Welcome

Minggu, 10 April 2016

FREGOLI DELUSION (3)



(Flashback)

“Junsu-ya, kau boleh menangis. Aku akan disini untuk menghalangi siapapun yang akan melihat.” Seorang gadis kecil merentangkan tangannya selebar mungkin. “Jika kau malu, aku akan menutup mataku.”

Anak laki-laki yang disebut Junsu itu memeluk gadis kecil didepannya. Menumpahkan segala rasa yang terpendam. Hari ini adalah hari pemakaman kedua orang tuanya. Junsu kehilangan mereka akibat kecelakaan mobil 2 hari yang lalu. Hanya dia yang selamat saat itu.

Untuk anak laki-laki yang berusia 10 tahun kehilangan kedua orang tua adalah hal paling memberatkan dalam hidup. Junsu tidak memiliki adik, hanya dia sebatang kara saat ini. Tangan Junsu mengenggam sebuah mainan robot kecil, hadiah dari ayahnya sebelum ia meninggal.

Junsu masih terus menangis dalam pelukan Yoomi, sesekali dia terisak dan menyebutkan nama Yoomi di sela tangisannya. Yoomi adalah tetangganya sekaligus teman masa kecilnya.

“Junsu, kau boleh menangis sepuasnya hari ini.” Kata Yoomi sambil mengelus-elus pelan punggung Junsu. “Aku akan selalu berada di sisimu, Junsu.”

-7 tahun kemudian-

“Yoomi, aku akan menemuimu saat makan siang. Sampai jumpa lagi!” seru Junsu saat mereka mencapai kelas Yoomi. Junsu dan Yoomi berada di kelas yang berbeda ketika SMA.

“Oke.” Jawab Yoomi.

“Kau selalu bersamanya dalam 3 tahun ini. Dan aku tidak pernah melihat dia bersama siapapun selain bersamamu.” Kata Eunha, teman sekelas Yoomi sesaat setelah Yoomi meletakkan tasnya diatas meja. “Apakah kalian berpacaran?”

“Tidak.” Sanggah Yoomi cepat.

“Kau menyukainya?”

“Tentu saja.”

“Sebagai pria atau sebagai teman?”

Yoomi terdiam lama, dia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan itu. Tentu saja Yoomi menyukai Junsu. Junsu adalah orang yang selalu bersamanya dari saat mereka bisa berjalan hingga berumur 17 tahun. Junsu telah menjadi temannya selama ini.

Pertanyaan tadi membuat Yoomi tidak bisa fokus selama pelajaran. Pikirannya terus melayang entah kemana, mencoba mencari jawaban yang tepat. Hingga bel istirahat membuyarkan lamunannya.

“Yoomi, ayo!” teriak Junsu dari luar kelas. Tangannya mengangkat bekal makanan yang dibawanya. “Aku sudah sangat lapar.”

“Tunggu sebentar.” Kata Yoomi segera membereskan mejanya dan bergegas keluar. “Hari ini kita makan di atap saja ya, cuacanya bagus.” Dan disambut anggukan setuju dari Junsu.

Siang itu cuaca cukup cerah, walaupun akan segera memasuki musim dingin tetapi hawa dingin belum menghembuskan anginnya. Junsu dan Yoomi menikmati makan siang mereka, sesekali terlihat Junsu tertawa ketika dia berhasil menggoda Yoomi. Jika sudah begitu, gadis didepannya itu akan menggembungkan pipinya. Itu sangat manis, pikir Junsu

Yoomi teringat apa yang dikatakan oleh Eunha tadi pagi, “Kau tidak bosan selalu bersamaku sampai saat ini?”

“Tidak.” Jawab Junsu cuek.

“Kenapa kau tidak mencari teman?”

“Aku sudah punya.” Kata Junsu menyeringai lebar. “Kau adalah temanku.”

Yoomi menepuk keningnya, “Maksudku teman sebayamu. Anak laki-laki. Kau tahu bukankah kalian mempunyai pembicaraan yang hanya khusus untuk laki-laki dan tidak boleh diberitahu kepada anak perempuan. Teman yang seperti itu.”

“Aku akan berbicara kepadamu, jika aku mempunyai hal untuk di bicarakan.” Balas Junsu.

Yoomi menghela nafas berat. Junsu akan selalu membalas setiap perkataan yang dia lemparkan jika menyangkut orang lain. Dia benar-benar tidak peduli soal ‘teman’ dan hanya Yoomi satu-satunya teman yang dia miliki.

Junsu bukanlah orang yang tertutup, sebelumnya dia adalah anak yang ceria. Tetapi setelah kematian kedua orang tuanya Junsu mulai menutup diri. Dia jarang bergaul dengan teman lainnya, hanya bersama Yoomi lah Junsu bisa menjadi anak yang ceria lagi. Bagi Junsu, Yoomi bukan hanya sekedar teman tetapi juga bagian dari hidupnya yang akan dia lindungi bahkan jika harus memberikan nyawa sebagai taruhannya.

“Cukup Yoomi saja, kalau ada kau aku tidak butuh orang lain lagi.” Kata Junsu tersenyum, mengakhiri debat mereka siang itu.

---

Junsu memeluk rangkaian bunga dengan tangan kanan dan tangan kirinya menggenggam sebuah gulungan berisi ijazahnya. Hari ini adalah hari kelulusan mereka. Sudah satu jam sejak dia berdiri di depan gerbang sekolahnya. Tapi seseorang yang ditunggunya tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Di halaman sekolah siswa lain sibuk dengan segala urusannya, bertukar ucapan selamat hingga mengabadikan momen kelulusan mereka. Begitu juga dengan Yoomi. Tapi hal itu tidak berlaku untuk Junsu. Baginya tidak ada momen yang harus diabadikan saat ini, karena tidak ada hal menarik yang perlu dia kenang nantinya.

Semakin menjelang siang semakin banyak siswa yang meninggalkan lingkungan sekolah. Hanya tinggal beberapa siswa di halaman sekolah. “Sudah lama?” tanya Yoomi mengagetkan Junsu.

“Ah tidak juga.” Jawabnya berbohong. Yoomi tahu bahwa Junsu berbohong, karena setiap Junsu berbohong padanya, dia tidak akan berani menatap mata Yoomi.

“Setidaknya kau harus mengambil foto dengan teman sekelasmu.” Saran Yoomi yang hanya dibalas helaan nafas oleh Junsu.

“Tidak perlu. Itu hanya membuang-buang waktu.” Tolak Junsu, “Bagaimana kalau sebelum pulang kita mampir beli es krim ditempat biasa?”

“Permisi. Bisakah kau mengambil foto kami berdua?’ tanya Yoomi, pertanyaan itu tidak diajukan untuk Junsu melainkan kepada seseorang yang lewat di depan mereka.

“Ah tentu,” jawabnya sambil meraih kamera dari tangan Yoomi. “Aku akan memotret.”

Yoomi meraih tangan Junsu, menariknya untuk mendekat. Sesaat sebelum difoto Junsu meletakkan tangannya di bahu Yoomi dan tersenyum. Mereka berdua terlihat bahagia.

“Terima kasih.” Kata Yoomi saat menerima kembali kameranya. “Aku akan memberikan hasil fotonya setelah di cetak ya.”

“Kau tadi mendengarkanku tidak?” tanya Junsu.

“Makan es krim kan? Ayo!” seru Yoomi sambil menarik tangan Junsu.

Yoomi menikmati es krim yang berada ditangannya. Tubuhnya mengayun kedepan-kebelakang mengikuti ayunan yang didudukinya. Sedangkan Junsu hanya menyandarkan tubuhnya pada ayunan yang sedang dinaiki oleh Yoomi.

“Setalah ini kita akan jarang bertemu.” Kata Yoomi memecahkan keheningan diantara mereka.

“Kenapa?”

“Kita memasuki universitas yang berbeda. Kau akan berada di Korea University dan aku berada di Chungnam National University.”

“Aku akan menemuimu setiap hari.”

Yoomi tersenyum getir ketika mengingat ‘siapa Junsu baginya’ mungkin jika pertanyaan ini ditanyakan setahun yang lalu Yoomi tidak memiliki jawaban yang tepat. Tapi saat ini dia bisa menjawab dengan percaya diri bahwa dia menyukai Junsu lebih dari teman.

Junsu adalah sosok yang selalu berada di sampingnya ketika dia membutuhkannya. Di saat Yoomi senang, sedih, marah, kecewa, dan sejuta perasaan lainnya. Junsu juga selalu menjadi sandarannya ketika dia merasa lemah, meminjamkan bahunya ketika dia ingin menangis. Hanya Junsulah yang dibutuhkan Yoomi. Seperti Junsu membutuhkan Yoomi.

Tapi setiap kali Yoomi memperhatikan Junsu, dia tidak pernah menemukan harapan bahwa Junsu juga menyukainya lebih dari teman. Tapi untuk saat ini Yoomi bisa menerima.

Tak terasa es krim yang berada di tangan Yoomi habis, menyisakan cone-nya. Junsu mengambil cone tersebut dari tangan Yoomi dan menggantikannya dengan es krim miliknya. Junsu tersenyum melihat Yoomi yang mulai memakan es krimnya.

---

“Semalam kau kemana?” tanya Junsu saat melihat Yoomi keluar dari kamarnya. Hari ini Junsu mengunjungi Yoomi di Daejeon. “Kau bahkan tak mengangkat telponku.”

“Ah!” Kepala Yoomi terasa pusing akibat alkohol yang diminumnya tadi malam. “Mereka mengadakan pesta penyambutan untuk mahasiswa baru.”

“Perlu kumasakan sesuatu untuk menghilangkan mabukmu?” tanya Junsu sambil menyodorkan segelas air.

Yoomi meraih gelas dan meminumnya, “Tidak perlu, nanti juga akan hilang sendiri.”

“Besok, kita jadi ke taman bermain, kan? Kau mengatakan jika aku masuk 10 besar dalam Kejuaraan Robot International kau akan mengajakku ketaman bermain yang baru dibangun itu.”

“Ah maaf Junsu. Sepertinya tidak bisa. Aku memiliki janji dengan seseorang.” Kata Yoomi merasa bersalah, “Bagaimana kalau diganti minggu depan?”

“Baiklah.” Jawab Junsu kecewa.

Sejak saat itu sulit sekali bagi Junsu untuk menemui Yoomi. Hampir setiap akhir pekan Yoomi memiliki janji yang lain. Junsu merasa sangat kehilangan Yoomi. Bahkan dalam sebulan ini dia hanya bertemu Yoomi sekali. Kesibukan apa yang dimiliki Yoomi hingga mengabaikan Junsu seperti ini.

---

Junsu membanting tubuhnya di atas kasur. Seluruh kamar sudah tak berbentuk, banyak barang-barang berserakan di lantai dan pecahan kaca dimana-mana. Matanya terpejam cukup lama. Percakapannya dengan Yoomi tadi sore terus terngiang-ngiang dalam pikirannya.

“Junsu-ya. kau perlu mencari teman selain diriku. Aku tidak akan selalu berada di sampingmu.” Ujar Yoomi pelan. Ia tahu bahwa ini akan merusak segalanya. Tapi tidak ada cara lain. Yoomi perlu melepas Junsu dalam hidupnya. Karena hubungan mereka saat ini tidak akan pernah berkembang. Zona pertemanan yang mereka bangun selama ini hanya akan menyakiti mereka berdua. Yoomi tidak bisa memiliki Junsu lebih dari teman dan Junsu hanya akan terus menggap Yoomi sebagai temannya. Sampai kapan hal ini akan terus berlanjut?

“Bukankah kau yang mengatakan kau akan selalu di sampingku?” kata Junsu berusaha menahan amarahnya.

“Itu hanya perkataan saat kita sama-sama belum dewasa.” Kata Yoomi mencoba tenang, “apa yang kau harapkan dari perkataan anak berumur 10 tahun.”

“Tapi aku selalu menganggap bahwa kata-kata itu adalah mutlak.”

“Junsu..”

Junsu meraih tangan Yoomi, menggenggamnya dengan erat, dia tidak ingin kehilangan gadis yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya, “Yoomi. Kenapa kau seperti ini?”

“Aku hanya berusaha realistis. Kita tidak bisa bersama selamanya.” Yoomi yang sedari tadi berusaha menahan tangisannya, akhirnya tidak dapat menahannya lagi. “Mau sampai kapan kita seperti ini? Suatu saat kita akan membangun keluarga kita sendiri. Kau tidak bisa selalu bergantung padaku. Dan aku lelah mengharapkan sesuatu darimu.”

“Jika aku akan menikah, aku akan menikahimu.”

“Kau selalu saja seperti ini.” Kata Yoomi emosi. “Apakah kau pernah mencintaiku?”

“Jika yang kau maksud dengan cinta adalah ‘aku ingin bersamamu’ maka jawabanku adalah ‘iya’.”

“Junsu, kurasa perasaan itu bukan cinta. Kau hanya merasa terbiasa dengan kehadiranku.” Ujar Yoomi, “Kau harus membuka mata dan hatimu. Dunia itu luas, tidak hanya berputar di sekitarmu ataupun di sekitarku.”

Ponsel Yoomi berdering ada panggilan masuk. Terterna nama “My Yunho” pada layar ponsel. Junsu dapat melihat dengan jelas.

Apakah perasaan cinta itu yang membuatnya kehilangan Yoomi. Junsu bahkan tidak tahu jawabannya dan berteriak  untuk meluapkan emosinya.

(Flashback End)


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar