Welcome

Senin, 11 April 2016

FREGOLI DELUSION (10)



Jaejoong melangkah memasuki rumah Junsu, dengan iseng ia mencoba membuka pintunya. Tidak terkunci. ‘Jarang sekali Junsu tidak mengunci pintu rumahnya.’ Terdengar suara-suara besi yang bersentuhan dari Labnya. Apa yang sedang Junsu lakukan di lab pribadinya. ‘Apa yang sedang dia buat? Aku akan mengintip sebentar saja.’

Jaejoong berjalan dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara yang membuatnya dicurigai.

Kini ia sudah berada di depan pintu lab milik Junsu, tak seperti lab kebanyakan, Lab junsu sangat sederhana tetapi peralatan yang berada di dalamnya sangat banyak dan lengkap. Jaejoong saja baru sekali memasuki lab tersebut itupun tanpa pengetahuan si pemilik lab.

‘Dilarang mengganggu untuk alasan apapun!’ Jaejoong membaca tulisan yang berada di depan pintu tersebut. Dia tidak akan mengganggu hanya mengintip sebentar saja.  Itu bukan termasuk gangguan kan?

Perlahan Jaejoong membuka pintu ‘Tidak terkunci’ gumam Jaejoong,  sekarang ia dapat melihat Junsu berdiri didepan sebuah meja panjang. Meja tersebut terlihat seperti kasur dan ada orang yang berbaring di atas meja tersebut. Jaejoong kembali membuka pintu lebih lebar, ia ingin melihat siapa yang sedang berbaring di meja tersebut.

“Bukankan itu Changmin?” gumam Jaejoong pelan seraya membuka pintu lebih lebar. Ia sudah mengira ada yang berbeda dengan Changmin sejak pertama mereka bertemu. Saat Jaejoong menjabat tangannya, ia tidak merasakan denyut nadi Changmin. Dan ternyata dugaaannya benar. Changmin adalah robot. Apa yang sebenarnya direncanakan Junsu?

Cukup lama Jaejoong terdiam di depan pintu, sampai akhirnya ia menyadari bahwa yang ia lakukan adalan tindakan yang buruk dan kembali menuju ruang tamu.

“Junsu, kau dirumah?” teriaknya dari ruang tamu, seolah-olah baru saja datang. “Aku masuk karena pintunya tidak terkunci.”

“Kau tiba lebih cepat dari waktu yang telah kita sepakati.” kata Junsu saat ia muncul di ruang tamu. “Ada apa?”

“Urusanku berlalu lebih cepat dari perkiraan.” Jawab Jaejoong.

“Kau habis dari kantor polisi?” tebak Junsu

Jaejoong memicingkan matanya, “Bagaimana kau tau?”

Junsu menunjuk apa yang Jaejoong bawa dengan dagunya. “Tteobboki itu hanya dijual di seberang kantor polisi.” Junsu memang meminta Jaejoong untuk membawakan tteokbokki saat kerumahnya. Dan secara iseng Junsu mencoba membuat deduksi dari apa yang dia lihat. Ada 2 kemungkinan yaitu Jaejoong ada urusan di  kantor polisi lalu membelinya untuk mempersingkat waktu atau dia menyukai tteobokki dari restoran itu lalu membelinya. Padahal Junsu tak menyebutkan secara spesifik tempat Jaejoong harus membelinya.

“Ah.” Jaejoong meliriknya sekilas. “Pihak kepolisian meminta keteranganku sebagai saksi dalam kasus kematiannya Song Jisoo.”

“Oh begitu.” Gumam Junsu. Ia terdiam sebentar, merasa ada sesuatu yang ganjil. Bagaimana bisa Jaejoong dimintai keterangan sebagai saksi, seingatnya ia tak pernah menyebutkan nama Jaejoong waktu ia di wawancarai.

“Aku sudah membawa apa yang kau perintahkan, Aluminium dan beberapa kabel pendukung.” Ucap Jaejoong membuyarkan lamunan Junsu. “Apa yang akan kau ajarkan kali ini?”

***

Tidak ada yang aneh dari sebuah taman di sudut kota. Warna biru cerah membentang luas melukis langit siang itu. Banyak anak kecil bermain dan berlarian di sekitar taman.

Yoomi duduk di salah satu bangku taman memperhatikan segala aktivitas yang terjadi di taman. Ia kaget saat melihat seorang anak perempuan menangis.

“Kau aneh, kau bukan teman kami karena papan namamu tidak seperti punya kami.” Kata anak laki-laki yang berbadan lebih besar itu sambil merebut papan nama gadis kecil itu dan merusaknya. “Kau akan dikucilkan.”

“Dia tidak dikucilkan.” Seru anak laki-laki yang baru datang dengan nada marah. “Kalau ada dua berarti temankan? Dia tidak dikucilkan!” Ulang anak laki-laki yang membela si gadis kecil sambil menunjukan papan nama miliknya. Kedua anak ini memiliki papan nama yang terbuat dari kertas berbentuk bunga matahari sedangkan yang lainnya terbuat dari plastik.

“Pergi kalian dari sini! Jangan cuma bisa mengganggu anak kecil.” Perintahnya. Kemudian anak laki-laki itu berusaha menghentikan tangisan si gadis kecil.
Yoomi terkekeh pelan lalu tersenyum. Senyumnya mengembang dengan sempurna. Dia teringat akan Junsu.

“Apa yang kau lihat?” sebuah suara membangunkannya dari lamunan.

Yoomi tersentak kaget, ia menatap Junsu sesaat. “Hanya teringat masa lalu.” Ucapnya. “Kapan kau sampai di sini? Aku tidak memintamu kemari.”

Saat tiba di taman tadi, entah mengapa dia teringat pada Junsu. Dulu jika Yoomi sedang bersedih dan membutuhkan seseorang, Junsu akan selalu berada di sampingnya dan tugas itupun kemudian berpindah ke Yunho. Tetapi karena Yunho tidak diketahui keberadaannya, maka Yoomi tidak lagi memiliki tempat bersandar.

Secara tidak sengaja Yoomi menelpon Junsu, menanyakan di mana ia berada kemudian menutup teleponnya. Yoomi tidak ingin melibatkan Junsu dalam masalah ini.

“Tetapi aku senang kau kemari,” ucap Yoomi. “Terima kasih.”

“Waktu kau menelpon-” kata Junsu, “Junsu-ya aku takut sekali, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Huhuhu.” Kata Junsu menirukan suara perempuan.

Yoomi mendengus sebal, “Aku tidak mengatakan seperti itu.”

“Iya.” Kata Junsu tidak mau kalah. “Kedengarannya seperti itu di telingaku.”
 Gadis itu terdiam. ‘Yunho juga akan melakukan hal sama jika aku seperti ini’ pikirnya.

“Ini pertama kalinya kita bertemu seperti ini setelah 3 tahun.” Kata Junsu tiba-tiba.

“Sudahlah, aku tak mau membahas itu lagi.” Yoomi tersenyum pahit.

“Sesuatu terjadi kan?” tebak Junsu. Hening sejenak sebelum Yoomi membuka suaranya.

“Ia menghilang. Aku tidak tahu dia di mana sekarang.” Yoomi mulai terisak. “Aku- aku- apa yang harus aku lakukan. Aku takut sekali.”

Junsu meletakkan tangannya pada bahu Yoomi. Mencoba memberinya kekuatan tanpa mengucap sepatah katapun. Jika boleh memilih maka Junsu berharap Yunho menghilang selamanya kalau itu bisa membuat Yoomi berada di sisinya lagi.

“Ia? Jung Yunho?” tanya Junsu. “Pria yang bersamamu saat di pameran?”

“Iya.” Jawab Yoomi di sela tangisannya. “Sudah 2 hari dia menghilang. Aku tidak tahu keberadaannya.”

Junsu merasa sakit melihat Yoomi seperti ini. Ia tidak menyangka jika Yoomi akan merasa sesedih ini dengan hilangnya Yunho. Mungkin sisi egois Junsu sangat membenci Yunho. Tapi dia tidak ingin orang yang ia sayangi terluka seperti ini.

Yoomi terus menangis dalam pelukan Junsu. Tangan kanan Junsu menyentuh pundak Yoomi dan mengelusnya secara perlahan, mencoba menenangkannya. Tangan kirinya yang bebas  meraih ponsel dari saku dan mengetikan sesuatu secara cepat. Kemudian mengembalikannya lagi.

Setelah beberapa menit berlalu ponsel Yoomi berdering, tertera nama Detektif Kim Taehyung pada layarnya. Tidak butuh waktu lama bagi Yoomi untuk menslide lingkaran berwarna hijau.

‘Han Yoomi, kami telah menemukan keberadaan Jung Yunho.’ Kata suara di seberang sana.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar