Tubuh Jaejoong yang rapuh dan
penuh darah masih terkapar tak berdaya di sana. Dia menatap keempat sosok yang
sudah berjalan menjauh, dan seperti magnet, kepergian mereka berempat membuat
semua orang yang tadi berkumpul di sana juga ikut pergi meninggalkan tempat
itu.
Jaejoong ingin bangun dan
berjalan pulang, namun tubuhnya tak mengizinkan. Ia sudah terlalu banyak
merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Dengan rahang yang seolah ingin
copot, bibir yang agak sobek dan berdarah, bahkan beberapa memar di pipi akibat
pukulan keras yang bertubi-tubi. Jaejoong merasa ia tidak akan pernah bisa
bangun jika tak ada yang bersedia membangunkannya.
“Astaga…!” seruan itu membuat
Jaejoong menoleh dengan memaksakan lehernya. Ia menatap Nako yang kini berlutut
untuk kemudian membantunya duduk tegak dengan bersandar pada dinding. “Kali ini
apa lagi yang mereka lakukan padamu? Memukulimu sampa kau sekarat begini?”
Jaejoong tidak bisa menjawab
pertanyaan itu. Mulutnya kaku dan rahangnya menolak untuk digerakkan. Ia hanya
bisa menatap Nako dengan sorot mata meminta pertolongan yang entah dalam bentuk
apa. Nako segera mengambil kertas tissue dari tasnya dan membersihkan luka di
wajah Jaejoong.
“Aku akan membuat perhitungan
dengan mereka! kau tunggu saja di sini!” ucap Nako mantap sambil bergegas pergi
meninggalkan Jaejoong. Tak ada yang bisa dilakukan Jaejoong kecuali duduk diam
dan menunggu Nako kembali. Dia tidak tahu apa yang ingin dilakukan Nako pada
anak-anak tak punya hati itu.
Nako berlari sekuat tenaga dengan
melupakan luka di telapak kakinya. Ia merasa sakit, sangat sakit, tapi ia tak
peduli. Menurutnya, apa yang baru saja dilakukan gangster itu pada Kim Jaejoong
sudah di luar batas wajar. Memukuli sampai sekarat seperti itu, sama sekali
bukan hal yang mudah dimaafkan. Ia bisa menerima kalau mereka berempat sering
menghinanya karena ia anak Jepang. Bahkan saat ia juga harus dikerjai tiap hari
dengan cara dilempari telur atau tomat sekalipun, ia tak masalah. Ia merasa
tubuhnya tidak dilukai dengan perbuatan itu. Tapi Kim Jaejoong? Ia bisa melihat
sendiri betapa parahnya luka yang memenuhi sekujur tubuh Jaejoong. Dan ia
merasa ia tak bisa memaafkan perbuatan itu.
“Hei, kalian! Tunggu!” teriak
Nako saat melihat keempat sosok itu hendak memasuki sebuah mobil sedan hitam
yang bermerek. Mereka berempat menahan langkah, lalu menoleh serempak pada
Nako.
“Kalian dengar? Anak Jepang itu
sedang bicara pada kita.” Ucap Junsu, lalu yang lainnya tertawa pedas dengan
nada mencemooh yang terdengar jelas.
Nako tidak menghiraukan hal itu.
Dia mengepalkan tinjunya, ingin segera menghantam wajah-wajah sombong di
depannya itu. Bahkan wajah Yunho sekalipun. Wajah yang sebenarnya sangat ia
kagumi. Tapi, jika ia mengingat bagaimana kondisi Kim Jaejoong tadi, ia bisa
melupakan rasa kagumnya dalam sekejap mata.
“Ada apa?” tanya Yunho sambil
memandangnya malas.
“Apa yang kalian lakukan pada Kim
Jaejoong?” nada bicara Nako terdengar sangat menghakimi.
“Kami hanya memberi sedikit
pelajaran padanya.” Ucap Changmin. Wajahnya juga terlihat agak lebam dan ada
luka di wajah tampan itu. Nako melirik Yunho, mendapati luka yang sama. Jadi
mereka bertiga berkelahi? Dan mereka melawan Jaejoong yang hanya sendirian?
“Kalian tahu apa akibat dari
perbuatan kalian?! Jaejoong bisa…!”
“Bisa apa?! Mati?” Yunho mengucapkan
pertanyaan itu dengan mimik yang jelas-jelas merendahkan.
Nako merasakan jantungnya seperti tertusuk ribuan jarum saat mendengar ucapan
Yunho. Ia masih bisa menerima semua hinaan yang ditujukan padanya. Tapi ia
sungguh tak terima jika mendengar mereka merendahkan Kim Jaejoong. Seseorang
yang menurutnya tak memiliki masalah apa-apa dengan para anggota gangster ini.
Tanpa terasa Nako mengangkat tangannya, dan sesaat kemudian terdengar bunyi
tamparan yang sangat keras. Nako segera mengepalkan tangannya setelah ia merasa
berhasil memberi noda merah di pipi kiri Yunho. Kedua bola mata Nako terlihat
berkobar-kobar memancarkan api amarah yang luar biasa. Dia merasa, rasa sakit
hatinya atas penghinaan mereka pada Jaejoong, telah membuat seluruh rasa
takutnya tertelan mentah-mentah.
“Berani sekali kau berbuat
seperti itu.” Ucap Changmin sambil mendorong bahu Nako hingga gadis itu harus
mundur selangkah untuk menyeimbangkan diri.
“Kau pikir kau siapa? Mau mati,
hah?! Mau kami buat sekarat seperti anak baru itu?!” Changmin terus mendorong
tubuh Nako, dan Nako sama sekali tidak melawan. Ia juga tidak menjawab
pertanyaan yang diajukan Changmin. Yang dilakukannya hanya terus mundur karena
Changmin terus mendorong bahunya sambil memaki-maki.
“Cukup!” suara bass Yunho menghentikan
caci-maki Changmin. “Hei, anak Jepang! Aku pastikan kau akan sangat menyesal
telah melakukan ini. Dan ingatlah, kau harus membayar kesalahanmu seribu kali
lipat lebih menyakitkan dari apa yang aku rasakan saat ini. Camkan itu
baik-baik!” Yunho melemparkan tatapan paling sinis yang pernah dilihat Nako.
Setelah itu mereka berempat beranjak memasuki mobil yang sudah setia menunggu.
Nako memejamkan matanya saat mobil itu bergerak maju. Ia tidak percaya bahwa ia
sampai rela mempertaruhkan hidupnya hanya demi membela Jaejoong di depan
gangster yang menyeramkan itu. Entahlah, ia hanya merasa hatinya tak
mengizinkan jika harus melihat Jaejoong terluka oleh orang lain. Jika ditanya
ia menyesal atau tidak, sebenarnya ia sangat menyesal.
***
“Aku pulang!” suara nyaring Nako
membuat Ny. Misuzawa langsung berlari menuju pintu. Nako pulang terlambat hari
ini, terlebih ponselnya ketinggalan di rumah. Untunglah sekarang Nako sudah
kembali.
Namun saat Ny. Misuzawa membuka
pintu, ia terpekik kaget melihat siapa sosok yang ada di sebelah puteri
bungsunya. Seorang pria dengan pakaian awut-awutan dan penuh luka.
“Si, siapa itu?” tanya Ny.
Misuzawa dengan wajah terkaget-kaget.
“Nanti saja berkenalannya,
okaasan. Aku harus mengobati luka Jaejoong dulu!” Nako langsung masuk dan
membawa Jaejoong duduk di sofa. Ny. Misuzawa tidak bisa bergerak dari
tempatnya. Ia melihat puterinya sibuk membawakan air hangat, handuk, obat luka
dan perban ke ruang tamu. Setelah itu, ia hanya bisa memperhatikan Nako
membersihkan setiap luka di wajah dan lengan anak laki-laki itu. Belum pernah
selama ini Nako membawa teman prianya ke rumah. Dan bahkan, Ny. Misuzawa tidak
pernah mengira bahwa Nako berteman dekat dengan seorang pria. Apa mungkin
laki-laki itu… pacarnya Nako? Tapi kenapa Nako tak pernah cerita? Kalau memang
benar mereka berdua pacaran, maka Ny. Misuzawa tidak akan diam saja. Dia harus
menjauhkan Nako dari anak itu. Anak laki-laki yang sepertinya bukan dari keluarga
baik-baik. Dengan melihat cara berpakaiannya saja, Ny. Misuzawa bisa melihat
bahwa anak itu akan mendatangkan pengaruh buruk pada puterinya.
“Okaasan!” suara khas milik Nako
membuat Ny. Misuzawa langsung tersadar dari lamunan panjangnya. “Jaejoong boleh
menginap di sini kan? Untuk malam ini saja.” Pinta Nako.
Ny. Misuzawa tercengang mendengar
permintaan itu. Ditatapnya lagi anak laki-laki yang duduk di sebelah Nako. Kini
luka di wajahnya sudah diobati dan setidaknya Ny. Misuzawa bisa melihat ada
wajah tampan di balik kesan awut-awutan yang dimiliki anak itu. Ia memandangi
anak bernama Jaejoong itu dengan teliti. Melihat sepatunya yang kotor, celana
dan jas seragam yang penuh noda cat warna merah, dan rambut hitam gondrong yang
sepertinya hanya disisir jari.
“Memangnya nanti tidak dicari orang tuamu
kalau kau menginap di sini?” tanya Ny. Misuzawa sambil menatap Jaejoong.
“Tenang saja, ajusshi, ibuku
tidak akan repot-repot mencariku jika aku tidak pulang satu hari.” Jawabnya
santai.
Jujur, sebenarnya Ny. Misuzawa
tidak ingin mengizinkan anak itu menginap. Tapi ia juga tak tega jika
membiarkan Jaejoong pulang dalam keadaan penuh luka seperti itu. Terlebih lagi,
sepertinya Nako akan sangat senang jika Jaejoong diizinkan menginap.
“Bagaimana, okaasan?” tanya Nako
lagi.
“Baiklah, untuk satu malam saja
ya?”
“Terima kasih, okaasan!” seru
Nako gembira.
***
Sekujur tubuh Jaejoong masih
terasa sakit. Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur Gii, yang tadi baru saja
ia kenali sebagai kakaknya Nako. Jaejoong bahkan tak ikut ke meja makan saat
tiba waktu makan malam, dan Nako dengan baik hati mau mengantarkan makanan ke
kamar untuk Jaejoong. Sekarang sepertinya Nako sedang belajar di kamarnya, jadi
Jaejoong hanya sendirian di kamar milik Gii.
“Aku sudah dengar banyak tentang
orang-orang yang memukulimu.” Suara Gii terdengar muncul dari balik pintu. Pria
jangkung itu lantas duduk di kursi belajar dan menghadap lurus ke arah Jaejoong
yang tengah bersandar di tempat tidur.
“Pasti Nako banyak menceritakan
tentang mereka, ya?” tanya Jaejoong dengan suara rendah.
Gii mengangguk rileks. “Jika aku
boleh bertanya, apakah kau pacarnya Nako?”
Pertanyaan Gii yang satu ini
membuat Jaejoong refleks mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk dalam.
Pacar? Ia sungguh tak pernah memikirkan hal semacam itu sebelumnya. Ia tak
pernah mengenal seperti apa rasanya punya pacar, bahkan jatuh cinta saja ia
tidak pernah. Yang ia rasakan dalam hidupnya hanya kehampaan yang tak
terdefinisi. Karena yang selama ini ia terima hanyalah tatapan kebencian dari
orang lain, penghinaan, dan bahkan penyiksaan. Ia tak pernah mencicipi seperti
apa rasanya disayangi atau menyayangi orang lain.
“Jaejoong?” suara Gii terdengar
mengusik pikiran Jaejoong yang sedang melayang-layang. “Kau merasa tersinggung
jika aku menanyakan hal itu? Baiklah, aku minta maaf.”
Jaejoong menggeleng pelan sambil
tersenyum. “Aku tidak tersinggung, hyung. Tidak sama sekali. Lagipula aku dan
Nako tidak ada hubungan apa-apa. Dan sepertinya, Nako juga tidak mungkin
tertarik dengan orang sepertiku.” Jaejoong tertawa pelan, namun ia sendiri tak
tahu apa yang ditertawakannya.
“Tapi jika ternyata Nako memang
menyukaimu bagaimana?”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar