Welcome

Selasa, 12 April 2016

FREGOLI DELUSION (14)



Kesibukan sekolah membuat Jihae tidak bisa menemani Yunho hari ini, sebagai gantinya Yoomi yang akan melakukannya. Sejak terapi yang dijalani oleh Yunho dalam masa perawatan, sikapnya sudah mulai berubah. Ia tidak lagi berteriak histeris kepada Yoomi ataupun orang lain, tetapi ia tetap waspada dan menatap curiga kepada siapapun itu.

“Teh hangat,” kata Yoomi sambil memberikan segelas teh hangat kepada Yunho. “Minumlah sebelum dingin.”

Yunho hanya menatap curiga cangkir putih yang kini berada ditangannya, tak ada niat untuk meminumnya.

“Aku tak menaruh racun dalam minuman itu.” Kata Yoomi merasa sedikit tersinggung atas sikap Yunho. “Jika kau tak menginginkannya, sini biar kubuang.” dan Yunho mengembali-kan cangkir itu kepada Yoomi. Ia hanya bisa menghela nafas seakan dengan cara begitu amarahnya akan ikut menghilang.

“Jihae,” ucap Yunho teringat pada adiknya. “Dia kemana? Kenapa tak kemari?”

“Dia sedang berada di sekolah saat ini.” kata Yoomi lembut, “kau tak perlu mencemaskannya.”

Yunho tersenyum lega, sudah lama Yoomi tidak melihat senyum Yunho. Ia merindukannya. Ia merindukan kekasih yang dulu sangat mencintainya, yang akan memberikan pelukan hangat bukan teriakan histeris jika mereka bertemu.

“Seberapa banyak topeng yang kau miliki?” sindir Yunho.

“Kenapa kau selalu menanyakan hal itu?” tanya Yoomi frustasi, “aku tidak mengerti sama sekali. Aku hanya memiliki 1 topeng dan itu adalah Han Yoomi, kekasihmu.”

“Jika kau kekasihku, maka kau tak akan berusaha mencelakaiku.”

“Aku tak pernah berniat mencelakaimu.”

“Kau pandai menyamar bukan? Kau adalah pria yang kemarin kan? Aku yakin itu.”

“Siapa yang kau maksud?” Yoomi balas bertanya, “Kim Junsu adalah teman masa kecilku dan kau pernah bertemu dengannya ketika di pameran tempo hari. Shim Changmin adalah rekan kerjamu, dan pria yang satu lagi adalah temannya Junsu. Bagaimana bisa aku menyamar menjadi mereka?!”

“Kau bisa mengubah penampilanmu seperti sulap.”

“Yunho..” ucap Yoomi lirih, menahan agar tangisannya tidak pecah. “Bagaimana caranya membuatmu percaya padaku?”

***

Ini baru pertama kali Junsu masuk ke dalam kamar Jaejoong. Selama ini dia membantu Jaejoong membuat robot pertamanya di sebuah gudang tak terpakai di dekat asrama Jaejoong, yang dijadikannya sebagai laboratorium sederhana. Jaejoong saat ini sedang keluar untuk membeli makan, dan Junsu mulai tertarik untuk mengamati isi kamar itu. Sebuah kamar yang tidak terlalu besar, dipenuhi tumpukan buku dan kertas tak beraturan. Jaejoong bukanlah orang yang malas merapikan kamar rupanya. Bisa dibilang kamarnya cukup rapi. Ada banyak piagam penghargaan dan juga piala-piala yang menghiasi lemarinya. Ia adalah mahasiswa yang berprestasi. Namun Junsu selama ini tidak pernah tahu kehidupan pribadinya. Di mana keluarganya, apakah ia punya pacar, dan siapa teman-temannya.

Pandangannya lalu tertuju pada foto-foto yang ditaruh di meja belajar dan digantung di dinding Jaejoong. Bingkai-bingkai foto itu banyak dipenuhi foto Jaejoong dengan berbagai prestasinya, dengan teman-temannya, dengan keluarganya juga mungkin. Ia mengambil sebingkai foto yang nampak lawas, foto masa kecil Jaejoong dengan kedua orang tuanya. Jaejoong mirip sekali dengan ibunya. Lalu ia melihat foto-foto yang tersisa. Mengapa tak ada lagi foto Jaejoong dengan kedua orang tuanya setelah ia dewasa?

Junsu tidak mau ambil pusing mengenai hal itu. Ia lalu melihat-lihat ke lemari buku Jaejoong yang tidak terlalu besar. Ada sebuah buku yang menarik perhatiannya, karena buku ini bukan mengenai komputer dan programnya seperti buku yang lain. Melainkan buku Toksikologi Forensik. Ia tak tahu Jaejoong menyukai bacaan seperti itu. Junsu pun mengambil buku itu dan mulai membuka-bukanya. Lalu saat ia membalik sebuah halaman, ia melihat sebuah foto lawas. Seorang pria berkacamata, dengan badan tegap dan rambut ikal. Jaejoong mencoret bagian leher pria itu dengan sebuah spidol merah, membentuk sebuah garis horizontal. Junsu menatap lekat pria dalam foto itu, ia merasa pernah melihatnya. Namun ia tak ingat.

“Sudah selesai melihat-lihat?” suara Jaejoong membuat Junsu terkejut. Ia menatap Jaejoong yang berdiri di ambang pintu dengan bungkusan makanan di tangannya.

“Ah, aku hanya penasaran kenapa kau punya buku seperti ini.” Ucap Junsu, ia segera me-ngembalikan buku itu ke tempatnya seperti semula.

Jaejoong hanya mengangguk pelan, lalu ia mulai membuka makanannya, dan mulai makan bersama Junsu. Namun tidak seperti biasanya, kali ini mereka tidak saling mengobrol ketika makan bersama. Junsu merasa ada yang berubah dari raut wajah Jaejoong.

“Ehm…” Junsu kemudian berdehem, membuat Jaejoong melirik padanya. “Kau tahu banyak ya tentang zat toksik.” Lanjutnya agak menghakimi.

Jaejoong menyadari kecurigaan Junsu saat ini. “Ayahku meninggal karena keracunan. Jadi aku tertarik untuk membaca buku mengenai tanda-tanda keracunan pada seseorang. Aku sempat tidak yakin ia keracunan secara tidak sengaja.”

“Aku turut berduka akan hal itu,” ucap Junsu. “Tapi maksudmu kau curiga ada yang sengaja meracuni ayahmu?”

“Begitulah.”

“Jadi itu alasanmu membunuh orang-orang yang tak bersalah?” Junsu menatap Jaejoong serius, dan Jaejoong tampak terdiam beberapa saat, tak percaya Junsu akan menanyakan itu.

“Apa maksudmu?” tanya Jaejoong mencoba menahan amarahnya.

“Kau tahu Jisoo juga meninggal karena racun. Kau yang terakhir masuk ke kamarnya.”

Jaejoong menatap Junsu dengan perasaan tak tergambarkan. “Bisa-bisanya kau berpikir begitu. Aku tidak pernah membunuh siapapun.”

“Kau tahu karena perbuatanmu itu para polisi itu jadi terus mengawasiku.”

“Kau tidak usah menuduh orang lain karena kau ingin bersembunyi. Aku tahu semua rencana yang kau buat. Changmin itu bukan manusia, kan? Dia adalah robot ciptaanmu. Kau pikir aku sebodoh itu? mungkin kau bisa mengelabui para polisi itu, tapi kau tidak bisa mengelabuiku.”

Junsu tersentak mendengarnya. Dia sudah sangat khawatir kalau-kalau Jaejoong akan me-nyadari bahwa Changmin bukan manusia, dan ternyata ia memang sudah menyadarinya.

“Tujuanku menciptakan Changmin bukan untuk membunuh orang,” ucap Junsu pelan sekali. Jaejoong tampak meragukannya.

“Lalu apa? Kenapa kau merahasiakannya dariku?”

“Ini masalah pribadi,” Junsu kini melihat wajah Yoomi dalam pikirannya. “Aku hanya ingin dia kehilangan semuanya. Changmin bisa membuatnya bangkrut dan dia tidak akan menjadi siapa-siapa lagi.”

“Hanya karena wanita itu?” nada suara Jaejoong terdengar merendahkan. “Aku baru tahu kau mau menghabiskan waktumu untuk hal yang tidak berguna.” Jaejoong memandang Junsu sinis sebelum ia merasakan kepalan tangan Junsu menghantam wajahnya.

***

Hujan pagi ini menemani perjalanan Yoochun menuju ke rumah Yunho. Tn. Jung lah yang memberitahu bahwa Yunho sudah pulang dari Rumah Sakit. Ia mengemudi sendiri ke sana untuk mengajak Yunho mengobrol santai dan membicarakan penculiknya. Semalam ia mendapat informasi bahwa Yunho sempat bertemu dengan ketiga nama yang ada dalam daftar calon tersangka, dan Yunho mengatakan akan memasukkannya ke penjara. Jadi Yoochun akan memperjelas siapa orang yang dimaksud Yunho. Selain itu ia juga merasa perlu menyelidiki lagi ketiga orang yang ternyata juga mengenal Yunho.

Hanya perlu waktu sekitar 30 menit bagi Yoochun untuk sampai di rumah Yunho karena jalanan sedang tidak macet. Saat ia sampai di sana, ia disambut oleh Tn. Jung yang membukakan gerbang rumah. Mereka memiliki rumah bergaya minimalis yang sepertinya sangat nyaman. Yoochun sudah diberitahu oleh dokter bahwa keterangan Yunho tidak dapat sepenuhnya dijadikan acuan karena kondisi mentalnya yang belum pulih total.

“Selamat pagi, Ny. Jung.” Sapa Yoochun saat Ny. Jung menyambutnya di pintu depan.

“Selamat pagi,” Ny. Jung tersenyum ramah. “Silakan, Yunho sedang istirahat di dalam.”

Yoochun pun mengikuti Ny. Jung ke kamar Yunho, sementara Tn. Jung yang baru selesai menutup kembali pintu gerbang menyusul di belakangnya.

“Yunho, ada yang ingin bertemu dengamu. Bersikaplah ramah sedikit,” bisik Ny. Jung, lalu ia dan suaminya keluar dari sana dan membiarkan Yoochun bicara 4 mata dengan Yunho.

Keadaan Yunho saat ini sudah jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Sepertinya luka-luka yang ada di tubuhnya sudah hampir sembuh total. Namun memang kondisi kejiwaannya masih belum sepenuhnya pulih, ia masih menatap Yoochun dengan tatapan penuh curiga. Sejujurnya Yoochun sangat sedih atas kejadian yang menimpa Yunho. Tragedi penculikan itu telah membuatnya menjadi orang lain, bahkan ia sepertinya akan kehilangan pekerjaannya jika kondisi mentalnya tak kunjung sembuh.

“Hai, Yunho,” sapa Yoochun sambil tersenyum manis. Ia duduk di sebuah sofa di depan tempat tidur Yunho. “Kau masih ingat aku kan? Teman lamamu. Park Yoochun.”

Namun Yunho tidak menjawab pertanyaan itu. Ia terlihat sedang mengawasi Yoochun.

“Kau tahu? Orang yang menculikmu adalah pelaku dari ketiga kasus pembunuhan berantai. Kami sangat kesulitan untuk mencari buktinya. Kau adalah satu-satunya korban hidup yang mungkin sudah melihat wajahnya. Jika kau mau memberitahukannya padaku, maka kau bisa menyelamatkan nyawa orang-orang yang mungkin sedang dalam incarannya. Kita harus menangkapnya secepat mungkin.” Yoochun menatap Yunho dengan penuh harapan bahwa ia mau bekerjasama. Namun jawaban Yunho tidak sesuai dengan harapannya.

“Kau tidak usah pura-pura menjadi detektif sekarang.”

“Baiklah, aku memang bukan detektif,” pasrah Yoochun. “Kau menganggap aku adalah orang yang akan mencelakaimu, kan? Apakah kau ingat wajahku saat aku menyekapmu di gudang tua itu?”

Beberapa saat Yunho terdiam, ia memicingkan matanya dan mengamati Yoochun dengan sangat hati-hati. Lalu kemudian ia mengangguk pelan. Betapa leganya Yoochun karena Yunho ternyata memang masih mengingat wajah si pelaku. Sekarang yang harus dilakukannya adalah membuat Yunho bisa memberitahunya seperti apa wajah orang itu.

“Aku ingin memperlihatkanmu sesuatu,” ucap Yoochun sambil bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Yunho.

“Cukup!” seru Yunho dengan wajah ketakutan. “Jangan mendekat lagi padaku walau sejengkal.” Ia sudah bersiap memegang sebuah gunting di tangannya.

“Baik, aku takkan mendekat lagi.” Yoochun mengangkat tangannya dan mulai mundur setelah ia meletakkan 3 buah foto di kasur Yunho. “Letakkan guntingnya dan lihatlah foto itu. Aku berjanji hanya akan duduk di sini.”

Sambil tetap waspada perlahan Yunho pun mulai meletakkan guntingnya lagi. Ia lalu me-ngambil foto-foto yang tadi diberikan Yoochun. Itu adalah foto Junsu, Jaejoong, dan Changmin. Tampaknya Yunho sangat ketakutan melihat foto itu. Tangannya tampak gemetar dan sepertinya tubuhnya menjadi kaku.

“Coba kau tunjukkan padaku menurutmu yang mana wajahku yang asli?” tanya Yoochun, ia masih berpura-pura menjadi seperti yang dipikirkan Yunho. Karena saat ini Yunho masih meyakini bahwa Yoochun adalah penculiknya yang juga sedang menyamar.

Lalu dengan gemetar Yunho menunjuk pada salah satu foto. Yoochun pun mendongak untuk melihat foto itu lebih jelas. Apakah memang dia pelakunya?

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar