Welcome

Senin, 11 April 2016

FREGOLI DELUSION (8)



“Kudengar ada laporan masuk mengenai orang hilang?” tanya Kyuhyun sambil menfotokopi laporan data diri dari Kim Junsu dan Kim Jaejoong yang akan diserahkannya kepada Detektif Park. “Tim kalian yang menanganinya?”

“Ya.” Jawab detektif muda bernama Kim Taehyung itu. “Kami masih menulis kronologi kejadian dan meminta keterangan beberapa saksi.”

“Termasuk Detektif Park?”

“Ya. Dia salah satu yang bersama dengan Jung Yunho sebelum pria itu menghilang.”

“Apakah ada dugaan penculikan atau sejenisnya?”

“Kami belum menyimpulkan sejauh itu. Kau tau bahwa orang dinyatakan hilang jika sudah 1x24 jam. Jadi pihak kepolisian belum mengeluarkan DPO (Daftar Pencarian Orang).”

“Hey! Detektif Kim!” teriak Jungkook dari luar ruangan. “Orang yang kau tunggu sudah datang.”

Kim Taehyung segera mengambil kertas yang dibutuhkan dan undur diri dari hadapan seniornya itu.

Dalam kepolisian terdapat beberapa tim detektif yang berbeda. Tim yang dipimpim oleh Park Yoochun saat ini sedang menangani kasus pembunuhan dengan racun. Biasanya kasus orang hilang tak akan sampai di selidiki oleh tim detektif. Tetapi jika orang yang hilang itu adalah orang yang penting, maka akan menjadi perkara lain.

Laporan mengenai Jung Yunho yang hilang baru masuk sekitar 1 jam yang lalu. Jika sampai pukul 6 malam nanti orang yang dilaporkan hilang belum juga ditemukan. Maka pihak kepolisian akan melakukan pencarian. Kebijakan seperti ini seharusnya ditinjau lagi. Karena dalam waktu 24 jam orang hilang tersebut bisa saja mengalami kejadian buruk ataupun tidak terjadi apa-apa.

“Saya Kim Taehyung, yang akan meminta keterangan anda.” Taehyung memperkenalkan diri setelah bertemu. “Mohon kerjasamanya.”

Orang yang telah ditunggu oleh Taehyung adalah Shim Changmin. Ia diketahui sebagai orang terakhir yang bertemu dengan Yunho sebelum dinyatakan menghilang.

“Shim Changmin.” Ucap pria itu sambil membungkuk hormat. Taehyung mempersilahkan Changmin untuk duduk dan Changmin melakukannya.

“Kapan anda terakhir kali melihat Jung Yunho?”

“Sekitar pukul 17.30.” Jawab Changmin, “Kami membahas masalah proyek sekitar 1 jam.”

Taehyung mengangguk-angguk paham, tangannya sibuk menulis sesuatu pada kertas. “Apakah ada yang mencurigakan darinya pada saat itu?”

“Tidak ada. Kecuali dia terlihat sedikit kesal dan lelah.”

“Apa alasanmu mengajaknya bertemu? Bukankah kalian bisa membahasnya pada saat jam kerja?”

“Karena ada hal mendesak yang perlu dibahas dan segera diatasi. Terutama ini mengenai masalah izin pembangunan yanng tersendat. Jika ditunda lebih lama lagi seluruh proyek akan mengalami kerugian.”

“Di mana kau melihatnya terakhir kali?”

“Di dalam lift. Saya turun di lantai satu dan dia di lantai dasar.”

Jungkook yang merupakan asisten Taehyung mengkonfirmasikan bahwa itu adalah benar.

“Apakah kau tak melihatnya lagi setelah itu?” tanya Taehyung

“Tidak.”

“Apakah kau tau siapa yang mempunyai dendam padanya?”

“Error. Pertanyaan tidak dapat dijawab,” jawabnya pelan. Changmin memang robot yang berbentuk seperti manusia tetapi pada dasarnya dia bukanlah manusia yang bisa berpikir. Semua jawaban yang Changmin berikan adalah yang pernah dia alami. Dia tidak bisa berbohong tapi dia bisa merekayasa apa yang dia katakan dengan menyembunyikan beberapa fakta.

“Maaf?” kata Taehyung.

Changmin segera meralat jawabannya. “Aku tidak tahu.”

Taehyung melirik kertas yang kini berada ditangannya.

08.00-14.00 : Jung Yunho berada di rumah.
14.00-15.00 : Bertemu dengan Park Yoochun dan Lim Yoona.
17.30-18.30 : Bertemu dengan Shim Changmin. Pada saat yang sama Detektif Park meminta keterangan saksi dari orang yang bernama Kim Junsu

Kemungkinan kejadian hilangnya Jung Yunho yaitu setelah pukul 18.30. Jung Yunho terekam kamera cctv  yang berada dalam lift pada pukul 18.28. Pada kamera cctv yang berada di parkiran tidak telihat Jung Yunho karena ada sebuah mobil barang besar yang menghalangi, setelah itu mobil milik Yunho terlihat keluar dari area tempat pertemuan.

Taehyung telah melihat seluruh kamera pengawas yang berada di jalan dan diketahui bahwa mobil tersebut melintasi sisi kota dan tak ada kamera pengawas pada daerah itu.

“Detektif Kim ada yang mau kulaporkan.” Kata Jungkook menyela, “Ada laporan masuk yang mengatakan bahwa dia mendengar pertengkaran pada ruang pertemuan yang ditempati oleh Jung Yunho dan Shim Changmin, selain itu ditempat mobil Jung Yunho diparkirkan ditemukan kartu nama Shim Changmin.”

Taehyung menatap tajam Changmin seolah-olah meminta penjelasan.

“Dia memarahiku karena tidak melakukan pekerjaan dengan benar.” Kata Changmin. “Kartu nama itu aku berikan padanya saat bertemu. Aku tidak tahu jika dia membuang kartu namaku.”

“Itu cukup kuat untuk dijadikan motif. Kalian sepertinya kurang akur sebagai rekan kerja.”

***

Yunho memejamkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan pandangan matanya. Bau pengap langsung menyeruak menusuk hidung. Dia berada disebuah gudang tua.

“Sudah bangun.” Ucap seseorang yang lebih tepat disebut bisikan.

Kesadaran Yunho belum sepenuhnya pulih. Kepalanya masih terasa berputar dan badannya terasa sakit. Ia merasakan tangan dan kakinya diikat dengan kuat pada kursi yang didudukinya.

Dia mencoba membuka mulutnya tetapi tidak ada kata yang keluar. Sudah berapa lama aku  tak sadarkan diri?

“Tenang saja kau tak akan mati dengan cara seperti ini,” lanjut pria itu.

“Apa yang kau inginkan?” kata Yunho setelah kesadarannya kembali.

“Aku tak yakin kau bisa memenuhi apa yang aku inginkan.”

Yunho menatap sosok yang kini berada di hadapannya. Ia tidak mengenalinya, mungkin karena pria itu masih mengenakan masker dan topi.

Pria itu berjalan sambil menarik kursi mendekati Yunho. Pikiran Yunho semakin kalut, dia tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Mungkin dia sudah harus menyiapkan skenario terburuk yaitu kematiannya. Pria itu melipat dan meletakkan tangannya pada sandaran kursi –kursinya dibalik– menghadap Yunho.

“Hadiah.” Katanya pelan sambil memperlihatkan selembar foto. Yunho terdiam, dia mengetahui dengan pasti apa yang ada dalam foto tersebut. Itu adalah foto keluarganya dan juga Yoomi sekitar sebulan yang lalu pada saat keluarga mereka berlibur di Pulau Jeju, merayakan peringatan pernikahan kedua orang tuanya yang ke-16.

“Apa yang akan kau lakukan pada mereka?” desis Yunho.

“Tak ada. Aku hanya ingin mengambil semua yang telah kau rebut dariku.” Kata pria itu lagi sambil meremas foto tersebut dan melemparkannya ke arah Yunho.

“Memang apa yang telah aku rebut darimu?!” teriak Yunho, ia telah kehilangan kesabarannya kali ini. “Aku bahkan tidak mengenalmu.”

“Kau memang tidak mengenalku.” Pria itu tersenyum getir, “Karena keberadaanku telah dihapus oleh seseorang.”

“Jika kau membenciku. Jangan pernah libatkan keluargaku dalam hal ini.” ancam Yunho.

“Aku tidak bisa menjamin hal itu.”

“Aku akan membunuhmu jika kau menyentuh mereka barang seujung rambut.”

Pria itu menarik rambut Yunho membuatnya menengadahkan kepalanya. “Kau bukan di posisi untuk memilih.” Ancamnya sambil mengeluarkan ponsel. Setelah itu hanya teriakan seorang gadis yang terdengar. Yunho menyadari bahwa itu adalah suara Jihae. Dia tidak bisa membayangkan apa yang telah pria itu lakukan hingga mampu membuat Jihae berteriak seperti itu.

Pikiran Yunho mulai kacau, otaknya menolak untuk menerima apa yang baru saja dia dengarkan. Semakin ia berusaha untuk menolak bahwa itu suara Jihae maka semakin sering juga wajah Jihae terlintas dalam pikirannya.. “Hentikan! Aku akan membunuhmu!” Yunho berteriak frustasi

“Akan kunantikan.” Pria itu meninggalkan Yunho setelah mematikan rekaman suara itu.

“YA!” teriak Yunho berusaha lepas dari ikatan yang membelenggunya. “Kau tidak lebih dari seorang pengecut yang menyembunyikan diri dibalik masker!”

Diraihnya sebuah kayu seukuran tongkat bisbol, pria itu membalikkan badannya dan berjalan cepat.
Deg. Rasa sakit dirasakan Yunho pada kepalanya disertai cairan hangat yang mengalir melewati wajahnya. Pukulan itu tidak cukup kuat untuk membuatnya kehilangan kesadaran tapi cukup untuk membuatnya kepalanya sakit seperti terbelah. Ia meringis kesakitan.

“Kuharap kau tidak menyulut emosiku.” Pria itu memberi peringatan sambil melepas masker dan topi yang dia kenakan.

Kini Yunho menatap wajah orang yang telah menculiknya.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar