Jaejoong POV
Ketika aku
berusia 14 tahun, aku merasa sangat lemah untuk pergi menonton konser… sebuah
konser impian. Iseul dan aku mendapat tiket untuk pergi. Sekali waktu itu aku
berharap bisa seperti remaja normal. Aku ingin pergi untuk melihat semua
penyanyi yang selama ini hanya bisa kutemui dalam mimpi.
Tiga minggu
sebelum konser, aku terjatuh. Aku mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja saat
menonton konser. Meskipun aku merasa sepertinya penyakit ini ingin menghentikan
keinginanku. Mencoba menghentikanku untuk menjadi seseorang seperti yang
kuinginkan.
Aku berusaha
sebisa mungkin untuk menjadi lebih baik. Tapi setelah seminggu berlalu, aku
tahu tak ada harapan lagi. Terutama ketika mereka memberitahuku bahwa aku butuh
transplantasi tulang belakang lagi. Aku ingat aku pernah meminta, tak perlu
transplantasi itu, tapi mereka memaksa.
Setelah aku sedikit tenang, Iseul menghentikan kesedihanku.
“Hey…” katanya
riang.
“Hai.” Aku
membalas pelan.
Kami berdiri di
sana dalam kebisuan yang sunyi, kemudian aku berkata. “Bersenang-senanglah
untukku, ya?”
“Apa kau marah?”
“Karena tak bisa
pergi ke sana?” tanyaku. Dia mengangguk.
“Ya.” Ucapku.
“Aku marah pada diriku sendiri… pada dunia… marah karena aku tak bisa menjalani
kehidupan yang normal.”
“Jika kau ingin
marah, marahlah pada penyakitmu. Ini bukan kesalahanmu, ini bukan kesalahan
dunia.” Katanya.
“Ini salahku,
kalau saja aku tidak serapuh ini…”
“Kau tidak
rapuh.” Dia memotong ucapanku. “Jujur saja, jika aku menjadi dirimu, Jaejoong,
mungkin sudah lama aku menyerah dengan keadaan ini.”
Aku mengerti
sekarang, bahwa dia juga lelah. Terutama, karena harus terus menjagaku, ketika aku
harus belajar menghadapi kematian. Dia sering menyalahkan dirinya karena
terlalu lemah, lebih lemah dariku. Iseul memiliki banyak alasan untuk
melakukannya. Untuk menyalahkan dirinya.
Dia tidak pernah
pergi ke konser itu. Di hari yang sama, dia mendonorkan tulang belakangnya
padaku.
Aku selalu marah, marah karena aku tak bisa hidup menggunakan tubuhku sendiri.
Sebuah kehidupan normal; bisa bersenang-senang, tersenyum… tanpa harus khawatir
dengan kesehatanku yang buruk.
Aku tidak pernah menemukan, bahwa dia juga merasa marah setiap malam. Tapi dia
memikirkan hal yang sama. Bukan karena penyakit bodoh… tapi karena aku.
Besok Iseul akan
berhadapan dengan hakim. Akhirnya kasus ini dibawa ke pengadilan. Aku bisa
mengerti kemarahannya, dan aku cemas kalau dia akan mengakhiri kedekatan kami.
Jadi aku
berpikir untuk melakukan sesuatu untuknya. Aku tidak ingin datang sebagai
provokator, tapi aku rasa leher yang pegal karena stress akan bagus untuknya.
Yunho POV
“Hey.” Ucapku,
berjalan memasuki ruang tamu tempatnya mengerjakan PR.
“Hai.” Balasnya.
“Apa kau lapar? Aku akan membuatkan makan malam—“
“Aku bisa
menyiapkannya sendiri, Iseul.”
“Tapi… aku harus
membayar ibumu dan kau atas semua tumpangan ini.” Katanya lembut, sambil
menggigit bibirnya.
“Percayalah,
semua yang kau bersihkan sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingat kapan terakhir
kali ibuku membersihkan meja.” Ucapku. “Baiklah, aku ingin menanyakan sesuatu.
Apa kau punya rencana untuk hari ini?”
Dia menatapku
kosong. “Tidak.” Katanya. “Apa aku harus punya rencana?”
Sebelum aku
membuka mulutku untuk bicara, suara teriakan ibuku menggema di udara. “Kenapa
kalian berdua tidak berkencan saja?! Itu pasti akan jadi sangat manis! Kalian
sama-sama tak ada pekerjaan.”
Terima kasih,
ibu. Terima kasih banyak. Sepertinya aku tak perlu lagi bicara padanya untuk
menyampaikan ajakan itu. Tapi dengan cara yang lebih mengerikan. Yeah, bu, kau
punya cara sendiri dalam kalimatmu… untuk membuatku malu seperti ini!
“Umm…” ucap
Iseul tak nyaman.
“Jangan malu,
sayang! Jika kau tak suka puteraku seperti itu, dia tidak akan memaksamu. Aku
selalu berpikir dia menyimpan banyak mis—“ dengan cepat aku memotongnya.
“Ibu!”
“Maaf, sayang,
tapi itulah kenyataannya. Kau tidak terlalu bersinar, atau terlalu baik dari
teman-temanmu… maksudku, kau begitu menarik dan sempurna.”
“Ibu… sudahlah.”
Ucapku dengan suara parau. Dia menatapku. Tatapannya mengingatkanku utuk tidak
menggunakan nada itu padanya lagi. Itu membuatku grogi.”
“Tidak apa-apa.”
Ucap Iseul. “Aku tidak keberatan untuk keluar dengan Yunho.”
“Sungguh?!!” aku
dan ibuku berkata dengan keras. Dia menutup mulutnya untuk menyembunyikan
senyum yang tiba-tiba saja membuatku malu. Dia mengangguk untuk menjawab
pertanyaan kami.
“Yes!” ucap
ibuku, memberinya ciuman jarak jauh. Aku menatapnya. Sungguh? Itu sesuatu yang
seharusnya aku lakukan sendiri. Ada apa dengan wanita ini? Aku harus
memperkenalkannya pada ibu-ibu lain seusianya. Mungkin dia akan belajar
sesuatu… tentang bagaimana menjadi lebih normal.
Aku terlalu
sibuk memberi peringatan pada ibuku untuk melihat Iseul tertawa. Aku memberinya
tatapan polos. “Kau kira ini lucu?” tanyaku.
“Ibumu penuh
semangat.” Jawabnya singkat.
“Kau tidak
menjawab pertanyaanku.”
“Ya, kurasa ini
lucu.” Ucapnya sambil tersenyum padaku… dengan suara manisnya… itu sungguh
melelehkan hatiku.
“Oh… meleleh!”
ucap ibuku keras.
Aku tidak
mengerti kenapa ibuku selalu bisa menjadi teman. Sungguh.
Aku menatapnya,
kehabisan kata-kata. Setelah keheningan yang canggung, dia berkata. “Kita jadi
pergi atau tidak?”
“Oh..yeah.”
ucapku. Aku segera mengambil mantelku dan memberitahu ibuku bahwa kami akan
segera pulang.
“Ok!” ucapnya
saat kami pergi. “Pastikan kalian kembali sebelum gelap atau aku kira kalian
akan tetap berada di luar dan.. kau tahu…”
“Bu! Aku
mengerti!” Sahutku, menutup pintu rapat-rapat.
Aku melihat
sekeliling untuk melihat Iseul menengadah menatap langit. Dia membuka telapak
tangannya untuk menadah salju yang turun menggulir dari langit. Dia menatapnya,
memperhatikan salju itu mencair di tangannya. Aku melihat butir tangis mengalir
di wajahnya, jatuh perlahan.
“Iseul?”
tergurku terkejut.
Dia menoleh dan
menatapku, matanya memerah dan sendu. “Aku membunuh bulir salju, Yunho.”
Katanya.
Aku menatapnya
dan berjalan mendekat, memeluk tubuhnya. Dia mulai menangis sedih, bahkan lebih
buruk dibandingkan tangis yang aku lihat sebelumnya. Dia melemaskan tubuhnya,
masih meremas bahuku. Aku merasa lututku disentuh kakinya, menjaganya di
pelukanku, seperti anak kecil… anak kecil yang baru mengetahui bahwa tak ada yang
abadi di dunia ini, kecuali satu hal. Kematian.
Seberapa sulit
mengambil keputusan seperti ini? Seberapa sulit keadaan ini bagi mereka? Bagi
Iseul untuk memutuskan ini, dan bagi Jaejoong untuk tidak membencinya. Seberapa
berat ini baginya? Saat mengetahui saudaramu menolak untuk membantumu. Semua
orang pasti akan langsung membencinya, kan? Tapi Jaejoong… bagi Jaejoong, Iseul
bukan hanya saudaranya, tapi dia juga belahan jiwanya… dia satu-satunya alasan,
satu-satunya alasan kenapa Jaejoong masih berjuang hidup begitu keras di
tahun-tahun sulit ini.
Aku pernah
bertanya padanya saat tak ada ayah dan ibunya. “Apa kau membenci Iseul?”
“Ba..gai..m..ana..
bi..sa?” tanyanya. “Dia le..bih d..ari… be..lah..an ji..wa, le..bih da..rii
sau..da.. ra.. dia sa..tu-sat..uunya ala..san..ku ber..ju..ang mela…wa..n
peny..ak..kit in..ni. Hany..nya un..tuk meli..hat. le..bih la..ma la…gii.
Un..t..uk m..eli..hat.. seny..um..nyah… Sau..da..ra.ku..”
Aku menatapnya,
kehilangan kata-kata. Iseul merasakan efeknya. Dia bahagia, walau tidak
sepenuhnya. Betapa bodohnya aku jika aku berpikir aku bisa membantunya
menangani masalah ini? Bahwa aku bisa menghentikannya melakukan sesuatu yang
tak dia inginkan? Sementara Kenyataannya… dia tersiksa dengan keputusannya
sejak awal.
Setelah beberapa
saat, dia mulai tenang. “Maaf.” Katanya. Dia mengulangi kata itu lagi dan lagi.
Aku hanya tersenyum padanya dan menundukkan kepalaku.
“Tidak apa-apa,
Iseul.” Jawabku. “Ayo kita bersenang-senang. Mau nonton film?”
Dia mengangguk
dan tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya dan menggandeng tangannya. Kami
saling perpegangan tangan sepanjang jalan… sampai kami tiba di rumah. Aku rasa
aku sudah terlalu lama memegang tangan Iseul, aku bermaksud untuk
melepaskannya, tapi dia memegang tanganku lebih erat.
Sejauh ini aku
cukup menikmatinya. Itu cukup meyakinkanku, bahwa Iseul membutuhkanku untuk
menjaganya. Dia butuh seseorang di sampingnya, seseorang yang tak
menghakiminya, dan akan selalu menyayanginya apapun yang terjadi. Karena
walaupun kami tahu Jaejoong masih menyayangi Iseul, baik aku maupun Iseul tahu
bahwa Jaejoong menyetujui keputusan Iseul.
Chang Su POV
Salju mulai
turun begitu banyak. Itu terlihat seperti menghujaniku kadang-kadang. Tidak,
bukan salju yang terasa menekan pikiranku… ini situasiku. Kadang-kadang aku
merasa sepertinya ini terlalu rumit untuk kutangani. Untuk berusaha memainkan
dua peran… suami yang mendukung, dan ayah yang pengertian.
Aku menatap
lembaran kertas di tanganku. Aku ingat kertas ini. Jaejoong menulisnya karena
ia percaya pada Santa Clause sepuluh tahun yang lalu. Daftar harapannya
sederhana, sesederhana anak kecil, hanya satu hal yang… tidak terlalu
sederhana. Aku menatap kertas itu dan mulai membacanya dalam hati.
Dear Santa
Claus,
Tahun ini, aku
hanya ingin satu hal. Aku harap kau bisa mengabulkannya, tahun ini dan setiap
tahun yang akan datang.
Harapanku :
Aku ingin Iseul
memaafkanku karena aku terlalu sering mencari perhatian ayah dan ibu. Kumohon,
Santa. Terima kasih. Aku tidak tahu apakah dia marah, tapi aku harap dia akan
memaafkanku kalau dia marah.
Salam,
Kim Jaejoong
Kim Jaejoong
Aku tidak yakin
Iseul sudah membacanya. Aku bahkan ragu apakah Jaejoong ingat dia pernah
menulis ini. Mungkin dia ingat.
Aku menarik
napas panjang dan meregangkan tubuh. Rumah terasa sepi akhir-akhir ini tanpa
Iseul. Aku rindu puteriku. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi
bulan depan. Tanggal pengadilan masih satu bulan lagi dari sekarang. Dan itu
akan menjadi bulan penuh cobaan. Satu bulan… aku yakin takkan ada satupun di
antara kami yang sudah siap. Satu bulan, itu akan membawa keluargaku dalam
situasi yang semakin sulit.
Aku mulai
menaiki tangga. Aku ingin melihat kamar Iseul. Aku sudah membiarkannya lama tak
tersentuh, tapi aku ingin membayangkan puteriku ada di sana. Puteraku di
kamarnya. Istriku membuat cemilan. Keluarga kami bersama, tanpa kecemasan. Aku
ingin membayangkan kehidupan yang lain, di mana penyakit Jaejoong tak pernah
ada.
Ketika aku
sampai di tangga teratas, aku mendengar suara orang mengendap. Aku mengikuti
suara itu sampai ke kamar Iseul. Aku berdiri di luar dan mendengarkan istriku
menangis keras. Aku duduk di depan pintu dan menempelkan tanganku ke daun
pintu.
Soo Jin memutari
kamar, seolah sedang memeriksanya. Kemudian aku mendengar suara piano yang
biasa dimainkan Iseul. Aku tersenyum. Soo Jin mulai memainkan nada itu dengan
pelan. Aku menutup mata dan membiarkan pikiranku terbawa oleh lagu itu. Satu
dengan putera dan puteriku di sampingku.
Setelah selesai, Soo Jin berjalan ke pintu dan membukanya untuk menemuiku.
“Hey.” Ucapku.
“Hai.” Dia
menjawab.
“Apa yang kau
lakukan?” tanyaku.
“Mempersiapkan
kamarnya.”
“Sungguh? Untuk
apa?”
“Untuk dia jika
dia pulang ke rumah.” Soo Jin menjawab. Aku mengangguk dan tersenyum.
“Masih butuh
beberapa waktu.”
“Ya, tapi… aku
ingin dia segera kembali.”
Aku mengangguk.
“Aku juga akan mempersiapkan kamar Jaejoong, untuk nanti kalau dia pulang
juga.”
Soo Jin mengangguk padaku. Aku beranjak ke kamar Jaejoong. Aku tersenyum meskipun ada air mata di wajahku. “Soo Jin!” panggilku. “Di sini sangat bersih, tak perlu ada yang dibereskan.”
Soo Jin mengangguk padaku. Aku beranjak ke kamar Jaejoong. Aku tersenyum meskipun ada air mata di wajahku. “Soo Jin!” panggilku. “Di sini sangat bersih, tak perlu ada yang dibereskan.”
“Baiklah.” Jawab
Soo Jin. “Jaejoong selalu menyimpan barang-barangnya ke tempat semula setelah
digunakan.”
“Yeah.” Ucapku.
Aku merapatkan tubuh ke tembok. Semakin banyak air mata di wajahku.
Kami tahu. Kami
berdua tahu. Alasan kenapa kamar Jaejoong selalu rapi adalah karena dia tidak
mau kami yang merapikan kamarnya. Karena setiap kali dia keluar dari kamar… dia
tidak yakin apakah dia akan kembali lagi.
nice story..
BalasHapusaku sampai nangis baca ini :')
sama :')
Hapussuka banget sama ceritanya makanya aku post :)