Welcome

Selasa, 15 Mei 2012

Unbeatable Heart (translate) part 6

orginal author : yukie23 at http://www.asianfanfics.com

Soo Jin POV

Aku menatap kertas yang menuliskan tanggal pengadilan. Satu hari sebelum ulang tahun kedua anak kembarku. Satu hari sebelum mereka berusia 18 tahun. Aku menoleh ke dinding kalau-kalau ada seseorang yang menaruh catatan lagi. Ternyata tidak. Semua orang mungkin melupakan hari ulang tahun akhir-akhir ini. Ada hal lain yang harus lebih diprioritaskan dalam hidup kita.

Aku menatap keluar jendela rumah sakit saat matahari mulai terbit. Aku meraih cangkir kopiku, meneguknya dengan cepat. Berapa lama aku bisa menangani semua ini? Berapa lama lagi aku bisa melihat puteriku tanpa tatapan benci?

Dan jika dia memenangkan pengadilan? Akankan aku belajar untuk tidak menghiraukannya? Apa yang harus kulakukan? Meminta maaf? Atau… tidak… aku akan meminta maaf, sekalipun aku menang atau kalah. Pada akhirnya, dia tetap puteriku, apapun yang terjadi. Tapi kenapa… kenapa aku tidak bisa memiliki keluarga yang… bahagia?

Aku hanya berharap, bahwa suatu hari nanti… kami bisa berkumpul bersama, tersenyum dan bahagia. Suatu hari di mana penyakit dan tuntutan pengadilan itu tak pernah ada. Tapi aku jamin aku akan tetap menunggu sampai hari itu. Hari ulang tahun Iseul dan Jaejoong. Aku ingin mendapatkan kembali keluargaku pada hari itu.

Chang Su POV

Waktu demi waktu berlalu, tapi tak terjadi apa-apa. Tapi aku melihat wajah-wajah di sekelilingku. Semua bawahanku merasa simpatik. Mereka tahu apa yang terjadi, setelah itu, semuanya hanya sebatas berita. Aku mengeluarkan Iseul dari sekolah untuk menjauhkannya dari para reporter. Dari orang-orang yang melihatnya sebagai remaja yang bisa menuntut. Seseorang yang mereka kenal.

Aku membuka kaca mobil dan menatap ke luar. Saat aku keluar dari gedung, aku melihat serombongan reporter mulai menghampiriku.

“Mr. Kim, satu pertanyaan, kenapa kau mengeluarkan puterimu dari sekolah?!”

“Mr. Kim, bagaimana kondisi puteramu?”

“Mr.Kim, bagaimana issue ini berdampak pada keluargamu?”

“Mr. Kim! Mr.Kim!” aku mendengar suara-suara di sekelilingku. Aku menutup mataku saat melihat sorotan kamera. Aku juga menutup telingaku dari pertanyaan-pertanyaan itu, tapi aku mendengar sebuah pertanyaan sederhana yang membuatku marah.

“Mr. Kim! Bagaimana perasaanmu saat kau tahu bahwa puterimu sendiri, kembaran puteramu, justru sedang berusaha membunuhnya?”

Aku menatap pria itu. Sesaat kemudian aku memukul wajahnya. Kumpulan reporter mulai sedikit bubar.

“Kami akan menuntutmu untuk hal ini!” kameramennya berteriak, membungkuk untuk membantu reporternya bangun.

“Tuntut saja!” jawabku. “Aku siap untuk menghadapi pengadilan kapan saja. Tapi jangan pernah katakan, bahwa puteriku adalah pembunuh! Dia puteriku! Puteriku!! Menjauhlah darinya, menjauhlah dari keluarga kami! Jika kau mendekati istriku, puteriku, atau puteraku, aku akan menuntut orang bodoh seperti kalian ke neraka!!! Sekarang menyingkirlah dari jalanku!” aku berteriak.

Aku memasuki mobilku dengan marah. Aku membuka pintu dan membantingnya. Aku segera menginjak gas dan melesat dengan cepat meninggalkan tempat itu, tanganku meremas stir. Aku mengusap kepalaku untuk menjernihkan pikiran.

Ini adalah keluargaku. Mereka semua, dan aku akan menjaga mereka sampai akhir waktu. Apapun yang menjadi keputusan Iseul, dia tetap puteriku, dan tak seorangpun, tak seorangpun bisa memanggilnya pembunuh. Mereka semua bodoh. Berusaha menyalahkan puteriku, mereka seharusnya berusaha menemukan kebenaran. Karena pada akhirnya, tak peduli berapa kalipun aku memohon, sekalipun Iseul mendonor, Ataxia tetap akan membunuh Jaejoong.

Jaejoong POV

Aku menatap keluar jendela saat salju turun perlahan, menambah gundukan salju yang sudah menimbun jalanan di luar sana. Iseul tidak lagi mengunjungiku sejak dua minggu yang lalu. Aku tahu itu karena ibu. Aku juga tahu Iseul melakukannya karena ia merasa sangat tersakiti.

Aku mengalihkan pandangan dari jendela dan bergerak untuk meraih remote control di sampingku. Aku menggapainya dengan susah payah. Aku menekan tombolnya dan setelah berulang kali mencoba, akhirnya aku bisa menggerakkan tanganku untuk menekan tombol power.

Televisi menyala dan aku melihat veriety show di sana. Aku berusaha menjangkau remote control sekali lagi. Aku mencoba menekan tombol untuk mengganti channel, tapi aku malah memencet “menu”. Aku mencoba menggerakan tanganku dan mengontrol jariku untuk menghilangkan tampilan menu, tapi yang terjadi, di layar malah tampak pilihan bahasa. Aku berusaha lebih keras, tapi rasanya aku tak bisa lagi mengontrol gerakanku dan akhirnya jariku menekan tombol volume sampai suara TV menjadi sangat keras.

Aku berhenti dan menatap remote di tanganku. Tanganku masih menggenggamnya walaupun pada kenyataannya aku tak memiliki kekuatan untuk memencet tombol. Aku menutup mataku dan melemparkan remote itu. Akibatnya, romote itu terpecah, jatuh berguling. Aku menatapnya, air mata mengalir di wajahku.
Bagaimana bisa sesuatu yang begitu sederhana seperti mengganti channel bisa menjadi sebuah tantangan besar?

Aku mengabaikan suara keras dari televisi dan melihat ke arah jendela sekali lagi. Salju jatuh lebih cepat sekarang. Aku menutup mataku lebih erat, membiarkan air mata jatuh, seluruh tubuhku gemetar. Berapa lama lagi aku bisa melakukan ini?

Berapa lama lagi aku bisa melanjutkan berjuang melawan penyakit ini? Hidup terasa seperti beban. Membutuhkan seluruh kekuatan hanya untuk membuka mata agar dapat melihat matahari terbit lagi.
Berapa lama aku bisa bertahan seperti ini? Kesempatanku untuk hidup… berapa lama itu bisa menjagaku untuk tetap ada?

Tak ada seorangpun yang bisa menjawab pertanyaanku. Tak ada seorangpun yang bisa menjanjikan padaku bahwa besok aku masih bisa bicara. Tak ada seorangpun yang bisa menjanjikan padaku bahwa besok aku masih bisa melihat matahari terbit lagi. Aku menghempaskan kepalaku ke bantal, merasakan permukaannya basah oleh air mata yang sudah jatuh cukup banyak.

Air mata membantumu untuk meluruhkan frustasi. Seperti alkhol, mereka bisa membuatmu merasa jauh lebih baik. Tapi pada akhirnya, kenyataanlah yang memutuskan, dan di sana hanya ada segudang air mata yang tak cukup berarti.

Yunho POV

Aku memalingkan tatapan dari komputer saat aku mendengar ponselku berdering. Aku bangun dengan cepat dan menatap layarnya. Aku tidak mengenal nomor itu, jadi aku tak mengangkatnya.

Ketika aku kembali duduk di kursiku dan menatap komputer, ponselku berbunyi lagi. Aku bangun dan menggenggamnya. Masih nomor yang sama. Aku memutuskan untuk mengangkatnya, mungkin seseorang di sana sedang dalam keadaan darurat.

Aku menekan tombolnya dan menempelkan ke telingaku. “Hello?” ucapku.

“Hello, apa ini Jung Yunho?” suara wanita di ujung sana menyambutku.

“Yeah, betul. Siapa ini?” tanyaku.

“Kim Soo Jin. Yunho, apa kau mau menyempatkan diri untuk bertemu denganku? Datanglah ke rumah sakit jika kau bisa, masuklah ke tempat kerjaku. Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu.”

Soo Jin… ibu Jaejoong dan Iseul.

“Bicara padaku? tentang apa?” tanyaku.

“Kumohon datanglah ke tempat kerjaku dan aku akan membicarakan semuanya.”

Aku tetap diam beberapa saat. Aku mengira-ira apakah yang ingin dibicarakan ibu Jaejoong denganku yaitu… agar aku menjauh dari Iseul? Aku rasa lebih baik aku memastikannya sendiri..

“Aku akan sampai di sana 20 menit lagi.” Jawabku.

“Terima kasih.”

Aku berdiri dan menatap ponsel di tanganku. Aku penasaran apa yang akan terjadi dalam pertemuan itu?

Aku menaiki elevator yang membawaku ke lantai tempat Mrs. Kim bekerja. Aku berjalan ke arah suster terdekat dan menanyakan padanya barangkali dia tahu di mana tempat itu.

“Ruangan terakhir di pojok kanan lorong ini.” Katanya.

“Terima kasih.” Ucapku.

“Tak masalah.”

Aku berjalan menelusuri lorong, memasukkan tangan ke sakuku. Aku merasa tegang menghadapi pertemuan ini, tapi lebih dari apapun, aku penasaran.

Aku menemukan tempat kerjanya dan mengetuk pintu.

“Masuklah.” Terdengar suara tajam Mrs. Kim. Kali ini pikiranku berbeda, aku seperti mendengar nada kesedihan dan kelelahan dari suara itu..

Aku membuka pintu dan masuk. “Hello, Mrs. Kim.” Ucapku, kembali menutup pintu.

“Hello, Yunho.” Dia berkata. Dia mempersilahkanku untuk duduk. Aku mengangguk dan duduk di salah satu dipannya. Dia bangun dari sofa dan duduk di sebuah kursi di seberangku.

“Yunho, terima kasih sudah datang.” Katanya.

“Tak masalah.”

“Bolehkah aku bertanya…” ucapnya dengan segan. Aku menekuk alis dan menatapnya penasaran.

“Bagaimana… bagaimana keadaan Iseul?”

“Iseul..” ucapku. “Yah, aku tak bisa katakan bahwa dia benar-benar baik-baik saja, tapi dia masih nafsu makan dan bisa tidur dengan lelap.” Jawabku, berusaha menyampaikan informasi terbaik yang aku bisa.

Dia mengangguk.

Tiba-tiba dia beranjak ke meja file. Dia membuka sebuah buku dan mengambil kertas yang diselipkannya di sana. Dia kembali duduk di depanku dan menyerahkan kertas itu padaku. Aku terpaku untuk beberapa saat, menatapnya dengan heran.

“Ambillah.” Katanya.

“Apa ini?” tanyaku, menggerakkan tanganku perlahan dan meraihnya.

“Ini adalah cek.” Katanya, saat aku masih memandangi kertas itu. “Terima kasih, dan terima kasih pada ibumu yang telah menjaga Iseul. Karena telah memberinya makan dan membuatnya aman. Ini mungkin tidak cukup untuk membayar jasamu. Jika kau membutuhkannya lagi, katakan saja padaku.”

Aku menatapnya. Mungkin ini justru terlalu banyak. Iseul hanya tinggal dengan kami selama kurang lebih dua bulan, dia tidak terlalu banyak makan, dan ibunya malah memberikan $1,000,000 won untuk membayar biaya tinggalnya. Aku menarik napas panjang dan mengembalikan cek itu padanya.

Dia menatapku, terkejut. “Apa itu tidak cukup?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Bukan itu, Mrs. Kim, aku ataupun ibuku tidak pernah mengharapkan diberi uang seperti ini.”

“Kenapa tidak?”

“Karena, utamanya, ini terlalu berlebihan. Iseul hanya makan.” Ucapku. “Dan yang ke dua, Iseul bukan beban untuk kami. Karena dia justru membuat rumah kami lebih ceria. Sebelum itu, baik aku ataupun ibuku, dengan Iseul di sana… dia justru membuat segalanya menjadi lebih baik, apa kau tahu?”

“Ya.” Mrs. Kim menjawab, menubruk tatapanku. “Aku tahu, dia juga menunjukkan efek yang sama pada keluarga kami.”

Aku mulai merasa sedikit tak nyaman. “Baiklah.” Ucapku. “Di samping itu, dia juga melakukan banyak hal. Dia menolong ibuku mencuci pakaian. Dia juga sering memasak, dia tidak pernah membebani kami. Maka kami tak perlu bentuk pembayaran apapun. Kami bahagia dengan dia di sana.”

Mrs. Kim mengangguk. “Terima kasih.” Katanya.

Aku tersenyum padanya, tak yakin apa yang harus kukatakan.

“Baiklah…” katanya. “Alasan kenapa aku menyuruhmu ke sini adalah untuk menanyakan apakah kau bisa melakukan sesuatu untukku, Yunho.”

“Apa itu?”

“Bisakah kau… bisakah kau tetap berada di samping Iseul?” tanyanya, matanya memelas padaku. Aku melihat kesungguhan di matanya. “Bisakah kau menjadi orang yang selalu menjaga Iseul? Ketika kami dalam kesulitan, tetaplah di sampingnya… kumohon… jangan pernah… jangan pernah tinggalkan dia sendiri…” katanya. Aku melihat air mata di wajahnya.

Ini adalah Park Soo Jin yang sesungguhnya. Ibu Jaejoong dan Iseul. Wanita yang pasti mencemaskan anak-anaknya, mencoba memastikan bahwa mereka baik-baik saja, tanpa ada satupun dari mereka yang terluka. Dan yang paling penting dari semua itu, berusaha menghadapi semua rintangan, untuk menjaga puteranya tetap hidup.

Walaupun dia tampak membenci Iseul, kenyataannya dia sangat menyayangi puterinya. Dia mencintai dan peduli pada Iseul dan dia juga mencintai dan peduli pada Jaejoong. Karena penyakit Jaejoong, kita bisa berpendapat bahwa dia lebih memperhatikannya, tapi sebelum kau merasakan sendiri berada di posisinya… kau tidak bisa menghakiminya. Seperti Iseul.

Ibuku pernah memberitahuku bahwa jika dia menjadi Mrs. Kim, dia pasti sudah menyerah sejak dulu. Dia tidak pernah mengerti secara pasti, tapi dia memberitahuku, bahwa apa yang Mr dan Mrs. Kim lakukan… beban yang mereka bawa di bahunya, itu jauh lebih berat dibandingkan dengan apa yang bisa kita bayangkan.

Aku menatapnya saata air mata Mrs. Kim jatuh ke wajahnya. Dia bangun dan mendekatiku. Dalam satu hitungan, dia berlutut padaku.

“Mrs. Kim!” ucapku, berusaha bangun dengan cepat. Dia menggapaikan tangannya meraih bahuku.

“Kumohon… kumohon jagalah puteriku. Jangan biarkan seorangpun menyakitinya. Bantulah dia agar tetap kuat. Lakukan apa yang tidak bisa kulakukan karena kebodohanku. Kumohon… jagalah puteriku.”
Aku menatap matanya yang basah. Tak ada sedikitpun kebencian, dan hanya ada cinta yang begitu dalam.

“Tentu saja.” Jawabku. “Aku tidak akan pernah membiarkan Iseul sendirian. Selama aku masih bisa, aku akan selalu berada di sampingnya.”

Dia melepaskanku dan menarik napas lega. “Terima kasih.” Katanya. “Terima kasih banyak.”

Aku tersenyum padanya dengan sedih. “Tak ada alasan untukmu berterimakasih padaku. Aku yakin kau tahu bahwa aku pasti akan melakukannya walaupun kau tidak memintanya, Mrs. Kim.”

Dia mengangguk. “Ya. Dan untuk itu, aku sangat berterimakasih.”

Iseul POV

Ketika aku berusia 11 tahun, aku berusaha kabur dari rumah.

Aku membawa semua uang yang telah aku kumpulkan.

Rencanaku adalah untuk pergi dari Seoul dan naik bus ke kota lain. Kemudian aku akan membayar seorang pemancing yang bisa mengantarku ke pulau Jeju. Aku berharap aku bisa menemukan pekerjaan di sana, menjual ikan atau kepiting, atau pekerjaan apapun yang bisa kutemukan.

Seperti anak usia 11 tahun lainnya, aku tidak memikirkan ini dengan matang. Aku hanya memikirkan satu jawaban untuk meninggalkan rumah.

Aku telah mengemasi koper diam-diam, menyembunyikannya di bawah ranjangku. Rencanaku adalah untuk kabur tiga hari sebelum operasi.

Aku merasa begitu berdosa. Jaejoong ingin ikut pergi denganku juga. Awalnya aku berpikir dia bisa kabur denganku, tapi aku sadar bahwa dia tidak sepertiku, dia tentu saja harus operasi, jadi aku tidak mengatakan apa-apa padanya.

Kenapa aku ingin kabur?

Aku takut.

Ini sama sederhananya dengan alasanku. Aku takut melakukan transplantasi tulang belakang. Saat itu, aku tidak terlalu mengerti apa yang akan terjadi jika aku melakukannya. Aku tidak berpikir saat itu bahwa saudaraku bisa meninggal jika aku tidak melakukan operasi. Saat itu aku benar-benar serakah. Sangat serakah, dan sangat ketakutan.

Aku tidak ingin melakukan operasi. Aku masih anak-anak, tentu saja aku takut, tapi tak seorangpun yang bisa mengerti hal itu. Semua orang lebih mementingkan melihat keadaan yang lebih baik daripada mengkhawatirkan apakah aku, apakah aku atau Jaejoong akan baik-baik saja setelah operasi itu.
Aku mungkin bisa berkata tidak, tapi kemudian, aku tahu itu akan jadi sangat menakutkan bila kulakukan… jadi aku memutuskan untuk kabur, mencoba keluar dari situasi yang sedang kuhadapi.

Sehari sebelum aku memutuskan untuk pergi, ayahku mencari ponselnya. Dia lupa di mana menaruhnya dan mencarinya di mana-mana. Aku sedang di sekolah ketika dia mencari di kamarku.

Ketika aku pulang ayahku tersenyum padaku. Aku balas tersenyum dan beranjak ke kamarku, siap untuk memastikan persiapanku sudah beres. Aku memasuki kamar dan berlutut ke kolong ranjang. Aku melihat koperku ditarik agak ke luar. Ini agak aneh.

Aku tak tahu apa yang terjadi, aku membukanya dan melihat tak ada apapun di dalamnya. Semua yang sudah kusiapkan lenyap. Aku bangun dengan cepat dan memeriksa lemariku dan melihat semua bajuku sudah kembali ke tempat semula. Aku berbalik dan melihat ayahku duduk di ranjangku. Dia memandangiku dengan wajah ingin tahu.

“Kau berniat untuk kabur?” tanyanya.

Aku menatapnya, tak tahu harus berkata apa. “Yah, tentu saja benar. Itu pertanyaan bodoh.” Katanya lagi.

“Bagaimana kau tahu?” tanyaku.

“Aku mencari ponselku. Aku memeriksa di kamarmu dan menemukan koper itu. Aku merasa itu sangat berat dan aku melihat semua yang kau masukkan, bahkan juga uang simpananmu.” Dia merogoh kantongnya dan mengeluarkan amplop yang sudah kuisi uang. “Ini sudah jelas. Tapi, Sayang, 25.000 won tidak akan membawamu ke manapun.”

Aku menatap amplop itu tanpa tahu harus mengatakan apa.

“Kenapa kau ingin pergi? Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu tetap tinggal?” tanyanya mendesak.
Aku menggigit bibirku untuk menahan tangisan. “Ayah, aku takut.”

“Aku tidak marah padamu.”

Aku menggeleng. “Aku takut melakukan operasi.”

Tatapannya berubah seketika. “Oh…” katanya. Dia terlihat bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan.

“Iseul…” katanya setelah beberapa saat yang hening. Dia bangun dari ranjang dan mendekatiku. “Apa menurutmu mungkin… Jaejoong juga takut?”

Aku mengangguk. “Aku berpikir untuk mengajaknya pergi denganku, tapi dia butuh operasi ini. Ini berbeda baginya.”

Ayah mengangguk. “Benar, ini berbeda baginya, tapi bukan berarti dia tidak takut. Iseul… ba-bagaimana jika… bagaimana jika kau juga membutuhkan operasi? Bagaimana jika kau menjadi dirinya? Apa kau tetap akan pergi?”

Aku menggeleng. “Tidak… karena aku membutuhkannya.”

Dia mengangguk padaku. “Tepat sekali. Iseul, aku tahu kalian berdua takut, tapi cobalah berpikir menjadi saudaramu. Bayangkan kau juga membutuhkan operasi ini sama sepertinya. Itu bisa membuatmu lebih berani. Bayangkan, setelah operasi ini, Jaejoong bisa jauh lebih baik. Apa itu cukup adil?” katanya. “Apakah kau harus memilih lorong kegelapan jika kau bisa melihat cahaya pada akhirnya?”

Aku menatapnya, mendengus dan mengangguk. “Yeah, itu sangat adil.”

Dia tersenyum padaku. “Lalu lakukanlah ini, untukmu dan untuk saudaramu, karena kalian berdua sangat membutuhkannya.” Aku mengangguk.

“Itu baru puteriku yang pemberani.” Katanya, mengecup keningku. “Dan jangan pernah takut, sayang, semuanya akan baik-baik saja, aku janji.”

Aku mengangguk. “Terima kasih, ayah.” Dia tersenyum padaku.

“Dan satu lagi.” Katanya, sambil beranjak. “Rencanamu untuk kabur… biarkan menjadi rahasia antara kita berdua, oke?”

Aku mengangguk. “Oke.”

Sudah hampir tujuh tahun sejak dia mengatakan hal itu padaku. Dan sampai hari ini… aku tidak pernah menemukan cahaya terang pada akhirnya, tapi…

Aku juga berhenti melarikan diri.

Chang Su POV

Aku menatap deretan tanggal pada kalender. Tiga hari lagi. Tiga hari sampai tanggal pengadilan. Aku menutup mataku. Aku ingin waktu terhenti di sini, sekarang juga. Aku tak ingin menjalani hari itu, atau hari sesudah itu, ketika konsekuensi dari pengadilan itu akan mulai mendominasi.

Aku mendengar ponselku berdering tiba-tiba. Aku berjalan untuk mengambilnya. Iseul tidak membawa ponselnya lagi. Dan kini hanya aku satu-satunya yang berada di rumah kosong ini. “Hello?” ucapku menerima telepon.

“Mr.Kim? Bisakah kau datang ke rumah sakit? Aku ingin membicarakan kondisi Jaejoong denganmu dan dengan istrimu terntunya.” Dokter Lee berkata.

“Tentu saja.” Jawabku. “Aku akan menghubungi lagi begitu sampai.”

“Terima kasih.”

Aku beranjak dan menatap ponsel beberapa saat. Pertemuan ini tidak membuatku penasaran. Aku sudah tahu apa yang akan dikatakannya. Kenyataan bahwa kerusakan hati Jaejoong sudah semakin memperburuk Ataxianya. Itu menyebabkan penyebarannya jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.
 
Aku menarik napas dan menutup mataku sejenak. Ini adalah sesuatu yang harus kuterima. Walaupun aku tak ingin mendengar kenyataan itu. Maksudku, orang tua mana yang sanggup mendengar berita buruk itu?

Bisakah kau masih mendengarkan dokter yang mengatakan padamu bahwa anakmu sekarat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar