“Selamat pagi, Kim
Jaejoong.” Sapa Yoochun saat melihat Jaejoong sudah duduk di dalam ruangan
interogasi.
Yoochun tidak
melihat alat-alat medis yang menempel pada tubuh Jaejoong seperti pada
Changmin. Ia yakin bahwa ia sudah meminta Yoona dan Dr. Kang untuk melakukan
hal yang sama.
“Kenapa?” tanya
Jaejoong saat melihat wajah kebingungan Yoochun. “Kau pasti bertanya-tanya
kenapa mereka tidak memasang alat deteksi kebohongan padaku, kan?”
Yoochun mengambil
duduk di depan Jaejoong dan
menunggu penjelasannya lebih lanjut.
“Aku menolaknya,”
terang Jaejoong, “Kau tidak boleh memaksa seorang saksi untuk menggunakan alat
pendeteksi kebohongan jika ia menolaknya bukan?”
“Sepertinya kau
mengetahui soal hukum.” Jawab Yoochun. “Apa ada alasan khusus mengapa kau
menolaknya?”
Jaejoong terdiam,
ia tidak tahu harus memberikan alasan yang mana.
“Kuharap kau mau
bekerja sama. jika kau tidak mau, kau akan kena masalah karena meng-hambat kerja polisi.” Ancam Yoochun, dia terdiam untuk
melihat reaksi Jaejoong tetapi Jaejoong tetap menutup mulutnya. “Kau pasti
memiliki masalah yang ingin kau sembunyikan, selama masalah
itu tidak berhubungan dengan kasus yang kutangani maka aku tidak akan
menanyakannya. Dan maaf soal tempo hari.”
Jaejoong tersenyum
getir. Ia mengingat kejadian tempo hari saat Yoochun bertanya mengenai
keluarganya. Ia hanya membalas dengan anggukan pelan.
Dr. Kang memasuki
ruangan dan mulai memasangkan beberapa sensor pada tubuh Jaejoong. Jaejoong
hanya bisa diam dan berharap ini segera berakhir.
Setelah semua
sensor terpasang, Yoochun memulai dengan 4-5 pernyataan sederhana seperti nama,
alamat dan beberapa informasi yang sudah diketahuinya saat membaca profil
Jaejoong. Hal ini dilakukan untuk merekam parameter seperti detak jantung pada
saat keadaan normal. Hasil grafiknya memperlihatkan gelombang naik-turun yang
stabil. Jaejoong menjawab semua pertanyaannya dengan jujur.
“Kau tahu bahwa 3
kasus pembunuhan berantai yang kutangani, semua korbannya mati karena racun?”
tanya Yoochun. “Apakah–”
“Aku tahu.” Potong
Jaejoong. Yoochun menatapnya emosi, ia merasa bahwa Jaejoong tidak sopan karena
memotong pembicaraan seperti ini. “Junsu menceritakannya padaku. Kau sudah
menahan Junsu karena kau mencurigainya sebagai pelaku. Jadi mengapa kau juga
mencurigaiku hanya karena sebuah buku?”
“Buku itu
mempelajari tentang toksikologi dan beberapa racun yang dijelaskan dalam buku
itu digunakan dalam kasus pembunuhan. Ada foto seseorang yang kukenal dalam
foto itu dan ia adalah Tn. Jung, ayah dari Jung Yunho, korban pada kasus ke
empat.” Kata Yoochun, “kau bisa menceritakan padaku soal buku itu?”
“Almarhum Kakekku
yang memberikan buku itu ketika aku mengatakan padanya bahwa Ayahku mungkin meninggal karena keracunan. Jadi aku tertarik untuk membaca buku
mengenai tanda-tanda keracunan pada seseorang,” jawab Jaejoong.
Alat itu mendeteksi bahwa Jaejoong berkata benar. “Soal foto didalamnya, aku
tidak tahu. Foto itu sudah ada di sana sejak dulu.
Selain itu dia tidak hanya memberikan buku itu saja. Ada beberapa buku yang
lain.” Tambah Jaejoong, ada sedikit perubahan kecepatan gelombang saat Jaejoong
melanjutkan keterangannya, tetapi kembali normal setelah itu
“Kau mengenal
mereka?” tanya Yoochun sambil meletakan 3 lembar foto korban pada kasus kematian
akibat racun diatas meja.
Grafik pada
komputer memperlihatkan gelombang naik-turun yang semakin cepat. Yoochun
menyadari hal itu. Tetapi Jaejoong hanya memandangi foto itu tanpa menjawab
pertanyaan yang diberikan kepadanya.
“Jawab!” perintah
Yoochun.
“Tidak. Aku hanya
mengenal Song Jisoo, aku tidak mengenal yang lainnya.” Jawab Jaejoong. Grafik
bergerak semakin cepat, menandakan bahwa Jaejoong berbohong.
Yoochun memajukan tubuhnya
mendekati Jaejoong. “Kau mengenal mereka semua kan?” desisnya tajam.
“Tidak.” Jawab
Jaejoong tetap bersikukuh dengan jawabannya. Kepalanya menggeleng dengan cepat.
Yoochun mencoba
untuk menahan emosi, tangannya mencengkram pinggiran meja dengan kuat.
“Berhentilah berbohong! Akui saja jika kau mengenal mereka?!”
“Aku hanya takut.
Jika aku mengatakan bahwa aku mengenal mereka, kau akan menjadikan-ku tersangka dan memberikan hukuman mati.” Kata Jaejoong
pelan, ia terlihat gusar.
“Kami hanya
menghukum orang yang bersalah. Kuharap kau tidak mempersulit penyelidikan ini,”
kata Yoochun, melepaskan cengkramannya dan kembali duduk, “Bagaimana kau
mengenal mereka?”
“Aku hanya mengenal
mereka karena mereka adalah orang berbakat. Aku tidak mengenal secara pribadi.”
***
“Apa yang sedang
kau lihat?” tanya Ny. Jung sambil meletakkan potongan buah di meja dan duduk
disebelah Tn. Jung. “Sejak pulang dari kantor tadi kau sepertinya sibuk menatap
ponselmu itu.”
“Ah, sayang,”
katanya mengalihkan pandangan dari layar ponselnya, ia melirik istrinya
sekilas. “Yoochun mengirimkan e-mail padaku tadi siang. Ia menanyakan apakah
orang dalam foto ini adalah aku.”
Tn. Jung memberikan
ponselnya kepada sang istri, “aku pikir mungkin kau mengingatnya.”
“Hmm..” Ny. Jung
bergumam pelan tampak mencoba mengingat-ingat apakah pria muda dalam foto ini
adalah suaminya. “Aku tidak yakin. Jika ini fotomu, kurasa foto ini diambil
sebelum kita bertemu dan menikah.”
“Begitukah?”
“Kau serius tidak
mengingatnya? Bagaimana bisa seseorang melupakan wajah masa mudanya.”
“Entahlah, pria
dalam foto ini mirip denganku tapi aku tidak yakin pernah berfoto seperti ini.”
Tn. Jung kembali memperhatikan foto itu. Seorang pria berdiri tegap dengan
mengguna-kan seragam militer, wajahnya terlihat sangat muda
sepertinya berumur awal 20 tahun. “Aku sendiri masuk militer saat berusia 22
tahun.”
“Lalu kau menjawab
apa?” tanya Ny. Jung sambil mulai memakan potongan buah itu dengan santai.
“Aku hanya
mengatakan bahwa aku tidak yakin itu fotoku atau bukan. Wajahnya sih mirip
denganku, tapi aku tidak ingat pernah mengambil foto ini.”
Jihae keluar dari
kamar Yunho. Setelah menyelesaikan makan malamnya, Yunho langsung menuju kamarnya.
Ia masih enggan bertemu orang lain selain keluarganya, walaupun terkadang Yoomi
masih mengunjunginya meski tidak sesering dulu. Tetapi perlu di syukuri bahwa
keadaan Yunho jauh lebih baik. ia bahkan sudah bisa tertawa dan mengurangi rasa
waspadanya terhadap orang lain.
“Oppa sudah tidur.”
Katanya berjalan mendekati Ny. Jung dan memeluknya manja. Ia mengambil sepotong
buah dan mengunyahnya.
“Jihae, apakah
menurutmu ini foto ayah?” kata Tn. Jung sambil memperlihatkan layar ponselnya.
“Apakah itu foto
Ayah waktu masih muda?” bukannya memberi jawaban, Jihae malah mengajukan
pertanyaan baru. “Kenapa tidak mirip dengan Yunho Oppa,” gumamnya.
“Yunho mengambil
semua dari Ibunya termasuk wajah dan kecerdasannya. Hanya kepribadiannya yang
dia ambil dariku.” Jawab Tn. Jung, ia melirik
sekilas istrinya. Ny. Jung tersenyum hangat, meyakinkan bahwa ia baik-baik.
sudah hampir 16 tahun ia menikah dengan Tn. Jung jadi pembicaraan seperti ini
seharusnya tidak menjadi masalah.
Jihae mengetahui
bahwa ia dan Yunho hanya separuh bersaudara saat berumur 12 tahun. Saat itu
Yunho jatuh sakit dan membutuhkan transfusi darah. Jihae yang masih kecil
merasa takut akan kehilangan kakaknya dan menangis sambil mengatakan akan
memberikan darahnya sebanyak yang diperlukan Yunho. Tapi Yunho memiliki
golongan darah yang berbeda dengan Jihae. Saat itulah ia mengetahui bahwa
mereka memiliki Ibu yang berbeda.
“Ibu,” panggil
Jihae pelan.
Ny. Jung hanya
tersenyum. Tetapi bukan senyuman hangat seorang ibu yang diberikannya. Ia
memejamkan matanya, perasaan itu kembali lagi setelah sekian lama. Perasaan
hancur sebagai seorang wanita dan seorang ibu.
***
Segelas teh hangat menemani Junsu sore itu, tadi siang ia baru saja
menyelesaikan tes kebohongannya yang pertama. Jika ia berhasil lulus dari tes
itu, dan penyidik tidak menemukan bukti apapun dari memori Changmin, maka ia
akan dinyatakan tidak bersalah. Junsu menerawang ke arah para polisi yang
sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Saat ini ia memang masih berada di
kantor polisi, dan ia akan tetap berada di sana sampai ada keputusan dari
penyidik mengenai posisinya saat ini. Hari ini dia juga melihat Jaejoong,
sepertinya para polisi itu benar-benar melibatkan Jaejoong pada kasus ini. Tapi
Junsu sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Ia tak peduli sekalipun Jaejoong
akan menjadi tersangkanya.
“Bagaimana perasaanmu saat ini?” tanya Yoochun yang baru saja tiba. Ia
langsung meng-ambil sebuah kursi dan duduk berhadapan dengan Junsu.
Tapi Junsu hanya menjawab pertanyaan itu dengan mengangkat bahu.
“Menurutmu nasib baik akan berpihak padamu?” tanya Yoochun lagi, kali
ini dia menatap wajah Junsu dengan serius, seperti sedang mencari sebuah
ekspresi di wajah lelah itu.
“Yang benar akan selalu benar, siapa yang butuh nasib baik?” Junsu
membalas tatapan Yoochun dengan berani, tetapi suaranya terdengar lemah.
Yoochun kemudian hanya tertawa, dia yakin sekali Junsu adalah orang
dengan intelektual tinggi. Karena hal itu jugalah, menjadi sangat sulit untuk
mencari bukti atas perbuatannya. Jika seorang jenius melakukan pembunuhan
berencana, maka hampir tak ada celah bagi penyidik untuk membuktikan
kesalahannya.
“Sebenarnya aku tidak senang mengatakan hal ini,” ucap Yoochun kemudian.
“Tapi selamat yah, kau berhasil lolos dari tes kebohongan. Kau akan
dibebaskan.”
Wajah Junsu seketika berubah cerah, ia bahkan seperti hampir menangis
karena begitu lega. “Lalu bagaimana dengan Changmin?”
“Kami tidak berhasil menemukan hal-hal mencurigakan di memorinya yang
berkaitan dengan para korban.”
Ucapan Yoochun itu membuat kelegaan Junsu semakin bertambah. Ia akhirnya
akan kembali ke rumah dan bisa menjalani kehidupan normalnya lagi. Sudah hampir
1 minggu ini hidupnya terkekang oleh kepolisian karena menjadi salah satu
calon tersangka dalam kasus pembunuhan berantai. Junsu sangat bersyukur karena
dia sempat menghapus beberapa file dalam memori Changmin sebelum kepolisian
mengamankannya.
“Oh iya,” seru Junsu kemudian, tiba-tiba ia ingat akan sesuatu hal.
“Bagaimana dengan Kim Jaejoong?”
Yoochun memutar matanya sejenak, “Ia adalah calon tersangka utama saat
ini.”
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar