Welcome

Rabu, 13 April 2016

FREGOLI DELUSION (18)



Waktu semakin berlalu, dan Jaejoong telah menjadi tahanan karena gagal dalam melewati tes kebohongan. Ini adalah pertama kalinya lagi dia menangis setelah ayahnya meninggal dulu, selain itu ia juga merasa sangat rindu dengan ibunya. Selama dalam tahanan Jaejoong terus-menerus murung, ia tak mau menjawab jika diajak bicara oleh siapapun. Bahkan ahli kejiwaan yang memeriksanya mengatakan bahwa Jaejoong berada dalam keadaan depresi berat. Hal inipun tentu menyulitkan penyidik karena Jaejoong menjadi tidak kooperatif lagi. Rencananya hari ini Yunho akan dipanggil ke kantor polisi untuk dipertemukan dengan Jaejoong, karena bisa saja dulu Yunho masih dalam kondisi tak stabil saat menunjuk foto Changmin. Sementara itu Tn. Jung sudah bertemu dengan Jaejoong, dan mengaku tidak mengenal Jaejoong. Ny. Jung akan dimintai keterangan tapi sayangnya ia berhalangan hadir karena sedang menjenguk keluarganya yang sakit di kampung halaman bersama Jihae.

“Sampai kapan kau akan seperti ini?” tanya Yoochun saat menghampiri ruangan tempat Jaejoong ditahan. Namun Jaejoong tampaknya tak tertarik untuk menanggapi hal itu, ia hanya sibuk melamun dengan tatapan kosong.

Yoochun lalu duduk di sampingnya, ia sangat merasakan perubahan emosi Jaejoong sejak ia dinyatakan gagal dalam tes kebohongan. “Kau harus bertemu dengan Jung Yunho. Dia sudah hampir pulih dan aku harap dia sudah ingat siapa orang yang menculiknya waktu itu.”

“Dia pasti akan mengatakan bahwa aku pelakunya,” lirih Jaejoong, seperti anak kecil yang putus asa. Wajahnya tampak memelas, ia seolah ingin menjerit bahwa ia bukan pelakunya, tapi ia juga merasa bahwa hal itu takkan dipercayai oleh orang lain.

Yoochun menepuk bahu Jaejoong dan mengelusnya pelan, ia menjadi agak kasihan. “Yang benar akan selalu benar,” ucapnya mengutip kata-kata Junsu. “Kau tidak usah khawatir, Park Yoochun tidak mungkin menangkap orang yang salah.”

Jaejoong hanya menarik napas panjang, memang semenjak ia dinyatakan sebagai calon tersangka utama, sepertinya ia sudah memilih untuk diam. Dia sama sekali tidak pernah meminta dibebaskan atau berusaha meyakinkan penyidik bahwa ia bukan pelakunya. Namun sejauh ini bukti yang ada tidak cukup kuat untuk mengarahkan Jaejoong sebagai tersangka. Terlebih lagi Yunho tidak pernah menyebut-nyebut mengenai Jaejoong, dan ia pun tidak memiliki motif yang kuat untuk membunuh ketiga korban.

“Jung Yunho sudah tiba,” ucap Kyuhyun yang baru saja muncul.

“Ayo, ini tidak akan lama,” Yoochun menarik lengan Jaejoong menuju ruang interogasi yang biasa digunakan untuk mewawancarai tersangka.

Jaejoong tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa pasrah saat Yoochun menuntunnya untuk duduk di belakang meja. Berhadapan dengan Jung Yunho.

“Bagaimana keadaanmu? Nampaknya sudah jauh lebih baik,” sapa Yoochun.

Wajah Yunho masih nampak mewaspadai siapapun yang ada di sana, bahkan Yoochun sekali pun. “Aku baik-baik saja,” jawabnya kemudian.

“Baiklah,” Yoochun sepertinya akan langsung mengajukan pertanyaan inti. “Yunho, apakah kau mengenal orang di depanmu ini?” tunjuknya ke arah Jaejoong, membuat Yunho menatap Jaejoong dengan lekat. Jaejoong hanya terdiam dengan ekspresi tak berdaya, ia bahkan tak mampu menatap Yunho.

“Kim Jaejoong,” ucap Yunho agak ragu, membuat Yoochun dan Jaejoong sama terkejutnya.

“Kau mengenalnya?” desak Yoochun tak sabar. Sementara Jaejoong pun sudah terlihat sangat penasaran, ia kini menatap tak percaya pada Yunho yang masih berpikir.

“Sepertinya aku ingat,” Yunho melirik ke atas, mencoba memperjelas ingatannya. “Teman-nya Kim Junsu yang waktu itu.”

Yoochun menatap Jaejoong, meminta penjelasan lebih lanjut. Namun Jaejoong hanya diam.

“Apakah wajah penculikmu yang sebenarnya adalah Kim Jaejoong?”

Pertanyaan itu tidak bisa dijawabnya. Yunho justru tampak mulai kebingungan, ia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Ingatannya mengenai hari penculikan itu berangsur-angsur kembali, namun bayangan itu belum terlalu jelas.

“Hei? Apakah kau baik-baik saja?” tanya Yoochun khawatir. Yunho tiba-tiba saja lupa bagaimana caranya berbicara, namun ia bisa mendengar Yoochun mulai berteriak memanggil pertolongan. Yunho masih merintih menahan kesakitan yang amat sangat di kepalanya, ia lalu samar-samar melihat wajah Jaejoong yang duduk di depannya. Jaejoong terlihat khawatir, namun ia tidak melakukan apa-apa. Ia hanya diam, memandangi Yunho yang kesakitan.

Ingatan-ingatan pada masa ia diculik mulai terlihat semakin jelas, namun hal itu juga membuatnya semakin merasa sakit. Yunho merasa sekelilingnya berputar, dengan suara-suara sibuk di kantor polisi. Namun yang terlihat di depannya adalah adegan-adegan saat sosok penculik itu menyiksanya, mengancamnya, memperlakukannya seperti binatang.

“Aaaaaggghhhh!!!” Yunho menjerit dan kini terjatuh ke lantai. Sesaat kemudian ia merasa tubuhnya diraih oleh seseorang, mungkin seorang polisi.

Aku hanya ingin mengambil semua yang telah kau rebut dariku.

Yunho mendengar kalimat itu berulang-ulang dalam kepalanya. Ia berusaha membuka mata di tengah usahanya menahan sakit, dan ia berhasil melihat wajah Jaejoong yang mulai menjauh. Meski begitu samar, dan meski dalam kesakitan yang luar biasa, Yunho bisa melihat bahwa Jaejoong tersenyum.

***

Sinar matahari pagi itu masuk ke dalam kamar Junsu, membuatnya terbangun dari tidur lelapnya. Setelah sekian lama menjadi tahanan, akhirnya Junsu dapat kembali menikmati tidur di kasurnya yang nyaman. Ia sudah mendapat banyak pertanyaan dari teman kuliahnya karena sudah tersebar kabar bahwa ia dicurigai sebagai tersangka. Tetapi Junsu sama sekali tidak menanggapi hal itu, yang terpenting baginya adalah saat ini hidupnya sudah kembali bebas. Ia pun beranjak bangun dari kasurnya dan masuk ke laboratoriumnya untuk melihat Changmin. Sosok tak bernyawa itu tengah terbaring di sebuah ranjang besi, memang sejak ia kembali dari kantor polisi, Changmin sudah dinonaktifkan. Junsu juga sudah mendapat banyak sekali pujian atas hasil ciptanya yang begitu luar biasa, yaitu Changmin. Robot yang dapat berkomunikasi dengan baik dan bahkan berperilaku seperti manusia. Untuk karyanya itu, Junsu mendapat banyak tawaran menggiurkan dari para pengusaha yang meneleponnya berkali-kali dan mengirimkan pesan terus-menerus. Tapi seperti biasa ia malas meladeninya dan tetap memutuskan untuk hidup di gubuknya yang tak terawat.

Berita pagi itu sudah mulai jarang membicarakan mengenai kasus pembunuhan berantai, sepertinya detektif Park sangat kesulitan menemukan pelakunya. Junsu hanya tersenyum kecil saat mengingat hal itu, dan tangannya sibuk membuat roti selai.

Tok tok

Terdengar suara ketukan di pintu depan. Junsu menghela napas menahan kesal, ia sebenarnya sedang malas sekali menerima tamu. Tetapi meski dengan menggerutu, ia tetap melangkah ke pintu dan membukakannya.

“Hai,” sapa seseorang yang berdiri di depan pintu itu. Ada sebuah kotak bekal di tangannya.

Junsu tercengang beberapa saat, ia memandangi wajah Yoomi yang semakin cantik di bawah sinar matahari pagi. Kekesalannya seketika berubah menjadi bahagia dan tak percaya.

“Yoomi?” ujar Junsu seolah tak yakin bahwa itu adalah Yoomi. “Ada apa?”

Yoomi hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Junsu. “Apa aku boleh masuk?”

“Ya, tentu saja. Silakan,” Junsu membukakan pintu lebar agar Yoomi bisa mendahuluinya masuk ke ruang tamu. Wanita berambut cokelat itu lalu duduk di sofa Junsu yang berantakan tanpa menunggu dipersilahkan.

“Kenapa kau terkejut sekali melihatku?” tanya Yoomi. “Ini aku bawakan sarapan.” Ia menyodorkan kotak bekal yang tadi dibawanya.

“Ah, tidak perlu repot, aku juga sudah membuat roti selai,” Junsu menunjuk pada rotinya yang masih utuh. “Sudah lama sekali yah kau tidak ke sini,” suara Junsu terdengar sedih, namun juga senang. Ia kini duduk berhadapan dengan Yoomi, dan ia tak bisa menyembunyi-kan perasaan rindunya.

“Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Detektif Park mengatakan kau sudah dibebaskan.” Yoomi tersenyum kecil. “Aku sudah katakan bahwa kau tentu bukan pelakunya.”

Junsu tidak mengatakan apa-apa untuk menanggapi ucapan Yoomi, ia hanya bisa memandang wajah Yoomi yang sekarang. Yoomi-nya sudah tumbuh menjadi wanita cantik dan cerdas. Yoomi yang dulu sering ia buat menangis karena hal kecil. Yoomi yang hanya seorang gadis kecil dan tak tahu apa-apa. Yoomi yang selalu bersamanya selama lebih dari 10 tahun. Tidak ada satupun hal yang akan bisa membuatnya membenci Yoomi.

“Apa kau mendengarkanku?” tanya Yoomi, membuyarkan bayangan masa lalu di benak Junsu. Ternyata Yoomi yang sekarang memang sudah bukan Yoomi-nya lagi.

“Maaf, aku hanya tak bisa memikirkan hal lain,” Junsu mengusap wajahnya. “Aku merindukanmu. Sangat.”

Wajah Yoomi tampak sedih saat Junsu mengatakan hal itu. Ia memang pernah mengatakan pada dirinya bahwa ia membenci Junsu, karena Junsu tidak pernah menyadari perasaannya. Namun sekuat apapun ia meyakinkan hatinya akan hal itu, semakin ia merasa bahwa ia juga tak bisa membenci Junsu. Selamanya ia akan memikirkan bagaimana keadaan Junsu.

“Kau tahu aku tak pernah berhenti merindukanmu,” Yoomi menghapus air matanya yang entah bagaimana sudah membasahi pipinya. “Aku hanya berusaha melupakan perasaanku, jadi aku menjauh saat itu. Aku tahu kau tidak mungkin menganggapku lebih dari teman.”

“Kau tidak perlu menjelaskan hal itu lagi,” Junsu tersenyum, namun wajahnya tampak sedih.

Yoomi terdiam beberapa saat, lalu ia teringat akan suatu hal. Salah satu alasannya memantapkan hati untuk bertemu Junsu.

“Aku ingin tanya sesuatu,” ucap Yoomi pelan.

“Apa itu?”

“Apakah kau membenci Yunho?”

Pertanyaan Yoomi tampaknya membuat Junsu tidak nyaman. Ia membuang napas berat dan menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa.

“Bohong jika aku mengatakan aku tidak membencinya. Dia salah satu alasan kenapa kau tiba-tiba saja meninggalkanku.”

Yoomi tertunduk, memang sudah ia duga jawaban Junsu akan seperti itu.

“Yunho tidak tahu apa-apa. Akulah yang pantas untuk kau benci karena sudah meninggalkan-mu begitu saja.”

“Dengan kau berkata seperti itu, justru aku semakin membencinya.”

“Tapi…” Yoomi menghentikan kalimatnya, ia masih agak ragu untuk mengatakan hal ini.

“Tapi apa?”

“Saat dulu kita bertemu di taman, dan aku mengatakan padamu bahwa Yunho menghilang. Apakah kau ingat?” Yoomi menatap Junsu dan mengawasi raut wajahnya. Junsu hanya mengangguk dan tampak penasaran dengan apa yang akan dikatakan Yoomi. “Waktu itu kau mengirim suatu pesan pada temanmu kan? Dan tak lama kemudian detektif Park menelponku dan mengatakan bahwa Yunho sudah ditemukan.”

“Lalu apa masalahnya?”

Yoomi menelan ludah, ia yakin Junsu sebenarnya sudah tahu apa maksud perkataannya. “Aku hanya penasaran… apakah waktu itu kau mengirim pesan pada Changmin?”


***

Yoochun berjalan tergesa-gesa, setengah berlari, setelah menerima telepon bahwa tim forensik telah berhasil mengindentifikasi racun yang telah merengut nyawa Kim Seokjin –korban pertama– ia bahkan hampir menabrak beberapa petugas polisi yang berada di lorong.

“Jelaskan padaku!” perintah Yoochun saat berhasil mencapai laboratorium forensik. Tarikan nafasnya masih terasa berat. Ia menatap beberapa orang di dalam ruangan itu. Ada sekitar 5 orang, Yoochun mengenali salah satu di antara mereka, dia adalah orang yang sering bersama Yoona. Kang Seulgi, sahabatnya Yoona.

“Korban adalah Kim Seokjin, 25 tahun. Seorang mahasiswa di Korea University. Meninggal 3 bulan yang lalu pukul 21.00. Penyebab kematian karena keracunan. Racun yang digunakan adalah Janis Thorn,” jelas Seulgi sambil membaca file yang berada di tangannya. “Tapi aku tidak bisa menyebutnya sebagai racun, karena Janis Thorn juga merupakan salah satu obat. ”
Yoochun tampak mencerna kata-kata yang diucapkan Seulgi, “Janis? Apa?”

“Bukankah itu terdengar asing di telingamu?” tebak Seulgi. “Janis Thorn.”

Bahkan Yoochun baru sekali ini mendengar nama racun itu. Racun yang tidak umum digunakan untuk membunuh. Pada kasus kedua dan ketiga, pelaku menggunakan racun yang lebih umum seperti endosulfan dan arsenik. Mengapa ia tidak menggunakan racun yang sama? Racun ini bahkan sulit teridentifikasi.

“Janis Thorn termasuk golongan obat analgetik –obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran– sediaannya berbentuk tablet 10 mg, 30 mg, dan 60 mg. Obat ini jarang digunakan karena toksisitasnya terhadap hati dan ginjal. Dalam kasus nyeri hebat, penggunaan obat ini masih dianjurkan dibawah pengawasan dokter.” Seulgi berhenti sebentar, sebelum melanjutkan. “Kau tahu bahwa semua senyawa adalah racun. Dosis yang tepatlah yang membedakan antara racun dan obat.”

Yoochun mengangguk paham, “lalu bagaimana dia bisa keracunan?”

“Dia meminum soda setelah mengkonsumsi obat ini,” jawab Seulgi. “Ketika obat itu masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan memetabolisme senyawa tersebut menjadi bentuk metabolitnya agar lebih mudah diserap oleh tubuh. Ketika ia meminum soda, maka metabolit-metabolit yang seharus bekerja di sistem syaraf pusat untuk menekan rasa sakit, akan menstimulasi aktivitas otak, merangsang pusat pernafasan dengan menurunkan kecepatan dan volume pernafasan. Sehingga ia akan mengalami depresi pernafasan akut yang akan mengakibatkan kematian.”

“Singkatnya, dia tidak akan mati jika tidak meminum soda?” tanya Yoochun mencoba memastikan.

“Ya. Minuman bersoda membuat toksisitas Janis Thorn meningkat.”

“Apakah harus diminum secara bersamaan untuk menimbulkan efek keracunan? Karena dari hasil cctv kami tidak melihat dia menelan semacam obat pada saat dia meminum soda.”

“Tidak perlu, karena jika ia meminum soda dalam waktu 1-2 jam setelah menelan obat itu, efeknya masih akan tetap sama. Obat ini membutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk tereliminasi dalam tubuh.”
Yoochun masih mencoba mengolah semua informasi yang baru saja diterimanya. Ia mencoba mencari bukti atau setidaknya celah yang mengatakan bahwa Kim Jaejoong –atau Kim Junsu– adalah pelakunya.

“Apakah ada efek samping pada penggunakan obat itu?” tanya Yoochun lagi.

Seulgi membalik kertas yang berada dalam tangannya,”sama seperti obat analgetik lainnya, efek samping yang sering timbul adalah tenggorokan terasa kering, mual, muntah, konstipasi, ketergantungan, pada kasus overdosis menimbulkan keracunan dan dapat menyebabkan kematian.”

“Apa kau yakin dia tidak meninggal karena overdosis obat itu?”

“Aku yakin, karena tidak ditemukan tanda-tanda overdosis pada tubuhnya. Aku sudah melihat catatan medis Kim Seokjin dan dia tidak mengkonsumsi obat apapun dalam waktu jangka panjang. Selain itu Janis Thorn hanya bisa didapat dengan resep dokter. Distribusi obat ini cukup ketat, karena apoteker harus melapor persediaannya dalam kurun waktu 6 bulan sekali,” jawab Seulgi, ia menduga bahwa Yoochun akan menanyakan mengenai cara ilegal untuk memperoleh obat itu. “Sejujurnya cukup sulit mengidentifikasi ini, karena korban sering mengkonsumsi minuman bersoda. Lihatlah!” katanya sambil memperlihatkan foto yang seperti kerangka-kerangka tulang. “Tulang dan giginya sudah mengalami pe-ngeroposan karena minuman bersoda. Setidaknya dia mengkonsumsi soda setiap hari. Makanya kami cukup sulit mengidentifikasi penyebab kematiannya.”

Yoochun menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman, sepertinya dia menemukan petunjuk baru dalam kasus ini. “Kau sudah berusaha keras, terima kasih Kang Seulgi.” Katanya sambil meninggalkan laboratorium forensik.

‘Pelakunya adalah orang yang mengetahui kebiasaan Kim Seokjin mengkonsumsi soda. Jika Junsu tidak mengenalnya maka Junsu bisa dicoret dari daftar tersangka. Sepertinya akan lebih mudah menelusuri Janis Thorn dan menangkap pelaku’ Batin Yoochun.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar