“Kim
Jaejoong sedang dalam perjalanan ke sini.” Ucap Yoona.
Hari
ini secara resmi sudah ada surat panggilan untuk Jaejoong. Ia akan memenuhi
panggilan wawancara untuk pertama kali mengenai kasus Song Jisoo. Namun saat
ini Yoochun sedang memikirkan hal lain. Tadi pagi ia diberitahu sejawatnya
sendiri—detektif Taehyung—bahwa Yunho menghilang pada hari ia dan Yunho
bertemu. Yoochun berhasil lolos dari kemungkinan
menjadi tersangka karena pada waktu yang diperkirakan sebagai
waktu kejadian, ia sedang berada di kantor untuk mewawancarai Kim Junsu. Baru
kali ini Yoochun mendengar kasus kriminal yang menyangkut seseorang yang
dikenalnya.
Sambil
menunggu Jaejoong tiba, Yoochun menyempatkan diri untuk mengisi perut. Ia juga
membaca sekali lagi data-data mengenai Jaejoong. Ia adalah seorang mahasiswa di
KAIST, berbeda dengan kedua korban. Tentu saja sangat mungkin jika Jaejoong dan
Jisoo kebetulan adalah teman lama. Setelah menimbang-nimbang, Yoochun agak
tidak yakin Jaejoong betul-betul terlibat dalam kasus ini. Namun setiap
kemungkinan selalu ada, dan ia berharap akan menemukan kejelasan mengenai
kasus-kasus ini dengan segera.
Ia
tersenyum saat melihat Jaejoong diantarkan ke dalam ruang wawancara yang sudah
dilengkapi dengan semua kepentingan penyelidikan. Setiap ekspresi wajah dan
gerak-geriknya akan terekam jelas. Tim penyidik bisa menganalisa rekaman itu
kapan saja.
“Selamat
siang, Kim Jaejoong,” sapanya sambil mempersilakan duduk.
“Kau…”
Jaejoong menunjuk Yoochun sambil agak berpikir. “Kau kan orang yang waktu itu…” raut
wajah Jaejoong berubah masam. Sepertinya setiap ia bertemu Yoochun, itu artinya
ia sedang sial.
Yoochun
tertawa ringan. “Ya, aku yang waktu itu tak sengaja menyenggolmu. Bagaimana
kabarmu dan sepeda motormu?”
“Tidak
terlalu baik.” Ucap Jaejoong agak kesal. “Aku sungguh tidak mengerti kenapa aku
harus berada di sini dan berhadapan denganmu.”
“Kau
hanya perlu menjawab pertanyaan, dan mungkin saja setelah itu kita tidak akan
bertemu lagi.” Ujar Yoochun, ia menatap sederet pertanyaan yang sudah
disiapkannya. “Bisa kita mulai?” tanyanya kemudian.
Jaejoong
mengangguk seadanya, tetapi dari wajahnya Yoochun dapat membaca bahwa ia
sedikit gelisah. Hal ini memang biasa terjadi, siapa yang tidak cemas ketika
dirinya dipanggil untuk diwawancarai oleh seorang detektif? Bahkan orang yang
tidak bersalah pun akan khawatir dirinya tertuduh menjadi tersangka setelah
wawancara itu.
“Kim Jaejoong, apa kau mengenal Song Jisoo?”
Yoochun memulai interogasinya.
“Ya,
baru-baru ini. Dia pandai sekali merakit robot, dan aku pernah minta diajari.”
Yoochun
memperhatikan betul-betul ekspresi Jaejoong. Wajahnya sekarang tampak agak
memelas.
“Darimana
kau mengenalnya?”
“Temanku
mengajak untuk bertemu dengannya, katanya dia memiliki banyak koleksi yang
langka.”
“Di
mana kalian bertemu? Dan siapa nama temanmu?”
“Kami
bertemu di dekat asrama Jisoo. Temanku bernama Junsu.”
Nama
itu membuat Yoochun tersentak. “Kim Junsu?” tanyanya lagi.
Jaejoong
menjawabnya dengan anggukan.
“Kapan
tepatnya kau dan Kim Junsu menemui Song Jisoo?”
Jaejoong
tampak mengingat-ingat. “Hmm sepertinya sudah hampir 3 minggu lalu.”
Minggu yang sama dengan kematian Jisoo, pikir Yoochun. “Hari apa tepatnya?”
“Aku
lupa.” Jaejoong menggaruk kepalanya. “Mungkin Rabu atau Kamis.”
Yoochun
menatap catatan di depannya. Jisoo tewas pada hari Minggu. Jika Jaejoong
menemuinya pada hari Kamis, bisa jadi tanggal yang dilingkari di kalender Jisoo
adalah saat ia dan Jaejoong bertemu. 3 hari sebelum kejadian.
“Dari
mana kau mengenal Kim Junsu?” lanjut Yoochun. Sejauh ini dia tidak mendapati
tanda-tanda bahwa Jaejoong berbohong.
“Kami
bertemu di Kejuaraan Robot Internasional.”
Yoochun
mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepertinya Jaejoong tidak terlalu
mencurigakan. Namun ia tetap harus berhati-hati.
“Apakah
kau pernah datang ke kamar asrama Jisoo?” jika Jaejoong menjawab tidak, maka ia
akan berada dalam bahaya. Berbohong saat menjawab pertanyaan wawancara sama
saja dengan menantang penyidik.
“Ya,”
jawabnya kemudian. Yoochun agak kecewa dengan jawaban itu. “Aku diajak ke sana
pada hari itu juga, untuk melihat koleksinya.”
“Berapa
lama kau berada di sana?”
“Hmmm…”
Jaejoong menimbang-nimbang. “Mungkin sekitar 30 menit.”
Sejauh
ini semua ucapan Jaejoong sesuai dengan fakta yang telah diketahui Yoochun.
Hanya saja ia belum sempat menanyakan kepada Junsu mengenai pertemuan dengan
Jisoo 3 hari sebelum kejadian.
“Apakah
kau menemuinya lagi setelah hari itu?”
Jaejoong
menggeleng pelan.
“Baiklah…”
Yoochun kembali dibuat bingung. “Kau menemui Jisoo antara hari Rabu atau Kamis,
lalu di mana kau saat hari Minggu?”
“Aku
tidak terlalu ingat, itu sudah cukup lama. Sepertinya aku berada di tempat
kerja dan setelah itu mengerjakan tugas di kost.”
Lagi-lagi,
jawaban Jaejoong tidak terdengar mencurigakan. Orang yang berbohong akan
menceritakan sesuatu dengan lebih detail, namun Jaejoong menjelaskannya dengan
singkat, tidak ada tanda-tanda kebohongan.
“Pukul
berapa tepatnya kau di tempat kerja dan pukul berapa kau berada di kost?”
“Aku
bekerja sekitar pukul 11 pagi dan sudah pulang pukul 3 sore.” Jaejoong menjawabnya
sambil agak menerawang, ia sepertinya sedang mencoba mengingatnya.
Yoochun
mencatat bahwa ia perlu mengkonfirmasi keberadaan Jaejoong di tempat kerjanya
dan juga di tempat kost nya. Jika tidak ada saksi yang bisa memastikannya, maka
Jaejoong tidak dapat langsung terbebas dari penyelidikan. Tetapi Yoochun masih
tidak bisa menemukan motif apa yang kira-kira membuat Jaejoong harus membunuh
Jisoo. Mereka baru saja bertemu 3 hari sebelum kejadian. Mereka bahkan hanya
bertemu pada hari itu.
“Pertanyaan
terakhir.” Ucap Yoochun sambil tersenyum bijak. Jaejoong tampak lega, sedari
tadi ia memang seperti menunggu akhir dari pembicaraan ini. “Apa kau tahu siapa
yang mungkin membunuh Jisoo?”
Semua
tim yang berada di balik kaca 2 arah langsung meningkatkan perhatiannya dua
kali lipat. Setiap gerak-gerik, ekspresi, maupun nada suara Jaejoong saat
menjawab pertanyaan ini akan sangat jelas jika ia berbohong.
Dan
jawaban Jaejoong sesuai dengan yang sudah dibayangkan Yoochun.
“Aku
tidak tahu.”
***
Kepolisian
kembali disibukkan dengan kasus baru. Sesosok mayat pria muda ditemukan di
apartemennya di dekat Korea University. Korban sudah diidentifikasi bernama Yoo
Seungho, mahasiswa di KAIST dalam kepeminatan yang sama dengan kedua korban
sebelumnya; Robotika dan Otomasi. Korban juga adalah salah satu mahasiswa
terbaik dalam kepeminatan itu. Semua orang mengenalnya sebagai si Jenius, yang
juga tampan dan kaya raya. Tak heran jika banyak orang yang iri padanya.
Yoochun
melangkahkan kakinya ke TKP, melihat mayat korban secara langsung. Pihak
kepolisian sedang mengambil fotonya dan ahli forensik sedang mengambil sampel.
Yoochun menatap sosok kaku itu dengan miris, temuan yang hampir sama seperti
korban sebelumnya. Dengan mulut ternganga dan kedua tangannya mengepal, jari-jari
kakinya masih agak fleksi disertai fleksi pada sendi panggul dan lutut.
Sepertinya korban mengalami kejang sebelum kematiannya.
“Ada
muntahan yang tercecer di kamar mandi.” Ucap Yoona, “Sepertinya korban
mengalami diare hebat dan muntah-muntah juga seperti korban sebelumnya.”
Yoochun
hanya mengangguk pelan, ia kemudian mulai menelusuri seluruh sudut ruangan itu.
Ia melihat banyak miniatur robot dan beberapa koleksi yang berada di kotak
kaca, sepertinya sangat mahal. Ada banyak foto korban bersama keluarga dan
teman-temannya, terlihat jelas bahwa ia sering mengikuti kejuaraan Robot. Kehidupan
yang sempurna, sejauh ini Yoochun belum menemukan kemungkinan korban melakukan
bunuh diri. Dugaannya begitu kuat ini adalah pelaku yang sama, dengan pola yang
sama. Namun ia juga belum dapat memastikan-nya. Rekaman cctv di apartment itu
masih dalam proses untuk diserahkan pada kepolisian.
Kyuhyun
tampak sibuk mengamankan barang-barang pribadi korban yang mungkin akan
membantu penyelidikan. Ponsel dan laptop korban, juga pakaian yang dikenakan
korban pada saat kejadian sudah diambil untuk diperiksa.
“Kau
tahu? Pelakunya sengaja ingin kita ringkus.” Ujar Kyuhyun.
“Itu
akan segera terjadi,” Yoochun mencoba menghibur dirinya sendiri. Sudah dua
kasus yang tersendat dan tidak ada kemajuan apa-apa, sementara sekarang muncul
kasus baru dengan pola yang sama. Jika Yoochun tidak segera menangkap
pelakunya, maka korban akan terus berjatuhan.
Mayat
korban saat ini sudah dibawa untuk dilakukan otopsi, dan Yoochun masih berada
di sana bersama tim-nya untuk terus memeriksa TKP. Ia tidak menemukan sesuatu
yang men-curigakan di sana, tetapi kemudian ia teringat sesuatu. Dengan cepat
ia mencari kalender, yang ternyata digantung di dekat pintu kamar. Kalender itu
masih menunjukkan tanggal 28, sedangkan hari ini adalah tanggal 29. Yoo Seungho
belum menyobeknya. Lalu Yoochun merasakan sesuatu yang tidak biasa pada dadanya
saat ia melihat sebuah kata yang ditulis dengan spidol merah, di bawah angka
28. JK.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar