(Flashback)
“Junsu-ya, kau
boleh menangis. Aku akan disini untuk menghalangi siapapun yang akan melihat.”
Seorang gadis kecil merentangkan tangannya selebar mungkin. “Jika kau malu, aku
akan menutup mataku.”
Anak laki-laki
yang disebut Junsu itu memeluk gadis kecil didepannya. Menumpahkan segala rasa
yang terpendam. Hari ini adalah hari pemakaman kedua orang tuanya. Junsu
kehilangan mereka akibat kecelakaan mobil 2 hari yang lalu. Hanya dia yang
selamat saat itu.
Untuk anak
laki-laki yang berusia 10 tahun kehilangan kedua orang tua adalah hal paling
memberatkan dalam hidup. Junsu tidak memiliki adik, hanya dia sebatang kara
saat ini. Tangan Junsu mengenggam sebuah mainan robot kecil, hadiah dari
ayahnya sebelum ia meninggal.
Junsu masih terus
menangis dalam pelukan Yoomi, sesekali dia terisak dan menyebutkan nama Yoomi
di sela
tangisannya. Yoomi adalah tetangganya sekaligus teman masa kecilnya.
“Junsu, kau boleh
menangis sepuasnya hari ini.” Kata Yoomi sambil mengelus-elus pelan punggung
Junsu. “Aku akan selalu berada di sisimu,
Junsu.”
-7 tahun kemudian-
“Yoomi, aku akan
menemuimu saat makan siang. Sampai jumpa lagi!” seru Junsu saat mereka mencapai
kelas Yoomi. Junsu dan Yoomi berada di kelas yang berbeda ketika SMA.
“Oke.” Jawab
Yoomi.
“Kau selalu
bersamanya dalam 3 tahun ini. Dan aku tidak pernah melihat dia bersama siapapun
selain bersamamu.” Kata Eunha, teman sekelas Yoomi sesaat setelah Yoomi
meletakkan tasnya diatas meja. “Apakah kalian berpacaran?”
“Tidak.” Sanggah
Yoomi cepat.
“Kau menyukainya?”
“Tentu saja.”
“Sebagai pria atau
sebagai teman?”
Yoomi terdiam
lama, dia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan itu. Tentu saja Yoomi menyukai
Junsu. Junsu adalah orang yang selalu bersamanya dari saat mereka bisa berjalan
hingga berumur 17 tahun. Junsu telah menjadi temannya selama ini.
Pertanyaan tadi
membuat Yoomi tidak bisa fokus selama pelajaran. Pikirannya terus melayang
entah kemana, mencoba mencari jawaban yang tepat. Hingga bel istirahat
membuyarkan lamunannya.
“Yoomi, ayo!”
teriak Junsu dari luar kelas. Tangannya mengangkat bekal makanan yang
dibawanya. “Aku sudah sangat lapar.”
“Tunggu sebentar.”
Kata Yoomi segera membereskan mejanya dan bergegas keluar. “Hari ini kita makan
di atap saja ya, cuacanya bagus.” Dan disambut anggukan setuju dari Junsu.
Siang itu cuaca
cukup cerah, walaupun akan segera memasuki musim dingin tetapi hawa dingin
belum menghembuskan anginnya. Junsu dan Yoomi menikmati makan siang mereka,
sesekali terlihat Junsu tertawa ketika dia berhasil menggoda Yoomi. Jika sudah
begitu, gadis didepannya itu akan menggembungkan pipinya. Itu sangat manis, pikir Junsu
Yoomi teringat apa
yang dikatakan oleh Eunha tadi pagi, “Kau tidak bosan selalu bersamaku sampai
saat ini?”
“Tidak.” Jawab
Junsu cuek.
“Kenapa kau tidak
mencari teman?”
“Aku sudah punya.”
Kata Junsu menyeringai lebar. “Kau adalah temanku.”
Yoomi menepuk
keningnya, “Maksudku teman sebayamu. Anak laki-laki. Kau tahu bukankah kalian
mempunyai pembicaraan yang hanya khusus untuk laki-laki dan tidak boleh
diberitahu kepada anak perempuan. Teman yang seperti itu.”
“Aku akan
berbicara kepadamu, jika aku mempunyai hal untuk di bicarakan.” Balas Junsu.
Yoomi menghela
nafas berat. Junsu akan selalu membalas setiap perkataan yang dia lemparkan
jika menyangkut orang lain. Dia benar-benar tidak peduli soal ‘teman’ dan hanya
Yoomi satu-satunya teman yang dia miliki.
Junsu bukanlah
orang yang tertutup, sebelumnya dia adalah anak yang ceria. Tetapi setelah
kematian kedua orang tuanya Junsu mulai menutup diri. Dia jarang bergaul dengan
teman lainnya, hanya bersama Yoomi lah Junsu bisa menjadi anak yang ceria lagi.
Bagi Junsu, Yoomi bukan hanya sekedar teman tetapi juga bagian dari hidupnya
yang akan dia lindungi bahkan jika harus memberikan nyawa sebagai taruhannya.
“Cukup Yoomi saja,
kalau ada kau aku tidak butuh orang lain lagi.” Kata Junsu tersenyum,
mengakhiri debat mereka siang itu.
---
Junsu memeluk
rangkaian bunga dengan tangan kanan dan tangan kirinya menggenggam sebuah
gulungan berisi ijazahnya. Hari ini adalah hari kelulusan mereka. Sudah satu
jam sejak dia berdiri di depan
gerbang sekolahnya. Tapi seseorang yang ditunggunya tidak kunjung menampakkan
batang hidungnya.
Di halaman sekolah siswa
lain sibuk dengan segala urusannya, bertukar ucapan selamat hingga mengabadikan
momen kelulusan mereka. Begitu juga dengan Yoomi. Tapi hal itu tidak berlaku
untuk Junsu. Baginya tidak ada momen yang harus diabadikan saat ini, karena
tidak ada hal menarik yang perlu dia kenang nantinya.
Semakin menjelang
siang semakin banyak siswa yang meninggalkan lingkungan sekolah. Hanya tinggal
beberapa siswa di halaman
sekolah. “Sudah lama?” tanya Yoomi mengagetkan Junsu.
“Ah tidak juga.”
Jawabnya berbohong. Yoomi tahu bahwa Junsu berbohong, karena setiap Junsu
berbohong padanya, dia tidak akan berani menatap mata Yoomi.
“Setidaknya kau
harus mengambil foto dengan teman sekelasmu.” Saran Yoomi yang hanya dibalas
helaan nafas oleh Junsu.
“Tidak perlu. Itu
hanya membuang-buang waktu.” Tolak Junsu, “Bagaimana kalau sebelum pulang kita
mampir beli es krim ditempat biasa?”
“Permisi. Bisakah
kau mengambil foto kami berdua?’ tanya Yoomi, pertanyaan itu tidak diajukan
untuk Junsu melainkan kepada seseorang yang lewat di depan mereka.
“Ah tentu,” jawabnya
sambil meraih kamera dari tangan Yoomi. “Aku akan memotret.”
Yoomi meraih
tangan Junsu, menariknya untuk mendekat. Sesaat sebelum difoto Junsu meletakkan
tangannya di bahu
Yoomi dan tersenyum. Mereka berdua terlihat bahagia.
“Terima kasih.”
Kata Yoomi saat menerima kembali kameranya. “Aku akan memberikan hasil fotonya
setelah di cetak ya.”
“Kau tadi
mendengarkanku tidak?” tanya Junsu.
“Makan es krim
kan? Ayo!” seru Yoomi sambil menarik tangan Junsu.
Yoomi menikmati es
krim yang berada ditangannya. Tubuhnya mengayun kedepan-kebelakang mengikuti
ayunan yang didudukinya. Sedangkan Junsu hanya menyandarkan tubuhnya pada
ayunan yang sedang dinaiki oleh Yoomi.
“Setalah ini kita
akan jarang bertemu.” Kata Yoomi memecahkan keheningan diantara mereka.
“Kenapa?”
“Kita memasuki
universitas yang berbeda. Kau akan berada di Korea University dan aku berada di Chungnam National University.”
“Aku akan menemuimu
setiap hari.”
Yoomi tersenyum
getir ketika mengingat ‘siapa Junsu
baginya’ mungkin jika pertanyaan
ini ditanyakan setahun yang lalu Yoomi tidak memiliki jawaban yang tepat. Tapi
saat ini dia bisa menjawab dengan percaya diri bahwa dia menyukai Junsu lebih
dari teman.
Junsu adalah sosok
yang selalu berada di sampingnya
ketika dia membutuhkannya. Di saat Yoomi senang, sedih, marah, kecewa, dan
sejuta perasaan lainnya. Junsu juga selalu menjadi sandarannya ketika dia
merasa lemah, meminjamkan bahunya ketika dia ingin menangis. Hanya Junsulah
yang dibutuhkan Yoomi. Seperti Junsu membutuhkan Yoomi.
Tapi setiap kali
Yoomi memperhatikan Junsu, dia tidak pernah menemukan harapan bahwa Junsu juga
menyukainya lebih dari teman. Tapi untuk saat ini Yoomi bisa menerima.
Tak terasa es krim
yang berada di tangan Yoomi habis, menyisakan cone-nya. Junsu mengambil cone
tersebut dari tangan Yoomi dan menggantikannya dengan es krim miliknya. Junsu
tersenyum melihat Yoomi yang mulai memakan es krimnya.
---
“Semalam kau
kemana?” tanya Junsu saat melihat Yoomi keluar dari kamarnya. Hari ini Junsu
mengunjungi Yoomi di Daejeon. “Kau bahkan tak mengangkat telponku.”
“Ah!” Kepala Yoomi
terasa pusing akibat alkohol yang diminumnya tadi malam. “Mereka mengadakan
pesta penyambutan untuk mahasiswa baru.”
“Perlu kumasakan
sesuatu untuk menghilangkan mabukmu?” tanya Junsu sambil menyodorkan segelas
air.
Yoomi meraih gelas
dan meminumnya, “Tidak perlu, nanti juga akan hilang sendiri.”
“Besok, kita jadi
ke taman bermain, kan? Kau mengatakan jika aku masuk 10 besar dalam Kejuaraan
Robot International kau akan mengajakku ketaman bermain yang baru dibangun
itu.”
“Ah maaf Junsu.
Sepertinya tidak bisa. Aku memiliki janji dengan seseorang.” Kata Yoomi merasa
bersalah, “Bagaimana kalau diganti minggu depan?”
“Baiklah.” Jawab
Junsu kecewa.
Sejak saat itu
sulit sekali bagi Junsu untuk menemui Yoomi. Hampir setiap akhir pekan Yoomi
memiliki janji yang lain. Junsu merasa sangat kehilangan Yoomi. Bahkan dalam
sebulan ini dia hanya bertemu Yoomi sekali. Kesibukan apa yang dimiliki Yoomi
hingga mengabaikan Junsu seperti ini.
---
Junsu membanting
tubuhnya di atas
kasur. Seluruh kamar sudah tak berbentuk, banyak barang-barang berserakan di lantai dan pecahan kaca
dimana-mana. Matanya terpejam cukup lama. Percakapannya dengan Yoomi tadi sore
terus terngiang-ngiang dalam pikirannya.
“Junsu-ya. kau
perlu mencari teman selain diriku. Aku tidak akan selalu berada di sampingmu.” Ujar Yoomi
pelan. Ia tahu bahwa ini akan merusak segalanya. Tapi tidak ada cara lain.
Yoomi perlu melepas Junsu dalam hidupnya. Karena hubungan mereka saat ini tidak
akan pernah berkembang. Zona pertemanan yang mereka bangun selama ini hanya
akan menyakiti mereka berdua. Yoomi tidak bisa memiliki Junsu lebih dari teman
dan Junsu hanya akan terus menggap Yoomi sebagai temannya. Sampai kapan hal ini akan terus berlanjut?
“Bukankah kau yang
mengatakan kau akan selalu di sampingku?”
kata Junsu berusaha menahan amarahnya.
“Itu hanya
perkataan saat kita sama-sama belum dewasa.” Kata Yoomi mencoba tenang, “apa
yang kau harapkan dari perkataan anak berumur 10 tahun.”
“Tapi aku selalu
menganggap bahwa kata-kata itu adalah mutlak.”
“Junsu..”
Junsu meraih
tangan Yoomi, menggenggamnya dengan erat, dia tidak ingin kehilangan gadis yang
selama ini menjadi bagian dari hidupnya, “Yoomi. Kenapa kau seperti ini?”
“Aku hanya berusaha
realistis. Kita tidak bisa bersama selamanya.” Yoomi yang sedari tadi berusaha
menahan tangisannya, akhirnya tidak dapat menahannya lagi. “Mau sampai kapan
kita seperti ini? Suatu saat kita akan membangun keluarga kita sendiri. Kau
tidak bisa selalu bergantung padaku. Dan aku lelah mengharapkan sesuatu
darimu.”
“Jika aku akan
menikah, aku akan menikahimu.”
“Kau selalu saja
seperti ini.” Kata Yoomi emosi. “Apakah kau pernah mencintaiku?”
“Jika yang kau
maksud dengan cinta adalah ‘aku ingin bersamamu’ maka jawabanku adalah ‘iya’.”
“Junsu, kurasa
perasaan itu bukan cinta. Kau hanya merasa terbiasa dengan kehadiranku.” Ujar
Yoomi, “Kau harus membuka mata dan hatimu. Dunia itu luas, tidak hanya berputar
di sekitarmu
ataupun di sekitarku.”
Ponsel Yoomi
berdering ada panggilan masuk. Terterna nama “My Yunho” pada layar ponsel.
Junsu dapat melihat dengan jelas.
Apakah perasaan
cinta itu yang membuatnya kehilangan Yoomi. Junsu bahkan tidak tahu jawabannya
dan berteriak untuk meluapkan emosinya.
(Flashback End)
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar