Welcome

Selasa, 15 Mei 2012

Unbeatable Heart (translate) part 5

orginal author : yukie23 at http://www.asianfanfics.com


Iseul POV

Aku rindu kamarku. Aku rindur rumahku. Aku rindu keluargaku.

Dan lebih dari apapun… aku rindu saudaraku.

Aku menatap ke luar jendela, memandangi salju menjatuhi kaca.

“Kim Iseul! Perhatikan ke sini!” ucap Pak Guru.

Aku memalingkan wajah. Aku sudah bisa mendapat peringatan itu, teman-teman sekelasku memandangku dengan tatapan mengejek. Aku tidak mempedulikan mereka dan hanya berkonsentrasi pada pelajaran. Aku tahu aku terlihat sedikit menyedihkan, selalu itu yang diucapkan orang-orang yang tak pernah menghakimiku. Sejauh ini, penampilan itu tidak membuatku merasa lebih baik.

Aku bisa tidak peduli pada cuaca, ataupun jika dunia membenciku atau mencintaiku. Satu-satunya yang aku pedulikan saat ini, hanya tentang saudaraku.

Ketika bel istirahat berbunyi, aku beranjak dengan cepat, pergi ke bawah pohon. Di sana, tak kan ada yang menggangguku. Ketika aku berjalan ke pintu, aku mendengar suara langkah seseorang. Aku mendengar suara di belakangku ketika aku menatap makan siangku jatuh ke lantai.

“Maaf…” aku mendengar pria yang baru saja menabrakku, kecuali, suaranya tidak terdengar begitu bersalah. Aku menggigit bibirku dan menatap makanan yang sudah disiapkan Yunho untukku pagi ini.

“Kenapa kau meminta maaf?” aku mendengar seseorang yang juga teman sekelasku berkata. “Dia masih menyempatkan diri melamun sementara saudaranya hampir mati di rumah sakit. Jika ada seseorang yang harus minta maaf, dialah orangnya.”

“Tinggalkan dia sendiri!” aku mendengar orang lain berucap. “Kau kira kau siapa? Beraninya menghakimi seperti itu? Apa kau mengerti apa yang dilakukannya? Jangan bertingkah seolah kau tahu apa yang sedang terjadi. Tidak ada satupun dari kita yang tahu persis kejadiannya.”

“Kita tak perlu tahu.” Gadis lain membalas. “Kita hanya perlu melihat kenyataan bahwa ibunya tidak mengakuinya dan dia tak bisa bertemu saudaranya lagi. Jaejoong pasti membencinya atas apa yang dia lakukan.”

Aku merasa air mataku jatuh ke lantai saat aku berusaha membereskan makan siang yang sudah dibuatkan Yunho. Aku tidak keberatan jika mereka membenciku. Tapi rasanya begitu sakit saat mereka mengatakan bahwa Jaejoong membenciku. Karena sejauh apapun aku meyakinkan diriku… aku tahu… apa yang mereka katakan itu benar.

Ketika kedua orang itu terus berdebat di belakangku, aku melihat seseorang menolongku. Aku menengadah untuk melihat pria yang sama yang membantuku berdiri. Dia memandangku penuh pengertian dan berkata. “Ibuku selalu membuatkan sandwich lebih jika kau mau.” Dia menatapku. “Pasti sulit bagimu untuk membuat makanan itu, maaf.”

Aku mengusap wajahku, memastikan bahwa tak ada air mata lagi di sana. Aku tersenyum padanya dengan tenang. “Tak apa-apa.” Ucapku. Ya, tak apa-apa jika kau menabrakku. Tak apa-apa jika kau membenciku. Aku tidak peduli, aku tidak peduli semua itu. Asalkan kau tidak membencinya. Jangan membenci Jaejoong, dia tidak bersalah atas semua ini dan tidak akan pernah bisa disalahkan.

Ketika aku sudah mengumpulkan semua makanan yang terjatuh, aku mendengar suara langkah di belakangku. Tiba-tiba saja ada tangan kekar yang menyentuhku. Aku menoleh untuk memandang Yunho. Dia mulai menepuk bajuku untuk membersihkan sedikit debu di sana. “Ayo.” Katanya, sambil menggandeng tanganku. “Kita pergi untuk makan bersama.”

“Baiklah.” Ucapku. Dia meraih kotak bekal yang berisi sisa bekal tumpah yang sudah susah payah dibuatkannya untukku. Aku mencoba menahan kotak itu tetap di tanganku.

“Berikan padaku, aku akan menggantinya.”

Aku mengelus kepalaku sendiri. “Aku ingin makan yang ini saja.”

Dia menatapku. “Itu bahaya, Iseul!” ucapnya keras. Kebisuan yang tiba-tiba, terasa menyelubungi seisi kelas. “Aku tahu ini akan terjadi! Aku mengetahuinya! Kau kira aku tidak melihatnya di wajahmu? Hari-hari kau pulang dalam keadaan basah, atau dengan telur di seragammu. Kau kira aku tidak membuktikan sendiri bagaimana semua orang merasa mereka benar-benar mengenalmu? Mereka merasa mengetahui apa yang Jaejoong pikirkan tentangmu. Mereka tidak mengerti serumit apa hidupmu… atau seberapa rumit perasaan sayang itu.” Dia menarik napas lelah. “Jika kau ingin tetap memakannya, tak masalah, tapi kau harus ikut denganku.”

“Ke mana?” tanyaku.

“Menemui Jaejoong. Dia tak mau berhenti menanyakanmu, karena jika kau ingin tahu… dia tidak membencimu. Dia merindukanmu… sangat.” Ucapnya. Aku menatapnya, tak yakin apa yang harus dilakukan. Dia merebut kotak bekal dari tanganku, mencengkram tanganku dengan keras, dan membawaku keluar dari kelas.

“Maaf…” aku memotong ketika kami sudah sampai di tangga.

Dia berhenti. “Maaf? Maaf untuk apa? Apa yang telah kau lakukan?” tanyanya.

“A-aku menjatuhkan makan siang yang sudah kau buatkan untukku…” sesalku, tak yakin dengan kata-kata itu.

Yunho menatapku, dia tampak tak percaya. Dia pun menarik napas pelan, melepaskan tangannya. Aku menunggu dengan tegang saat dia membalikkan badan dan mulai beranjak lagi. Tapi tiba-tiba dia berhenti dan menatapku. Dia menggapaikan tangannya di kepalaku dan menariku mendekat padanya. Lalu dia mencium keningku dengan hangat. “Kau adalah gadis paling polos yang pernah kutemui.”

Aku menatapnya dan tidak tahu apa yang harus kukatakan. Wajahnya membentangkan senyuman. “Kau harus melihat wajahmu.” Ucapnya. Lalu dia menggandeng tanganku lagi dan menarikku di belakangnya.

“Ayo, kau tak boleh terlambat. Kita harus sampai di sana sebelum ibumu datang.”

Aku tersenyum sambil mengikutinya. Saudaraku. Aku akan menemui saudaraku.

Jaejoong POV

Aku menatap ponsel di tanganku. Aku mencoba menekan nomor yang benar, berusaha menelpon Yunho. Aku ingin bertemu Iseul. Aku ingin melihat wajah bahagianya di sampingku, aku butuh… seseorang yang bisa membuatku tetap hidup.

Aku gagal menekan nomor yang benar di kesempatan pertama. Tanganku kaku dan aku tetap mencoba menekan nomor untuk yang ke dua kalinya dengan benar. Lalu aku masih belum menyerah mencoba yang ke tiga kali ketika aku mendengar operator bicara sekali lagi di telingaku. Aku mencengkram ponsel itu dan melemparnya ke lantai.

Berapa kali hal ini terjadi? Aku berusaha menghubungi Iseul, atau menghubungi Yunho dan aku tak bisa memencet nomor dengan benar. Karena aku mengalami ini terlalu lama. Karena setiap hari, aku kehilangan semakin banyak kendali dengan tubuhku.

Aku mendengar suara ketukan di pintu. Mungkin seorang suster yang ingin memeriksa keadaanku.

“Ap..a?!” seruku.

“Jaejoong..” aku mendengar suara yang tak asing. Suara yang aku kira takkan pernah kudengar lagi. Pintu terbuka perlahan-lahan dan saudaraku berdiri di sana.

Aku merasa waktu seolah terhenti. Aku menatapnya. Dia memandangiku beberapa saat, membuyarkan pandanganku. Sepertinya, dia merasa bersalah. Kenapa dia selalu merasa bersalah? Aku berusaha menggerakkan tubuhku. Dia menatapku ketika aku berjuang untuk menyingkirkan selimut dari tubuhku. Dia mulai mendekat dan bermaksud membantuku.

“Ti..da..k!!” aku berteriak. Dia berhenti dan hanya berdiri di sana, menatapku dengan ekspresi ketakutan. Aku tersenyum padanya, untuk mencairkan suasana. Aku ingin dia mengerti bahwa aku tidak membencinya. Walaupun dia membenciku, aku tidak akan pernah bisa membencinya. Aku menarik diriku turun dari ranjang. Ketika aku berdiri dan menatapnya, aku menyibak rambut yang menutupi mataku. Aku tersenyum padanya lagi.

“Ise..ul be..b..as.” ucapku.

Dia menatapku. Aku tahu dia mengerti apa yang ingin aku katakan. Aku tak ingin dia membantuku lagi karena dia sudah bebas. Dia tak harus melakukan apapun lagi..

“Aku tidak pernah dipenjara.” Katanya pelan, air mata jatuh di pipinya. Aku tersenyum.

“Cin..ta b..is..a men..j..a..di..pe..n..jar..a.” jawabku.

Dia mendekat padaku dan memelukku erat. Aku merasa tubuhku hampir jatuh, butuh seluruh kekuatan dari tubuhku untuk tetap berdiri tegak. Aku memperingatkan Yunho untuk tidak memberitahunya, jangan pernah memberitahunya.

Jangan memberitahunya bahwa aku tak bisa berjalan lagi.

Jangan memberitahunya bahwa aku tak bisa menggenggam apapun lagi.

Jangan memberitahunya bahwa suster yang harus menyuapiku.

Jangan memberitahunya bahwa semakin sulit bagiku untuk bicara.

Jangan memberitahunya sesuatu yang sudah dia ketahui…
… bahwa aku sekarat.

Sementara dia menangis di bahuku, aku mengangkat tanganku dan berusaha mengelus kepalanya. Aku tidak bisa menyentuh rambutnya, dan ini terasa menyiksa. Apapun akan terasa menyiksa.

“Ja..ng..an..me..na…ng..is.” ucapku. “Ak..u i..ng..in me..l..ih..at I..se..ul..ce..r..ia.”

Dia melepaskan pelukannya dan menatapku. “Ini air mata kebahagiaan, Jaejoong.”

“Ter..s..eny..um..la..h.” ucapku.

Dia mengangguk. Dia memberiku senyum lebar. Senyum yang sama seperti yang diberikannya pada dokter setelah kami selesai operasi saat masih remaja.

“Apa ini artinya aku bisa menyelamatkan saudaraku sekarang?” tanyanya dalam rekaman masa laluku.”

Aku ingat dokter tersenyum padanya dan berkata. “Aku yakin dengan seorang adik pemberani sepertimu, kau bisa menjaga kakakmu lebih lama.”

Aku tersenyum padanya. Dia akan menjagaku lebih lama, karena apa yang dia lakukan sekarang, membuatku jauh lebih hidup dibandingkan semua operasi yang telah dilakukannya untukku. Saudaraku bukan pengecut, dia bukan pengkhianat, dia hanya manusia biasa, seseorang yang akan melakukan apapun untuk sesuatu yang dianggapnya berharga. Itulah alasan, kenapa aku harus belajar darinya.
 
Saat itulah pintu tiba-tiba terbuka. Aku melihat Yunho memandangiku dengan iba dan ibu memandangi kami berdua. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang campur aduk; kebahagiaan, kemarahan, kesedihan. Tapi tampaknya ia hanya marah.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya. “Kubilang kau tak boleh bertemu Jaejoong! Keluar!”

Iseul menatap ibu. Dia tidak tahan melihat seperti apa ibu sekarang, tampak sangat kejam, memperlakukannya seolah dia bukan siapa-siapa. “I..bu.” ucapku. “A..ku..i..ng..in I..s..eu..l.. di.. s..in..i.”

“Keluar!!” ucap ibu, tak mempedulikanku. Iseul mulai beranjak ke arah pintu, tapi aku mencegahnya.

“Ja..ng..a..n!” ucapku. “D.ia..ha..r..us..t..et..ap..d..i..sin..i.

“Jaejoong! Dia tak boleh berada di dekatmu!! Tidak boleh, sampai kasus ini selesai. Pergi, Iseul! SEKARANG!!” dia berteriak.

 Iseul kembali beranjak, tapi aku meraih tangannya.

“Bagaimana kau bisa ingin menemuinya?” tanya ibuku. “Ini… ini sama saja kau ingin mempercepat kematian saudaramu!! KELUARLAH SEKARANG!!”

“Soo Jin, ada apa?!” aku mendengar suara ayahku memasuki kamar. Dia melihat Iseul dan langsung tahu apa yang terjadi. Iseul menangis, walaupun aku tidak melihat wajahnya, aku tahu itu. Seketika itu, aku merasa sangat marah.

“Apa kau mendengarku? KELUAR!”

“Soo Jin!” ucap ayah.

“I..bu.. Is..e..ul..t..id..ak..me..mbu..nuh..ku. M..enger..t..il..ah, ya..ng mem..b..un..uhk..u ad..a.. l..ah..pe..ny..akit..ku!!” aku berteriak.

Kalimat itu membuat ibuku terdiam.

“J..ik..a..ka..u..p..er..c..ay..a..ak..u..ak..an..m..at..i, b..iar..ka..n..ak..u..me..le..w..at..i..h..ar..i..de.. ng..an..b..aha..g..i..a.” aku menambahkan..

Iseul menatapku. Aku tahu kalimat terakhir itu menyakitinya… menyakiti mereka semua. Aku tersenyum padanya. “Ja..ng..an..cem..as,..ak..u..t..id..ak..ak..an..me..nyer..ah..s..em..u..dah..it.. u.”

Yunho POV

Kami berdiri memandang sungai, pikiran kami sama-sama tenggelam. Iseul sudah melewati hari dengan saudaranya. Itu adalah saat paling membahagiakan yang pernah kulihat selama seminggu ini. Mungkin karena dia merasa lega, bahagia karena Jaejoong tidak menyalahkannya.

“Yunho..” Iseul berkata pelan, tetap memandangi sungai. Aku menoleh dari pemandangan yang sedang kupandangi.“Dia bicara lebih lambat.” Katanya. Aku tak berkata apa-apa. Aku tahu dia akan menyadarinya. Dia berada di samping Jaejoong sepanjang waktu, dia pasti akan menyadari perubahan itu. “Dia juga semakin sulit bergerak.” Dia menambahkan.

Sekali lagi, aku tidak berkata apa-apa. Aku memalingkan tatapan darinya dan memandangi sungai, memperhatikan aliran air yang tenang dan perlahan. Di sana ada gambaran keheningan.

“Dia tak bisa berjalan.” Ucap Iseul.

Itu bukan pertanyaan. Dia sudah mengetahuinya. Dia akhirnya mengetahuinya. Jaejoong sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkannya, tapi Iseul bisa melihat hal itu. Baginya, itu tampak jelas.

“Dia tidak bisa… makan sendiri.” Ucapnya lagi.

Aku menutup mataku sejenak, merasakan angin membelai rambutku dan aliran sungai berbisik di telingaku. Jaejoong sudah berkata bahwa dia tidak lapar, sepanjang hari ini, tak masalah seberapa kali pun Iseul memaksanya memakan sesuatu.

“Yunho…” panggilnya.

Aku menoleh padanya. Dia masih menatap sungai. Aku melihat senyuman sedih di wajahnya.

“Penyakitnya seperti sungai ini… selalu bertambah jauh.” Katanya.

Aku melihat ke arah sungai, tidak tahu apa yang harus kukatakan. Jaejoong mengatakan padaku bahwa aku tak boleh memberitahu apapun, tapi kebisuanku tak berarti apa-apa.

“Yunho… Jaejoong… sekarat.” Katanya. Aku menutup mataku. Jaejoong juga mengatakan hal yang sama. Tapi aku tak bisa mengatakan padanya bahwa semua itu tidak benar. Itu tidak akan menenangkannya. Akan lebih baik jika aku diam. Akhirnya, hanya itu saja yang bisa kulakukan untuknya.

Aku bisa berakting menjadi idiot dan membuatnya tersenyum.

Aku bisa menampungnya di rumahku dan memasak untuknya… mengurangi kesedihannya.

Aku bisa mencegah air matanya ketika dia mulai menangis tak tertahankan.

Tapi satu hal yang tak bisa kulakukan adalah berbohong padanya. Pada akhirnya, aku tak bisa membuat situasi lebih baik, aku hanya bisa berusaha membuatnya sedikit terkendali.

Mungkin ini yang dirasakan ibuku, ya? Semua ini membuatku mengerti betapa sulitnya jika menjadi ibuku, berapa sulitnya mengurus keluarga bila salah satu dari kami ada yang sakit.

Aku memperhatikan Iseul melemparkan kerikil ke sungai. Dia menggapaikan tangannya dan menyentuhkannya ke permukaan sungai. Betapa sunyi, tenang, seakan waktu sudah terhenti.
 
Itu bisa memperdaya kami. Kami berdua tahu, bahwa saat kami berdiri di sini, menunggu malam datang, Jaejoong sedang berjuang dalam kegelapan yang merasuki tubuhnya.

“Yunho… apa itu benar? Apa yang harus kulakukan?” tanya Iseul.

“Aku tidak tahu.” Jawabku meyakinkan. “Tapi… tak akan terjadi apa-apa, aku selalu di sini, Iseul.”

Dia tersenyum padaku beberapa saat. Kemudian tiba-tiba berjalan pergi. “Aku akan mengatakan pada Jaejoong sekali lagi. Bahwa aku akan selalu di sana. Betapa pembohongnya aku. Pembohong bodoh…”

Sekali lagi, aku hanya diam. Aku melihat sinar matahari tenggelam dari langit dan itu menjadi background saat aku mendengar Iseul menangis sekali lagi. Aku bisa saja menenangkannya, tapi aku tahu aku harus membiarkannya pergi. Saat ini, kenyataan itu sudah diyakininya, dan aku tak bisa mengubah kenyataan.

Aku beranjak dan berjalan mengikutinya. Aku membungkuk di sampingnya yang tengah duduk di tepi sungai. Aku memasukkan tanganku ke air yang dingin dan menggapai tangannya. Aku menggenggamnya perlahan dan aku bisa merasakan dia menggenggam tanganku dengan erat.

Aku menengadah menatap matahari terbenam saat Iseul menggenggam tanganku. Aku tahu wajahku mungkin tampak tegang, tapi pada akhirnya, aku menikmatinya. Setidaknya Iseul percaya bahwa aku bukan pembohong, dan apapun yang dia percayai, itu tak bisa kupengaruhi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar