Welcome

Selasa, 15 Mei 2012

Unbeatable Heart (translate) part 4

orginal author : yukie23 at http://www.asianfanfics.com

Jaejoong POV

Ketika aku berusia 14 tahun, aku merasa sangat lemah untuk pergi menonton konser… sebuah konser impian. Iseul dan aku mendapat tiket untuk pergi. Sekali waktu itu aku berharap bisa seperti remaja normal. Aku ingin pergi untuk melihat semua penyanyi yang selama ini hanya bisa kutemui dalam mimpi.

Tiga minggu sebelum konser, aku terjatuh. Aku mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja saat menonton konser. Meskipun aku merasa sepertinya penyakit ini ingin menghentikan keinginanku. Mencoba menghentikanku untuk menjadi seseorang seperti yang kuinginkan.

Aku berusaha sebisa mungkin untuk menjadi lebih baik. Tapi setelah seminggu berlalu, aku tahu tak ada harapan lagi. Terutama ketika mereka memberitahuku bahwa aku butuh transplantasi tulang belakang lagi. Aku ingat aku pernah meminta, tak perlu transplantasi itu, tapi mereka memaksa.
 
Setelah aku sedikit tenang, Iseul menghentikan kesedihanku.

“Hey…” katanya riang.

“Hai.” Aku membalas pelan.

Kami berdiri di sana dalam kebisuan yang sunyi, kemudian aku berkata. “Bersenang-senanglah untukku, ya?”

“Apa kau marah?”

“Karena tak bisa pergi ke sana?” tanyaku. Dia mengangguk.

“Ya.” Ucapku. “Aku marah pada diriku sendiri… pada dunia… marah karena aku tak bisa menjalani kehidupan yang normal.”

“Jika kau ingin marah, marahlah pada penyakitmu. Ini bukan kesalahanmu, ini bukan kesalahan dunia.” Katanya.

“Ini salahku, kalau saja aku tidak serapuh ini…”

“Kau tidak rapuh.” Dia memotong ucapanku. “Jujur saja, jika aku menjadi dirimu, Jaejoong, mungkin sudah lama aku menyerah dengan keadaan ini.”

Aku mengerti sekarang, bahwa dia juga lelah. Terutama, karena harus terus menjagaku, ketika aku harus belajar menghadapi kematian. Dia sering menyalahkan dirinya karena terlalu lemah, lebih lemah dariku. Iseul memiliki banyak alasan untuk melakukannya. Untuk menyalahkan dirinya.

Dia tidak pernah pergi ke konser itu. Di hari yang sama, dia mendonorkan tulang belakangnya padaku.
 
Aku selalu marah, marah karena aku tak bisa hidup menggunakan tubuhku sendiri. Sebuah kehidupan normal; bisa bersenang-senang, tersenyum… tanpa harus khawatir dengan kesehatanku yang buruk.
 
Aku tidak pernah menemukan, bahwa dia juga merasa marah setiap malam. Tapi dia memikirkan hal yang sama. Bukan karena penyakit bodoh… tapi karena aku.

Besok Iseul akan berhadapan dengan hakim. Akhirnya kasus ini dibawa ke pengadilan. Aku bisa mengerti kemarahannya, dan aku cemas kalau dia akan mengakhiri kedekatan kami.

Jadi aku berpikir untuk melakukan sesuatu untuknya. Aku tidak ingin datang sebagai provokator, tapi aku rasa leher yang pegal karena stress akan bagus untuknya.

Yunho POV

“Hey.” Ucapku, berjalan memasuki ruang tamu tempatnya mengerjakan PR.

“Hai.” Balasnya. “Apa kau lapar? Aku akan membuatkan makan malam—“

“Aku bisa menyiapkannya sendiri, Iseul.”

“Tapi… aku harus membayar ibumu dan kau atas semua tumpangan ini.” Katanya lembut, sambil menggigit bibirnya.

“Percayalah, semua yang kau bersihkan sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingat kapan terakhir kali ibuku membersihkan meja.” Ucapku. “Baiklah, aku ingin menanyakan sesuatu. Apa kau punya rencana untuk hari ini?”

Dia menatapku kosong. “Tidak.” Katanya. “Apa aku harus punya rencana?”

Sebelum aku membuka mulutku untuk bicara, suara teriakan ibuku menggema di udara. “Kenapa kalian berdua tidak berkencan saja?! Itu pasti akan jadi sangat manis! Kalian sama-sama tak ada pekerjaan.”

Terima kasih, ibu. Terima kasih banyak. Sepertinya aku tak perlu lagi bicara padanya untuk menyampaikan ajakan itu. Tapi dengan cara yang lebih mengerikan. Yeah, bu, kau punya cara sendiri dalam kalimatmu… untuk membuatku malu seperti ini!

“Umm…” ucap Iseul tak nyaman.

“Jangan malu, sayang! Jika kau tak suka puteraku seperti itu, dia tidak akan memaksamu. Aku selalu berpikir dia menyimpan banyak mis—“ dengan cepat aku memotongnya.

“Ibu!”

“Maaf, sayang, tapi itulah kenyataannya. Kau tidak terlalu bersinar, atau terlalu baik dari teman-temanmu… maksudku, kau begitu menarik dan sempurna.”

“Ibu… sudahlah.” Ucapku dengan suara parau. Dia menatapku. Tatapannya mengingatkanku utuk tidak menggunakan nada itu padanya lagi. Itu membuatku grogi.”

“Tidak apa-apa.” Ucap Iseul. “Aku tidak keberatan untuk keluar dengan Yunho.”

“Sungguh?!!” aku dan ibuku berkata dengan keras. Dia menutup mulutnya untuk menyembunyikan senyum yang tiba-tiba saja membuatku malu. Dia mengangguk untuk menjawab pertanyaan kami.

“Yes!” ucap ibuku, memberinya ciuman jarak jauh. Aku menatapnya. Sungguh? Itu sesuatu yang seharusnya aku lakukan sendiri. Ada apa dengan wanita ini? Aku harus memperkenalkannya pada ibu-ibu lain seusianya. Mungkin dia akan belajar sesuatu… tentang bagaimana menjadi lebih normal.

Aku terlalu sibuk memberi peringatan pada ibuku untuk melihat Iseul tertawa. Aku memberinya tatapan polos. “Kau kira ini lucu?” tanyaku.

“Ibumu penuh semangat.” Jawabnya singkat.

“Kau tidak menjawab pertanyaanku.”

“Ya, kurasa ini lucu.” Ucapnya sambil tersenyum padaku… dengan suara manisnya… itu sungguh melelehkan hatiku.

“Oh… meleleh!” ucap ibuku keras.

Aku tidak mengerti kenapa ibuku selalu bisa menjadi teman. Sungguh.

Aku menatapnya, kehabisan kata-kata. Setelah keheningan yang canggung, dia berkata. “Kita jadi pergi atau tidak?”

“Oh..yeah.” ucapku. Aku segera mengambil mantelku dan memberitahu ibuku bahwa kami akan segera pulang.

“Ok!” ucapnya saat kami pergi. “Pastikan kalian kembali sebelum gelap atau aku kira kalian akan tetap berada di luar dan.. kau tahu…”

“Bu! Aku mengerti!” Sahutku, menutup pintu rapat-rapat.

Aku melihat sekeliling untuk melihat Iseul menengadah menatap langit. Dia membuka telapak tangannya untuk menadah salju yang turun menggulir dari langit. Dia menatapnya, memperhatikan salju itu mencair di tangannya. Aku melihat butir tangis mengalir di wajahnya, jatuh perlahan.

“Iseul?” tergurku terkejut.

Dia menoleh dan menatapku, matanya memerah dan sendu. “Aku membunuh bulir salju, Yunho.” Katanya.
Aku menatapnya dan berjalan mendekat, memeluk tubuhnya. Dia mulai menangis sedih, bahkan lebih buruk dibandingkan tangis yang aku lihat sebelumnya. Dia melemaskan tubuhnya, masih meremas bahuku. Aku merasa lututku disentuh kakinya, menjaganya di pelukanku, seperti anak kecil… anak kecil yang baru mengetahui bahwa tak ada yang abadi di dunia ini, kecuali satu hal. Kematian.

Seberapa sulit mengambil keputusan seperti ini? Seberapa sulit keadaan ini bagi mereka? Bagi Iseul untuk memutuskan ini, dan bagi Jaejoong untuk tidak membencinya. Seberapa berat ini baginya? Saat mengetahui saudaramu menolak untuk membantumu. Semua orang pasti akan langsung membencinya, kan? Tapi Jaejoong… bagi Jaejoong, Iseul bukan hanya saudaranya, tapi dia juga belahan jiwanya… dia satu-satunya alasan, satu-satunya alasan kenapa Jaejoong masih berjuang hidup begitu keras di tahun-tahun sulit ini.

Aku pernah bertanya padanya saat tak ada ayah dan ibunya. “Apa kau membenci Iseul?”

“Ba..gai..m..ana.. bi..sa?” tanyanya. “Dia le..bih d..ari… be..lah..an ji..wa, le..bih da..rii sau..da.. ra.. dia sa..tu-sat..uunya ala..san..ku ber..ju..ang mela…wa..n peny..ak..kit in..ni. Hany..nya un..tuk meli..hat. le..bih la..ma la…gii. Un..t..uk m..eli..hat.. seny..um..nyah… Sau..da..ra.ku..”

Aku menatapnya, kehilangan kata-kata. Iseul merasakan efeknya. Dia bahagia, walau tidak sepenuhnya. Betapa bodohnya aku jika aku berpikir aku bisa membantunya menangani masalah ini? Bahwa aku bisa menghentikannya melakukan sesuatu yang tak dia inginkan? Sementara Kenyataannya… dia tersiksa dengan keputusannya sejak awal.

Setelah beberapa saat, dia mulai tenang. “Maaf.” Katanya. Dia mengulangi kata itu lagi dan lagi. Aku hanya tersenyum padanya dan menundukkan kepalaku.

“Tidak apa-apa, Iseul.” Jawabku. “Ayo kita bersenang-senang. Mau nonton film?”

Dia mengangguk dan tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya dan menggandeng tangannya. Kami saling perpegangan tangan sepanjang jalan… sampai kami tiba di rumah. Aku rasa aku sudah terlalu lama memegang tangan Iseul, aku bermaksud untuk melepaskannya, tapi dia memegang tanganku lebih erat.

Sejauh ini aku cukup menikmatinya. Itu cukup meyakinkanku, bahwa Iseul membutuhkanku untuk menjaganya. Dia butuh seseorang di sampingnya, seseorang yang tak menghakiminya, dan akan selalu menyayanginya apapun yang terjadi. Karena walaupun kami tahu Jaejoong masih menyayangi Iseul, baik aku maupun Iseul tahu bahwa Jaejoong menyetujui keputusan Iseul.

Chang Su POV

Salju mulai turun begitu banyak. Itu terlihat seperti menghujaniku kadang-kadang. Tidak, bukan salju yang terasa menekan pikiranku… ini situasiku. Kadang-kadang aku merasa sepertinya ini terlalu rumit untuk kutangani. Untuk berusaha memainkan dua peran… suami yang mendukung, dan ayah yang pengertian.

Aku menatap lembaran kertas di tanganku. Aku ingat kertas ini. Jaejoong menulisnya karena ia percaya pada Santa Clause sepuluh tahun yang lalu. Daftar harapannya sederhana, sesederhana anak kecil, hanya satu hal yang… tidak terlalu sederhana. Aku menatap kertas itu dan mulai membacanya dalam hati.

Dear Santa Claus,

Tahun ini, aku hanya ingin satu hal. Aku harap kau bisa mengabulkannya, tahun ini dan setiap tahun yang akan datang.
Harapanku :
Aku ingin Iseul memaafkanku karena aku terlalu sering mencari perhatian ayah dan ibu. Kumohon, Santa. Terima kasih. Aku tidak tahu apakah dia marah, tapi aku harap dia akan memaafkanku kalau dia marah.

Salam,
Kim Jaejoong

Aku tidak yakin Iseul sudah membacanya. Aku bahkan ragu apakah Jaejoong ingat dia pernah menulis ini. Mungkin dia ingat.

Aku menarik napas panjang dan meregangkan tubuh. Rumah terasa sepi akhir-akhir ini tanpa Iseul. Aku rindu puteriku. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bulan depan. Tanggal pengadilan masih satu bulan lagi dari sekarang. Dan itu akan menjadi bulan penuh cobaan. Satu bulan… aku yakin takkan ada satupun di antara kami yang sudah siap. Satu bulan, itu akan membawa keluargaku dalam situasi yang semakin sulit.

Aku mulai menaiki tangga. Aku ingin melihat kamar Iseul. Aku sudah membiarkannya lama tak tersentuh, tapi aku ingin membayangkan puteriku ada di sana. Puteraku di kamarnya. Istriku membuat cemilan. Keluarga kami bersama, tanpa kecemasan. Aku ingin membayangkan kehidupan yang lain, di mana penyakit Jaejoong tak pernah ada.

Ketika aku sampai di tangga teratas, aku mendengar suara orang mengendap. Aku mengikuti suara itu sampai ke kamar Iseul. Aku berdiri di luar dan mendengarkan istriku menangis keras. Aku duduk di depan pintu dan menempelkan tanganku ke daun pintu.

Soo Jin memutari kamar, seolah sedang memeriksanya. Kemudian aku mendengar suara piano yang biasa dimainkan Iseul. Aku tersenyum. Soo Jin mulai memainkan nada itu dengan pelan. Aku menutup mata dan membiarkan pikiranku terbawa oleh lagu itu. Satu dengan putera dan puteriku di sampingku.
 
Setelah selesai, Soo Jin berjalan ke pintu dan membukanya untuk menemuiku.

“Hey.” Ucapku.

“Hai.” Dia menjawab.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“Mempersiapkan kamarnya.”

“Sungguh? Untuk apa?”

“Untuk dia jika dia pulang ke rumah.” Soo Jin menjawab. Aku mengangguk dan tersenyum.

“Masih butuh beberapa waktu.”

“Ya, tapi… aku ingin dia segera kembali.”

Aku mengangguk. “Aku juga akan mempersiapkan kamar Jaejoong, untuk nanti kalau dia pulang juga.”
Soo Jin mengangguk padaku. Aku beranjak ke kamar Jaejoong. Aku tersenyum meskipun ada air mata di wajahku. “Soo Jin!” panggilku. “Di sini sangat bersih, tak perlu ada yang dibereskan.”

“Baiklah.” Jawab Soo Jin. “Jaejoong selalu menyimpan barang-barangnya ke tempat semula setelah digunakan.”

“Yeah.” Ucapku. Aku merapatkan tubuh ke tembok. Semakin banyak air mata di wajahku.

Kami tahu. Kami berdua tahu. Alasan kenapa kamar Jaejoong selalu rapi adalah karena dia tidak mau kami yang merapikan kamarnya. Karena setiap kali dia keluar dari kamar… dia tidak yakin apakah dia akan kembali lagi.

2 komentar: