“Kudengar ada
laporan masuk mengenai orang hilang?” tanya Kyuhyun sambil menfotokopi laporan
data diri dari Kim Junsu dan Kim Jaejoong yang akan diserahkannya kepada
Detektif Park. “Tim kalian yang menanganinya?”
“Ya.” Jawab
detektif muda bernama Kim Taehyung itu. “Kami masih menulis kronologi kejadian
dan meminta keterangan beberapa saksi.”
“Termasuk Detektif
Park?”
“Ya. Dia salah
satu yang bersama dengan Jung Yunho sebelum pria itu menghilang.”
“Apakah ada dugaan
penculikan atau sejenisnya?”
“Kami belum
menyimpulkan sejauh itu. Kau tau bahwa orang dinyatakan hilang jika sudah 1x24
jam. Jadi pihak kepolisian belum mengeluarkan DPO (Daftar Pencarian Orang).”
“Hey! Detektif
Kim!” teriak Jungkook dari luar ruangan. “Orang yang kau tunggu sudah datang.”
Kim Taehyung segera mengambil kertas yang dibutuhkan dan undur diri dari hadapan seniornya itu.
Dalam kepolisian terdapat beberapa tim detektif yang berbeda. Tim yang dipimpim oleh Park Yoochun saat ini sedang menangani kasus pembunuhan dengan racun. Biasanya kasus orang hilang tak akan sampai di selidiki oleh tim detektif. Tetapi jika orang yang hilang itu adalah orang yang penting, maka akan menjadi perkara lain.
Laporan mengenai
Jung Yunho yang hilang baru masuk sekitar 1 jam yang lalu. Jika sampai pukul 6
malam nanti orang yang dilaporkan hilang belum juga ditemukan. Maka pihak
kepolisian akan melakukan pencarian. Kebijakan seperti ini seharusnya ditinjau
lagi. Karena dalam waktu 24 jam orang hilang tersebut bisa saja mengalami
kejadian buruk ataupun tidak terjadi apa-apa.
“Saya Kim
Taehyung, yang akan meminta keterangan anda.” Taehyung memperkenalkan diri
setelah bertemu. “Mohon kerjasamanya.”
Orang yang telah
ditunggu oleh Taehyung adalah Shim Changmin. Ia diketahui sebagai orang
terakhir yang bertemu dengan Yunho sebelum dinyatakan menghilang.
“Shim Changmin.”
Ucap pria itu sambil membungkuk hormat. Taehyung mempersilahkan Changmin untuk
duduk dan Changmin melakukannya.
“Kapan anda
terakhir kali melihat Jung Yunho?”
“Sekitar pukul 17.30.”
Jawab Changmin, “Kami membahas masalah proyek sekitar 1 jam.”
Taehyung mengangguk-angguk
paham, tangannya sibuk menulis sesuatu pada kertas. “Apakah ada yang
mencurigakan darinya pada saat itu?”
“Tidak ada.
Kecuali dia terlihat sedikit kesal dan lelah.”
“Apa alasanmu
mengajaknya bertemu? Bukankah kalian bisa membahasnya pada saat jam kerja?”
“Karena ada hal
mendesak yang perlu dibahas dan segera diatasi. Terutama ini mengenai masalah
izin pembangunan yanng tersendat. Jika ditunda lebih lama lagi seluruh proyek
akan mengalami kerugian.”
“Di mana kau melihatnya
terakhir kali?”
“Di dalam lift. Saya turun di
lantai satu dan dia di lantai dasar.”
Jungkook yang
merupakan asisten Taehyung mengkonfirmasikan bahwa itu adalah benar.
“Apakah kau tak
melihatnya lagi setelah itu?” tanya Taehyung
“Tidak.”
“Apakah kau tau
siapa yang mempunyai dendam padanya?”
“Error. Pertanyaan tidak dapat dijawab,” jawabnya pelan.
Changmin memang robot yang berbentuk seperti manusia tetapi pada dasarnya dia
bukanlah manusia yang bisa berpikir. Semua jawaban yang Changmin berikan adalah
yang pernah dia alami. Dia tidak bisa berbohong tapi dia bisa merekayasa apa
yang dia katakan dengan menyembunyikan beberapa fakta.
“Maaf?” kata
Taehyung.
Changmin segera
meralat jawabannya. “Aku tidak tahu.”
Taehyung melirik
kertas yang kini berada ditangannya.
08.00-14.00 : Jung Yunho
berada di rumah.
14.00-15.00 : Bertemu dengan
Park Yoochun dan Lim Yoona.
17.30-18.30 :
Bertemu dengan Shim Changmin. Pada saat yang sama Detektif Park meminta
keterangan saksi dari orang yang bernama Kim Junsu
Kemungkinan
kejadian hilangnya Jung Yunho yaitu setelah pukul 18.30. Jung Yunho terekam
kamera cctv yang berada dalam lift pada
pukul 18.28. Pada kamera cctv yang berada di parkiran tidak telihat Jung Yunho
karena ada sebuah mobil barang besar yang menghalangi, setelah itu mobil milik
Yunho terlihat keluar dari area tempat pertemuan.
Taehyung telah
melihat seluruh kamera pengawas yang berada di jalan dan diketahui bahwa mobil
tersebut melintasi sisi kota dan tak ada kamera pengawas pada daerah itu.
“Detektif Kim ada
yang mau kulaporkan.” Kata Jungkook menyela, “Ada laporan masuk yang mengatakan
bahwa dia mendengar pertengkaran pada ruang pertemuan yang ditempati oleh Jung
Yunho dan Shim Changmin,
selain itu ditempat mobil Jung Yunho diparkirkan ditemukan kartu nama Shim
Changmin.”
Taehyung menatap
tajam Changmin seolah-olah meminta penjelasan.
“Dia memarahiku
karena tidak melakukan pekerjaan dengan benar.” Kata Changmin. “Kartu nama itu
aku berikan padanya saat bertemu. Aku tidak tahu jika dia membuang kartu
namaku.”
“Itu cukup kuat
untuk dijadikan motif. Kalian sepertinya kurang akur sebagai rekan kerja.”
***
Yunho memejamkan
matanya beberapa kali untuk menyesuaikan pandangan matanya. Bau pengap langsung
menyeruak menusuk hidung. Dia berada disebuah gudang tua.
“Sudah bangun.” Ucap
seseorang yang lebih tepat disebut bisikan.
Kesadaran Yunho
belum sepenuhnya pulih. Kepalanya masih terasa berputar dan badannya terasa
sakit. Ia merasakan tangan dan kakinya diikat dengan kuat pada kursi yang
didudukinya.
Dia mencoba
membuka mulutnya tetapi tidak ada kata yang keluar. Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?
“Tenang saja kau
tak akan mati dengan cara seperti ini,” lanjut pria itu.
“Apa yang kau
inginkan?” kata Yunho setelah kesadarannya kembali.
“Aku tak yakin kau
bisa memenuhi apa yang aku inginkan.”
Yunho menatap
sosok yang kini berada di hadapannya.
Ia tidak mengenalinya, mungkin karena pria itu masih mengenakan masker dan
topi.
Pria itu berjalan
sambil menarik kursi mendekati Yunho. Pikiran Yunho semakin kalut, dia tidak
sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Mungkin dia sudah harus
menyiapkan skenario terburuk yaitu kematiannya. Pria itu melipat dan meletakkan
tangannya pada sandaran kursi –kursinya dibalik– menghadap Yunho.
“Hadiah.” Katanya
pelan sambil memperlihatkan selembar foto. Yunho terdiam, dia mengetahui dengan
pasti apa yang ada dalam foto tersebut. Itu adalah foto keluarganya dan juga Yoomi sekitar sebulan
yang lalu pada saat keluarga mereka berlibur di Pulau Jeju, merayakan
peringatan pernikahan kedua orang tuanya yang ke-16.
“Apa yang akan kau
lakukan pada mereka?” desis Yunho.
“Tak ada. Aku
hanya ingin mengambil semua yang telah kau rebut dariku.” Kata pria itu lagi
sambil meremas foto tersebut dan melemparkannya ke arah Yunho.
“Memang apa yang
telah aku rebut darimu?!” teriak Yunho, ia telah kehilangan kesabarannya kali
ini. “Aku bahkan tidak mengenalmu.”
“Kau memang tidak
mengenalku.” Pria itu tersenyum getir, “Karena keberadaanku telah dihapus oleh
seseorang.”
“Jika kau
membenciku. Jangan pernah libatkan keluargaku dalam hal ini.” ancam Yunho.
“Aku tidak bisa
menjamin hal itu.”
“Aku akan
membunuhmu jika kau menyentuh mereka barang seujung rambut.”
Pria itu menarik
rambut Yunho membuatnya menengadahkan kepalanya. “Kau bukan di posisi untuk memilih.”
Ancamnya sambil mengeluarkan ponsel. Setelah itu hanya teriakan seorang gadis
yang terdengar. Yunho menyadari bahwa itu adalah suara Jihae. Dia tidak bisa
membayangkan apa yang telah pria itu lakukan hingga mampu membuat Jihae
berteriak seperti itu.
Pikiran Yunho
mulai kacau, otaknya menolak untuk menerima apa yang baru saja dia dengarkan.
Semakin ia berusaha untuk menolak bahwa itu suara Jihae maka semakin sering
juga wajah Jihae terlintas dalam pikirannya.. “Hentikan! Aku akan membunuhmu!”
Yunho berteriak frustasi
“Akan kunantikan.”
Pria itu meninggalkan Yunho setelah mematikan rekaman suara itu.
“YA!” teriak Yunho
berusaha lepas dari ikatan yang membelenggunya. “Kau tidak lebih dari seorang
pengecut yang menyembunyikan diri dibalik masker!”
Diraihnya sebuah
kayu seukuran tongkat bisbol, pria itu membalikkan badannya dan berjalan cepat.
Deg. Rasa sakit
dirasakan Yunho pada kepalanya disertai cairan hangat yang mengalir melewati
wajahnya. Pukulan itu tidak cukup kuat untuk membuatnya kehilangan kesadaran
tapi cukup untuk membuatnya kepalanya
sakit seperti terbelah. Ia meringis kesakitan.
“Kuharap kau tidak
menyulut emosiku.” Pria itu memberi peringatan sambil melepas masker dan topi
yang dia kenakan.
Kini Yunho menatap
wajah orang yang telah menculiknya.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar