Welcome

Selasa, 15 Mei 2012

Unbeatable Heart (translate) part 11

orginal author : yukie23 at http://www.asianfanfics.com



Chang Su POV

Aku menatap dokter yang baru saja mengatakan berita yang sangat memukul batinku.

Mustahil.

Tidak mungkin.

Aku masih melihatnya, tersenyum padaku, satu jam lalu.

Sama sekali tidak mungkin bahwa putriku sekarang sudah meninggal.

Jaejoong POV

Tubuhku bergetar hebat dan air mata terus jatuh. Aku memegangi pakaian yang telah disiapkan Iseul. Dia telah melipatnya ketika mobil itu tergelincir di es dan jatuh. Iseul terlempar ke depan. Dia tidak memakai sabuk pengaman karena ia sedang berusaha melipat pakaianku, dan juga pakaian Yunho. Iseul bodoh… saudaraku… Iseul.

Aku melihat Yunho dan ayahku mengangkat peti mati ke atas bahu mereka. Ini tidak seharusnya terjadi. Iseul tidak seharusnya meninggalkan aku sendirian. Aku tidak siap menghadapi semua ini… aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa dia.

Yunho lewat tepat di depanku, mengabaikan tatapanku. Sesuatu berkata padaku bahwa semua orang yang berkerumun tampak kabur baginya, dan satu-satunya yang ia rasakan, adalah berat peti mati Iseul di bahunya. Upacara ini dimulai, dan ketika peti itu diletakkan di bawah, aku merasa sekali lagi, sesuatu dalam perutku seolah dirobek-robek.

Karena mereka.

Karena aku telah kehilangan saudaraku.

Saudara kembarku.

Saudaraku yang selalu seperti bagian terpenting dalam hidupku.

Aku telah kehilangan separuh nyawaku…

“Jaejoong...” aku mendengar suara Yunho di belakangku. “Jangan pernah lagi membuatku menderita, oke? Aku tidak akan sanggup jika harus kehilanganmu juga. Tetaplah hidup. Kau harus tetap hidup… untuknya…”

Aku mengangguk, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Saat ini, aku telah kehilangan kemampuanku untuk berbicara. Aku tersenyum padanya. Dia mengangguk pengertian.

Soo Jin POV

Aku menatap sebagai hujan turun perlahan. Sekarang sudah musim semi. Musim dingin yang telah membawa begitu banyak rasa sakit pada kami akhirnya berlalu. Tapi, masih tersisa begitu banyak rasa sakit dalam diriku. Aku memejamkan mata dan bersandar pada kursiku yang keras. Aku duduk di kamar Jaejoong, mengamati anakku yang sedang berjuang untuk bertahan hidup. Sebagai anakku, dia pasti sedang mencoba menemukan alasan untuk tetap bertahan hidup.

Dia telah bertahan hidup karena Iseul. Bukan hanya karena Iseul telah mendonor, tapi juga karena ia tak pernah meninggalkan Jaejoong sendiri. Jika Jaejoong ingin ditemani, ia akan berusaha sebisa mungkin untuk tetap di sisinya, untuk tidak pernah meninggalkannya sendirian.

Tapi, aku tahu bahwa Jaejoong telah memintanya untuk berhenti melakukan itu. Aku tahu bahwa Jaejoong merasa bahwa ia takkan pernah bisa membayar apa yang telah dilakukan Iseul untuknya. Jadi dia mencoba mencari orang lain untuk tempatnya bersandar; Yunho. Itulah yang dilakukan putraku. Dia ingin Iseul memiliki seseorang untuk menemaninya. Karena Jaejoong tahu, dia tahu bahwa dia tidak bisa selamanya menemani Iseul.

Sayangnya, tidak satupun dari kami berpikir tentang hal ini, termasuk Iseul. Tak satupun dari kami yang membayangkan, bahwa hari hujan ini akan tanpa Iseul.

Sangat berat bagiku untuk menyadari bahwa aku tidak pernah mengatakan bahwa aku masih mencintainya setelah kasus pengadilan. Aku tidak memiliki keberanian untuk menyentuhnya dan memeluknya. Jika aku bisa memutar waktu, aku akan memeluknya untuk waktu yang lama. Tapi aku tahu bahwa aku tidak bisa menghentikan apa yang telah terjadi. Tapi bukan berarti, aku tidak pernah mencobanya.

Aku merindukannya.

Aku sangat merindukannya, aku benar-benar tak bisa menahan perasaan ini.

Aku membutuhkan Iseul di sampingku. Aku membutuhkan Iseul untuk meyakinkanku bahwa Jaejoong tidak akan mati, bahwa ia akan bertahan. Satu bulan. Sudah satu bulan sejak dia meninggalkanku, meninggalkan Chang Su, meninggalkan Jaejoong.

Jaejoong tidak bisa berbicara lagi, tapi dia tetap bertahan.

Aku menyeka air mata dari wajahku saat aku berpaling untuk melihat putraku. Matanya terutup rapat, dan napasnya keluar perlahan-lahan. Aku tahu pasti bahwa fakta bahwa ia masih hidup adalah sebuah keajaiban. Aku hanya berharap keajaiban itu akan tetap ada sampai hari operasi satu minggu lagi. Hari di mana mereka mengganti hati Jaejoong dengan hati Iseul. Setelah semua hal yang dilakukannya, Iseul adalah penyangga hidup Jaejoong. Dan aku tahu, bahwa dia tidak akan keberatan sama sekali jika organnya digunakan untuk menyelamatkan saudaranya.

Iseul ... Aku mencintaimu..

Chang Su POV

Aku bersumpah bahwa kemarin itu adalah musim semi. Sekarang musim gugur. Mengapa waktu berlangsung dengan begitu cepat?

Mengapa aku seperti merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupku?

Karena memang ada yang hilang. Suara tawa putriku.

Aku menatap putraku yang berada di kursi rodanya, Yunho mendorong kursi rodanya di belakangnya, berjalan-jalan melalui taman rumah sakit. Aku tersenyum. Yunho telah sangat membantu.

Aku berbalik kembali ke kamarnya dan merasa ada sesuatu yang terpikir olehku saat aku melihat foto dalam bingkai di samping tempat tidur Jaejoong. Aku tidak pernah datang ke kamarnya kecuali jika dia tertidur atau tak ada siapapun di kamar ini. Foto itu… itu hanya… menyakitkan.

Iseul berdiri di samping Jaejoong, rambutnya baru saja dicukur. Kedua anak kembarku.

Sungguh menyakitkan melihat Iseul mana-mana, dalam foto, dalam kenangan, tapi tidak ada di depanku.

Jika Iseul ada di sini hari ini, berapa umurnya? Dua puluh tiga. Ya, usia yang sama seperti Jaejoong, dua puluh tiga.

Aku menatap putraku. Dia masih bertahan. Ia hampir saja menyerah, tapi ia tetap mencoba tegar. Dia mengatakan bahwa dia hidup untuk Iseul. Dia mengatakan padaku bahwa dia telah bagian tubuh Iseul untuk hidupnya, jadi ia takkan menyia-nyiakannya. Dia akan bahagia setiap hari, seperti yang selama ini dilakukan Iseul.

Aku tahu dia tidak ingin meninggalkan kami sendirian. Dokter mengatakan ia memiliki kemauan yang luar biasa. Diagnosis mengatakan bahwa ia akan mati pada usia dua puluh. Tapi, sekarang, hari ini, usianya sudah dua puluh tiga. Dan dia masih hidup. Putraku.

Aku memejamkan mata dan membiarkan air mata mengalir di wajahku. Aku tahu, tidak mungkin aku bisa terus menahan air mata ini. Aku sudah tidak kuat.

Aku melihat Jaejoong tersenyum. Ya, putraku masih hidup. Namun, walaupun nanti dia pergi, dia dan Iseul masih akan tetap hidup. Kenangan dalam dirinya, yang membuatnya hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar