Welcome

Minggu, 10 April 2016

FREGOLI DELUSION (4)



Salah satu rumah tinggal di daerah Daejeon ditutupi oleh garis polisi. Beberapa warga sekitar berkumpul dibalik garis polisi. Rumah yang berbentuk kamar-kamar ini dihuni oleh kebanyakan mahasiswa yang kuliah di universitas sekitar.

“Kondisi mayat di sini terlalu berbeda dengan kasus pertama jika ingin disebut sebagai kasus pembunuhan berantai.” Ujar Yoona. Mayat memang telah dipindahkan ke ruang autopsi, tetapi tim forensik masih menyelidiki kamar ini.

“Tetapi kondisi mayatnya terlihat mirip. Setidaknya kita harus mengeceknya.” Saran Yoochun.

“Seperti dugaan awal kita, kasus pertama juga bukan kasus bunuh diri ataupun balas dendam. Kurasa lebih menjadi ketidaksengajaan meminum racun. Kalian tahu bahwa pada kasus pertama racunnya sampai saat ini belum teridentifikasi.”

Detektif Yoochun memasuki salah satu kamar diikuti oleh Yoona dan Kyuhyun. Awal dugaan kasus ini adalah bunuh diri. Tetapi kemudian disinyalir memiliki keterkaitan dengan kasus sebelumnya. Kepolisian menyebut kasus ini sebagai ‘Insiden Racun Daejeon’. Biasanya menghabisi nyawa dengan meminum racun bukan hal yang umum untuk dilakukan. Hampir 65% kasus bunuh diri dilakukan dengan cara melemparkan tubuh dari tempat yang tinggi.

Yoochun telah meminta keterangan dari teman-teman korban. Tidak ditemukan tanda-tanda ingin menghabisi nyawanya sendiri. Karena korban –Song Jisoo– dikenal sebagai sosok yang rajin dan berkeinginan kuat dalam meraih mimpinya sebagai pembuat robot yang profesional.

Ponsel Yoochun berdering, terdapat satu pesan pada layar ponselnya.

/Laporan Hasil Otopsi Song Jisoo : Berdasarkan sampel dari rambutnya menunjukan adanya senyawa arsenik yang melewati ambang batas. Sehingga diketahui bahwa korban meninggal akibat keracunan arsenik./

Unsur Arsen, jika dalam bentuk oksidanya berupa arsen dioksida adalah racun yang sering digunakan berbentuk serbuk putih dan larut dalam air. Arsenik tidak berasa dan sukar untuk dideteksi. Jika mengkonsumsi dalam jumlah yang kecil tidak akan menyebabkan kematian. Masuknya arsen dalam jumlah yang besar ke dalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan sistem pencernaan bahkan kematian.

“Yoona, racun apa yang digunakan dalam kasus pertama” tanya Yoochun.

“Sampai saat ini belum teridentifikasi. Tim forensik mengalami kesulitan dalam mengidentifikasinya. Karena racun yang digunakan bukan racun yang mudah didapat.” Jawab Yoona.

“Tim forensik mengatakan baru sekali ini melihat gejala keracunan itu. Mereka bahkan mengirim sampel untuk dianalisis ke KAIST. Mereka memiliki tim penelitian yang hebat, terutama di bidang kedokteran.” Tambah Kyuhyun.

“Segera laporkan kepadaku, jika kalian telah mendapatkan hasilnya.” Perintah Yoochun

“Baik!” jawab mereka kompak.

Yoochun melanjutkan melihat sekeliling kamar itu dan berhenti pada sebuah meja belajar berwarna coklat muda. Matanya terus menelusuri benda-benda yang terdapat di atas meja. Buku-buku tebal, alat tulis, beberapa perlatan besi dan miniatur robot. Tidak ada yang janggal untuk seorang pecinta robot.

Kemudian Yoochun menyadari bahwa pada kalender yang menunjukkan tanggal 3 hari sebelum kematiannya dia telah membuat janji untuk bertemu seseorang. Tidak ada nama yang tertulis pada kalender tersebut, hanya terdapat inisial kata. JK.

Tunggu. Tunggu dulu. JK? Yoochun tidak asing melihat huruf tersebut. Ingatannya kembali memutar.

“Ini adalah pelaku yang sama.” Gumamnya pelan.

“Huh?” kata Kyuhyun mencoba meyakinkan bahwa dia tidak salah mendengar. “Tapi-”

“Hal ini juga berarti bahwa akan sulit menemukan sidik jari, jejak bukti, termasuk cctv, saksi dan lain-lain.”

Yoona mulai paham apa yang berada dalam pikiran Yoochun. “Satu hal yang sama adalah tak ada tanda yang ditinggalkan oleh pelaku.”

“Aku akan menemui Tim forensik lagi. Siapa tau ada barang yang dapat dijadikan petunjuk.” Ujar Kyuhyun.

“Kita harus membuat daftar tersangka.” Saran Yoochun.

“Tapi kita tidak tau siapa yang bisa dijadikan tersangka. Kita kekurangan bukti.” Kata Yoona.

“Korban pertama dan kedua, mereka berdua adalah yang mempelajari teknologi terutama dalam pembuatan robot. Kemungkinan salah seorang di antara korban memiliki kemampuan dalam menciptakan robot, program-program yang berhubungan, ataupun mengetahui orang yang memiliki kemampuan tersebut. Terlebih pada kasus kedua ini kita juga memperoleh insial ‘JK’” kata Yoochun, dia melanjutkan memberi perintah, “Segera kumpulkan semua identitas yang mengenal korban.”

“Baik!”

***

“Jangan menatapku seperti itu.” Ucap Junsu tak nyaman saat dia baru saja mengaktifkan lagi robot Changmin. Sepasang bola mata yang kini menatapnya memang cukup mengganggu.

Sepulangnya dari pameran itu, Junsu merasa bodoh karena tidak menggunakan kesempatan emas untuk bertanya pada Yoomi mengenai semuanya. Namun ia juga merasa tidak leluasa karena di sana ada Yunho dan Jaejoong. Ia ingin bicara berdua saja dengan Yoomi. Dulu sudah sangat sering ia mengajak Yoomi bertemu untuk membicarakan alasannya meninggal-kan Junsu begitu saja, namun Yoomi selalu sulit dihubungi. Sekarang ini Junsu sudah tidak mau lagi menghubungi Yoomi, ia merasa dirinya sudah tidak diinginkan.

“Yoomi belum pernah terlihat sebahagia itu dengan orang lain.” Junsu memejamkan matanya sejenak. Wajah tersenyum Yoomi kembali terbayang dalam ingatannya.

“Apa yang harus aku lakukan, Tuan?” tanya Changmin.
Junsu menghela napas panjang, lalu memandangi sebingkai foto yang terpajang di samping tempat tidurnya. Fotonya bersama Yoomi saat wisuda. Junsu tidak tahu apa kesalahannya, dia bingung mengapa Yoomi harus meninggalkannya. Yoomi boleh saja memiliki kekasih, menikah dengan siapapun, tapi seharusnya dia tak perlu sampai meninggalkan Junsu. Lagipula Junsu tidak pernah melarangnya mencintai siapapun. Dia hanya tidak ingin kehilangan Yoomi.

“Jung Yunho.” Geram Junsu, tangannya terkepal dengan keras. “Changmin, kau harus memberinya pelajaran berharga yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.” Junsu merasa ada bulir jernih yang membasahi pipinya, namun ia tidak menghapusnya. Sudah lama sekali ia tidak menangis, bahkan ia sudah lupa kapan terakhir kali melakukannya.

Lalu dengan mantap Changmin menjawab, “Baik, Tuan.”

***

“Ini adalah rekanmu yang baru.” Ujar seorang pria berbadan tambun yang merupakan pimpinan Yunho saat ini.

Yunho menatap pria yang dimaksud itu. Cukup tampan, dengan tubuh tegap yang tinggi seperti model. Pria itu memiliki raut wajah yang tegas, dan sepertinya terpelajar. Selama ini Yunho sudah banyak berganti-ganti rekan kerja, namun entah mengapa ia merasa ada yang aneh dengan pria yang akan menjadi rekannya kali ini.

“Shim Changmin.” Ucapan itu membuat Yunho tersadar. Ia melihat pria di depannya tengah mengulurkan tangan, mengajaknya berkenalan.

“Ah. Jung Yunho.” Jawabnya dengan senyum berwibawa. “Senang bisa bekerja sama denganmu, Tn. Shim.” Ucap Yunho seraya menjabat tangan Changmin.

Changmin pun mengangguk. “Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik.”

***

Langit tampak mendung sore itu, dan jalanan sudah sepi. Jaejoong mengendarai sepeda motornya dengan agak terburu-buru, ia takut akan segera turun hujan dan tidak membawa jas hujan di jok sepeda motornya. Ada banyak sekali tugas yang harus dikerjakannya di kampus sehingga ia tidak bisa pulang bersama Jihoon—teman satu asramanya. Jaejoong juga masih akan disibukkan dengan pekerjaannya sebagai programmer saat ia sampai di rumah nanti. Memang sudah cukup lama juga ia menjalani pekerjaan sampingan itu.

Di saat Jaejoong tengah larut dalam lamunannya, tiba-tiba sebuah mobil menyalipnya dengan kasar hingga ia dan sepeda motornya oleng ke bahu jalan.

“Hei! Kalau tidak bisa mengemudi jangan turun ke jalanan! Dasar bodoh!” omel Jaejoong sambil berusaha bangun kembali. Dia merasakan kakinya terkilir dan itu sakit sekali. Mobil mewah yang tadi menyalipnya tampak berhenti di depannya, dan seseorang turun dari sana.

“Maaf, saya tidak sengaja.” Ucap seorang pria dengan kemeja mahal. Jaejoong mendengus kesal.

“Kau tidak lihat sepeda motorku lecet?!” Jaejoong masih saja mengomel setelah orang itu membantunya berdiri.

“Sekali lagi maafkan saya, Tuan. Saya akan membayar ganti rugi.” Pria itu mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya.

“Aku tidak butuh uangmu.” Ucap Jaejoong ketus, sekarang ia harus memikirkan bagaimana cara membayar kerusakan sepeda motornya karena ia sudah menolak tawaran ganti rugi itu.
Pria itu kemudian mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya dan memberikannya pada Jaejoong. 

“Ini kartu namaku. Kau boleh menghubungiku jika ada masalah serius denganmu atau sepeda motormu.”

Jaejoong membaca nama yang tertera pada kartu nama itu. Park Yoochun. Rupanya orang ini bekerja di kepolisian. Dulu Jaejoong sempat bercita-cita ingin menjadi detektif, ia suka sekali membaca semua cerita detektif. Namun sepertinya itu semua hanya sebatas cita-cita. Ia lalu menatap pria bernama Park Yoochun itu, ada sedikit rasa iri dalam hatinya. Betapa hebatnya orang ini dapat menjadi detektif yang sesungguhnya.

“Baik, aku sudah memaafkanmu.” Ucap Jaejoong kemudian. Ia mulai beranjak pergi sambil menuntun motornya yang tak bisa dikendarai karena ada bagian yang rusak. Pria yang bernama Park Yoochun itu memandanginya sejenak.

“Hei, kau boleh menumpang mobilku jika kau mau!”


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar