Welcome

Minggu, 20 Mei 2012

The Gangster (part 5)


Tubuh Jaejoong yang rapuh dan penuh darah masih terkapar tak berdaya di sana. Dia menatap keempat sosok yang sudah berjalan menjauh, dan seperti magnet, kepergian mereka berempat membuat semua orang yang tadi berkumpul di sana juga ikut pergi meninggalkan tempat itu.

Jaejoong ingin bangun dan berjalan pulang, namun tubuhnya tak mengizinkan. Ia sudah terlalu banyak merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Dengan rahang yang seolah ingin copot, bibir yang agak sobek dan berdarah, bahkan beberapa memar di pipi akibat pukulan keras yang bertubi-tubi. Jaejoong merasa ia tidak akan pernah bisa bangun jika tak ada yang bersedia membangunkannya.

“Astaga…!” seruan itu membuat Jaejoong menoleh dengan memaksakan lehernya. Ia menatap Nako yang kini berlutut untuk kemudian membantunya duduk tegak dengan bersandar pada dinding. “Kali ini apa lagi yang mereka lakukan padamu? Memukulimu sampa kau sekarat begini?”

Jaejoong tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Mulutnya kaku dan rahangnya menolak untuk digerakkan. Ia hanya bisa menatap Nako dengan sorot mata meminta pertolongan yang entah dalam bentuk apa. Nako segera mengambil kertas tissue dari tasnya dan membersihkan luka di wajah Jaejoong.

“Aku akan membuat perhitungan dengan mereka! kau tunggu saja di sini!” ucap Nako mantap sambil bergegas pergi meninggalkan Jaejoong. Tak ada yang bisa dilakukan Jaejoong kecuali duduk diam dan menunggu Nako kembali. Dia tidak tahu apa yang ingin dilakukan Nako pada anak-anak tak punya hati itu.

Nako berlari sekuat tenaga dengan melupakan luka di telapak kakinya. Ia merasa sakit, sangat sakit, tapi ia tak peduli. Menurutnya, apa yang baru saja dilakukan gangster itu pada Kim Jaejoong sudah di luar batas wajar. Memukuli sampai sekarat seperti itu, sama sekali bukan hal yang mudah dimaafkan. Ia bisa menerima kalau mereka berempat sering menghinanya karena ia anak Jepang. Bahkan saat ia juga harus dikerjai tiap hari dengan cara dilempari telur atau tomat sekalipun, ia tak masalah. Ia merasa tubuhnya tidak dilukai dengan perbuatan itu. Tapi Kim Jaejoong? Ia bisa melihat sendiri betapa parahnya luka yang memenuhi sekujur tubuh Jaejoong. Dan ia merasa ia tak bisa memaafkan perbuatan itu.

“Hei, kalian! Tunggu!” teriak Nako saat melihat keempat sosok itu hendak memasuki sebuah mobil sedan hitam yang bermerek. Mereka berempat menahan langkah, lalu menoleh serempak pada Nako.

“Kalian dengar? Anak Jepang itu sedang bicara pada kita.” Ucap Junsu, lalu yang lainnya tertawa pedas dengan nada mencemooh yang terdengar jelas.

Nako tidak menghiraukan hal itu. Dia mengepalkan tinjunya, ingin segera menghantam wajah-wajah sombong di depannya itu. Bahkan wajah Yunho sekalipun. Wajah yang sebenarnya sangat ia kagumi. Tapi, jika ia mengingat bagaimana kondisi Kim Jaejoong tadi, ia bisa melupakan rasa kagumnya dalam sekejap mata.

“Ada apa?” tanya Yunho sambil memandangnya malas.

“Apa yang kalian lakukan pada Kim Jaejoong?” nada bicara Nako terdengar sangat menghakimi.

“Kami hanya memberi sedikit pelajaran padanya.” Ucap Changmin. Wajahnya juga terlihat agak lebam dan ada luka di wajah tampan itu. Nako melirik Yunho, mendapati luka yang sama. Jadi mereka bertiga berkelahi? Dan mereka melawan Jaejoong yang hanya sendirian?

“Kalian tahu apa akibat dari perbuatan kalian?! Jaejoong bisa…!”

“Bisa apa?! Mati?” Yunho mengucapkan pertanyaan itu dengan mimik yang jelas-jelas merendahkan.
 
Nako merasakan jantungnya seperti tertusuk ribuan jarum saat mendengar ucapan Yunho. Ia masih bisa menerima semua hinaan yang ditujukan padanya. Tapi ia sungguh tak terima jika mendengar mereka merendahkan Kim Jaejoong. Seseorang yang menurutnya tak memiliki masalah apa-apa dengan para anggota gangster ini. Tanpa terasa Nako mengangkat tangannya, dan sesaat kemudian terdengar bunyi tamparan yang sangat keras. Nako segera mengepalkan tangannya setelah ia merasa berhasil memberi noda merah di pipi kiri Yunho. Kedua bola mata Nako terlihat berkobar-kobar memancarkan api amarah yang luar biasa. Dia merasa, rasa sakit hatinya atas penghinaan mereka pada Jaejoong, telah membuat seluruh rasa takutnya tertelan mentah-mentah.

“Berani sekali kau berbuat seperti itu.” Ucap Changmin sambil mendorong bahu Nako hingga gadis itu harus mundur selangkah untuk menyeimbangkan diri.

“Kau pikir kau siapa? Mau mati, hah?! Mau kami buat sekarat seperti anak baru itu?!” Changmin terus mendorong tubuh Nako, dan Nako sama sekali tidak melawan. Ia juga tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Changmin. Yang dilakukannya hanya terus mundur karena Changmin terus mendorong bahunya sambil memaki-maki.

“Cukup!” suara bass Yunho menghentikan caci-maki Changmin. “Hei, anak Jepang! Aku pastikan kau akan sangat menyesal telah melakukan ini. Dan ingatlah, kau harus membayar kesalahanmu seribu kali lipat lebih menyakitkan dari apa yang aku rasakan saat ini. Camkan itu baik-baik!” Yunho melemparkan tatapan paling sinis yang pernah dilihat Nako. Setelah itu mereka berempat beranjak memasuki mobil yang sudah setia menunggu. Nako memejamkan matanya saat mobil itu bergerak maju. Ia tidak percaya bahwa ia sampai rela mempertaruhkan hidupnya hanya demi membela Jaejoong di depan gangster yang menyeramkan itu. Entahlah, ia hanya merasa hatinya tak mengizinkan jika harus melihat Jaejoong terluka oleh orang lain. Jika ditanya ia menyesal atau tidak, sebenarnya ia sangat menyesal.

***

“Aku pulang!” suara nyaring Nako membuat Ny. Misuzawa langsung berlari menuju pintu. Nako pulang terlambat hari ini, terlebih ponselnya ketinggalan di rumah. Untunglah sekarang Nako sudah kembali.

Namun saat Ny. Misuzawa membuka pintu, ia terpekik kaget melihat siapa sosok yang ada di sebelah puteri bungsunya. Seorang pria dengan pakaian awut-awutan dan penuh luka.

“Si, siapa itu?” tanya Ny. Misuzawa dengan wajah terkaget-kaget.

“Nanti saja berkenalannya, okaasan. Aku harus mengobati luka Jaejoong dulu!” Nako langsung masuk dan membawa Jaejoong duduk di sofa. Ny. Misuzawa tidak bisa bergerak dari tempatnya. Ia melihat puterinya sibuk membawakan air hangat, handuk, obat luka dan perban ke ruang tamu. Setelah itu, ia hanya bisa memperhatikan Nako membersihkan setiap luka di wajah dan lengan anak laki-laki itu. Belum pernah selama ini Nako membawa teman prianya ke rumah. Dan bahkan, Ny. Misuzawa tidak pernah mengira bahwa Nako berteman dekat dengan seorang pria. Apa mungkin laki-laki itu… pacarnya Nako? Tapi kenapa Nako tak pernah cerita? Kalau memang benar mereka berdua pacaran, maka Ny. Misuzawa tidak akan diam saja. Dia harus menjauhkan Nako dari anak itu. Anak laki-laki yang sepertinya bukan dari keluarga baik-baik. Dengan melihat cara berpakaiannya saja, Ny. Misuzawa bisa melihat bahwa anak itu akan mendatangkan pengaruh buruk pada puterinya.

“Okaasan!” suara khas milik Nako membuat Ny. Misuzawa langsung tersadar dari lamunan panjangnya. “Jaejoong boleh menginap di sini kan? Untuk malam ini saja.” Pinta Nako.

Ny. Misuzawa tercengang mendengar permintaan itu. Ditatapnya lagi anak laki-laki yang duduk di sebelah Nako. Kini luka di wajahnya sudah diobati dan setidaknya Ny. Misuzawa bisa melihat ada wajah tampan di balik kesan awut-awutan yang dimiliki anak itu. Ia memandangi anak bernama Jaejoong itu dengan teliti. Melihat sepatunya yang kotor, celana dan jas seragam yang penuh noda cat warna merah, dan rambut hitam gondrong yang sepertinya hanya disisir jari.

 “Memangnya nanti tidak dicari orang tuamu kalau kau menginap di sini?” tanya Ny. Misuzawa sambil menatap Jaejoong.

“Tenang saja, ajusshi, ibuku tidak akan repot-repot mencariku jika aku tidak pulang satu hari.” Jawabnya santai.

Jujur, sebenarnya Ny. Misuzawa tidak ingin mengizinkan anak itu menginap. Tapi ia juga tak tega jika membiarkan Jaejoong pulang dalam keadaan penuh luka seperti itu. Terlebih lagi, sepertinya Nako akan sangat senang jika Jaejoong diizinkan menginap.

“Bagaimana, okaasan?” tanya Nako lagi.

“Baiklah, untuk satu malam saja ya?”

“Terima kasih, okaasan!” seru Nako gembira.

***

Sekujur tubuh Jaejoong masih terasa sakit. Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur Gii, yang tadi baru saja ia kenali sebagai kakaknya Nako. Jaejoong bahkan tak ikut ke meja makan saat tiba waktu makan malam, dan Nako dengan baik hati mau mengantarkan makanan ke kamar untuk Jaejoong. Sekarang sepertinya Nako sedang belajar di kamarnya, jadi Jaejoong hanya sendirian di kamar milik Gii.

“Aku sudah dengar banyak tentang orang-orang yang memukulimu.” Suara Gii terdengar muncul dari balik pintu. Pria jangkung itu lantas duduk di kursi belajar dan menghadap lurus ke arah Jaejoong yang tengah bersandar di tempat tidur.

“Pasti Nako banyak menceritakan tentang mereka, ya?” tanya Jaejoong dengan suara rendah.

Gii mengangguk rileks. “Jika aku boleh bertanya, apakah kau pacarnya Nako?”

Pertanyaan Gii yang satu ini membuat Jaejoong refleks mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk dalam. Pacar? Ia sungguh tak pernah memikirkan hal semacam itu sebelumnya. Ia tak pernah mengenal seperti apa rasanya punya pacar, bahkan jatuh cinta saja ia tidak pernah. Yang ia rasakan dalam hidupnya hanya kehampaan yang tak terdefinisi. Karena yang selama ini ia terima hanyalah tatapan kebencian dari orang lain, penghinaan, dan bahkan penyiksaan. Ia tak pernah mencicipi seperti apa rasanya disayangi atau menyayangi orang lain.

“Jaejoong?” suara Gii terdengar mengusik pikiran Jaejoong yang sedang melayang-layang. “Kau merasa tersinggung jika aku menanyakan hal itu? Baiklah, aku minta maaf.”

Jaejoong menggeleng pelan sambil tersenyum. “Aku tidak tersinggung, hyung. Tidak sama sekali. Lagipula aku dan Nako tidak ada hubungan apa-apa. Dan sepertinya, Nako juga tidak mungkin tertarik dengan orang sepertiku.” Jaejoong tertawa pelan, namun ia sendiri tak tahu apa yang ditertawakannya.

“Tapi jika ternyata Nako memang menyukaimu bagaimana?”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar