Semilir angin di atap sekolah
dapat menyapu semua beban pikiran. Jaejoong terlentang menatap langit dengan
menggunakan tangannya sebagai bantal. Dia sedang merindukan ibunya. Dia
benar-benar rindu pada ibunya. Tapi kerinduan itu harus ia curahkan pada siapa?
Ia tak mungkin menceritakan masalah ini pada mereka berempat. Mereka tidak akan
pernah peduli.
“Ke mana si anak Jepang itu? Aku
tidak melihatnya dari tadi pagi.” Tanya Yoochun memecah keheningan di antara
mereka.
“Loh? Kau tidak tahu? Dia kan
sudah pulang ke Jepang.” Jawab Yunho.
Jaejoong langsung bereaksi, tapi
ia tidak mengatakan apa-apa.
“Kapan dia pulang?” tanya Yoochun
lagi.
“Hari ini.”
Seketika Jaejoong bangun dan
bergegas pergi.
“Hei! Kau mau ke mana?” cegah
Junsu.
“Bukankah perjanjian kita sudah
selesai?” Jaejoong balik bertanya.
“Apa maksudmu?”
“Misuzawa sudah pulang ke Jepang,
jadi tak ada lagi alasanku untuk tetap bertahan dalam geng ini.”
“Kau tidak bisa keluar begitu
saja setelah bergabung dengan kami.” Yunho angkat bicara.
“Tentu saja aku bisa. Ini
hidupku, dan ini pilihanku. Kalian sama sekali tidak berhak mengaturku.”
“Berani sekali kau bicara seperti
itu.” Ucap Changmin.
“Memangnya kalian pikir, aku
pernah merasa takut pada kalian berempat?” Jaejoong menatap mereka dengan
tatapan menantang. Karena mereka berempatlah, ia tidak bisa melepas Nako di
bandara. Mereka pasti sengaja tidak memberitahunya tentang hal itu agar ia tak
bisa menemui Nako lagi. Mereka benar-benar tak punya perasaan!
“Lancang sekali bicaramu itu.”
Desis Yunho sambil mendekati Jaejoong.
“Kau pikir kau tidak lancang?
Seenaknya memaksaku bergabung dengan geng murahanmu ini.”
Duakk!!
Jaejoong tersungkur ke tanah. Ia
bangun dengan susah payah untuk melihat siapa yang memukulnya. Yoochun berdiri
tepat di sebelah Yunho dengan tangan masih terkepal. Matanya yang tajam menusuk
ke dalam bola mata Jaejoong. Mereka saling bertatapan dalam diam.
“Kau tidak mengenal kami, jadi
tolong jaga perkataanmu.” Ucap Yoochun kemudian. Jaejoong berdiri dan mengusap
ujung bibirnya dengan menggunakan ibu jari.
“Kalian pikir, kalian mengenalku?
Kenyataannya, kalian tidak tahu apapun tentang aku.”
Sebelum mereka sempat mengucapkan
sesuatu lagi, Jaejoong segera melesat pergi meninggalkan mereka. Ia tidak akan
menyesal pernah melakukan ini. Menjadi bagian dari gangster murahan itu, demi
melindungi Nako dari kejahatan mereka. Dan jika kini Nako pergi, ia tahu ia
akan merasa sangat kehilangan. Tapi ia juga ingat, Nako membutuhkan hidup yang
lebih tenang di Jepang sana.
***
Tidak ada tempat yang ingin
dikunjungi Jaejoong saat ini. Ia malas berada di panti asuhan, dan ia juga
sudah tidak mungkin mengunjungi rumah Nako. Gadis itu tidak akan ada di sana.
Satu-satunya sahabat yang bisa membuatnya merasa dihargai sudah pergi
meninggalkannya. Dan tak ada yang tahu kapan dia bisa bertemu lagi dengan gadis
itu. Jadi, Jaejoong melangkahkan kakinya ke sebuah tempat yang sudah begitu
lama tidak dikunjunginya. Tempat di mana dulu dia mengadukan masalahnya. Dan
tempat itu adalah… makam ibunya.
Jaejoong menatap batu nisan
berlumut yang mengukir nama satu-satunya wanita yang amat sangat ia cintai.
Wanita yang telah berjasa membesarkannya, merawatnya, dan melindunginya dari
kekejaman sang ayah yang tak berperasaan. Ia rindu sekali pada ibunya. Sebuah
kerinduan yang tak bisa diukur dengan apapun. Tapi saat ini, ia sudah tidak
menangis lagi saat memandang nisan ibunya. Walau hatinya merasakan kesedihan
yang luar biasa, namun ia menyadari menangis takkan ada gunanya.
“Umma…” ucap Jaejoong lirih.
“Kenapa waktu itu laki-laki jahat itu tidak membunuhku juga? Aku lebih memilih
mati bersamamu daripada harus hidup sendirian seperti ini. Aku kehilangan
diriku sendiri saat umma pergi. Aku merasa semua orang membenciku. Sampai kapan
mereka semua akan memanggilku sebagai seorang pembunuh? Bahkan sepertinya,
sampai aku matipun mereka akan tetap beranggapan demikian. Aku lelah dengan
hidup yang seperti ini, umma…”
Kedua bola mata Jaejoong yang
sayu menatap dingin nama yang terukir di nisan itu. Terbayanglah wajah ibunya
yang cantik dan penuh kasih sayang. Ia ingin Tuhan menciptakan satu lagi wanita
seperti ibunya untuk kemudian ia nikahi. Pria yang seharusnya ia panggil ayah
benar-benar orang yang tidak tahu diri. Jaejoong menganggap pria itu sebagai
pria paling beruntung karena bisa mendapatkan isrti seperti ibunya. Tapi
balasan yang ia berikan benar-benar tidak menunjukkan rasa bersyukur.
Jaejoong menutup matanya
sejenak—memanjatkan doa. Setelah itu ia melangkah pergi meninggalkan pemakaman
itu. Tak peduli apa yang orang-orang katakan tentangnya, sekalipun mereka
menyebutnya sebagai seorang pembunuh. Ia benar-benar sudah tak peduli. Karena
yang terpenting baginya hanyalah, ibunya tahu bahwa anaknya bukan seorang
pembunuh.
***
Langit sudah mendung, sepertinya
hujan akan turun lagi. Jaejoong masih berjalan menapaki trotoar, menyeret
tasnya seperti biasa. Ia bersumpah akan mengembalikan seragam ini pada Yunho
besok. Ia akan memakai lagi seragamnya yang berlumuran cat. Apapun yang
dikatakan gurunya nanti, ia sudah benar-benar tidak peduli.
Ckiit…
Jaejoong menghentikan langkahnya
saat sebuah mobil hitam yang mewah dan mengkilat berhenti tepat di depannya. Ia
mengerutkan alis saat ia sadar bahwa ia tak mengenal mobil tersebut. Seketika,
dalam pikirannya terlintaslah sebuah kecurigaan. Jangan-jangan si empunya mobil
adalah salah satu dari empat anggota geng yang merasa kesal atas sikapnya tadi
di sekolah. Tapi Jaejoong sudah tidak merasa takut. Dia akan siap menghadapi
apapun yang terjadi.
Pintu mobil perlahan-lahan
terbuka. Seorang pria dengan kemeja putih berjalan keluar. Jaejoong memicingkan
matanya untuk melihat lebih jelas. Pria itu terus berjalan mendekatinya, dan
kini Jaejoong sadar siapa orang yang ada di depannya saat itu. Seorang pria
yang sudah lama tak ia lihat. Pria brengsek yang telah membunuh ibunya. Ledakan
kemarahan kini membumbung di kepalanya, siap untuk diledakkan.
“Hai, Nak.” Kata pria itu saat
mereka berdua berhadapan. Jaejoong tidak mengeluarkan sepatah katapun. “Lama
tak jumpa denganmu. Kau benar-benar tumbuh menjadi anak yang tampan.”
Jaejoong membuang wajahnya. Masih
bisa-bisanya pria itu berbasa-basi tanpa merasa bersalah atas apa yang telah
dilakukannya tempo hari.
“Appa rindu padamu…” ucap pria
itu lagi.
Tak ada respon apapun. Jaejoong
segera melanjutkan langkahnya dan mengabaikan pria itu.
“Kim Jaejoong!” panggil pria itu
sambil berbalik menatap tubuh Jaejoong yang kini membelakanginya.
“Jangan panggil namaku lagi! Aku
tak sudi mendengarmu memanggil namaku!” teriak Jaejoong kesal.
“Appa ingin minta maaf…”
“…”
“Appa tahu maaf saja memang tak
cukup untuk membayar semuanya. Appa tahu kesalahan appa sudah sangat besar.
Jadi untuk membayar rasa bersalah appa, izinkan appa untuk merawatmu. Ikutlah
dengan appa, kau tidak perlu menderita lagi.”
“Tidak usah mengasihaniku!”
Jaejoong tak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya. “Pulang saja sana! Dan
jangan pernah muncul dalam hidupku lagi! Apa belum cukup selama ini kau sudah
membuat hidupku seperti di neraka?!!”
“Appa tidak bermaksud seperti
itu… maafkan appa…” ucap pria itu sambil berusaha meraih tangan putranya.
“Aku benci padamu!” ucap Jaejoong
sambil berusaha melepaskan dirinya.
“Jangan bersikap seperti ini pada
appa… izinkan appa memperbaiki semuanya…”
“Kau bukan appaku!!” Jaejoong
mendorong tubuh pria itu dengan seluruh kekuatannya. Pria itupun tersungkur ke
jalanan. Jaejoong belum sempat berpikir apa-apa saat tiba-tiba sebuah truk
dengan kecepatan tinggi melesat dan menabrak tubuh itu hingga terlempar sejauh
10 meter. Kejadian mengerikan itu terpampang dalam pandangan Jaejoong dalam
sebuah gerakan lambat. Dan ia sama sekali tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk
menghentikan kejadian itu.
Kini banyak orang yang berkerumun
mengelilingi tubuh pria yang bersimbah darah itu. Jaejoong masih memaku di
tempatnya berdiri. Bukankah ini yang sejak dulu diinginkannya? Ia ingin pria
itu cepat mati, karena dengan begitu maka dendamnya terbalas sudah. Tapi saat
keinginan itu tercapai, kenapa rasanya ternyata sakit? Ia menelan ludah
berkali-kali saat akhirnya ia menyadari, ia benar-benar seorang pembunuh.
-end