Welcome

Rabu, 16 Mei 2012

DBSK comeback? (part 23)


Jaejoong POV

Aku berjalan menyusuri koridor-koridor yang lembap, tak sedikitpun cahaya matahari yang dapat menembus dinding itu. Tak ada jendela, tak ada ventilasi.. Hanya cahaya dari lampu yang tergantung di langit-langit yang menyinari seluruh koridor. Suara langkah kakiku bergema.

Sudah lama aku tidak kemari, mungkin terakhir kali aku kesini waktu menandatangani surat pengakhiran kontrak kerja.

Tadi pagi produser C-Jess Entertaiment menghubungiku, dia menawarkan sebuah pekerjaan untukku. Aku belum membicarakan masalah ini dengan Hana, aku tak mau membuatnya khawatir. Sudah cukup dia pusing karena masalah kami.

Tok-Tok-Tok

Aku mengetuk daun pintu itu. “Masuk.” Seseorang berkata dari sebrang sana.

Aku memutar gagang pintu dan melangkahkan kakiku masuk kedalam sebuah ruangan yang tak asing lagi bagiku. Diruangan ini dulu kami sering berdiskusi mengenai JYJ ataupun hal lainnya.

“Kim Jaejoong.” Suara bijak, yang duduk diatas kursi kekuasaannya. Tersenyum hangat kepadaku. “Apa kabar? Silahkan duduk.”

Aku menarik sebuah kursi tepat di seberang mejanya, membalas senyumannya. Aku sedang tak ingin berbasa-basi. “Tidak buruk. Lebih baik kita langsung ke bagian inti. Aku tak ingin berlama-lama.”

“Sifatmu tak pernah berubah.” Produser itu tersenyum. “Bagaimana dengan tawaranku? Maukah kau menjadi guru vocal?”

Aku terdiam, tak tahu harus menerima tawaran ini atau tidak. Tetapi aku harus bekerja, menghidupi istri-ku dan calon anakku. Aku akan menerimanya!

Tapi bagaimana jika Hana tidak menyetujui langkahku ini? Apa aku akan tetap memaksa? Aku akan mengambil pekerjaan ini dengan atau tanpa persetujuan dari Hana.

“Bagaimana?” Produser itu bertanya kembali.

“Aku akan menerima tawaranmu.” Aku tersenyum.

“Baiklah, kau bisa kembali minggu depan untuk menandatangani kontrakkerja dan mulai bekerja”

Aku kembali tersenyum berjalan menuju pintu keluar. “Senang bisa bekerja sama denganmu lagi.” Produser itu berkata setelah aku menutup pintu, tapi aku masih bisa mendengar suaranya.

Aku tersenyum getir. “Aku juga.”

***

Aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi, aku ingin segera pulang dan memberi tahu Hana tentang ini, bahwa aku akan menjadi guru vocal.

“Aku pulang.” Aku menutup pintu dan menghempaskan badanku keatas sofa, tepat disebelah Hana yang tengah menonton acara di televisi.

“Oppa, kau sudah pulang?” Hana tesenyum memandangku. “Kau dari mana saja? Kenapa kau pergi tidak memberitahuku terlebih dahulu..”

Apa aku harus memberitahukan Hana sekarang? Hana berhak tahu, karena dia adalah istriku.
Aku membuka mulut, tapi tak sepatah katapun yang keluar dari bibirku. aku mencoba menyakinkan diriku kembali. Aku yakin bahwa apa yang aku lakukan adalah benar.

Menerima tawaran itu adalah hal yang benar.

“Kau ingin mengatakan sesuatu?” Hana menatapku dengan ekspresi bingung.

“Hana, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.” Aku menggenggam erat kedua tangan Hana. Ekspresi-ku menjadi sangat serius. Hana tak memotong kalimatku, jadi aku melanjutkan. “Aku akan menjadi gurul vocal untuk anak-anak asuhan C-Jess Entertaiment.”

Hana tampak sangat terkejut. Ekpresinya sulit di gambarkan. Dia terlihat hampir menangis.
 
Hana melepaskan genggaman tanganku. Dan dia berdiri “Tapi kenapa kau tak memberitahu-ku terlebih dahulu?”

“Karena aku tak mau menambah beban pikiranmu.” Aku berdiri, manatap kedua bola mata miliknya.

“Tapi bagaimana dengan DBSK?!” Air mata telah berkumpul di pelupuk matanya, dan siap mengalir melewati pipi merahnya.

“Kau tak mengerti! DBSK sudah tak mempunyai harapan lagi!”

PLAKK!! Tangan mungil Hana melayang dan mendarat tepat di pipi kananku.

“Harapan itu masih ada! Harapan itu masih ada!” Hana setengah beerteriak, air mata yang sedari tadi di tahannya mulai mengalir melewati pipinya dan jatuh diatas lantai. “Pekerjaanmu sebagai guru vocal akan membuat DBSK semakin sulit bersatu!”

“Tapi aku membutuhkan sebuah pekerjaan Hana.” Aku mencoba menggenggam tangan Hana, tapi dia melepaskannya dengan kasar. “Aku harus menghidupimu dan anak kita nanti.”

“Tapi hal yang kau lakukan itu hanya akan membuat masalah semakin rumit!”

“Aku tau konsekuensi yang akan kuterima dan ini merupakan cara untuk mendapatkan uang seratus juta won!”

“Uang? Karena alasan uang kau menerima tawaran itu?!’ Hana membentakku. “Aku mau kau mencari uang dengan cara kau tidak mengorbankan kebahagiaan dan mimpimu!”

“Tapi aku membutuhkan uang seratus juta won, untuk membantu kami lepas dari jeratan hukum yang dilayangkan si tua Bangka itu!”

“Setelah kau mendapatkan uang itu, kau pasti akan menjadi tersiksa!” Hana kembali menangis. “Kau akan mejadi guru vocal, aku tak itu bukan impianmu!”

“Bagaimana kau tak aku akan tersiksa? Bahkan aku belum pernah mencobanya!”

“Impianmu adalah bernyanyi!”

Kata-kata Hana bagaikan pisau yang menusuk jantungku. Aku sadar bahwa aku masih ingin bernyanyi.

Hana berjalan meninggalkanku yang masih kaget.

BRAKKK!! Sebuah pintu di banting dengan keras.

***

Author POV

Tanpa sepengetahuan siapapun, Changmin pergi meninggalkan apartmentnya. Dia memilih untuk menelpon taksi dan mengantarnya pulang ke rumah orang tuanya. Kebetulan rumah ayah dan ibu Changmin masih di Seoul, jadi tak membutuhkan waktu lama baginya untuk tiba di sana. Changmin bahkan tidak menjawab pesan Bomi yang menanyakan keberadaan-nya saat ini. Ia baru akan memberi kabar jika ia sudah berhasil mencapai tujuannya yaitu mendapatkan pinjaman uang sebesar 100 juta won. Ya, memang hanya untuk tujuan itulah ia pulang ke rumah ibunya. Ia tahu memang tak seharusnya ia melibatkan keluarganya dalam masalah ini. Tapi ia sudah tidak kuat lagi. Ia bingung. Ia tak bisa memikirkan jalan keluar lain. Kalaupun nanti keluarganya tidak bisa meminjamkan uang sebanyak itu, mungkin ayahnya bisa membantu mencari pinjaman ke orang lain. Karena Changmin tahu, ayahnya memiliki banyak rekan yang taraf hidupnya sejajar dengan produser sialan itu.

Changmin merasa sedih karena tak satupun dari keempat rekannya itu satupun tidak ada yang bertanya tentang keberadaannya. Hanya Bomi, satu-satunya yang sampai berkali-kali men-coba menghubunginya. Ia tahu, keempat hyung itu tengah sibuk mencari uang juga. Mereka mungkin tak ada waktu untuk memikirkan apakah yang lain sudah mendapatkan uang itu atau belum. Karena secara logika, jika salah satu dari mereka sudah mendapatkan uang dengan nominal yang lengkap, maka mereka akan memberitahukan kabar itu tanpa harus disuruh. Tapi sejauh ini, sejak pertemuan mereka di rumah Jaejoong tempo hari, belum ada satupun dari mereka yang mengatakan bahwa uang itu sudah ada di tangan mereka.

“Changmin?”

“Umma…”

Changmin terdiam beberapa saat begitu berpandangan dengan umma yang dirindukannya. Ia sudah tidak bertemu dengan ummanya sejak beberapa bulan yang lalu. Ia benar-benar rindu saat-saat seperti ini. Jadi ia memeluk ummanya dengan mata basah. Tak peduli apakah pelukannya terlalu erat atau tidak. Yang jelas, ia hanya ingin menumpahkan keluh kesahnya di pelukan sang ibu yang selama ini hanya bisa berkomunikasi dengannya lewat ponsel.

“Kau pulang lebih cepat.” Ucap umma saat Changmin sudah tenang. Mereka duduk di sofa dan sepertinya ibu Changmin sudah tahu mengenai masalah yang dialami kelima ‘mantan’ anggota DBSK dengan produser SM.

“Aku ingin minta tolong pada umma.” Jawab Changmin sambil sedikit menundukkan wajahnya.

“Apa yang bisa umma lakukan untuk membantumu menyelesaikan masalah dengan SM?”

Sebelum menjawab pertanyaan itu, Changmin memikirkan kata-kata yang tepat untuk membuat ibunya tidak merasa seperti seolah disuruh bertanggung jawab atas masalah ini. Memang bukan ide bagus melibatkan ibunya dalam masalah ini. Tapi ia memang harus mencoba dulu, dan ia tak peduli kalaupun nanti ia harus berlutut memohon maaf di kaki ibunya jika ibunya ternyata marah.

“Changmin?” tegur ibunya lagi. Changmin mengangkat wajah dan menatap ibunya dengan serius.

“Karena kami semua tak ingin Yoochun hyung masuk penjara, jadi kami bernego dengan istri dari produser itu. Dan dia memberikan syarat pada kami. Jika kami tak ingin Yoochun hyung dituntut, maka kami harus membayar denda sebesar 100 juta won.” Changmin menggigit bibir dengan ekspresi menyesal. Ia melihat ibunya belum terlalu menangkap maksud sebenarnya.

“Jadi maksudmu, kau ingin umma membayarkan uang…”

“Bukan begitu, umma!” Changmin memotong. “Aku sama sekali tidak meminta umma untuk membayar denda itu. Aku hanya bermaksud untuk… meminjam uang saja. Aku janji dalam satu bulan, aku akan mengembalikan uang itu.”

Beberapa saat ruangan itu menjadi hening. Hanya detak jam dinding yang menjadi satu-satunya suara yang terdengar di sana. Changmin sadar akan apa yang baru saja diucapkannya. Membawa masalah ini ke hadapan ibunya, meminta sesuatu yang mungkin tak seharusnya diketahui siapapun termasuk keluarganya. Tapi ibu pernah bilang, jika ia punya masalah, ia harus bercerita agar ibu bisa membantunya. Dan saat ini, hal itulah yang dilakukan Changmin. Ia berharap ibu bisa membantunya keluar dari masalah ini. Ia benar-benar ingin bebas dari SM. bebas untuk selama-lamanya.

“Kapan uang itu harus kau bawa?” tanya umma setelah jeda yang amat panjang.

“Minggu depan…”

“Baiklah, umma akan bicarakan ini dengan appa-mu.”

“Terima kasih, umma! Aku janji kalau umma dan appa bisa meminjamkan uang itu, aku akan segera menggantinya. Aku janji!”

“Umma percaya padamu, Changmin. Selalu.” Ibu Changmin tersenyum. Dan Changmin benar-benar merasa beruntung karena bisa memiliki sosok ibu yang bijak seperti itu.
 
Tapi masalahnya tidak hanya terhenti di sini saja. Untuk mendapatkan restu dari ayah, tidak akan semudah mendapatkan restu dari sang ibu. Mungkin saja ayah Changmin justru akan marah dan bahkan tak mau tahu apapun tentang uang itu. Dan Changmin tak bisa memungkiri bahwa ia takut hal itu terjadi. Ayah adalah sosok yang sangat keras, pemikir, dan sangat keras kepala. Jadi jika nanti ia tak berhasil mendapatkan uang itu, ke mana lagi ia harus mencari?

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar