Authors: Dyah Ayu Anggraeni, Entin Kartika Sari dan Diny Setyanti
Seorang pria
terlihat sangat serius merumuskan sesuatu. Berbagai peralatan aneh tergeletak
secara tak beraturan di salah satu ruangan di rumahnya. Dia menggunakan jas
laboratorium dan beberapa ornament lain di tubuhnya. Tak jauh dari tempat
duduknya di depan layar monitor, terdapat sebuah kotak kaca seluas 3 x 3 meter.
Di dalamnya terdapat sesosok makhluk yang secara kasat mata sama seperti
manusia tergeletak di atas tempat tidur khusus dengan banyak kabel dan tudung
elektronik menutupi kepalanya.
Beberapa saat
setelah berkutat dengan layar monitornya, pria tersebut menekan sebuah tombol merah yang
terletak menempel di kotak kaca itu. Secara menakjubkan makhluk itu membuka matanya dan terduduk di atas
tempat tidur. Pria itu masuk ke dalam kotak kaca itu melalui sebuah pintu
dengan memasukkan kode rahasia pada tombol di sekitar pintu.
“Perlu 1.160.609
istilah sains untuk dihapal dan 1.997 bahan kimia untuk menciptakanmu.” Kata
pria itu sambil mengelilingi tubuh mahkluk yang menyerupai manusia yang berada
tepat dihadapannya. “Semoga kau bisa membalaskan dendamku padanya. Akhirnya aku
berhasil menciptakan robot sepertimu. Kau bisa melakukan hal apapun sama
seperti manusia hanya saja kau tak bisa merasakan apapun. Mungkin kau bisa
lebih cerdas dari manusia. Aku sudah memprogram banyak hal dalam chip di
kepalamu. Sensor yang kau gunakan tak hanya cahaya, tapi suara, getar,
struktur, dan tekstur.”
Pria itu
tersenyum puas “Namaku Kim Junsu. Kau adalah humanoid yang kuciptakan”
“Iya, Tuan.” Humanoid itu menjawab.
“Kenalkan dirimu
pada orang lain sebagai Shim Changmin.”
“Baik, Tuan.”
***
“Hey, kau sudah
tau?” seorang pemuda berlarian mengejar temannya. Mendengar pertanyaan itu,
orang tersebut berhenti dan menengok ke belakang.
“Apa?” Laki-laki
itu balik bertanya. Wajahnya tampan tapi terkesan dingin, namun dari
gerak-geriknya terlihat bahwa laki-laki itu seorang yang terpelajar dan jenius.
Dengan kacamata ber-frame hitam, blazer biru tua yang terkancing rapi dan
celana panjang, ransel hitam dan beberapa lembar kertas ditangannya menambah pesona yang terpancar darinya.
“Kau menjadi
yang pertama lagi. Namamu terpampang jelas di papan pengumuman ujian kemarin.
Selamat ya! Ku rasa kau harus mentraktirku lagi.”
“Baiklah,
besok akan kutraktir.” Laki-laki itu menjawab dengan singkat dan berlalu
begitu saja.
“Huh, dia memang
tidak pernah berubah. Sikapnya terus saja begitu. Ckckck.”
Laki-laki pintar
itu adalah Kim Jaejoong. Seorang pemuda tampan berkulit putih yang terkenal
jenius. Ia adalah seorang mahasiswa di KAIST (Korea Advace Institute of Science and Technology), Daejeon. Tak
banyak orang yang tahu tentang kehidupan pribadinya. Meskipun ia adalah
mahasiswa yang cerdas, tak banyak orang yang mau berteman dengannya.
Kehidupannya yang terkesan tertutup membuat beberapa orang menganggapnya aneh.
Hanya Jihoon, yang telah berteman dengannya sejak kecil yang begitu peduli
kepada Jaejoong.
***
Seorang wanita
berdiri didepan sebuah perusahaan besar bertuliskan JH Corp. Sebuah perusahaan
yang bergerak di bidang
pembangunan.
Tangannya
memeluk sebuah karangan bunga. Hampir setiap 5 menit sekali ia melirik jam
tangan yang melingkar di tangannya. Senyumnya mengembang ketika melihat sosok
yang sedari tadi dinantinya memasuki lobby utama perusahaan.
“Sayang, Selamat
atas kemenanganmu. Aku yakin kau pasti memenangkan tender itu.” Serunya sambil
menyerahkan karangan bunga tersebut dan memeluknya.
Pria itu tertawa
kecil, membalas pelukan hangat dari wanita itu, “Tentu saja aku menang. Seorang
Jung Yunho tidak akan kalah dalam tender.”
“Kau selalu
menyombongkan dirimu.” Ujar wanita itu. “Di mana lokasi pembangunan
apartement yang kau rancang?”
“Busan.”
“Ah, Busan.
Bukankah akhir-akhir ini di
sana
terjadi kasus pembunuhan ya?” kata wanita itu, “Media heboh sekali memberitakannya,
karena dalam kasus itu tidak diketahui siapa pelakunya bahkan dikatakan korban
dipilih secara acak. Kuharap kau lebih berhati-hati.”
“Yoomi, tidak akan ada hal buruk yang akan
terjadi di kemudian
hari.” Yunho meraih bahu Yoomi, yang merupakan tunangannya.
Ponselnya
bergetar, menandakan ada e-mail
masuk. Yunho meraih ponselnya dan membaca yang tertulis pada layar.
“Ah! Hari ini
aku ada rapat dengan Kontraktor saat makan siang.” Gumamnya pelan. Matanya
beralih menatap Yoomi, “Sayang, maaf aku tidak bisa menemanimu makan siang hari
ini. Nanti aku akan menjemputmu jam 7 malam, kita akan makan malam dengan orang
tuaku. Sampai jumpa nanti malam.” Kata Yunho sambil mengecup pelan pipi Yoomi
dan berjalan meninggalkan Yoomi di lobby utama.
***
Seorang detektif
menghempaskan tubuhnya dengan kasar di sofa di ruangan kerjanya. Terdengar
tarikan nafas yang berat. Dia memejamkan matanya sejenak. Mengingat kembali
kejadian tempo hari yang membuatnya hampir gila. Saat terdengar suara pintu
terbuka, dia mengubah posisinya menjadi duduk.
“Detektif Park,
saya telah membawakan semua berkas yang anda minta.” Kata Khyuyun, yang
merupakan juniornya, sambil meletakkan setumpuk kertas di atas meja. “Beberapa
file sudah saya kirim melalui e-mail.”
Seseorang yang dipanggil
Detektif Park itu segera mengambil sejumlah kertas yang berada paling atas. “Bagaimana
hasil autopsinya?”
“Korban adalah Song
Jisoo, umur 24 tahun, mahasiswa dari Korea
University dan merupakan siswa terpandai di bidang teknologi robot.
Penyebab kematiannya akibat keracunan. Tidak ada tanda-tanda penyiksaan secara
fisik.” Jelas Yoona yang merupakan anggota detektif yang dipimpin oleh Park
Yoochun.
“Lalu
bagaimana dengan perkiraan waktu kematian korban?” tanya Yoochun
“Diperkirakan
kematiannya sekitar pukul 10 malam,” kata Yoona sambil melihat tumpukan kertas
yang berisi informasi hasil otopsi. “Di lokasi kejadian tidak ditemukan racun
yang diduga digunakan oleh korban. Selain itu tidak ditemukan sidik jari selain
sidik jari milik korban.”
“Dan
tidak ada barang bukti yang dapat memberi petunjuk tentang adanya tersangka
pada kasus ini.” Tambah Kyuhyun.
“Dari
hasil interogasi yang kami lakukan pada pemilik rumah, Ny. Kim mengatakan bahwa
Song Jisoo sudah 3 hari ini jarang keluar rumah. Sepertinya dia sedang
mengalami depresi akibat ujian akhir yang akan dilaksanakan dalam waktu 2
minggu lagi.” Kata Yoona
“Kudengar
ujian di universitas itu seperti menulis surat wasiat yang dijaga oleh dewa
kematian. Sangat sulit. Aku bisa memaklumi jika banyak mahasiswa yang depresi.
Apalagi mempertahankan nilai di
sana
sangat sulit.” Kata Kyuhyun. “Korban merupakan salah satu mahasiswa terbaik di
jurusannya. Mungkin hal itu membuatnya depresi, untuk mempertahankan peringkatnya.”
Yoochun tampak
berpikir. “Kau benar. Ini bisa jadi kasus bunuh diri, tapi tidak menutup
kemungkinan juga kasus ini berubah menjadi kasus pembunuhan. Lebih baik kita
mencari bukti-bukti yang memiliki hubungan dalam kasus ini.”
Dia mengambil
selembar foto. Foto itu menampilkan korban dengan mulut yang ternganga, wajah yang pucat dan
bibir membiru. Selain itu, kebiruan
juga tampak di bagian ekstremitas.
“Apakah ada
kesamaan kasus ini dengan kasus yang kita tangani tempo hari?” tanya Yoochun.
“Kami belum
menemukan hal yang menghubungkan kedua kasus ini.” Kata Yoona ragu-ragu. “Kecuali-”
“Kecuali
keduanya adalah sama-sama murid pintar yang meninggal akibat racun.” Yoochun
menjawab pertanyaannya sendiri. Dan diikuti anggukan setuju oleh Yoona dan
Kyuhyun.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar