Jaejoong POV
Aku berjalan menyusuri koridor-koridor yang lembap,
tak sedikitpun cahaya matahari yang dapat menembus dinding itu. Tak ada
jendela, tak ada ventilasi.. Hanya cahaya dari lampu yang tergantung di
langit-langit yang menyinari seluruh koridor. Suara langkah kakiku bergema.
Sudah lama aku tidak kemari, mungkin terakhir kali aku
kesini waktu menandatangani surat pengakhiran kontrak kerja.
Tadi pagi produser C-Jess Entertaiment menghubungiku,
dia menawarkan sebuah pekerjaan untukku. Aku belum membicarakan masalah ini
dengan Hana, aku tak mau membuatnya khawatir. Sudah cukup dia pusing karena
masalah kami.
Tok-Tok-Tok
Aku mengetuk daun pintu itu. “Masuk.” Seseorang
berkata dari sebrang sana.
Aku memutar gagang pintu dan melangkahkan kakiku masuk
kedalam sebuah ruangan yang tak asing lagi bagiku. Diruangan ini dulu kami
sering berdiskusi mengenai JYJ ataupun hal lainnya.
“Kim Jaejoong.” Suara bijak, yang duduk diatas kursi
kekuasaannya. Tersenyum hangat kepadaku. “Apa kabar? Silahkan duduk.”
Aku menarik sebuah kursi tepat di seberang mejanya,
membalas senyumannya. Aku sedang tak ingin berbasa-basi. “Tidak buruk. Lebih
baik kita langsung ke bagian inti. Aku tak ingin berlama-lama.”
“Sifatmu tak pernah berubah.” Produser itu tersenyum.
“Bagaimana dengan tawaranku? Maukah kau menjadi guru vocal?”
Aku terdiam, tak tahu harus menerima tawaran ini atau
tidak. Tetapi aku harus bekerja, menghidupi istri-ku dan calon anakku. Aku akan
menerimanya!
Tapi bagaimana jika Hana tidak menyetujui langkahku
ini? Apa aku akan tetap memaksa? Aku akan mengambil pekerjaan ini dengan atau
tanpa persetujuan dari Hana.
“Bagaimana?” Produser itu bertanya kembali.
“Aku akan menerima tawaranmu.” Aku tersenyum.
“Baiklah, kau bisa kembali minggu depan untuk
menandatangani kontrakkerja dan mulai bekerja”
Aku kembali tersenyum berjalan menuju pintu keluar.
“Senang bisa bekerja sama denganmu lagi.” Produser itu berkata setelah aku
menutup pintu, tapi aku masih bisa mendengar suaranya.
Aku tersenyum getir. “Aku juga.”
***
Aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi, aku ingin
segera pulang dan memberi tahu Hana tentang ini, bahwa aku akan menjadi guru
vocal.
“Aku pulang.” Aku menutup pintu dan menghempaskan
badanku keatas sofa, tepat disebelah Hana yang tengah menonton acara di
televisi.
“Oppa, kau sudah pulang?” Hana tesenyum memandangku.
“Kau dari mana saja? Kenapa kau pergi tidak memberitahuku terlebih dahulu..”
Apa aku harus memberitahukan Hana sekarang? Hana
berhak tahu, karena dia adalah istriku.
Aku membuka mulut, tapi tak sepatah katapun yang keluar dari bibirku. aku mencoba menyakinkan diriku kembali. Aku yakin bahwa apa yang aku lakukan adalah benar.
Aku membuka mulut, tapi tak sepatah katapun yang keluar dari bibirku. aku mencoba menyakinkan diriku kembali. Aku yakin bahwa apa yang aku lakukan adalah benar.
Menerima tawaran itu adalah hal yang benar.
“Kau ingin mengatakan sesuatu?” Hana menatapku dengan
ekspresi bingung.
“Hana, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.” Aku
menggenggam erat kedua tangan Hana. Ekspresi-ku menjadi sangat serius. Hana tak
memotong kalimatku, jadi aku melanjutkan. “Aku akan menjadi gurul vocal untuk
anak-anak asuhan C-Jess Entertaiment.”
Hana tampak sangat terkejut. Ekpresinya sulit di
gambarkan. Dia terlihat hampir menangis.
Hana melepaskan genggaman tanganku. Dan dia berdiri “Tapi kenapa kau tak
memberitahu-ku terlebih dahulu?”
“Karena aku tak mau menambah beban pikiranmu.” Aku
berdiri, manatap kedua bola mata miliknya.
“Tapi bagaimana dengan DBSK?!” Air mata telah
berkumpul di pelupuk matanya, dan siap mengalir melewati pipi merahnya.
“Kau tak mengerti! DBSK sudah tak mempunyai harapan
lagi!”
PLAKK!! Tangan mungil Hana melayang dan mendarat tepat
di pipi kananku.
“Harapan itu masih ada! Harapan itu masih ada!” Hana
setengah beerteriak, air mata yang sedari tadi di tahannya mulai mengalir
melewati pipinya dan jatuh diatas lantai. “Pekerjaanmu sebagai guru vocal akan
membuat DBSK semakin sulit bersatu!”
“Tapi aku membutuhkan sebuah pekerjaan Hana.” Aku
mencoba menggenggam tangan Hana, tapi dia melepaskannya dengan kasar. “Aku
harus menghidupimu dan anak kita nanti.”
“Tapi hal yang kau lakukan itu hanya akan membuat
masalah semakin rumit!”
“Aku tau konsekuensi yang akan kuterima dan ini
merupakan cara untuk mendapatkan uang seratus juta won!”
“Uang? Karena alasan uang kau menerima tawaran itu?!’
Hana membentakku. “Aku mau kau mencari uang dengan cara kau tidak mengorbankan
kebahagiaan dan mimpimu!”
“Tapi aku membutuhkan uang seratus juta won, untuk
membantu kami lepas dari jeratan hukum yang dilayangkan si tua Bangka itu!”
“Setelah kau mendapatkan uang itu, kau pasti akan
menjadi tersiksa!” Hana kembali menangis. “Kau akan mejadi guru vocal, aku tak
itu bukan impianmu!”
“Bagaimana kau tak aku akan tersiksa? Bahkan aku belum
pernah mencobanya!”
“Impianmu adalah bernyanyi!”
Kata-kata Hana bagaikan pisau yang menusuk jantungku.
Aku sadar bahwa aku masih ingin bernyanyi.
Hana berjalan meninggalkanku yang masih kaget.
BRAKKK!! Sebuah pintu di banting dengan keras.
***
Author POV
Tanpa sepengetahuan siapapun, Changmin pergi
meninggalkan apartmentnya. Dia memilih untuk menelpon taksi dan mengantarnya
pulang ke rumah orang tuanya. Kebetulan rumah ayah dan ibu Changmin masih di
Seoul, jadi tak membutuhkan waktu lama baginya untuk tiba di sana. Changmin
bahkan tidak menjawab pesan Bomi yang menanyakan keberadaan-nya saat ini. Ia
baru akan memberi kabar jika ia sudah berhasil mencapai tujuannya yaitu
mendapatkan pinjaman uang sebesar 100 juta won. Ya, memang hanya untuk tujuan
itulah ia pulang ke rumah ibunya. Ia tahu memang tak seharusnya ia melibatkan
keluarganya dalam masalah ini. Tapi ia sudah tidak kuat lagi. Ia bingung. Ia
tak bisa memikirkan jalan keluar lain. Kalaupun nanti keluarganya tidak bisa
meminjamkan uang sebanyak itu, mungkin ayahnya bisa membantu mencari pinjaman
ke orang lain. Karena Changmin tahu, ayahnya memiliki banyak rekan yang taraf
hidupnya sejajar dengan produser sialan itu.
Changmin merasa sedih karena tak satupun dari keempat
rekannya itu satupun tidak ada yang bertanya tentang keberadaannya. Hanya Bomi,
satu-satunya yang sampai berkali-kali men-coba menghubunginya. Ia tahu, keempat
hyung itu tengah sibuk mencari uang juga. Mereka mungkin tak ada waktu untuk
memikirkan apakah yang lain sudah mendapatkan uang itu atau belum. Karena
secara logika, jika salah satu dari mereka sudah mendapatkan uang dengan
nominal yang lengkap, maka mereka akan memberitahukan kabar itu tanpa harus
disuruh. Tapi sejauh ini, sejak pertemuan mereka di rumah Jaejoong tempo hari,
belum ada satupun dari mereka yang mengatakan bahwa uang itu sudah ada di
tangan mereka.
“Changmin?”
“Umma…”
Changmin terdiam beberapa saat begitu berpandangan
dengan umma yang dirindukannya. Ia sudah tidak bertemu dengan ummanya sejak
beberapa bulan yang lalu. Ia benar-benar rindu saat-saat seperti ini. Jadi ia
memeluk ummanya dengan mata basah. Tak peduli apakah pelukannya terlalu erat
atau tidak. Yang jelas, ia hanya ingin menumpahkan keluh kesahnya di pelukan sang
ibu yang selama ini hanya bisa berkomunikasi dengannya lewat ponsel.
“Kau pulang lebih cepat.” Ucap umma saat Changmin
sudah tenang. Mereka duduk di sofa dan sepertinya ibu Changmin sudah tahu
mengenai masalah yang dialami kelima ‘mantan’ anggota DBSK dengan produser SM.
“Aku ingin minta tolong pada umma.” Jawab Changmin
sambil sedikit menundukkan wajahnya.
“Apa yang bisa umma lakukan untuk membantumu
menyelesaikan masalah dengan SM?”
Sebelum menjawab pertanyaan itu, Changmin memikirkan
kata-kata yang tepat untuk membuat ibunya tidak merasa seperti seolah disuruh
bertanggung jawab atas masalah ini. Memang bukan ide bagus melibatkan ibunya
dalam masalah ini. Tapi ia memang harus mencoba dulu, dan ia tak peduli
kalaupun nanti ia harus berlutut memohon maaf di kaki ibunya jika ibunya
ternyata marah.
“Changmin?” tegur ibunya lagi. Changmin mengangkat
wajah dan menatap ibunya dengan serius.
“Karena kami semua tak ingin Yoochun hyung masuk
penjara, jadi kami bernego dengan istri dari produser itu. Dan dia memberikan
syarat pada kami. Jika kami tak ingin Yoochun hyung dituntut, maka kami harus
membayar denda sebesar 100 juta won.” Changmin menggigit bibir dengan ekspresi
menyesal. Ia melihat ibunya belum terlalu menangkap maksud sebenarnya.
“Jadi maksudmu, kau ingin umma membayarkan uang…”
“Bukan begitu, umma!” Changmin memotong. “Aku sama
sekali tidak meminta umma untuk membayar denda itu. Aku hanya bermaksud untuk…
meminjam uang saja. Aku janji dalam satu bulan, aku akan mengembalikan uang
itu.”
Beberapa saat ruangan itu menjadi hening. Hanya detak
jam dinding yang menjadi satu-satunya suara yang terdengar di sana. Changmin
sadar akan apa yang baru saja diucapkannya. Membawa masalah ini ke hadapan
ibunya, meminta sesuatu yang mungkin tak seharusnya diketahui siapapun termasuk
keluarganya. Tapi ibu pernah bilang, jika ia punya masalah, ia harus bercerita
agar ibu bisa membantunya. Dan saat ini, hal itulah yang dilakukan Changmin. Ia
berharap ibu bisa membantunya keluar dari masalah ini. Ia benar-benar ingin
bebas dari SM. bebas untuk selama-lamanya.
“Kapan uang itu harus kau bawa?” tanya umma setelah
jeda yang amat panjang.
“Minggu depan…”
“Baiklah, umma akan bicarakan ini dengan appa-mu.”
“Terima kasih, umma! Aku janji kalau umma dan appa
bisa meminjamkan uang itu, aku akan segera menggantinya. Aku janji!”
“Umma percaya padamu, Changmin. Selalu.” Ibu Changmin
tersenyum. Dan Changmin benar-benar merasa beruntung karena bisa memiliki sosok
ibu yang bijak seperti itu.
Tapi masalahnya tidak hanya terhenti di sini saja. Untuk mendapatkan restu dari
ayah, tidak akan semudah mendapatkan restu dari sang ibu. Mungkin saja ayah
Changmin justru akan marah dan bahkan tak mau tahu apapun tentang uang itu. Dan
Changmin tak bisa memungkiri bahwa ia takut hal itu terjadi. Ayah adalah sosok
yang sangat keras, pemikir, dan sangat keras kepala. Jadi jika nanti ia tak
berhasil mendapatkan uang itu, ke mana lagi ia harus mencari?
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar