Welcome

Minggu, 10 April 2016

FREGOLI DELUSION (1)


Authors: Dyah Ayu Anggraeni, Entin Kartika Sari dan Diny Setyanti



Seorang pria terlihat sangat serius merumuskan sesuatu. Berbagai peralatan aneh tergeletak secara tak beraturan di salah satu ruangan di rumahnya. Dia menggunakan jas laboratorium dan beberapa ornament lain di tubuhnya. Tak jauh dari tempat duduknya di depan layar monitor, terdapat sebuah kotak kaca seluas 3 x 3 meter. Di dalamnya terdapat sesosok makhluk yang secara kasat mata sama seperti manusia tergeletak di atas tempat tidur khusus dengan banyak kabel dan tudung elektronik menutupi kepalanya.

Beberapa saat setelah berkutat dengan layar monitornya, pria tersebut menekan sebuah tombol merah yang terletak menempel di kotak kaca itu. Secara menakjubkan makhluk  itu membuka matanya dan terduduk di atas tempat tidur. Pria itu masuk ke dalam kotak kaca itu melalui sebuah pintu dengan memasukkan kode rahasia pada tombol di sekitar pintu.

“Perlu 1.160.609 istilah sains untuk dihapal dan 1.997 bahan kimia untuk menciptakanmu.” Kata pria itu sambil mengelilingi tubuh mahkluk yang menyerupai manusia yang berada tepat dihadapannya. “Semoga kau bisa membalaskan dendamku padanya. Akhirnya aku berhasil menciptakan robot sepertimu. Kau bisa melakukan hal apapun sama seperti manusia hanya saja kau tak bisa merasakan apapun. Mungkin kau bisa lebih cerdas dari manusia. Aku sudah memprogram banyak hal dalam chip di kepalamu. Sensor yang kau gunakan tak hanya cahaya, tapi suara, getar, struktur, dan tekstur.”

Pria itu tersenyum puas “Namaku Kim Junsu. Kau adalah humanoid yang kuciptakan”

“Iya, Tuan.” Humanoid itu menjawab.

“Kenalkan dirimu pada orang lain sebagai Shim Changmin.”

“Baik, Tuan.”

***

“Hey, kau sudah tau?” seorang pemuda berlarian mengejar temannya. Mendengar pertanyaan itu, orang tersebut berhenti dan menengok ke belakang.

“Apa?” Laki-laki itu balik bertanya. Wajahnya tampan tapi terkesan dingin, namun dari gerak-geriknya terlihat bahwa laki-laki itu seorang yang terpelajar dan jenius. Dengan kacamata ber-frame hitam, blazer biru tua yang terkancing rapi dan celana panjang, ransel hitam dan beberapa lembar kertas ditangannya  menambah pesona yang terpancar darinya.

“Kau menjadi yang pertama lagi. Namamu terpampang jelas di papan pengumuman ujian kemarin. Selamat ya! Ku rasa kau harus mentraktirku lagi.”

“Baiklah, besok akan kutraktir.” Laki-laki itu menjawab dengan singkat dan berlalu begitu saja.

“Huh, dia memang tidak pernah berubah. Sikapnya terus saja begitu. Ckckck.”

Laki-laki pintar itu adalah Kim Jaejoong. Seorang pemuda tampan berkulit putih yang terkenal jenius. Ia adalah seorang mahasiswa di KAIST (Korea Advace Institute of Science and Technology), Daejeon. Tak banyak orang yang tahu tentang kehidupan pribadinya. Meskipun ia adalah mahasiswa yang cerdas, tak banyak orang yang mau berteman dengannya. Kehidupannya yang terkesan tertutup membuat beberapa orang menganggapnya aneh. Hanya Jihoon, yang telah berteman dengannya sejak kecil yang begitu peduli kepada Jaejoong.

***

Seorang wanita berdiri didepan sebuah perusahaan besar bertuliskan JH Corp.  Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan.

Tangannya memeluk sebuah karangan bunga. Hampir setiap 5 menit sekali ia melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Senyumnya mengembang ketika melihat sosok yang sedari tadi dinantinya memasuki lobby utama perusahaan. 

“Sayang, Selamat atas kemenanganmu. Aku yakin kau pasti memenangkan tender itu.” Serunya sambil menyerahkan karangan bunga tersebut dan memeluknya.

Pria itu tertawa kecil, membalas pelukan hangat dari wanita itu, “Tentu saja aku menang. Seorang Jung Yunho tidak akan kalah dalam tender.”

“Kau selalu menyombongkan dirimu.” Ujar wanita itu. “Di mana lokasi pembangunan apartement yang kau rancang?”

“Busan.”

“Ah, Busan. Bukankah akhir-akhir ini di sana terjadi kasus pembunuhan ya?” kata wanita itu, “Media heboh sekali memberitakannya, karena dalam kasus itu tidak diketahui siapa pelakunya bahkan dikatakan korban dipilih secara acak. Kuharap kau lebih berhati-hati.”

“Yoomi, tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi di kemudian hari.” Yunho meraih bahu Yoomi, yang merupakan tunangannya.

Ponselnya bergetar, menandakan ada e-mail masuk. Yunho meraih ponselnya dan membaca yang tertulis pada layar.

“Ah! Hari ini aku ada rapat dengan Kontraktor saat makan siang.” Gumamnya pelan. Matanya beralih menatap Yoomi, “Sayang, maaf aku tidak bisa menemanimu makan siang hari ini. Nanti aku akan menjemputmu jam 7 malam, kita akan makan malam dengan orang tuaku. Sampai jumpa nanti malam.” Kata Yunho sambil mengecup pelan pipi Yoomi dan berjalan meninggalkan Yoomi di lobby utama.

***

Seorang detektif menghempaskan tubuhnya dengan kasar di sofa di ruangan kerjanya. Terdengar tarikan nafas yang berat. Dia memejamkan matanya sejenak. Mengingat kembali kejadian tempo hari yang membuatnya hampir gila. Saat terdengar suara pintu terbuka, dia mengubah posisinya menjadi duduk.

“Detektif Park, saya telah membawakan semua berkas yang anda minta.” Kata Khyuyun, yang merupakan juniornya, sambil meletakkan setumpuk kertas di atas meja. “Beberapa file sudah saya kirim melalui e-mail.”

Seseorang yang dipanggil Detektif Park itu segera mengambil sejumlah kertas yang berada paling atas. “Bagaimana hasil autopsinya?”

“Korban adalah Song Jisoo, umur 24 tahun, mahasiswa dari Korea University dan merupakan siswa terpandai di bidang teknologi robot. Penyebab kematiannya akibat keracunan. Tidak ada tanda-tanda penyiksaan secara fisik.” Jelas Yoona yang merupakan anggota detektif yang dipimpin oleh Park Yoochun.

“Lalu bagaimana dengan perkiraan waktu kematian korban?” tanya Yoochun

“Diperkirakan kematiannya sekitar pukul 10 malam,” kata Yoona sambil melihat tumpukan kertas yang berisi informasi hasil otopsi. “Di lokasi kejadian tidak ditemukan racun yang diduga digunakan oleh korban. Selain itu tidak ditemukan sidik jari selain sidik jari milik korban.”

“Dan tidak ada barang bukti yang dapat memberi petunjuk tentang adanya tersangka pada kasus ini.” Tambah Kyuhyun.

“Dari hasil interogasi yang kami lakukan pada pemilik rumah, Ny. Kim mengatakan bahwa Song Jisoo sudah 3 hari ini jarang keluar rumah. Sepertinya dia sedang mengalami depresi akibat ujian akhir yang akan dilaksanakan dalam waktu 2 minggu lagi.” Kata Yoona

“Kudengar ujian di universitas itu seperti menulis surat wasiat yang dijaga oleh dewa kematian. Sangat sulit. Aku bisa memaklumi jika banyak mahasiswa yang depresi. Apalagi mempertahankan nilai di sana sangat sulit.” Kata Kyuhyun. “Korban merupakan salah satu mahasiswa terbaik di jurusannya. Mungkin hal itu membuatnya depresi, untuk mempertahankan peringkatnya.”

Yoochun tampak berpikir. “Kau benar. Ini bisa jadi kasus bunuh diri, tapi tidak menutup kemungkinan juga kasus ini berubah menjadi kasus pembunuhan. Lebih baik kita mencari bukti-bukti yang memiliki hubungan dalam kasus ini.”

Dia mengambil selembar foto. Foto itu menampilkan korban dengan mulut yang ternganga, wajah yang pucat dan bibir membiru. Selain itu, kebiruan juga tampak di bagian ekstremitas.

“Apakah ada kesamaan kasus ini dengan kasus yang kita tangani tempo hari?” tanya Yoochun.

“Kami belum menemukan hal yang menghubungkan kedua kasus ini.” Kata Yoona ragu-ragu. “Kecuali-”

“Kecuali keduanya adalah sama-sama murid pintar yang meninggal akibat racun.” Yoochun menjawab pertanyaannya sendiri. Dan diikuti anggukan setuju oleh Yoona dan Kyuhyun.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar