Chang Su POV
Aku menatap
dokter yang baru saja mengatakan berita yang sangat memukul batinku.
Mustahil.
Tidak mungkin.
Tidak mungkin.
Aku masih
melihatnya, tersenyum padaku, satu jam lalu.
Sama sekali
tidak mungkin bahwa putriku sekarang sudah meninggal.
Jaejoong POV
Tubuhku bergetar
hebat dan air mata terus jatuh. Aku memegangi pakaian yang telah disiapkan
Iseul. Dia telah melipatnya ketika mobil itu tergelincir di es dan jatuh. Iseul
terlempar ke depan. Dia tidak memakai sabuk pengaman karena ia sedang berusaha
melipat pakaianku, dan juga pakaian Yunho. Iseul bodoh… saudaraku… Iseul.
Aku melihat
Yunho dan ayahku mengangkat peti mati ke atas bahu mereka. Ini tidak seharusnya
terjadi. Iseul tidak seharusnya meninggalkan aku sendirian. Aku tidak siap
menghadapi semua ini… aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa dia.
Yunho lewat
tepat di depanku, mengabaikan tatapanku. Sesuatu berkata padaku bahwa semua
orang yang berkerumun tampak kabur baginya, dan satu-satunya yang ia rasakan,
adalah berat peti mati Iseul di bahunya. Upacara ini dimulai, dan ketika peti
itu diletakkan di bawah, aku merasa sekali lagi, sesuatu dalam perutku seolah
dirobek-robek.
Karena mereka.
Karena aku telah
kehilangan saudaraku.
Saudara
kembarku.
Saudaraku yang
selalu seperti bagian terpenting dalam hidupku.
Aku telah
kehilangan separuh nyawaku…
“Jaejoong...”
aku mendengar suara Yunho di belakangku. “Jangan pernah lagi membuatku
menderita, oke? Aku tidak akan sanggup jika harus kehilanganmu juga. Tetaplah
hidup. Kau harus tetap hidup… untuknya…”
Aku mengangguk,
tidak mengucapkan sepatah kata pun. Saat ini, aku telah kehilangan kemampuanku
untuk berbicara. Aku tersenyum padanya. Dia mengangguk pengertian.
Soo Jin POV
Aku menatap
sebagai hujan turun perlahan. Sekarang sudah musim semi. Musim dingin yang
telah membawa begitu banyak rasa sakit pada kami akhirnya berlalu. Tapi, masih
tersisa begitu banyak rasa sakit dalam diriku. Aku memejamkan mata dan
bersandar pada kursiku yang keras. Aku duduk di kamar Jaejoong, mengamati
anakku yang sedang berjuang untuk bertahan hidup. Sebagai anakku, dia pasti
sedang mencoba menemukan alasan untuk tetap bertahan hidup.
Dia telah
bertahan hidup karena Iseul. Bukan hanya karena Iseul telah mendonor, tapi juga
karena ia tak pernah meninggalkan Jaejoong sendiri. Jika Jaejoong ingin
ditemani, ia akan berusaha sebisa mungkin untuk tetap di sisinya, untuk tidak
pernah meninggalkannya sendirian.
Tapi, aku tahu
bahwa Jaejoong telah memintanya untuk berhenti melakukan itu. Aku tahu bahwa
Jaejoong merasa bahwa ia takkan pernah bisa membayar apa yang telah dilakukan
Iseul untuknya. Jadi dia mencoba mencari orang lain untuk tempatnya bersandar;
Yunho. Itulah yang dilakukan putraku. Dia ingin Iseul memiliki seseorang untuk
menemaninya. Karena Jaejoong tahu, dia tahu bahwa dia tidak bisa selamanya
menemani Iseul.
Sayangnya, tidak
satupun dari kami berpikir tentang hal ini, termasuk Iseul. Tak satupun dari
kami yang membayangkan, bahwa hari hujan ini akan tanpa Iseul.
Sangat berat
bagiku untuk menyadari bahwa aku tidak pernah mengatakan bahwa aku masih
mencintainya setelah kasus pengadilan. Aku tidak memiliki keberanian untuk
menyentuhnya dan memeluknya. Jika aku bisa memutar waktu, aku akan memeluknya
untuk waktu yang lama. Tapi aku tahu bahwa aku tidak bisa menghentikan apa yang
telah terjadi. Tapi bukan berarti, aku tidak pernah mencobanya.
Aku
merindukannya.
Aku sangat
merindukannya, aku benar-benar tak bisa menahan perasaan ini.
Aku membutuhkan
Iseul di sampingku. Aku membutuhkan Iseul untuk meyakinkanku bahwa Jaejoong
tidak akan mati, bahwa ia akan bertahan. Satu bulan. Sudah satu bulan sejak dia
meninggalkanku, meninggalkan Chang Su, meninggalkan Jaejoong.
Jaejoong tidak
bisa berbicara lagi, tapi dia tetap bertahan.
Aku menyeka air
mata dari wajahku saat aku berpaling untuk melihat putraku. Matanya terutup
rapat, dan napasnya keluar perlahan-lahan. Aku tahu pasti bahwa fakta bahwa ia
masih hidup adalah sebuah keajaiban. Aku hanya berharap keajaiban itu akan
tetap ada sampai hari operasi satu minggu lagi. Hari di mana mereka mengganti
hati Jaejoong dengan hati Iseul. Setelah semua hal yang dilakukannya, Iseul
adalah penyangga hidup Jaejoong. Dan aku tahu, bahwa dia tidak akan keberatan
sama sekali jika organnya digunakan untuk menyelamatkan saudaranya.
Iseul ... Aku
mencintaimu..
Chang Su POV
Aku bersumpah
bahwa kemarin itu adalah musim semi. Sekarang musim gugur. Mengapa waktu
berlangsung dengan begitu cepat?
Mengapa aku
seperti merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupku?
Karena memang
ada yang hilang. Suara tawa putriku.
Aku menatap
putraku yang berada di kursi rodanya, Yunho mendorong kursi rodanya di
belakangnya, berjalan-jalan melalui taman rumah sakit. Aku tersenyum. Yunho
telah sangat membantu.
Aku berbalik
kembali ke kamarnya dan merasa ada sesuatu yang terpikir olehku saat aku
melihat foto dalam bingkai di samping tempat tidur Jaejoong. Aku tidak pernah
datang ke kamarnya kecuali jika dia tertidur atau tak ada siapapun di kamar
ini. Foto itu… itu hanya… menyakitkan.
Iseul berdiri di
samping Jaejoong, rambutnya baru saja dicukur. Kedua anak kembarku.
Sungguh
menyakitkan melihat Iseul mana-mana, dalam foto, dalam kenangan, tapi tidak ada
di depanku.
Jika Iseul ada
di sini hari ini, berapa umurnya? Dua puluh tiga. Ya, usia yang sama seperti
Jaejoong, dua puluh tiga.
Aku menatap
putraku. Dia masih bertahan. Ia hampir saja menyerah, tapi ia tetap mencoba
tegar. Dia mengatakan bahwa dia hidup untuk Iseul. Dia mengatakan padaku bahwa
dia telah bagian tubuh Iseul untuk hidupnya, jadi ia takkan menyia-nyiakannya.
Dia akan bahagia setiap hari, seperti yang selama ini dilakukan Iseul.
Aku tahu dia
tidak ingin meninggalkan kami sendirian. Dokter mengatakan ia memiliki kemauan
yang luar biasa. Diagnosis mengatakan bahwa ia akan mati pada usia dua puluh.
Tapi, sekarang, hari ini, usianya sudah dua puluh tiga. Dan dia masih hidup.
Putraku.
Aku memejamkan
mata dan membiarkan air mata mengalir di wajahku. Aku tahu, tidak mungkin aku
bisa terus menahan air mata ini. Aku sudah tidak kuat.
Aku melihat
Jaejoong tersenyum. Ya, putraku masih hidup. Namun, walaupun nanti dia pergi,
dia dan Iseul masih akan tetap hidup. Kenangan dalam dirinya, yang membuatnya
hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar