Welcome

Senin, 11 April 2016

FREGOLI DELUSION (9)



“Kim Jaejoong sedang dalam perjalanan ke sini.” Ucap Yoona.

Hari ini secara resmi sudah ada surat panggilan untuk Jaejoong. Ia akan memenuhi panggilan wawancara untuk pertama kali mengenai kasus Song Jisoo. Namun saat ini Yoochun sedang memikirkan hal lain. Tadi pagi ia diberitahu sejawatnya sendiri—detektif Taehyung—bahwa Yunho menghilang pada hari ia dan Yunho bertemu. Yoochun berhasil lolos dari kemungkinan menjadi tersangka karena pada waktu yang diperkirakan sebagai waktu kejadian, ia sedang berada di kantor untuk mewawancarai Kim Junsu. Baru kali ini Yoochun mendengar kasus kriminal yang menyangkut seseorang yang dikenalnya.

Sambil menunggu Jaejoong tiba, Yoochun menyempatkan diri untuk mengisi perut. Ia juga membaca sekali lagi data-data mengenai Jaejoong. Ia adalah seorang mahasiswa di KAIST, berbeda dengan kedua korban. Tentu saja sangat mungkin jika Jaejoong dan Jisoo kebetulan adalah teman lama. Setelah menimbang-nimbang, Yoochun agak tidak yakin Jaejoong betul-betul terlibat dalam kasus ini. Namun setiap kemungkinan selalu ada, dan ia berharap akan menemukan kejelasan mengenai kasus-kasus ini dengan segera.

Ia tersenyum saat melihat Jaejoong diantarkan ke dalam ruang wawancara yang sudah dilengkapi dengan semua kepentingan penyelidikan. Setiap ekspresi wajah dan gerak-geriknya akan terekam jelas. Tim penyidik bisa menganalisa rekaman itu kapan saja.

“Selamat siang, Kim Jaejoong,” sapanya sambil mempersilakan duduk.

“Kau…” Jaejoong menunjuk Yoochun sambil agak berpikir. “Kau kan orang yang waktu itu…” raut wajah Jaejoong berubah masam. Sepertinya setiap ia bertemu Yoochun, itu artinya ia sedang sial.

Yoochun tertawa ringan. “Ya, aku yang waktu itu tak sengaja menyenggolmu. Bagaimana kabarmu dan sepeda motormu?”

“Tidak terlalu baik.” Ucap Jaejoong agak kesal. “Aku sungguh tidak mengerti kenapa aku harus berada di sini dan berhadapan denganmu.”

“Kau hanya perlu menjawab pertanyaan, dan mungkin saja setelah itu kita tidak akan bertemu lagi.” Ujar Yoochun, ia menatap sederet pertanyaan yang sudah disiapkannya. “Bisa kita mulai?” tanyanya kemudian.

Jaejoong mengangguk seadanya, tetapi dari wajahnya Yoochun dapat membaca bahwa ia sedikit gelisah. Hal ini memang biasa terjadi, siapa yang tidak cemas ketika dirinya dipanggil untuk diwawancarai oleh seorang detektif? Bahkan orang yang tidak bersalah pun akan khawatir dirinya tertuduh menjadi tersangka setelah wawancara itu.

“Kim Jaejoong, apa kau mengenal Song Jisoo?” Yoochun memulai interogasinya.

“Ya, baru-baru ini. Dia pandai sekali merakit robot, dan aku pernah minta diajari.”

Yoochun memperhatikan betul-betul ekspresi Jaejoong. Wajahnya sekarang tampak agak memelas.

“Darimana kau mengenalnya?”

“Temanku mengajak untuk bertemu dengannya, katanya dia memiliki banyak koleksi yang langka.”

“Di mana kalian bertemu? Dan siapa nama temanmu?”

“Kami bertemu di dekat asrama Jisoo. Temanku bernama Junsu.”

Nama itu membuat Yoochun tersentak. “Kim Junsu?” tanyanya lagi.

Jaejoong menjawabnya dengan anggukan.

“Kapan tepatnya kau dan Kim Junsu menemui Song Jisoo?”

Jaejoong tampak mengingat-ingat. “Hmm sepertinya sudah hampir 3 minggu lalu.”

Minggu yang sama dengan kematian Jisoo, pikir Yoochun. “Hari apa tepatnya?”

“Aku lupa.” Jaejoong menggaruk kepalanya. “Mungkin Rabu atau Kamis.”

Yoochun menatap catatan di depannya. Jisoo tewas pada hari Minggu. Jika Jaejoong menemuinya pada hari Kamis, bisa jadi tanggal yang dilingkari di kalender Jisoo adalah saat ia dan Jaejoong bertemu. 3 hari sebelum kejadian.

“Dari mana kau mengenal Kim Junsu?” lanjut Yoochun. Sejauh ini dia tidak mendapati tanda-tanda bahwa Jaejoong berbohong.

“Kami bertemu di Kejuaraan Robot Internasional.”

Yoochun mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepertinya Jaejoong tidak terlalu mencurigakan. Namun ia tetap harus berhati-hati.

“Apakah kau pernah datang ke kamar asrama Jisoo?” jika Jaejoong menjawab tidak, maka ia akan berada dalam bahaya. Berbohong saat menjawab pertanyaan wawancara sama saja dengan menantang penyidik.

“Ya,” jawabnya kemudian. Yoochun agak kecewa dengan jawaban itu. “Aku diajak ke sana pada hari itu juga, untuk melihat koleksinya.”

“Berapa lama kau berada di sana?”

“Hmmm…” Jaejoong menimbang-nimbang. “Mungkin sekitar 30 menit.”

Sejauh ini semua ucapan Jaejoong sesuai dengan fakta yang telah diketahui Yoochun. Hanya saja ia belum sempat menanyakan kepada Junsu mengenai pertemuan dengan Jisoo 3 hari sebelum kejadian.

“Apakah kau menemuinya lagi setelah hari itu?”

Jaejoong menggeleng pelan.

“Baiklah…” Yoochun kembali dibuat bingung. “Kau menemui Jisoo antara hari Rabu atau Kamis, lalu di mana kau saat hari Minggu?”

“Aku tidak terlalu ingat, itu sudah cukup lama. Sepertinya aku berada di tempat kerja dan setelah itu mengerjakan tugas di kost.”

Lagi-lagi, jawaban Jaejoong tidak terdengar mencurigakan. Orang yang berbohong akan menceritakan sesuatu dengan lebih detail, namun Jaejoong menjelaskannya dengan singkat, tidak ada tanda-tanda kebohongan.

“Pukul berapa tepatnya kau di tempat kerja dan pukul berapa kau berada di kost?”

“Aku bekerja sekitar pukul 11 pagi dan sudah pulang pukul 3 sore.” Jaejoong menjawabnya sambil agak menerawang, ia sepertinya sedang mencoba mengingatnya.

Yoochun mencatat bahwa ia perlu mengkonfirmasi keberadaan Jaejoong di tempat kerjanya dan juga di tempat kost nya. Jika tidak ada saksi yang bisa memastikannya, maka Jaejoong tidak dapat langsung terbebas dari penyelidikan. Tetapi Yoochun masih tidak bisa menemukan motif apa yang kira-kira membuat Jaejoong harus membunuh Jisoo. Mereka baru saja bertemu 3 hari sebelum kejadian. Mereka bahkan hanya bertemu pada hari itu.

“Pertanyaan terakhir.” Ucap Yoochun sambil tersenyum bijak. Jaejoong tampak lega, sedari tadi ia memang seperti menunggu akhir dari pembicaraan ini. “Apa kau tahu siapa yang mungkin membunuh Jisoo?”

Semua tim yang berada di balik kaca 2 arah langsung meningkatkan perhatiannya dua kali lipat. Setiap gerak-gerik, ekspresi, maupun nada suara Jaejoong saat menjawab pertanyaan ini akan sangat jelas jika ia berbohong.

Dan jawaban Jaejoong sesuai dengan yang sudah dibayangkan Yoochun.

“Aku tidak tahu.”

***

Kepolisian kembali disibukkan dengan kasus baru. Sesosok mayat pria muda ditemukan di apartemennya di dekat Korea University. Korban sudah diidentifikasi bernama Yoo Seungho, mahasiswa di KAIST dalam kepeminatan yang sama dengan kedua korban sebelumnya; Robotika dan Otomasi. Korban juga adalah salah satu mahasiswa terbaik dalam kepeminatan itu. Semua orang mengenalnya sebagai si Jenius, yang juga tampan dan kaya raya. Tak heran jika banyak orang yang iri padanya.

Yoochun melangkahkan kakinya ke TKP, melihat mayat korban secara langsung. Pihak kepolisian sedang mengambil fotonya dan ahli forensik sedang mengambil sampel. Yoochun menatap sosok kaku itu dengan miris, temuan yang hampir sama seperti korban sebelumnya. Dengan mulut ternganga dan kedua tangannya mengepal, jari-jari kakinya masih agak fleksi disertai fleksi pada sendi panggul dan lutut. Sepertinya korban mengalami kejang sebelum kematiannya.

“Ada muntahan yang tercecer di kamar mandi.” Ucap Yoona, “Sepertinya korban mengalami diare hebat dan muntah-muntah juga seperti korban sebelumnya.”

Yoochun hanya mengangguk pelan, ia kemudian mulai menelusuri seluruh sudut ruangan itu. Ia melihat banyak miniatur robot dan beberapa koleksi yang berada di kotak kaca, sepertinya sangat mahal. Ada banyak foto korban bersama keluarga dan teman-temannya, terlihat jelas bahwa ia sering mengikuti kejuaraan Robot. Kehidupan yang sempurna, sejauh ini Yoochun belum menemukan kemungkinan korban melakukan bunuh diri. Dugaannya begitu kuat ini adalah pelaku yang sama, dengan pola yang sama. Namun ia juga belum dapat memastikan-nya. Rekaman cctv di apartment itu masih dalam proses untuk diserahkan pada kepolisian.

Kyuhyun tampak sibuk mengamankan barang-barang pribadi korban yang mungkin akan membantu penyelidikan. Ponsel dan laptop korban, juga pakaian yang dikenakan korban pada saat kejadian sudah diambil untuk diperiksa.

“Kau tahu? Pelakunya sengaja ingin kita ringkus.” Ujar Kyuhyun.

“Itu akan segera terjadi,” Yoochun mencoba menghibur dirinya sendiri. Sudah dua kasus yang tersendat dan tidak ada kemajuan apa-apa, sementara sekarang muncul kasus baru dengan pola yang sama. Jika Yoochun tidak segera menangkap pelakunya, maka korban akan terus berjatuhan.

Mayat korban saat ini sudah dibawa untuk dilakukan otopsi, dan Yoochun masih berada di sana bersama tim-nya untuk terus memeriksa TKP. Ia tidak menemukan sesuatu yang men-curigakan di sana, tetapi kemudian ia teringat sesuatu. Dengan cepat ia mencari kalender, yang ternyata digantung di dekat pintu kamar. Kalender itu masih menunjukkan tanggal 28, sedangkan hari ini adalah tanggal 29. Yoo Seungho belum menyobeknya. Lalu Yoochun merasakan sesuatu yang tidak biasa pada dadanya saat ia melihat sebuah kata yang ditulis dengan spidol merah, di bawah angka 28. JK.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar