Welcome

Kamis, 17 Mei 2012

DBSK comeback? (part 27)


Author POV

Tangan Junsu bergetar saat ia datang menemui Lee Junki untuk mengembalikan cek yang tempo hari dimohonnya. Ia merasa amat sangat malu harus mengembalikan cek ini. Tapi ia hanya bisa memenuhi keinginan para rekannya untuk tidak melibatkan Lee Junki dalam masalah ini.

“Kau sudah yakin dengan keputusanmu?” tanya Lee Junki memastikan.

Junsu mengangguk samar.

“Aku masih akan membuka pintu lebar-lebar jika nanti kau berubah pikiran dan mau meminta bantuanku lagi.”

“Terima kasih, Tuan. Tapi kurasa sudah cukup. Aku senang bisa mengenal orang sepertimu.”
 
Lee Junki hanya membalas dengan senyum getir. Ia menatap Junsu yang sudah beranjak keluar dari ruangan itu.”

“Kim Junsu!” panggilnya sebelum Junsu menutup pintu.

“Ya?” Junsu menahan tangannya.

“Kapan pengadilan itu digelar?”

“Tiga hari lagi.”

“Hmm, baiklah. Kau boleh pergi.”

“Permisi.”

***

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Yoochun hanya terdiam sambil melipat tangan. Dia sebenarnya sangat malas memenuhi ajakan Yunho untuk menjenguk produser di rumah sakit. Tapi dia tak bisa menolak saat Yunho mengatakan bahwa ini mungkin akan jadi permintaan terakhirnya pada Yoochun. Ia tidak tahu apa maksud Yunho mengatakan hal itu. Dan ia juga tidak tertarik untuk bertanya lebih jauh. Jadi ia hanya bisa menurut dengan harapan setelah ini takkan ada lagi yang menghalangi jalan yang telah dipilihnya sendiri.

“Kau terlihat tidak senang.” Komentar Yunho saat menyadari ketidaknyamanan Yoochun.

“Aku memang tidak senang sejak kau mengajakku ikut denganmu.”

“Tapi aku melakukan ini untuk menyelamatkanmu…”

“Harus kukatakan berapa kali? Aku tidak butuh bantuan siapapun. Aku bisa menyelesaikan masalah ini sendiri.”

“Tapi tidak bisa begitu, Yoochun-sshi. Kau memukul produser karena kau membela kami, kan? Kau marah padanya karena dia sudah berniat jahat pada kami. Jadi apakah pantas jika kami tidak membantumu keluar dari masalah ini? Membiarkanmu menghadapi tuntutan itu sendirian, lalu kami semua hanya… menonton?”

Yoochun terdiam mendengar kalimat-kalimat Yunho. Ia ingin menangis saat itu. Ia ingin mengatakan pada Yunho bahwa sebenarnya iapun takut menghadapi tuntutan ini. Ia hanya sedang berpura-pura tegar dan berani untuk membuat keempat rekannya tidak terlalu cemas. Untuk meyakinkan mereka bahwa ia baik-baik saja. Ia bisa menghadapi tuntutan itu. Tapi dalam lubuk hatinya, Yoochun selalu menangis dan marah pada dirinya sendiri. Kenapa ia tak bisa mengendalikan emosinya waktu itu? Kenapa ia harus menggunakan kekerasan untuk membalas kekesalannya pada si tua bangka itu? Sekarang lihatlah, akibat perbuatannya, keempat orang yang sangat ia sayangi harus ikut terbawa memikirkan masalah ini. Dan ia merasa amat sangat menyesal.

“Ah, kita sudah sampai.” Suara Yunho mengejutkan Yoochun. Ia pun menoleh ke luar kaca mobil. Dilihatnya pemandangan area parkir yang tak asing. Ia segera turun mengikuti Yunho yang sudah mendahului memasuki rumah sakit.

Untuk pertama kalinya, Yoochun datang ke rumah sakit hanya demi menjenguk orang yang bahkan dibencinya setengah mati. Ia hanya bisa pasrah mengikuti ke mana Yunho melangkah. Kalaupun nanti ia harus melihat wajah si tua bangka sialan itu, ia sudah bersumpah bahwa ia tidak akan melakukan apa-apa. Ia sadar masalah ini tidak akan pernah selesai jika terus-menerus diselesaikan dengan cara kekerasan. Jadi, ia memutuskan untuk tetap menahan emosinya.

Yunho berhenti di depan sebuah pintu di lantai 4. Ia menoleh pada Yoochun sebelum akhirnya membuka gagang pintu perlahan. Yoochun bisa merasakan dadanya begitu sesak saat ia harus menghirup udara di dalam ruangan itu. Pandangannya menelusuri setiap sudut ruangan. Ia bisa melihat sosok yang dibencinya tengah berbaring di atas ranjang dengan banyak perban. Pasti luka yang ia berikan sangat banyak dan menyebabkan kerusakan yang parah. Pasti sakit sekali. Tanpa disadari, Yoochun tersenyum melihat produser terbaring sekarat seperti itu.

“Halo?” sebuah suara berhasil membuyarkan lamunan Yoochun. Ia menatap sosok gadis yang berdiri di hadapannya. Gadis yang cantik, dan ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat.

“Hai, Ara.” Ucap Yunho membalas sapaan itu.

“Ara?” Yoochun mengulang ucapan Yunho.

“Kalian belum saling mengenal, ya?” tanya Yunho.

“Tentu saja sudah.” Ara tersenyum lebar. Yoochun hanya diam tanpa ekspresi. “Ini… Park Yoochun, kan?”

“Benar.” Yunho mewakili menjawab.

Yoochun tidak merasa heran jika gadis ini mengenalnya. Ia adalah orang terkenal, kan? Jadi tak ada yang aneh jika semua masyarakat Korea mengenalnya.

“Kau… Go Ara yang anaknya produser itu?” Yoochun mencoba menebak.

Gadis itu hanya tersenyum mengiyakan. Seketika, Yoochun merasa tinjunya gatal. Ia ingin sekali memukul wajah gadis itu. Meremukkan kepalanya ke tembok dan mencekiknya sampai kehabisan oksigen. Tapi semua itu hanya terjadi dalam lamunannya. Ia bahkan tidak berhak menyentuh seujungpun dari rambut Go Ara yang menggerai indah melewati bahunya.

“Aku senang kalian datang.” Ucap Go Ara saat mereka semua duduk di sofa.

“Kau… benar-benar tidak marah atas apa yang kulakukan pada ayahmu?” tanya Yoochun tanpa berpikir dua kali. Go Ara tampak tidak nyaman dengan pertanyaan itu, tapi ia memaksakan sebuah senyum palsu.

“Kenapa aku harus marah? Aku memahami situasi ini dengan baik. Dan aku sadar betul siapa yang salah dalam kasus ini. Sungguh, Park Yoochun, aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan ayah dan ibuku. Aku berjanji padamu, aku tidak akan diam saja kalau mereka sampai benar-benar menuntutmu. Aku akan membantu sekuat tenaga untuk menggagalkan niat mereka.”

Apa yang baru saja diucapkan Go Ara bagaikan sebuah sihir yang membuat Yoochun merasa ketakutannya hilang dalam sekejap. Ia melirik Yunho, dan Yunho hanya tersenyum kecil. Entah apa yang harus diucapkannya saat ini. Go Ara hadir seperti seorang malaikat yang akan melepaskannya dari petaka yang sangat ia cemaskan.

“Terima kasih… Go Ara.” Ucap Yoochun gemetar. “Aku akan merasa sangat berhutang padamu.”

“Kau salah. Berterima kasihlah pada Yunho. Karena dia yang sudah membuka mataku untuk menyadari kebenaran dalam kasus ini.” Ara melempar senyum manisnya ke arah Yunho, dan Yunho hanya tertunduk dengan wajah bersemu merah.

Ia tidak tahu apa saja yang sudah dikatakan Yunho sampai bisa membuat Ara menjadi sangat penurut seperti ini. Tapi, yang terpenting saat ini adalah, ia tak perlu lagi meminta bantuan orang lain untuk menyelamatkannya. Go Ara saja, sudah lebih dari cukup.

***

Yoochun POV

Aku menatap wajah mulus milik Go Ara. Apakah dia sebodoh itu sampai mau menuruti keinginan Yunho hyung? Jika memang dia sebodoh itu maka dia tak berbeda jauh dengan ayahnya. Tapi aku sedikit merasa lega mengetahui bahwa dia bisa membantu kami keluar dari masalah ini. Lepas dari cengkraman si tua bangka sialan itu.“Kenapa kalian masih berdiri disana?” Go Ara tersenyum. “Silahkan masuk.”Yunho hyung mengangguk sopan.

Aku hanya tersenyum, sebuah senyum yang sangat di paksakan. Go Ara menuntun kami menuju ranjang tempat sang produser itu berbaring, terlihat pula di sebelahnya wanita paruh baya, yang tidak di ragukan lagi dia adalah istri dari sang produser. Si tua bangka sialan itu.

Hening, lebih tepatnya tak satupun dari kami yang ingin memulai percakapan. Aku tak akan pernah sudi mengucapkan ‘semoga cepat sembuh’ kepada si tua bangka itu. Aku tak meng-inginkan kesembuhannya, aku menginginkan dia cepat pergi. Tapi aku harus menahan emosiku saat ini, jika tidak aku bisa menciptakan masalah baru bagi kami. Sudah cukup keempat rekanku terlibat dalam kasus persidangan yang sangat menjengkelkan itu.

“Kau masih berani datang?” Suara wanita yang terdengar sangat berat. “Mau apa kau? Tertawa melihat suamiku yang terbaring tak berdaya?” dia tersenyum getir, tatapannya sangat sinis. Aku berusaha menghindari tatapan sinis itu atau emosiku akan kembali muncul dan memukul wajah keriputnya.

“Atas dasar apa kau berpikir seperti itu?” Aku menyadari apa yang baru saja ku ucapkan, aku mengutuk dririku sendiri. Tak seharusnya aku mengatakan itu, sepertinya lidahku meluncur-kan kata-kata itu tanpa sepengetahuanku.

“Yoochun apa yang kau katakan?” Ujar Yunho hyung, dia mengerutkan alisnya, menatapku dengan tatapan memperingati. “Kau harus menjaga ucapanmu.”

“Umma, bagaimana keadaan appa?” Ara bertanya, aku rasa dia mau mengalihkan pembicara-an. Dia tak mau suasana tegang memenuhi ruangan ini.

“Jika kalian datang hanya ingin membuat perkara lebih baik kalian pulang!” Kata ibu produser tidak menggubris pertanyaan Ara, nada marah terdengar jelas dari suaranya. “Atau aku akan memanggil security.”

“Umma, mereka berniat baik.” Ara berjalan menghampiri ibunya, dan mengelus bahunya. “Mereka ingin menjenguk appa.”

“Kami berniat menjenguk produser, kami tak berniat untuk mencari masalah. Iya kan Yoochun?” Yunho menatapku, sepertinya dia memaksaku untuk menjawab iya. Siapa yang berniat menjenguk si tua bangka itu? Sampai akhir hayatnya pun aku tak akan mau me-ngunjunginya. Aku terpaksa kesini karena Yunho hyung yang memaksa.

“Iya.” Jawabku dingin, aku memaksa bibirku untuk membuat sebuah senyuman, walaupun sebuah senyum yang sangat di paksakan.

Diam, suasana kembali hening. Sejujurnya aku tak mengetahui apa yang ada di pikiran Yunho hyung. Menjenguk si tua bangka itu?

Ibu produser berdiri, tepat di hadapanku. Yunho hyung terlihat sangat berhati-hati. Dia menatap wajah Ara, meminta penjelasan. Tetapi Ara hanya menggeleng, kurasa dia juga tidak mengetahui situasi ini..Ibu produser menyodorkan sebuah suarat kepadaku. Aku menatap surat yang terbungkus rapi dengan amplop berwarna coklat muda. Sebuah tulisan di pinggir surat terlihat, untukku? Aku bertanya dalam hati.Aku mengambil surat itu dengan paksa, merobek pinggiran amplop, dan membaca baris demi baris kelimat yang tersusun diatas kertas putih.Yunho hyung menatapku dengan tatapan cemas, sepertinya dia penasaran akan isi dari surat yang baru saja ku baca.

“Surat apa itu umma?” Ara mewakili Yunho hyung untuk bertanya.

“Surat dari pengadilan. Pengadilan akan dilaksanakan tiga hari lagi.. Jam 11 siang.” Aku menjawab, aku kembali diam menatap kosong kearah selembar surat yang berada di tanganku.

“Tapi umma, kupikir kau tidak akan membawa masalah ini ke meja hijau. Kita sudah berdiskusi mengenai masalah ini tadi malam.” Ara menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya.

“Umma tetap pada keputusan umma.” Ibu produser menatap wajah Ara. sepertinya dia me-yakinkan dirinya sendiri. “Jika mereka mampu membayar ganti rugi sebesar seratus juta won. Maka umma akan mencabut tuntutan umma.”

“Tapi umma, kurasa seratus juta won tidak akan berguna saat ini.” Ara menatap Yunho sejenak, kemudian kembali menatap ibunya. “Appa juga hampir sembuh. Umma kau harus mencabut tuntutan ini, demi aku umma, demi anakmu.”

“Maaf Ara, umma tidak bisa.” Dia kembali menatap suaminya, tersenyum getir. “Umma tak akan merubah keputusan umma. Mereka harus membayar semua ini.”

“Baik!” Aku memotong. “Aku tak pernah takut dengan pengadilan! Aku akan menghadapi pengadilan itu! Aku tak takut untuk masuk penjara!”

“Yoochun apa yang baru saja kau katakan?” Yunho mencengkram bahuku dengan erat. Menatap ku tepat pada bola mataku, aku merasa tatapannya sangat menusuk. Yunho hyung berbalik menatap ibu produser. “Dia tidak serius dengan apa yang di ucapkannya.”

“Hyung!” Aku membalas menatap tatapan Yunho hyung. Aku diam sejenak, mengumpulkan keberanian. “Sudah kubilang, aku akan menghadapi pengadilan ini sendiri! Aku tak mebutuh-kan bantuan kalian semua, termasuk dari kau Go Ara!” Aku menatap sinis kepada Go Ara. “Jika jalan ini yang mereka inginkan maka mereka akan mendapatkannya.”

“Yoochun kita perlu bicara!” Yunho menarikku ke tepi, dia mendorongku hingga badanku membentur dinding. Dia mencengkram bahuku semakin erat, aku merasa sedikit kesakitan. “Apa yang ada di pikiranmu? Kau bisa membuat masalah ini semakin rumit!”

“Aku tak peduli hyung!” Jawabku dingin, aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjuk-kan rasa khawatirku.“Berhentilah bersikap tegar!” Ujarnya, Yunho hyung menggeram.

Aku memang bersikap tegar, aku tak mungkin menujukan sisi lemahku. Aku tak mau dibilang pengecut. Aku tak mau terlihat lemah didepan semua orang.

“Aku tak berpura-pura.” Kataku lirih.

“Jangan membohongiku!” Yunho hyung mendesis. “Kau bukanlah pembohong yang baik.”

Aku menahan air mataku untuk tidak keluar. “Hyung, aku sudah putus asa, hanya melewati jalur hukum masalah ini akan selesai.”

“Kau ini bodoh?! Kami tak akan membiarkanmu masuk penjara!” Dia diam, menatapku kembali. “Kau pikir kami akan meninggalkanmu sendirian? Menghadapi mereka? Kalau itu yang kau pikirkan maka kau salah besar!”

“Aku mengerti. Tapi aku tak mau melihat kalian menderita karenaku.”

Yunho hyung membuka mlut, tetapi sebuah suara mendahului.

“Yunho..” Suaranya terdengat lemah lembut, dan terdengar nada khawatir. “Tidak ada gunanya berdebat dengannya. Masalah ini tak akan selesai jika kalian hanya berdebat”

“Kau pikir kau siapa?!” Aku membentak Go Ara. Dia terdiam, menggigit bibir bawahnya, dia terlihat menahan air matanya. “Aku tak pernah meminta bantuanmu!”

“Aku tidak pernah merasa terbebani, aku hanya mau membantu kalian keluar dari masalah ini.” Suaranya terdengar sangat serak, sekuat tenaga menahan air matanya.

“Kalau begitu kau bisa memaksa ibumu untuk mencabut tuntutannya! Maka masalah akan selesai!”

BRAKKKK!!! Aku menutup pintu dengan keras, meninggalkan mereka di sana. Aku muak melihat keluarga itu. Sejenak aku mendengar tangisan Go Ara dan terdengar pula suara Yunho hyung yang memanggil namaku.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar