Welcome

Sabtu, 23 April 2016

FREGOLI DELUSION (20)


Sambil agak berlari Yoomi membuka pintu ruangan itu, ruangan tempat Yunho berada saat ini. Dia kembali masuk rumah sakit karena gejala trauma kepalanya kembali muncul. Yoomi diminta Tn. Jung untuk menemani Yunho sementara ia harus mengurusi hal lain. Yoomi menatap wajah yang tertidur di ranjang besi itu dengan tatapan nanar, ia sudah sangat lama tidak berbicara dengan Yunho. Sebelum semua ini terjadi, tentu saja Yunho selalu menggodanya, menatapnya dengan penuh kasih sayang. Kejadian itu memang tidak merenggut nyawa Yunho, tapi dapat dikatakan kejadian itu merenggut Yunho-nya yang dulu. Tidak bisa digambarkan betapa sakit hati dan kecewanya Yoomi saat Yunho terbangun dan menatapnya dengan ngeri, bahkan mungkin jijik. Tetapi hal itu sama sekali tidak membuatnya membenci Yunho, namun jujur saja ia sudah hampir akan menyerah untuk mempertahankan Yunho sebagai calon suaminya. Jika bukan karena Tuan dan Nyonya Jung, dan juga Jihae, maka Yoomi mungkin sudah memutuskan untuk pergi saja dan membiarkan Yunho hidup tenang tanpa keberadaannya.

Kini Yoomi mengusap jemari Yunho dengan sangat berhati-hati, seolah Yunho akan segera terbangun dan mengusirnya jika ia sampai membangunkannya dari tidur. Wajah Yunho tampak sangat damai saat ini, namun hati Yoomi tetap gusar. Ia takut kalau Yunho tanpa sengaja terbangun dan melihatnya, maka keadaan Yunho akan segera memburuk.

Sudah cukup lama memang Yunho melakukan terapi bersama tim ahli kedokteran jiwa. Dan pihak dokter sudah menginformasikan bahwa keadaan Yunho sudah berangsur-angsur membaik. Bahkan Yunho sudah sepenuhnya menerima beberapa orang, dan tidak menganggap bahwa semua orang adalah penculiknya yang sedang menyamar.

“Ugh…”

Yoomi tersentak oleh suara Yunho, ia melihat ke arah wajah tertidur Yunho yang sepertinya sedang dilanda mimpi buruk. Yoomi bermaksud untuk membangunkan Yunho, namun ia tidak berani. Apa yang sedang kau pikirkan Yunho?

***

Bayangan-bayangan itu semakin jelas terpampang dalam ingatannya. Yunho kembali bisa merasakan rasa sakitnya disiksa dengan benda tumpul, diikat di gedung kosong, tidak diberi makanan ataupun minuman selama lebih dari 24 jam. Ia samar-samar mengingat suara orang itu. Seseorang dengan hoodie, suaranya agak lirih setiap kali ia mengajak Yunho berbicara. Namun dalam suara itu terdengar pula nada marah dan sedih. Orang ini sepertinya sangat membenci Yunho. Sepertinya Yunho telah merebut sesuatu hal yang amat berharga baginya. Namun Yunho tidak bisa mengingat apa sebenarnya yang sudah ia rebut.

Semakin jelas ingatan itu saat ini. Ia mengingat orang itu menunjukkannya sebuah foto. Itu adalah foto keluarganya, dan juga Yoomi. Apakah orang itu mencemburui kehidupannya? Tapi apa yang telah ia renggut? Apakah Yoomi? Apakah itu adalah orang yang menginginkan Yoomi?

Sesaat kemudian Yunho terbayang wajah Yoomi yang manis. Ia mulai mengingat Yoomi lagi. Wanita yang sangat ia cintai. Ternyata Yoomi bukanlah penculiknya yang sedang me-nyamar. Yoomi adalah hidupnya. Lalu apakah orang itu ingin mengambil Yoomi darinya?

Cuplikan-cuplikan penuh hal traumatis itu kini sudah mulai menjadi nyata dalam ingatannya. Yunho melihat wajah penculiknya. Ya, itu dia. Seseorang dengan wajah dingin, bibirnya agak pucat namun sedikit merah muda… dan kaku. Matanya… Yunho ingat matanya. Sepasang mata yang sendu, teduh namun juga sangat tajam. Mata yang memandangnya penuh rasa dendam. Mata siapa itu? ya Tuhan… siapa orang itu?

Dan lagi, bayangan itu akhirnya sepenuhnya jelas. Yunho melihat wajah orang itu beberapa detik dalam ingatannya. Ia mengenalinya. Wajah itu. wajah yang sudah dilihatnya. Yunho bahkan bisa mendengar wajah dingin itu berbicara padanya.

 Aku hanya ingin mengambil semua yang telah kau rebut dariku.

***

Yoomi sudah tampak semakin khawatir. Sepertinya mimpi buruk itu sangat menyiksa Yunho. Tubuhnya bergetar dan berkeringat dingin. Ia lalu menggenggam erat tangan Yunho. Pria yang kini terbaring di depannya tampak mulai menunjukkan tanda-tanda akan terbangun dari tidurnya. Yoomi merasa jantungnya berdetak jauh lebih cepat. Ia bingung harus bagaimana. Apakah ia harus bersembunyi agar Yunho tidak melihatnya? Tetapi bagaimana kalau Yunho membutuhkan bantuan?

Belum sempat Yoomi memutuskan, tiba-tiba ia melihat Yunho membuka kedua matanya dengan amat pelan. Pandangan mereka bertautan untuk beberapa saat. Yoomi benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Mungkin setelah ini Yunho akan mengusirnya lagi.

“Yoomi…” suara letih Yunho berhasil membuat Yoomi tertegun.

Apakah ia mengingatku? Batin Yoomi. “Y-ya? Kau perlu aku panggilkan perawat?” tanya Yoomi sambil bermaksud melepaskan genggamannya. Namun ternyata Yunho justru mempererat genggaman itu. Jemari kekarnya menahan Yoomi menjauh.

“Tidak perlu. Aku perlu kau saat ini.”

“Yunho…” saat itu Yoomi merasa mungkin saja ia salah dengar.

Yunho kemudian tersenyum. Senyuman yang sudah lama dirindukan Yoomi. “Maafkan aku, Yoomi. Aku sudah tidak mempercayaimu selama ini.” Yunho berhenti sejenak, dan Yoomi hanya bisa memandang kekasihnya itu dengan perasaan tak tergambarkan. “Kau memang tidak mungkin berniat jahat padaku.”

“Yunho, aku sangat senang kau sudah kembali,” tangis Yoomi pun pecah, ia memeluk Yunho dan menuangkan semua kerinduannya. Ia sangat takut Yunho tidak akan pernah kembali. Yunho pun mengelus rambut panjangnya dengan pelan, membiarkannya menjadi sandaran Yoomi kali ini. Sungguh, ia benar-benar mencintai Yunho. “Ah, aku harus segera memberitahu semua orang mengenai kabar baik ini!” pekik Yoomi kemudian.

Bisa kau beritahu Yoochun juga? Aku sangat perlu bertemu dengannya.”

***

Yoochun baru saja melewati sebuah papan penunjuk jalan ketika berbelok kiri. Jalan yang ia lewati tidak seramai jalan utama. Ia menurunkan kecepatan mobil yang di kemudikannya, matanya mulai menyusuri setiap nama toko yang tertera di sepanjang jalan.

Saat ini ada dua hal yang perlu dilakukannya untuk mencari kebenaran dibalik kasus yang ditanganinya, yaitu mendapatkan memori ingatan Changmin yang hilang dan menelusuri bagaimana pelaku mendapatkan Janis Thorn. Yoochun ingat ketika Seulgi mengatakan bahwa obat itu harus dilaporkan stok maupun jumlah yang terjual kepada Korean Pharmaceutical Association –Asosiasi Farmasi Korea–  setiap 6 bulan sekali untuk mencegah penyalahgunaan obat.

Setelah makan siang, Yoochun menghubungi Asosiasi Farmasi Korea untuk meminta data. Pihak Asosiasi mengatakan bahwa Janis Thorn terjual di 2 apotek yang berbeda dalam kurun waktu 6 bulan, hal ini cocok dengan waktu kematian Kim Seokjin.

Salah satu dari 2 apotek itu berada di Daejeon dan di sinilah Yoochun saat ini.

Mobilnya berhenti ketika melihat tulisan “Olive Young” pada salah satu toko obat bercat putih. ia segera memarkirkan mobilnya.

Yoochun menatap wilayah disekitarnya, lokasi apotek ini cukup jauh dari KAIST ataupun Korean University. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk menemukan tempat ini.

“Selamat datang,” sapa penjaga apotek. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Park Yoochun,” kata Yoochun sambil menunjukkan lencana detektifnya, “Saya ingin meminta keterangan anda, Ahn Heeyeon.” Kata Yoochun saat membaca tanda pengenal yang dikenakan oleh apoteker yang saat ini menjaga toko.

Gadis yang dipanggil Ahn Heeyeon itu segera mempersilahkan Yoochun untuk masuk ke dalam kantor yang berada di sebelah ruangan apoteker. Tidak mungkin Heeyeon memberikan keterangan kepada detektif didepan semua konsumen yang berada di apotek. Ia meminta temannya untuk mengantikannya menjaga toko.

“Apa yang bisa saya bantu?” katanya ramah, ia tersenyum walaupun ada rasa penasaran mengapa seorang detektif datang ke apotek dan ingin meminta keterangannya.

“Saya mendapatkan informasi bahwa apotek ini menjual Janis Thorn 3 bulan yang lalu. Apakah anda ingat menjualnya kepada siapa?” kata Yoochun memulai meminta keterangannya. Ia meletakkan foto Junsu dan Jaejoong di meja. “Apakah salah satu diantara mereka?”

Heeyeon terdiam sebentar, berusaha mengingat-ingat. Matanya bergantian menatap wajah Junsu dan Jaejoong dalam foto, “Aku yang melayaninya pada saat itu, jadi tentu saja aku mengingatnya, karena Janis Thorn adalah obat yang jarang dibeli dan ada aturan ketat dalam penjualannya. Pria itu mengenakan topi pada saat datang kemari, tapi sepertinya pria ini yang membelinya.”

Bukti ini masih belum cukup kuat untuk menunjukan siapa pelakunya.

“Kau bilang ada aturan ketat dalam penjualannya, apakah kau memiliki salinan resep atau hal-hal yang berkaitan dengan itu?” tanya Yoochun.

“Tentu saja ada, tunggu sebentar,” kata Heeyeon seraya bangkit dari duduknya. Butuh waktu beberapa menit untuk mencari selembar kertas diantara tumpukan-tumpukan kertas lainnya, kemudian ia mengeluarkan secarik kertas dari dalam folder. “Kami menyalin informasi ke dalam bentuk digital. Tapi sepertinya ini akan lebih berguna. Ini resep yang digunakan pria itu saat membeli Janis Thorn.”

Yoochun membaca nama pasien dalam resep itu, pupil matanya melebar ketika membaca nama yang tertera dalam resep.

“Bisakah aku melihat cctv dari apotek ini?”

“Ah, maaf. Tapi apotek ini memiliki cctv yang sudah tua jadi kami menghapus rekaman cctv setiap sebulan sekali,” kata Heeyeon. “Tapi di depan toko ada cctv yang dipasang oleh perusahaan induk. Kau bisa meminta salinan copy dari sana.”

“Terima kasih atas kerja samanya,” kata Yoochun sambil membungkukkan badannya lalu pamit.

‘Kim Junsu, bagaimana lagi kau akan menyangkal bukti ini’ batin Yoochun


***

Yoochun baru saja memperoleh konfirmasi dari Dokter yang menuliskan resep itu. Dokter itu mengatakan memang benar bahwa Kim Junsu adalah salah satu pasiennya.

“Kim Junsu, dia adalah salah satu pasienku. Dia didiagnosa menderita Cluster Headche –sakit kepala cluster– sejak 4 tahun yang lalu. Sudah 2 tahun terakhir ini dia berhenti mengkonsumsi Janis Thorn, tetapi beberapa bulan yang lalu dia datang dan memintaku untuk menuliskan resep itu lagi, karena sakit kepalanya mulai muncul,” kata sang Dokter.

Dari kesaksian dokter itu dapat dipastikan bahwa Junsu akan menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan Kim Seokjin.

“Detektif Park, surat penangkapan yang kau minta sudah terbit!” seru Kyuhyun.

***

Jihoon menatap Jaejoong yang duduk di hadapannya. Wajahnya sangat kurus dan dia terlihat sangat lesu, seperti sebagian harapan hidup telah direnggut darinya.

“Bersemangatlah sedikit,” saran Jihoon. “Setidaknya kau bisa berpura-pura bahagia, karena temanmu ini datang menjenguk.”

Jaejoong hanya menarik ujung bibirnya. Ia membalas tatapan Jihoon yang berusaha untuk tidak terlihat khawatir. Tapi bagaimanapun juga hanya Jihoon yang masih peduli kepadanya saat ini. Setelah kejadian di kamarnya waktu itu, ia yakin bahwa Junsu akan membencinya.

Menjadi hal yang biasa ketika Jaejoong ditinggal oleh temannya, sifatnya yang cuek dan terkesan dingin menyebabkan ia jarang memiliki teman dekat. Ia mulai berhenti menghitung orang yang hilang didalam kehidupannya sejak berumur 12 tahun.

Tiba-tiba sebuah kenangan muncul dalam pikirannya. Seperti sebuah film lama yang diputar ulang. Potongan-potongan gambar itu terasa begitu nyata. Sebuah kenangan pertama tentang kehilangan.

Jaejoong kecil sedang bermain mobil-mobilan di pemakaman. Ia tidak menyadari keadaan saat itu adalah awal dari perjalanan hidupnya yang pahit. Seorang wanita berjalan mendekat dan memeluknya. Dalam pelukan yang erat, wanita itu menangis menumpahkan segala kesedihan atas kehilangan orang yang disayanginya. Pada hari itu Jaejoong kehilangan Ayahnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jihoon sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Jaejoong.

“Ya, tentu saja,” jawab Jaejoong berbohong. Ia memejamkan matanya beberapa saat untuk menghilangkan bayangan itu.

Diam sejenak.

“Aku tidak menyangka kau bisa menjadi tersangka dalam kasus yang berbelit seperti ini,” kata Jihoon, “tapi mereka sudah menemukan tersangka utama, kau akan segera dibebaskan.”

“Kau meretas database kepolisian?” tanya Jaejoong curiga.

“Pelankan suaramu, aku tidak ingin dipenjara hanya karena menembus pertahanan mereka yang lemah,” kata Jihoon sambil memperlihatkan deretan giginya. “Aku hanya melihat beberapa file yang tingkat rahasianya tidak terlalu tinggi. Tidak seperti seseorang yang kukenal.”

Jaejoong tersenyum, “aku hanya sedikit bersenang-senang.”

“Kau pikir aku akan percaya?”

“Terserah kau saja,” jawab Jaejoong tidak peduli

Raut wajah Jihoon kini mulai serius, ia memajukan badannya. “Kau sudah mememukan orang yang kau cari?”

Jaejoong menganggukkan kepalanya, “belum lama ini.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Jaejoong hanya kembali tersenyum.

***

FREGOLI DELUSION (19)


Yoona menatap Yunho yang sedang duduk diatas kasur. Ia terlihat jauh lebih baik daripada beberapa saat yang lalu. Ingatannya mengenai kejadian penculikan itu benar-benar membuatnya trauma. Walaupun ini pertama kalinya Yunho bersikap seperti ini, karena biasanya ia hanya akan menjadi lebih waspada jika bertemu orang.

Tn. Jung masih duduk disebelah ranjang Yunho, ia tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya. Bahkan ia langsung menuju rumah sakit ketika mendengar kabar bahwa trauma Yunho muncul kembali. Saat ini Ny. Jung dan Jihae sedang dalam perjalanan menuju Daejeon.

“Merasa lebih baik?” tanya Yoona. Ia memasuki ruangan diikuti oleh Kyuhyun. Saat melihat Tn. Jung, Yoona dan Kyuhyun menyapanya lalu membungkuk hormat. “Maaf membuat anak anda mengalami hal ini.”

“Tidak apa. Aku mengerti posisi kalian yang membutuhkan kesaksiannya dalam penyelidikan kasus. Tapi kuharap kalian tidak terburu-buru dalam mencari bukti, terlebih jika kondisi saksi seperti ini,” saran Tn. Jung.

Yoona dan Kyuhyun paham apa yang dimaksud oleh Tn. Jung dan tujuan mereka datang kemari bukan untuk mengorek informasi lagi. Mereka hanya ingin menjenguk Yunho.

Tn. Jung bangkit dari duduknya, mempersilahkan Yoona dan Kyuhyun untuk berada di sebelah Yunho.

“Aku tidak mengerti,” kata Yunho pelan.

“Tentang apa?” tanya Yoona.

“Kau Yoona kan? Lim Yoona?” Yunho mencoba memastikan.

Yoona mengangguk, “Ya, aku Lim Yoona.”

“Kau bukan wanita itu yang sedang menyamar kan?”

“Wanita itu? Maksudmu tunanganmu, Han Yoomi?”

Yunho mengangguk.

“Bagaimana bisa dia menyamar menjadi aku, kau sudah mengenalku lebih lama daripada kau mengenal tunanganmu,” sergah Yoona.

“Pria itu, yang berada di ruang interogasi. Namanya Kim Jaejoong?” tanya Yunho.

“Yunho, kurasa bukan waktu yang tepat untuk membicarakan ini,” potong Yoona.

“Tidak,” Yunho menggelengkan kepalanya dengan cepat. Walaupun kepalanya terasa berdenyut setiap kali ia mencoba mengingat-ngingat setiap hal yang berkaitan dengan hari penculikan itu, tetapi rasa penasarannya lebih besar dari pada rasa sakitnya saat ini.”Kau hanya cukup menjawab pertanyaanku, benar atau salah. Aku ingin memastikan semuanya.”

“Jika itu membantumu, akan aku lakukan,” kata Yoona. Ia akan lebih berhati-hati dengan apa yang akan diucapkannya. Salah-salah ia akan membuat keadaan Yunho menjadi lebih buruk lagi.

“Kim Junsu, Park Yoochun, Kim Jaejoong, Shim Changmin, Yoomi, Kau, dan orang yang berdiri di sebelahmu adalah Yoomi yang sedang menyamar. Benar atau salah?”

“Salah. Semua nama yang kau sebutkan adalah orang yang nyata,” jawab Yoomi, walaupun salah satu diantaranya jelas bukan manusia. Tapi Yunho belum mengetahui fakta itu. Lebih baik tidak mengatakannya sebelum keadaan Yunho jauh lebih baik.

Yunho mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Yoona. “Ini kedua kalinya aku bertemu dengan Kim Jaejoong?”

Sejenak Yoona ragu-ragu, jika Jaejoong adalah pelaku penculikan maka ini bukan kedua kalinya mereka bertemu.

“Mengapa kau menanyakan hal ini?” tanya Yoona.

“Entahlah. Jika yang kau katakan adalah benar, bahwa mereka bukanlah satu orang –Yoomi– yang sedang menyamar, aku merasa dia sangat mengancam. Ketika kalian semua berada di dekatku, aku hanya merasa kalian akan berusaha mencelakaiku, walaupun aku sendiri tidak mempercayai ingatanku. Tetapi senyuman itu, senyuman yang sama ketika aku disiksa pada hari penculikan,” kata Yunho.

“Senyuman?” ulang Yoona.

Kepala Yunho berdenyut semakin kencang. Rasanya sakit sekali, hingga Yunho memegangi kepalanya. “Aku yakin melihatnya, aku yakin itu dia. Kim Jaejoong, orang yang menculikku dan dia mengatakan akan mengambil semua yang aku rebut darinya.”

Yoona terdiam, menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh Yunho.

“Dia adalah teman Junsu. Yoomi mengatakan bahwa Junsu adalah teman masa kecilnya dan Jaejoong adalah teman Junsu. Tetapi seberapa keras aku berusaha mengingatnya, aku tidak tahu apa yang telah aku rebut darinya. Aku baru saja mengenal Jaejoong saat di pameran itu tetapi-”

Kyuhyun menangkap perubahan Yunho, dia memberi tanda kepada Yoona untuk menyudahi pembicaraan ini. Yoona mengangguk paham.

“Kurasa lebih baik kau beristirahat, kita bisa membahas ini lain kali,” kata Yoona sambil menyentuh bahu Yunho. Tetapi Yunho masih terus meringis kesakitan. Tn. Jung sudah pergi untuk memanggil perawat.

***

Suara alunan musik instrumental terdengar memenuhi seisi ruangan. Malam sudah semakin larut, dan jarum jam hampir bersamaan menyatu di angka 12. Tetapi saat ini Yoochun sama sekali tidak mengantuk. Bukan saja karena segelas kopi yang baru saja dihabiskannya, tapi juga karena pikirannya sedang bercabang kesana-kemari. Pekerjaannya adalah mengurusi hidup orang lain—atau lebih tepatnya—mengurusi urusan orang yang sudah meninggal secara tidak wajar. Apartmennya tampak sangat berantakan, di meja kerjanya ada file-file mengenai ketiga kasus pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku yang sama, dan juga kasus penculikan Yunho. Kini Yoochun tengah sangat serius membaca ulang hasil investigasinya, melihat ulang rekaman wawancara dengan para tersangka, dan melihat hasil olah TKP. Entah kenapa Yoochun jadi merasa agak menyesal sudah melepaskan Junsu. Menurutnya selama wawancara Junsu melakukan banyak hal mencurigakan, bahkan berbohong. Namun apa yang bisa ia lakukan jika Junsu dinyatakan berhasil lolos dari tes kebohongan. Sebagai detektif, Yoocun tidak boleh mencurigai seseorang hanya karena dugaannya sendiri. Selain itu pula, sejauh ini bukti yang ada masih sangat kurang untuk menuduh Junsu, maupun Jaejoong. Satu-satunya alasan kenapa Jaejoong masih dalam tahanan adalah karena dia gagal menjalani tes kebohongan, dan di bukunya ada foto yang kemungkinan adalah ayahnya Yunho.
Namun apa hubungan antara mereka? Jaejoong bukan keluarga Yunho. Bahkan Tn. Jung pun sudah dipertemukan dengan Jaejoong dan menyatakan bahwa ia tidak mengenalnya.

Sekali lagi Yoochun membuka file mengenai kasus pembunuhan Kim Seokjin. Malam itu korban bersama seseorang, dan orang itu sebenarnya terekam dalam cctv. Namun sayang sekali cctv itu sudah rusak saat akan diambil kepolisian untuk diperiksa. Kim Seokjin adalah salah satu kandidat kejuaran Robotik yang juga kuliah di Korea University, ada kemungkinan Junsu dan Jaejoong mengenalnya. Namun dari hasil wawanacara, lagi-lagi keduanya meng-aku tidak pernah memiliki hubungan dekat dengan Kim Seokjin. Korban tewas karena racun langka, atau tepatnya obat bernama Janis Thorn, yang benar-benar membunuhnya setelah ia meminum soda. Pelakunya adalah orang yang tahu persis bahwa di dekat tempat kejadian itu ada mesin minuman yang menyediakan soda. Selain itu si pelaku juga cukup mengenal Kim Seokjin yang sangat menggemari minuman itu. Jika pelakunya adalah Junsu atau Jaejoong, maka tentulah salah satu dari mereka berbohong dengan mengatakan bahwa ia tidak cukup mengenal korban.

Pada waktu kejadian, Junsu mengaku sedang mengerjakan tugas kuliahnya di rumah, tetapi tak ada saksi yang bisa membenarkannya. Sementara itu Jaejoong mengaku sudah tertidur. Tapi lagi-lagi, tidak ada saksi. Hanya saja penjaga kost nya membenarkan bahwa ia tidak melihat ada yang keluar-masuk pintu kost pada waktu kejadian.

Belum ada yang bisa ia simpulkan dari kasus pertama itu.

Kini Yoochun mulai membuka file mengenai kasus pembunuhan Song Jisoo. Korban lagi-lagi adalah mahasiswa di Korea University, ahli dalam bidang robotik. Korban meninggal karena keracunan senyawa Arsen dalam makanan yang dipesannya dari sebuah restoran. Diduga pelaku menyamar sebagai pengantar makanan dan memasukkan racun itu dalam makanan korban dalam perjalanan ke tempat korban. Sementara itu 3 hari sebelum kejadian, korban bertemu dengan Junsu dan Jaejoong, dan itu adalah tanggal yang dilingkarinya di kalender dengan tulisan JK di bawahnya. Jaejoong adalah orang terakhir yang diajak masuk ke dalam kamarnya pada hari yang sama. Sedangkan di hari kejadian, Junsu adalah orang terakhir yang dilaporkan bersama korban, dan tidak memiliki alibi kuat mengenai keberadaan nya pada waktu kejadian. Jaejoong pun lagi-lagi sama, dia mengaku berada di kamar kost nya, namun tidak ada yang bisa memastikannya.

Pada kasus ke-2 ini, Junsu lebih memiliki motif dibandingkan Jaejoong.

Saat ini Yoochun mulai merasa kepalanya berdenyut-denyut, ia hampir dibuat gila karena kasus-kasus ini tak kunjung menemukan titik terang. Kedua orang itu sama mencurigakannya dan ucapannya sama-sama tidak bisa dipercaya. Yoochun mengecek ponselnya sejenak, banyak pesan masuk dan rekaman panggilan yang menanti untuk didengarkan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari, dan Yoochun sudah mulai mengantuk.

Tapi ia tetap melanjutkan melihat-lihat kasus ketiga, yaitu pembunuhan Yoo Seungho. Kali ini korban berasal dari KAIST, tetapi juga tetap seorang ahli robotik. Korban tewas setelah memakan menu yang dipesannya dari restoran apartmennya. Karena koki yang memasak makanan itu terbukti tidak bersalah, maka diduga kuat si pelaku memasukkan racun ke dalam makanan itu dengan cara menyusup masuk ke kamar korban. Kecurigaan ini diperkuat lagi dengan rusaknya cctv yang mengarah ke kamar korban, dan ada laporan dari pihak apartmen bahwa kode pintu kamar korban sudah diretas dan diubah tepat beberapa waktu sebelum kejadian mematikan itu. Pelakunya yang tentu saja mengetahui banyak hal tentang zat racun, juga memiliki keahlian dalam hal meretas. Hal ini cukup menggeser sedikit kecurigaan pada Jaejoong. Ditambah, Jaejoong juga berasal dari KAIST dan mengenal korban, walau tidak pernah berbicara secara pribadi. Sementara itu Junsu mengaku sama sekali tidak mengenal korban.

Di kasus ketiga, walau entah apa motifnya, kecurigaan lebih berat ke arah Jaejoong.

Dan kemudian ada kasus baru yang polanya berbeda. Penculikan Jung Yunho. Sampai saat ini Yoochun masih tidak mengerti kenapa si pelaku membiarkan Yunho hidup dan ditemukan oleh orang lain. Tidakkah dia berpikir bahwa Yunho tentu saja akan mengingatnya dan membuatnya tertangkap? Apakah mungkin saat itu dia melakukan kesalahan sehingga Yunho bisa ditemukan, dan secara kebetulan Yunho justru tak bisa mengingatnya? Kalau benar begitu, betapa beruntungnya dia.

Yunho menghilang sekitar pukul 18:30, dan saat itu Junsu sedang bersamanya untuk melakukan wawancara. Sementara Jaejoong kembali memiliki alasan, dan seperti biasa tidak ada saksi yang bisa membuktikan alibinya.

Junsu memang jauh lebih mungkin untuk melakukan penculikan ini, karena Jaejoong tidak memiliki kaitan apapun dengan kehidupan Yunho. Apa untungnya dia melakukan semua itu? Tapi saat kejadian itu Junsu jelas-jelas sedang berada tepat di depannya.

Yoochun berpikir keras beberapa saat, dahinya berkerut dengan kuat dan matanya terpejam menandakan ia sedang sangat serius berpikir. Lalu kemudian ia teringat sesuatu.

Junsu memiliki Changmin. Ya, Changmin. Dialah yang terakhir bersama Yunho. Tentu saja di manapun Junsu berada, jika Changmin yang melakukan semua ini, maka tidak akan ada hubungannya dengan posisi Junsu di setiap waktu kejadian.

Tetapi dalam memori Changmin tidak ada hal yang mencurigakan. Hanya beberapa cuplikan adegan sebelum Junsu menonaktifkannya, atau saat berada di kantor. Dalam rekaman itupun ada saat-saat ia bertengkar dengan Yunho beberapa saat sebelum penculikannya. Yoochun segera memutar ulang rekaman memori Changmin yang sudah ia miliki. Dadanya terasa sesak bukan main saat ia menyadari ada suatu kejanggalan. Beberapa bagian dari memori Changmin ternyata sudah terhapus. Salah satunya adalah saat-saat setelah Changmin keluar dari ruangan tempat ia bertemu Yunho. Tadinya Yoochun mengira memang rekaman itu sudah rusak sebagian, namun ternyata ia salah. Rekaman itu dihapus.

Yoochun semakin merasakan kepalanya mulai berat, ia lalu mencoba mengalihkan konsentrasinya pada ponselnya yang sudah ramai. Ada banyak panggilan dari Yoona yang sepertinya sangat penting. Yoochun pun mendengarkan rekaman panggilan itu.

Detektif Park, Jung Yunho sempat mengatakan bahwa Kim Jaejoong berhubungan dengan kasus penculikannya.

Kini Yoochun benar-benar mulai kehilangan arah. Ia memandangi foto Jaejoong dan Junsu yang terpampang di mejanya yang berantakan. Sekarang ini wajah keduanya terlihat seperti pembunuh berantai di mata Yoochun.

Ia lalu mulai menjatuhkan dirinya di kasur empuk yang baru sempat ia nikmati. Matanya terpejam dan isi kepalanya sudah sangat penuh seperti akan tumpah melalui ubun-ubunnya. Yoochun menghemuskan napas panjang dan mencoba memanggil kembali akal sehatnya. Ia sangat bingung. Baru kali ini ia merasa ingin menyerah.

Apa yang sebenarnya terjadi?


***