Jaejoong POV
“Katakan yang sejujurnya. Apakah kau masih mencintai
DBSK?” Aku kaget, Hana mengatakan hal yang paling membuatku sedih.
“Aku… Tidak tau.” Jawabku asal.
“Kenapa kau tidak tahu?”
“Kenapa kau harus tanyakan hal itu di saat kita sedang
berbulan madu?!” Aku menegaskan.
“Oppa…”
“Aku tidak suka membahasnya di sini! Kau mengerti?!”
Tanpa sadar aku membentak Hana.
Kutatap wajahnya di bawah terang bulan, sungguh manis.
Dia menatap kosong kearah ombak yang saling berkejar-kejaran. Rambutnya
diterbangkan oleh angin malam. Dia terlihat seperti menyesal karena telah mengatakan
hal yang membuatku marah.
“Hana..”
“Ya, Oppa.” Dia tersenyum, senyumnya itu yang dapat
membuat hatiku luluh.
“Maafkan aku.” Aku menatap kedua bola mata milik Hana
“Aku tidak bermaksud….” Hana meletakkan telunjuknya diantara bibirku.
“Ssstttt” Hana mendekatkan wajahnya, semakin dekat dan
kita beciuman. “Aku tahu.”
“Hana, aku mencintaimu.” Ujarku saat aku selesai
berciuman dengannya.
“Aku tahu.”
Aku berdiri, manatap langit yang sepenuhnya sudah
hampir gelap. Hana menggenggam tanganku, aku menunduk, menatap wajah Hana.
“Oppa..”
“Ya?”
Hana menarik tanganku dan aku jatuh terlentang, Dia
berbaring, dan mencium pipiku, setelah itu dia berlari. Aku berusaha
mengejarnya, ku pandangi dia lekat-lekat dia sangat cantik, terlebih malam ini.
Aku berhasil menangkapnya, kupeluk dia dari belakang
dan kucium pundaknya. Karena adegan kejar-kejar ini kami berdua menjadi basah,
karena bermain air di pantai.
Aku menggendong Hana, dan dia tertawa. Tawanya yang khas. Aku ikut tertawa.
“Oppa, kita sudah basah seperti ini, lebih baik kita
pulang.”
“Aku masih mau disini bersamamu, Hana.”
“Aku akan selalu bersamamu, Oppa.”
“Janji?” Aku mengangkat jari kelingkingku, diapun
melakukan hal yang sama.
“Aku janji.”
Aku menariknya dalam pelukanku, aku mendekatkan
wajahku sekali lagi, dan aku menciumnya, dia membalas ciumanku.
Aku segera melepaskan bibirku dan aku segera mengecup
keningnya. “Kita pulang sekarang?”
Hana mengangguk.
***
Changmin POV
Akhir-akhir ini aku merasa kesepian, Yunho hyung
sedang melatih koreografi anak-anak asuhan SM yang lainnya. Tidak banyak yang
bisa aku lakukan, semua novel seri Harry Potter sudah selesai kubaca. Awalnya
aku berniat ikut Yunho hyung ketempat latihan dance, tapi aku yakin, aku pasti
akan merasa sangat bosan disana, melatih 5 anak yang sedang berlatih koreografi
dan itu membuatku mengingat masa-masa di mana saat kelima member DBSK sedang
latihan koreogafi.
Aku masih penasaran sama perkataan Yoochun Oppa tempo
hari saat upacara pernikahan Jaejoong hyung dengan Hana “JYJ sudah selesai.
Dong Bang Shin Ki juga sudah selesai.”
Aku tau, DBSK memang sudah selesai, karena kontrak eksklusif selama 2 tahun itu sudah terlaksana. Aku tinggal menunggu surat-surat pengakhiran kontrak kerja dari SM begitu juga dengan Yunho hyung.
Aku tau, DBSK memang sudah selesai, karena kontrak eksklusif selama 2 tahun itu sudah terlaksana. Aku tinggal menunggu surat-surat pengakhiran kontrak kerja dari SM begitu juga dengan Yunho hyung.
Tapi sejujurnya aku mau DBSK kembali utuh, aku
menginginkan nama Dong Bang Shin Ki berkibar kembali. Mencetak rekor baru di
dunia music.
Ku pandangi, beberapa penghargaan yang telah berhasil
kami kumpul, mulai dari tahun 2004-2010. Penghargaan itu menjadi saksi bisu
bahwa dulu pernah ada group yang bernama DBSK. Aku masih meragukan apakah masih
ada yang menunggu kami untuk comeback dengan formasi yang lengkap, bukan hanya
2 tetapi 5 sekaligus.
Kuraih foto yang tepasang di dinding, Foto ini? Foto
yang sudah lama, sekitar tahun 2005. Aku dan Yunho hyung bahkan tidak pernah
menyentuh foto ini sejak ketiga hyung-ku keluar dari apartement ini. Rasa
rinduku kembali menyeruak, memenuhi semua rongga di dadaku. Aku merindukan
mereka. Pertemuan beberapa hari yang lalu memang membuat rasa rinduku
berkurang, tapi tak sepenuhnya hilang.
Tak terasa, air mataku mengalir, aku tidak dapat
membendungnya lagi, aku menagis, tapi tanpa suara.
Tek-Tek
Suara pintu terbuka, aku segera menghapus air mataku,
meletakkan foto itu pada tempatnya semula. Ku lihat Yunho hyung pulang.
Dia melempar mantel berpergiannya, melepas sepatunya
dan melemparnya ke berbagai arah. Kalau Jaejoong hyung tau, dia pasti akan
sangat marah. Jaejoong hyung? Kenapa dia masih terlintas didalam pikiranku.
“Hyung, kau baru pulang?” Aku masih berdiri tidak
bergeming.. “Apa kau mau ku ambilkan soda?”
“Tentu.” Yunho hyung, menghempaskan tubuhnya, wajahnya
masih dipenuhi dengan keringat.
Aku menyerahkan sekaleng soda kearahnya, dia
mengambilnya dan segera membuka dan meneguknya dengan cepat.
“Apa produser sudah berbicara padamu?” ia bertanya
padaku.
“Kalau soal surat pengakhiran kontrak, dia belum
berbicara padaku.” Ujarku “Memang kenapa?”
“Apakah kau masih berharap jika DBSK bisa comeback?”
Tanya Yunho hyung
Aku sedikit tersedak saat Yunho hyung bertanya tentang
masalah ini kepadaku.. “Hanya dengan 2 member?” Aku berusaha menjaga nada
suaraku tetap stabil “Kurasa tidak.”
“Bagaimana dengan 5 member?” Dia kembali bertanya.
Pertanyaan ini membuatku benar-benar kaget, kenapa
Yunho hyung mengetahui apa yang sedang kupikirkan. Tentang comeback-nya DBSK
dengan formasi yang utuh.
“Apa maksudmu, hyung?”
“Tidak.”
Aku merasa ada sesuatu yang Yunho hyung sembunyikan
dariku. “Katakan yang sebenarnya.” Aku memaksa.
“Sudahlah tak usah dibahas.” Yunho segera berdiri dan
berjalan menuju lantai 2, kurasa dia akan mandi.
***
Junsu POV
Aku duduk di depan manager dan produser pelaksana yang
sejak tadi terus membolak-balik surat surat di tangannya. Aku sudah tak sabar
untuk menandatangani surat itu. Karena setelah aku menandatanganinya, aku bisa
pulang ke rumah ibuku. Aku bisa kembali menjadi orang biasa, dan mungkin aku
akan berkarir mengelola wedding organizer milik ibuku. Aku sudah lelah menjadi
seorang penyanyi. Berpindah dari satu panggung ke panggung lain untuk pamer
suara. Lalu mendengar gadis-gadis mengelukan namaku. Aku bosan. Aku ingin
keluar dari semua rutinitas itu.
“Kau bisa tandatangani ini sekarang.” Ucap produser
sambil menunjukkan pena. Aku me-ngangguk, lalu tanpa keraguan sedikitpun, aku menggoreskan
tanda tanganku di tempat yang telah disediakan. Dengan ini, hubungan kontrakku
dengan C-jes telah resmi berakhir.
“Boleh aku pergi sekarang?” tanyaku.
“Tentu saja, silakan.” Manager berkata sambil
tersenyum penuh wibawa. Aku segera bangun dari kursi dan melangkah keluar dari
ruangan. Yoochun hyung duduk di sana, menyandarkan tubuh dengan santai pada
sofa. Aku menghampirinya, menempati sofa kosong di sebelahnya.
“Tinggal Jaejoong hyung yang belum tanda tangan.”
Ucapku.
“Biarkan saja, aku tidak terlalu khawatir pada
Jaejoong hyung. Kalau C-jes berani macam-macam padanya, dia bisa saja
merobohkan gedung ini.”
“Kau ini terlalu berlebihan.” Aku terkekeh.
“Permisi…” tiba-tiba ada suara lain yang datang.
Seorang pria dengan jas abu-abu dan berkaca-mata tebal. Aku tidak mengenal pria
itu. Dan aku yakin dia bukan salah satu staff C-jes.
“Ada apa?” tanya Yoochun hyung.
“Kalian Kim Junsu dan Park Yoochun?”
Kami berdua mengangguk.
“Aku hanya diperintahkan untuk menyampaikan surat ini
pada kalian berdua.” Dia meng-asongkan sepucuk surat. Yoochun hyung
menerimanya.
“Dari siapa?” tanyaku.
“Dari SM Entertainment.”
Aku tercengang.
“Terima kasih, ya?” ucap Yoochun hyung.
Pria itu mengangguk, lalu bergegas pergi.
Aku dan Yoochun hyung saling berpandangan untuk beberapa
saat. Surat dari SM? apa lagi yang mereka inginkan dari kami? Apa belum cukup
bagi mereka menyiksa kami selama ini? Memperbudak kami seenaknya. Bahkan kini,
mendengar nama SM saja aku sudah muak.
“Buang saja, hyung.” Ucapku tanpa menoleh.
“Eh?”
“Buang saja surat itu. Tak perlu dibaca.”
“Tapi siapa tahu isinya penting.”
“Ya sudah, terserah kau sajalah.” Aku melipat tanganku
dan berpura-pura tidak peduli saat perlahan-lahan Yoochun hyung membuka dan
membaca isi surat itu. Ia tampak serius sekali membaca, sampai akhirnya dia
terbelalak dan langsung menoleh dengan cepat ke arahku.
“Ada apa, hyung? Mereka berbuat sesuatu pada Yunho hyung
dan Changmin?” tanyaku tak bisa menyembunyikan kekhawatiran. Yoochun hyung
menggeleng kuat-kuat.
“Kau baca saja!” katanya sambil menyerahkan surat itu
padaku.
Aku membacanya dengan hati-hati. Jantungku berdetak
cepat, aliran darahku terasa memanaskan tubuhku. Peluh bercucuran dari dahiku
saat aku membaca paragraph terakhir dari surat itu. Dan satu kalimat utama yang
dicetak tebal di sana, berhasil membuatku menjatuhkan surat itu ke lantai.
Sesuatu yang bahkan tak pernah kupikirkan sebelumnya. Sesuatu yang tak pernah
ingin kubaca. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini.
“Bagaimana ini?” tanya Yoochun hyung gusar.
“Kita harus memberitahu Jaejoong hyung!”
“Jangan! Dia sedang berbulan madu! Apa kau tega
mengganggu suasana bahagianya dengan kabar seperti ini? Bisa-bisa dia langsung
pulang ke Seoul dan melabrak produser SM seperti waktu itu. Ah, mengerikan sekali.”
Yoochun hyung bergidik ngeri.
Memang benar, aku sependapat dengannya mengenai hal
itu. Aku kenal betul seperti apa sosok Jaejoong hyung. Dia sangat keras kepala.
Jika dia sudah berkata tidak, maka takkan ada satu orangpun yang bisa
mempengaruhinya. Bahkan tidak juga dengan kedua orang tuanya.
“Mungkin lebih baik kalau kita bicarakan hal ini
dengan Yunho hyung dan Changmin.” Usulku.
“Yah, kau benar. Nanti sore kita datangi mereka saja.”
***
Jaejoong POV
Gemericik hujan yang turun membuatku nyaris tertidur
di depan layar laptopku. Aku memandangi foto-foto kenanganku bersama kelima
member DBSK. Jujur, aku rindu sekali kebersamaan yang dulu sempat aku nikmati.
Saat aku terlepas dari SM dan tergabung dalam JYJ, aku tidak bisa merasakan
kebahagiaan yang sempurna seperti saat aku masih bersama Yunho dan Changmin.
Aku menggeser kursor ke bawah dan melihat deretan email lama yang belum kubaca
seluruhnya. Sebagian besar datang dari para Cassiopeia yang memohon agar kami
kembali berlima. Tapi bukankah sekarang waktunya sudah terlambat? Aku yakin
keempat member yang lain pun pasti sudah malas untuk menggabungkan diri lagi.
“Ini teh-mu, oppa.” tiba-tiba suara Hana
mengejutkanku. Sebenarnya aku tidak ingin minum teh, aku ingin minum cokelat.
Lagipula siapa yang menyuruhnya membuatkan teh? Meskipun begitu, aku tetap
harus menghargai usahanya. Kuambil cangkir itu dan kutaruh di samping laptopku.
“Terima kasih.” Ucapku tanpa mengalihkan pandangan
dari layar laptop.
“Oppa…”
“Hmm?” jawabku malas.
“Tadi malam kenapa kau tidak…”
“Bisa tolong ambilkan ponselku?”
Hana mengerucutkan bibir dan bergegas mengambilkan
ponsel yang tergeletak di atas kulkas. Ia memberikan ponsel itu padaku, lalu
menarik sebuah kursi dan ikut duduk di sebelahku.
“Kau ini kenapa sih? Manja sekali.” Ucapku sambil
merangkul bahunya.
“Ah, tidak.” Hana menggeleng. “Aku hanya ingin tahu
apa yang sedang oppa lihat.”
“Hanya foto-foto lama.” Jawabku menyembunyikan
kesedihan. Hana mengangguk. Aku tak pernah tahu apakah dia benar-benar mengerti
tentang keadaanku. Tentang perasaanku.
“Kau rindu pada mereka, oppa?” tanyanya. Aku
mengangguk lemah. “Lalu kenapa kau tidak membangun lagi grup itu dari awal?
Kurasa ini adalah kesempatan yang sangat baik.”
Aku tidak bisa menyalahkan Hana kalau dia memang tidak
mengerti dengan posisiku saat ini. Dan akupun melepaskan pelukanku, berdiri
dari kursi dan berjalan mendekat ke jendela. Yang dikatakan Hana memang benar.
Ini adalah kesempatan terbaik untuk membangun grup itu lagi. Tapi membangkitkan
kembali nama DBSK, tidak semudah menyatakan cinta pada Hana. Itu butuh proses
yang sangat rumit dan konsistensi kami benar-benar diuji. Aku hanya takut,
kalau aku memilih untuk mengajak mereka bergabung lagi, justru aku sendirilah
yang tidak bisa menjaga konsistensi. Dan hal itulah yang membuat masalah ini
menjadi jauh lebih rumit dari yang aku perkirakan.
“Aku tahu kau ingin memulai grup itu lagi…” ucap Hana.
“…”
“Aku yakin mereka pun merasakan hal yang sama. Dan
seluruh Cassiopeia pasti akan sangat senang jika idola mereka kembali.”
“…”
“Jangan pernah ragu untuk menentukan pilihan, oppa.
dan jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Tuhan berikan padamu.”
“Kau tidak mengerti, Hana. Yang kutakutkan bukan itu…”
aku berbalik, menatap wajahnya yang masih tampak tak mengerti. “Aku hanya takut
kegagalan yang sama akan terulang lagi…”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar