Welcome

Senin, 21 Mei 2012

The Gangster (part 14) -final


Semilir angin di atap sekolah dapat menyapu semua beban pikiran. Jaejoong terlentang menatap langit dengan menggunakan tangannya sebagai bantal. Dia sedang merindukan ibunya. Dia benar-benar rindu pada ibunya. Tapi kerinduan itu harus ia curahkan pada siapa? Ia tak mungkin menceritakan masalah ini pada mereka berempat. Mereka tidak akan pernah peduli. 

“Ke mana si anak Jepang itu? Aku tidak melihatnya dari tadi pagi.” Tanya Yoochun memecah keheningan di antara mereka.

“Loh? Kau tidak tahu? Dia kan sudah pulang ke Jepang.” Jawab Yunho.

Jaejoong langsung bereaksi, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.

“Kapan dia pulang?” tanya Yoochun lagi.

“Hari ini.”

Seketika Jaejoong bangun dan bergegas pergi.

“Hei! Kau mau ke mana?” cegah Junsu.

“Bukankah perjanjian kita sudah selesai?” Jaejoong balik bertanya.

“Apa maksudmu?”

“Misuzawa sudah pulang ke Jepang, jadi tak ada lagi alasanku untuk tetap bertahan dalam geng ini.”

“Kau tidak bisa keluar begitu saja setelah bergabung dengan kami.” Yunho angkat bicara.

“Tentu saja aku bisa. Ini hidupku, dan ini pilihanku. Kalian sama sekali tidak berhak mengaturku.”

“Berani sekali kau bicara seperti itu.” Ucap Changmin.

“Memangnya kalian pikir, aku pernah merasa takut pada kalian berempat?” Jaejoong menatap mereka dengan tatapan menantang. Karena mereka berempatlah, ia tidak bisa melepas Nako di bandara. Mereka pasti sengaja tidak memberitahunya tentang hal itu agar ia tak bisa menemui Nako lagi. Mereka benar-benar tak punya perasaan!

“Lancang sekali bicaramu itu.” Desis Yunho sambil mendekati Jaejoong.

“Kau pikir kau tidak lancang? Seenaknya memaksaku bergabung dengan geng murahanmu ini.”

Duakk!!

Jaejoong tersungkur ke tanah. Ia bangun dengan susah payah untuk melihat siapa yang memukulnya. Yoochun berdiri tepat di sebelah Yunho dengan tangan masih terkepal. Matanya yang tajam menusuk ke dalam bola mata Jaejoong. Mereka saling bertatapan dalam diam.

“Kau tidak mengenal kami, jadi tolong jaga perkataanmu.” Ucap Yoochun kemudian. Jaejoong berdiri dan mengusap ujung bibirnya dengan menggunakan ibu jari.

“Kalian pikir, kalian mengenalku? Kenyataannya, kalian tidak tahu apapun tentang aku.”

Sebelum mereka sempat mengucapkan sesuatu lagi, Jaejoong segera melesat pergi meninggalkan mereka. Ia tidak akan menyesal pernah melakukan ini. Menjadi bagian dari gangster murahan itu, demi melindungi Nako dari kejahatan mereka. Dan jika kini Nako pergi, ia tahu ia akan merasa sangat kehilangan. Tapi ia juga ingat, Nako membutuhkan hidup yang lebih tenang di Jepang sana.

***

Tidak ada tempat yang ingin dikunjungi Jaejoong saat ini. Ia malas berada di panti asuhan, dan ia juga sudah tidak mungkin mengunjungi rumah Nako. Gadis itu tidak akan ada di sana. Satu-satunya sahabat yang bisa membuatnya merasa dihargai sudah pergi meninggalkannya. Dan tak ada yang tahu kapan dia bisa bertemu lagi dengan gadis itu. Jadi, Jaejoong melangkahkan kakinya ke sebuah tempat yang sudah begitu lama tidak dikunjunginya. Tempat di mana dulu dia mengadukan masalahnya. Dan tempat itu adalah… makam ibunya.

Jaejoong menatap batu nisan berlumut yang mengukir nama satu-satunya wanita yang amat sangat ia cintai. Wanita yang telah berjasa membesarkannya, merawatnya, dan melindunginya dari kekejaman sang ayah yang tak berperasaan. Ia rindu sekali pada ibunya. Sebuah kerinduan yang tak bisa diukur dengan apapun. Tapi saat ini, ia sudah tidak menangis lagi saat memandang nisan ibunya. Walau hatinya merasakan kesedihan yang luar biasa, namun ia menyadari menangis takkan ada gunanya.

“Umma…” ucap Jaejoong lirih. “Kenapa waktu itu laki-laki jahat itu tidak membunuhku juga? Aku lebih memilih mati bersamamu daripada harus hidup sendirian seperti ini. Aku kehilangan diriku sendiri saat umma pergi. Aku merasa semua orang membenciku. Sampai kapan mereka semua akan memanggilku sebagai seorang pembunuh? Bahkan sepertinya, sampai aku matipun mereka akan tetap beranggapan demikian. Aku lelah dengan hidup yang seperti ini, umma…”

Kedua bola mata Jaejoong yang sayu menatap dingin nama yang terukir di nisan itu. Terbayanglah wajah ibunya yang cantik dan penuh kasih sayang. Ia ingin Tuhan menciptakan satu lagi wanita seperti ibunya untuk kemudian ia nikahi. Pria yang seharusnya ia panggil ayah benar-benar orang yang tidak tahu diri. Jaejoong menganggap pria itu sebagai pria paling beruntung karena bisa mendapatkan isrti seperti ibunya. Tapi balasan yang ia berikan benar-benar tidak menunjukkan rasa bersyukur.

Jaejoong menutup matanya sejenak—memanjatkan doa. Setelah itu ia melangkah pergi meninggalkan pemakaman itu. Tak peduli apa yang orang-orang katakan tentangnya, sekalipun mereka menyebutnya sebagai seorang pembunuh. Ia benar-benar sudah tak peduli. Karena yang terpenting baginya hanyalah, ibunya tahu bahwa anaknya bukan seorang pembunuh.

***

Langit sudah mendung, sepertinya hujan akan turun lagi. Jaejoong masih berjalan menapaki trotoar, menyeret tasnya seperti biasa. Ia bersumpah akan mengembalikan seragam ini pada Yunho besok. Ia akan memakai lagi seragamnya yang berlumuran cat. Apapun yang dikatakan gurunya nanti, ia sudah benar-benar tidak peduli.

Ckiit…

Jaejoong menghentikan langkahnya saat sebuah mobil hitam yang mewah dan mengkilat berhenti tepat di depannya. Ia mengerutkan alis saat ia sadar bahwa ia tak mengenal mobil tersebut. Seketika, dalam pikirannya terlintaslah sebuah kecurigaan. Jangan-jangan si empunya mobil adalah salah satu dari empat anggota geng yang merasa kesal atas sikapnya tadi di sekolah. Tapi Jaejoong sudah tidak merasa takut. Dia akan siap menghadapi apapun yang terjadi.

Pintu mobil perlahan-lahan terbuka. Seorang pria dengan kemeja putih berjalan keluar. Jaejoong memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas. Pria itu terus berjalan mendekatinya, dan kini Jaejoong sadar siapa orang yang ada di depannya saat itu. Seorang pria yang sudah lama tak ia lihat. Pria brengsek yang telah membunuh ibunya. Ledakan kemarahan kini membumbung di kepalanya, siap untuk diledakkan.

“Hai, Nak.” Kata pria itu saat mereka berdua berhadapan. Jaejoong tidak mengeluarkan sepatah katapun. “Lama tak jumpa denganmu. Kau benar-benar tumbuh menjadi anak yang tampan.”

Jaejoong membuang wajahnya. Masih bisa-bisanya pria itu berbasa-basi tanpa merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya tempo hari.

“Appa rindu padamu…” ucap pria itu lagi.

Tak ada respon apapun. Jaejoong segera melanjutkan langkahnya dan mengabaikan pria itu.

“Kim Jaejoong!” panggil pria itu sambil berbalik menatap tubuh Jaejoong yang kini membelakanginya.

“Jangan panggil namaku lagi! Aku tak sudi mendengarmu memanggil namaku!” teriak Jaejoong kesal.

“Appa ingin minta maaf…”

“…”

“Appa tahu maaf saja memang tak cukup untuk membayar semuanya. Appa tahu kesalahan appa sudah sangat besar. Jadi untuk membayar rasa bersalah appa, izinkan appa untuk merawatmu. Ikutlah dengan appa, kau tidak perlu menderita lagi.”

“Tidak usah mengasihaniku!” Jaejoong tak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya. “Pulang saja sana! Dan jangan pernah muncul dalam hidupku lagi! Apa belum cukup selama ini kau sudah membuat hidupku seperti di neraka?!!”

“Appa tidak bermaksud seperti itu… maafkan appa…” ucap pria itu sambil berusaha meraih tangan putranya.

“Aku benci padamu!” ucap Jaejoong sambil berusaha melepaskan dirinya.

“Jangan bersikap seperti ini pada appa… izinkan appa memperbaiki semuanya…”

“Kau bukan appaku!!” Jaejoong mendorong tubuh pria itu dengan seluruh kekuatannya. Pria itupun tersungkur ke jalanan. Jaejoong belum sempat berpikir apa-apa saat tiba-tiba sebuah truk dengan kecepatan tinggi melesat dan menabrak tubuh itu hingga terlempar sejauh 10 meter. Kejadian mengerikan itu terpampang dalam pandangan Jaejoong dalam sebuah gerakan lambat. Dan ia sama sekali tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk menghentikan kejadian itu.

Kini banyak orang yang berkerumun mengelilingi tubuh pria yang bersimbah darah itu. Jaejoong masih memaku di tempatnya berdiri. Bukankah ini yang sejak dulu diinginkannya? Ia ingin pria itu cepat mati, karena dengan begitu maka dendamnya terbalas sudah. Tapi saat keinginan itu tercapai, kenapa rasanya ternyata sakit? Ia menelan ludah berkali-kali saat akhirnya ia menyadari, ia benar-benar seorang pembunuh.

-end

The Gangster (part 13)


BRAK!!! Changmin menggebrak salah satu meja yang terletak di cafeteria. Membuat beberapa siswa yang duduk di meja tersebut bergetar ketakutan.

“Kalian semua, pergi dari sini!” Changmin memberi perintah, menatap kelima orang yang duduk melingkar. Tak satupun dari mereka yang beranjak meninggalkan meja tersebut. Mereka hanya diam ketakutan. “Kalian tidak punya telinga?! Kami mau duduk disini!”

“Ke.. ke.. ke.. napa?” Tanya salah seseorang di antara mereka, setelah dia mengumpulkan keberanian untuk melawan gangster itu. “Disana masih ada meja kosong, kau bisa menempatinya.”
Changmin menarik kerah baju anak laki-laki yang membantah perintahnya. Anak laki-laki itu kesulitan bernapas, karena cengkraman Changmin yang begitu kuat.

“Kau berani melawan kami?!” Suara Changmin meninggi, menatap rendah anak laki-laki di hadapannya. “Kau tau apa akibatnya jika kau melawan kami?!”

BUKKK!! Changmin memukul anak laki-laki itu, membuat pelipis mata sebelah kirinya robek dan berdarah. Dia merintih kesakitan. “Itu akibatnya jika kau melawan kami.”

“Kalian itu hanya sekelompok orang yang tak memiliki perasaan!” Anak laki-laki itu mulai menyulut emosi Changmin. “Kalian hanya sekelompok orang yang memamerkan kekayaan orang tua kalian. Bahkan kalian tak bisa melakukan hal baik terhadap siapapun. Terutama kau Shim Changmin!” Katanya menekan 2 kata terakhir.

BUKKK!!! Changmin kembali melayangkan tunjunya. Membuat anak laki-laki itu kembali merintih kesakitan. “Jangan pernah menyebut namaku dengan mulut kotormu itu!!” Kata Changmin memperingati.

“Sudahlah Changmin, jangan kau kotori tanganmu.” Kata Yunho malas.

Changmin melepaskan kerah baju anak itu, menghempaskan tubuh anak laki-laki itu ke tanah dan membuatnya jatuh tersungkur.

“Cepat pergi dari sini atau aku akan membuatmu lebih menyesal!” Changmin memperingati. Dia kembali menatap empat orang yang masih tersisa. “Kenapa masih disini?!!”

Tanpa menunggu perintah kedua, mereka semua segera pergi meninggalkan meja itu. mempersilahkan ketiga dewa itu duduk di sana.

“Kau tak perlu melakukan hal seperti itu.” Junsu berkata sambil mengambil tempat duduk di antara Changmin dan Yunho. “Kau bisa membunuh anak ingusan itu.”

“Aku tak peduli.” Jawab Changmin dingin.

“Kemana Yoochun dan Jaejoong?” Tanya Yunho, mengubah topic pembicaraan.

“Kurasa mereka terlambat.” Jawab Junsu sama malasnya.

“Kami terlambat ya?” Yoochun santai, segera mengambil posisi untuk duduk. “Kau, duduklah.” perintah Yoochun saat Jaejoong masih berdiri, menatap bangku kosong di sebelah Yunho.

“Ini semua karena orang jepang itu, dia memperlambat kami.”

Rahang Jaejoong mengeras saat Yoochun membicarakan Nako.

“Apa yang dia lakukan?” Tanya Junsu mulai tertarik.

“Menemui Jaejoong hyung? Lagi?” Tebak Changmin malas. “Tak bosan-bosannya dia mendapat perlakuan kasar.”

“Bukankan dia pernah menyatakan cintanya padamu hyung?” Tanya Changmin kepada Yunho.

Yunho tersenyum mengejek. Jaejoong menatap Yunho, orang yang membuat Nako patah hati.

“Gadis seperti dia tak pantas menjadi pacarku.” Kata Yunho mengejek. “Apa yang dia lakukan terhadapmu, Jaejoong?”

“Bukan hal yang penting.” Jawab Jaejoong malas. “Jangan bicarakan dia. Kalian membuat selera makanku hilang.”

Seorang pelayan meletakkan beberapa gelas jus dan makanan ringan yang di pesan. Tersenyum manis, tetapi tak satupun dari mereka yang mengucapkan ‘Terima Kasih’ atau sekedar tersenyum basa-basi. Jaejoong mengambil salah satu gelas jus dan meneguknya cepat.

“Aku dengar dia akan pindah kembali ke Jepang.” kata Junsu, membuat Jaejoong tersedak. “Kau kenapa?”

“Tidak, tidak apa-apa.” Jawab Jaejoong cepat. “Apa maksudmu? Dia kembali ke Jepang?”

“Hmmm..” Jawab Yunho malas, “Kurasa dia sudah tidak kuat menghadapi kita. Padahal aku baru saja ingin membuatnya malu.”

“Ya! Aku ingin sekali membuatnya merasa tidak di hargai di dunia ini.” Timpal Junsu.

“Padahal aku baru saja menikmati pertunjukan yang menarik. Tak pernah aku melihatnya menangis seperti kemarin. Jaejoong hyung benar-benar membuatnya sakit hati.” Tambah Changmin. “Oh, ya, kapan dia berangkat? Aku belum mengucapkan selamat tinggal.” Changmin tertawa.

“Apa kita harus menyusulnya ke Jepang?” Tanya Yoochun dingin. “Mempermalukannya di negera asalnya?”

“Hentikan!” Jaejoong berdiri, dia terlihat sangat marah. “Aku tak mau mendengar lagi apapun tentang Nako.” Mereka semua terdiam, menatap Jaejoong yang berdiri. “Tak ada lagi alasanku untuk tetap berada dalam gangster ini!”

***

Teriakan Jaejoong membuat suasana kantin menjadi hening seketika. Semua murid yang duduk di sana kini saling berbisik-bisik, beberapa orang yang tadinya sekedar lewat bahkan menyempatkan diri untuk berdiam menonton keributan gangster terpopuler itu.

“Kau ini kenapa sih? Santai saja. Ayo duduk kembali.” Perintah Yunho saat menyadari semua orang kini memperhatikan mereka.

“Aku tidak perlu lagi duduk semeja dengan kalian berempat. Apa kalian lupa alasanku bergabung dengan kalian?” Jaejoong menatap wajah mereka berempat satu-persatu. Ia tidak keberatan jika Nako pulang ke Jepang. Sama sekali tidak keberatan. Jika Nako pergi, ia bisa keluar dari gangster ini dan ia tak perlu khawatir mereka berempat akan menyakiti Nako lagi.

“Karena anak sialan itu?” tanya Yoochun merendahkan.

“Jaga mulutmu!” Jaejoong melotot marah. Yoochun menyandarkan tubuhnya ke kursi dan melipat tangan dengan santai. “Kau sama sekali tidak berhak menyebut namanya seperti itu!”

“Oh, benarkah? Kupikir dia memang senang dipanggil begitu.”

Jaejoong menggeleng penuh amarah. Ia menendang kaki meja dan setelah itu bermaksud untuk pergi meninggalkan kantin, namun Junsu langsung menarik pergelangan tangannya.

“Kau boleh saja keluar dari gangster ini, hyung. Tapi asal kau tahu, anak Jepang itu belum pergi dan dia masih berada dalam cengkraman kami sampai saat ini.”

“Tapi sebentar lagi dia akan pergi…” ucap Jaejoong marah bercampur kecewa.

“Lantas kenapa? Dia baru akan pergi, belum benar-benar pergi.”

Ada perasaan sesak yang merasuki dadanya. Ia menatap wajah keempat pria yang tampak tak memiliki perasaan. Ia benci pada mereka berempat. Ia ingin secepatnya keluar dari gangster ini. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Mereka berempat seolah dengan sengaja memanfaatkan Nako agar Jaejoong tetap bergabung dalam gangster itu. Betapa mereka amat sangat jahat.

“Kau tentu tidak ingin kan kalau hari ini dia tak bisa pulang karena sepedanya hancur?” tanya Yunho.

“Jangan sentuh benda itu sedikitpun!” seru Jaejoong. Yunho mengangkat alis. “Baiklah, aku akan tetap bergabung dengan kalian.”

***

Hari demi hari berlalu. Nako tidak pernah lagi dikerjai oleh gangster jahat itu. Ia tidak tahu apa alasan mereka jadi mendiaminya seperti itu. Tapi baguslah, jadi orang-orang tidak akan berpikir bahwa Nako pulang ke Jepang karena tidak tahan dikerjai gangster it uterus-terusan. Ya, Nako benar-benar akan pulang. Minggu depan surat kepindahannya selesai, jadi ia akan langsung berangkat. Sebenarnya ia ingin sekali mengucap salam perpisahan untuk Jaejoong. Tapi sayangnya, ia sama sekali tidak punya kesempatan untuk itu.

Setiap hari Nako memperhatikan sikap Jaejoong. Ia tidak berubah. Masih tetap bersikap dingin dan selalu mengacuhkannya. Bahkan setiap kali mereka berlima lewat di depan Nako, mereka sama sekali tidak menganggap keberadaan Nako. Betapa menyakitkannya menjadi orang yang tidak dianggap seperti itu. Tapi apapun yang terjadi, Nako sudah berjanji bahwa ia takkan menangis lagi hanya karena masalah ini. Ia akan tetap tersenyum untuk semua orang.

 “Kau sudah cek semua barang bawaanmu?” tanya Ny. Misuzawa saat mengantar Nako ke bandara.

“Sudah, okaasan. aku sudah memastikan tidak ada yang tertinggal.”

“Baguslah kalau begitu. Jaga dirimu baik-baik ya?” Ny. Misuzawa mencium kening putrinya. Nako hanya mengangguk, lalu berjalan ke depan ayahnya.

“Aku pergi, otousan.”

“Kau sudah tahu rute yang harus kau tempuh ke rumah ojiisan kan?” tanya ayahnya memastikan.
Nako mengangguk sambil tersenyum.

“Berhati-hatilah, ya? Jangan lupa hubungi kami jika kau sudah sampai di Jepang.” Ucap Tn. Misuzawa sambil mengusap rambut Nako.

“Baik, otousan.” Nako mengangguk patuh, lalu ia beralih menghampiri kakaknya. “Gii…” ucap Nako pelan. Gii masih melipat tangannya, ekspresi wajahnya tak bisa dijelaskan. “Kau bisa bebas di rumah. Aku tidak akan mengganggumu lagi.” Lanjut Nako sambil menatap wajah kakaknya.

“Aku pasti akan merindukanmu.” Ucap Gii lembut. Belum pernah selama ini dia bicara pada Nako dengan suara lembut seperti itu. Nako menatap wajah kakaknya yang tampak sedih.

“Aku akan menelponmu setiap hari.” Nako tersenyum lebar. Gii membalas senyuman itu, lalu menarik tubuh adiknya dalam pelukan yang erat. Hangat. Penuh ketulusan. Nako membalas pelukan itu dan memejamkan matanya.

“Jangan lupa ingatkan aku untuk mengerjakan tugas ya?” ucap Gii berbisik.

“Tentu saja. Aku akan selalu mengingatkanmu untuk menyelesaikan tugas.”

Gii melepaskan pelukannya, lalu membiarkan Nako melangkah pergi menaiki pesawat sambil menarik kopernya. Ia melambai pada ketiga wajah yang ia sayangi sebelum akhirnya benar-benar melangkah menaiki tangga pesawat. Namun saat ia akan masuk ke dalam pesawat, ia menoleh sekali lagi. Berharap sosok yang ditunggunya akan datang ke sana dan melepasnya. Tapi pada akhirnya ia sadar, orang yang ditunggunya tidak mungkin datang. Jaejoong bahkan tak ada waktu untuk memikirkannya.

Jadi ia melangkah masuk ke dalam pesawat. Meninggalkan kota yang selamanya takkan pernah ia singgahi lagi. Tentu saja. Karena ia tak ingin mengulangi penderitaannya dengan berada di tengah-tengah orang Korea yang selalu memeda-bedakan status sosialnya.

***

The Gangster (part 12)


Rumah Changmin adalah rumah termegah yang pernah dilihat Jaejoong selama ini. Besar ruang tamunya saja nyaris sama luas dengan lantai bawah panti asuhan Jaejoong. Di rumah yang lebih mirip hotel itu, Changmin hanya sendirian dengan beberapa pelayan. Orang tuanya hanya pulang enam bulan sekali, dan itupun sangat jarang mereka bertemu dengan Changmin. Berada di tengah-tengah anak orang kaya seperti mereka, membuat Jaejoong berpikir betapa ia sangat berbeda. Apa yang membuat anak-anak orang kaya ini sampai tertarik untuk mengajaknya bergabung dalam grup?

“Kelihatannya anak Jepang itu sangat kehilanganmu ya?” ucap Junsu saat mereka berlima duduk di sofa Changmin yang lembut dan empuk. Jaejoong tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya mengangkat bahu menandakan ia tak punya jawaban.

“Aku tidak menyangka kau benar-benar tega membuatnya menangis sampai berlutut seperti itu.” Yunho menyambung. Wajah dinginnya tampak menunjukkan ekspersi kepuasan.

“Itu mudah saja.” Ucap Jaejoong pelan. “Membuatnya menangis, atau mencium kakiku sekalipun.”

“Ehm… hyung, coba aku lihat jas seragam yang kau pakai.” Ucap Changmin. Jaejoong melongo sebentar. Ia pun hanya menuruti perintah Changmin dan segera melepaskan jasnya. Changmin mengambil jas itu dan memandang logo yang tertera di bagian depan. “Dari mana kau dapatkan jas ini?”

“Apa maksudmu?” Jaejoong balik bertanya.

“Aku yakin ini bukan seragam yang diberikan sekolah, karena logonya bukan logo sekolah kita. Ini logo sekolah Jepang.” Ucap Changmin sambil menunjukkan lencana yang menempel di jas itu.

Kini mereka berempat menatap Jaejoong dengan sorot mata menghakimi.

“Aku meminjamnya dari Gii. Dia adalah… kakaknya Misuzawa.” Jawab Jaejoong enteng.

Changmin langsung menjatuhkan jas itu ke lantai dan menginjaknya dengan sengaja. Jaejoong melotot kaget melihat perlakuan Changmin.

“Kembalikan jas itu secepatnya! Kalau kau tidak punya jas seragam, aku bisa meminjamkanmu sebanyak yang kau mau.” Ucap Yunho.

Tubuh Jaejoong gemetar oleh perkataan itu. Apakah mereka berempat tidak sadar siapa yang sudah menyebabkan ia jadi tak punya jas seragam? Apa mereka sudah lupa dengan insiden cat tumpah itu? Saat Jaejoong terkena tumpahan cat, Nako adalah satu-satunya orang yang peduli dengannya dan mau menolongnya. Membantunya membersihkan jas, mengizinkannya menginap, meminjamkan seragam kakaknya. Nako begitu baik walaupun mereka baru saling mengenal.

“Hei, kau dengar aku tidak?” tanya Yunho lagi. Jaejoong hanya mengangguk.

“Jangan pernah meminjam apapun lagi padanya. Mulai hari ini, jika kau butuh sesuatu, katakan saja pada kami. Sebisa mungkin kami akan membantumu.” Suara Yoochun menjadi suara terakhir yang didengar Jaejoong sebelum akhirnya dia pergi ke kamar mandi untuk melampiaskan kekesalannya.

***

Awan mendung lagi-lagi tampak menyelimuti langit. Nako sudah menunggu selama hampir dua jam di depan gerbang panti asuhan itu. Tadi dia sudah menemui ibu panti, dan katanya Jaejoong belum pulang. Jadi demi bertemu dengan Jaejoong, Nako rela menunggu sampai Jaejoong kembali. Ia tahu ia takkan bisa mengajak Jaejoong bicara di sekolah, karena keempat makhluk menyebalkan itu pasti akan selalu membatasi ruang geraknya. Jika ia datang ke panti asuhan ini, ia bisa bicara empat mata dengan Jaejoong. Karena yang ia perlu tahu hanya satu, kenapa Jaejoong bisa bergabung dengan gangster itu.

Hembusan angin mengirim sensasi rasa dingin yang menyusup sampai ke tubuh Nako. Ia menyadari ada seseorang yang berdiri beberapa meter di depannya. Ia mengalihkan pandangannya dari tanah yang ia pijak, menatap sosok pria pucat yang kini menatapnya serius.

“Ada apa kau ke sini?” tanya Jaejoong sambil berjalan mendekat. Nako merasa jantungnya berhenti berdetak saat tubuh Jaejoong hanya selangkah di depannya.

“Aku… aku… aku hanya….”

“Pulanglah. Orang tuamu pasti mencemaskanmu.”

“Tapi, Jaejoong…”

“Oh iya, aku lupa.” Jaejoong merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah seragam sekolah. Ia melemparkan seragam itu tepat ke wajah Nako. “Aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Jadi seragam itu kukembalikan saja. Sampaikan pada Gii bahwa aku sangat berterima kasih.”

Nako tidak bisa mengucapkan apa-apa. Rahangnya terkunci. Ia menatap Jaejoong yang sudah berjalan memasuki gerbang. Jaejoong bahkan tidak menoleh lagi padanya dan terus berjalan memasuki panti asuhan. Nako menggigit bibirnya dan menelan ludah berkali-kali untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia memandangi seragam milik Gii yang kini sudah ada di tangannya. Ia benar-benar tidak percaya Jaejoong akan berubah secepat itu. Pasti keempat makhluk brengsek itu telah mempengaruhi Jaejoong sampai sikap Jaejoong jadi seperti itu. Mereka memang brengsek! Nako lebih memilih dikerjai setiap hari daripada dia harus kehilangan seseorang yang sangat berharga seperti Jaejoong. Dan ia bersumpah bahwa ia takkan memaafkan mereka lagi atas apa yang telah mereka lakukan kali ini.

***

Jaejoong terduduk di belakang pintu kamarnya. Ia merasa air mata memaksa jatuh, tapi ia tak ingin menangisi apapun. Bersikap seperti itu di depan Nako benar-benar membuatnya merasa sebagai orang yang sangat jahat. Ia tahu Nako pasti terluka oleh sikapnya tadi, ia tahu tak seharusnya ia bersikap seperti itu. Tapi ia harus bagaimana lagi? Mana mungkin ia bersikap lembut lagi di depan Nako? Ia tak mau memberi harapan pada Nako untuk bisa berteman dengannya lagi. Karena Jaejoong sadar, ia tak pernah pantas menjadi teman bagi siapapun. Ia hanya orang jahat, dan selamanya akan tetap begitu.

***

Pikiran Nako sudah tidak bisa terfokus lagi pada buku-buku pelajaran di tangannya. Dia meletakkan buku-buku itu ke meja belajar, menaruh semua alat tulis yang sejak tadi dipegangnya. Kini Nako duduk memeluk lutut di atas kasurnya. Dia menatap kosong ke arah seragam Jaejoong yang tergeletak tepat di hadapannya. Seragam yang penuh cat. Jaejoong lupa membawa seragam itu pulang, dan Nako masih menyimpan seragam itu di sana. Waktu itu Jaejoong masih bisa tersenyum padanya, bahkan berada di rumah ini walaupun hanya satu malam. Nako segera mengusap matanya yang mulai basah. Ia belum pernah merasakan kehilangan sampai seperti ini. Sesakit ini.

“Nako?” sebuah suara terdengar memanggil di luar pintu. “Kau sudah tidur?”

“Belum…” jawab Nako pelan. Pintu itupun terbuka. Nako melihat ibunya masuk dan membawakan segelas air putih.

“Kau menangis?” tanya Ny. Misuzawa sambil mengamati wajah putrinya. Nako menggeleng asal. Dia tahu dia takkan bisa membohongi ibunya, tapi dia tetap tidak bisa mengakui begitu saja bahwa ia menangis. Terlebih, ia menangisi sesuatu hal yang tidak akan bisa dipahami ibunya.

“Aku baik-baik saja, okaasan.” Ucap Nako sambil menunjukkan senyum palsu.

“Okaasan tahu kau tidak sedang baik-baik saja. Ceritakan masalahmu pada okaasan, jangan dipendam sendiri.” Ucap Ny. Misuzawa sambil membelai rambut putrinya dengan lembut. Nako merasa tidak ada satupun orang yang bisa ia jadikan tempat bercerita mengenai masalah ini. Ia hanya merasa nyaman saat bercerita pada Jaejoong. Tapi kini, ia justru memiliki masalah dengan Jaejoong. Masalah yang sama sekali tidak dimengertinya. Dan kini ia merasa Jaejoong seolah sengaja menjauhinya. Anak itu tidak pernah bersungguh-sungguh ingin berteman dengannya. Orang Korea memang jahat!

“Aku mau pulang ke Jepang saja.” Ucap Nako kemudian. Ny. Misuzawa langsung melotot kaget.

“Karena teman-teman sekolahmu yang nakal itu?” tebak Ny. Misuzawa. Nako menggeleng kuat-kuat. “Lalu kenapa kau ingin pindah ke Jepang?”

Nako memejamkan matanya sejenak. Pikirannya melayang-layang mengingat wajah dingin Jaejoong dan semua kalimat yang diucapkan Jaejoong padanya. Secepat itu dia berubah, seolah kemarin mereka masih berteman, dan hari ini mereka bermusuhan tanpa alasan yang jelas. Tapi entah bagaimana, Nako tidak merasa bahwa Jaejoong memusuhinya. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik alasannya bergabung dengan gangster itu. Tapi apa? Nako sama sekali tak bisa menebaknya. Dan Jaejoong pun sepertinya tak mau memberitahukan hal itu.

“Aku hanya merasa tempatku bukan di sini, Okaasan. Aku akan merasa lebih baik jika tinggal di Jepang.” Ucap Nako sambil memaksakan bibirnya tersenyum.

“Baiklah, nanti okaasan coba bicarakan degan otousan. Kalau otousan mengizinkan, maka kau boleh pulang ke Jepang.”

“Terima kasih, okaasan.”

Nako tahu keputusannya ini memang terlalu berlebihan. Hanya karena Jaejoong menjauhinya saja, ia langsung ingin pindah sekolah. Tapi di balik semua itu, ia tak bisa membohongi perasaannya sendiri betapa ia sangat tidak nyaman berada di sekolah itu. Ia sudah mencoba bertahan selama hampir dua tahun, dikerjai setiap hari dan dihina oleh mereka semua. Ia bertahan karena perminataan orang tuanya. Tapi saat ini, beban yang dipikulnya bukan hanya hinaan dan caci maki dari anak-anak Korea itu, tapi juga rasa sakit hati yang begitu dalam atas sikap Jaejoong. Namun tetap saja, Nako merasa hatinya tak bisa membenci Jaejoong. Walau sebesar apapun Jaejoong telah melukai perasaannya.

***