Soo Jin POV
Aku menatap
kertas yang menuliskan tanggal pengadilan. Satu hari sebelum ulang tahun kedua
anak kembarku. Satu hari sebelum mereka berusia 18 tahun. Aku menoleh ke dinding
kalau-kalau ada seseorang yang menaruh catatan lagi. Ternyata tidak. Semua
orang mungkin melupakan hari ulang tahun akhir-akhir ini. Ada hal lain yang
harus lebih diprioritaskan dalam hidup kita.
Aku menatap
keluar jendela rumah sakit saat matahari mulai terbit. Aku meraih cangkir
kopiku, meneguknya dengan cepat. Berapa lama aku bisa menangani semua ini?
Berapa lama lagi aku bisa melihat puteriku tanpa tatapan benci?
Dan jika dia
memenangkan pengadilan? Akankan aku belajar untuk tidak menghiraukannya? Apa
yang harus kulakukan? Meminta maaf? Atau… tidak… aku akan meminta maaf,
sekalipun aku menang atau kalah. Pada akhirnya, dia tetap puteriku, apapun yang
terjadi. Tapi kenapa… kenapa aku tidak bisa memiliki keluarga yang… bahagia?
Aku hanya
berharap, bahwa suatu hari nanti… kami bisa berkumpul bersama, tersenyum dan
bahagia. Suatu hari di mana penyakit dan tuntutan pengadilan itu tak pernah
ada. Tapi aku jamin aku akan tetap menunggu sampai hari itu. Hari ulang tahun
Iseul dan Jaejoong. Aku ingin mendapatkan kembali keluargaku pada hari itu.
Chang Su POV
Waktu demi waktu
berlalu, tapi tak terjadi apa-apa. Tapi aku melihat wajah-wajah di
sekelilingku. Semua bawahanku merasa simpatik. Mereka tahu apa yang terjadi,
setelah itu, semuanya hanya sebatas berita. Aku mengeluarkan Iseul dari sekolah
untuk menjauhkannya dari para reporter. Dari orang-orang yang melihatnya
sebagai remaja yang bisa menuntut. Seseorang yang mereka kenal.
Aku membuka kaca
mobil dan menatap ke luar. Saat aku keluar dari gedung, aku melihat serombongan
reporter mulai menghampiriku.
“Mr. Kim, satu
pertanyaan, kenapa kau mengeluarkan puterimu dari sekolah?!”
“Mr. Kim,
bagaimana kondisi puteramu?”
“Mr.Kim,
bagaimana issue ini berdampak pada keluargamu?”
“Mr. Kim! Mr.Kim!”
aku mendengar suara-suara di sekelilingku. Aku menutup mataku saat melihat
sorotan kamera. Aku juga menutup telingaku dari pertanyaan-pertanyaan itu, tapi
aku mendengar sebuah pertanyaan sederhana yang membuatku marah.
“Mr. Kim!
Bagaimana perasaanmu saat kau tahu bahwa puterimu sendiri, kembaran puteramu,
justru sedang berusaha membunuhnya?”
Aku menatap pria
itu. Sesaat kemudian aku memukul wajahnya. Kumpulan reporter mulai sedikit
bubar.
“Kami akan
menuntutmu untuk hal ini!” kameramennya berteriak, membungkuk untuk membantu
reporternya bangun.
“Tuntut saja!”
jawabku. “Aku siap untuk menghadapi pengadilan kapan saja. Tapi jangan pernah
katakan, bahwa puteriku adalah pembunuh! Dia puteriku! Puteriku!! Menjauhlah
darinya, menjauhlah dari keluarga kami! Jika kau mendekati istriku, puteriku,
atau puteraku, aku akan menuntut orang bodoh seperti kalian ke neraka!!!
Sekarang menyingkirlah dari jalanku!” aku berteriak.
Aku memasuki
mobilku dengan marah. Aku membuka pintu dan membantingnya. Aku segera menginjak
gas dan melesat dengan cepat meninggalkan tempat itu, tanganku meremas stir.
Aku mengusap kepalaku untuk menjernihkan pikiran.
Ini adalah
keluargaku. Mereka semua, dan aku akan menjaga mereka sampai akhir waktu.
Apapun yang menjadi keputusan Iseul, dia tetap puteriku, dan tak seorangpun,
tak seorangpun bisa memanggilnya pembunuh. Mereka semua bodoh. Berusaha
menyalahkan puteriku, mereka seharusnya berusaha menemukan kebenaran. Karena
pada akhirnya, tak peduli berapa kalipun aku memohon, sekalipun Iseul mendonor,
Ataxia tetap akan membunuh Jaejoong.
Jaejoong POV
Aku menatap
keluar jendela saat salju turun perlahan, menambah gundukan salju yang sudah
menimbun jalanan di luar sana. Iseul tidak lagi mengunjungiku sejak dua minggu
yang lalu. Aku tahu itu karena ibu. Aku juga tahu Iseul melakukannya karena ia
merasa sangat tersakiti.
Aku mengalihkan
pandangan dari jendela dan bergerak untuk meraih remote control di sampingku.
Aku menggapainya dengan susah payah. Aku menekan tombolnya dan setelah berulang
kali mencoba, akhirnya aku bisa menggerakkan tanganku untuk menekan tombol
power.
Televisi menyala
dan aku melihat veriety show di sana. Aku berusaha menjangkau remote control
sekali lagi. Aku mencoba menekan tombol untuk mengganti channel, tapi aku malah
memencet “menu”. Aku mencoba menggerakan tanganku dan mengontrol jariku untuk
menghilangkan tampilan menu, tapi yang terjadi, di layar malah tampak pilihan
bahasa. Aku berusaha lebih keras, tapi rasanya aku tak bisa lagi mengontrol
gerakanku dan akhirnya jariku menekan tombol volume sampai suara TV menjadi
sangat keras.
Aku berhenti dan
menatap remote di tanganku. Tanganku masih menggenggamnya walaupun pada
kenyataannya aku tak memiliki kekuatan untuk memencet tombol. Aku menutup
mataku dan melemparkan remote itu. Akibatnya, romote itu terpecah, jatuh
berguling. Aku menatapnya, air mata mengalir di wajahku.
Bagaimana bisa
sesuatu yang begitu sederhana seperti mengganti channel bisa menjadi sebuah
tantangan besar?
Aku mengabaikan
suara keras dari televisi dan melihat ke arah jendela sekali lagi. Salju jatuh
lebih cepat sekarang. Aku menutup mataku lebih erat, membiarkan air mata jatuh,
seluruh tubuhku gemetar. Berapa lama lagi aku bisa melakukan ini?
Berapa lama lagi
aku bisa melanjutkan berjuang melawan penyakit ini? Hidup terasa seperti beban.
Membutuhkan seluruh kekuatan hanya untuk membuka mata agar dapat melihat
matahari terbit lagi.
Berapa lama aku bisa bertahan seperti ini? Kesempatanku untuk hidup… berapa lama itu bisa menjagaku untuk tetap ada?
Berapa lama aku bisa bertahan seperti ini? Kesempatanku untuk hidup… berapa lama itu bisa menjagaku untuk tetap ada?
Tak ada
seorangpun yang bisa menjawab pertanyaanku. Tak ada seorangpun yang bisa
menjanjikan padaku bahwa besok aku masih bisa bicara. Tak ada seorangpun yang
bisa menjanjikan padaku bahwa besok aku masih bisa melihat matahari terbit
lagi. Aku menghempaskan kepalaku ke bantal, merasakan permukaannya basah oleh
air mata yang sudah jatuh cukup banyak.
Air mata
membantumu untuk meluruhkan frustasi. Seperti alkhol, mereka bisa membuatmu
merasa jauh lebih baik. Tapi pada akhirnya, kenyataanlah yang memutuskan, dan
di sana hanya ada segudang air mata yang tak cukup berarti.
Yunho POV
Aku memalingkan
tatapan dari komputer saat aku mendengar ponselku berdering. Aku bangun dengan
cepat dan menatap layarnya. Aku tidak mengenal nomor itu, jadi aku tak
mengangkatnya.
Ketika aku
kembali duduk di kursiku dan menatap komputer, ponselku berbunyi lagi. Aku
bangun dan menggenggamnya. Masih nomor yang sama. Aku memutuskan untuk
mengangkatnya, mungkin seseorang di sana sedang dalam keadaan darurat.
Aku menekan
tombolnya dan menempelkan ke telingaku. “Hello?” ucapku.
“Hello, apa ini
Jung Yunho?” suara wanita di ujung sana menyambutku.
“Yeah, betul.
Siapa ini?” tanyaku.
“Kim Soo Jin.
Yunho, apa kau mau menyempatkan diri untuk bertemu denganku? Datanglah ke rumah
sakit jika kau bisa, masuklah ke tempat kerjaku. Ada sesuatu yang harus
kubicarakan denganmu.”
Soo Jin… ibu
Jaejoong dan Iseul.
“Bicara padaku?
tentang apa?” tanyaku.
“Kumohon
datanglah ke tempat kerjaku dan aku akan membicarakan semuanya.”
Aku tetap diam
beberapa saat. Aku mengira-ira apakah yang ingin dibicarakan ibu Jaejoong
denganku yaitu… agar aku menjauh dari Iseul? Aku rasa lebih baik aku
memastikannya sendiri..
“Aku akan sampai
di sana 20 menit lagi.” Jawabku.
“Terima kasih.”
Aku berdiri dan
menatap ponsel di tanganku. Aku penasaran apa yang akan terjadi dalam pertemuan
itu?
Aku menaiki
elevator yang membawaku ke lantai tempat Mrs. Kim bekerja. Aku berjalan ke arah
suster terdekat dan menanyakan padanya barangkali dia tahu di mana tempat itu.
“Ruangan
terakhir di pojok kanan lorong ini.” Katanya.
“Terima kasih.”
Ucapku.
“Tak masalah.”
Aku berjalan
menelusuri lorong, memasukkan tangan ke sakuku. Aku merasa tegang menghadapi
pertemuan ini, tapi lebih dari apapun, aku penasaran.
Aku menemukan
tempat kerjanya dan mengetuk pintu.
“Masuklah.” Terdengar
suara tajam Mrs. Kim. Kali ini pikiranku berbeda, aku seperti mendengar nada
kesedihan dan kelelahan dari suara itu..
Aku membuka
pintu dan masuk. “Hello, Mrs. Kim.” Ucapku, kembali menutup pintu.
“Hello, Yunho.”
Dia berkata. Dia mempersilahkanku untuk duduk. Aku mengangguk dan duduk di
salah satu dipannya. Dia bangun dari sofa dan duduk di sebuah kursi di
seberangku.
“Yunho, terima
kasih sudah datang.” Katanya.
“Tak masalah.”
“Bolehkah aku
bertanya…” ucapnya dengan segan. Aku menekuk alis dan menatapnya penasaran.
“Bagaimana…
bagaimana keadaan Iseul?”
“Iseul..”
ucapku. “Yah, aku tak bisa katakan bahwa dia benar-benar baik-baik saja, tapi
dia masih nafsu makan dan bisa tidur dengan lelap.” Jawabku, berusaha
menyampaikan informasi terbaik yang aku bisa.
Dia mengangguk.
Tiba-tiba dia
beranjak ke meja file. Dia membuka sebuah buku dan mengambil kertas yang
diselipkannya di sana. Dia kembali duduk di depanku dan menyerahkan kertas itu
padaku. Aku terpaku untuk beberapa saat, menatapnya dengan heran.
“Ambillah.”
Katanya.
“Apa ini?”
tanyaku, menggerakkan tanganku perlahan dan meraihnya.
“Ini adalah
cek.” Katanya, saat aku masih memandangi kertas itu. “Terima kasih, dan terima
kasih pada ibumu yang telah menjaga Iseul. Karena telah memberinya makan dan
membuatnya aman. Ini mungkin tidak cukup untuk membayar jasamu. Jika kau
membutuhkannya lagi, katakan saja padaku.”
Aku menatapnya.
Mungkin ini justru terlalu banyak. Iseul hanya tinggal dengan kami selama
kurang lebih dua bulan, dia tidak terlalu banyak makan, dan ibunya malah
memberikan $1,000,000 won untuk membayar biaya tinggalnya. Aku menarik napas
panjang dan mengembalikan cek itu padanya.
Dia menatapku,
terkejut. “Apa itu tidak cukup?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“Bukan itu, Mrs. Kim, aku ataupun ibuku tidak pernah mengharapkan diberi uang
seperti ini.”
“Kenapa tidak?”
“Karena, utamanya,
ini terlalu berlebihan. Iseul hanya makan.” Ucapku. “Dan yang ke dua, Iseul
bukan beban untuk kami. Karena dia justru membuat rumah kami lebih ceria.
Sebelum itu, baik aku ataupun ibuku, dengan Iseul di sana… dia justru membuat
segalanya menjadi lebih baik, apa kau tahu?”
“Ya.” Mrs. Kim
menjawab, menubruk tatapanku. “Aku tahu, dia juga menunjukkan efek yang sama
pada keluarga kami.”
Aku mulai merasa
sedikit tak nyaman. “Baiklah.” Ucapku. “Di samping itu, dia juga melakukan
banyak hal. Dia menolong ibuku mencuci pakaian. Dia juga sering memasak, dia
tidak pernah membebani kami. Maka kami tak perlu bentuk pembayaran apapun. Kami
bahagia dengan dia di sana.”
Mrs. Kim
mengangguk. “Terima kasih.” Katanya.
Aku tersenyum
padanya, tak yakin apa yang harus kukatakan.
“Baiklah…”
katanya. “Alasan kenapa aku menyuruhmu ke sini adalah untuk menanyakan apakah
kau bisa melakukan sesuatu untukku, Yunho.”
“Apa itu?”
“Bisakah kau…
bisakah kau tetap berada di samping Iseul?” tanyanya, matanya memelas padaku.
Aku melihat kesungguhan di matanya. “Bisakah kau menjadi orang yang selalu
menjaga Iseul? Ketika kami dalam kesulitan, tetaplah di sampingnya… kumohon…
jangan pernah… jangan pernah tinggalkan dia sendiri…” katanya. Aku melihat air
mata di wajahnya.
Ini adalah Park
Soo Jin yang sesungguhnya. Ibu Jaejoong dan Iseul. Wanita yang pasti
mencemaskan anak-anaknya, mencoba memastikan bahwa mereka baik-baik saja, tanpa
ada satupun dari mereka yang terluka. Dan yang paling penting dari semua itu,
berusaha menghadapi semua rintangan, untuk menjaga puteranya tetap hidup.
Walaupun dia
tampak membenci Iseul, kenyataannya dia sangat menyayangi puterinya. Dia
mencintai dan peduli pada Iseul dan dia juga mencintai dan peduli pada
Jaejoong. Karena penyakit Jaejoong, kita bisa berpendapat bahwa dia lebih
memperhatikannya, tapi sebelum kau merasakan sendiri berada di posisinya… kau
tidak bisa menghakiminya. Seperti Iseul.
Ibuku pernah
memberitahuku bahwa jika dia menjadi Mrs. Kim, dia pasti sudah menyerah sejak
dulu. Dia tidak pernah mengerti secara pasti, tapi dia memberitahuku, bahwa apa
yang Mr dan Mrs. Kim lakukan… beban yang mereka bawa di bahunya, itu jauh lebih
berat dibandingkan dengan apa yang bisa kita bayangkan.
Aku menatapnya
saata air mata Mrs. Kim jatuh ke wajahnya. Dia bangun dan mendekatiku. Dalam
satu hitungan, dia berlutut padaku.
“Mrs. Kim!”
ucapku, berusaha bangun dengan cepat. Dia menggapaikan tangannya meraih bahuku.
“Kumohon…
kumohon jagalah puteriku. Jangan biarkan seorangpun menyakitinya. Bantulah dia
agar tetap kuat. Lakukan apa yang tidak bisa kulakukan karena kebodohanku.
Kumohon… jagalah puteriku.”
Aku menatap
matanya yang basah. Tak ada sedikitpun kebencian, dan hanya ada cinta yang
begitu dalam.
“Tentu saja.”
Jawabku. “Aku tidak akan pernah membiarkan Iseul sendirian. Selama aku masih
bisa, aku akan selalu berada di sampingnya.”
Dia melepaskanku
dan menarik napas lega. “Terima kasih.” Katanya. “Terima kasih banyak.”
Aku tersenyum
padanya dengan sedih. “Tak ada alasan untukmu berterimakasih padaku. Aku yakin
kau tahu bahwa aku pasti akan melakukannya walaupun kau tidak memintanya, Mrs.
Kim.”
Dia mengangguk.
“Ya. Dan untuk itu, aku sangat berterimakasih.”
Iseul POV
Ketika aku
berusia 11 tahun, aku berusaha kabur dari rumah.
Aku membawa
semua uang yang telah aku kumpulkan.
Rencanaku adalah
untuk pergi dari Seoul dan naik bus ke kota lain. Kemudian aku akan membayar
seorang pemancing yang bisa mengantarku ke pulau Jeju. Aku berharap aku bisa
menemukan pekerjaan di sana, menjual ikan atau kepiting, atau pekerjaan apapun
yang bisa kutemukan.
Seperti anak
usia 11 tahun lainnya, aku tidak memikirkan ini dengan matang. Aku hanya
memikirkan satu jawaban untuk meninggalkan rumah.
Aku telah
mengemasi koper diam-diam, menyembunyikannya di bawah ranjangku. Rencanaku
adalah untuk kabur tiga hari sebelum operasi.
Aku merasa
begitu berdosa. Jaejoong ingin ikut pergi denganku juga. Awalnya aku berpikir
dia bisa kabur denganku, tapi aku sadar bahwa dia tidak sepertiku, dia tentu
saja harus operasi, jadi aku tidak mengatakan apa-apa padanya.
Kenapa aku ingin
kabur?
Aku takut.
Ini sama
sederhananya dengan alasanku. Aku takut melakukan transplantasi tulang
belakang. Saat itu, aku tidak terlalu mengerti apa yang akan terjadi jika aku
melakukannya. Aku tidak berpikir saat itu bahwa saudaraku bisa meninggal jika
aku tidak melakukan operasi. Saat itu aku benar-benar serakah. Sangat serakah,
dan sangat ketakutan.
Aku tidak ingin
melakukan operasi. Aku masih anak-anak, tentu saja aku takut, tapi tak
seorangpun yang bisa mengerti hal itu. Semua orang lebih mementingkan melihat
keadaan yang lebih baik daripada mengkhawatirkan apakah aku, apakah aku atau
Jaejoong akan baik-baik saja setelah operasi itu.
Aku mungkin bisa berkata tidak, tapi kemudian, aku tahu itu akan jadi sangat menakutkan bila kulakukan… jadi aku memutuskan untuk kabur, mencoba keluar dari situasi yang sedang kuhadapi.
Aku mungkin bisa berkata tidak, tapi kemudian, aku tahu itu akan jadi sangat menakutkan bila kulakukan… jadi aku memutuskan untuk kabur, mencoba keluar dari situasi yang sedang kuhadapi.
Sehari sebelum
aku memutuskan untuk pergi, ayahku mencari ponselnya. Dia lupa di mana
menaruhnya dan mencarinya di mana-mana. Aku sedang di sekolah ketika dia mencari
di kamarku.
Ketika aku
pulang ayahku tersenyum padaku. Aku balas tersenyum dan beranjak ke kamarku,
siap untuk memastikan persiapanku sudah beres. Aku memasuki kamar dan berlutut
ke kolong ranjang. Aku melihat koperku ditarik agak ke luar. Ini agak aneh.
Aku tak tahu apa
yang terjadi, aku membukanya dan melihat tak ada apapun di dalamnya. Semua yang
sudah kusiapkan lenyap. Aku bangun dengan cepat dan memeriksa lemariku dan
melihat semua bajuku sudah kembali ke tempat semula. Aku berbalik dan melihat ayahku
duduk di ranjangku. Dia memandangiku dengan wajah ingin tahu.
“Kau berniat
untuk kabur?” tanyanya.
Aku menatapnya,
tak tahu harus berkata apa. “Yah, tentu saja benar. Itu pertanyaan bodoh.” Katanya
lagi.
“Bagaimana kau
tahu?” tanyaku.
“Aku mencari ponselku.
Aku memeriksa di kamarmu dan menemukan koper itu. Aku merasa itu sangat berat
dan aku melihat semua yang kau masukkan, bahkan juga uang simpananmu.” Dia
merogoh kantongnya dan mengeluarkan amplop yang sudah kuisi uang. “Ini sudah
jelas. Tapi, Sayang, 25.000 won tidak akan membawamu ke manapun.”
Aku menatap
amplop itu tanpa tahu harus mengatakan apa.
“Kenapa kau
ingin pergi? Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu tetap tinggal?” tanyanya
mendesak.
Aku menggigit
bibirku untuk menahan tangisan. “Ayah, aku takut.”
“Aku tidak marah
padamu.”
Aku menggeleng.
“Aku takut melakukan operasi.”
Tatapannya
berubah seketika. “Oh…” katanya. Dia terlihat bingung. Dia tidak tahu apa yang
harus dikatakan.
“Iseul…” katanya
setelah beberapa saat yang hening. Dia bangun dari ranjang dan mendekatiku.
“Apa menurutmu mungkin… Jaejoong juga takut?”
Aku mengangguk.
“Aku berpikir untuk mengajaknya pergi denganku, tapi dia butuh operasi ini. Ini
berbeda baginya.”
Ayah mengangguk.
“Benar, ini berbeda baginya, tapi bukan berarti dia tidak takut. Iseul…
ba-bagaimana jika… bagaimana jika kau juga membutuhkan operasi? Bagaimana jika
kau menjadi dirinya? Apa kau tetap akan pergi?”
Aku menggeleng.
“Tidak… karena aku membutuhkannya.”
Dia mengangguk
padaku. “Tepat sekali. Iseul, aku tahu kalian berdua takut, tapi cobalah
berpikir menjadi saudaramu. Bayangkan kau juga membutuhkan operasi ini sama
sepertinya. Itu bisa membuatmu lebih berani. Bayangkan, setelah operasi ini,
Jaejoong bisa jauh lebih baik. Apa itu cukup adil?” katanya. “Apakah kau harus
memilih lorong kegelapan jika kau bisa melihat cahaya pada akhirnya?”
Aku menatapnya,
mendengus dan mengangguk. “Yeah, itu sangat adil.”
Dia tersenyum
padaku. “Lalu lakukanlah ini, untukmu dan untuk saudaramu, karena kalian berdua
sangat membutuhkannya.” Aku mengangguk.
“Itu baru
puteriku yang pemberani.” Katanya, mengecup keningku. “Dan jangan pernah takut,
sayang, semuanya akan baik-baik saja, aku janji.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih, ayah.” Dia tersenyum padaku.
“Dan satu lagi.”
Katanya, sambil beranjak. “Rencanamu untuk kabur… biarkan menjadi rahasia
antara kita berdua, oke?”
Aku mengangguk.
“Oke.”
Sudah hampir
tujuh tahun sejak dia mengatakan hal itu padaku. Dan sampai hari ini… aku tidak
pernah menemukan cahaya terang pada akhirnya, tapi…
Aku juga
berhenti melarikan diri.
Chang Su POV
Aku menatap
deretan tanggal pada kalender. Tiga hari lagi. Tiga hari sampai tanggal
pengadilan. Aku menutup mataku. Aku ingin waktu terhenti di sini, sekarang
juga. Aku tak ingin menjalani hari itu, atau hari sesudah itu, ketika
konsekuensi dari pengadilan itu akan mulai mendominasi.
Aku mendengar
ponselku berdering tiba-tiba. Aku berjalan untuk mengambilnya. Iseul tidak
membawa ponselnya lagi. Dan kini hanya aku satu-satunya yang berada di rumah
kosong ini. “Hello?” ucapku menerima telepon.
“Mr.Kim? Bisakah
kau datang ke rumah sakit? Aku ingin membicarakan kondisi Jaejoong denganmu dan
dengan istrimu terntunya.” Dokter Lee berkata.
“Tentu saja.”
Jawabku. “Aku akan menghubungi lagi begitu sampai.”
“Terima kasih.”
Aku beranjak dan
menatap ponsel beberapa saat. Pertemuan ini tidak membuatku penasaran. Aku
sudah tahu apa yang akan dikatakannya. Kenyataan bahwa kerusakan hati Jaejoong
sudah semakin memperburuk Ataxianya. Itu menyebabkan penyebarannya jauh lebih
cepat dari yang diperkirakan.
Aku menarik napas dan menutup mataku sejenak. Ini adalah sesuatu yang harus
kuterima. Walaupun aku tak ingin mendengar kenyataan itu. Maksudku, orang tua
mana yang sanggup mendengar berita buruk itu?
Bisakah kau
masih mendengarkan dokter yang mengatakan padamu bahwa anakmu sekarat?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar