Author POV
Tangan Junsu bergetar saat ia datang menemui Lee Junki
untuk mengembalikan cek yang tempo hari dimohonnya. Ia merasa amat sangat malu
harus mengembalikan cek ini. Tapi ia hanya bisa memenuhi keinginan para rekannya
untuk tidak melibatkan Lee Junki dalam masalah ini.
“Kau sudah yakin dengan keputusanmu?” tanya Lee Junki
memastikan.
Junsu mengangguk samar.
“Aku masih akan membuka pintu lebar-lebar jika nanti
kau berubah pikiran dan mau meminta bantuanku lagi.”
“Terima kasih, Tuan. Tapi kurasa sudah cukup. Aku
senang bisa mengenal orang sepertimu.”
Lee Junki hanya membalas dengan senyum getir. Ia menatap Junsu yang sudah
beranjak keluar dari ruangan itu.”
“Kim Junsu!” panggilnya sebelum Junsu menutup pintu.
“Ya?” Junsu menahan tangannya.
“Kapan pengadilan itu digelar?”
“Tiga hari lagi.”
“Hmm, baiklah. Kau boleh pergi.”
“Permisi.”
***
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Yoochun hanya
terdiam sambil melipat tangan. Dia sebenarnya sangat malas memenuhi ajakan
Yunho untuk menjenguk produser di rumah sakit. Tapi dia tak bisa menolak saat
Yunho mengatakan bahwa ini mungkin akan jadi permintaan terakhirnya pada
Yoochun. Ia tidak tahu apa maksud Yunho mengatakan hal itu. Dan ia juga tidak
tertarik untuk bertanya lebih jauh. Jadi ia hanya bisa menurut dengan harapan
setelah ini takkan ada lagi yang menghalangi jalan yang telah dipilihnya
sendiri.
“Kau terlihat tidak senang.” Komentar Yunho saat
menyadari ketidaknyamanan Yoochun.
“Aku memang tidak senang sejak kau mengajakku ikut
denganmu.”
“Tapi aku melakukan ini untuk menyelamatkanmu…”
“Harus kukatakan berapa kali? Aku tidak butuh bantuan
siapapun. Aku bisa menyelesaikan masalah ini sendiri.”
“Tapi tidak bisa begitu, Yoochun-sshi. Kau memukul
produser karena kau membela kami, kan? Kau marah padanya karena dia sudah
berniat jahat pada kami. Jadi apakah pantas jika kami tidak membantumu keluar
dari masalah ini? Membiarkanmu menghadapi tuntutan itu sendirian, lalu kami
semua hanya… menonton?”
Yoochun terdiam mendengar kalimat-kalimat Yunho. Ia
ingin menangis saat itu. Ia ingin mengatakan pada Yunho bahwa sebenarnya iapun
takut menghadapi tuntutan ini. Ia hanya sedang berpura-pura tegar dan berani
untuk membuat keempat rekannya tidak terlalu cemas. Untuk meyakinkan mereka
bahwa ia baik-baik saja. Ia bisa menghadapi tuntutan itu. Tapi dalam lubuk
hatinya, Yoochun selalu menangis dan marah pada dirinya sendiri. Kenapa ia tak
bisa mengendalikan emosinya waktu itu? Kenapa ia harus menggunakan kekerasan
untuk membalas kekesalannya pada si tua bangka itu? Sekarang lihatlah, akibat
perbuatannya, keempat orang yang sangat ia sayangi harus ikut terbawa
memikirkan masalah ini. Dan ia merasa amat sangat menyesal.
“Ah, kita sudah sampai.” Suara Yunho mengejutkan
Yoochun. Ia pun menoleh ke luar kaca mobil. Dilihatnya pemandangan area parkir
yang tak asing. Ia segera turun mengikuti Yunho yang sudah mendahului memasuki
rumah sakit.
Untuk pertama kalinya, Yoochun datang ke rumah sakit
hanya demi menjenguk orang yang bahkan dibencinya setengah mati. Ia hanya bisa
pasrah mengikuti ke mana Yunho melangkah. Kalaupun nanti ia harus melihat wajah
si tua bangka sialan itu, ia sudah bersumpah bahwa ia tidak akan melakukan
apa-apa. Ia sadar masalah ini tidak akan pernah selesai jika terus-menerus
diselesaikan dengan cara kekerasan. Jadi, ia memutuskan untuk tetap menahan
emosinya.
Yunho berhenti di depan sebuah pintu di lantai 4. Ia
menoleh pada Yoochun sebelum akhirnya membuka gagang pintu perlahan. Yoochun
bisa merasakan dadanya begitu sesak saat ia harus menghirup udara di dalam
ruangan itu. Pandangannya menelusuri setiap sudut ruangan. Ia bisa melihat
sosok yang dibencinya tengah berbaring di atas ranjang dengan banyak perban.
Pasti luka yang ia berikan sangat banyak dan menyebabkan kerusakan yang parah. Pasti
sakit sekali. Tanpa disadari, Yoochun tersenyum melihat produser terbaring
sekarat seperti itu.
“Halo?” sebuah suara berhasil membuyarkan lamunan
Yoochun. Ia menatap sosok gadis yang berdiri di hadapannya. Gadis yang cantik,
dan ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat.
“Hai, Ara.” Ucap Yunho membalas sapaan itu.
“Ara?” Yoochun mengulang ucapan Yunho.
“Kalian belum saling mengenal, ya?” tanya Yunho.
“Tentu saja sudah.” Ara tersenyum lebar. Yoochun hanya
diam tanpa ekspresi. “Ini… Park Yoochun, kan?”
“Benar.” Yunho mewakili menjawab.
Yoochun tidak merasa heran jika gadis ini mengenalnya.
Ia adalah orang terkenal, kan? Jadi tak ada yang aneh jika semua masyarakat
Korea mengenalnya.
“Kau… Go Ara yang anaknya produser itu?” Yoochun
mencoba menebak.
Gadis itu hanya tersenyum mengiyakan. Seketika,
Yoochun merasa tinjunya gatal. Ia ingin sekali memukul wajah gadis itu.
Meremukkan kepalanya ke tembok dan mencekiknya sampai kehabisan oksigen. Tapi
semua itu hanya terjadi dalam lamunannya. Ia bahkan tidak berhak menyentuh
seujungpun dari rambut Go Ara yang menggerai indah melewati bahunya.
“Aku senang kalian datang.” Ucap Go Ara saat mereka
semua duduk di sofa.
“Kau… benar-benar tidak marah atas apa yang kulakukan
pada ayahmu?” tanya Yoochun tanpa berpikir dua kali. Go Ara tampak tidak nyaman
dengan pertanyaan itu, tapi ia memaksakan sebuah senyum palsu.
“Kenapa aku harus marah? Aku memahami situasi ini
dengan baik. Dan aku sadar betul siapa yang salah dalam kasus ini. Sungguh,
Park Yoochun, aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan ayah dan
ibuku. Aku berjanji padamu, aku tidak akan diam saja kalau mereka sampai
benar-benar menuntutmu. Aku akan membantu sekuat tenaga untuk menggagalkan niat
mereka.”
Apa yang baru saja diucapkan Go Ara bagaikan sebuah
sihir yang membuat Yoochun merasa ketakutannya hilang dalam sekejap. Ia melirik
Yunho, dan Yunho hanya tersenyum kecil. Entah apa yang harus diucapkannya saat
ini. Go Ara hadir seperti seorang malaikat yang akan melepaskannya dari petaka
yang sangat ia cemaskan.
“Terima kasih… Go Ara.” Ucap Yoochun gemetar. “Aku
akan merasa sangat berhutang padamu.”
“Kau salah. Berterima kasihlah pada Yunho. Karena dia
yang sudah membuka mataku untuk menyadari kebenaran dalam kasus ini.” Ara
melempar senyum manisnya ke arah Yunho, dan Yunho hanya tertunduk dengan wajah
bersemu merah.
Ia tidak tahu apa saja yang sudah dikatakan Yunho
sampai bisa membuat Ara menjadi sangat penurut seperti ini. Tapi, yang
terpenting saat ini adalah, ia tak perlu lagi meminta bantuan orang lain untuk
menyelamatkannya. Go Ara saja, sudah lebih dari cukup.
***
Yoochun POV
Aku menatap wajah mulus milik Go Ara. Apakah dia
sebodoh itu sampai mau menuruti keinginan Yunho hyung? Jika memang dia sebodoh
itu maka dia tak berbeda jauh dengan ayahnya. Tapi aku sedikit merasa lega
mengetahui bahwa dia bisa membantu kami keluar dari masalah ini. Lepas dari
cengkraman si tua bangka sialan itu.“Kenapa kalian masih berdiri disana?” Go
Ara tersenyum. “Silahkan masuk.”Yunho hyung mengangguk sopan.
Aku hanya tersenyum, sebuah senyum yang sangat di
paksakan. Go Ara menuntun kami menuju ranjang tempat sang produser itu
berbaring, terlihat pula di sebelahnya wanita paruh baya, yang tidak di ragukan
lagi dia adalah istri dari sang produser. Si tua bangka sialan itu.
Hening, lebih tepatnya tak satupun dari kami yang
ingin memulai percakapan. Aku tak akan pernah sudi mengucapkan ‘semoga cepat
sembuh’ kepada si tua bangka itu. Aku tak meng-inginkan kesembuhannya, aku
menginginkan dia cepat pergi. Tapi aku harus menahan emosiku saat ini, jika
tidak aku bisa menciptakan masalah baru bagi kami. Sudah cukup keempat rekanku
terlibat dalam kasus persidangan yang sangat menjengkelkan itu.
“Kau masih berani datang?” Suara wanita yang terdengar
sangat berat. “Mau apa kau? Tertawa melihat suamiku yang terbaring tak
berdaya?” dia tersenyum getir, tatapannya sangat sinis. Aku berusaha
menghindari tatapan sinis itu atau emosiku akan kembali muncul dan memukul
wajah keriputnya.
“Atas dasar apa kau berpikir seperti itu?” Aku
menyadari apa yang baru saja ku ucapkan, aku mengutuk dririku sendiri. Tak
seharusnya aku mengatakan itu, sepertinya lidahku meluncur-kan kata-kata itu
tanpa sepengetahuanku.
“Yoochun apa yang kau katakan?” Ujar Yunho hyung, dia
mengerutkan alisnya, menatapku dengan tatapan memperingati. “Kau harus menjaga
ucapanmu.”
“Umma, bagaimana keadaan appa?” Ara bertanya, aku rasa
dia mau mengalihkan pembicara-an. Dia tak mau suasana tegang memenuhi ruangan
ini.
“Jika kalian datang hanya ingin membuat perkara lebih
baik kalian pulang!” Kata ibu produser tidak menggubris pertanyaan Ara, nada
marah terdengar jelas dari suaranya. “Atau aku akan memanggil security.”
“Umma, mereka berniat baik.” Ara berjalan menghampiri
ibunya, dan mengelus bahunya. “Mereka ingin menjenguk appa.”
“Kami berniat menjenguk produser, kami tak berniat
untuk mencari masalah. Iya kan Yoochun?” Yunho menatapku, sepertinya dia
memaksaku untuk menjawab iya. Siapa yang berniat menjenguk si tua bangka itu?
Sampai akhir hayatnya pun aku tak akan mau me-ngunjunginya. Aku terpaksa kesini
karena Yunho hyung yang memaksa.
“Iya.” Jawabku dingin, aku memaksa bibirku untuk
membuat sebuah senyuman, walaupun sebuah senyum yang sangat di paksakan.
Diam, suasana kembali hening. Sejujurnya aku tak
mengetahui apa yang ada di pikiran Yunho hyung. Menjenguk si tua bangka itu?
Ibu produser berdiri, tepat di hadapanku. Yunho hyung
terlihat sangat berhati-hati. Dia menatap wajah Ara, meminta penjelasan. Tetapi
Ara hanya menggeleng, kurasa dia juga tidak mengetahui situasi ini..Ibu
produser menyodorkan sebuah suarat kepadaku. Aku menatap surat yang terbungkus rapi
dengan amplop berwarna coklat muda. Sebuah tulisan di pinggir surat terlihat,
untukku? Aku bertanya dalam hati.Aku mengambil surat itu dengan paksa, merobek
pinggiran amplop, dan membaca baris demi baris kelimat yang tersusun diatas
kertas putih.Yunho hyung menatapku dengan tatapan cemas, sepertinya dia
penasaran akan isi dari surat yang baru saja ku baca.
“Surat apa itu umma?” Ara mewakili Yunho hyung untuk
bertanya.
“Surat dari pengadilan. Pengadilan akan dilaksanakan
tiga hari lagi.. Jam 11 siang.” Aku menjawab, aku kembali diam menatap kosong
kearah selembar surat yang berada di tanganku.
“Tapi umma, kupikir kau tidak akan membawa masalah ini
ke meja hijau. Kita sudah berdiskusi mengenai masalah ini tadi malam.” Ara
menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya.
“Umma tetap pada keputusan umma.” Ibu produser menatap
wajah Ara. sepertinya dia me-yakinkan dirinya sendiri. “Jika mereka mampu
membayar ganti rugi sebesar seratus juta won. Maka umma akan mencabut tuntutan
umma.”
“Tapi umma, kurasa seratus juta won tidak akan berguna
saat ini.” Ara menatap Yunho sejenak, kemudian kembali menatap ibunya. “Appa
juga hampir sembuh. Umma kau harus mencabut tuntutan ini, demi aku umma, demi
anakmu.”
“Maaf Ara, umma tidak bisa.” Dia kembali menatap
suaminya, tersenyum getir. “Umma tak akan merubah keputusan umma. Mereka harus
membayar semua ini.”
“Baik!” Aku memotong. “Aku tak pernah takut dengan
pengadilan! Aku akan menghadapi pengadilan itu! Aku tak takut untuk masuk
penjara!”
“Yoochun apa yang baru saja kau katakan?” Yunho
mencengkram bahuku dengan erat. Menatap ku tepat pada bola mataku, aku merasa
tatapannya sangat menusuk. Yunho hyung berbalik menatap ibu produser. “Dia
tidak serius dengan apa yang di ucapkannya.”
“Hyung!” Aku membalas menatap tatapan Yunho hyung. Aku
diam sejenak, mengumpulkan keberanian. “Sudah kubilang, aku akan menghadapi
pengadilan ini sendiri! Aku tak mebutuh-kan bantuan kalian semua, termasuk dari
kau Go Ara!” Aku menatap sinis kepada Go Ara. “Jika jalan ini yang mereka
inginkan maka mereka akan mendapatkannya.”
“Yoochun kita perlu bicara!” Yunho menarikku ke tepi,
dia mendorongku hingga badanku membentur dinding. Dia mencengkram bahuku
semakin erat, aku merasa sedikit kesakitan. “Apa yang ada di pikiranmu? Kau
bisa membuat masalah ini semakin rumit!”
“Aku tak peduli hyung!” Jawabku dingin, aku berusaha
sekuat tenaga untuk tidak menunjuk-kan rasa khawatirku.“Berhentilah bersikap
tegar!” Ujarnya, Yunho hyung menggeram.
Aku memang bersikap tegar, aku tak mungkin menujukan
sisi lemahku. Aku tak mau dibilang pengecut. Aku tak mau terlihat lemah didepan
semua orang.
“Aku tak berpura-pura.” Kataku lirih.
“Jangan membohongiku!” Yunho hyung mendesis. “Kau
bukanlah pembohong yang baik.”
Aku menahan air mataku untuk tidak keluar. “Hyung, aku
sudah putus asa, hanya melewati jalur hukum masalah ini akan selesai.”
“Kau ini bodoh?! Kami tak akan membiarkanmu masuk
penjara!” Dia diam, menatapku kembali. “Kau pikir kami akan meninggalkanmu
sendirian? Menghadapi mereka? Kalau itu yang kau pikirkan maka kau salah
besar!”
“Aku mengerti. Tapi aku tak mau melihat kalian
menderita karenaku.”
Yunho hyung membuka mlut, tetapi sebuah suara
mendahului.
“Yunho..” Suaranya terdengat lemah lembut, dan
terdengar nada khawatir. “Tidak ada gunanya berdebat dengannya. Masalah ini tak
akan selesai jika kalian hanya berdebat”
“Kau pikir kau siapa?!” Aku membentak Go Ara. Dia
terdiam, menggigit bibir bawahnya, dia terlihat menahan air matanya. “Aku tak
pernah meminta bantuanmu!”
“Aku tidak pernah merasa terbebani, aku hanya mau
membantu kalian keluar dari masalah ini.” Suaranya terdengar sangat serak,
sekuat tenaga menahan air matanya.
“Kalau begitu kau bisa memaksa ibumu untuk mencabut
tuntutannya! Maka masalah akan selesai!”
BRAKKKK!!! Aku menutup pintu dengan keras, meninggalkan
mereka di sana. Aku muak melihat keluarga itu. Sejenak aku mendengar tangisan
Go Ara dan terdengar pula suara Yunho hyung yang memanggil namaku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar