Jaejoong melangkah
memasuki rumah Junsu,
dengan iseng ia mencoba membuka pintunya. Tidak terkunci. ‘Jarang sekali Junsu tidak mengunci pintu rumahnya.’ Terdengar
suara-suara besi yang bersentuhan dari Labnya. Apa yang sedang Junsu lakukan di
lab pribadinya. ‘Apa yang sedang dia
buat? Aku akan mengintip sebentar saja.’
Jaejoong berjalan
dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara yang membuatnya dicurigai.
Kini ia sudah
berada di depan pintu lab milik Junsu, tak seperti lab kebanyakan, Lab junsu
sangat sederhana tetapi peralatan yang berada di dalamnya sangat banyak
dan lengkap. Jaejoong saja baru sekali memasuki lab tersebut itupun tanpa
pengetahuan si pemilik lab.
‘Dilarang mengganggu untuk alasan apapun!’
Jaejoong membaca tulisan yang berada di depan pintu tersebut. Dia tidak akan
mengganggu hanya mengintip sebentar saja.
Itu bukan termasuk gangguan kan?
Perlahan Jaejoong
membuka pintu ‘Tidak terkunci’ gumam
Jaejoong, sekarang ia dapat melihat Junsu
berdiri didepan sebuah meja panjang. Meja tersebut terlihat seperti kasur dan
ada orang yang berbaring di atas
meja tersebut. Jaejoong kembali membuka pintu lebih lebar, ia ingin melihat
siapa yang sedang berbaring di meja
tersebut.
“Bukankan itu
Changmin?” gumam Jaejoong pelan seraya membuka pintu lebih lebar. Ia sudah mengira ada yang berbeda dengan Changmin
sejak pertama mereka bertemu. Saat Jaejoong menjabat tangannya, ia tidak
merasakan denyut nadi Changmin. Dan ternyata dugaaannya benar. Changmin adalah
robot. Apa yang sebenarnya direncanakan
Junsu?
Cukup lama Jaejoong
terdiam di depan
pintu, sampai akhirnya ia menyadari bahwa yang ia lakukan adalan tindakan yang
buruk dan kembali menuju ruang tamu.
“Junsu, kau
dirumah?” teriaknya dari ruang tamu, seolah-olah baru saja datang. “Aku masuk
karena pintunya tidak terkunci.”
“Kau tiba lebih
cepat dari waktu yang telah kita sepakati.” kata Junsu saat ia muncul di ruang
tamu. “Ada apa?”
“Urusanku berlalu
lebih cepat dari perkiraan.” Jawab Jaejoong.
“Kau habis dari
kantor polisi?” tebak Junsu
Jaejoong
memicingkan matanya, “Bagaimana kau tau?”
Junsu menunjuk apa
yang Jaejoong bawa dengan dagunya. “Tteobboki
itu hanya dijual di seberang
kantor polisi.” Junsu memang meminta Jaejoong untuk membawakan tteokbokki saat kerumahnya. Dan secara
iseng Junsu mencoba membuat deduksi dari apa yang dia lihat. Ada 2 kemungkinan
yaitu Jaejoong ada urusan di kantor
polisi lalu membelinya untuk mempersingkat waktu atau dia menyukai tteobokki dari restoran itu lalu
membelinya. Padahal Junsu tak menyebutkan secara spesifik tempat Jaejoong harus
membelinya.
“Ah.” Jaejoong
meliriknya sekilas. “Pihak kepolisian meminta keteranganku sebagai saksi dalam
kasus kematiannya Song Jisoo.”
“Oh begitu.” Gumam
Junsu. Ia terdiam sebentar,
merasa ada sesuatu yang ganjil. Bagaimana bisa Jaejoong dimintai keterangan
sebagai saksi, seingatnya ia tak pernah menyebutkan nama Jaejoong waktu ia di
wawancarai.
“Aku sudah membawa
apa yang kau perintahkan, Aluminium dan beberapa kabel pendukung.” Ucap Jaejoong
membuyarkan lamunan Junsu. “Apa yang akan kau ajarkan kali ini?”
***
Tidak ada yang
aneh dari sebuah taman di sudut kota. Warna biru cerah membentang luas melukis langit
siang itu. Banyak anak kecil bermain dan berlarian di sekitar taman.
Yoomi duduk di salah satu bangku taman
memperhatikan segala aktivitas yang terjadi di taman. Ia kaget saat melihat seorang
anak perempuan menangis.
“Kau aneh, kau
bukan teman kami karena papan namamu tidak seperti punya kami.” Kata anak
laki-laki yang berbadan lebih besar itu sambil merebut papan nama gadis kecil
itu dan merusaknya. “Kau akan dikucilkan.”
“Dia tidak
dikucilkan.” Seru anak laki-laki yang baru datang dengan nada marah. “Kalau ada
dua berarti temankan? Dia tidak dikucilkan!” Ulang anak laki-laki yang membela
si gadis kecil sambil menunjukan papan nama miliknya. Kedua anak ini memiliki
papan nama yang terbuat dari kertas berbentuk bunga matahari sedangkan yang lainnya
terbuat dari plastik.
“Pergi kalian dari sini! Jangan cuma bisa
mengganggu anak kecil.” Perintahnya. Kemudian anak laki-laki itu berusaha
menghentikan tangisan si gadis kecil.
Yoomi terkekeh
pelan lalu tersenyum. Senyumnya mengembang dengan sempurna. Dia teringat akan
Junsu.
“Apa yang kau
lihat?” sebuah suara membangunkannya dari lamunan.
Yoomi tersentak
kaget, ia menatap Junsu sesaat. “Hanya teringat masa lalu.” Ucapnya. “Kapan kau
sampai di sini?
Aku tidak memintamu kemari.”
Saat tiba di taman tadi, entah mengapa
dia teringat pada Junsu. Dulu jika Yoomi sedang bersedih dan membutuhkan seseorang,
Junsu akan selalu berada di sampingnya
dan tugas itupun kemudian berpindah ke Yunho. Tetapi karena Yunho tidak
diketahui keberadaannya, maka Yoomi tidak lagi memiliki tempat bersandar.
Secara tidak
sengaja Yoomi menelpon Junsu, menanyakan di mana ia berada kemudian
menutup teleponnya. Yoomi tidak ingin melibatkan Junsu dalam masalah ini.
“Tetapi aku senang
kau kemari,” ucap Yoomi. “Terima kasih.”
“Waktu kau
menelpon-” kata Junsu, “Junsu-ya aku
takut sekali, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Huhuhu.” Kata Junsu menirukan suara
perempuan.
Yoomi mendengus
sebal, “Aku tidak mengatakan seperti itu.”
“Iya.” Kata Junsu
tidak mau kalah. “Kedengarannya seperti itu di telingaku.”
Gadis itu terdiam. ‘Yunho juga akan melakukan hal sama jika aku seperti ini’ pikirnya.
“Ini pertama
kalinya kita bertemu seperti ini setelah 3 tahun.” Kata Junsu tiba-tiba.
“Sudahlah, aku tak
mau membahas itu lagi.” Yoomi tersenyum pahit.
“Sesuatu terjadi
kan?” tebak Junsu. Hening sejenak sebelum Yoomi membuka suaranya.
“Ia menghilang.
Aku tidak tahu dia di mana
sekarang.” Yoomi mulai terisak. “Aku- aku- apa yang harus aku lakukan. Aku
takut sekali.”
Junsu meletakkan
tangannya pada bahu Yoomi. Mencoba memberinya kekuatan tanpa mengucap sepatah
katapun. Jika boleh memilih maka Junsu berharap Yunho menghilang selamanya
kalau itu bisa membuat Yoomi berada di sisinya lagi.
“Ia? Jung Yunho?”
tanya Junsu. “Pria yang bersamamu saat di pameran?”
“Iya.” Jawab Yoomi
di sela
tangisannya. “Sudah 2 hari dia menghilang. Aku tidak tahu keberadaannya.”
Junsu merasa sakit
melihat Yoomi seperti ini. Ia tidak menyangka jika Yoomi akan merasa sesedih
ini dengan hilangnya Yunho. Mungkin sisi egois Junsu sangat membenci Yunho.
Tapi dia tidak ingin orang yang ia sayangi terluka seperti ini.
Yoomi terus
menangis dalam pelukan Junsu. Tangan kanan Junsu menyentuh pundak Yoomi dan
mengelusnya secara perlahan, mencoba menenangkannya. Tangan kirinya yang
bebas meraih ponsel dari saku dan
mengetikan sesuatu secara cepat. Kemudian mengembalikannya lagi.
Setelah beberapa
menit berlalu ponsel Yoomi berdering, tertera nama Detektif Kim Taehyung pada layarnya. Tidak butuh waktu lama bagi
Yoomi untuk menslide lingkaran
berwarna hijau.
‘Han Yoomi, kami telah menemukan keberadaan Jung
Yunho.’ Kata suara di seberang sana.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar