Waktu semakin berlalu, dan Jaejoong telah menjadi tahanan karena gagal
dalam melewati tes kebohongan. Ini adalah pertama kalinya lagi dia menangis
setelah ayahnya meninggal dulu, selain itu ia juga merasa sangat rindu dengan
ibunya. Selama dalam tahanan Jaejoong terus-menerus murung, ia tak mau menjawab
jika diajak bicara oleh siapapun. Bahkan ahli kejiwaan yang memeriksanya
mengatakan bahwa Jaejoong berada dalam keadaan depresi berat. Hal inipun tentu
menyulitkan penyidik karena Jaejoong menjadi tidak kooperatif lagi. Rencananya
hari ini Yunho akan dipanggil ke kantor polisi untuk dipertemukan dengan
Jaejoong, karena bisa saja dulu Yunho masih dalam kondisi tak stabil saat
menunjuk foto Changmin. Sementara itu Tn. Jung sudah bertemu dengan Jaejoong,
dan mengaku tidak mengenal Jaejoong. Ny. Jung akan dimintai keterangan tapi
sayangnya ia berhalangan hadir karena sedang menjenguk keluarganya yang sakit
di kampung halaman bersama Jihae.
“Sampai kapan kau akan seperti ini?” tanya Yoochun saat menghampiri
ruangan tempat Jaejoong ditahan. Namun Jaejoong tampaknya tak tertarik untuk
menanggapi hal itu, ia hanya sibuk melamun dengan tatapan kosong.
Yoochun lalu duduk di sampingnya, ia sangat merasakan perubahan emosi
Jaejoong sejak ia dinyatakan gagal dalam tes kebohongan. “Kau harus bertemu
dengan Jung Yunho. Dia sudah hampir pulih dan aku harap dia sudah ingat siapa
orang yang menculiknya waktu itu.”
“Dia pasti akan mengatakan bahwa aku pelakunya,” lirih Jaejoong, seperti
anak kecil yang putus asa. Wajahnya tampak memelas, ia seolah ingin menjerit
bahwa ia bukan pelakunya, tapi ia juga merasa bahwa hal itu takkan dipercayai
oleh orang lain.
Yoochun menepuk bahu Jaejoong dan mengelusnya pelan, ia menjadi agak
kasihan. “Yang benar akan selalu benar,” ucapnya mengutip kata-kata Junsu. “Kau
tidak usah khawatir, Park Yoochun tidak mungkin menangkap orang yang salah.”
Jaejoong hanya menarik napas panjang, memang semenjak ia dinyatakan
sebagai calon tersangka utama, sepertinya ia sudah memilih untuk diam. Dia
sama sekali tidak pernah meminta dibebaskan atau berusaha meyakinkan penyidik
bahwa ia bukan pelakunya. Namun sejauh ini bukti yang ada tidak cukup kuat
untuk mengarahkan Jaejoong sebagai tersangka. Terlebih lagi Yunho tidak pernah
menyebut-nyebut mengenai Jaejoong, dan ia pun tidak memiliki motif yang kuat
untuk membunuh ketiga korban.
“Jung Yunho sudah tiba,” ucap Kyuhyun yang baru saja muncul.
“Ayo, ini tidak akan lama,” Yoochun menarik lengan Jaejoong menuju ruang
interogasi yang biasa digunakan untuk mewawancarai tersangka.
Jaejoong tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa pasrah saat Yoochun
menuntunnya untuk duduk di belakang meja. Berhadapan dengan Jung Yunho.
“Bagaimana keadaanmu? Nampaknya sudah jauh lebih baik,” sapa Yoochun.
Wajah Yunho masih nampak mewaspadai siapapun yang ada di sana, bahkan
Yoochun sekali pun. “Aku baik-baik saja,” jawabnya kemudian.
“Baiklah,” Yoochun sepertinya akan langsung mengajukan pertanyaan inti.
“Yunho, apakah kau mengenal orang di depanmu ini?” tunjuknya ke arah Jaejoong,
membuat Yunho menatap Jaejoong dengan lekat. Jaejoong hanya terdiam dengan
ekspresi tak berdaya, ia bahkan tak mampu menatap Yunho.
“Kim Jaejoong,” ucap Yunho agak ragu, membuat Yoochun dan Jaejoong sama
terkejutnya.
“Kau mengenalnya?” desak Yoochun tak sabar. Sementara Jaejoong pun sudah
terlihat sangat penasaran, ia kini menatap tak percaya pada Yunho yang masih
berpikir.
“Sepertinya aku ingat,” Yunho melirik ke atas, mencoba memperjelas
ingatannya. “Teman-nya Kim Junsu yang waktu itu.”
Yoochun menatap Jaejoong, meminta penjelasan lebih lanjut. Namun
Jaejoong hanya diam.
“Apakah wajah penculikmu yang sebenarnya adalah Kim Jaejoong?”
Pertanyaan itu tidak bisa dijawabnya. Yunho justru tampak mulai
kebingungan, ia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Ingatannya mengenai hari
penculikan itu berangsur-angsur kembali, namun bayangan itu belum terlalu
jelas.
“Hei? Apakah kau baik-baik saja?” tanya Yoochun khawatir. Yunho
tiba-tiba saja lupa bagaimana caranya berbicara, namun ia bisa mendengar
Yoochun mulai berteriak memanggil pertolongan. Yunho masih merintih menahan
kesakitan yang amat sangat di kepalanya, ia lalu samar-samar melihat wajah
Jaejoong yang duduk di depannya. Jaejoong terlihat khawatir, namun ia tidak
melakukan apa-apa. Ia hanya diam, memandangi Yunho yang kesakitan.
Ingatan-ingatan pada masa ia diculik mulai terlihat semakin jelas, namun
hal itu juga membuatnya semakin merasa sakit. Yunho merasa sekelilingnya
berputar, dengan suara-suara sibuk di kantor polisi. Namun yang terlihat di
depannya adalah adegan-adegan saat sosok penculik itu menyiksanya,
mengancamnya, memperlakukannya seperti binatang.
“Aaaaaggghhhh!!!” Yunho menjerit dan kini terjatuh ke lantai. Sesaat
kemudian ia merasa tubuhnya diraih oleh seseorang, mungkin seorang polisi.
Aku hanya ingin mengambil semua yang telah kau
rebut dariku.
Yunho mendengar kalimat itu berulang-ulang dalam kepalanya. Ia berusaha
membuka mata di tengah usahanya menahan sakit, dan ia berhasil melihat wajah
Jaejoong yang mulai menjauh. Meski begitu samar, dan meski dalam kesakitan
yang luar biasa, Yunho bisa melihat bahwa Jaejoong tersenyum.
***
Sinar matahari pagi itu masuk ke dalam kamar Junsu, membuatnya terbangun
dari tidur lelapnya. Setelah sekian lama menjadi tahanan, akhirnya Junsu dapat
kembali menikmati tidur di kasurnya yang nyaman. Ia sudah mendapat banyak
pertanyaan dari teman kuliahnya karena sudah tersebar kabar bahwa ia dicurigai
sebagai tersangka. Tetapi Junsu sama sekali tidak menanggapi hal itu, yang
terpenting baginya adalah saat ini hidupnya sudah kembali bebas. Ia pun
beranjak bangun dari kasurnya dan masuk ke laboratoriumnya untuk melihat
Changmin. Sosok tak bernyawa itu tengah terbaring di sebuah ranjang besi,
memang sejak ia kembali dari kantor polisi, Changmin sudah dinonaktifkan. Junsu
juga sudah mendapat banyak sekali pujian atas hasil ciptanya yang begitu luar
biasa, yaitu Changmin. Robot yang dapat berkomunikasi dengan baik dan bahkan
berperilaku seperti manusia. Untuk karyanya itu, Junsu mendapat banyak tawaran
menggiurkan dari para pengusaha yang meneleponnya berkali-kali dan mengirimkan
pesan terus-menerus. Tapi seperti biasa ia malas meladeninya dan tetap
memutuskan untuk hidup di gubuknya yang tak terawat.
Berita pagi itu sudah mulai jarang membicarakan mengenai kasus
pembunuhan berantai, sepertinya detektif Park sangat kesulitan menemukan
pelakunya. Junsu hanya tersenyum kecil saat mengingat hal itu, dan tangannya
sibuk membuat roti selai.
Tok tok
Terdengar suara ketukan di pintu depan. Junsu menghela napas menahan
kesal, ia sebenarnya sedang malas sekali menerima tamu. Tetapi meski dengan
menggerutu, ia tetap melangkah ke pintu dan membukakannya.
“Hai,” sapa seseorang yang berdiri di depan pintu itu. Ada sebuah kotak
bekal di tangannya.
Junsu tercengang beberapa saat, ia memandangi wajah Yoomi yang semakin
cantik di bawah sinar matahari pagi. Kekesalannya seketika berubah menjadi
bahagia dan tak percaya.
“Yoomi?” ujar Junsu seolah tak yakin bahwa itu adalah Yoomi. “Ada apa?”
Yoomi hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Junsu. “Apa aku boleh
masuk?”
“Ya, tentu saja. Silakan,” Junsu membukakan pintu lebar agar Yoomi bisa
mendahuluinya masuk ke ruang tamu. Wanita berambut cokelat itu lalu duduk di
sofa Junsu yang berantakan tanpa menunggu dipersilahkan.
“Kenapa kau terkejut sekali melihatku?” tanya Yoomi. “Ini aku bawakan
sarapan.” Ia menyodorkan kotak bekal yang tadi dibawanya.
“Ah, tidak perlu repot, aku juga sudah membuat roti selai,” Junsu
menunjuk pada rotinya yang masih utuh. “Sudah lama sekali yah kau tidak ke
sini,” suara Junsu terdengar sedih, namun juga senang. Ia kini duduk berhadapan
dengan Yoomi, dan ia tak bisa menyembunyi-kan perasaan rindunya.
“Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Detektif Park mengatakan kau sudah
dibebaskan.” Yoomi tersenyum kecil. “Aku sudah katakan bahwa kau tentu bukan
pelakunya.”
Junsu tidak mengatakan apa-apa untuk menanggapi ucapan Yoomi, ia hanya
bisa memandang wajah Yoomi yang sekarang. Yoomi-nya sudah tumbuh menjadi wanita
cantik dan cerdas. Yoomi yang dulu sering ia buat menangis karena hal kecil.
Yoomi yang hanya seorang gadis kecil dan tak tahu apa-apa. Yoomi yang selalu
bersamanya selama lebih dari 10 tahun. Tidak ada satupun hal yang akan bisa
membuatnya membenci Yoomi.
“Apa kau mendengarkanku?” tanya Yoomi, membuyarkan bayangan masa lalu di
benak Junsu. Ternyata Yoomi yang sekarang memang sudah bukan Yoomi-nya lagi.
“Maaf, aku hanya tak bisa memikirkan hal lain,” Junsu mengusap wajahnya.
“Aku merindukanmu. Sangat.”
Wajah Yoomi tampak sedih saat Junsu mengatakan hal itu. Ia memang pernah
mengatakan pada dirinya bahwa ia membenci Junsu, karena Junsu tidak pernah
menyadari perasaannya. Namun sekuat apapun ia meyakinkan hatinya akan hal itu,
semakin ia merasa bahwa ia juga tak bisa membenci Junsu. Selamanya ia akan
memikirkan bagaimana keadaan Junsu.
“Kau tahu aku tak pernah berhenti merindukanmu,” Yoomi menghapus air
matanya yang entah bagaimana sudah membasahi pipinya. “Aku hanya berusaha
melupakan perasaanku, jadi aku menjauh saat itu. Aku tahu kau tidak mungkin
menganggapku lebih dari teman.”
“Kau tidak perlu menjelaskan hal itu lagi,” Junsu tersenyum, namun
wajahnya tampak sedih.
Yoomi terdiam beberapa saat, lalu ia teringat akan suatu hal. Salah satu
alasannya memantapkan hati untuk bertemu Junsu.
“Aku ingin tanya sesuatu,” ucap Yoomi pelan.
“Apa itu?”
“Apakah kau membenci Yunho?”
Pertanyaan Yoomi tampaknya membuat Junsu tidak nyaman. Ia membuang napas
berat dan menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa.
“Bohong jika aku mengatakan aku tidak membencinya. Dia salah satu alasan
kenapa kau tiba-tiba saja meninggalkanku.”
Yoomi tertunduk, memang sudah ia duga jawaban Junsu akan seperti itu.
“Yunho tidak tahu apa-apa. Akulah yang pantas untuk kau benci karena
sudah meninggalkan-mu begitu saja.”
“Dengan kau berkata seperti itu, justru aku semakin membencinya.”
“Tapi…” Yoomi menghentikan kalimatnya, ia masih agak ragu untuk
mengatakan hal ini.
“Tapi apa?”
“Saat dulu kita bertemu di taman, dan aku mengatakan padamu bahwa Yunho
menghilang. Apakah kau ingat?” Yoomi menatap Junsu dan mengawasi raut wajahnya.
Junsu hanya mengangguk dan tampak penasaran dengan apa yang akan dikatakan
Yoomi. “Waktu itu kau mengirim suatu pesan pada temanmu kan? Dan tak lama
kemudian detektif Park menelponku dan mengatakan bahwa Yunho sudah ditemukan.”
“Lalu apa masalahnya?”
Yoomi menelan ludah, ia yakin Junsu sebenarnya sudah tahu apa maksud
perkataannya. “Aku hanya penasaran… apakah waktu itu kau mengirim pesan pada
Changmin?”
***
Yoochun berjalan
tergesa-gesa, setengah berlari, setelah menerima telepon bahwa tim forensik
telah berhasil mengindentifikasi racun yang telah merengut nyawa Kim Seokjin
–korban pertama– ia bahkan hampir menabrak beberapa petugas polisi yang berada
di lorong.
“Jelaskan padaku!”
perintah Yoochun saat berhasil mencapai laboratorium forensik. Tarikan nafasnya
masih terasa berat. Ia menatap beberapa orang di dalam ruangan itu. Ada sekitar 5 orang, Yoochun mengenali
salah satu di antara mereka, dia
adalah orang yang sering bersama Yoona. Kang Seulgi, sahabatnya Yoona.
“Korban adalah Kim
Seokjin, 25 tahun. Seorang mahasiswa di Korea University. Meninggal 3 bulan
yang lalu pukul 21.00. Penyebab kematian karena keracunan. Racun yang digunakan
adalah Janis Thorn,” jelas Seulgi
sambil membaca file yang berada di tangannya. “Tapi aku tidak bisa menyebutnya
sebagai racun, karena Janis Thorn juga merupakan salah satu obat. ”
Yoochun tampak
mencerna kata-kata yang diucapkan Seulgi, “Janis? Apa?”
“Bukankah itu
terdengar asing di telingamu?” tebak
Seulgi. “Janis Thorn.”
Bahkan Yoochun baru
sekali ini mendengar nama racun itu. Racun yang tidak umum digunakan untuk
membunuh. Pada kasus kedua dan ketiga, pelaku menggunakan racun yang lebih umum
seperti endosulfan dan arsenik. Mengapa ia tidak menggunakan racun yang sama?
Racun ini bahkan sulit teridentifikasi.
“Janis Thorn
termasuk golongan obat analgetik –obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran–
sediaannya berbentuk tablet 10 mg, 30 mg, dan 60 mg. Obat ini jarang digunakan
karena toksisitasnya terhadap hati dan ginjal. Dalam kasus nyeri hebat,
penggunaan obat ini masih dianjurkan dibawah pengawasan dokter.” Seulgi
berhenti sebentar, sebelum melanjutkan. “Kau tahu bahwa semua senyawa adalah
racun. Dosis yang tepatlah yang membedakan antara racun dan obat.”
Yoochun mengangguk
paham, “lalu bagaimana dia bisa keracunan?”
“Dia meminum soda
setelah mengkonsumsi obat ini,” jawab Seulgi. “Ketika obat itu masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan memetabolisme
senyawa tersebut menjadi bentuk metabolitnya agar lebih mudah diserap oleh
tubuh. Ketika ia meminum soda, maka metabolit-metabolit yang seharus bekerja di
sistem syaraf pusat untuk menekan rasa sakit, akan menstimulasi aktivitas otak,
merangsang pusat pernafasan dengan menurunkan kecepatan dan volume pernafasan.
Sehingga ia akan mengalami depresi pernafasan akut yang akan mengakibatkan
kematian.”
“Singkatnya, dia
tidak akan mati jika tidak meminum soda?” tanya Yoochun mencoba memastikan.
“Ya. Minuman
bersoda membuat toksisitas Janis Thorn
meningkat.”
“Apakah harus
diminum secara bersamaan untuk menimbulkan efek keracunan? Karena dari hasil
cctv kami tidak melihat dia menelan semacam obat pada saat dia meminum soda.”
“Tidak perlu,
karena jika ia meminum soda dalam waktu 1-2 jam setelah menelan obat itu,
efeknya masih akan tetap sama. Obat ini membutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk
tereliminasi dalam tubuh.”
Yoochun masih
mencoba mengolah semua informasi yang baru saja diterimanya. Ia mencoba mencari
bukti atau setidaknya celah yang mengatakan bahwa Kim Jaejoong –atau Kim Junsu–
adalah pelakunya.
“Apakah ada efek
samping pada penggunakan obat itu?” tanya Yoochun lagi.
Seulgi membalik
kertas yang berada dalam tangannya,”sama seperti obat analgetik lainnya, efek
samping yang sering timbul adalah tenggorokan terasa kering, mual, muntah,
konstipasi, ketergantungan, pada kasus overdosis menimbulkan keracunan dan
dapat menyebabkan kematian.”
“Apa kau yakin dia
tidak meninggal karena overdosis obat itu?”
“Aku yakin, karena
tidak ditemukan tanda-tanda overdosis pada tubuhnya. Aku sudah melihat catatan
medis Kim Seokjin dan dia tidak mengkonsumsi obat apapun dalam waktu jangka
panjang. Selain itu Janis Thorn hanya
bisa didapat dengan resep dokter. Distribusi obat ini cukup ketat, karena
apoteker harus melapor persediaannya dalam kurun waktu 6 bulan sekali,” jawab
Seulgi, ia menduga bahwa Yoochun akan menanyakan mengenai cara ilegal untuk
memperoleh obat itu. “Sejujurnya cukup sulit mengidentifikasi ini, karena
korban sering mengkonsumsi minuman bersoda. Lihatlah!” katanya sambil
memperlihatkan foto yang seperti kerangka-kerangka tulang. “Tulang dan giginya
sudah mengalami pe-ngeroposan karena
minuman bersoda. Setidaknya dia mengkonsumsi soda setiap hari. Makanya kami
cukup sulit mengidentifikasi penyebab kematiannya.”
Yoochun menarik
ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman, sepertinya dia menemukan petunjuk
baru dalam kasus ini. “Kau sudah berusaha keras, terima kasih Kang Seulgi.”
Katanya sambil meninggalkan laboratorium forensik.
‘Pelakunya adalah orang yang mengetahui
kebiasaan Kim Seokjin mengkonsumsi soda. Jika Junsu tidak mengenalnya maka
Junsu bisa dicoret dari daftar tersangka. Sepertinya akan lebih mudah
menelusuri Janis Thorn dan menangkap pelaku’ Batin Yoochun.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar