lah!” Jaejoong menarik tangan Hana dan membawanya keluar dari ruangan itu. 

“Apa yang kalian lakukan? Kita seharusnya menuruti Jaejoong hyung!” ucap Yoochun.

“Tapi aku tidak bisa semudah itu kabur dan tidak mempertanggung jawabkan kontrak.” Jelas Yunho.

“Kalau nanti kalian menyesal, jangan salahkan kami, ya?” Junsu menarik tangan Yoochun dan berlari keluar menyusul Jaejoong.

***

Sementara itu Jaejoong sedang memasangkan safety belt pada Hana.

“Kau mau membawaku ke mana?” tanya Hana.

“Pulang ke rumahmu.”

“Lalu kau mau ke mana?”

“Ke tempat yang lebih aman.” Jaejoong segera memasang safety belt nya setelah mema-sangkan milik Hana.

“Jangan pergi jauh, oppa…”

Jaejoong menghentikan kesibukannya, lalu ia menoleh pada Hana, menatap wajah gadis itu dengan kegundahan yang luar biasa.

“Hana, demi apapun, jangan pernah kau membuka mulut kalau orang-orang menanyakan tentangku. Ingat itu baik-baik.”

“Hyung! Buka pintunya! Hyung!” terdengar suara teriakan. Jaejoong segera membukakan pintu mobil untuk Junsu dan Yoochun.

“Kalian mau ikut denganku?” tanya Jaejoong setelah Junsu dan Yoochun duduk di jok.

“Iya, hyung. Kami sudah tidak tahan lagi dengan SM.” jawab Yoochun.

“Baiklah, kalau begitu nanti kita ke apartment. Kalian kemasi barang-barang kalian. Tapi sebelumnya, aku harus mengantarkan Hana dulu.”

“Iya, hyung.”

Tidak perlu waktu lama untuk mengantarkan Hana, dan mereka segera kembali ke apartment, mengemasi barang-barang, lalu terbang ke Jepang. Mereka sampai di sana pukul 20.00, ketiga nya tampak sangat lelah. Mereka masih belum bisa bernapas lega sampai ada kepastian bahwa mereka sudah benar-benar lepas dari SM. tapi yang jadi masalah adalah, SM tidak akan mau melepaskan mereka sekalipun mereka memohon-mohon di depan gedung SM selama 1 minggu.

“Apa rencanamu setelah ini, hyung?” tanya Junsu setelah meneguk minumannya.

“Aku ingin mengadakan jumpa fans. Aku akan katakan pada mereka semua bagaimana penderitaan kita selama ini. Dan setelah itu, mungkin aku harus memikirkan lagi tentang tawaran yang sudah kubuang ke tempat sampah.”

“Tawaran apa?” tanya Yoochun yang tiba-tiba muncul.

“Tawaran dari seorang produser. Nanti saja aku ceritakan. Besok aku akan ajak kalian menemui produser itu. Mungkin dengan cara ini kita bisa balas dendam pada SM. kita akan membuktikan pada SM bahwa kita bisa lebih terkenal bersama management yang baru.”

“Kau yakin tidak ingin mengajak Yunho hyung dan Changmin?” tanya Yoochun lagi.

“Aku kan tadi sudah mengajak mereka juga, tapi mereka tidak mau. Ya sudah, terserah mereka saja. Tapi kalau mereka berselisih dengan SM lagi, aku harap mereka mau bergabung dengan kita. Apa sih enaknya berada di bawah naungan management sial seperti SM?”

“Kalau begitu kita harus menyelamatkan teman-teman kita yang lain juga. Seperti Super Junior, Shinee, Boa…”

“Mana aku peduli dengan mereka? kalaupun kita mengatakan hal ini, mereka tidak akan percaya sebelum mereka mengalaminya sendiri. Sudahlah, lebih baik sekarang kita tidur saja. Aku sudah lelah.”

***

Hujan turun membasahi kota Fukuoka yang muram. Jaejoong membungkuk ke tempat sampah, ia mengambil kembali kartu nama yang kemarin sudah dibuangnya. Pria bernama Lee Heejin itu sepertinya bisa ia manfaatkan untuk membalas dendam pada SM. jadi tak ada salahnya kalau dia menerima tawaran memuakkan itu.

“Kami masih mengantuk, hyung…” ucap Junsu sambil memaksakan diri memakai sepatu.

“Iya. Memangnya kenapa kita harus bangun sepagi ini sih?” sambung Yoochun.

“Sudah, jangan banyak tanya. Lebih baik sekarang kalian masuk ke mobil, aku akan menyusul sebentar lagi.” Jaejoong kembali masuk ke kamar sementara Junsu dan Yoochun keluar menuju mobil. Di kamar, Jaejoong menulis surat untuk seluruh Cassiopeia Jepang mengenai keadaan DBSK sekarang. Surat itu akan dikirimnya ke sebuah redaksi surat kabar. Ia melakukan hal itu semata-mata untuk menjawab pertanyaan fans atas vakum nya kegiatan DBSK selama hampir satu bulan ini. Setelah selesai menulis, Jaejoong bersiap untuk pergi.

“Aku mencemaskan Changmin dan Yunho hyung.” Ucap Junsu saat dalam perjalanan.

“Aku juga sama. Tapi kita bisa apa? Mereka sudah menolak ajakan kita.” Jawab Yoochun.

“Kalaupun nantinya kita benar-benar keluar dari SM, lalu mendirikan sebuah grup di bawah naungan management baru itu, aku tidak akan sanggup melakukan syuting video klip tanpa Yunho hyung dan Changmin… kita kan sudah biasa berlima.”

“Aku yakin di sana mereka juga merasakan hal yang sama.” Jaejoong memotong. “Kalau mereka hanya berdua, apa semuanya akan tetap baik-baik saja? Mengemban nama Dong Bang Shin Ki, lima dewa yang bangkit dari timur. Kalau mereka hanya berdua, apa masih pantas disebut Dong Bang Shin Ki? Dan apa nama fans mereka akan tetap Cassiopeia? Bintang cassiopeia terbentuk dari 5 titik paling terang. Jika titik itu menghilang walau hanya satu, maka namanya tidak akan jadi Cassiopeia lagi. Kurasa, baik kita ataupun mereka akan merasakan kehilangan yang sangat besar.” 

“Kenapa mereka berdua harus keras kepala sih?! Harusnya kita bersama-sama pindah management, dan kita bisa mengusung nama DBSK bersama-sama lagi.” Junsu memprotes.

“Mereka hanya cari aman saja. Aku yakin, tak lama lagi kita akan terjerat hukuman kurungan. SM tidak akan tinggal diam melihat kita tidak mempertanggung jawabkan kontrak.”

“Kalian tenang saja. Aku sudah mempertimbangkan hal ini. Kalaupun nanti mereka menuntut kita ke pengadilan, aku pastikan kita tidak akan terjerat hukuman apa-apa.” Ucap Jaejoong.

“Bagaimana caranya, hyung?”

“Aku akan meminta dukungan seluruh Cassiopeia untuk menggulingkan SM. kalau 20% saja dari seluruh Cassiopeia Jepang dan Korea mau membantu kita, maka SM akan tamat. Apalagi kalau jumlah Cassiopeia yang membantu kita jumlahnya mencapai 30% atau lebih. Hancurlah sudah gedung SM. bahkan mungkin gedung pengadilan beserta hakim dan perangkatnya juga akan roboh oleh amukan Cassiopeia.”

“Wah, mengerikan sekali taktikmu, hyung.” Komentar Junsu.

Jaejoong hanya menarik senyuman kecil di ujung bibirnya.

Mereka sampai di sebuah gedung nan megah hanya dalam waktu 15 menit. Jaejoong turun dari mobil dan diikuti oleh Junsu dan Yoochun. Mereka menemui pria gemuk bernama Lee Hee jin yang merupakan ekskutif produser di rumah produksi itu.

“Kim Jaejoong?!” seru Heejin terkejut saat melihat Jaejoong memasuki ruangannya. 

Jaejoong tidak menunjukkan ekspresi apapun.

“Selamat pagi, Tuan Lee.” Ucap Jaejoong memberi salam.

“Se, selamat pagi. Angin apa yang membawamu datang ke sini? Dan… dua orang itu…?”  Heejin menunjuk Junsu dan Yoochun yang berdiri di belakang Jaejoong.

“Aku sudah memikirkan tawaranmu.” Ucap Jaejoong. “Dan aku memutuskan untuk menerimanya. Tapi, aku tak bisa sendirian. Aku ingin menjadi satu grup lagi dengan mereka berdua.”

Lee Heejin terpaku untuk beberapa saat.

“Be, benarkah itu yang kau inginkan?” tanya Heejin kemudian.

Jaejoong mengangguk.

“Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan harta seperti kalian! Tunggu sebentar ya? Aku akan menemui sekretarisku dulu untuk segera membuatkan surat kontrak.” Heejin segera melesat keluar dan membuat ruangan itu tiba-tiba menjadi agak canggung.

“Kau yakin dia tidak akan memanfaatkan kita seperti SM?” tanya Yoochun.

“Kalau dia berani melakukan hal itu, aku bersumpah tidak akan membiarkan gedung ini berdiri tegak lagi.” Ucap Jaejoong sambil menghempaskan diri di kursi Heejin.

“Kau benar-benar berubah sejak kita bersengketa dengan SM.” sambung Yoochun.

“Aku tidak berubah. sama sekali tidak berubah. yang membuatmu berkata seperti itu adalah karena kau mengubah pola pikirmu. Ingatlah, jika nanti kita membentuk grup baru, jangan pernah memakai nama Cassiopeia untuk fans kita, karena itu adalah nama dari SM.”

“Sepertinya kau sangat benci pada SM.” timpal Junsu.
Jaejoong tersenyum. “Dan aku juga akan membuat seluruh fans kita membenci SM. lihat saja.”

***

Saat malam menjelang, suasana di apartment itu menjadi semakin sepi. Changmin dan Yunho hanya mengaduk-aduk bubur mereka dan tampak sama sekali tak nafsu makan. Biasanya ada Jaejoong yang membawakan satu demi satu mangkuk ke meja makan. Ada Yoochun yang selalu mengganggu Changmin menikmati makanannya. Dan ada Junsu yang sangat cerewet menceritakan tentang tayangan bola yang ditontonnya semalaman. Tapi semua itu kini tak ada. Mereka hanya berdua. Mereka duduk di kursi makan masing-masing sesuai urutan yang biasanya. Membiarkan ketiga kursi lain kosong. Membiarkan sayup-sayup kenangan tentang mereka mengalun dan berputar-putar dalam kehampaan itu. Mereka merasa sangat kehilangan. Bahkan melebihi apapun, mereka merasa ada yang hilang dalam diri mereka saat mereka hanya berdua. Dong Bang Shin Ki tidak seperti ini. Mereka berlima adalah satu, mereka tak terpisahkan.

Dalam keheningan itu, tiba-tiba Changmin memundurkan kursinya.

“Kau mau ke mana?” tanya Yunho.

“Ke kamar.” Jawab Changmin seraya beranjak pergi.

“Kau tidak makan?”

“Aku tidak lapar.”

Bruk! Pintu kamar dibanting. Yunho hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Changmin yang sudah seperti raga tanpa jiwa. Dia tahu Changmin begitu kehilangan sosok ketiga hyungnya. Yunho juga merasakan hal itu. Ia rindu pada ketiga sosok yang selama ini berada di dekatnya. Ia tak mau berpisah dengan mereka. tapi meninggalkan kontrak secara sepihak adalah hal yang tak mungkin dilakukannya. Karena dia tahu, jika mereka berlima memberontak, maka mereka tidak akan selamat. Dan dengan cara ini, Yunho sudah memohon pada SM agar tidak mengganggu ketiga member itu lagi. Dia dan Changmin rela dimanfaatkan seperti apapun asalkan Jaejoong, Yoochun, dan Junsu bisa hidup tenang. 

Itulah alasan sebenarnya kenapa saat mereka mengajaknya pergi, ia menolak. Karena dia dan Changmin masih ada di persidangan itu saat mereka keluar. Karena dia dan Changmin tahu apa yang akan terjadi jika me-reka berlima lari dari SM. dan Yunho benar-benar tidak bisa melakukan apapun untuk mela-wan SM. yang bisa dia lakukan hanyalah menuruti perintah SM untuk menjaga ketiga anggota lain agar tidak terusik lagi.

Tok! Tok! Tok! Terdengar suara ketukan di pintu. Yunho menggelengkan kepala, berusaha menghilangkan lamunannya. Ia pun meninggalkan buburnya yang masih penuh, dan berjalan ke arah pintu untuk membukakannya.

“Hana?” tanya Yunho terkejut saat melihat sosok Hana berdiri di depan pintu. “Taeyeon? Kalian…” Yunho lebih terkejut saat melihat Taeyeon. Kedua gadis itu hanya tersenyum, lalu Yunho mempersilahkan mereka untuk masuk dan duduk di ruang tamunya.

“Kami sangat mencemaskan mereka.” ucap Taeyeon saat Yunho menaruh dua cangkir di meja. “Sudah berkali-kali aku menghubungi Junsu oppa, tapi dia tak mengangkatnya. Aku khawatir kalau dia dalam bahaya.”

“Benar. Aku juga khawatir pada Jaejoong oppa. Kemarin saat dia mengantarku pulang, aku melihat dia benar-benar seperti kelelahan. Dia sudah mengatakan bahwa dia ingin keluar dari SM sejak dua bulan yang lalu. Aku takut kalau Jaejoong oppa tidak akan pulang lagi ke Korea.”

“Itu tidak mungkin.” Ucap Yunho. “Mereka pasti kembali. Memangnya, kemarin Jaejoong tidak mengatakan padamu bahwa dia akan kembali lagi?”

Hana menggeleng. “Kalimat terakhir yang kudengar darinya adalah, jangan pernah buka mulut kalau orang lain menanyakan sesuatu tentangnya. Dan setelah itu, dia tidak mengatakan apa-apa lagi.” Hana terlihat sangat sedih, dan Yunho bisa mengerti perasaannya. Karena dia juga punya pacar. Namanya Goh Eun Ah. Tapi gadis itu tidak sedang di Korea saat ini.

“Aku mengerti perasaan kalian, karena aku dan Changmin juga merasakan hal yang sama. Kami sangat merasa kehilangan, dan sampai saat ini kami belum mendengar suara mereka lagi.”

“Aku akan ke Jepang menyusul Junsu oppa.” Ucap Taeyeon.

“Jangan langsung memutuskan hal itu. Kau kan masih memiliki banyak kegiatan di Korea. Aku yakin Junsu juga tidak akan senang kalau dia tahu kau meninggalkan pekerjaanmu di sini.”

“Oppa, tolong kau telepon Jaejoong oppa sekarang. Siapa tahu dia mau mengangkatnya.”
Yunho tidak bisa menolak permintaan Hana. Dia pun mengambil ponselnya dan mulai menekan nomor Jaejoong. Terdengar nada sapa dari sana, tapi tak ada yang mengangkat.

“Jae, ayo angkatlah…!” gumam Yunho dengan gusar. Hana dan Taeyeon tampak sama-sama tegang menantikan Jaejoong menjawab panggilan itu.

“Halo?” Tiba-tiba terdengar suara menyahut. Mereka semua lega, namun kelegaan itu hanya beberapa detik saja, karena seketika itu juga mereka menyadari bahwa itu bukan suara Jaejoong. Itu juga bukan suara Junsu atau Yoochun. Itu suara seorang wanita.

“Halo, apakah ini nomor Kim Jaejoong?” Yunho bicara dalam bahasa Jepang.

“Benar. Ini siapa?” tanya wanita itu.

“Aku Jung Yunho. Kau siapa? Kenapa ponsel Jaejoong ada padamu?”

“Ah! Yunho! Aku tidak percaya bisa bicara denganmu! Perkenalkan, namaku Ayumi Hamasaki, aku partner kerjanya Jaejoong. Ah, kau ingin bicara dengannya? Sebentar ya? Aku panggilkan.”

“Partner kerja?” Yunho memandang Hana dan Taeyeon. Kedua gadis itupun kelihatan bingung.

“Halo, Yunho?” terdengar suara Jaejoong.

“Oppa!” Hana mendahului Yunho.

“Hana? Kau ada di situ? Bagaimana kabarmu?”

“Aku baik-baik saja, oppa. Kau sendiri bagaimana? Apa kau sudah makan? Aku sangat mencemaskanmu. Kau cepatlah pulang ke sini ya?”

“Aku tidak bisa kembali ke Korea dalam waktu cepat, Hana. Tapi aku baik-baik saja di sini. Kau tidak perlu cemas.”

“Jaejoong oppa, ini aku Taeyeon. Bisa kau panggilkan Junsu oppa?” 

“Tunggu sebentar…”

“Halo? Taeyeon? Kau di sana?”

“Oppa! Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau akan ke Jepang! Aku mencarimu ke mana-mana. Dan kenapa ponselmu tidak aktif?”

“Aku membeli nomor yang baru. Nomor jepangku hilang.”

Saat itu Yunho pergi meninggalkan ruang tamu karena ia tidak tahan mendengarnya. Ia merasa sangat merindukan suara-suara itu. Ia merasa seharusnya ia juga berada di sana jika mereka bertiga ada di sana. Karena mereka berlima tidak pernah terpisah. Mereka adalah satu.

“Kau menangis, hyung?” tiba-tiba Changmin datang menghampirinya.

“Ah, tidak. Aku hanya… sedang mencuci wajah.”

“Tidak usah berbohong padaku. Aku tahu kau juga sedih dengan keadaan ini. Tapi kita sudah sepakat, kita tidak akan menyerah. Semua ini kita lakukan demi mereka juga.”

“Ya, aku tahu. Kurasa aku hanya belum terbiasa dengan situasi ini.”

***

Senyum yang terpahat di bibir Ayumi Hamasaki membuat ruang pemotretan menjadi cerah. Dia gadis yang ceria, senang bergaul, dan ramah pada siapa saja. Sudah lewat dua hari sejak ketiga mantan member DBSK itu berada dalam satu rumah produksi dengan Ayumi. Kini ketiga pria asal Korea itu tergabung dalam satu grup bernama JYJ, nama yang diambil dari singkatan nama mereka bertiga. Dan sesuai jadwal, selama satu bulan ke depan mereka harus menjalani aktifitas dengan Ayumi Hamasaki untuk program album pertama mereka. ayumi akan menjadi model di video klip mereka, dan begitupun mereka akan menjadi model di video klip Ayumi.
“Kenapa kau melamun terus, hyung?” tanya Yoochun sambil menaruh gelasnya di meja.

“Aku rindu pada Hana.” Jawab Jaejoong tanpa mengalihkan tatapannya yang lurus ke depan.

Tapi tiba-tiba Yoochun malah tertawa.

“Hei, kenapa kau tertawa? Memangnya ada yang lucu?” protes Jaejoong.

“Ma, maaf, hyung… aku hanya geli saja mendengarnya. Selama ini kan hubunganmu dengan Hana tidak seperti orang pacaran. Kalian cuek-cuekan satu sama lain. Bahkan berkirim pesanpun jarang. Tapi sekarang tiba-tiba kau bilang kalau kau rindu padanya. Kan itu lucu.”

“Ah, kau ini. Aku serius!!”

“Justru karena aku tahu kau serius makanya aku tertawa.”

“Yoochun!” tiba-tiba terdengar suara Ayumi. Yoochun dan Jaejoong serempak menoleh.  “Sekarang giliranmu dipotret. Ayo cepat!”

“Baik!” Yoochun langsung melesat meninggalkan Jaejoong. Kini gantian Ayumi yang duduk di sebelah Jaejoong.

“Kau pucat sekali.” Ucap Ayumi sambil memiringkan wajahnya.

Jaejoong tidak mengatakan apa-apa, bahkan menoleh pun tidak.

“Kurasa make-up nya terlalu tebal. Mungkin aku harus menyuruh stylist untuk membenarkannya.” Ayumi bermaksud untuk beranjak menemui stylist.

“Tidak perlu.” Ucap Jaejoong datar, membuat Ayumi kembali duduk di kursinya. “Aku belum memakai make-up apa-apa.”

“Oh, tapi… wajahmu pucat begitu.”

“Aku baik-baik saja.” Jaejoong segera melangkah pergi dari sana tanpa menoleh pada gadis di sampingnya itu. Dia benci wanita Jepang. Lebih halusnya… dia tidak terlalu menyukai wanita Jepang. Mereka berbeda dengan wanita Korea. Dan Jaejoong tidak bisa menyebutkan letak perbedaan itu. Langkahnya pun membawanya sampai di halaman belakang studio foto. Hanya ada hamparan kebun bunga aneka warna di sana. Taman yang memang sudah diset untuk kepentingan foto. Dia memandang kebun itu dengan tatapan kosong. 

Seandainya Changmin dan Yunho ada di sini…
Aku akan memaksa mereka bermain teka-teki denganku
Aku ingin mendengar tawa Changmin…
Aku ingin dia merengek memintaku untuk segera selesai masak
Aku ingin… dia mengatakan bahwa aku hyungnya yang paling cerewet
Aku juga ingin melihat wajah Yunho…
Sudah lama aku tidak mendengarnya meledekku
Sudah lama aku tidak dimarahi olehnya karena kelambatanku
Sudah lama… aku tidak mengatakan padanya bahwa dia sangat menyebalkan
Aku benci seperti ini
Berada di tempat yang tidak sesuai dengan keinginanku
Aku mencintai tempatku di SM
Aku mencintai manager walaupun dia selalu memerintahku
Tapi semua itu hancur
Semua itu tidak bisa kukembalikan lagi
Hanya karena para penipu sialan itu

Changmin… Yunho…
Kalau nanti tiba waktunya,
Aku berjanji aku akan menjemput kalian dan melepaskan kalian dari SM
Agar kita bisa bersama lagi
Bisa menyatukan diri untuk menjadi Dong Bang Shin Ki

“Kau di sini rupanya?” suara Ayumi membuat lamunan Jaejoong terpotong.

“Ada apa lagi?” tanya Jaejoong dingin.

“Aku hanya cemas kalau-kalau kau sakit.” Ucap Ayumi sambil mendekat. 

“Terima kasih.” Ucap Jaejoong pelan.

“Terima kasih untuk apa?”

“Terima kasih karena kau telah memperhatikan kesehatanku. Bahkan aku sendiripun tidak pernah memperhatikannya.”

“Ayo kita masuk lagi ke dalam.” Ucap Ayumi dengan wajah tersipu malu.

“Kau masuk duluan saja, aku masih ingin di sini.”

“Kalau begitu aku juga di sini saja.”

Tanpa disadari Ayumi saat itu Jaejoong langsung mengepalkan tinjunya.

“Terserah.” Ucap Jaejoong sambil kembali berjalan di antara bunga-bunga itu.
Ayumi memandanginya tanpa berkedip. Jaejoong yang dilihatnya di TV, berbeda dengan yang sekarang ini. Apa mungkin selama ini Jaejoong bersandiwara di depan kamera? Apa ada sesuatu yang ia sembunyikan dari semua orang? Entahlah, hanya Jaejoong yang bisa menjawabnya.

***

Air mata Junsu tertahan di pelupuk saat ia duduk di sebuah siaran radio dan ditanya mengenai Changmin dan Yunho. Sementara itu Jaejoong dan Yoochun berusaha menenangkan emosi Junsu, mereka mengelus punggungnya dan mengatakan pada Junsu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun pada kenyataannya, rasa kehilangan itu memang terlalu besar, sampai-sampai Junsu tidak bisa melanjutkan interview dan keluar dari ruangan.

“Bisa kau jelaskan tentang pertanyaan kami tadi, Yoochun?” tanya host radio itu.

“Kami menjalani semuanya bersama-sama sejak 7 tahun yang lalu. Kami sudah saling mengenal sifat dan karakter masing-masing. Walaupun awalnya kami masih sering merasa iri satu sama lain, tapi pada akhirnya kami sudah seperti saudara. Aku menganggap Jaejoong hyung dan Yunho hyung seperti benar-benar satu ayah satu ibu. Dan aku menganggap Junsu dan Changmin sebagai dongsaengku sendiri. Perasaan kami sudah tak dapat dipisahkan. Maka dari itulah Junsu tidak sanggup mengatakan perasaannya saat ditanya mengenai Yunho hyung dan Changmin. karena rasa kehilangan kami sangat besar, dan kami tidak bisa menunjukkan hal itu di de pan fans. Kami tak mau membuat fans kecewa.”
“Bagaimana denganmu, Jaejoong?” host beralih pada Jaejoong.

“Tentu saja aku merasa begitu kehilangan dua saudara yang sangat aku sayangi. Apapun yang terjadi, walau sekarang kami berada di grup yang berbeda, aku akan selamanya menjadi saudara dengan mereka. tak peduli sejauh apapun jarak yang ada di antara kami.”

“Kalau saat ini Changmin dan Yunho sedang mendengarkan siaran, apa yang ingin kalian sampaikan pada mereka?”

“Yunho hyung, dan Changmin… aku rindu pada kalian. Aku berharap kita bisa bersama lagi seperti dulu. Dan ingatlah, kami semua di sini merasa sangat kehilangan tanpa kalian…”

“Jaejoong?” tanya host pria.

Jaejoong mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk. “Yunho, Changmin… kalian semua baik-baik saja kan? Aku harap kalian tidak terlambat bangun pagi. Maaf, aku tidak bisa membangunkan kalian lagi. Oh iya, kalian masak sendiri untuk makan malam? Aku juga minta maaf karena tak bisa memasak untuk kalian lagi. Tapi kalau kalian ingin mencoba masakanku, datanglah ke sini. Aku akan menyiapkan makanan istimewa untuk kalian.”

Semua yang ada di ruangan itu menitikkan air mata mendengar pesan Yoochun dan Jaejoong. Mereka sangat merasakan bagaimana pedihnya kehilangan seorang saudara seperjuangan yang telah bertahun-tahun melakukan semuanya bersama-sama dengan mereka. semua ini menyakitkan untuk Jaejoong, Yoochun, Junsu, Changmin, dan Yunho. Semua ini juga sangat menya-kitkan untuk fans mereka. untuk semua orang yang mencintai DBSK. 

Acara selesai setelah lagu always keep the faith dilantunkan. Ketiga mantan personil DBSK itu pun segera kembali ke mobil bersama manager mereka yang baru. Yoochun yang menyetir, sedangkan Jaejoong dan Junsu duduk di jok belakang.

“Kita harus kembali ke Korea.” Ucap Jaejoong tiba-tiba.

“Loh? Kenapa memangnya? Ada masalah lagi dengan SM?” tanya Yoochun.

“SM meminta kita untuk menggelar konser terakhir, dan setelah itu mereka berjanji tidak akan pernah mengganggu kita lagi.”

“Bijaksana sekali.” Komentar Junsu.

“Jadi kapan kalian akan ke sana?” tanya manager mereka.

“Mungkin malam ini kami akan langsung naik pesawat. Kau tidak perlu ikut, hyung. Kami janji kami tidak akan berlama-lama di sana.” Ucap Jaejoong sambil kembali memasukkan ponselnya ke saku jaket. Managernya hanya mengangguk-angguk pertanda mengerti.

Sesampainya di apartment, mereka langsung memasukkan barang-barang yang dirasa perlu untuk dibawa ke Korea. Mungkin mereka akan ada di Korea selama satu sampai lima hari. Pasti banyak hal yang harus mereka lakukan menyangkut kontrak kerja mereka dengan SM yang memang belum resmi terputus. Secara formal, saat ini mereka masih tergabung dalam DBSK. Tapi karena keserakahan SM, DBSK yang dulu seakan telah hilang tertiup angin.

“Cassiopeia Jepang sudah membaca surat itu.” Ucap Jaejoong saat membuka email.

“Surat apa, hyung?” tanya Junsu.

“Surat yang aku tulis dan kutitipkan pada stasiun TV Jepang. Aku sengaja mengatakan pada mereka tentang SM, karena kupikir SM akan membahayakan kita lagi. Tapi kalau sekarang keadaannya seperti ini, aku jadi bingung bagaimana meredam amarah mereka.”

“Itu gampang saja.” Sambung Yoochun. “Kita beritahukan pada mereka bahwa kita sudah berdamai dengan SM, jadi mereka tidak perlu mencemaskan kita lagi.”

“Tidak semudah itu mengatakan pada mereka. menurutku, pasti mereka akan menganggap kita bohong dan hanya bermaksud menghindari kericuhan. Ditambah lagi, mungkin saja mereka berpikiran bahwa kita mengklarifikasi isi surat itu karena ancaman SM. keadaannya akan semakin bertambah kacau.” Ungkap Jaejoong gelisah.

“Lantas mau bagaimana lagi? Suratmu itu sudah terlanjur tersebar dan mustahil menahan kemarahan mereka dengan cara lain.”

“Aku sudah punya rencana, tapi aku baru akan menjalankan rencana itu setelah kita pulang dari Korea.”

“Kau selalu menyembunyikan idemu dari kami, hyung. Tapi jangan sampai idemu itu malah menyebabkan keributan seperti sekarang ini. Kalau kau tak mau mendiskusikannya dengan kami, maka kau harus memikirkan idemu itu sampai seribu kali. Paham?” Junsu meletakkan ujung telunjuknya di dagu Jaejoong.

“Paham.” Ucap Jaejoong sambil menjauhkan dirinya dan kembali bersiap merapikan koper.

***

Changmin duduk di ruangan produser dengan perasaan yang tidak menentu. Ia diminta mempertanggung jawabkan semuanya. Mempertanggung jawabkan semua kesalahan yang bahkan tak pernah ia lakukan. Tapi dia harus menuruti keinginan produser itu. Karena dia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada orang-orang yang dicintainya. Dia tak ingin melihat mereka semua disakiti oleh manusia tidak berhati seperti produser ini.

“Cepat tanda tangani.” Perintah pria berkumis yang duduk di hadapannya itu. Changmin mengambil pulpen dan mulai menyoretkan tanda tangannya di tempat yang sudah disediakan. “Bagus. Kau memang anak pintar.” Kata pria itu sambil tertawa puas. Changmin memejamkan matanya. Dengan tanda tangan yang baru saja dibubuhkannya, maka dimulailah sebuah pertunjukan penuh hiburan bagi para pembesar SM.
“Berikan semua hak mereka, dan jangan ganggu mereka lagi.” Ucap Changmin.

“Tentu saja. Aku sudah menyiapkan semuanya. Ketiga orang itu akan mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan, dan aku jamin mereka tidak akan pernah merasa terusik lagi olehku.”

“Baiklah, kalau begitu, apa aku sudah boleh keluar?”

“Tunggu sebentar.” Nada bicara produser itu menjadi berubah. changmin menelan ludah. 
“Apa kau tidak sedang merencanakan sesuatu? Kontrak yang baru saja kau tanda tangani pasti sudah kau ketahui resikonya. Dan aku masih curiga, bagaimana mungkin kau rela melakukan semua ini hanya demi melindungi para hyungmu yang tidak bertanggung jawab itu?”

“Jangan pernah menghina mereka!” seru Changmin sambil berdiri dari kursinya. “Kau boleh saja menghinaku, atau memanfaatkanku sesukamu, tapi jangan pernah sekali-kali kau menghina mereka! bagaimanapun juga, mereka itu sudah kuanggap saudaraku sendiri!”

“Hei, hei, santai sajalah. Aku juga sudah tidak berminat berdebat denganmu.”

“Dengarlah, aku tidak pernah merencanakan apapun, aku melakukannya atas keinginanku sendiri. Dan ingat, kau tidak perlu meminta tanda tangan Yunho hyung.”

“Wah, sayang sekali. Sepertinya kau sudah terlambat. Yunho sudah menandatangani surat ini sebelum kau datang.” Ucap produser sambil memamerkan surat kontrak untuk Yunho.

Changmin tidak berkata apa-apa lagi. Dia keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu dan menyetir dengan kecepatan tinggi menuju apartment. 

“Kenapa kau menandatangani kontrak itu?!” tanya Changmin sambil melempar kunci mobil ke atas sofa. Yunho yang saat itu sedang menonton TV langsung terkejut.

“Kontrak apa?”

“Kontrak yang ditawarkan SM. kenapa kau menandatanganinya?”

“Loh? Memangnya kenapa? Mereka mengatakan kalau aku menandatangani kontrak itu, mereka tidak akan mengganggu Yoochun, Jaejoong, dan Junsu lagi.”

“Kau tahu? Mereka mengatakan padaku bahwa mereka hanya perlu satu tanda tangan dari kita. Tetapi tadi, produser memanggilku untuk menandatanganinya juga. Seharusnya ini tidak perlu terjadi…” sesal Changmin sambil menghempaskan dirinya ke sofa di sebelah Yunho.

“Sudahlah, kita sama-sama tahu kalau mereka memang licik.”

“Tapi caranya tidak seperti ini! Kalau mereka meminta tanda tangan kita berdua untuk kontrak sialan itu, sama saja mereka memperbudak kita! Belum lagi kontrak eksklusif selama 2 tahun yang harus kita ikuti. Lama-lama aku bisa gila!”

“Changmin. Orang lain tidak perlu tahu kan tentang hal ini? Semuanya pasti bisa kita lewati. Ini hanya sampai kita bisa melunasi keinginan mereka. ini tidak akan lama…”

“Tapi aku tidak suka cara mereka memeras kita dengan menjadikan Yoochun hyung, Jaejoong hyung, dan Junsu sebagai jaminan. Itu sama saja mereka memanfaatkan situasi.”

“Lalu kita harus bagaimana? Menuntut SM? itu tidak mungkin kan? Kalau kita melakukannya, berarti kita menarik mereka bertiga dalam pasungan SM lagi. Apa kau mau melihat itu terjadi?”

Changmin terdiam. Dia menyadari saat ini serba salah baginya untuk melakukan sesuatu. Dia menyayangi ketiga saudaranya itu. Dia juga tak ingin melihat mereka menderita. Tapi satu hal yang paling dia sesali. Kenapa SM seakan tidak pernah puas mengambil keuntungan darinya? Bahkan menurutnya sekarang ini kontrak itu sudah di luar batas wajar.

“Kapan mereka akan tiba di sini?” tanya Changmin mengalihkan topik.

“Mungkin besok pagi.”

Changmin mengangguk, lalu beranjak pergi ke kamarnya.

“Keadaan sudah semakin kalut…” pikir Yunho sambil menggeleng pelan.

***

“Suhu tubuhmu tinggi sekali.” Ucap Jaejoong panik saat melihat Junsu menggigil di pesawat.

“Sepertinya dia terkena demam, hyung.” Timpal Yoochun.

“Sepertinya begitu. Aduh, bagaimana ini? Kenapa di saat genting begini Junsu harus sakit?”

“Kita tidak akan menggelar konser itu tanpa Junsu.”

Jaejoong segera mengeluarkan obat demamnya dan menyuruh Junsu meminum obat itu. Namun demam Junsu sama sekali tidak turun. Dia terus menggigil dan bekeringat. Akhirnya sepanjang perjalanan itu, Jaejoong dan Yoochun tidak tidur. Mereka begadang semalaman untuk menjaga Junsu.

Keesokan harinya mereka sampai di Korea pukul 06.30. Mereka segera berangkat ke rumah sakit tanpa menghubungi Yunho ataupun Changmin. Di sana, Junsu mendapat perawatan khusus. Dokter yang menanganinya mengatakan bahwa Junsu terkena demam karena kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Junsu pun disarankan untuk dirawat inap selama 2 hari.

Yoochun menghubungi Yunho, dan tak lama kemudian Yunho dan Changmin datang ke rumah sakit untuk menjenguk Junsu.

“Aku rindu sekali pada kalian…” ucap Changmin sambil memeluk Jaejoong dan Yoochun bergantian. “Aku merasa sangat kehilangan jika melihat kamar kalian di apartment. Sekarang kamar itu kosong, tidak ramai lagi seperti dulu.”

“Kami juga merindukan apartment itu.” Ucap Jaejoong. “Dan lebih dari apapun, kami sangat merindukan kalian.”

“Ah iya, kapan kita harus mengadakan konser terakhir itu?” tanya Yoochun.

“Empat hari lagi.” Jawab Yunho.

“Aku takut Junsu belum pulih dari sakitnya. Kalau dipaksakan berlatih dan manggung, aku khawatir dia akan sakit lagi.”

Mereka semua menatap Junsu bersamaan. Junsu sedang tertidur di atas ranjang besi dengan selang infuse di tangan kirinya. Wajahnya terlihat sangat pucat dan lelah. Kasihan dia. Pasti dia merana sekali saat ini. Tapi apa yang bisa mereka lakukan? Melawan SM? ah, rasanya itu tidak mungkin. Melarikan diri? Seandainya saja bisa, pasti mereka akan melarikan diri juga. Tapi pada kenyataannya, kekuatan SM lebih besar dari yang mereka bayangkan. 

“Kenapa kalian menolak untuk pergi dengan kami?” tanya Jaejoong saat makan siang bersama Yunho dan Changmin.

“Karena masih ada kewajiban yang harus kami kerjakan pada SM.” jawab Changmin.

“Kewajiban apa?” tanya Yoochun.

Yunho dan Changmin saling berpandangan beberapa saat.

“Itu mengenai… kontrak kerja yang belum selesai. Mereka masih tidak mau melepaskan kami.”

“Benar-benar keterlaluan! Lihat saja, aku akan menghancurkan mereka dan membawa kalian keluar dari masalah ini.” Geram Jaejoong.

“Jangan, hyung! Seperti apapun caramu melawan mereka, itu tidak akan berhasil. Kau hanya membuat dirimu sendiri dalam bahaya. Sudahlah, jangan pikirkan kami. Yang penting kalian bisa lepas dari SM saja bagi kami itu sudah cukup.” Ucap Changmin.

“Apa kau bercanda? Mana mungkin kami bisa diam saja melihat kalian diperas oleh SM? tentu kami akan membantu kalian lepas dari mereka!”

“Tidak segampang itu, Jae!” Yunho menengahi. “Kau tidak mengerti keadaannya, jadi kau bisa dengan gampang mengatakan hal itu. Sudahlah, tidak perlu memikirkan nasib kami di SM. semuanya akan baik-baik saja. Aku janjikan itu.”

“Apa katamu? Baik-baik saja? Memangnya aku ini buta?! Jangankan nanti, sekarang pun aku sudah bisa melihat kalau kalian tidak baik-baik saja! Kalian tertekan dengan kontrak itu! Aku tidak tahu kontrak apa, tapi yang jelas aku pasti akan merobek-robek kontrak itu di depan semua pembesar SM!” 

“Jae! Aku mohon, jangan lakukan itu. Demi apapun… jangan pernah lakukan itu…”
Jaejoong terpaku melihat sikap Yunho. Itu tidak seperti Yunho yang biasanya. Pasti… pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan…

“Memangnya kenapa kalau aku melakukan itu? Kau takut mereka menuntut kita lagi?” tantang Jaejoong.

“Bukan cuma itu…”

“Lalu apa?!”


“Kalau kau melakukannya, maka seluruh keluarga kita juga akan terkena akibatnya…” perkataan Yunho membuat Jaejoong dan Yoochun ternganga. “Apa kau mau melihat mereka menanggung semua itu? Apa kau mau mereka menyentuh keluargamu? Apa kau mau semua itu terjadi, Jae?!”

Seketika tubuh Jaejoong melemas. Ia kembali terduduk di kursinya dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.

“Kumohon, untuk kali ini saja… tolong jangan bertindak gegabah. Kami akan baik-baik saja, dan kalian pun akan baik-baik saja.”

“Oke, aku paham. Tapi ingat, kalau sampai aku tahu bahwa mereka menyakiti kalian, maka jangan harap kalian akan melihat gedung SM berdiri tegak lagi. Ingat itu baik-baik.” Jaejoong segera melesat pergi setelah mengucapkan kalimat itu.

***

“Kenapa kau berbohong, hyung?” tanya Changmin saat duduk bersama Yunho di kamar Junsu.

“Berbohong tentang apa?”

“Tentang alasan kenapa Jaejoong hyung tak boleh merobek kontrak itu.”

 “Changmin, kita tidak mungkin memberitahunya alasan yang sebenarnya. Dia tidak akan mau mendengarkan. Jadi aku terpaksa berbohong.”

Keadaan hening untuk beberapa saat, sampai akhirnya ada yang membuka pintu. Sosok Taeyeon muncul di sana. Dia melangkah masuk dan terdiam cukup lama saat menatap ranjang besi di depannya. Itu… Junsu? Junsu-nya yang sudah lama tak ia lihat…?
“Taeyeon?” sapa Changmin sambil berdiri menyambut Taeyeon.

“Bagaimana keadaan Junsu oppa?”

“Demamnya sudah agak turun, sekarang dia sedang istirahat.”

Taeyeon mengangguk, lalu melangkah mendekati ranjang Junsu. Ia duduk di kursi yang menghadap ke ranjang itu. Dilihatnya wajah tertidur Junsu yang amat lelah. Dia sudah 1 bulan tidak pernah berada di dekat Junsu. Dan saat ini, begitu Junsu ada di dekatnya, kenapa harus da lam keadaan seperti ini? Perlahan Taeyeon meraih tangan Junsu, menggenggamnya erat dan penuh perhatian. 
“Oppa…” ucap Taeyeon pelan. Ia mengecup punggung tangan Junsu.
Sesaat kemudian kedua bola mata Junsu mulai terbuka. Ia menatap Taeyeon untuk beberapa saat. Tatapan yang sangat dirindukan Taeyeon.
“Oppa? kau sudah merasa lebih baik?”

“Jaejoong hyung…” itu kalimat pertama yang keluar dari bibir Junsu. “Di mana Jaejoong hyung?”

“Jaejoong?” Taeyeon mengerutkan alisnya tak mengerti.

“Jaejoong tadi pergi dengan Yoochun, katanya ada urusan sebentar.” Jawab Changmin.

“Kalian harus temukan dia. Aku bermimpi Jaejoong hyung dipukuli oleh para bodyguard SM. aku khawatir terjadi sesuatu dengannya…”

“Biar aku saja yang pergi.” Ucap Yunho seraya keluar dari ruangan itu.

***

Sementara itu, Jaejoong tengah berjalan di lorong kantor SM. yoochun tidak ada bersamanya, dia sedang mengurus surat-surat mengenai hasil persidangan dengan SM tempo hari.

“Di mana surat itu?!” tanya Jaejoong kasar sambil menerobos masuk ke ruangan produser.

“Akhirnya kau kembali juga, Kim Jaejoong.” Kata sang produser dengan senyum licik.

“Aku tanya, di mana surat itu?!!”

“Surat apa?”

“Surat kontrak kerjamu dengan Yunho dan Changmin. Cepat serahkan padaku!”

“Untuk apa? Kau mau menandatanganinya juga?”

“Dasar produser tak tahu diri!” Jaejoong melayangkan pukulan keras ke wajah produser itu hingga membuat sang produser tersungkur ke mejanya. “Kalau kau tidak mau menyerahkan su rat itu, aku akan membenturkan kepalamu ke dinding sampai terpecah menjadi dua!”

“Bodyguaaaaard…!!!” teriak produser itu sambil memegangi wajahnya yang memar. Tak lama kemudian para bodyguard berbadan besar datang mengepung Jaejoong di ruangan itu. “Apa yang kalian lakukan? Cepat habisi dia!” perintah sang produser.

Merekapun beramai-ramai menyerang Jaejoong, dan Jaejoong menghadapi mereka sendirian. Sampai akhirnya, lama-kelamaan Jaejoong kewalahan dan terkapar tak berdaya di lantai deng an tubuh dipenuhi bercak darah.
“Angkat dia ke kursi!” perintah sang produser. Para bodyguard itu segera memindahkan tubuh rapuh Jaejoong ke kursi dan memeganginya agar tidak lari. “Sekarang apa kau masih ingin melawanku, anak muda? Heh, jangan mimpi!” seru sang produser tepat di depan wajah Jaejoong.
“Kau pria tua tak tahu diri! Tamak! Licik! Aku menyesal pernah menjadi asuhan SM!”
“Aku tahu kenapa kau marah. Karena kau belum menerima upahmu secara keseluruhan, kan? Tenang saja, aku sudah menyiapkannya.” Produser itu memberi isyarat pada seorang body guard untuk mengambilkan koper. “Ini gajimu. Kau bisa membawanya pergi dan kontrak kita b-e-r-a-k-h-i-r.”
“Aku tidak butuh uang ini!” Jaejoong menendang koper itu, lalu menendang perut produser. “Bawa saja uangmu itu! Aku hanya perlu kau melepaskan Changmin dan Yunho!” Jaejoong bermaksud untuk bangun, tapi tangan-tangan kekar di sekelilingnya menahan tubuhnya.
“Jangan terlalu banyak mimpi.” Kata sang produser sambil kembali mendekat pada Jaejoong. “Kau sudah membuat kesabaranku habis. Sekarang, aku akan membawamu ke pengadilan dan kau akan dihukum puluhan tahun atas perbuatanmu ini. Kau pasti akan menyesal!”
“Tunggu dulu!” tiba-tiba Yunho memasuki ruangan. Semua mata tertuju padanya.
“Yunho!” teriak Jaejoong sambil berusaha berdiri, tapi lagi-lagi para bodyguard itu menahannya.
“Jangan sentuh Jaejoong.” Ucap Yunho sambil mendekat.
“Apa maksudmu?” tanya produser.
“Aku bilang jangan sentuh dia!”
Lalu produser memberi isyarat pada para bodyguardnya untuk menjauh dari Jaejoong.
“Aku siap melakukan apapun, asalkan kau tidak menyakitinya.” Ucap Yunho.
“Kau bicara apa?!” teriak Jaejoong. Tapi Yunho segera mengisyaratkannya untuk diam.
“Kau siap… melakukan apapun?” tanya produser itu lagi.
Yunho mengangguk.
“Sekalipun aku memintamu bekerja satu tahun penuh dan hanya kuberi 5% dari upahmu?”
Yunho kembali mengangguk.
“Yunho!” teriak Jaejoong lagi.
“Baiklah, aku tidak akan menyakitinya. Tapi kau harus mengerjakan kontrak ekskulif dalam satu tahun ini, dan aku hanya akan memberimu waktu istirahat selama 2 jam per hari.”
“Aku setuju.” Ucap Yunho.
“Kurang ajar kau!” Jaejoong tak bisa mencegah dirinya untuk memukul produser itu bahkan kini berulang-ulang sampai ada darah segar mengalir dari bibirnya.

“Jaejoong…” Yunho tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.

“Bodyguaaard…! Cepat pukul dia!” perintah produser. Para bodyguard itu pun bersiap menyerang. Namun sebelum mereka menyentuh Jaejoong…

“Apa?!!” seru Jaejoong sambil mendekat pada mereka dengan nada bicara menantang. “Kalian ingin memukulku?! Masih belum puas, hah?! Dasar bodyguard bodoh! Mau-maunya kalian diperintah oleh manusia rendahan seperti itu!” Jaejoong melemparkan tatapan sinisnya pada mereka se belum akhirnya menarik tangan Yunho keluar dari sana.

Mereka berdua duduk di dalam mobil tanpa kata-kata.

“Biar aku saja yang menyetir. Sepertinya emosimu masih belum stabil.” Ucap Yunho.

“Aku masih bisa melakukan ini.” Ucap Jaejoong datar.

Yunho terdiam selama jeda yang cukup panjang.

“Jae, kau marah padaku?” tanya Yunho kemudian.

“Tidak.”

“Aku minta maaf kalau perbuatanku tadi membuatmu kecewa.”

“Aku tidak marah padamu.”

“Aku melakukannya karena aku tak ingin lebih banyak lagi yang terluka.”

Ckiiit… tiba-tiba Jaejoong mengerem mobilnya seketika hingga membuat tubuh mereka terdorong ke depan secara otomatis.

“Aku bilang aku tidak marah!” Jaejoong berseru sambil bersiap keluar dari mobil.

“Jae!” Yunho menarik tangan Jaejoong dan membuatnya terduduk kembali di jok. “Kumohon, jangan pernah ulangi perbuatanmu lagi. Aku hanya ingin semuanya kembali tenang.”
“Tapi kenapa kau harus… akh! Sudahlah! Aku tak ingin membahasnya lagi.” Jaejoong melompat ke jok belakang dan membaringkan tubuhnya di sana. Yunho pun bergeser ke jok pengemudi untuk melanjutkan perjalanan mereka yang belum selesai.
Dan selama perjalanan dari sana ke rumah sakit, mereka tidak bicara lagi.

***

“Kenapa bisa seperti ini sih? Kalau wajahmu memar begini, bagaimana kau bisa tampil maksimal saat manggung?” tanya Taeyeon saat mengobati luka di wajah Jaejoong.

“Tenang saja, ketampanan Jaejoong hyung tidak akan berkurang hanya karena luka itu.” Komentar Yoochun dengan senyum mengejek.

Jaejoong tidak berkata apa-apa. Saat itu dia sedang menahan perih karena Taeyeon membasahi lukanya dengan air.

“Perlu ketelepon Hana?” tawar Changmin.

“Tidak perlu.” Jaejoong menjawab dengan susah payah.

“Aku harap aku lebih cepat sembuh daripada kau.” Ucap Junsu sambil menikmati makanannya.

“Aku harap juga begitu.” Jaejoong menimpali.

“Apa sudah lebih baik?” tanya Taeyeon setelah selesai membersihkan luka Jaejoong dan membalutnya dengan plester.

“Sudah.” Jawab Jaejoong sambil menatap wajahnya di cermin. “Terima kasih, ya?”

Taeyeon mengangguk, lalu kembali duduk menghadap ke ranjang Junsu.

“Aku pulang duluan, ya?” ucap Yunho.

“Kenapa buru-buru?” tanya Junsu.

“Barusan manager menelponku, dan aku harus secepatnya pulang.”

“Kalau begitu aku ikut.” Sambung Yoochun.

“Aku juga.” Jaejoong menimpali.

“Changmin?” Junsu melirik Changmin.

“Aku juga ingin memberi kesempatan pada kalian untuk berduaan.” Changmin tersenyum sebelum akhirnya melangkah keluar mengikuti ketiga hyungnya.

Kini yang ada di ruangan itu hanya Taeyeon dan Junsu.

“Emm… kau sudah kenyang?” tanya Taeyeon memulai pembicaraan.

“Sudah.” Jawab Junsu canggung.

“Kau tahu? Aku merasa bersalah karena seringkali tak ada di sampingmu saat kau membutuhkanku. Tapi… tapi aku…”
“Tidak apa-apa.” Junsu membagi senyum kecilnya yang khas. “Aku tahu kau sibuk.”

“Emm, oppa… apa benar kau akan keluar dari SM dan pindah ke Jepang?” tanya Taeyeon hati-hati. Junsu terdiam sebentar. Dia tidak menyangka berita itu menyebar jauh lebih cepat dari yang dia perkirakan. Mengatakan pada orang lain bahwa dia keluar dari SM adalah hal yang sangat berat baginya. Bagaimanapun, SM telah menjadi rumah keduanya sejak 7 tahun yang lalu. Dia mencintai SM, bahkan dia merasa tak bisa jauh dari SM. tapi setelah kejadian menghebohkan ini, masih bisakah dia berkata bahwa dia sanggup berada di sana? Berada di tempat indah yang kini lebih tepat dikatakan seperti neraka. Rasanya… itu terlalu mustahil.
“Ya, aku memang akan keluar dari SM. dan sebentar lagi, aku akan memperkenalkan grup baruku di bawah management yang baru.” Ucap Junsu setelah yakin dengan jawabannya.
“Apa… aku perlu memberitahu ibumu bahwa kau masuk rumah sakit?” tanya Taeyeon mengalihkan topik.
“Tidak usah.”
“Kenapa? Dia berhak tahu keadaanmu.”
“Karena dia sudah tahu tentang keadaanku.”
***

Meskipun mereka sudah berada dalam satu apartment yang sama lagi, tapi keadaannya sudah tidak sama. Yunho tampak sibuk melamun di dekat jendela. Jaejoong tertidur di sofa setelah merasa lelah membuka email. Sementara Changmin dan Yoochun masih menonton TV. Namun mereka sama sekali tidak berbicara. Sejak tadi, hanya suara TV yang terdengar memenuhi seisi ruangan itu. Keadaan mereka saat itu sudah seperti ketika pertama kali dipertemukan. Saling membisu bagaikan baru saling mengenal.

Di sela-sela kebisuan itu, tiba-tiba pintu apartment terbuka. Manager mereka muncul di sana.
“Hyung!” teriak Yoochun sambil berlari memeluk managernya. “Aku rindu…”
“Aku juga.” Jawab manager sambil tersenyum pada Yoochun. “Di mana Junsu?”

“Dia sedang dirawat di rumah sakit.” Yunho mewakili menjawab.

“Ah iya, aku ke sini hanya untuk mengantarkan surat penggemar.” Manager lantas menaruh sebuah kantong besar di atas meja. Kantong yang berisi surat-surat dari fans.

“Kau mau ke mana, hyung?” tanya Yoochun saat managernya beranjak keluar.

“Aku masih ada urusan di kantor. Sampai jumpa.”

Bruk! Pintu ditutup dengan keras. Kini ruangan itu kembali hening setelah kepergian manager.

“Mereka minta kita mengadakan jumpa fans untuk menjelaskan isu yang beredar.” Ucap Yunho setelah membaca salah satu surat.
“Tapi kita sudah tidak ada waktu lagi. Bagaimana kalau penjelasan mengenai isu itu kita lakukan setelah konser terakhir kita? Jadi besoknya kami bisa langsung kembali ke Jepang.” Jelas Yoochun.

“Aku pasti akan sangat kehilangan kalau kalian pergi.” Timpal Changmin.

“Aku juga. Tapi mau bagaimana lagi? Semuanya tidak bisa diperbaiki lagi…”

“Aku tidak mau membacanya lagi.” Ucap Yunho sambil menaruh kembali surat di tangannya.

“Kenapa?” tanya Changmin.

“Kata-kata mereka… permintaan mereka… semuanya membuatku semakin merasa sakit.”

Semuanya terdiam. Mereka tahu pasti permintaan fans adalah agar mereka bersatu kembali, mengutuhkan formasi sebagai DBSK yang sejak dulu mereka kagumi. Bahkan kalau perlu, meninggalkan SM dan beralih pada management lain. Tapi bagi mereka berlima, semuanya tidak segampang itu. Banyak hal yang tidak diketahui fans. Banyak hal yang memang tidak harus diketahui fans. Tapi kali ini, seperti apapun mereka menyembunyikannya, fans akan tetap tahu.

“Jaejoong hyung…” ucap Changmin sambil menggoyangkan bahu Jaejoong.

“Mmhhh…” Jaejoong menggeliat, membuka matanya sedikit, lalu tertidur lagi.

“Hyung! Bangunlah! Kau harus membaca surat dari fans!” Changmin berseru lagi. Kali ini Jae joong membuka matanya, lalu meraih sepucuk surat dengan malas-malasan. Membacanya… menangkap maksud suratnya… lalu menaruhnya kembali ke atas meja.

“Aku tidak bisa membiarkan fans kita seperti ini.” Ucap Jaejoong kemudian.

“Lalu kita harus bagaimana? Berdamai dengan SM? menjalani beberapa tahun ke depan dengan berpura-pura menikmati pekerjaan kita?” tanya Yoochun.

“Aku tahu kita sudah tidak tahan lagi dengan sikap SM. aku hanya ingin kita kembali menjadi DBSK di bawah management yang baru. Tapi karena situasinya sangat tidak memungkinkan, jadi kurasa satu-satunya jalan yang terbaik adalah meminta maaf pada seluruh Cassiopeia karena kita tidak bisa memenuhi keinginan mereka untuk kembali menjadi DBSK.”
“Ya, kurasa mereka juga pasti akan mengerti.” Sambung Yunho.

“Aku harus pergi.” Ucap Jaejoong kemudian.

“Mau ke mana kau?” tanya Changmin.

“Aku harus menemui Hana, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padanya. Kalian tunggu di rumah sakit saja, aku akan segera ke sana begitu selesai menemui Hana.” Jaejoong menghilang di balik pintu setelah mengambil kunci mobilnya.

***

Jaejoong mengetuk pintu kamar kost Hana dengan gusar. Cepatlah buka! Pikirnya dalam hati. Tapi pintu itu tetap tertutup bahkan setelah ia memanggil-manggil Hana. Akhirnya Jaejoong pun berpikir, mungkin Hana belum pulang dari kampusnya. Jadi ia memutuskan untuk menyusul Hana ke kampus. Tapi, saat ia berbalik, sosok Hana muncul di lorong menuju pintu kamarnya. Ia menatap Jaejoong dengan tatapan ‘apakah itu kau?’ yang sangat lekat. Jaejoong meng hembuskan napas lega, iapun segera mendekat pada Hana.

“Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu.” Ucap Jaejoong langsung ke inti. Beberapa saat Hana terdiam, tapi kemudian dia menggapaikan tangannya ke wajah Jaejoong.

“Siapa yang melakukan ini padamu, oppa? para pecundang itu?” tanya Hana.

Jaejoong mengangguk. “Hana, aku minta kau…”

“Aku sangat mencemaskanmu… kau tahu?” tiba-tiba Hana menyandarkan kepalanya di bahu Jaejoong. “Aku kira kau tidak akan pernah kembali ke sini lagi… aku kira kau akan meninggalkanku selamanya…”

“Hana, aku minta kau jangan hubungi aku untuk beberapa bulan ke depan.” Ucap Jaejoong tegas sambil menjauhkan Hana darinya. “Aku minta maaf. Aku… aku tidak bermaksud membuatmu sakit hati. Tapi percayalah, semua ini aku lakukan demi keamananmu. Kalau kau menghubungiku, maka para wartawan akan langsung tahu dan kau bisa ditanya yang aneh-aneh oleh mereka. bahkan mungkin pihak SM juga akan menjadikanmu pelampiasan. Jadi aku mohon, ja ngan membahayakan dirimu sendiri.”
Hana terdiam. Ia tak bisa berhenti mencemaskan Jaejoong selama beberapa hari ini. Dan sekarang, saat ia kembali berhadapan dengan Jaejoong, ia harus mendengar kalimat itu? Ia tak boleh menghubungi Jaejoong selama beberapa bulan ke depan? Ya Tuhan… itu lama sekali.
“Hana?” tegur Jaejoong memastikan bahwa Hana baik-baik saja.
“Aku mengerti.” Ucap Hana sambil tersenyum. “Semoga semuanya bisa lebih baik.”
Jaejoong terpaku saat menyaksikan Hana memasuki kamar kostnya dan meninggalkannya tanpa salam perpisahan seperti yang biasa ia berikan. Ia tahu Hana pasti terpukul, tapi ia harus bagaimana? Hanya itu satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk mencegah konflik yang semakin melebar dengan SM.
“Pria tua itu memang sialan!” rutuk Jaejoong sambil mengepalkan tinjunya dan berjalan dengan cepat menuju mobil. Jika saja produser SM tidak pernah melakukan semua kecurangan itu, maka semua ini tidak perlu terjadi. DBSK tidak harus bubar, seluruh Cassiopeia tidak harus merasa kehilangan, dan Jaejoong tidak perlu menyakiti perasaan Hana.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Jaejoong mengingat perjalanannya sampai ia bisa menjadi terkenal seperti sekarang ini. Dulu ia hanya anak yang terbuang, anak yang tidak jelas berasal dari mana. Sampai akhirnya dia mencoba keberuntungan dan SM seolah mengais-nya dari jalanan. SM telah memberinya kesempatan untuk bertemu dengan empat adik laki-laki yang kini telah menjadi hidup dan matinya. SM telah menjadikannya seorang penyanyi, actor, bahkan composer. Dia baru benar-benar merasakan hidup yang sesungguhnya saat ia te lah memiliki Youngwoong Jaejoong sebagai namanya. Selama 7 tahun itu, dia menjalani semuanya dengan penuh semangat. Ia bahagia menjadi DBSK. Ia sangat bahagia. Tapi kenapa…? Kenapa SM setega itu mencampakkannya setelah mereka berhasil mengeruk keuntungan darinya. Dia merasa dia hanya anak jalanan yang diangkat untuk kemudian diperas dan setelah itu dibuang lagi ke jalanan. Ia merasa SM begitu tidak adil. Ia merasa muak dengan semua janji-janji yang dikatakan SM saat pertama kali ia menjadi bagian dari grup itu.
***

“Kau yakin kau sudah bisa latihan?” tanya Yunho saat dalam perjalanan pulang menuju apartment. Junsu masih terlihat pucat walaupun demamnya memang sudah sembuh.
“Kalau aku tidak ikut latihan, nanti penampilan kita tidak bisa maksimal.” Ucap Junsu.
“Lalu luka di wajah Jaejoong hyung bagaimana? Fans pasti akan bertanya-tanya.” Sambung Yoochun.

“Mau bagaimana lagi? Luka itu baru akan hilang beberapa minggu ke depan.” Jawab Yunho.

Jaejoong sama sekali tidak tergerak untuk bicara. Saat itu yang ada di pikirannya adalah bagaimana cara agar Yunho dan Changmin bisa lepas dari SM. agar mereka berlima bisa kembali bersama tanpa harus diganggu oleh SM. bagaimana caranya agar Yunho tidak perlu menandatangani kontrak bodoh yang diinginkan SM? astaga… kenapa semuanya jadi serumit ini? Kenapa pengadilan harus membenarkan SM yang jelas-jelas bersalah? Jaejoong curiga kalau-kalau SM menggunakan suap-menyuap untuk memenangkan sidang itu. Padahal, kalau saja dalam sid-ang itu SM kalah, mereka bisa dengan mudah keluar dari SM dan tidak terikat kontrak apapun dengan SM. tapi sekarang semua itu sudah terlambat. Dan percuma saja kalaupun disesali.

“Hyung? Kenapa kau melamun? Apa ada masalah dengan Hana?” tanya Changmin menyadari bahwa sejak tadi Jaejoong diam saja.

“Tidak.” Jawab Jaejoong sambil berusaha tersenyum. “Aku hanya gugup menghadapi konser itu. Aku takut, fans akan terluka saat mereka tahu kita akan berpisah.”

“Tapi semua itu memang sudah pasti terjadi. Tidak ada satupun di antara kita yang menginginkannya, tapi kita juga tak bisa berbuat apa-apa.” Ucap Yunho.

“Tentu saja kita bisa.” Ucap Jaejoong. “Kalian berdua ikut saja dengan kami, dan kita bersatu lagi tanpa harus melibatkan SM.”

“Tidak semudah itu, hyung. Kami sudah pernah katakan bahwa berurusan dengan SM sangat sulit. kalau kami keluar dari SM, sama saja kami…” Changmin segera menutup mulutnya saat ia menyadari bahwa ia tak boleh mengatakan hal itu pada Jaejoong.

“Sama saja apa?” tanya Junsu penasaran.

“Sama saja kami… mengkhianati SM…” jawab Changmin asal.

“Apa kau bilang? Mengkhianati? Bukankah mereka yang mengkhianati kita?! Mereka telah berkali-kali berjanji tapi tak satupun di antara janji-janji itu yang mereka tepati. Mereka hanya membawa musibah saja dalam hidup kita!” ucap Jaejoong dengan penuh emosi.

“Jae, jangan seenaknya bicara seperti itu!” potong Yunho.

“Aku sedang membela hak kita, Yunho! kenapa kau malah menyalahkanku?” tanya Jaejoong dengan nada tak percaya.

“Kau tidak mengerti keadaan yang sebenarnya. Jadi aku mohon, jangan hanya memikirkan sesuatu yang justru akan mencelakakan dirimu sendiri.”

“Siapa bilang aku tidak mengerti? Aku sangat mengerti keadaan ini. Kalian berdua tidak mau keluar dari SM karena mereka telah mengikat kalian dengan kontrak yang baru, kan? Kontrak yang entah bagaimana mengharuskan kalian untuk tetap ada di sana. Tapi aku tidak peduli, aku tidak mau tahu tentang kontrak itu. Dengarlah, aku bersumpah, aku pasti akan membawa kalian keluar dari SM. dengan cara apapun.”

Mereka semua terdiam. Keinginan Jaejoong adalah keinginan mereka juga. Dan bahkan mereka semua berharap Jaejoong bisa mewujudkan keinginannya itu. Tapi Yunho dan Changmin sudah tahu, mereka sudah tahu kalau cara apapun yang akan digunakan Jaejoong, tidak akan pernah berhasil mengalahkan SM.

“Sebaiknya kau tidak macam-macam, hyung. Aku takut mereka akan memukulimu lagi.” Ucap Changmin kemudian.

“Aku tidak keberatan kalaupun mereka meremukkan tulang-tulangku. Asalkan kalian bisa lepas dari SM, aku sungguh tidak apa-apa.”

“Tapi kami tidak mau mereka melukaimu…” Junsu menyambung.

“Iya, hyung. Sudah cukup selama ini mereka menghancurkan kita, aku tak mau mereka semakin menjadi-jadi.” Timpal Yoochun.

Kali ini Jaejoong yang terdiam. Dia mengerti keempat dongsaengnya itu hanya menginginkan keselamatannya. Mereka berkata seperti itu karena mereka mencintainya. Tapi Jaejoong tidak bisa diam saja melihat Yunho dan Changmin terjebak kontrak merugikan dengan SM. dia harus menggagalkan kontrak itu, bagaimanapun caranya.
***

Mereka berlatih untuk penampilan terakhir itu hanya dalam satu hari. Saat mereka menggelar konser, mereka melihat berpuluh-puluh ribu Cassiopeia datang memadati gedung. Membawa spanduk-spanduk besar bertuliskan nama dan foto kelima idola mereka. manager DBSK melakukan tugasnya seperti biasa, mengkoordinasi wardbore dan stylist beserta tim kreasi panggung. Dan kelima pria dengan suara emas itu kini terduduk di ruang make-up. Melakukan hal yang biasa mereka lakukan jika akan menggelar konser. Didandani, berlatih suara, tanpa harus pusing memikirkan kostum apa yang akan mereka pakai.
Saat mereka naik ke atas panggung, mereka mendengar suara teriakan yang mengelu-elukan nama mereka, mengelu-elukan nama Dong Bang Shin Ki. Apa yang akan dikatakan fans jika me reka tahu bahwa idola mereka akan bubar? Idola mereka tidak akan menjadi DBSK lagi. Apa fans tidak akan terluka? Entahlah, mungkin saja… mereka bahkan lebih terluka dari para member DBSK yang merasakan sendiri kasus ini.
Saat menyanyikan lagu Stand by you, Yoochun tak bisa menahan air matanya. Lama-kelamaan, mereka benar-benar menangis di atas panggung. Tak terkecuali Jaejoong. Selama ini ia menahan air matanya walaupun ia merasa sangat terpukul dengan kasus ini. Tapi, saat menyadari bahwa ini adalah konser terakhirnya sebagai member DBSK, ia tak dapat mencegah diri untuk meneteskan air mata. Ia pasti akan sangat merindukan detik-detik seperti ini. Detik di mana dia berdiri di barisan tengah di antara member DBSK. Detik di mana ia membawakan lagu bersama kelima adik laki-lakinya dan bisa melihat wajah para Cassiopeia yang tersenyum. Tapi di konser terakhir ini, ia melihat air mata fansnya berjatuhan. Mereka belum tahu bahwa DBSK sudah bubar, tapi sesuatu dalam diri idola mereka, telah memberitahu mereka bahwa ada hal buruk yang sedang menimpa grup itu.

Seusai acara, mereka menggelar konferensi pers untuk meluruskan isu-isu yang melebar ke sana kemari di kalangan masyarakat. Mereka mengatakan pada fans bahwa mereka telah bubar dan ini konser terakhir mereka. setelah itu mereka minta maaf pada fans mereka, karena bisa saja setelah ini, mereka tidak bisa membuat para Cassiopeia tersenyum seperti dulu lagi.

Banyak Cassiopeia yang histeris, bahkan pingsan saat mendengar hal itu. Mereka menjerit-jerit menyalahkan keotoriteran SM. padahal, tak satupun member DBSK yang mengatakan alasan di balik konflik mereka dengan SM. tapi fans sudah tahu. Bahkan melebihi yang mereka duga, fans juga sudah tahu kalau Jaejoong, Yoochun, dan Junsu kini tergabung dalam JYJ.

Pada konser itu, masing-masing keluarga dari lima member DBSK datang. Mereka memberikan dukungan pada putera terkasih mereka agar tetap tegar menghadapi masalah ini. Konser yang berlangsung dalam 3 jam itu terasa lebih singkat dari yang seharusnya. Konser terakhir mereka. 7 tahun yang penuh kenangan ditutup oleh 3 jam konser yang menyakitkan.

“Aku pasti akan merindukan kalian…” ucap Junsu sambil memeluk Changmin dan Yunho.

“Kami juga.” Ucap Changmin. “Jangan lupa menghubungi kami kalau kalian ada masalah, ya?”

“Seharusnya kami yang bilang begitu.” Jaejoong memotong. “Kalian langsung hubungi kami kalau SM mengganggu kalian lagi.”

“Baik, aku mengerti.” Jawab Changmin.

“Kami titip Cassiopeia pada kalian, ya?” Yoochun menyambung. Air matanya masih tergenang.

Dan begitulah, sejak hari itu, DBSK yang dulu sudah tidak ada. Kini mereka berpisah menjadi JYJ dan DBSK yang hanya terdiri dari Changmin dan Yunho.

***

Keesokan harinya, ketika Jaejoong, Junsu, dan Yoochun belum bangun tidur, Changmin dan Yunho pergi ke SM untuk menandatangani kontrak eksklusif mereka.

“Di sini tertera, kau tidak akan menerima upah apapun jika hasil penjualan kaset di bawah 10 juta won. Apa kau sudah siap?” tanya kuasa hukum yang menangani masalah kontrak itu.
Yunho mengangguk.

“Kau?” kuasa hukum melirik Changmin.

Dan sama seperti Yunho, Changmin pun hanya mengangguk.

“Selama satu tahun masa kontrak ini, kalian dilarang berkomunikasi dengan ketiga member itu. Apa kalian setuju?”

Changmin dan Yunho berpandangan, lalu dengan amat sangat terpaksa, mereka mengangguk.

“Itu saja.” Ucap kuasa hukum sambil melirik produser.

“Baiklah, kalau begitu silakan tanda tangan.” Produser mengasongkan pulpen ke arah Yunho, dan Yunho segera meraihnya. Ia bersiap menuliskan tanda tangannya di sana.

Dengan tanda tangan ini… dia tidak akan bisa lagi mendengar suara Junsu, Jaejoong, dan Yoo chun. Dia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali jika penjualan kasetnya di atas 100juta won, dan menurutnya itu banyak sekali. Tapi ia tidak bisa mundur dari kontrak ini, karena jika ia tidak menandatanganinya, Jaejoong akan dimasukkan ke dalam penjara oleh produser SM. bahkan mungkin Junsu dan Yoochun juga akan dipaksa melakukan kontrak seperti ini.

“Cepatlah!” teriak produser saat melihat Yunho malah terdiam sambil memegang pulpen. 

Yunho pun mulai mengarahkan pulpennya di atas kertas, dan…

“Changmin oppa! yunho oppa!” teriakan fans menggema di luar gedung. Semua yang ada di dalam ruangan itu langsung terkejut.
“Keributan apa itu?” tanya produser.

“Gawat, Tuan! Fans mengamuk, mereka meminta agar Yunho dan Changmin dilepaskan.”

“Apa kau bilang?!” produser segera melangkah ke jendela dan membuka gordennya. Dia melihat begitu banyak fans membawa spanduk yang sebagian besar bertuliskan keinginan mereka agar Changmin dan Yunho dibebaskan dari kontrak merugikan. Ia juga melihat ketiga mantan asuhannya berada di tengah-tengah fans. Jaejoong mengacungkan jari tengahnya dengan raut wajah menantang. Produser benar-benar marah dengan keadaan itu.
“Yunho!” teriak produser sambil beranjak dari jendela. “Cepat kau suruh ketiga temanmu itu untuk membubarkan keributan ini!”

“Tapi…”

“Cepat!!”

Akhirnya Yunho hanya bisa menurut. Dia melangkah ke jendela dan melihat ketiga saudara yang sangat dicintainya berada di tengah-tengah keramaian itu. Mereka tersenyum melihat wajah Yunho, dan mereka menginginkan Yunho keluar dari sana bersama Changmin. Tapi dengan terpaksa Yunho harus mengeluarkan isyarat pada mereka untuk segera pergi, dan setelah itu Yunho langsung menutup gordennya kembali.

“Dia menyuruh kita pergi, hyung.” Kata Yoochun.

“Pasti para manusia tak tahu diri itu mengancamnya.” Sambung Junsu.

Tapi Jaejoong tidak berkata apa-apa, dengan cepat dia berlari memasuki gedung SM. junsu dan Yoochun menyusul di belakangnya. Mereka berteriak-teriak memanggil Jaejoong agar tidak berlari lagi, tapi Jaejoong terus berlari sampai dia memasuki ruang produser dan membuat Yunho yang hendak menandatangani kontrak langsung menjatuhkan pulpennya.

“Jangan sakiti mereka lagi.” Ucap Jaejoong dengan suara yang parau.

“Jangan hiraukan dia, cepat tanda tangani surat ini!” perintah produser pada Yunho.

“Kumohon…” tiba-tiba Jaejoong berlutut di lantai, air matanya berlinang perlahan. Itu adalah pemandangan yang membuat semua orang yang ada di ruangan itu terpana melihatnya. “Aku rela melakukan apapun asalkan kau jangan suruh mereka menandatangani kontrak itu…”

“Aku sudah tidak butuh kau, jadi lebih baik kau pergi saja dengan dua orang itu!” produser membentak Jaejoong sambil melirik Yoochun dan Junsu.

“Aku mohon…” Jaejoong menundukkan wajahnya lebih dalam.

“Biar aku bicara dulu dengannya.” Potong Yunho sambil menarik Jaejoong keluar dari ruangan dan membawanya ke atap gedung. “Apa yang kau lakukan, Jae? Kau hampir saja mencelakai dirimu sendiri!”

“Seharusnya aku yang bertanya! Kenapa kau menyerahkan dirimu sendiri pada mereka? kau dan aku sama-sama tahu kalau mereka itu licik! Mereka pasti akan memanfaatkanmu lagi!”

“Oke, sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Aku harus menjelaskan semuanya.” Yunho menarik napas panjang sebelum akhirnya memulai penjelasan. “Kau tahu? Hari itu, saat kau pergi meninggalkan persidangan bersama Yoochun dan Junsu, ada sesuatu yang terjadi. Sidang itu dimenangkan oleh SM dan karenanya kita berlima harus menjalani kontrak eksklusif selama dua tahun. tapi karena aku tahu kalian bertiga tidak mau menjalaninya, maka aku dan Chang min memutuskan untuk tawar-menawar dengan SM. mereka boleh mengontrak kami selama 2 tahun dengan segala ketentuan mereka, bahkan dengan upah yang sangat minim, asalkan mereka tidak mengganggu kalian. Kalau aku dan Changmin pergi dari SM, berarti kami mengingkari janji kami. Padahal, kami sudah menandatangani kontrak itu. Dan kalau kami mengingkari janji, maka kita semua bisa masuk penjara.”
“Lalu surat yang tadi akan kau tanda tangani…?”
“Itu adalah surat kontrak yang baru. Aku menandatanganinya agar mereka tidak membawamu ke pengadilan karena tindakan memberontakmu tempo hari.”
“Astaga, Yunho…” Jaejoong mengacak rambutnya sendiri sambil berjalan mondar-mandir.

“Maaf, aku baru mengatakan hal ini sekarang. Karena kukira…”

“Sudahlah, percuma saja kalaupun aku marah.” Jaejoong mendekat untuk menarik Yunho dalam pelukannya. “Jaga dirimu, ya? Aku pasti akan sangat kehilanganmu.”

“Kau juga.”

“Terima kasih…” Jaejoong melepaskan pelukannya.

“Terima kasih untuk apa?”

“Untuk semua yang telah kau lakukan demi menyelamatkan kami.”

Yunho hanya tersenyum kecil mendengarnya.

“Aku akan baik-baik saja, Jae. Percayalah.” Ucap Yunho.

“Ya, aku percaya padamu. Tapi aku tidak percaya pada SM.”

***

Sejak hari itu, tidak pernah lagi ada DBSK yang sesungguhnya. Changmin dan Yunho membangun nama DBSK berdua, sedangkan Jaejoong, Junsu, dan Yoochun bergabung dalam grup baru mereka yang bernama JYJ.

Mereka menjalani karir masing-masing, memiliki fans masing-masing. Mungkin masih ada fans DBSK yang menganggap kelima idola mereka masih bersatu dalam nama yang utuh. Tapi pada kenyataannya mereka tidak bisa disatukan lagi di bawah naungan SM. dan mereka juga tidak bisa dengan mudah disatukan di bawah naungan management yang lain.

Yoochun : “sejak kami tergabung dalam DBSK, kami menyadari bahwa kami bukan hanya milik diri kami sendiri, tapi juga milik seluruh cassiopeia.”

Yunho : “kalau aku bisa, aku ingin memeluk fansku satu-persatu dan mengucapkan terima  kasih pada mereka.”

Changmin : “DBSK bersinar bukan karena kami, tapi karena dukungan seluruh Cassiopeia.”

Jaejoong : “kami melakukan semuanya untuk fans, karena jika kami melakukan semuanya untuk diri kami sendiri, pasti sudah dari dulu kami menyerah.”

Junsu : “saat aku mulai lelah, segala ingatan tentang fans mengembalikan kekuatanku.”

Begitu kita merasa bahwa kita mencintai mereka, mengagumi mereka, saat itu yang kita pikirkan hanyalah, kita ingin selalu melihat mereka bahagia. Tapi pernahkah kita berpikir? Apakah cara mereka untuk membahagiakan kita, juga membuat mereka bahagia?

Pernahkah kita berpikir bahwa mereka lelah dengan semua kegiatan mereka…?

Pernahkah kita berpikir bahwa mereka tak bisa selamanya mengikuti keinginan kita…?

Masih bisakah kita menganggap, Changmin dan Yunho bahagia membangun grup itu berdua saja? Masih bisakah kita menganggap, Jaejoong, Yoochun, dan Junsu, bahagia setelah mereka lepas dari SM dan bergabung di bawah management baru menjadi grup bernama JYJ?
Mereka jauh lebih merasa kehilangan daripada kita.

Tapi pernahkah mereka menunjukkan rasa kehilangan itu di depan fans? Pernahkah mereka mengatakan bahwa mereka lelah bernyanyi untuk fans?

Dan apakah menurutmu… mereka bisa kembali lagi?

Membentuk grup yang sama-sama kita cintai…

-end-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar