Kesibukan sekolah membuat Jihae
tidak bisa menemani Yunho hari ini, sebagai gantinya Yoomi yang akan melakukannya.
Sejak terapi yang dijalani oleh Yunho dalam masa perawatan, sikapnya sudah
mulai berubah. Ia tidak lagi berteriak histeris kepada Yoomi ataupun orang
lain, tetapi ia tetap waspada dan menatap curiga kepada siapapun itu.
“Teh hangat,” kata Yoomi sambil
memberikan segelas teh hangat kepada Yunho. “Minumlah sebelum dingin.”
Yunho hanya menatap curiga cangkir putih yang kini berada ditangannya, tak ada niat untuk
meminumnya.
“Aku tak menaruh racun dalam
minuman itu.” Kata Yoomi merasa sedikit tersinggung atas sikap Yunho. “Jika kau
tak menginginkannya, sini biar kubuang.” dan Yunho mengembali-kan cangkir itu kepada Yoomi.
Ia hanya bisa menghela nafas seakan dengan cara begitu amarahnya akan ikut
menghilang.
“Jihae,” ucap Yunho teringat pada
adiknya. “Dia kemana? Kenapa tak kemari?”
“Dia sedang berada di sekolah
saat ini.” kata Yoomi lembut, “kau tak perlu mencemaskannya.”
Yunho tersenyum lega, sudah lama
Yoomi tidak melihat senyum Yunho. Ia merindukannya. Ia merindukan kekasih yang
dulu sangat mencintainya, yang akan memberikan pelukan hangat bukan teriakan
histeris jika mereka bertemu.
“Seberapa banyak topeng yang kau
miliki?” sindir Yunho.
“Kenapa kau selalu menanyakan hal
itu?” tanya Yoomi frustasi, “aku tidak mengerti sama sekali. Aku hanya memiliki
1 topeng dan itu adalah Han Yoomi, kekasihmu.”
“Jika kau kekasihku, maka kau tak
akan berusaha mencelakaiku.”
“Aku tak pernah berniat
mencelakaimu.”
“Kau pandai menyamar bukan? Kau adalah pria yang kemarin kan? Aku yakin itu.”
“Siapa yang kau maksud?” Yoomi
balas bertanya, “Kim Junsu adalah teman masa kecilku dan kau pernah bertemu
dengannya ketika di pameran tempo hari. Shim Changmin adalah rekan kerjamu, dan
pria yang satu lagi adalah temannya Junsu. Bagaimana bisa aku menyamar menjadi
mereka?!”
“Kau bisa mengubah penampilanmu
seperti sulap.”
“Yunho..” ucap Yoomi lirih,
menahan agar tangisannya tidak pecah. “Bagaimana caranya membuatmu percaya
padaku?”
***
Ini baru pertama kali
Junsu masuk ke dalam kamar Jaejoong. Selama ini dia membantu Jaejoong membuat
robot pertamanya di sebuah gudang tak terpakai di dekat asrama Jaejoong, yang
dijadikannya sebagai laboratorium sederhana. Jaejoong saat ini sedang keluar untuk
membeli makan, dan Junsu mulai tertarik untuk mengamati isi kamar itu. Sebuah
kamar yang tidak terlalu besar, dipenuhi tumpukan buku dan kertas tak
beraturan. Jaejoong bukanlah orang yang malas merapikan kamar rupanya. Bisa
dibilang kamarnya cukup rapi. Ada banyak piagam penghargaan dan juga
piala-piala yang menghiasi lemarinya. Ia adalah mahasiswa yang berprestasi.
Namun Junsu selama ini tidak pernah tahu kehidupan pribadinya. Di mana
keluarganya, apakah ia punya pacar, dan siapa teman-temannya.
Pandangannya lalu
tertuju pada foto-foto yang ditaruh di meja belajar dan digantung di dinding
Jaejoong. Bingkai-bingkai foto itu banyak dipenuhi foto Jaejoong dengan
berbagai prestasinya, dengan teman-temannya, dengan keluarganya juga mungkin.
Ia mengambil sebingkai foto yang nampak lawas, foto masa kecil Jaejoong dengan
kedua orang tuanya. Jaejoong mirip sekali dengan ibunya. Lalu ia melihat
foto-foto yang tersisa. Mengapa tak ada lagi foto Jaejoong dengan kedua orang
tuanya setelah ia dewasa?
Junsu tidak mau ambil
pusing mengenai hal itu. Ia lalu melihat-lihat ke lemari buku Jaejoong yang
tidak terlalu besar. Ada sebuah buku yang menarik perhatiannya, karena buku ini
bukan mengenai komputer dan programnya seperti buku yang lain. Melainkan buku
Toksikologi Forensik. Ia tak tahu Jaejoong menyukai bacaan seperti itu. Junsu
pun mengambil buku itu dan mulai membuka-bukanya. Lalu saat ia membalik sebuah
halaman, ia melihat sebuah foto lawas. Seorang pria berkacamata, dengan badan
tegap dan rambut ikal. Jaejoong mencoret bagian leher pria itu dengan sebuah
spidol merah, membentuk sebuah garis horizontal. Junsu menatap lekat pria dalam
foto itu, ia merasa pernah melihatnya. Namun ia tak ingat.
“Sudah selesai
melihat-lihat?” suara Jaejoong membuat Junsu terkejut. Ia menatap Jaejoong yang
berdiri di ambang pintu dengan bungkusan makanan di tangannya.
“Ah, aku hanya penasaran
kenapa kau punya buku seperti ini.” Ucap Junsu, ia segera me-ngembalikan buku
itu ke tempatnya seperti semula.
Jaejoong hanya
mengangguk pelan, lalu ia mulai membuka makanannya, dan mulai makan bersama
Junsu. Namun tidak seperti biasanya, kali ini mereka tidak saling mengobrol
ketika makan bersama. Junsu merasa ada yang berubah dari raut wajah Jaejoong.
“Ehm…” Junsu kemudian
berdehem, membuat Jaejoong melirik padanya. “Kau tahu banyak ya tentang zat
toksik.” Lanjutnya agak menghakimi.
Jaejoong menyadari
kecurigaan Junsu saat ini. “Ayahku meninggal karena keracunan. Jadi aku
tertarik untuk membaca buku mengenai tanda-tanda keracunan pada seseorang. Aku
sempat tidak yakin ia keracunan secara tidak sengaja.”
“Aku turut berduka akan
hal itu,” ucap Junsu. “Tapi maksudmu kau curiga ada yang sengaja meracuni
ayahmu?”
“Begitulah.”
“Jadi itu alasanmu
membunuh orang-orang yang tak bersalah?” Junsu menatap Jaejoong serius, dan
Jaejoong tampak terdiam beberapa saat, tak percaya Junsu akan menanyakan itu.
“Apa maksudmu?” tanya
Jaejoong mencoba menahan amarahnya.
“Kau tahu Jisoo juga
meninggal karena racun. Kau yang terakhir masuk ke kamarnya.”
Jaejoong menatap Junsu dengan
perasaan tak tergambarkan. “Bisa-bisanya kau berpikir begitu. Aku tidak pernah
membunuh siapapun.”
“Kau tahu karena
perbuatanmu itu para polisi itu jadi terus mengawasiku.”
“Kau tidak usah menuduh
orang lain karena kau ingin bersembunyi. Aku tahu semua rencana yang kau buat.
Changmin itu bukan manusia, kan? Dia adalah robot ciptaanmu. Kau pikir aku
sebodoh itu? mungkin kau bisa mengelabui para polisi itu, tapi kau tidak bisa
mengelabuiku.”
Junsu tersentak
mendengarnya. Dia sudah sangat khawatir kalau-kalau Jaejoong akan me-nyadari
bahwa Changmin bukan manusia, dan ternyata ia memang sudah menyadarinya.
“Tujuanku menciptakan
Changmin bukan untuk membunuh orang,” ucap Junsu pelan sekali. Jaejoong tampak
meragukannya.
“Lalu apa? Kenapa kau
merahasiakannya dariku?”
“Ini masalah pribadi,”
Junsu kini melihat wajah Yoomi dalam pikirannya. “Aku hanya ingin dia
kehilangan semuanya. Changmin bisa membuatnya bangkrut dan dia tidak akan
menjadi siapa-siapa lagi.”
“Hanya karena wanita
itu?” nada suara Jaejoong terdengar merendahkan. “Aku baru tahu kau mau
menghabiskan waktumu untuk hal yang tidak berguna.” Jaejoong memandang Junsu
sinis sebelum ia merasakan kepalan tangan Junsu menghantam wajahnya.
***
Hujan pagi ini menemani
perjalanan Yoochun menuju ke rumah Yunho. Tn. Jung lah yang memberitahu bahwa
Yunho sudah pulang dari Rumah Sakit. Ia mengemudi sendiri ke sana untuk
mengajak Yunho mengobrol santai dan membicarakan penculiknya. Semalam ia
mendapat informasi bahwa Yunho sempat bertemu dengan ketiga nama yang ada dalam
daftar calon tersangka, dan Yunho mengatakan akan memasukkannya ke penjara.
Jadi Yoochun akan memperjelas siapa orang yang dimaksud Yunho. Selain itu ia
juga merasa perlu menyelidiki lagi ketiga orang yang ternyata juga mengenal Yunho.
Hanya perlu waktu
sekitar 30 menit bagi Yoochun untuk sampai di rumah Yunho karena jalanan sedang
tidak macet. Saat ia sampai di sana, ia disambut oleh Tn. Jung yang membukakan
gerbang rumah. Mereka memiliki rumah bergaya minimalis yang sepertinya sangat
nyaman. Yoochun sudah diberitahu oleh dokter bahwa keterangan Yunho tidak dapat
sepenuhnya dijadikan acuan karena kondisi mentalnya yang belum pulih total.
“Selamat pagi, Ny.
Jung.” Sapa Yoochun saat Ny. Jung menyambutnya di pintu depan.
“Selamat pagi,” Ny. Jung
tersenyum ramah. “Silakan, Yunho sedang istirahat di dalam.”
Yoochun pun mengikuti
Ny. Jung ke kamar Yunho, sementara Tn. Jung yang baru selesai menutup kembali
pintu gerbang menyusul di belakangnya.
“Yunho, ada yang ingin
bertemu dengamu. Bersikaplah ramah sedikit,” bisik Ny. Jung, lalu ia dan
suaminya keluar dari sana dan membiarkan Yoochun bicara 4 mata dengan Yunho.
Keadaan Yunho saat ini
sudah jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Sepertinya luka-luka yang ada di
tubuhnya sudah hampir sembuh total. Namun memang kondisi kejiwaannya masih
belum sepenuhnya pulih, ia masih menatap Yoochun dengan tatapan penuh curiga.
Sejujurnya Yoochun sangat sedih atas kejadian yang menimpa Yunho. Tragedi
penculikan itu telah membuatnya menjadi orang lain, bahkan ia sepertinya akan
kehilangan pekerjaannya jika kondisi mentalnya tak kunjung sembuh.
“Hai, Yunho,” sapa
Yoochun sambil tersenyum manis. Ia duduk di sebuah sofa di depan tempat tidur
Yunho. “Kau masih ingat aku kan? Teman lamamu. Park Yoochun.”
Namun Yunho tidak
menjawab pertanyaan itu. Ia terlihat sedang mengawasi Yoochun.
“Kau tahu? Orang yang
menculikmu adalah pelaku dari ketiga kasus pembunuhan berantai. Kami sangat
kesulitan untuk mencari buktinya. Kau adalah satu-satunya korban hidup yang mungkin
sudah melihat wajahnya. Jika kau mau memberitahukannya padaku, maka kau bisa
menyelamatkan nyawa orang-orang yang mungkin sedang dalam incarannya. Kita
harus menangkapnya secepat mungkin.” Yoochun menatap Yunho dengan penuh harapan
bahwa ia mau bekerjasama. Namun jawaban Yunho tidak sesuai dengan harapannya.
“Kau tidak usah
pura-pura menjadi detektif sekarang.”
“Baiklah, aku memang
bukan detektif,” pasrah Yoochun. “Kau menganggap aku adalah orang yang akan
mencelakaimu, kan? Apakah kau ingat wajahku saat aku menyekapmu di gudang tua
itu?”
Beberapa saat Yunho
terdiam, ia memicingkan matanya dan mengamati Yoochun dengan sangat hati-hati.
Lalu kemudian ia mengangguk pelan. Betapa leganya Yoochun karena Yunho ternyata
memang masih mengingat wajah si pelaku. Sekarang yang harus dilakukannya
adalah membuat Yunho bisa memberitahunya seperti apa wajah orang itu.
“Aku ingin
memperlihatkanmu sesuatu,” ucap Yoochun sambil bangkit dari kursinya dan
berjalan mendekati Yunho.
“Cukup!” seru Yunho
dengan wajah ketakutan. “Jangan mendekat lagi padaku walau sejengkal.” Ia sudah
bersiap memegang sebuah gunting di tangannya.
“Baik, aku takkan
mendekat lagi.” Yoochun mengangkat tangannya dan mulai mundur setelah ia
meletakkan 3 buah foto di kasur Yunho. “Letakkan guntingnya dan lihatlah foto
itu. Aku berjanji hanya akan duduk di sini.”
Sambil tetap waspada
perlahan Yunho pun mulai meletakkan guntingnya lagi. Ia lalu me-ngambil
foto-foto yang tadi diberikan Yoochun. Itu adalah foto Junsu, Jaejoong, dan
Changmin. Tampaknya Yunho sangat ketakutan melihat foto itu. Tangannya tampak
gemetar dan sepertinya tubuhnya menjadi kaku.
“Coba kau tunjukkan
padaku menurutmu yang mana wajahku yang asli?” tanya Yoochun, ia masih
berpura-pura menjadi seperti yang dipikirkan Yunho. Karena saat ini Yunho masih
meyakini bahwa Yoochun adalah penculiknya yang juga sedang menyamar.
Lalu dengan gemetar
Yunho menunjuk pada salah satu foto. Yoochun pun mendongak untuk melihat foto
itu lebih jelas. Apakah memang dia
pelakunya?
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar