Iseul POV
Aku rindu
kamarku. Aku rindur rumahku. Aku rindu keluargaku.
Dan lebih dari
apapun… aku rindu saudaraku.
Aku menatap ke
luar jendela, memandangi salju menjatuhi kaca.
“Kim Iseul!
Perhatikan ke sini!” ucap Pak Guru.
Aku memalingkan
wajah. Aku sudah bisa mendapat peringatan itu, teman-teman sekelasku memandangku
dengan tatapan mengejek. Aku tidak mempedulikan mereka dan hanya berkonsentrasi
pada pelajaran. Aku tahu aku terlihat sedikit menyedihkan, selalu itu yang
diucapkan orang-orang yang tak pernah menghakimiku. Sejauh ini, penampilan itu
tidak membuatku merasa lebih baik.
Aku bisa tidak
peduli pada cuaca, ataupun jika dunia membenciku atau mencintaiku. Satu-satunya
yang aku pedulikan saat ini, hanya tentang saudaraku.
Ketika bel
istirahat berbunyi, aku beranjak dengan cepat, pergi ke bawah pohon. Di sana, tak
kan ada yang menggangguku. Ketika aku berjalan ke pintu, aku mendengar suara
langkah seseorang. Aku mendengar suara di belakangku ketika aku menatap makan
siangku jatuh ke lantai.
“Maaf…” aku
mendengar pria yang baru saja menabrakku, kecuali, suaranya tidak terdengar
begitu bersalah. Aku menggigit bibirku dan menatap makanan yang sudah disiapkan
Yunho untukku pagi ini.
“Kenapa kau
meminta maaf?” aku mendengar seseorang yang juga teman sekelasku berkata. “Dia
masih menyempatkan diri melamun sementara saudaranya hampir mati di rumah
sakit. Jika ada seseorang yang harus minta maaf, dialah orangnya.”
“Tinggalkan dia
sendiri!” aku mendengar orang lain berucap. “Kau kira kau siapa? Beraninya
menghakimi seperti itu? Apa kau mengerti apa yang dilakukannya? Jangan
bertingkah seolah kau tahu apa yang sedang terjadi. Tidak ada satupun dari kita
yang tahu persis kejadiannya.”
“Kita tak perlu
tahu.” Gadis lain membalas. “Kita hanya perlu melihat kenyataan bahwa ibunya
tidak mengakuinya dan dia tak bisa bertemu saudaranya lagi. Jaejoong pasti
membencinya atas apa yang dia lakukan.”
Aku merasa air
mataku jatuh ke lantai saat aku berusaha membereskan makan siang yang sudah
dibuatkan Yunho. Aku tidak keberatan jika mereka membenciku. Tapi rasanya
begitu sakit saat mereka mengatakan bahwa Jaejoong membenciku. Karena sejauh
apapun aku meyakinkan diriku… aku tahu… apa yang mereka katakan itu benar.
Ketika kedua
orang itu terus berdebat di belakangku, aku melihat seseorang menolongku. Aku
menengadah untuk melihat pria yang sama yang membantuku berdiri. Dia
memandangku penuh pengertian dan berkata. “Ibuku selalu membuatkan sandwich
lebih jika kau mau.” Dia menatapku. “Pasti sulit bagimu untuk membuat makanan
itu, maaf.”
Aku mengusap
wajahku, memastikan bahwa tak ada air mata lagi di sana. Aku tersenyum padanya
dengan tenang. “Tak apa-apa.” Ucapku. Ya, tak apa-apa jika kau menabrakku. Tak
apa-apa jika kau membenciku. Aku tidak peduli, aku tidak peduli semua itu.
Asalkan kau tidak membencinya. Jangan membenci Jaejoong, dia tidak bersalah
atas semua ini dan tidak akan pernah bisa disalahkan.
Ketika aku sudah
mengumpulkan semua makanan yang terjatuh, aku mendengar suara langkah di
belakangku. Tiba-tiba saja ada tangan kekar yang menyentuhku. Aku menoleh untuk
memandang Yunho. Dia mulai menepuk bajuku untuk membersihkan sedikit debu di
sana. “Ayo.” Katanya, sambil menggandeng tanganku. “Kita pergi untuk makan
bersama.”
“Baiklah.”
Ucapku. Dia meraih kotak bekal yang berisi sisa bekal tumpah yang sudah susah
payah dibuatkannya untukku. Aku mencoba menahan kotak itu tetap di tanganku.
“Berikan padaku,
aku akan menggantinya.”
Aku mengelus
kepalaku sendiri. “Aku ingin makan yang ini saja.”
Dia menatapku.
“Itu bahaya, Iseul!” ucapnya keras. Kebisuan yang tiba-tiba, terasa
menyelubungi seisi kelas. “Aku tahu ini akan terjadi! Aku mengetahuinya! Kau
kira aku tidak melihatnya di wajahmu? Hari-hari kau pulang dalam keadaan basah,
atau dengan telur di seragammu. Kau kira aku tidak membuktikan sendiri
bagaimana semua orang merasa mereka benar-benar mengenalmu? Mereka merasa
mengetahui apa yang Jaejoong pikirkan tentangmu. Mereka tidak mengerti serumit
apa hidupmu… atau seberapa rumit perasaan sayang itu.” Dia menarik napas lelah.
“Jika kau ingin tetap memakannya, tak masalah, tapi kau harus ikut denganku.”
“Ke mana?”
tanyaku.
“Menemui
Jaejoong. Dia tak mau berhenti menanyakanmu, karena jika kau ingin tahu… dia
tidak membencimu. Dia merindukanmu… sangat.” Ucapnya. Aku menatapnya, tak yakin
apa yang harus dilakukan. Dia merebut kotak bekal dari tanganku, mencengkram
tanganku dengan keras, dan membawaku keluar dari kelas.
“Maaf…” aku
memotong ketika kami sudah sampai di tangga.
Dia berhenti.
“Maaf? Maaf untuk apa? Apa yang telah kau lakukan?” tanyanya.
“A-aku
menjatuhkan makan siang yang sudah kau buatkan untukku…” sesalku, tak yakin
dengan kata-kata itu.
Yunho menatapku,
dia tampak tak percaya. Dia pun menarik napas pelan, melepaskan tangannya. Aku
menunggu dengan tegang saat dia membalikkan badan dan mulai beranjak lagi. Tapi
tiba-tiba dia berhenti dan menatapku. Dia menggapaikan tangannya di kepalaku
dan menariku mendekat padanya. Lalu dia mencium keningku dengan hangat. “Kau
adalah gadis paling polos yang pernah kutemui.”
Aku menatapnya
dan tidak tahu apa yang harus kukatakan. Wajahnya membentangkan senyuman. “Kau
harus melihat wajahmu.” Ucapnya. Lalu dia menggandeng tanganku lagi dan
menarikku di belakangnya.
“Ayo, kau tak
boleh terlambat. Kita harus sampai di sana sebelum ibumu datang.”
Aku tersenyum
sambil mengikutinya. Saudaraku. Aku akan menemui saudaraku.
Jaejoong POV
Aku menatap
ponsel di tanganku. Aku mencoba menekan nomor yang benar, berusaha menelpon
Yunho. Aku ingin bertemu Iseul. Aku ingin melihat wajah bahagianya di
sampingku, aku butuh… seseorang yang bisa membuatku tetap hidup.
Aku gagal
menekan nomor yang benar di kesempatan pertama. Tanganku kaku dan aku tetap
mencoba menekan nomor untuk yang ke dua kalinya dengan benar. Lalu aku masih
belum menyerah mencoba yang ke tiga kali ketika aku mendengar operator bicara
sekali lagi di telingaku. Aku mencengkram ponsel itu dan melemparnya ke lantai.
Berapa kali hal
ini terjadi? Aku berusaha menghubungi Iseul, atau menghubungi Yunho dan aku tak
bisa memencet nomor dengan benar. Karena aku mengalami ini terlalu lama. Karena
setiap hari, aku kehilangan semakin banyak kendali dengan tubuhku.
Aku mendengar
suara ketukan di pintu. Mungkin seorang suster yang ingin memeriksa keadaanku.
“Ap..a?!” seruku.
“Jaejoong..” aku
mendengar suara yang tak asing. Suara yang aku kira takkan pernah kudengar
lagi. Pintu terbuka perlahan-lahan dan saudaraku berdiri di sana.
Aku merasa waktu
seolah terhenti. Aku menatapnya. Dia memandangiku beberapa saat, membuyarkan
pandanganku. Sepertinya, dia merasa bersalah. Kenapa dia selalu merasa
bersalah? Aku berusaha menggerakkan tubuhku. Dia menatapku ketika aku berjuang
untuk menyingkirkan selimut dari tubuhku. Dia mulai mendekat dan bermaksud
membantuku.
“Ti..da..k!!”
aku berteriak. Dia berhenti dan hanya berdiri di sana, menatapku dengan
ekspresi ketakutan. Aku tersenyum padanya, untuk mencairkan suasana. Aku ingin
dia mengerti bahwa aku tidak membencinya. Walaupun dia membenciku, aku tidak
akan pernah bisa membencinya. Aku menarik diriku turun dari ranjang. Ketika aku
berdiri dan menatapnya, aku menyibak rambut yang menutupi mataku. Aku tersenyum
padanya lagi.
“Ise..ul
be..b..as.” ucapku.
Dia menatapku.
Aku tahu dia mengerti apa yang ingin aku katakan. Aku tak ingin dia membantuku
lagi karena dia sudah bebas. Dia tak harus melakukan apapun lagi..
“Aku tidak
pernah dipenjara.” Katanya pelan, air mata jatuh di pipinya. Aku tersenyum.
“Cin..ta
b..is..a men..j..a..di..pe..n..jar..a.” jawabku.
Dia mendekat
padaku dan memelukku erat. Aku merasa tubuhku hampir jatuh, butuh seluruh
kekuatan dari tubuhku untuk tetap berdiri tegak. Aku memperingatkan Yunho untuk
tidak memberitahunya, jangan pernah memberitahunya.
Jangan
memberitahunya bahwa aku tak bisa berjalan lagi.
Jangan memberitahunya
bahwa aku tak bisa menggenggam apapun lagi.
Jangan
memberitahunya bahwa suster yang harus menyuapiku.
Jangan
memberitahunya bahwa semakin sulit bagiku untuk bicara.
Jangan
memberitahunya sesuatu yang sudah dia ketahui…
… bahwa aku
sekarat.
Sementara dia
menangis di bahuku, aku mengangkat tanganku dan berusaha mengelus kepalanya.
Aku tidak bisa menyentuh rambutnya, dan ini terasa menyiksa. Apapun akan terasa
menyiksa.
“Ja..ng..an..me..na…ng..is.”
ucapku. “Ak..u i..ng..in me..l..ih..at I..se..ul..ce..r..ia.”
Dia melepaskan
pelukannya dan menatapku. “Ini air mata kebahagiaan, Jaejoong.”
“Ter..s..eny..um..la..h.”
ucapku.
Dia mengangguk.
Dia memberiku senyum lebar. Senyum yang sama seperti yang diberikannya pada
dokter setelah kami selesai operasi saat masih remaja.
“Apa ini artinya
aku bisa menyelamatkan saudaraku sekarang?” tanyanya dalam rekaman masa
laluku.”
Aku ingat dokter
tersenyum padanya dan berkata. “Aku yakin dengan seorang adik pemberani
sepertimu, kau bisa menjaga kakakmu lebih lama.”
Aku tersenyum
padanya. Dia akan menjagaku lebih lama, karena apa yang dia lakukan sekarang,
membuatku jauh lebih hidup dibandingkan semua operasi yang telah dilakukannya
untukku. Saudaraku bukan pengecut, dia bukan pengkhianat, dia hanya manusia
biasa, seseorang yang akan melakukan apapun untuk sesuatu yang dianggapnya
berharga. Itulah alasan, kenapa aku harus belajar darinya.
Saat itulah pintu tiba-tiba terbuka. Aku melihat Yunho memandangiku dengan iba
dan ibu memandangi kami berdua. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang campur aduk;
kebahagiaan, kemarahan, kesedihan. Tapi tampaknya ia hanya marah.
“Apa yang kau
lakukan di sini?” tanyanya. “Kubilang kau tak boleh bertemu Jaejoong! Keluar!”
Iseul menatap
ibu. Dia tidak tahan melihat seperti apa ibu sekarang, tampak sangat kejam,
memperlakukannya seolah dia bukan siapa-siapa. “I..bu.” ucapku.
“A..ku..i..ng..in I..s..eu..l.. di.. s..in..i.”
“Keluar!!” ucap
ibu, tak mempedulikanku. Iseul mulai beranjak ke arah pintu, tapi aku
mencegahnya.
“Ja..ng..a..n!”
ucapku. “D.ia..ha..r..us..t..et..ap..d..i..sin..i.
“Jaejoong! Dia
tak boleh berada di dekatmu!! Tidak boleh, sampai kasus ini selesai. Pergi,
Iseul! SEKARANG!!” dia berteriak.
Iseul kembali beranjak, tapi aku meraih
tangannya.
“Bagaimana kau
bisa ingin menemuinya?” tanya ibuku. “Ini… ini sama saja kau ingin mempercepat
kematian saudaramu!! KELUARLAH SEKARANG!!”
“Soo Jin, ada
apa?!” aku mendengar suara ayahku memasuki kamar. Dia melihat Iseul dan
langsung tahu apa yang terjadi. Iseul menangis, walaupun aku tidak melihat wajahnya,
aku tahu itu. Seketika itu, aku merasa sangat marah.
“Apa kau
mendengarku? KELUAR!”
“Soo Jin!” ucap
ayah.
“I..bu..
Is..e..ul..t..id..ak..me..mbu..nuh..ku. M..enger..t..il..ah, ya..ng
mem..b..un..uhk..u ad..a.. l..ah..pe..ny..akit..ku!!” aku berteriak.
Kalimat itu
membuat ibuku terdiam.
“J..ik..a..ka..u..p..er..c..ay..a..ak..u..ak..an..m..at..i,
b..iar..ka..n..ak..u..me..le..w..at..i..h..ar..i..de..
ng..an..b..aha..g..i..a.” aku menambahkan..
Iseul menatapku.
Aku tahu kalimat terakhir itu menyakitinya… menyakiti mereka semua. Aku
tersenyum padanya.
“Ja..ng..an..cem..as,..ak..u..t..id..ak..ak..an..me..nyer..ah..s..em..u..dah..it..
u.”
Yunho POV
Kami berdiri
memandang sungai, pikiran kami sama-sama tenggelam. Iseul sudah melewati hari
dengan saudaranya. Itu adalah saat paling membahagiakan yang pernah kulihat
selama seminggu ini. Mungkin karena dia merasa lega, bahagia karena Jaejoong
tidak menyalahkannya.
“Yunho..” Iseul
berkata pelan, tetap memandangi sungai. Aku menoleh dari pemandangan yang
sedang kupandangi.“Dia bicara lebih lambat.” Katanya. Aku tak berkata apa-apa.
Aku tahu dia akan menyadarinya. Dia berada di samping Jaejoong sepanjang waktu,
dia pasti akan menyadari perubahan itu. “Dia juga semakin sulit bergerak.” Dia
menambahkan.
Sekali lagi, aku
tidak berkata apa-apa. Aku memalingkan tatapan darinya dan memandangi sungai,
memperhatikan aliran air yang tenang dan perlahan. Di sana ada gambaran
keheningan.
“Dia tak bisa
berjalan.” Ucap Iseul.
Itu bukan
pertanyaan. Dia sudah mengetahuinya. Dia akhirnya mengetahuinya. Jaejoong sudah
berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkannya, tapi Iseul bisa melihat hal
itu. Baginya, itu tampak jelas.
“Dia tidak bisa…
makan sendiri.” Ucapnya lagi.
Aku menutup
mataku sejenak, merasakan angin membelai rambutku dan aliran sungai berbisik di
telingaku. Jaejoong sudah berkata bahwa dia tidak lapar, sepanjang hari ini,
tak masalah seberapa kali pun Iseul memaksanya memakan sesuatu.
“Yunho…”
panggilnya.
Aku menoleh
padanya. Dia masih menatap sungai. Aku melihat senyuman sedih di wajahnya.
“Penyakitnya
seperti sungai ini… selalu bertambah jauh.” Katanya.
Aku melihat ke
arah sungai, tidak tahu apa yang harus kukatakan. Jaejoong mengatakan padaku
bahwa aku tak boleh memberitahu apapun, tapi kebisuanku tak berarti apa-apa.
“Yunho…
Jaejoong… sekarat.” Katanya. Aku menutup mataku. Jaejoong juga mengatakan hal
yang sama. Tapi aku tak bisa mengatakan padanya bahwa semua itu tidak benar.
Itu tidak akan menenangkannya. Akan lebih baik jika aku diam. Akhirnya, hanya itu
saja yang bisa kulakukan untuknya.
Aku bisa
berakting menjadi idiot dan membuatnya tersenyum.
Aku bisa
menampungnya di rumahku dan memasak untuknya… mengurangi kesedihannya.
Aku bisa
mencegah air matanya ketika dia mulai menangis tak tertahankan.
Tapi satu hal
yang tak bisa kulakukan adalah berbohong padanya. Pada akhirnya, aku tak bisa
membuat situasi lebih baik, aku hanya bisa berusaha membuatnya sedikit
terkendali.
Mungkin ini yang
dirasakan ibuku, ya? Semua ini membuatku mengerti betapa sulitnya jika menjadi
ibuku, berapa sulitnya mengurus keluarga bila salah satu dari kami ada yang
sakit.
Aku
memperhatikan Iseul melemparkan kerikil ke sungai. Dia menggapaikan tangannya
dan menyentuhkannya ke permukaan sungai. Betapa sunyi, tenang, seakan waktu
sudah terhenti.
Itu bisa memperdaya kami. Kami berdua tahu, bahwa saat kami berdiri di sini,
menunggu malam datang, Jaejoong sedang berjuang dalam kegelapan yang merasuki
tubuhnya.
“Yunho… apa itu
benar? Apa yang harus kulakukan?” tanya Iseul.
“Aku tidak
tahu.” Jawabku meyakinkan. “Tapi… tak akan terjadi apa-apa, aku selalu di sini,
Iseul.”
Dia tersenyum
padaku beberapa saat. Kemudian tiba-tiba berjalan pergi. “Aku akan mengatakan
pada Jaejoong sekali lagi. Bahwa aku akan selalu di sana. Betapa pembohongnya
aku. Pembohong bodoh…”
Sekali lagi, aku
hanya diam. Aku melihat sinar matahari tenggelam dari langit dan itu menjadi
background saat aku mendengar Iseul menangis sekali lagi. Aku bisa saja
menenangkannya, tapi aku tahu aku harus membiarkannya pergi. Saat ini, kenyataan
itu sudah diyakininya, dan aku tak bisa mengubah kenyataan.
Aku beranjak dan
berjalan mengikutinya. Aku membungkuk di sampingnya yang tengah duduk di tepi
sungai. Aku memasukkan tanganku ke air yang dingin dan menggapai tangannya. Aku
menggenggamnya perlahan dan aku bisa merasakan dia menggenggam tanganku dengan
erat.
Aku menengadah
menatap matahari terbenam saat Iseul menggenggam tanganku. Aku tahu wajahku
mungkin tampak tegang, tapi pada akhirnya, aku menikmatinya. Setidaknya Iseul
percaya bahwa aku bukan pembohong, dan apapun yang dia percayai, itu tak bisa
kupengaruhi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar