Salah satu rumah tinggal
di daerah Daejeon ditutupi oleh garis polisi. Beberapa warga sekitar berkumpul
dibalik garis polisi. Rumah yang berbentuk kamar-kamar ini dihuni oleh
kebanyakan mahasiswa yang kuliah di universitas sekitar.
“Kondisi mayat di sini terlalu berbeda
dengan kasus pertama jika ingin disebut sebagai kasus pembunuhan berantai.”
Ujar Yoona. Mayat memang telah dipindahkan ke ruang autopsi, tetapi tim
forensik masih menyelidiki kamar ini.
“Tetapi kondisi
mayatnya terlihat mirip. Setidaknya kita harus mengeceknya.” Saran Yoochun.
“Seperti dugaan
awal kita, kasus pertama juga bukan kasus bunuh diri ataupun balas dendam.
Kurasa lebih menjadi ketidaksengajaan meminum racun. Kalian tahu bahwa pada
kasus pertama racunnya sampai saat ini belum teridentifikasi.”
Detektif Yoochun
memasuki salah satu kamar diikuti oleh Yoona dan Kyuhyun. Awal dugaan kasus ini
adalah bunuh diri. Tetapi kemudian disinyalir memiliki keterkaitan dengan kasus
sebelumnya. Kepolisian menyebut kasus ini sebagai ‘Insiden Racun Daejeon’.
Biasanya menghabisi nyawa dengan meminum racun bukan hal yang umum untuk
dilakukan. Hampir 65% kasus bunuh diri dilakukan dengan cara melemparkan tubuh
dari tempat yang tinggi.
Yoochun telah
meminta keterangan dari teman-teman korban. Tidak ditemukan tanda-tanda ingin
menghabisi nyawanya sendiri. Karena korban –Song Jisoo– dikenal sebagai sosok
yang rajin dan berkeinginan kuat dalam meraih mimpinya sebagai pembuat robot
yang profesional.
Ponsel Yoochun
berdering, terdapat satu pesan pada layar ponselnya.
/Laporan Hasil Otopsi Song Jisoo : Berdasarkan sampel
dari rambutnya menunjukan adanya senyawa arsenik yang melewati ambang batas.
Sehingga diketahui bahwa korban meninggal akibat keracunan arsenik./
Unsur Arsen, jika
dalam bentuk oksidanya berupa arsen dioksida adalah racun yang sering digunakan
berbentuk serbuk putih dan larut dalam air. Arsenik tidak berasa dan sukar
untuk dideteksi. Jika mengkonsumsi dalam jumlah yang kecil tidak akan
menyebabkan kematian. Masuknya arsen dalam jumlah yang besar ke dalam tubuh dapat
menyebabkan kerusakan sistem pencernaan bahkan kematian.
“Yoona, racun apa
yang digunakan dalam kasus pertama” tanya Yoochun.
“Sampai saat ini
belum teridentifikasi. Tim forensik mengalami kesulitan dalam mengidentifikasinya.
Karena racun yang digunakan bukan racun yang mudah didapat.” Jawab Yoona.
“Tim forensik
mengatakan baru sekali ini melihat gejala keracunan itu. Mereka bahkan mengirim
sampel untuk dianalisis ke KAIST. Mereka memiliki tim penelitian yang hebat,
terutama di bidang
kedokteran.” Tambah Kyuhyun.
“Segera laporkan
kepadaku, jika kalian telah mendapatkan hasilnya.” Perintah Yoochun
“Baik!” jawab
mereka kompak.
Yoochun
melanjutkan melihat sekeliling kamar itu dan berhenti pada sebuah meja belajar
berwarna coklat muda. Matanya terus menelusuri benda-benda yang terdapat di atas meja. Buku-buku
tebal, alat tulis, beberapa perlatan besi dan miniatur robot. Tidak ada yang
janggal untuk seorang pecinta robot.
Kemudian Yoochun
menyadari bahwa pada kalender yang menunjukkan tanggal 3 hari sebelum
kematiannya dia telah membuat janji untuk bertemu seseorang. Tidak ada nama
yang tertulis pada kalender tersebut, hanya terdapat inisial kata. JK.
Tunggu. Tunggu
dulu. JK? Yoochun tidak asing melihat huruf tersebut. Ingatannya kembali
memutar.
“Ini adalah pelaku
yang sama.” Gumamnya pelan.
“Huh?” kata
Kyuhyun mencoba meyakinkan bahwa dia tidak salah mendengar. “Tapi-”
“Hal ini juga
berarti bahwa akan sulit menemukan sidik jari, jejak bukti, termasuk cctv,
saksi dan lain-lain.”
Yoona mulai paham
apa yang berada dalam pikiran Yoochun. “Satu hal yang sama adalah tak ada tanda
yang ditinggalkan oleh pelaku.”
“Aku akan menemui
Tim forensik lagi. Siapa tau ada barang yang dapat dijadikan petunjuk.” Ujar
Kyuhyun.
“Kita harus
membuat daftar tersangka.” Saran Yoochun.
“Tapi kita tidak
tau siapa yang bisa dijadikan tersangka. Kita kekurangan bukti.” Kata Yoona.
“Korban pertama
dan kedua, mereka berdua adalah yang mempelajari teknologi terutama dalam
pembuatan robot. Kemungkinan salah seorang di antara korban memiliki
kemampuan dalam menciptakan robot, program-program yang berhubungan, ataupun
mengetahui orang yang memiliki kemampuan tersebut. Terlebih pada kasus kedua
ini kita juga memperoleh
insial ‘JK’” kata Yoochun, dia melanjutkan memberi perintah, “Segera kumpulkan
semua identitas yang mengenal korban.”
“Baik!”
***
“Jangan
menatapku seperti itu.” Ucap Junsu tak nyaman saat dia baru saja mengaktifkan
lagi robot Changmin. Sepasang bola mata yang kini menatapnya memang cukup
mengganggu.
Sepulangnya
dari pameran itu, Junsu merasa bodoh karena tidak menggunakan kesempatan emas
untuk bertanya pada Yoomi mengenai semuanya. Namun ia juga merasa tidak leluasa
karena di sana ada Yunho dan Jaejoong. Ia ingin bicara berdua saja dengan
Yoomi. Dulu sudah sangat sering ia mengajak Yoomi bertemu untuk membicarakan alasannya
meninggal-kan Junsu begitu saja, namun Yoomi selalu sulit dihubungi. Sekarang
ini Junsu sudah tidak mau lagi menghubungi Yoomi, ia merasa dirinya sudah tidak
diinginkan.
“Yoomi
belum pernah terlihat sebahagia itu dengan orang lain.” Junsu memejamkan
matanya sejenak. Wajah tersenyum Yoomi kembali terbayang dalam ingatannya.
“Apa
yang harus aku lakukan, Tuan?” tanya Changmin.
Junsu
menghela napas panjang, lalu memandangi sebingkai foto yang terpajang di
samping tempat tidurnya. Fotonya bersama Yoomi saat wisuda. Junsu tidak tahu
apa kesalahannya, dia bingung mengapa Yoomi harus meninggalkannya. Yoomi boleh
saja memiliki kekasih, menikah dengan siapapun, tapi seharusnya dia tak perlu
sampai meninggalkan Junsu. Lagipula Junsu tidak pernah melarangnya mencintai
siapapun. Dia hanya tidak ingin kehilangan Yoomi.
“Jung
Yunho.” Geram Junsu, tangannya terkepal dengan keras. “Changmin, kau harus
memberinya pelajaran berharga yang tidak akan pernah dia lupakan seumur
hidupnya.” Junsu merasa ada bulir jernih yang membasahi pipinya, namun ia tidak
menghapusnya. Sudah lama sekali ia tidak menangis, bahkan ia sudah lupa kapan
terakhir kali melakukannya.
Lalu
dengan mantap Changmin menjawab, “Baik, Tuan.”
***
“Ini
adalah rekanmu yang baru.” Ujar seorang pria berbadan tambun yang merupakan
pimpinan Yunho saat ini.
Yunho
menatap pria yang dimaksud itu. Cukup tampan, dengan tubuh tegap yang tinggi
seperti model. Pria itu memiliki raut wajah yang tegas, dan sepertinya
terpelajar. Selama ini Yunho sudah banyak berganti-ganti rekan kerja, namun
entah mengapa ia merasa ada yang aneh dengan pria yang akan menjadi rekannya
kali ini.
“Shim
Changmin.” Ucapan itu membuat Yunho tersadar. Ia melihat pria di depannya
tengah mengulurkan tangan, mengajaknya berkenalan.
“Ah.
Jung Yunho.” Jawabnya dengan senyum berwibawa. “Senang bisa bekerja sama
denganmu, Tn. Shim.” Ucap Yunho seraya menjabat tangan Changmin.
Changmin
pun mengangguk. “Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik.”
***
Langit
tampak mendung sore itu, dan jalanan sudah sepi. Jaejoong mengendarai sepeda
motornya dengan agak terburu-buru, ia takut akan segera turun hujan dan tidak
membawa jas hujan di jok sepeda motornya. Ada banyak sekali tugas yang harus
dikerjakannya di kampus sehingga ia tidak bisa pulang bersama Jihoon—teman satu
asramanya. Jaejoong juga masih akan disibukkan dengan pekerjaannya sebagai programmer saat ia sampai di rumah
nanti. Memang sudah cukup lama juga ia menjalani pekerjaan sampingan itu.
Di saat Jaejoong
tengah larut dalam lamunannya, tiba-tiba sebuah mobil menyalipnya dengan kasar
hingga ia dan sepeda motornya oleng ke bahu jalan.
“Hei! Kalau tidak
bisa mengemudi jangan turun ke jalanan! Dasar bodoh!” omel Jaejoong sambil
berusaha bangun kembali. Dia merasakan kakinya terkilir dan itu sakit sekali.
Mobil mewah yang tadi menyalipnya tampak berhenti di depannya, dan seseorang
turun dari sana.
“Maaf, saya tidak
sengaja.” Ucap seorang pria dengan kemeja mahal. Jaejoong mendengus kesal.
“Kau tidak lihat
sepeda motorku lecet?!” Jaejoong masih saja mengomel setelah orang itu
membantunya berdiri.
“Sekali lagi
maafkan saya, Tuan. Saya akan membayar ganti rugi.” Pria itu mengeluarkan
sejumlah uang dari dompetnya.
“Aku
tidak butuh uangmu.” Ucap Jaejoong ketus, sekarang ia harus memikirkan bagaimana cara
membayar kerusakan sepeda motornya karena ia sudah menolak tawaran ganti rugi
itu.
Pria
itu kemudian mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya dan memberikannya pada
Jaejoong.
“Ini kartu namaku. Kau boleh menghubungiku jika ada masalah serius
denganmu atau sepeda motormu.”
Jaejoong
membaca nama yang tertera pada kartu nama itu. Park Yoochun. Rupanya orang ini
bekerja di kepolisian. Dulu Jaejoong sempat bercita-cita ingin menjadi
detektif, ia suka sekali membaca semua cerita detektif. Namun sepertinya itu
semua hanya sebatas cita-cita. Ia lalu menatap pria bernama Park Yoochun itu,
ada sedikit rasa iri dalam hatinya. Betapa hebatnya orang ini dapat menjadi
detektif yang sesungguhnya.
“Baik,
aku sudah memaafkanmu.” Ucap Jaejoong kemudian. Ia mulai beranjak pergi sambil
menuntun motornya yang tak bisa dikendarai karena ada bagian yang rusak. Pria
yang bernama Park Yoochun itu memandanginya sejenak.
“Hei, kau boleh
menumpang mobilku jika kau mau!”
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar