Welcome

Rabu, 13 April 2016

FREGOLI DELUSION (17)



“Selamat pagi, Kim Jaejoong.” Sapa Yoochun saat melihat Jaejoong sudah duduk di dalam ruangan interogasi.

Yoochun tidak melihat alat-alat medis yang menempel pada tubuh Jaejoong seperti pada Changmin. Ia yakin bahwa ia sudah meminta Yoona dan Dr. Kang untuk melakukan hal yang sama.

“Kenapa?” tanya Jaejoong saat melihat wajah kebingungan Yoochun. “Kau pasti bertanya-tanya kenapa mereka tidak memasang alat deteksi kebohongan padaku, kan?”

Yoochun mengambil duduk di depan Jaejoong dan menunggu penjelasannya lebih lanjut.

“Aku menolaknya,” terang Jaejoong, “Kau tidak boleh memaksa seorang saksi untuk menggunakan alat pendeteksi kebohongan jika ia menolaknya bukan?”

“Sepertinya kau mengetahui soal hukum.” Jawab Yoochun. “Apa ada alasan khusus mengapa kau menolaknya?”

Jaejoong terdiam, ia tidak tahu harus memberikan alasan yang mana.

“Kuharap kau mau bekerja sama. jika kau tidak mau, kau akan kena masalah karena meng-hambat kerja polisi.” Ancam Yoochun, dia terdiam untuk melihat reaksi Jaejoong tetapi Jaejoong tetap menutup mulutnya. “Kau pasti memiliki masalah yang ingin kau sembunyikan, selama masalah itu tidak berhubungan dengan kasus yang kutangani maka aku tidak akan menanyakannya. Dan maaf soal tempo hari.”

Jaejoong tersenyum getir. Ia mengingat kejadian tempo hari saat Yoochun bertanya mengenai keluarganya. Ia hanya membalas dengan anggukan pelan.

Dr. Kang memasuki ruangan dan mulai memasangkan beberapa sensor pada tubuh Jaejoong. Jaejoong hanya bisa diam dan berharap ini segera berakhir.

Setelah semua sensor terpasang, Yoochun memulai dengan 4-5 pernyataan sederhana seperti nama, alamat dan beberapa informasi yang sudah diketahuinya saat membaca profil Jaejoong. Hal ini dilakukan untuk merekam parameter seperti detak jantung pada saat keadaan normal. Hasil grafiknya memperlihatkan gelombang naik-turun yang stabil. Jaejoong menjawab semua pertanyaannya dengan jujur.

“Kau tahu bahwa 3 kasus pembunuhan berantai yang kutangani, semua korbannya mati karena racun?” tanya Yoochun. “Apakah–”

“Aku tahu.” Potong Jaejoong. Yoochun menatapnya emosi, ia merasa bahwa Jaejoong tidak sopan karena memotong pembicaraan seperti ini. “Junsu menceritakannya padaku. Kau sudah menahan Junsu karena kau mencurigainya sebagai pelaku. Jadi mengapa kau juga mencurigaiku hanya karena sebuah buku?”

“Buku itu mempelajari tentang toksikologi dan beberapa racun yang dijelaskan dalam buku itu digunakan dalam kasus pembunuhan. Ada foto seseorang yang kukenal dalam foto itu dan ia adalah Tn. Jung, ayah dari Jung Yunho, korban pada kasus ke empat.” Kata Yoochun, “kau bisa menceritakan padaku soal  buku itu?”

“Almarhum Kakekku yang memberikan buku itu ketika aku mengatakan padanya bahwa Ayahku mungkin meninggal karena keracunan. Jadi aku tertarik untuk membaca buku mengenai tanda-tanda keracunan pada seseorang,” jawab Jaejoong. Alat itu mendeteksi bahwa Jaejoong berkata benar. “Soal foto didalamnya, aku tidak tahu. Foto itu sudah ada di sana sejak dulu. Selain itu dia tidak hanya memberikan buku itu saja. Ada beberapa buku yang lain.” Tambah Jaejoong, ada sedikit perubahan kecepatan gelombang saat Jaejoong melanjutkan keterangannya, tetapi kembali normal setelah itu

“Kau mengenal mereka?” tanya Yoochun sambil meletakan 3 lembar foto korban pada kasus kematian akibat racun diatas meja.

Grafik pada komputer memperlihatkan gelombang naik-turun yang semakin cepat. Yoochun menyadari hal itu. Tetapi Jaejoong hanya memandangi foto itu tanpa menjawab pertanyaan yang diberikan kepadanya.

“Jawab!” perintah Yoochun.

“Tidak. Aku hanya mengenal Song Jisoo, aku tidak mengenal yang lainnya.” Jawab Jaejoong. Grafik bergerak semakin cepat, menandakan bahwa Jaejoong berbohong.

Yoochun memajukan tubuhnya mendekati Jaejoong. “Kau mengenal mereka semua kan?” desisnya tajam.

“Tidak.” Jawab Jaejoong tetap bersikukuh dengan jawabannya. Kepalanya menggeleng dengan cepat.

Yoochun mencoba untuk menahan emosi, tangannya mencengkram pinggiran meja dengan kuat. “Berhentilah berbohong! Akui saja jika kau mengenal mereka?!”

“Aku hanya takut. Jika aku mengatakan bahwa aku mengenal mereka, kau akan menjadikan-ku tersangka dan memberikan hukuman mati.” Kata Jaejoong pelan, ia terlihat gusar.

“Kami hanya menghukum orang yang bersalah. Kuharap kau tidak mempersulit penyelidikan ini,” kata Yoochun, melepaskan cengkramannya dan kembali duduk, “Bagaimana kau mengenal mereka?”

“Aku hanya mengenal mereka karena mereka adalah orang berbakat. Aku tidak mengenal secara pribadi.”

***

“Apa yang sedang kau lihat?” tanya Ny. Jung sambil meletakkan potongan buah di meja dan duduk disebelah Tn. Jung. “Sejak pulang dari kantor tadi kau sepertinya sibuk menatap ponselmu itu.”

“Ah, sayang,” katanya mengalihkan pandangan dari layar ponselnya, ia melirik istrinya sekilas. “Yoochun mengirimkan e-mail padaku tadi siang. Ia menanyakan apakah orang dalam foto ini adalah aku.”

Tn. Jung memberikan ponselnya kepada sang istri, “aku pikir mungkin kau mengingatnya.”

“Hmm..” Ny. Jung bergumam pelan tampak mencoba mengingat-ingat apakah pria muda dalam foto ini adalah suaminya. “Aku tidak yakin. Jika ini fotomu, kurasa foto ini diambil sebelum kita bertemu dan menikah.”

“Begitukah?”

“Kau serius tidak mengingatnya? Bagaimana bisa seseorang melupakan wajah masa mudanya.”

“Entahlah, pria dalam foto ini mirip denganku tapi aku tidak yakin pernah berfoto seperti ini.” Tn. Jung kembali memperhatikan foto itu. Seorang pria berdiri tegap dengan mengguna-kan seragam militer, wajahnya terlihat sangat muda sepertinya berumur awal 20 tahun. “Aku sendiri masuk militer saat berusia 22 tahun.”

“Lalu kau menjawab apa?” tanya Ny. Jung sambil mulai memakan potongan buah itu dengan santai.

“Aku hanya mengatakan bahwa aku tidak yakin itu fotoku atau bukan. Wajahnya sih mirip denganku, tapi aku tidak ingat pernah mengambil foto ini.”

Jihae keluar dari kamar Yunho. Setelah menyelesaikan makan malamnya, Yunho langsung menuju kamarnya. Ia masih enggan bertemu orang lain selain keluarganya, walaupun terkadang Yoomi masih mengunjunginya meski tidak sesering dulu. Tetapi perlu di syukuri bahwa keadaan Yunho jauh lebih baik. ia bahkan sudah bisa tertawa dan mengurangi rasa waspadanya terhadap orang lain.

“Oppa sudah tidur.” Katanya berjalan mendekati Ny. Jung dan memeluknya manja. Ia mengambil sepotong buah dan mengunyahnya.

“Jihae, apakah menurutmu ini foto ayah?” kata Tn. Jung sambil memperlihatkan layar ponselnya.

“Apakah itu foto Ayah waktu masih muda?” bukannya memberi jawaban, Jihae malah mengajukan pertanyaan baru. “Kenapa tidak mirip dengan Yunho Oppa,” gumamnya.

“Yunho mengambil semua dari Ibunya termasuk wajah dan kecerdasannya. Hanya kepribadiannya yang dia ambil dariku.” Jawab Tn. Jung, ia melirik sekilas istrinya. Ny. Jung tersenyum hangat, meyakinkan bahwa ia baik-baik. sudah hampir 16 tahun ia menikah dengan Tn. Jung jadi pembicaraan seperti ini seharusnya tidak menjadi masalah.

Jihae mengetahui bahwa ia dan Yunho hanya separuh bersaudara saat berumur 12 tahun. Saat itu Yunho jatuh sakit dan membutuhkan transfusi darah. Jihae yang masih kecil merasa takut akan kehilangan kakaknya dan menangis sambil mengatakan akan memberikan darahnya sebanyak yang diperlukan Yunho. Tapi Yunho memiliki golongan darah yang berbeda dengan Jihae. Saat itulah ia mengetahui bahwa mereka memiliki Ibu yang berbeda.

“Ibu,” panggil Jihae pelan.

Ny. Jung hanya tersenyum. Tetapi bukan senyuman hangat seorang ibu yang diberikannya. Ia memejamkan matanya, perasaan itu kembali lagi setelah sekian lama. Perasaan hancur sebagai seorang wanita dan seorang ibu.


***

Segelas teh hangat menemani Junsu sore itu, tadi siang ia baru saja menyelesaikan tes kebohongannya yang pertama. Jika ia berhasil lulus dari tes itu, dan penyidik tidak menemukan bukti apapun dari memori Changmin, maka ia akan dinyatakan tidak bersalah. Junsu menerawang ke arah para polisi yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Saat ini ia memang masih berada di kantor polisi, dan ia akan tetap berada di sana sampai ada keputusan dari penyidik mengenai posisinya saat ini. Hari ini dia juga melihat Jaejoong, sepertinya para polisi itu benar-benar melibatkan Jaejoong pada kasus ini. Tapi Junsu sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Ia tak peduli sekalipun Jaejoong akan menjadi tersangkanya.

“Bagaimana perasaanmu saat ini?” tanya Yoochun yang baru saja tiba. Ia langsung meng-ambil sebuah kursi dan duduk berhadapan dengan Junsu.

Tapi Junsu hanya menjawab pertanyaan itu dengan mengangkat bahu.

“Menurutmu nasib baik akan berpihak padamu?” tanya Yoochun lagi, kali ini dia menatap wajah Junsu dengan serius, seperti sedang mencari sebuah ekspresi di wajah lelah itu.

“Yang benar akan selalu benar, siapa yang butuh nasib baik?” Junsu membalas tatapan Yoochun dengan berani, tetapi suaranya terdengar lemah.

Yoochun kemudian hanya tertawa, dia yakin sekali Junsu adalah orang dengan intelektual tinggi. Karena hal itu jugalah, menjadi sangat sulit untuk mencari bukti atas perbuatannya. Jika seorang jenius melakukan pembunuhan berencana, maka hampir tak ada celah bagi penyidik untuk membuktikan kesalahannya.

“Sebenarnya aku tidak senang mengatakan hal ini,” ucap Yoochun kemudian. “Tapi selamat yah, kau berhasil lolos dari tes kebohongan. Kau akan dibebaskan.”

Wajah Junsu seketika berubah cerah, ia bahkan seperti hampir menangis karena begitu lega. “Lalu bagaimana dengan Changmin?”

“Kami tidak berhasil menemukan hal-hal mencurigakan di memorinya yang berkaitan dengan para korban.”

Ucapan Yoochun itu membuat kelegaan Junsu semakin bertambah. Ia akhirnya akan kembali ke rumah dan bisa menjalani kehidupan normalnya lagi. Sudah hampir 1 minggu ini hidupnya terkekang oleh kepolisian karena menjadi salah satu calon tersangka dalam kasus pembunuhan berantai. Junsu sangat bersyukur karena dia sempat menghapus beberapa file dalam memori Changmin sebelum kepolisian mengamankannya.

“Oh iya,” seru Junsu kemudian, tiba-tiba ia ingat akan sesuatu hal. “Bagaimana dengan Kim Jaejoong?”

Yoochun memutar matanya sejenak, “Ia adalah calon tersangka utama saat ini.”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar