Beberapa orang menyapa Yoochun saat ia melangkah di
lobby. Tapi Yoochun tidak menghiraukan semua sapaan itu. Ia hanya terfokus pada
satu hal. Menemui produser. Begitu ia sampai di depan pintu ruangan produser,
ia tak jadi mengetuk karena ia mendengar suara.
Itu… suara produser dengan sang penasehat hukum.
“Jadi mereka belima belum memberi jawaban juga?”
terdengar suara sang penasehat.
Hening sejenak. Mungkin produser hanya menggelengkan
kepala.
“Aku yakin jawaban mereka akan sama.” Kali ini suara
produser yang terdengar.
“Kenapa kau begitu yakin?”
“Mereka berlima bukan orang bodoh. Mereka anak-anak
yang cerdas, dan sangat pemikir. Jadi aku rasa, mereka akan benar-benar terkena
perangkapku kali ini.”
“Kalau ternyata mereka setuju bagaimana?”
Apa? Apa yang dikatakan penasehat itu? Apakah itu
artinya… produser justru ingin agar mereka berlima menjawab tidak setuju?
Apakah kecurigaan Yoochun ternyata benar…?
“Bodoh sekali kalau mereka sampai setuju. Itu artinya
mereka memasukkan diri ke lubang yang sama. Tapi, jika mereka sampai
benar-benar setuju, maka habislah aku.”
Yoochun benar-benar tidak mengerti dengan kalimat
terakhir sang produser. ‘Jika mereka sampai benar-benar setuju, maka habislah
aku’. Apa maksud sebenarnya dari penawaran itu? Kenapa Yoochun merasa
seolah-olah ia sedang dipermainkan?
“Lalu bagaimana jika terjadi perbedaan pendapat di
antara mereka? maksudku… ada yang setuju, dan ada yang tidak.” Suara penasehat
terdengar lagi.
“Justru perbedaan pendapat itulah yang akan mewujudkan
tujuanku. Aku sudah tak sabar untuk melihat mereka berlima hancur…”
BRAKK!!
Pintu terbuka dengan keras. Yoochun menatap tajam ke
arah dua pasang mata yang kini tercengang melihat kedatangannya yang
mengejutkan.
“Ah, Yoochun-sshi? Ada apa kau kemari? Di mana
teman-temanmu yang lain?” tanya prdouser dengan senyum palsu yang terlihat
sangat sempurna.
Yoochun berjalan mendekat, lalu mendaratkan pukulannya
tepat di rahang sang produser. Suara tulang retak terdengar sangat jelas.
produser itu langsung tersungkur di mejanya. Tapi rupanya Yoochun belum puas
melihat hal itu. Dia mengangkat bahu produser dan menendang perut sang produser
dengan menggunakan lututnya. Ia terus mengulangi dan mengulangi hal itu sampai
darah segar yag kental mengalir dari mulut produser.
“Toloong! Toloong!!” penasehat berteriak memanggil
siapapun yang lewat di sekitar ruangan produser. Beberapa orang masuk. Mereka
semua berusaha menenangkan Yoochun, tapi amarah Yoochun membuat kekuatannya
seribu kali lebih besar dari yang ia sadari.
“Kau bajingan! Tega-teganya kau melakukan ini pada
kami! Apa kau belum puas juga melihat kami menderita?! Apa kau baru akan puas
jika kami sudah merobohkan gedung ini?! Aku bersumpah tidak akan pernah
memaafkanmu, TUA BANGKA SIALAN!!! Aku pasti akan membunuhmu! Aku akan
membunuhmu dan semua anak buahmu yang brengsek itu!” Yoochun tak mau berhenti
memukuli wajah produser. Bahkan saat produser itu terlihat sudah tak sadarkan
diri, ia tetap tak mau berhenti. Semua bodyguard sudah dikerahkan, namun
tampaknya mereka semua sudah ketakutan melihat amarah Yoochun yang membeludak.
Sehingga tak ada satupun yang berani mendekat, padahal sudah begitu banyak
orang yang berkumpul di ruangan produser.
Beberapa pegawai wanita yang melihat adegan itu tampak
menangis karena ketakutan. Yoochun benar-benar sudah tak terkendali. Dia marah…
dia merasakan kebencian yang begitu kuat dalam dirinya. Dan dia tidak bisa
menahan luapan amarah itu, manakala ia mengingat bahwa apa yang dilakukan si
tua bangka itu sudah sangat keterlaluan. Ia masih bisa memaafkan jika produser
itu menipunya untuk mendapatkan keuntungan. Tapi jika ternyata produser itu
menipunya untuk menghancurkan persaudaraan mereka berlima, ia tidak akan pernah
bisa memaafkannya lagi.
“Yoochun, hentikan!” sebuah suara muncul di tengah
suasana kengerian yang meraja di ruangan itu. Yoochun mengenal suara itu. Ia
menoleh untuk menatap keempat rekannya berdiri tepat satu meter di hadapannya.
Jaejoong mendekat, lalu tamparan kerasnya mendarat sempurna di pipi kiri
Yoochun. Tapi Yoochun tidak membalas. Ia hanya memegangi pipinya dan menantang
tatapan tajam yang dilemparkan Jaejoong.
“Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau lakukan?”
tanya Jaejoong datar.
“Aku sangat menyadarinya.”
“Lalu apa menurutmu tindakan itu sudah yang paling
benar?” Jaejoong meninggikan sedikit nada suaranya.
“Kau tahu, hyung? Si tua bangka ini ingin
menghancurkan kita!”
“Jangan mengalihkan pembicaraan! Jawab saja
pertanyaanku!”
“Menurutku, apa yang kulakukan ini sangat benar!”
“Bodoh sekali kau ini! Kalau sampai dia mati,
bagaimana? Kau bisa masuk penjara! Kau pikir dengan berkelahi, masalah ini akan
selesai?!”
Yoochun terdiam. Dia merasakan air mata memaksa
keluar, tapi ia menahannya sekuat tenaga.
“Kalian bertiga, tolong antarkan produser ke rumah
sakit. Aku harus bicara dengan Yoochun. Dan kalian semua, bubar sekarang juga!”
Jaejoong mengintruksikan.
Kerumunan itupun mulai bubar. Para bodyguard membantu
mengangkat tubuh produser yang sudah hampir remuk karena pukulan ganas Yoochun
yang bertubi-tubi. Ketiga member menatap Yoochun dengan tatapan tak percaya.
Dan Yoochun membiarkan Jaejoong menarik tangannya keluar dari ruangan itu.
***
Jaejoong POV
Aku menarik tangan Yoochun untuk keluar dari ruangan
itu. Aku tak habis pikir, kenapa dia memukuli produser seperti itu. Apa dia
menganggap tubuh produser itu sebagai sasakan tinju? Entah setan apa yang
merasuki Yoochun sehingga dia bisa lepas control seperti tadi.
Aku mencengkram pergelangan tangan Yoochun dengan keras. Aku rasa dia sedikit
kesakitan, karena aku mendengarnya merintih kesakitan. Aku tak peduli, Yoochun
harus menjelaskan semuanya padaku.
“Hyung!” Dia memanggilku, “Tak bisakah kau lebih
lembut?”
Kami sudah sampai diruangan lain dalam gedung ini. Aku
menatap tajam padanya, tapi tak sedikitpun aku melihat rasa penyelasan dalam
dirinya.
“Jelaskan padaku sekarang juga Park Yoochun!” Aku
menaikan sedikit nada bicaraku.
“Tak ada yang perlu aku jelaskan lagi, hyung.” Dia
memegang pergelangan tanganya, kurasa dia sedikit merasa kesakitan. Tatapannya
begitu sinis.
“Kenapa kau memukuli produser itu, seperti tadi?”
“Aku tidak memukulinya.” Dia menjawab pertanyaanku
dengan dingin. “Aku hanya memberi dia sedikit pelajaran.”
“Memberi pelajaran? Hah?!” Aku menaikan kembali nada
bicaraku. “Dengan cara kasar seperti itu? Dengan memukulnya?”
“Kau juga memukul istrimu dengan tanganmu ‘kan?” Dia
menyindirku, aku merasa emosiku sedikit terpancing. “Kenapa kau boleh
menggunakan kekerasan, sedangkan aku tidak?!”
“Jangan alihkan pembicaraan!” Aku hampir berteriak
kepadanya. “Urusan kita tak ada sangkut pautnya dengan Hana atau masalah rumah
tanggaku!”
“Kalau begitu jangan campuri urasanku juga!”
Aku merasa emosiku sudah di ujung tanduk, rasanya aku
ingin menamparnya sekali lagi. Aku sudah mengangkat tangan, tapi aku tak
sanggup menamparnya, selama ini dia sudah kuanggap sebagai adikku.
“Kau mau menamparku lagi?!” Dia terlihat sedikit
marah.
Aku menghela nafas, aku lelah menggunakan kekerasan.
Kejatuhkan kembali tanganku. Aku merasa ini adalah akhir dari segalanya.
“Yoochun, dengar!” Aku bersandar pada tembok di
belakangku. “Aku lelah dengan semua ini. Jika aku mengetahui akhirnya akan
seperti ini, aku tidak akan pernah mencoba bermimipi tentang kembalinya DBSK.”
Aku menatap wajah Yoochun, kurasa dia juga merasa
lelah.
“Aku hanya ingin kau menjelaskan semuanya padaku.” Aku
mencoba menahan air mataku agar tidak keluar.
“Hyung, aku hanya merasa kita di permainkan.”
“Tapi haruskah kau memukulnya?!” Aku kembali
membentaknya.
“Kenapa aku tidak boleh memukulnya?!”
“Karena..”
“Karena apa?! Kau kira aku tidak tahu, dulu kau sering
memukulnya kan?! Kau datang ke gedung SM dan memukuli produser itu bahkan kau
membuatnya nyaris MATI!!!”
“Itu dulu Yoochun!”
“Apa bedanya dengan sekarang?!” Dia menaikan sedikit
nada bicaranya. “Aku kira kau akan mendukungku! Kukira kau akan menyetujui
tindakanku jika..”
“Jika apa?” aku memotong kalimatnya “Jika dia sudah
sekarat? Jika dia sudah mati?”
“Kau tak mendengar apa yang dia bicarakan dengan
penasehat hukum!” aku menatapnya, api kemarahan kembali terpancar dari sorot
matanya. “Kau tak mendengarnya!!”
“Maka dari itu aku meminta penjelasanmu Park
Yoochun!!”
“Buat apa aku menceritakannya padamu?! Buat apa?
Supaya kau bisa menyelahkanku?!”
“Aku tak akan menyalahkanmu, aku hanya tak mau
perseteruan diantara kita semakin memburuk.” Aku menggigit bibir bawahku, aku
berusaha agar tidak menangis. “Aku hanya mau kau menceritakan padaku!”
“Kau tau, dia itu penipu! Si tua Bangka sialan itu
menjebak kita!!” Dia menarik nafas panjang. “Aku kira kau lebih pintar dari ku,
Hyung.”
“Apa maksudmu dengan ‘menjebak kita?’”
“Dia!!” Yoochun menunjuk lukisan wajah produser yang
tergantung di tembok. “Dia sengaja melakukan ini! Dia menjebak kita!”
“Menjebak apa?” Aku kembali bertanya.
“Dia!! Dia sengaja melakukan ini! Menawarkan
kembalinya DBSK.” Yoochun terlihat menahan air matanya untuk keluar. “Dia ingin
kita hancur, dia menginginkan kehancuran kita. Dia itu bajingan! Brengsek!”
“Hanya itu?” Aku bertanya padanya, dia terlihat sangat
bingung,
“Apa maksudmu dengan kata ‘Hanya itu’?!”
“Hanya alasan sepele seperti itu kau ingin
membunuhnya?”
BUKKK!!! Sebuah pukulan mendarat sempurna di rahang
bawahku, aku merasakan bibir bawahku terluka. Aku merasakan darah segar
mengalir dengan lancar, kubersihkan lukaku dengan punggung tanganku.
“Apa maksudmu dengan hal sepele?” Dia menaikan sedikit
nada suaranya. “Kau pikir ini masalah sepele?!”
“Kukira kau tau!” Aku membentaknya.
“Apa maksudmu?! Kau kira ini main-main?!’
“Apa kau tidak menyadarinya juga? Dia sengaja
membuatmu memukulinya agar dia bisa menuntutmu!”
“Apa maksudmu, hyung?!”
“Tak bisakah kau belajar dari masa lalu? Belajar dari
pengalaman orang lain?!” Aku men-coba mengingatkannya “Setelah ini dia pasti
akan menuntutmu!”
“Aku tidak takut! Aku tidak akan pernah takut dengan
dengannya!!” Yoochun menggeram. “Dia telah membuat kita seperti ini. Dia
mempermainkan kita seperti boneka. Dia pikir dia siapa?”
BUKKK!!! Yoochun kembali melayangkan tinjunya, bukan
kearahku, tapi kearah lukisan produser itu. Membuat lukisan itu berlubang tepat
dibagian wajahnya..
“Jika dia ingin menuntutku! Maka aku akan melawannya!
Sekalipun aku harus masuk penjara, aku bersumpah tidak akan membuatnya bisa
bernapas kembali!”
***
Yunho POV
Sebenarnya aku merasa malas duduk di sini. Untuk apa
aku menunggui produser yang sekarang terkapar tak berdaya itu? Aku akan lebih
senang kalau dia cacat daripada dia mati. Tapi saat ini, pikiranku tidak
tertuju pada keselamatan tua bangka itu. Yang aku pikirkan hanyalah… apa yang
dilakukan Jaejoong dengan Yoochun. Apakah mereka bertengkar? Aku benar-benar
takut akan terjadi pertengkaran yang lebih parah lagi. Sudah cukup. Sudah cukup
aku membentak mereka, dan sudah cukup aku mendengar mereka saling membentak.
Aku tak mau menggunakan kekerasan lagi untuk menyelesaikan masalah ini.
“Hyung!” Changmin tiba-tiba menggoyangkan bahuku. Aku
menatap wajahnya yang masih agak memar. “Gawat, hyung! Produser mengalami patah
tulang yang cukup serius. Kita semua bisa dihukum penjara selama dua puluh
tahun kalau sampai dia atau kuasa hukumnya menuntut kita ke pengadilan.”
“Di mana Junsu?” tanyaku tanpa menanggapi informasi
dari Changmin.
“Aku tidak tahu. Mungkin dia sedang di toilet. Lebih
baik sekarang kita lihat keadaan produser saja! Istrinya datang ke sini dan ia
marah-marah. Aku tidak bisa menangani kemarahannya sendirian.” Changmin tampak
gelisah. Akupun mengangguk dan mengikuti-nya menuju ruang rawat inap produser.
Saat aku masuk, wanita paruh baya itu tengah duduk dan seolah menanti
kedatangan kami.
“Nyonya…” ucapku tanpa ekspresi. “Aku sungguh-sungguh
minta maaf atas kejadian ini. Apa yang sekiranya bisa kulakukan untuk membayar
kesalahanku?”
“Siapa yang melakukan hal ini pada suamiku? Kau? Atau
dia?” Nyonya produser melempar tatapan sinis padaku dan Changmin.
“Aku yang melakukannya, Nyonya.” Jawabku kemudian.
“Hyung!” Changmin menyenggol lenganku, tapi aku tidak
menghiraukannya.
“Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku berjanji akan
melakukan apapun yang kau minta asalkan kau bersedia memaafkan kesalahanku.”
“Apapun?”
Aku mengangguk.
“Dia bohong, Nyonya! Yang melakukan hal ini bukan
Yunho hyung! Tapi Yoochun hyung!” Changmin berseru. Kulihat Nyonya produser
tercengang mendengarnya. Dia lalu menatapku dengan tatapan menyelidik. Kenapa
Changmin harus sebocor itu?
“Di mana Yoochun sekarang?”
“Aku di sini.” Tiba-tiba kulihat Yoochun muncul di
ambang pintu bersama Jaejoong dan Junsu yang tampaknya sudah mencoba untuk
mencegahnya agar tidak masuk. Yoochun berjalan ke dalam kamar, meninggalkan
Jaejoong dan Junsu yang berdiri mematung di ambang pintu.
“Jadi kau, yang telah membuat suamiku terbaring di
rumah sakit seperti ini?” tanya Nyonya produser dengan geram.
“Iya. Aku yang melakukannya. Memangnya kenapa? Kau
tidak suka? Kau masih mau membela suamimu yang berengsek itu, hah?” Yoochun
menantang tatapan Nyonya produser. Aku bisa melihat dengan jelas Nyonya
produser hendak melayangkan tamparan di wajah Yoochun, namun Yoochun menahan
tangannya dengan cekatan. “Seharusnya kau merasa malu dan bersujud meminta maaf
di kaki kami berlima atas semua ulah suamimu. Karena harta kekayaan yang kini
dia pakai untuk menghidupimu, semuanya adalah hasil dari kelicikannya.”
“Berani sekali kau bicara seperti itu di depanku.”
“Jangankan bicara di depanmu, merobek-robek mulutmu
pun aku berani.”
“Yoochun. Sudah…” aku mencoba menenangkannya.
“Kau diam saja, hyung! Aku harus memberitahu wanita
ini betapa busuknya tingkah suaminya selama ini!”
“Aku pastikan, kau akan dipenjara karena kau sudah
melakukan hal ini.” Nyonya produser segera berlalu setelah mengucapkan
ancamannya.
Kami semua mematung. Membayangkan suasana pengadilan
yang memang sudah tak asing. Apa kami harus mengalami lagi hal yang sama
seperti yang juga kami alami beberapa tahun silam?
“Itu yang kau mau?” kudengar suara Jaejoong. Dia
berjalan mendekat. Tapi dia tidak sedang bicara padaku. Dia bicara pada
Yoochun. “Kau membuat kita berlima harus terjebak lagi dalam tuntutan mereka.
aku benar-benar tidak percaya kau akan melakukan ini.”
“Aku bersumpah tidak akan melibatkan satupun di antara
kalian dalam masalah ini. Aku akan menghadapinya sendiri. Dan aku janjikan,
kali ini aku bisa menjebloskannya ke dalam penjara.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar