Welcome

Selasa, 15 Mei 2012

My Beloved Brother



Jawaban ibunya akan selalu begitu. Membela Junsu. Seakan-akan semua yang dilakukan Junsu tidak pernah salah. Yah, benar. Anak itu kan jenius, tak pernah salah. Karena setiap kesalahan itu pasti akan dilimpahkan pada Jaejoong. Dan si bungsu itu, akan selamanya menjadi yang paling benar.

***

“Waah, hebat sekali ya putramu ini. Dia bisa masuk sekolah favorit itu dengan nilai terbaik. Anakku saja mencoba masuk di sana susah sekali, padahal dia langganan juara kelas sejak SD.” Ucap Ny. Shin sambil tersenyum kagum.

“Ah, bisa saja Ny. Shin ini. Aku juga bangga pada puteraku. Dia anak yang rajin dan penurut.” Ucap Ny. Kim sambil mengusap kepala Junsu. Yang dipuji hanya senyam-senyum merendah.

“Lalu bagaimana dengan si sulung itu? Dia tidak mencoba masuk sekolah yang sama, ya?” gantian Ny. Wung yang berbicara.

Kini semua yang ada di ruang tamu itu menatap ke arah Jaejoong yang sedang sibuk mengotak-atik sebuah rubik tanpa menyadari ia sedang diperhatikan. 

“Ah, Jaejoong bilang dia tidak mau sekolah jauh-jauh, makanya dia tidak mendaftar di sekolah itu.” Ucap Ny. Kim beralasan.

“Oh ya? Aah... manja sekali si sulung itu. Adiknya saja berani.”

Gelak tawa terdengar mengiringi ucapan Ny. Wung. Jaejoong melirik sejenak, ia baru menyadari bahwa mereka semua sedang mentertawakannya. Bahkan tak terkecuali, Junsu dan ibunya sendiri. Karena merasa kesal, akhirnya Jaejoong bangkit dan berjalan pergi meninggalkan ruang tamu.

“Jaejoong! Kau mau ke mana? Jangan bersikap tidak sopan begitu!” teriak ibunya. Namun Jaejoong sama sekali tak menggubris. Dia melangkah ke pintu dan membantingnya keras-keras. Pasti anak itu akan kabur sampai malam lagi.

“Maaf ya, semuanya, Jaejoong memang begitu. Sifatnya agak keras, berbeda dengan Junsu yang sangat penurut.” Ucap Ny. Kim mencoba menjelaskan.

“Tidak apa-apa, Ny. Kim. Kami mengerti setiap anak karakternya berbeda-beda.” Ucap Ny. Shin pengertian. 

Acara berbincang-bincang itu tetap berlanjut sampai beberapa jam. Junsu melahap sejuta pujian dari para ibu-ibu yang memang sengaja diundang datang ke sini untuk merayakan keberhasilan Junsu masuk SMA favorit.

***

Malam itu Junsu tengah duduk di depan layar komputer portablenya dan sedang membuka-buka jejaring sosialnya. Banyak yang mengucapkan pujian dan ucapan selamat padanya. Sebagian besar dari teman-teman dan guru-gurunya saat SMP. Menjadi murid di St. Sanfierce, sekolah favorit yang terkenal itu, memang telah menjadi kebanggaan tersendiri bagi siapapun. Junsu membalas semua ucapan itu dalam satu kiriman sekaligus. Dia mengucapkan terimakasih pada mereka semua yang sudah menyempatkan waktu untuk menyapanya dan memberinya pujian.

“Jaejoong!” tiba-tiba keasyikan Junsu terganggu saat mendengar suara teriakan. Jelas sekali bahwa itu adalah teriakan ibunya. Junsu memutar bola mata, pasti hyungnya itu membuat masalah lagi. 

Brak bruk brak bruk!

Suara sepatu Jaejoong terdengar jelas saat menaiki tangga. Junsu tidak pernah suka dengan suara kasar itu, dia lebih suka ketenangan.

Brakk!!

Terdengar suara pintu dibanting dengan keras, lalu kunci yang diputar. Karena kamar Junsu ada di seberang kamar Jaejoong, ia bisa mendengar suara bantingan pintu itu dengan jelas sekali.

***

Pagi itu seperti biasa keluarga Kim melewati sarapan mereka dengan tenang. Ini hari pertama Junsu mengenakan seragam SMA. Dia terlihat lebih tampan dan dewasa. Apalagi jika mengenakan seragam St. Sanfierce, kecemerlangannya semakin terpancar. Sementara itu, kakaknya, yang kini sudah menginjak kelas 3 SMA, tampak berpenampilan acuh saja. Dia bahkan tidak menyisir rambut dan lengan kemejanya digulung sampai siku. Jaejoong tak pernah memakai jas seragamnya, bahkan sampai dia sekolah di sana selama 2 tahun, dia belum pernah sekalipun mengenakan jas seragam itu kecuali di hari pertama saat penyambutan murid baru.

“Appa tunggu kau di mobil ya, Junsu.” Ucap Tn. Kim sambil melap mulutnya dan bergegas keluar menuju garasi.

“Tunggu! Junsu ke sekolah naik mobil? Apa aku tak boleh ikut?” tanya Jaejoong memprotes.

“Sekolahmu kan berlawanan arah dengan Junsu dan kantor ayahmu, lagipula jarak dari sini ke sekolahmu kan dekat. Kau bisa jalan kaki saja untuk mencapainya.” Jawab ibunya acuh.

Jaejoong tidak bicara lagi. Dia tahu ibunya tidak akan mengizinkannya  pergi sekolah dengan mobil. Ya, ia memang anak tak berguna. Tidak seperti Junsu yang bisa segalanya. Jadi wajar saja jika kedua orang tuanya rajin sekali memanjakan dan memuji-muji sang adik. 

“Aku berangkat dulu!” ucap Jaejoong sambil meletakkan sendoknya sembarangan dan segera pergi melesat sambil menyeret tasnya.

Junsu hanya memandangi kakaknya dengan tatapan iba. Dia sempat merasa bersalah juga karena dia bisa membaca kecemburuan kakaknya. Jaejoong pasti merasa dibeda-bedakan, didiskriminasi, dan mungkin tak dianggap. Mungkin itu jugalah yang membuat sikap Jaejoong selalu dingin pada Junsu. Tapi Junsu bisa berbuat apa? Dia juga tak mau sepenuhnya disalahkan atas hal ini.

***

Beberapa hari kemudian…

Kelas masih tampak sepi pagi itu, Jaejoong langsung menghempaskan tubuh di kursinya. Namun saat dia baru saja bermaksud untuk mengambil ponsel dan bermain game, tiba-tiba seorang anak perempuan datang menghampirinya. Jaejoong mengenali anak perempuan berkacamata itu sebagai Jung Sooyeon. 

“Aku dengar adikmu masuk sekolah khusus cendekiawan itu ya?” tanya Sooyeon.

“Iya.” 

“Hebat sekali dia! Emh, Jaejoong, apa aku boleh bertemu dengannya? Aku sudah dengar banyak cerita tentangnya dari tetanggaku. Soalnya tetanggaku itu teman lesnya Kim Junsu.” Sooyeon tampak sedang membayangkan sesuatu. Jaejoong menggeser posisi duduknya sedikit, entah kenapa tiba-tiba dia merasa sangat tidak nyaman dengan permintaan Sooyeon.

“Kau tahu alamat rumahku?” tanya Jaejoong kemudian. Sooyeon menggeleng cepat. “Kalau begitu kau ikut pulang bersamaku saja. Tapi kurasa, karena Junsu sekolah di tempat yang luar biasa bagus, jadi jadwal pulangnya sekitar pukul tujuh malam. Apa kau bersedia menunggunya?”

“Apa Junsu selalu pulang larut malam begitu?” tanya Sooyeon agak memprotes.

“Menurut jadwalnya sih begitu.” Jaejoong melipat tangannya di depan dada, dia puas sekali dengan rekasi Sooyeon. Dengan begini, maka ia tak perlu membawa wanita merepotkan ini ke rumahnya.

“Oh, begitu. Ya sudah, aku mau menunggunya saja deh!”

Jaejoong belum sempat kaget ketika tiba-tiba bel masuk berbunyi dan Sooyeon langsung beranjak ke kursinya. Seorang guru memasuki kelas dan ketua kelas pun memberi aba-aba untuk berdoa. 

“Hari ini kita ulangan. Siapkan alat tulis kalian di atas meja.” Perintah guru berambut abu-abu itu. Jaejoong membelalakkan mata. Dia sama sekali tidak ingat kalau hari ini akan ulangan geologi. Dan semalam dia hanya sibuk main game online, tanpa sedikitpun pusing memikirkan bahwa hari ini akan ada soal ulangan yang menghampirinya.

Ia tak sempat berpikir apa-apa dan hanya mengeluarkan alat tulis. Ketika soal ulangan sampai di mejanya, dia membaca soal itu perlahan-lahan. Tak ada satupun yang diingatnya mengenai materi ini. Lempengan bumi? Lempengan benua? Akh, bahkan Jaejoong tak bisa menangkap maksud dari pertanyaan itu. Dia menoleh sekeliling, semua anak tampaknya sudah mulai mengerjakan. Apa hanya dia saja yang melupakan ulangan ini? Dengan kesal Jaejoong mulai mengambil pensil, menulis beberapa kalimat untuk menjawab pertanyaan itu. Ia mengisinya tanpa teori sedikitpun, hanya sesuka isi kepalanya saja. Ada sekitar 15 soal yang harus dikerjakannya, dan semuanya adalah soal uraian. Namun saat ia baru mengisi tiga soal, ia tak bisa memikirkan jawaban lagi. Jaejoong berpikir untuk istirahat sejenak, mencari pencerahan. Berharap salah satu dari teman-temannya bersedia menoleh sebentar saja dan memberinya jawaban. Namun semua itu tak pernah terjadi. Akhirnya Jaejoong menyembunyikan wajah di mejanya, memikirkan jawaban, sampai tak terasa kantuk mulai merasukinya. Dan selama ulangan geologi berlangsung, Jaejoong hanya mengerjakan 3 soal dengan jawaban yang seratus persen asal.

Geplak!

“Lempengan tektonik saling bergesekan…!” teriak Jaejoong antara sadar dan tidak. Ia mengerjap, lalu mengucek matanya. Sebuah penghapus ada di mejanya, dan ia terlambat menyadari rasa sakit di kepalanya akibat lemparan penghapus itu. Ditatapnya sang guru mata pelajaran yang sedang berdiri di depan kelas. Semua teman sekelasnya yang tadi sibuk mengerjakan ulangan, kini tengah menatap ke arahnya sambil tertawa cengengesan.

“Kau sudah selesai dengan ulanganmu, Kim Jaejoong?” tanya sang guru.

“Belum, Pak!”

“Kalau begitu kumpulkan ke sini kertas ulanganmu. Kapan-kapan saja kau selesaikan.”

Jaejoong menatap lembar jawabannya yang masih kosong. Hanya terisi tiga soal! Dan itupun tak ada yang ia jawab dengan yakin. Tapi apa boleh buat? Salahnya sendiri kenapa ia melupakan ulangan ini dan sampai ketiduran segala. Ia pun membawa kertas ulangannya ke depan dan menyerahkannya. 

Setelah Jaejoong mengumpulkan lembar jawabannya, sang guru langsung hengkang dari kelas. Jaejoong berjalan dengan lesu ke kursinya. Ia yakin nilainya tidak akan bisa ia perlihatkan pada ayah dan ibunya. Dan memang hampir semua ulangan yang Jaejoong sembunyikan dari ayah dan ibunya karena nilainya sangat jelek. Tidak seperti Junsu, yang tak harus repot-repot berbohong untuk menutupi nilai ulangan yang jelek. Ya, tentu saja. Nilai ulangan Junsu nyaris selalu tertinggi di kelas. 

Jaejoong mengusap wajahnya dengan frustasi. “Kenapa aku tak bisa seperti Junsu?”

***

Sepulang sekolah, Sooyeon mengikuti Jaejoong ke rumahnya. Ternyata rumah Jaejoong tidak terlalu besar. Bentuknya sederhana, namun tata letaknya sangat indah. Banyak pohon dan tanaman hias di halaman depan, sebuah lingkungan rumah yang benar-benar asri. Sooyeon mengekor Jaejoong yang sedang berjalan ke beranda, lalu Jaejoong merogoh kantong celananya, mengeluarkan sebuah kunci. Jaejoong segera memasukkan kunci itu ke lubang pintu, memutarnya, lalu mengajak Sooyeon masuk saat pintu telah terbuka.

“Kau tunggu di sini ya? Aku ganti baju dulu.” Ucap Jaejoong mempersilahkan gadis itu duduk di sofa ruang tamunya. Sooyeon hanya mengangguk, pandangannya menyapu seluruh ruangan di sana. Dia terkesan dengan foto-foto keluarga yang terpajang di ruang tamu itu. Junsu yang berwibawa, dan Jaejoong yang tampak keren dengan jas abu-abu. Kedua orang tua merekapun, tetap terlihat cantik dan tampan meski di umur yang tak muda lagi.

“Sooyeon!” panggil Jaejoong kemudian. Sooyeon menoleh cepat. “Kau mau minum apa?”

“Apa saja yang penting dingin.” Jawabnya tanpa berpikir panjang. Ia segera bisa melihat-lihat deretan foto-foto lain saat Jaejoong sudah meninggalkan ruang tamu.

Setelah puas melihat-lihat deretan foto di etalase dan dinding ruang tamu, pandangan Sooyeon beralih ke arah lemari kaca yang diisi piala-piala indah. Ia bangun dari sofa, berjalan ke sana dan membaca satu-persatu keterangan di piala itu.

Juara 1 olimpiade sempoa artimetika diberikan kepada KIM JUNSU
Juara 1 lomba berhitung cepat tingkat internasional diberikan kepada KIM JUNSU
Juara 1 lomba menyanyi lagu rohani tingkat nasional diberikan kepada KIM JUNSU

Sooyeon mengerutkan keningnya. “Kenapa semua piala ini milik Junsu? Tidak ada milik Jaejoong?”

“Ehm!” deheman Jaejoong membuat Sooyeon langsung berbalik dan mengalihkan padangannya dari piala-piala itu. Jaejoong sudah duduk di sofa. Ada dua minuman bersoda yang sudah diletakkan di atas meja. Sooyeon nyengir kuda, lalu kembali duduk di sofa dan langsung meneguk minuman di gelas berembun itu. Kerongkongannya sudah kering sejak tadi. Capek sekali rasanya harus berjalan dari sekolah ke rumah ini. Sooyeon bingung kenapa Jaejoong tidak naik sepeda saja.

“Adikmu berprestasi sekali.” Komentar Sooyeon setelah kerongkongannya terasa sejuk.

“Semua orang juga berkata begitu.” Ucap Jaejoong dengan wajah tidak ikhlas.

Sooyeon membaca ketidaknyamanan itu. Jaejoong pasti sebal karena orang-orang hanya memuji Junsu dan seolah membanding-bandingkannya terus dengan anak itu. 

“Oh ya, ke mana orang tuamu? Kenapa kunci rumah sampai kau yang bawa?” tanya Sooyeon mengalihkan pembicaraan.

“Kami semua membawa kunci rumah. Aku, appa, umma, dan Junsu. Biasanya appa dan umma akan pulang pukul enam nanti. Mereka sibuk bekerja.”

Sooyeon hanya mengangguk-anggukkan kepala. “Jadi kita… hanya berdua saja di rumah?”

Giliran Jaejoong yang mengangguk. “Kenapa? Kau takut kuapa-apakan? Tenang saja. Aku juga tidak berminat denganmu.”

“Sial kau!” Sooyeon mempoutkan bibirnya dengan wajah kesal. “Kau kira aku tertarik padamu? Maaf saja ya. Aku sudah lebih dulu tertarik pada Kim Junsu!” dengan cepat Sooyeon menutup mulitnya. Pipinya bersemu merah. Keceplosan bicara…

“Jadi kau tertarik pada Junsu? Benarkah?” Jaejoong tertawa terpingkal-pingkal, bahkan sampai mengeluarkan air mata. Sooyeon yang melihat tawa Jaejoong jadi malu bukan main. Kenapa bisa-bisanya dia keceplosan begini? Kalau Jaejoong mengatakan pada Junsu bagaimana? Bisa mati dia!

“Sudah! Jangan tertawakan aku lagi!” omel Sooyeon. Namun Jaejoong malah semakin terbahak-bahak dan sampai memegangi perutnya. “JAEJOOONG!!”

“Iya, iya, maaf. Aku tidak bermaksud. Habisnya, ekspresimu tadi lucu sekali. Bwahahaha…” Jaejoong kembali tertawa puas. Sooyeon pun merasa kesal, akhirnya dia melemparkan bantal ke wajah Jaejoong. 

“Ampun… ampun!” ucap Jaejoong berpura-pura ketakutan. Tawanya mulai mereda.

“Kau janji ya jangan katakan ini pada Junsu.” Ucap Sooyeon dengan wajah memelas.

“Tenang saja, aku tidak akan mengatakannya pada Junsu. Kau sendiri saja yang mengatakan padanya tentang perasaanmu.”

“Tapi…”

“Pilih mana? Aku yang mengatakan, atau kau sendiri yang mengatakan?”

“Apakah Junsu benar-benar harus tahu? Aku rasa dia tak perlu tahu tentang perasaanku.” Sooyeon tertunduk. Dia hanya pengagum Junsu, tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa anak itu akan jadi pacarnya. Lagipula, siapa dia di mata Junsu? Pasti Junsu butuh seorang wanita yang sepadan dengannya. Sama-sama pintar, sama-sama berprestasi.

“Dia tak perlu tahu kalau memang kau tak menginginkannya.” ucap Jaejoong santai.

“Jadi kau setuju untuk merahasiakan ini?” wajah Sooyeon tampak cerah. Jaejoong mengangguk dengan tampang bijak.

Ia tak menyangka berurusan dengan Jaejoong ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan. Pria ini amat menghargai keputusan pribadi orang lain. Berbeda sekali dengan penilaiannya saat pertama kali melihat Jaejoong.

***

“Ayo makan dulu, Sooyeon.” Ajak Ny. Kim sambil menata piring-piring di meja makan.

“Ah, tidak perlu repot-repot, ahjuma.” Ucap Sooyeon. Waktu sudah menunjuk pukul 19:30, tapi Junsu belum pulang juga. 

“Ayo ke sini, Sooyeon! Kau sudah menunggu berjam-jam, pasti kau lapar!” ajak Jaejoong yang sudah duduk di meja makan.

Belum sempat Sooyeon menjawab ajakan itu, tiba-tiba seseorang masuk ke ruang tamu. Sooyeon memandang sosok dengan jas seragam warna biru gelap yang kini sedang melepas sepatunya. Saat Junsu sampai di ruang tamu, pandangan mereka tak sengaja bertemu. Sooyeon menatap kedua mata kecoklatan itu, mata yang tajam seperti elang. Mirip dengan mata Jaejoong.

“Aku pulang!” teriak Junsu tanpa mempedulikan siapa yang dilihatnya di ruang tamu.

“Junsu! Kau sudah ditunggu nona Jung dari tadi!” teriak Ny. Kim dari dapur. Junsu menoleh lagi ke arah sofa. Sooyeon langsung melempar senyum malu-malu saat tatapan Junsu menyapu wajahnya.

“Nona Jung.” Ucap Junsu menirukan panggilan ibunya. Sooyeon menahan napas sejenak. “Ada keperluan apa kau ingin bertemu denganku?”

“A, aku… hanya…”

“Dia ingin mengobrol denganmu.” Jaejoong mewakili menjawab.

“Ah, maaf sekali. Aku sangat capek malam ini, rasanya tubuhku pegal-pegal semua. Kalau libur saja kau kembali ya? Sekali lagi aku minta maaf.” Junsu menunduk 900 dan setelah itu langsung berlalu meninggalkan Sooyeon yang masih terpaku.

“Apa-apaan kau ini?!” tanya Jaejoong sambil menyetop langkah Junsu yang hendak menaiki tangga.

“Ada apa lagi sih, hyung? Aku sedang malas berdebat denganmu!”

“Dengar ya, Sooyeon sudah menunggumu sejak tadi sore. Dia hanya ingin mengobrol denganmu, Junsu. Tidak akan sampai satu jam! Seenaknya saja kau meninggalkannya seperti itu. Kau ini punya etika tidak sih?!”

“Aku kan sudah minta maaf, hyung! Lagipula dia sendiri tidak keberatan, kenapa jadi kau yang marah padaku?”

“Kau ini…!”

“Jaejoong!” suara Sooyeon membuat Jaejoong menahan ledakan emosinya. “Tidak apa-apa. Kurasa Junsu benar. Dia pasti lelah dan butuh istirahat. Sebaiknya aku pulang saja. Aku pamit dulu, ya. Dan terima kasih atas minumannya. Terima kasih juga untuk ahjuma. Selamat malam!” Sooyeon langsung melangkah pergi keluar dari rumah itu.

“Kau lihat sendiri kan? Dia saja tahu bahwa aku memang lelah. Sudah sana minggir! Aku mau naik!” 

Jaejoong meminggirkan tubuhnya dan membiarkan Junsu menaiki tangga. Ia pasti akan sangat malu pada Sooyeon besok atas sikap tidak sopan yang ditunjukkan Junsu. Sebaiknya ia katakan pada gadis itu untuk melupakan saja rasa cintanya pada orang seperti Junsu. Sekalipun Junsu memang tampan dan pintar, namun anak itu tidak bisa menyaring kata-kata. 

“Umma tidak memarahi Junsu karena sudah tak sopan begitu?!” protes Jaejoong pada ibunya yang masih anteng di dapur.

“Untuk apa marah? Kalau Junsu sudah lelah begitu, Sooyeon juga tidak akan nyaman ngobrol dengannya, kan?”

Jawaban ibunya akan selalu begitu. Membela Junsu. Seakan-akan semua yang dilakukan Junsu tidak pernah salah. Yah, benar. Anak itu kan jenius, tak pernah salah. Karena setiap kesalahan itu pasti akan dilimpahkan pada Jaejoong. Dan si bungsu itu, akan selamanya menjadi yang paling benar.

***

Saat istirahat Jaejoong mengunjungi tempat yang paling jarang diliriknya selama ini. Tempat yang sebagian besar dikunjungi anak-anak berkacamata. Perpustakaan. Dia datang ke sana bukan untuk melaksanakan misi ulangan geologinya, tapi untuk mencari novel. Bosan sekali rasanya tidak punya bacaan di jam istirahat. Jaejoong pun berputar-putar di barisan rak yang berisikan novel. Dia sedang mencari novel yang bertema horror. Banyak sekali pilihan yang bisa diambilnya, dia sampai bingung mau membaca novel yang mana.

“Oups! Sorry!” ucap sebuah suara. Jaejoong menoleh cepat pada orang yang baru saja menyenggol bahunya itu. Seorang anak laki-laki tinggi yang lumayan tampan. “Sedang cari novel juga ya?” tanya anak itu tanpa menatap wajah Jaejoong. Tangannya sibuk memilih-milih judul buku.

“Iya.” Jawab Jaejoong seolah tak mau memperpanjang obrolan.

“Mau mencari novel yang seperti apa?” tanya anak itu lagi.

“Yang horror.”

“Kalau mau, coba baca yang ‘Goosebump’ ini. Aku sudah pernah meminjamnya, dan ceritanya benar-benar seram!” anak itu mengasongkan sebuah novel yang tadi memang sudah dilirik Jaejoong.

Untuk menghargai tawaran anak itu, Jaejoong mengambil novel itu dan melihat bagian sinopsisnya. Ia tidak begitu paham dengan apa yang dijelaskan dalam synopsis. Tapi ia tak bisa menyalahkan orang yang sudah membuat synopsis ini, karena ia merasa kesalahan terletak pada penalarannya sendiri. Jaejoong menimbang-nimbang apakah ia akan meminjam buku ini atau tidak.

“Ah iya. Perkenalkan, namaku Jung Yunho dari kelas 3-F.” ucap anak itu sambil mengulurkan tangannya. Jaejoong melongo sebentar. 

“Aku Kim Jaejoong dari kelas 3-G.”

“Senang berkenalan denganmu.” Ucap Yunho memamerkan senyum ramahnya.

Setelah itu mereka pun mengobrol akrab. Yunho ini ternyata memang penggemar novel dan film horror. Hampir semua yang berbau horror sudah diketahuinya. Jaejoong belum pernah mendapat teman mengobrol yang seasyik ini. Dia bisa cepat akrab dengan anak itu. 

“Yunho-ya, kau sudah ulangan geologi?” tanya Jaejoong saat ada kesempatan menanyakan hal itu.

“Sudah. Memangnya kau belum ulangan?”

“Tentu saja sudah. Tapi… nilai ulanganku jelek sekali, dan nanti aku harus remedial. Kalau boleh tahu, nilai ulanganmu berapa?”

“Tidak terlalu bagus, Jae. Hanya 90.” Jawab Yunho malu-malu.

“Itu bagus sekali!” Jaejoong memukul bahu Yunho dengan agak keras sampai Yunho meringis kesakitan. 

“Kau mau mengajariku tidak? Aku butuh seorang guru privat.”

“Apa? A, aku tidak cocok jadi gurunya hyung. Lagipula aku tidak terlalu pintar…”

“Kau pintar, Yunho! Ayolah… setidaknya sampai ulangan remedial itu saja. Aku sangat butuh bantuanmu, Yunho-yaa. Kau akan sangat berjasa padaku.” Jaejoong memohon.

“Emm… bagaimana ya, Jae? Aku…”

“Hanya kau yang bisa menolongku!”

Yunho menatap wajah Jaejoong yang tampak penuh pengharapan. Ia sendiri saja merasa belum mahir dalam pelajaran itu, sekarang ia malah disuruh mengajari orang lain. Tapi melihat keseriusan di wajah Jaejoong…

“Baiklah, Jae. Kapan kau mau mulai belajar denganku?”

“Sepulang sekolah di rumahku! Bagaimana?” Jaejoong tampak bersemangat.

“Setuju.”

***

Kamar Jaejoong ternyata cukup luas dan dipenuhi poster-poster bergambar dirinya sendiri. Narsis sekali anak ini. Yunho sampai terheran-heran saat melihat tulisan, ‘Kim Jaejoong, the future idol.’ Dia tidak menyangka anak slengean seperti Jaejoong ini ternyata memiliki rasa percaya diri yang luar biasa. Selain itu, ada banyak alat musik yang disimpan di sana. Seperti gitar, piano, harmonica, dan bahkan biola sekalipun. Yunho sempat berpikir apakah Jaejoong ini ingin menjadi musisi idola.

“Kau mau mandi dulu tidak?” tanya Jaejoong yang muncul setelah berganti pakaian.

“Ah, tidak perlu. Aku juga tidak bisa berlama-lama. Orang tuaku akan cemas.”

“Hm, baiklah. Supaya tidak buang-buang waktu, ayo kita mulai saja.” Jaejoong mengeluarkan buku dan alat tulisnya, lalu Yunho turun dari kasur dan segera duduk di depan Jaejoong.

Selama hampir satu jam mereka belajar bersama. Jaejoong terlihat menyimak sekali apa yang tengah diajarkan oleh Yunho. Dia merasa seperti benar-benar memiliki guru privat, padahal dia baru saja mengenal Yunho tadi di perpustakaan. Tapi entah mengapa, Jaejoong merasa sudah begitu lama mengenal anak ini. Dia bahkan sama sekali tidak merasa canggung saat bersamanya.

Tak terasa, satu setengah jam sudah mereka berkutat dengan pelajaran geologi.

Jaejoong merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar, sementara Yunho meneguk minumannya sampai benar-benar habis.

“Capek juga ya mempelajari semua ini.” Ucap Jaejoong masih dengan tatapan lurus.

“Hm. Menurutku semangatmu yang tinggi itu membuat materi ini mudah kau serap.”

“Benarkah? Aku belum pernah memiliki semangat belajar yang setinggi ini sebelumnya. Tapi karena sekarang aku mulai terganggu dengan prestasi adikku, jadi aku ingin membuktikan pada appa dan umma bahwa aku juga bisa sehebat dia.”

“Adikmu? Memangnya adikmu kenapa?” Yunho tampak mulai tertarik.

Jaejoong membuang napas perlahan-lahan, dia akan butuh waktu 24 jam untuk mengupas habis semua rasa irinya pada Junsu. Yah, mungkin sebaiknya ia ceritakan saja sedikit mengenai anak itu, lagipula ia merasa nyaman bicara dengan Yunho.

“Sebenarnya, adikku itu adalah anak yang sangat pintar. Dia selalu menjadi juara kelas, bahkan dia tak hanya pintar secara akademik. Dia juga pintar dalam hal kesenian, olahraga, dan speech contest. Dia adalah kebanggaan appa dan umma. Sementara aku? Siapa aku? Hanya seorang anak yang bodoh yang sama sekali tak pernah memiliki prestasi. Nilai ulangan saja jelek, tidak pernah ikut lomba apa-apa. Aku juga tak pandai berolahraga. Yang kusukai hanya alat-alat musik ini. Mereka selalu menemaniku saat aku kesepian. Tapi kemampuan bermusik inipun, masih kalah dengan adikku.” Jaejoong tertunduk lesu setelah bercerita panjang lebar. Yunho menatapnya dengan iba. Dia bisa mengerti bagaimana rasanya didiskriminasi seperti itu.

“Jae, bukan hanya kau saja yang merasa diperlakukan tidak baik dalam keluarga. Tapi… aku juga mengalami hal yang sama.” Ucap Yunho kemudian. Jaejoong mengangkat kedua alisnya.

“Apa yang dilakukan keluargamu? Bukankah kau anak yang pintar? Kau juga tidak nakal sepertiku.”

Yunho tertunduk sejenak, sepertinya sedang menyusun kata-kata. “Ibuku itu, selalu menuntut agar aku mendapat nilai yang bagus. Jika nilai ulanganku di bawah 80, maka aku akan dipaksa belajar mati-matian. Ibuku sendiri yang akan mengajariku, karena dia memang seorang professor, semua mata pelajaran bisa dia ajarkan padaku. Kadang aku lelah dengan semua itu, Jae. Aku tidak bisa selamanya menjadi yang terbaik, aku juga bisa melakukan kesalahan.”

Kini Jaejoong mengerti kenapa dia merasa begitu cepat akrab dengan Yunho. Karena mereka ternyata memiliki masalah yang sama. Diperlakukan dengan tidak selayaknya, walaupun bentuknya memang berbeda. Jaejoong tidak pernah menyukai tipe orang tua yang seperti itu. Seenaknya saja menuntut ini dan itu pada anaknya. Dan dia juga tidak menyukai tipe orang tua yang pilih kasih. Dia lelah menjadi orang yang tidak dianggap seperti ini.

“Jae…” panggil Yunho memecah kebekuan. Jaejoong menoleh dalam slow motion. “Sampai kapan kita harus terperangkap dalam keadaan ini?

***

Saat makan malam, Jaejoong merasakan kupingnya panas dan kepalanya serasa ingin meledak saat harus mendengar Junsu berkicau mengenai sekolahnya yang luar biasa bagus itu. Memang apa hebatnya bisa duduk di ruang kelas penuh kamera cctv? Apa enaknya setiap kelas punya toilet masing-masing? Jaejoong masih bisa berjalan sendiri ke toilet walaupun di kelasnya tak ada toilet.

“Kau dengar kan, Jaejoong?” suara Ny. Kim mengusik keasyikan Jaejoong yang sedang melamun. Jaejoong mengerjap kaget, ia sama sekali tidak menyimak pembicaraan. “Junsu mendapat nilai terbaik untuk ulangan matematika. Nilainya sempurna. Coba tunjukkan pada kami berapa nilai ulangan matematikamu.”

“Aku belum ulangan matematika.” Ucap Jaejoong acuh sambil kembali melanjutkan makan malam.

“Lalu pelajaran apa saja yang sudah ulangan?” tanya Tn. Kim.

Jaejoong menggeleng. “Belum ulangan apa-apa.”

“Dia bohong. Aku sudah melihat ulangan geologinya, nilainya 15, bahkan dia hanya menjawab 3 soal dan sisanya dikosongkan. Dan lebih buruknya, 3 soal itupun salah semua.” Junsu membeberkan semua itu sambil tertawa cekikikan. Jaejoong melotot dengan amarah yang tak terbendung, dia tak menyangka anak ingusan itu bisa menemukan kertas ulangan yang disembunyikannya di bawah kasur. Kini ia sudah tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya di depan ayah dan ibunya.

“Apa yang dikatakan Junsu itu benar?” tanya Tn. Kim dengan geram.

“I, itu… aku bisa jelaskan…”

“Kau hanya perlu menjawab, benar atau tidak?!” 

Akhirnya Jaejoong tak punya pilihan lagi. “Benar…”

“Keterlaluan kau ini! Apa saja yang kau lakukan sampai nilaimu hancur seperti itu?! Kau tidak pernah belajar? Kau sibuk dengan rasa irimu pada adikmu! Seharusnya kau berkaca diri siapa kau dan siapa Junsu! Dan untuk hukuman atas hal ini, kau tidak boleh membawa uang jajan sampai nilaimu bagus! Mulai besok, umma-mu yang akan membuatkamu bekal! Jadi kau tak perlu membawa uang!”

“Tapi, appa…!”

“Tidak ada tapi-tapian! Kau turuti perintah ini atau kau keluar saja dari rumah!”

Kalau Tn. Kim sudah mengeluarkan ancaman itu, maka Jaejoong tidak bisa berkutik lagi. Dia hanya bisa menggeram pasrah dan kembali memakan jatah makan malamnya dengan emosi meluap-luap. Sementara si bungsu itu tampak sama sekali tak merasa bersalah, seolah dia baru saja menjadi pahlawan yang mengungkap kebenaran. Jaejoong ingin sekali membalas perbuatan Junsu, tapi lagi-lagi ia sadar bahwa ia tak pernah memiliki kesempatan untuk melakukan itu.

***

Sejak ayahnya menjatuhkan hukuman itu, Jaejoong tidak pernah lagi main game. Di sekolah juga dia tak pernah terlihat bersemangat. Yang dilakukannya hanya membaca buku, karena ia ingin ayahnya melihat bahwa dia juga bisa rajin, bisa mendapat nilai yang bagus. Sampai akhirnya, hari di mana dia harus melakukan remedial geologi pun tiba.

Jaejoong menatap satu-persatu soal yang kini terpampang di depannya. Ia membacanya baik-baik, sampai ia yakin untuk menuliskan jawabannya. Ia merasa semua yang sudah dipelajarinya benar-benar tak sia-sia. Ulangan ini terasa jauh lebih mudah dibandingkan ulangan pertama minggu kemarin. Ya, tentu saja. Karena kemarin ia sama sekali tidak ada persiapan untuk menyelesaikan ulangan.

Saat bel berbunyi, sang guru menyuruh semua murid yang terkena remedial untuk mengumpulkan kertas ulangan mereka. Jaejoong membawa kertas ulangannya dengan mantap. Ia sangat yakin kali ini dia akan berhasil mencapai batas ketuntasan, bahkan mungkin lebih. Ah, semoga saja.

***

“Jaejoong! Jaejoong!” suara Ny. Kim membuat Jaejoong yang sedang anteng tertidur. Ia pun segera bangun dan mengucek mata, menatap ibunya yang sudah berkacak pinggang di ambang pintu.

“Ada apa, umma?” tanya Jaejoong dengan mata yang masih terasa berat.

“Kau jemput Junsu di sekolahnya sekarang! Dia lupa membawa dompet, dan ayahmu belum pulang! Jadi kau yang harus menjemputnya.” Ucap Ny. Kim dengan wajah cemas. Jaejoong benci sekali jika disuruh mengurusi anak itu. Dia lelah, tadi di sekolah pelajaran olahraganya benar-benar membuat seluruh badan terasa pegal. Tapi kalau ia membantah perintah ibunya, bisa-bisa dia akan semakin disalah-salahkan.

“Aku masih ngantuk, umma…” ucap Jaejoong sambil kembali melekat pada bantalnya.

“Eeeh…! Ayo cepat bangun! Kasihan Junsu menunggu di sekolahnya!” 

“Lima menit lagi ya, umma? Aku benar-benar masih ngantuk.”

“Jaejoong!”

“Iya, iya, baiklah, aku bangun.” Jaejoong akhirnya menyerah. Dia segera mengambil sweaternya dan berjalan keluar menuju sepeda. Meski dengan tampang terpaksa dan malas-malasan, pada akhirnya Jaejoong mengayuh sepedanya juga menuju sekolah Junsu. Padahal jarak dari rumahnya ke sekolah Junsu hampir 8 km. Bukan jarak yang normal bagi siapapun untuk melakukan perjalanan dengan menaiki sepeda. Ditambah lagi, Jaejoong harus menempuh perjalanan bolak-balik. Jadi total jarak yang harus ditempuhnya adalah 16 km.

Dengan tubuh penuh keringat dan napas ngos-ngosan, akhirnya Jaejoong sampai juga di gerbang sekolah megah itu. Ia melihat Junsu tengah berdiri di sana, memeluk buku, dan tampak gelisah sekali menunggu kedatangannya. 

“Junsu!” teriak Jaejoong tanpa membawa sepedanya ke depan Junsu. Anak berkacamata itu lalu menoleh, mendapati kakaknya yang tengah duduk di atas sadel sepeda. 

“Hyung! Kenapa lama sekali?” protes Junsu sambil berlari menghampiri Jaejoong.

“Sudah, jangan cerewet! Aku mau menjemputmu ke sini saja sudah untung!” omel Jaejoong sambil bergegas mengayuh sepedanya menuju rumah. Junsu hanya mengerucutkan bibir, dia tak berkutik kalau diomeli Jaejoong tanpa ada ayah dan ibunya.

Setelah Jaejoong mengayuh sepedanya hampir 1 km dari sekolah Junsu, tiba-tiba sekelompok preman menghalangi jalan mereka. Kebetulan, waktu itu mereka memang sedang melewati jalanan yang sepi dan jauh dari keramaian.

Shit!! Jaejoong mengumpat dalam hati. Dia baru berpikir seharusnya dia tidak melewati jalan ini.

“Mau pulang ya, anak-anak?” tanya salah satu dari tujuh preman sangar itu. 

“Heh! Minggir kalian! Kami mau lewat!” teriak Junsu. Jaejoong menghembuskan napas kesal, dia merutuk kenapa Junsu harus seenak dengkulnya bicara seperti itu di depan para preman. Tidakkah dia berpikir bahwa hal itu akan membuat urusan mereka semakin bertambah panjang?

“Wah, wah, anak ini sudah berani melawan rupanya. Boleh juga nyalinya.” Sahut salah seorang lagi.

“Aku bilang cepat minggir!!” Junsu naik darah.

“Berani sekali bicaramu itu!” seorang pria bertato hendak memukul Junsu, tapi dengan cepat Jaejoong menahan pukulan pria itu.

“Heii… anak ini berani melawan juga.” Ucap pria itu. Dia menggerakkan tangannya lebih kasar, hingga membuat Jaejoong terpaksa harus turun dari sepedanya. Jaejoong melayangkan tinjunya ke wajah pria itu, dan tepat mengenai bibirnya. Pria itupun oleng, namun keenam temannya yang lain tentu saja tidak tinggal diam. Mereka segera mengeroyok Jaejoong, memukul, bahkan menjambaki rambut Jaejoong. Melihat hal itu, Junsu tentu saja tak tinggal diam. Dia menyadari tak ada orang yang bisa ia mintai tolong di sekitar sana, jadi dia mengangkat sepeda dan memukulkannya kepada orang-orang yang sedang mengeroyok Jaejoong itu. Alhasil, para preman itu mengerang kesakitan.

“Ayo bangun, hyung!” ucap Junsu sambil membantu Jaejoong berdiri. “Kau masih bisa berlari tidak?”

“Aku…” Jaejoong kesulitan bicara karena rahangnya terasa sakit sekali.

“Cepat naik ke punggungku, hyung! Sebelum mereka bangun lagi!” perintah Junsu. Tak ada lagi pilihan lain untuk menyelamatkan diri selain mengikuti perintah itu. Jaejoong pun segera naik ke punggung Junsu. Dan setelah itu Junsu segera menggendongnya sambil berlari. Para preman itu tentu saja tak tinggal diam, mereka segera mengejar mangsanya yang bermaksud kabur itu. Namun saat sampai di daerah yang ramai, para preman itu segera mundur dan membiarkan mereka pergi.

***

“Aish… sakit, umma! Pelan-pelan saja!” protes Jaejoong saat ibunya sedang berusaha membersihkan luka di wajahnya. Junsu yang sama sekali tidak terluka hanya duduk diam di sofa sebelah Jaejoong.

“Untung adikmu tidak kenapa-kenapa.” Ucap Ny. Kim.

“Tapi aku yang dipukuli!” bantah Jaejoong kesal. Dia merasa seolah-olah dirinya sama sekali tak berharga, bahkan di mata ibunya sendiri.

“Itu kan kesalahanmu sendiri, hyung. Siapa suruh kau cari masalah dengan mereka?” sela Junsu.

“Kenapa kau malah menyalahkanku?! Bukankah kau sendiri yang cari masalah?!”

“Enak saja! Kau yang cari masalah!” Junsu membela diri.

“Sudah, sudah, jangan berkelahi. Jaejoong, lain kali kau harus bisa menjaga adikmu. Jangan lewat jalan sepi seperti itu, banyak orang jahat. Sekarang kau istirahat saja, setelah itu baru makan.” Ny. Kim segera beranjak meninggalkannya di ruang tamu. Junsu pun mengekor ibunya, dan Jaejoong hanya bisa mendengus kesal. Lagi-lagi ia disalahkan. Bahkan setelah seluruh tubuhnya babak belur begini, tetap saja ia dianggap tak bisa menjaga Junsu. Padahal anak itu kan sama sekali tidak terluka.

***

Hasil ulangan remedial geologi sudah dibagikan. Jaejoong menatap kertasnya dengan senyum cerah. Angka 80 terpampang di sana. Ahh… hidup rasanya indah sekali. Dia tak percaya akhirnya dia bisa mendapatkan nilai itu. Dia harus berterima kasih pada Yunho yang telah mengajarinya kemarin. 

Saat pulang sekolah, secara tak sengaja Jaejoong melihat Yunho tengah berdiri mematung sendirian di depan gerbang. Wajahnya tampak gelisah, dan seperti mencemaskan sesuatu. Jaejoong segera menghampiri sang pahlawannya itu. 

“Yunho…!” seru Jaejoong sambil menepuk bahu Yunho.

“Ah, Jae! Ada apa?”

“Aku ingin berterima kasih padamu karena kau sudah mengajariku. Lihatlah, nilaiku bagus, kan?” Jaejoong memamerkan kertas ulangannya dengan bangga. Yunho menatap nilai itu beberapa saat, lalu ia tersenyum hangat pada Jaejoong.

“Bagus, Jae. Aku senang akhirnya yang kuajarkan tidak sia-sia.”

“Kenapa kau tidak pulang, Yunho-ah…?” tanya Jaejoong setelah melipat kertas ulangannya lagi.

“A, aku… aku takut pulang, Jae.” Jawab Yunho ragu-ragu.

“Takut pulang? Memangnya ada apa?”

“Ulanganku jelek. Pasti ummaku akan marah besar.”

“Memangnya kau dapat nilai berapa?”

Yunho tidak menjawab pertanyaan itu, dia lantas mengeluarkan sebuah kertas dari kantongnya dan menunjukkannya pada Jaejoong. Ada nilai 80 yang tertera di sana. Alis Jaejoong terangkat.

“Ini yang kau bilang sebagai nilai jelek?!” tanya Jaejoong seolah tak bisa terima. Yunho hanya bisa mengangguk pasrah. “Ya ampun… mau dapat berapa lagi? Apa harus nilai sempurna lalu ibumu akan mengatakan bahwa itu nilai yang bagus?”

Yunho hanya tertunduk, dia terlihat hampir menangis.

“Sudah, Yunho, kau tidak perlu takut. Kalau kau tidak mau pulang, kau ikut saja ke rumahku.”

“Ah, tidak usah, Jae.”

“Lalu mau sampai kapan kau berdiri di sini?”

“Ng…”

“Apa susahnya sih ikut ke rumahku? Ayolah…”

“Tidak usah, Jae. Sungguh…”

Baru saja Jaejoong bermaksud membujuk Yunho lagi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dari ibunya.

“Yoboseyo?” sapa Jaejoong. 

“Cepat ke rumah sakit! Junsu kecelakaan!” 

“APA?!” Jaejoong melotot tak percaya. Ia masih menempelkan ponsel di telinganya walau hubungan telpon sudah terputus. Anak yang sangat dibencinya itu… adiknya yang menyebalkan… dia… 

“Apa yang terjadi, Jae?” tanya Yunho saat menyadari perubahan ekspresi di wajah Jaejoong.

“Ti, tidak apa-apa. Aku pergi dulu ya, Yun? Ada urusan yang harus kuselesaikan!” Jaejoong segera melesat pergi dan mencari taksi menuju rumah sakit. Ada yang aneh dengan perasaannya.

Bukankah dia sangat membenci anak itu? Bukankah bagus jika anak itu mati? Dia tidak akan punya saingan lagi kalau Junsu mati. Dia bisa bebas. Dia tidak perlu disalah-salahkan lagi. Tapi entah kenapa sekarang dia justru merasa cemas. Hatinya seolah tak mengizinkan jika Junsu terluka. Walau selama ini dia memang terlihat tak menyukai Junsu, tapi mungkin, selama ini ia tak menyadari bahwa ia ternyata sangat menyayangi anak itu. Ia sangat menyayangi adiknya.

***

Sesampainya di rumah sakit, Jaejoong langsung menuju kamar Junsu yang sudah ditunjukkan oleh suster. Ada ayah dan ibunya di sana. Junsu sedang terbaring lemah tak berdaya. Kedua matanya diperban. Jaejoong mendekat ke sana, ia menahan air matanya agar tidak jatuh.

“Bagaimana keadaan Junsu, umma?” tanya Jaejoong dengan suara gemetar.

“Dia sudah melewati masa kritisnya, tapi…” ummanya tak sanggup melanjutkan dan hanya menangis sambil memegangi jemari tangan Junsu. Melihat hal itu, Jaejoong semakin merasa gusar. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, dan perasaan takut menguasainya.

“Tapi apa, umma?” tanya Jaejoong di puncak ketakutannya.

“Tapi Junsu kehilangan penglihatannya, Jaejoong. Dia buta.” Jawab ayahnya mewakili.

Seketika itu, lutut Jaejoong terasa lemas. Dia terduduk jatuh ke lantai, pandangannya kosong, tak ada satupun hal yang terlintas di otaknya saat ini. Junsu adalah anak yang pintar, sayang sekali kalau sampai dia tak bisa melihat. Jaejoong akhirnya membiarkan tetes bening jatuh, menggantung sesaat di pelupuk matanya, lalu meluruh ke pipi. Ia tidak menyangka semua ini bisa terjadi pada Junsu. 

***

Langit sudah gelap, biasanya pada jam-jam seperti ini Jaejoong sudah anteng main game di kamar. Tapi hari ini beda dari biasanya. Ia masih duduk di kursi yang menghadap ke ranjang Junsu. Ibunya sedang keluar untuk membeli makanan, dan ayahnya tampak sedang merenung di sofa kamar rawat inap ini sambil memijat-mijat keningnya.

“Appa…” ucap Jaejoong berhati-hati. Tn. Kim tidak merespon, bahkan sepertinya tidak mendengar putera sulungnya itu tengah bicara padanya. “Bagaimana semua ini bisa terjadi?”

“Tadi Junsu pulang naik mobil bersama salah satu temannya. Tapi terjadi tabrakan antara mobil itu dengan sebuah bus. Sekarang teman Junsu sedang dirawat di ICU dan masih dalam kondisi kritis.” Jelas Tn. Kim. Jaejoong tidak bicara lagi, dia mengalihkan pandangannya ke wajah tertidur Junsu yang tampak sangat lelah.

Kenapa ia begitu terlambat menyadari bahwa Junsu sangat membutuhkan perhatiannya? Selama ini anak itu selalu menyebalkan, mungkin, untuk meraih perhatian Jaejoong. Karena jika tidak begitu, Jaejoong tidak akan punya waktu untuk memperhatikan Junsu. Padahal Jaejoong sudah tahu, setiap hari Sabtu, jadwal pulangnya sama dengan Junsu, pukul 16:00. Ibunya sudah memintanya untuk menjemput Junsu sepulang sekolah. Tapi ia menolak hal itu dengan keras kepala. Coba saja jika tadi dia tidak sibuk makan dulu saat bel pulang berbunyi, coba saja dari dulu dia menuruti perintah ibunya untuk menjemput Junsu setiap Sabtu. Mungkin semua ini tak perlu terjadi. Mungkin Junsu masih bisa melihat.

“Junsu…” ucap Jaejoong sambil menatap kosong ke arah wajah tertidur Junsu. “Maafkan hyung, ya? Hyung memang bodoh, tidak sepintar kau. Hyung juga memang kakak yang kurang ajar. Tidak bisa menjaga adiknya, tidak pernah mengajarkanmu apa-apa, tidak berguna…”

Hening sejenak, sampai akhirnya Jaejoong teringat akan sesuatu.

“Appa.” Panggilnya kemudian. Tn. Kim menatap puteranya dengan tatapan kosong. “Apa sudah tidak ada cara agar Junsu bisa melihat lagi?”

“Ada.” Jawab Tn. Kim pelan. Jaejoong mengangkat alisnya tak sabar. “Satu-satunya cara agar Junsu bisa melihat lagi adalah, dengan mendapatkan donor mata.”

***

Esoknya sepulang sekolah, Jaejoong tidak langsung ke rumah sakit melainkan pulang dulu ke rumah untuk membantu ibunya membawakan pakaian ganti untuk Junsu. Tentang ulangan bernilai 80 itu sudah dilupakan Jaejoong, padahal tadinya dia berencana untuk memamerkannya saat makan malam. Setelah memberesi pakaian, mereka pun segera menaiki mobil menuju rumah sakit. 

Sesekali Jaejoong menoleh ke arah ibunya yang sedang konsentrasi dengan jalanan. Ada sesuatu yang ingin sekali ditanyakannya. Tapi ia ragu, ia takut ibunya akan marah.

“Umma…” ucap Jaejoong antara yakin dan tidak.

“Ada apa?” tanya ibunya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.

“Aku bersedia mendonorkan mataku agar Junsu bisa melihat lagi…”

Seketika itu, Ny. Kim menghentikan mobil dan meminggirkannya. Ia menatap wajah puteranya lekat-lekat. Jaejoong seperti ingin menangis, namun Ny. Kim tahu anak itu tidak akan menangis lagi. Dia mengenal watak putera sulungnya. Seorang anak laki-laki yang sok tegar.

“Jaejoong, kita semua memang menginginkan Junsu dapat melihat lagi, tapi bukan dengan jalan kau mendonorkan matamu.”

“Umma, aku sudah memikirkan hal ini baik-baik. Junsu itu anak yang pintar, mataku akan lebih berguna jika digunakan olehnya. Aku tidak keberatan melakukan ini, umma. Lagipula, aku kan hanya anak bodoh. Sekalipun aku dapat melihat normal seperti ini, tetap saja…”

“Cukup!” Ny. Kim memandang Jaejoong dengan kesal. “Umma tak mau dengar kau bicara seperti itu lagi!” dan setelah itu Ny. Kim segera menginjak gas mobilnya. Jaejoong tak berkata-kata lagi.

***

Sesampainya di kamar rumah sakit, Jaejoong melihat Junsu tengah tersandar di ranjang dengan mata tetap dibalut perban. Ia merasa begitu iba melihat keadaan Junsu seperti ini. Ia tahu mungkin dulu ia ingin sekali melihat Junsu merasakan semua sakit hati yang dirasakannya. Tapi tak mengira hal ini akan menimpa Junsu. Jika saja ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk membayar rasa bersalahnya, apapun itu, ia akan melakukannya.

“Umma!” seru Junsu saat mendengar langkah kaki memasuki kamarnya.

“Kau sudah makan, Junsu?” tanya Ny. Kim sambil meletakkan baju-baju yang dibawanya ke lemari kecil di kamar itu.

“Aku ingin disuapi umma. Bagaimana aku bisa makan dengan benar kalau mataku ditutup begini?”

Ny. Kim dan Jaejoong saling berpandangan mendengar ucapan Junsu. Ya, anak itu memang belum tahu bahwa ia sudah tak bisa melihat.

“Hyungmu saja yang menyuapi, ya? Umma harus ketemu dokter.”

“Hyung? Memangnya Jaejoong hyung ada di sini?”

“Ya, aku ada di sini.” Ucap Jaejoong dengan nada jutek seperti biasa.

“Aku tidak mau disuapi hyung, ah! Hyung kan galak padaku. Aku mau dengan umma saja!” rengek Junsu. 

“Tidak, kok. Hyung tidak galak, dia sudah mau menyuapimu. Umma harus ketemu dokter, Junchan sayang. Sekali-sekali kau percayalah pada hyungmu, dia juga sayang padamu.” Bujuk Ny. Kim sambil membelai rambut hitam lembut di kepala Junsu.

“Aku tidak percaya!”

“Sudah, umma, jangan hiraukan anak manja itu. Biar aku saja yang urusi dia, umma segera temui dokter. Aku yakin dokter sudah menunggu.” Jaejoong menyela.

“Baiklah, umma ke ruangan dokter dulu. Nanti umma kembali lagi, Junchan.” Ny. Kim mencium pucuk kepala Junsu sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar itu. Setelah pintu ditutup, barulah Jaejoong mengambil mangkuk makanan dan mulai duduk di kursi yang menghadap ranjang Junsu. 

“Ayo buka mulutmu!” perintah Jaejoong sambil megasongkan suapan pertama.

“Aku tidak mau makan kalau hyung yang menyuapi!”

“Junsu, kau kira aku juga mau menyuapimu? Tapi sadarlah, sekarang ini kau sedang sakit dan kau perlu makan. Umma dan appa sedang sibuk!!”

“Tuh kan hyung membentakku lagi! Hyung jahat padaku!” 

Jaejoong menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Kalau saja Junsu tidak sedang sakit, sudah dari tadi dia pukul kepala anak itu dengan mangkuk di tangannya.

“Baiklah, baiklah, hyung tidak akan kasar lagi. Sekarang ayo buka mulutmu, Junsu-yaa…” Jaejoong menyodorkan kembali suapannya.

“Benar hyung tidak galak lagi?”

“Iya, benar.” Jaejoong hampir hilang kesabaran. Namun akhirnya Junsu mau membuka mulutnya, dan melahap suapan itu dengan cepat.

“Hyung…” ucap Junsu sambil mengunyah makanan di mulutnya. “Sebenarnya kenapa sih mataku harus ditutup begini? Aku tidak betah, hyung. Aku pusing kalau gelap begini.” 

Jaejoong menelan ludah beberapa kali, dia merangkai-rangkai kata untuk menjawab pertanyaan polos itu. Yang disesalkannya adalah, kenapa Junsu harus menanyakan hal itu di saat tak ada ayah dan ibu di sebelahnya? Jaejoong sama sekali tidak tahu harus menjawab apa.

“Ka, kalau masalah itu… aku juga tidak tahu. Itu perintah langsung dari dokter.” jawab Jaejoong sambil kembali mengasongkan suapan berikutnya.

“Apa sesuatu terjadi dengan mataku, hyung? Aku masih bisa melihat, kan?”

***

Pertanyaan Junsu kemarin membuat Jaejoong tak bisa tidur, tak napsu makan, dan jadi merasa tak berani untuk menemui Junsu lagi di rumah sakit. Untung saja kemarin ayahnya langsung datang, jadi pertanyaan itu tak perlu dijawabnya. Jaejoong mengaduk makanannya lagi, ia sama sekali tak ada niat untuk memakan sayuran hijau di depannya itu. Dia hanya sedang berpikir bagaimana perasaan Junsu jika anak itu tahu keadaannya yang sebenarnya.

“Hei! Melamun saja dari tadi!” sebuah suara lembut menyadarkannya. Jaejoong menatap Sooyeon yang tersenyum lebar padanya. “Boleh aku duduk di sini?”

“Duduk saja.” Ucap Jaejoong dan segera kembali pada lamunannya.

“Kau ini kenapa sih? Akhir-akhir ini kulihat kau tidak seperti biasanya. Padahal ulangan geologimu bagus, kan? Apa kau sedang ada masalah lagi dengan Junsu?” tanya Sooyeon penasaran.

“Tidak apa-apa, kok. Aku hanya sedang bad mood akhir-akhir ini.”

“Cerita sajalah. Apa ada sesuatu yang terjadi?”

“Tidak. Sungguh, aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu mencemaskan apapun tentangku.” Jaejoong tersenyum getir, lalu melahap sayuran hijau itu untuk mengalihkan perhatian Sooyeon. Gadis itu hanya mengangguk-angguk, dia tahu Jaejoong sedang menyembunyikan sesuatu, tapi dia juga tak bisa memaksa jika Jaejoong tidak mau bercerita padanya.

“Ah iya, hari ini aku main ke rumahmu lagi, ya? Aku jadi rindu ingin melihat Junsu.” Pinta Sooyeon.

“Mm bagaimana ya? Pulang sekolah nanti kami sekeluarga ada acara, jadi tidak bisa menerima tamu. Mungkin lain kali saja kau bisa mampir.” Ucap Jaejoong berbohong.

“Junsu ikut pergi juga?”

Jaejoong mengangguk kuat-kuat.

“Hmm… ya sudahlah, lain kali saja aku main.”

Jaejoong hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. Dia tak tahu harus bercerita pada siapa. Sejak tadi dia ingin bicara dengan Yoochun, tapi anak itu tak juga ia temui. Ia merasa tidak nyaman jika harus menceritakan masalah ini pada Sooyeon. Mengingat gadis itu sangat terobsesi dengan Junsu, tentu saja Jaejoong tak ingin menghancurkan perasaan Sooyeon dengan mengatakan bahwa Junsu sudah tidak bisa melihat lagi. Ia ingin adiknya kembali normal. Jika nanti Junsu sembuh, ia berjanji tidak akan iri lagi, ia akan menerima kekalahannya dengan lapang dada. Ia ingin memulai semuanya dari awal lagi. Menunjukkan pada Junsu betapa ia sangat menyayanginya.

***

Sekali lagi Jaejoong menoleh ke kanan, berharap mobil yang ditunggunya sudah terlihat. Namun rupanya benda itu tak juga muncul. Ayahnya berjanji akan menjemput di sekolah tepat pukul 16:00, tapi sekarang sudah pukul 16:35, dan sang ayah belum juga datang. Jaejoong mengutuk ponselnya yang tidak bisa dinyalakan karena belum dicharger. Padahal kalau saja ponselnya bisa dinyalakan, dia sudah menelpon ayahnya dari tadi.

Suara klakson mobil menghentikan penantian Jaejoong. Ia menoleh ke seberang jalan sana, melihat sebuah mobil hitam mengkilap yang dikenalnya. 

“Akhirnya datang juga.” Ucap Jaejoong lega. Ia pun lantas menyebrangi jalan untuk menuju ke sana. Namun sialnya, Jaejoong belum sempat berada di seberang jalan saat sebuah mobil jeep melaju kencang dan menghantam tubuhnya hingga terlempar sejauh 10 meter. Semua orang yang melihat kejadian itu langsung menjerit dan berlarian menghampiri tubuh Jaejoong yang sudah berlumuran darah. Kepalanya berguling di jalanan dan membentur trotoar, sekujur tubuhnya dipenuhi darah karena bergesekan dengan aspal yang kasar.

“Jaejoong!” teriak Tn. Kim sambil keluar dan membanting pintu mobil. Ia menerobos kerumunan teman-teman sekolah Jaejoong yang sedang berkumpul mengelilingi tubuh penuh darah itu. Tangan Tn. Kim meraih kepala puteranya dan menatap wajah Jaejoong yang dipenuhi bercak darah.

“Appa…” ucap Jaejoong dengan segenap kekuatan yang dimilikinya. Tn. Kim merasakan sesuatu yang hangat mengalir di pipinya. Ia menangis. Kenapa musibah besar ini harus bertubi-tubi menimpa keluarganya? 

“Ka..lau…aku…ma..ti.. beri..kan..ma..ta..ku..pada..Jun..su.” ucap Jaejoong terbata-bata.

“Kau jangan bicara begitu, Jaejoong. Siapa bilang kau akan mati? Kau pasti akan selamat. Ayo lebih baik kita ke rumah sakit sekarang!” ayahnya bermaksud untuk menggendong tubuh Jaejoong, namun Jaejoong segera mengisyaratkan bahwa dia tak ingin dibawa ke mana-mana.

“A…ku..sayang…appa…um..ma…da..n..Junsu…” ucap Jaejoong lagi. Setelah itu ia memejamkan matanya, diiringi tangis haru dari semua orang yang mengelilingi mereka berdua. Tn. Kim terpaku beberapa saat. Menatap wajah puteranya yang sudah pucat.

“Appa juga menyayangimu, Jaejoong. Sangat menyayangimu…” bisik Tn. Kim, setelah itu dia mencium pucuk kepala Jaejoong dan menggendong tubuh puteranya ke dalam mobil. Tuhan pasti menyimpan suatu rahasia di balik cobaan yang bertubi-tubi ini. 

Tn. Kim berharap ia masih sempat menyelamatkan puteranya. Ia ingin memperbaiki sikapnya pada Jaejoong yang selama ini terlalu keras. Ia terlalu membanggakan Junsu, sehingga ia lupa bahwa ada Jaejoong yang juga membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya. Jika nanti Jaejoong selamat, ia berjanji akan memperlakukan dan membanggakan Jaejoong seperti yang selama ini dilakukannya terhadap Junsu.

***

Taburan bunga warna-warni menghiasi makam yang masih baru itu. Ini sudah seminggu semenjak kematian Jaejoong. Dan kini ayahnya, ibunya, dan Junsu, datang ke makam itu dengan membawa sebuket bunga. Junsu sudah selesai dioperasi, dia mendapatkan kembali penglihatannya dengan donor mata dari Jaejoong. Itu adalah pesan terakhir dari Jaejoong, dan pesan itu sudah dijalankan sesuai keinginannya. Kini si sulung itu sudah pergi, tanpa rasa iri lagi pada adiknya.

“Hyung…” ucap Junsu sambil mengelus nisan Jaejoong. “Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan jasa besarmu ini. Aku akan belajar lebih giat agar kau bangga padaku. Walaupun aku selalu menyebalkan dan membuatmu kesal, tapi semua itu kulakukan agar kau mau memperhatikanku. Aku hanya ingin hyung mengajakku main bersama, tapi sejak dulu, hyung tak pernah melakukan itu. Aku ingin hyung tahu bahwa aku sangat menyayangi hyung.” 

Setelah mengucapkan hal itu, Junsu meletakkan buket bunganya di samping nisan Jaejoong. Kini giliran Ny. Kim yang bersimpuh di depan nisan bertuliskan nama putera sulungnya.

“Jaejoong sayang…” ucap Ny. Kim berbisik. “Maafkan umma, ya, karena selama ini umma selalu bersikap tak adil padamu. Tapi di balik semua itu, sebenarnya umma sangat menyayangimu. Umma sangat merasa bersalah karena tidak mendapat kesempatan untuk memperbaiki semuanya…” Ny. Kim terisak-isak sambil memeluk nisan Jaejoong.

“Sudah, umma…” Junsu berusaha meredakan tangis ummanya dan membantunya berdiri.

“Jaejoong…” ucap Tn. Kim tanpa berlutut di depan nisan puteranya. Dia hanya berdiri sambil menatap nama yang terukir di batu nisan itu dengan tatapan nanar. “Appa memang tak pernah bisa menjadi ayah yang baik untukmu. Appa telah gagal memberi teladan padamu. Dan appa juga sudah terlambat menyelamatkanmu dari kecelakaan itu. Maafkan appa, ya, Jaejoong? Apapun yang terjadi, kau tetap putera appa yang tampan dan hebat. Appa selalu bangga padamu, walau selama ini appa tak pernah menunjukkannya.” 

Mereka bertiga menatap makam itu dengan penuh penyesalan. Sudah terlambat untuk mengulang semuanya lagi. Kini Jaejoong sudah pergi. Dia pergi tanpa membawa dendam sedikitpun atas sikap tak baik yang ditunjukkan keluarganya selama ini. Setidaknya dia juga sempat mengatakan, di detik-detik terakhirnya, bahwa ia juga mencintai mereka.

-end


5 komentar:

  1. nice story~
    aku sampai nangis baca fanfic ini

    BalasHapus
  2. Astagaaa sejuta kali fanfic ini dibaca tetep aja bikin nangis T.T heraaann, ceritanya luar biasa banget. Daebaaakk~

    BalasHapus
  3. Ijin repost di wattpad boleh ya... saya cantumkan creditsnya lengkap :)

    BalasHapus