Jaejoong POV
Aku merasa bersalah, kenapa aku tidak peka terhadap
kesehatan istriku, aku mengutuk diriku sendiri karena membiarkannya merasa
kesakitan seperti itu.
Aku tidak sempat mengantar Yunho kerumah sakit karena,
aku menerima pesan singkat dari Hana, dia berkata bahwa dia akan mengunjungi
rumah orangtuanya.. Aku menyerahkan Yunho kepada Changmin dan Yoochun untuk
dibawa kerumah sakit.
Bagaimana
dengan Junsu? Aku tidak tau dia bergi kemana, tapi kurasa dia membutuhkan waktu
untuk sendiri. Betapa bodohnya aku, aku terlalu egois memikirkan diriku
sendiri, memikirkan tentang kembalinya Dong Bang Shin Ki, sedangkan Hana, istriku
yang sangat aku cintai tergeletak di salah satu kamar rumah sakit.
Aku segera menghubungi orangtua Hana, memberitahukan
kepada mereka bahwa putrinya sedang sakit dan dirawat di rumah sakit.
Aku masih menunggu di ruang tunggu rumah sakit
menunggu orangtua Hana datang. Kenapa dokter itu lama sekali untuk memeriksa
Hana? Apakah sesuatu terjadi pada Hana? Apakah Hana menderita penyakit yang
parah?
Aku segera membuang semua pikiran negative-ku tentang
Hana. Hana akan baik-baik saja, aku yakin itu. Hana adalah wanita tegar, dia
pasti kuat.
Aku sudah menunggu lebih dari 15 menit di ruang
tunggu, tapi dokter ataupun suster yang memeriksa Hana belum keluar. Orangtua
Hana-pun belum datang.
Bip-Bip-Bip
Ponselku berdering, ada panggilan masuk, kulihat nama
yang tertera pada layar Yoochun-sshi. Aku segera mengangkat telepon itu,
terdengar nada khawatir pada suara yoochun.
“Iya? Ada apa Yoochun? Bagaimana keadaan Yunho?... Oh
separah itukah?... Aku? Aku sedang dirumah sakit…. Bukan, bukan aku yang sakit
tetapi Hana yang sakit… Yunho berada dirumah sakit apa?... berarti kita berada
pada rumah sakit yang sama, aku dilantai 5 kamar no 177.” Aku melihat Orang tua
Hana dari jauh. “Aku akan menjenguk Yunho nanti.” Kuputus sambungan teleponku
karena sekarang orang tua Hana berada di depanku.
“Bagaimana keadaannya?” Ibunya Hana bertanya padaku,
nada khawatir terdengar jelas saat dia bertanya. “Apa keadaannya baik-baik
saja?”
“Aku tidak tau, Umma.” Aku berkata. “Dokter yang
memeriksa Hana belum keluar.”
“Lebih baik kita tunggu saja.” Giliran ayah-nya Hana
yang berbicara. Dia mengelus punggung istrinya dengan lembut, berusaha
menenangkannya
Aku mencoba untuk tenang, tetapi pikiranku kembali
terbagi antara Yunho dan Hana.
Yunho! Dia berada satu lantai diatasku, aku berniat
untuk menjenguknya, Yoochun berkata bahwa Yunho mengalami pukulan keras di
bagian wajahnya, tetapi darahnya sudah tidak mengalir lagi, walaupun begitu dia
cukup kehilangan banyak darah. Entah pukulan siapa yang mendarat sempurna di
wajah Yunho, tetapi pukulan itu membuat Yunho terluka.
Changmin dan Junsu, entah setan apa yang merasuki kedua mahkluk itu dan
menyebabkan mereka terlibat perkelahian. Tapi itu menyebabkan seseorang masuk
rumah sakit. Aku menahan air mataku untuk tidak mengalir, aku tak mau
menunjukan perasaanku saat ini, terlebih di depan kedua orangtua Hana.
Apakah ini takdir yang harus aku jalani? Kehilangan
sesuatu yang paling berharga bagiku? Apakah Tuhan tidak menyetujui kembalinya
sebuah group bernama Dong Bang Shin Ki?
Aku berniat mengunjungi Yunho, tetapi aku tak dapat meninggalkan Hana disini,
tidak dengan semua yang telah aku lakukan padanya. Tapi aku berjanji untuk
mengunjungi Yunho.
Aku berdiri, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengunjungi Yunho?
Atau aku harus tetap disini menunggu Hana? Apa yang harus aku lakukan?
Kulihat seseorang dengan jas putihnya keluar dari
ruangan itu, ruangan yang didalamnya terdapat seseorang yang aku cintai. Hana
Aku mendekati Dokter itu, orangtua-nya mengikutiku
dari belakang. “Bagaimana keadaan istri saya Dokter?” aku bertanya kearah
dokter itu.
“….” Dia tidak menjawab pertanyaanku.
“Dokter! Saya berbicara kepada anda.” Aku menaikan
sedikit suaraku. “Bagaimana keadaan istri saya?”
Dia terseyum, entah itu menandakan apa, yang jelas aku
mau mengetahui bagaimana keadaan Hana, Sekarang!
“Selamat ya.” Dia mengucapkan 2 kata yang membuatku
tambah bingung. Orang tua Hana saling menatap dan mempertanyakan apa yang
dimaksud Dokter itu.
“Apa maksud
anda?” Aku bertanya kembali.
“Selamat ya, anda akan menjadi seorang ayah.” Dokter
itu mengatakan hal yang? Hal yang baru pertama kali aku dengar.
Orang tua Hana berpelukan, aku mendengar mereka
berkata “Kita akan segera mempunyai cucu.”
Aku merasakan perasaan yang belum pernah kurasakan,
perasaan yang aneh. Apa dokter itu tidak salah? Aku akan menjadi seorang ayah?
Aku merasakan sesuatu didalam tubuh, perasaan bahagia?
Perasaan khawatir? Perasaan senang? Sedih? Semuanya bergabung menjadi satu. Ini
adalah kabar yang membahagiakan, seketika juga aku melupakan semua kesedihanku
tentang DBSK, aku bahagia mendapat berita tentang kehamilan Hana.
“Selamat Jaejoong!” Ayah-nya Hana memberikana selamat
padaku. “Apa kau tidak mau bertemu dengan Hana? Dan membagi kabar bahagia ini
kepadanya?”
“Ya, appa!” aku segera masuk kedalam kamar.
Kulihat Hana sedang berbaring lemah di ranjang rumah
sakit, aku menghampirinya. Aku meraih kedua tanganya dan kukecup punggung tangannya.
Aku mencium kilat bibir pucat-nya dan aku mencium keningnya. Terakhir aku
mengelus rambut coklat hangat miliknya.
“Bagaimana keadaanmu?” Aku bertanya kepadanya,
walaupun wajahnya pucat, aku masih dapat merasakan aura cantiknya.
“Lebih baik oppa.” Dia mejawab pertanyaanku dengan
lirih. “Aku sakit apa?”
“Kau tidak sakit Hana.”Aku kembali menciun keningnya.
“Kita akan segera mempunyai anak?”
“Benarkah? Benarkah?” kurasa Hana masih sulit
mempercayai berita ini. “Oppa, kau tidak berbohong padaku kan?” Dia berusaha
untuk bangun, aku membantunya untuk bangun.
“Buat apa aku berbohong padamu?” Aku tersenyum.
“Oppa, aku mencintaimu.” Hana mendekatkan wajahnya
padaku, dan aku mencium bibir-nya yang terlihat lebih pucat.
“Ehem.” Seseorang berdeham cukup keras, dan membuatku
menarik bibirku dari bibir-nya Hana.
Aku melihat pipinya Hana merona. Ahh dia tersipu malu.
Aku mengacak-ngacak rambut ku, orangtua-nya Hana, dia
yang masuk kedalam kamar, dan menangkap basah kami sedang berciuman.
***
Yoochun POV
Aku masih berada di sini, Yunho hyung belum
sepernuhnya sadar. Aku melirik kearah Changmin dan dia masih menunduk.
Entahlah, mungkin dia merasa menyesal karena terlibat baku hantam dengan Junsu.
Aku tau Junsu sulit mengendalikan emosinya akhir-akhir
ini, tapi bagaimana dengan Changmin? Baru kali ini aku melihat Changmin
mengeluarkan emosinya seperti itu.
Kenapa saat berhubungan dengan SM atau DBSK, emosinya changmin seperti naga
yang mengamuk, menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya. Aku melihat
perubahan dalam diri Changmin, kurasa dia lebih menggunakan otot dari pada otak
akhir-akhir ini. Apa dua tahun terikat kontrak esklusif dengan SM membuatnya
seperti ini?
Sekali lagi aku
menatap wajahnya Changmin, dia masih menunduk. Menunduk sangat dalam. Tadi aku
telah memberitahu Jaejoong hyung. Dia berjanji akan mengunjungi Yunho hyung,
tapi sampai saat ini dia tidak kunjung datang. Aku dan Changmin hanya saling
membisu, tak satupun diantara kami yang akan memcahkan keheningan ini, aku
mencoba menerka apa yang sedang Changmin pikirkan.
Dokter segera keluar dan aku menghampirinya, Changmin
tetap duduk pada kursi itu, tidak mengikutiku untuk menghampiri Dokter itu.
“Bagaimana keadaan Yunho hyung, Dokter?” Aku bertanya
kepada dokter itu.
“Aku sudah mengobati memar dan luka yang ada di
wajahnya.” Dia menatapku dengan tatapan seorang Dokter yang bijaksana. “Dia
mendapat pukulan yang cukup keras di bagian kepalanya. Tapi untung saja tak
terjadi hal-hal yang diluar keinginan.”
“Bolehkan aku menjenguknya, Dokter?”
“Tentu, kuharap dia cepat sembuh.” Dokter itu, melirik
kearah Changmin. “Apakah dia temanmu? Kurasa dia harus mengobati luka yang ada
di wajahnya.”
“Aku akan menyuruhnya, mengobati lukanya itu.” Dokter
mengangguk pelan, dan meninggalkan kami.
Aku berjalan menghampiri Changmin. “Kurasa kau harus
mengobati lukamu itu.”
“Tidak perlu.” Jawabnya dingin.
“Kau mau, jika lukamu itu terinfeksi?”
“Aku tidak peduli.”
“Ada apa denganmu?!” Aku muak dengan jawabannya yang
sangat dingin seperti itu. “Bisakah kau mengesampingkan ego-mu, dan
mendengarkan perkataanku!”
“Apa kau juga ingin mengaturku?!” Dia berdiri dan
menatapku dengan sinis. “Apa kau juga ingin mengaturku seperti Yunho hyung?!”
“Ada apa denganmu?!” Aku kembali berteriak di depan
mukanya, aku tidak mengerti, kenapa dia menjadi seperti ini.
Beberapa pasien dan pengunjung rumah sakit menatap
kami dengan tatapan ini-rumah-sakit-kalian-tau, aku segera membuang emosi-ku.
“Changmin, dengar!” Aku menatap wajah Changmin. “Aku
tidak bermaksud untuk mengaturmu. Aku hanya ingin kau mengobati lukamu.”
“Aku sudah mengatakannya padamu!” Dia menaikan kembali
suaranya. “Aku tidak peduli.” Dia menekan 3 kata tersebut.
“Baik, kalau kau tidak peduli dengan lukamu itu.” Aku
mundur satu langkah, aku tidak mau membuat ini menjadi lebih rumit. “Aku tidak
akan memaksamu untuk mengobati lukamu itu.”
Aku berjalan meninggalkan Changmin di luar, aku masuk
kedalam kamar yang di tempati Yunho hyung, dia terlihat sedikit lelah.
“Hyung?” aku menghampiri Yunho hyung yang masih
berbaring di atas ranjangnya.
“Yoochun, dimana yang lainnya?” Yunho hyung bertanya,
saat ia tidak melihat Jaejoong hyung, Junsu, ataupun Changmin masuk kedalam
ruangan ini.
“Junsu pergi entah kemana.” Kataku sambil duduk di
kursi yang telah disediakan. “Jaejoong hyung, menemani Hana, karena Hana sedang
sakit. Mereka ada di lantai 5…” Aku menghentikan kalimatku.
“Bagaimana dengan Changmin?” Yunho mencari sang
magnae. “Kemana dia?”
“Dia tak mau masuk.”
“Kenapa?”
“Aku tak peduli.” Jawabku malas. “Apakah sakit?”
“Lumayan, pukulan yang cukup keras.” Yunho memegang
keningnya yang telah terbalut dengan perban. “Kurasa mukaku tambah babak
belur.”
Yunho hyung mendapatkan 3 pukulan di wajahnya yang
membuat wajahnya menjadi seperti orang yang dipukul satu kampung. 2 dari
Changmin saat di parkiran hotel dan 1 dari entahlah antara Junsu atau Changmin.
***
Author POV
Langkah Jaejoong terhenti saat ia melihat Changmin
tengah terduduk di kursi tunggu. Kamar yang ditujunya ada tepat di depan
Changmin. Tapi kenapa Changmin tidak masuk ke sana?
“Di mana Yoochun?” tanya Jaejoong sambil mendekat
padanya.
“Di dalam.” Jawabnya singkat.
“Kau tidak masuk?”
Changmin hanya menggeleng samar. Ekspresi wajahnya
nyaris membuat Jaejoong berpikir bahwa yang ada di depannya saat ini bukan
Changmin yang dulu ia kenal. Ia sudah cukup kesal karena sikap kenakan-kanakan
Changmin dan Junsu tadi sore. Dan sekarang ia tidak mengira bahwa Changmin akan
semakin menambah kekesalannya dengan sikap tidak mengenakkan seperti itu. Tapi
Jaejoong bisa apa? Ini rumah sakit, dan ia tidak ingin membuat masalah.
Terlebih lagi di sini ada orang tuanya Hana. Apa jadinya dia kalau sampai kedua
mertuanya itu melihatnya membuat keributan di rumah sakit?
“Ayo kita masuk.” Ajak Jaejoong. Tapi yang diajak
tidak memberikan respon apa-apa. “Apa kau tidak mau melihat Yunho? Ayo kita
masuk.” Ajak Jaejoong lagi. Kali ini dia menarik tangan Changmin dan bermaksud
memaksanya untuk masuk. Tapi dengan cepat Changmin melepaskan tangan Jaejoong
darinya. Setelah itu ia berdiri, mengangkat wajahnya dan menatap ke dalam bola
mata Jaejoong yang hitam bening.
“Aku mau pulang.” Ucap Changmin.
“Apa kau bilang?”
“Aku mau pulang, hyung.”
“Enak sekali kau bilang begitu. Kau pikir Yunho masuk
rumah sakit karena siapa? Karena aku? Karena Yoochun? Coba gunakan otakmu
sedikit. Jangan hanya memikirkan egomu.” Jaejoong memberi penekanan yang tajam
pada kalimat terakhirnya. Changmin terdiam sejenak, ia tidak memalingkan
matanya dari wajah Jaejoong.
“Aku sudah mencoba menelan egoku. Tapi apa balasan
yang kudapat? Aku ingin kita bersatu kembali, hyung. Hanya itu. Aku tahu kita
semua trauma dengan apa yang sudah dilakukan SM pada kita. Tapi bagaimanapun,
aku sangat mencintai grup ini. Aku ingin semuanya kembali. Dan kalian semua
mengacaukan impianku dengan seenaknya. Terutama kau, dan Junsu hyung!”
“Punya hak apa kau sampai berani menyalahkanku seperti
itu?!” Jaejoong terpancing emosi.
“Aku tidak menyalahkanmu!”
“Kau menyalahkanku!”
“Tidak!”
“Lalu apa maksudmu berkata seperti itu, hah?!”
“Sudah, hentikan!” tiba-tiba Yoochun muncul dari balik
pintu. Mereka berdua serentak menoleh ke arah Yoochun yang kini berjalan
mendekati mereka. “Ini rumah sakit. Tolong jaga emosi kalian. Ingat, kalian
sudah dewasa, bukan anak kecil lagi.”
“Tak perlu mengajariku seperti itu! Aku ingin memberi
pelajaran pada anak kurang ajar ini!” Jaejoong menatap Changmin dengan sinis.
“Kau kira aku takut padamu?” Changmin menantang.
“Kau lihat? Dia sudah berani kurang ajar padaku.”
Jaejoong berkata pada Yoochun dengan nada menyindir. “Aku akan membuatmu
menyesal karena sudah berkata seperti itu padaku!”
“Aku tidak akan menyesal!”
“Jangan membantahku!”
“Memangnya kau kira kau ini siapa?!”
“Sudaaah..!!!” Yoochun berteriak. Lututnya terjatuh ke
lantai dan ia menangis. Jaejoong dan Changmin saling berpandangan. “Jangan
bertengkar lagi. Sudah… aku mohon. Kalau kalian tak ingin Dong Bang Shin Ki
kembali lagi, tak masalah. Tapi jangan sampai kalian jadi bertengkar seperti
ini. Apa kalian tidak sadar, masalah di antara kita sudah cukup rumit. Junsu
pergi entah ke mana, Yunho hyung terbaring sakit, dan sekarang kalian ingin
semakin menambah masalah dengan keegoisan kalian? Apa kalian masih belum puas
juga menghancurkan harapanku…?”
Beberapa perawat dan keluarga pasien yang kebetulan
berada di sekitar sana kini saling berbisik membicarakan pertengkaran ketiga
pria yang dulu sangat populer di Korea. Mereka semua tentu mengenal ketiga pria
itu. Dan mereka semua tentu sudah tahu masalah yang menimpa mereka.
“Ini semua gara-gara kau.” Ucap Jaejoong sambil
melempar tatapan tajam pada Changmin.
“Kenapa kau terus saja menyalahkanku?! Aku lelah
dengan semua tuduhanmu itu!”
“Aku tidak menuduhmu! Aku berbicara fakta!”
“Lalu apa buktinya kalau aku yang bersalah?!”
Baru saja Jaejoong akan menjawab pertanyaan Changmin,
tiba-tiba ada tangan kekar yang menariknya dari belakang. Ia melihat Changmin
pun ditarik oleh seorang security rumah sakit.
“Kalian sudah membuat keributan, jadi kalian harus
ikut dengan kami!” ucap security yang menarik tangan Jaejoong.
“Lepaskan aku!” Jaejoong meronta-ronta. Berbeda dengan
Changmin yang terlihat pasrah.
Tapi security itu tidak menghiraukan perlawanan Jaejoong. Keduanya membawa Jaejoong
dan Changmin menjauh dari sana. Yoochun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia merasa
memang lebih baik jika kedua orang itu dihadapakan dengan keamanan. Mereka
berdua perlu mendapat ceramah singkat dari para polisi.
Setelah Jaejoong dan Changmin tak nampak lagi, Yoochun
kembali masuk ke dalam kamar.
“Aku sudah tahu kejadiannya akan seperti ini.” Ucap
Yunho saat Yoochun menutup pintu.
Yoochun hanya tersenyum kecil, lalu ia berjalan
mendekat ke ranjang Yunho.
“Sepertinya masalah ini akan semakin parah.” Gumam
Yoochun.
“Padahal kukira, kita bisa menjalin hubungan baik lagi
saat kita bertemu setelah sekian lama berpisah. Tapi tak kusangka keadaannya
malah bertambah parah seperti ini.” Yunho tampak menyesal. Yoochun tidak
mengeluarkan kata-kata lagi. Ia merasa tak memiliki jawaban yang tepat untuk ia
ucapkan. Padahal saat sebelum produser SM mengajak mereka bergabung kembali,
hubungan mereka masih baik-baik saja. Apa si tua bangka itu sengaja memberikan
tawaran agar mereka menjadi terpecah seperti ini? Yoochun menelan ludah
berkali-kali saat ia baru menyadari bahwa semua kalimat yang keluar dari mulut
produser itu sengaja diucapkan untuk memancing amarah mereka berlima.
Benar-benar jebakan yang sempurna. Tipu muslihat yang cantik.
Tapi muncul satu pertanyaan dalam benak Yoochun.
Untuk apa produser melakukan semua itu? Apa masih
belum puas juga dia mengacaukan kebersamaan DBSK? Apa dia ingin melihat sampai
mereka berlima benar-benar hancur?
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar