Welcome

Rabu, 16 Mei 2012

DBSK comeback? (part 6)


Hana POV

Aku menatap wajah Jaejoong oppa yang terlelap dalam mimpinya, aku merasa ada sesuatu yang salah. Aku menatap wajah Jaejoong semakin dalam. Menikmati setiap lekukan wajahnya yang tampan. Merasakan desahan nafasnya yang dalam dan teratur. Merasakan kehangatan saat berada di sampingnya. Aku benar-benar mencintainya.

Dream do come true, hal itu yang selalu ada di benakku saat aku melihatnya, dia bagai seorang malaikat yang dikirim Tuhan untukku.

Aku meletakkan jari telunjuku di keningnya, dengan lembut aku menggerakan jariku menuju bawah melewati hidungnya dan berhenti di bibir merah cherry-nya. aku takut dia terbangun, sehingga aku mengangkat jariku. Entah karena dorongan apa, aku meletakan tanganku diatas dadanya, aku merasakan detak jantungnya, sangat teratur.

Aku kembali menatap wajahnya, dibalik wajahnya yang ceria tersimpan banyak hal yang tidak aku ketahui. Aku benar-benar merasa, pertemuan terakhirnya dengan mereka sedikit membuatnya sedih. Apa aku terlalu memaksanya untuk kembali bersatu dengan yang lainnya membangun kembali DBSK dari awal. Aku bersedia melakukan apapun agar Jaejoong oppa merasa bahagia.

Yah, sejujurnya aku mau bersamanya selamanya, seperti janjiku saat pernikahan itu. Karena DBSK-lah aku mengenalnya, karena kecintaanku pada group itu aku bisa menikahinya. Aku merupakan salah dari Cassiopeia, aku merupakan fans mereka, sebagai fans akupun berharap mereka comeback dengan formasi yang lengkap dengan 5 member. Tapi aku meragukan hal itu.

Aku menatap langit-langit dengan tatapan kosong, membiarkan pikiranku melayang entah ke mana. Aku juga meraka saat ini Jaejoong oppa tersiksa.

“Kau belum tidur.” Suara itu, suara Jaejoong oppa. Aku menoleh, ternyata dia terbangun sama sepertiku. “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Aku hanya sedang berfikir..” Aku kembali terdiam, aku tak mau membuatnya cemas. “Sudah lupakan saja oppa, kembalilah tidur.” Aku memerintah Jaejoong untuk kembali tidur.

“Aku tak bisa. Kenapa? Ceritalah.”

“Tidak, ini bukan suatu hal yang penting.” Aku menatap wajahnya, aku tahu, dia berkata seperti ini karena tak mau mebuatku cemas.

“….”

“Ahhh.” Dia bangun, dan merenggangkan ototnya yang kaku. “lebih baik kita berjalan-jalan dan menunggu matahari terbit.”

“Oppa, sekarang masih pagi.” Aku menguap, padahal sejujurnya aku tidak mengantuk. Aku kembali menarik selimutku.

“Sudahlah, ini sudah menjelang pagi. Kau ini tidur terus.”

“Tapi ini masih jam 5 pagi, ini masih dingin.” Aku menarik selimutku lebih tinggi lagi.

“Kalau kau merasa dingin, biar aku yang memelukku, pasti kau akan merasa hangat.” Dia menawariku.

“Tidak.”

“Iya.”

Jaejoong oppa berusaha menarik selimutku, akhirnya kami saling menarik selimut.

“Tidak tidak tidak tidak.” Kataku

“Iya Iya Iya Iya.” Jaejoong meniruku

“Tidak Tidak Tidak.”

“Iya Tidak Iya.”

“Tidak Tidak Tidak.”

“Tidak Iya Tidak.”

“Tidak Tidak.”

“Tidak….”

“Iya.” Aku mengutuk diriku sendiri karena berkata Iya, aku menutup mulutku.

Jaejoong menarik tanganku dan terpaksa aku menemaninya menunggu matahari terbit. Aku tersenyum.

***

Jaejoong POV

Aku tahu udara di sini tidak sedingin di Korea. Tapi kenapa sejak tadi Hana menggandeng tanganku begitu erat? Apa karena semua orang di sini memperhatikanku? Lalu Hana berubah menjadi sangat possessive? Ah, dasar perempuan. Aku membalas cengkraman Hana, merasakan kulit tangannya yang halus dan agak dingin karena udara pagi.

“Oppa, waktu itu umma menitipkan salam untukmu…” ucap Hana memecah keheningan.

“Oh..” hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku juga tak tahu harus mengucapkan apa.

Aku mengajaknya berhenti saat kami tiba di sebuah area pertanian yang luas. Langit masih gelap, dan sinar fajar belum sepenuhnya terbit dari balik bukit. Aku melihat Hana terpesona dengan pemandangan sawah yang hijau membentang. Sesuatu yang sangat jarang dilihatnya di Korea. Jika sedang bersama Hana seperti ini… aku merasa setiap tarikan napasku menjadi begitu berarti.

“Indah sekali, oppa. pemandangannya indah sekali…” katanya sambil menunjuk-nunjuk ke arah hamparan padi. Aku hanya bisa membalas dengan anggukan kepala yang samar. Apa yang harus kulakukan, untuk menyembunyikan kegelisahanku saat ini…?

Di saat aku sedang terpana melihat wajah ceria Hana, tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah pesan masuk. Aku membacanya dengan hati-hati. Dan saat aku mengetahui isinya, sontak bumi yang kupijak bagaikan runtuh dan mengubur tubuhku jauh di dalamnya. Pesan ini… dari produser SM. si tua Bangka sialan itu. Ternyata dia masih berani menghubungiku, bahkan memohon agar aku kembali bergabung dalam formasi DBSK. Dia pikir semua hal yang telah dilakukannya padaku selama ini hanyalah main-main? Seenaknya saja dia mengatakan hal itu.

“Ada apa, oppa?” tanya Hana menyadari perubahan ekspresiku setelah membaca sms itu.

“Ah, ti, tidak. Tidak ada apa-apa.” Jawabku sambil memasukkan ponsel kembali ke dalam saku.

“Jangan bohong. Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan. Ayo bilang padaku. Apa itu dari managermu? Atau dari produser c-jes? Atau siapa?” Hana memaksa. Aku tak pernah tega melihat ekspresinya yang seperti itu. Tapi jika aku jujur padanya, aku takut hal ini akan membuat bulan madu kami jadi berantakan.

“Ini… ini dari…”

“Produser SM?” Hana menebak. Aku menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya terpaksa mengangguk mengiyakan. “Apa yang dia katakan padamu? Apa dia mau menyiksa-mu lagi? Biar nanti aku bunuh saja dia kalau berani macam-macam padamu lagi!”

“Memangnya kau berani?” aku tersenyum menggodanya. Hana memalingkan wajah.

“Aku berani, oppa.” katanya pelan.

“Kau tidak perlu melakukannya, Hana. Aku sudah lelah menghadapi SM. aku ingin berdamai saja dengan mereka.”

“APA?!!!”

“Ya, aku rasa aku akan damai saja.”

Hana menatapku lekat-lekat, aku balas menatapnya.

“Memangnya apa yang diminta produser SM?”

“Dia meminta kami berlima untuk kembali membentuk formasi DBSK.”

Beberapa saat suasana hening. Lalu tiba-tiba, Hana menarik wajahku untuk menatap ke dalam bola mataku. Aku menarik napas panjang saat dalam pikiranku terlintas suatu keputusan.

“Jadi kau akan menerima tawaran itu?”

***

Yunho POV

Sejak kami kembali dari pertemuan tadi, Changmin menjadi berubah. dia tidak bicara sepatah katapun saat kami dalam perjalanan pulang. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Apakah dia menyetujui, atau tidak menyetujui tawaran itu. Hanya dia sendiri yang tahu jawabannya. Saat kami tiba di apartment, dia langsung masuk ke kamar dan tidak keluar lagi sampai aku selesai membereskan kamarku. Mungkin Changmin begitu terkejut dengan berita itu. Mungkin batinnya masih belum siap untuk memutuskan apakah dia siap memulai grup ini lagi.

Perjalanan menembus kesuksesan bukanlah hal mudah. Butuh semua hal yang kita miliki untuk meraih pucak kegemilangan. Dan aku masih tidak mengerti, apa sebenarnya maksud SM menawarkan kembali keutuhan DBSK? Setelah mereka menghancurkan kami, lalu mereka ingin mengumpulkan kami lagi untuk kemudian mereka hancurkan lagi? Apa mereka sudah tidak punya hati? Tapi… aku juga sempat berpikir, mungkin saja SM mau berubah. mungkin saja mereka akan memperbaiki sikap mereka dan benar-benar mengangkat nama DBSK lagi seperti dulu. Dan kini masalahnya hanya satu. Bagaimana caraku mengetahui apakah SM benar-benar serius untuk memanage kami lagi atau mereka hanya bermaksud memeras kami seperti dulu?

“Changmin.” Panggilku saat melihatnya mengambil air ke dapur. Changmin menoleh sekilas, lalu meneguk air dalam gelas yang dipegangnya. “Kau marah karena berita ini baru kami sampai kan sekarang?” aku mencoba menebak.

“Tidak.” Katanya sambil berjalan dan kembali memasuki kamarnya. Aku mengikutinya dan berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Lalu kenapa sikapmu seperti ini?”

“Seperti apa?”

“Kau seperti… bukan Changmin yang biasanya.” Aku merasa tak memiliki kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang terlintas dalam benakku.

“Aku hanya masih tak percaya saja dengan tawaran SM. menurutku, semuanya terlalu mendadak. Dan aku ingin tahu, kenapa mereka memberitahukan hal itu pada kalian, sementara aku tidak diberitahu. Apakah mereka ingin aku tidak perlu menjadi satu grup lagi dengan kalian?”

“Bukan begitu!” ucapku spontan. Changmin mengangkat alis. “Maksudku… tentu saja bukan. Aku mendengar sendiri produser ingin kita berlima kembali. Dan itu artinya, bersama kau juga. Mungkin produser memiliki alasan khusus mengenai kenapa dia belum memberi-tahumu juga sampai saat ini.” Aku mencoba mengungkapkan pendapatku dengan nada bicara sewajar mungkin. Aku hanya tak mau Changmin menyimpan dendam yang berkepanjangan di saat masalah kami dengan SM hampir selesai.

“Aku tahu, hyung. Kau tak perlu menjelaskannya padaku.” Ucap Changmin pelan.

Aku mengerti perasaannya. Sangat mengerti. Rasa sakit hati dan penyesalan yang jauh lebih besar dari yang dapat kami bayangkan. Perpisahan kami dengan ketiga member itu, mungkin sudah sejak dulu kami lupakan. Tapi saat pernikahan Jaejoong, semuanya terulang kembali dengan sangat mudah. Jerih payah kami untuk melupakan segala hal tentang mereka, me-nelan mentah-mentah kerinduan pada mereka, semua itu dengan mudahnya menjadi suatu hal yang sia-sia.

“Changmin…” ucapku berhati-hati.

“Ya?”

“Apakah kau akan menerima tawaran mereka untuk membentuk kembali grup ini?” aku menatap wajahnya yang lelah. Dia tampak tenang, tapi di balik ketenangan itu, aku yakin tersembunyi kegundahan yang luar biasa.

“Tentu saja aku ingin sekali membentuk kembali grup ini, hyung. Tapi masalahnya, apakah kita berlima bisa konsisten menanggung semua resiko saat kita kembali muncul di public? Setelah 3 tahun ini kita hilang. Bahkan kurasa, kekompakan kita berlima pun sudah nyaris lenyap. Aku hanya takut kalau-kalau SM mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Aku sudah cukup trauma, hyung. Sudah cukup.”

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat kebencian di mata Changmin.

***

Author POV

Langkah Junsu terburu-buru memasuki gedung SM. dia tidak memberitahu siapapun bahwa dia akan datang ke sana hari ini. Bahkan Yoochun sekalipun tidak tahu tentang hal itu. Junsu merasa perlu bicara dengan produser untuk menyampaikan penolakannya secara halus. Dia tidak akan pernah mau bergabung di bawah naungan management itu lagi. Tidak untuk yang ke dua kalinya. Kalaupun dia memang harus bergabung kembali membentuk DBSK, yang pasti itu bukan di bawah naungan SM.

Saat Junsu sampai di lobby, tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya.

“Maaf!” ucap Junsu tanpa menoleh. Dia bermaksud melanjutkan langkahnya, namun sese-orang menarik tangannya dengan cepat.

Junsu tercengang. Wajah yang kini ada di hadapannya adalah wajah yang sangat dirindukannya. Itu… Taeyeon. Rasanya Junsu ingin memeluk erat tubuh Taeyeon, mencium rambut hitamnya yang indah. Tapi dalam sekejap, semua keinginan itu hilang pada saat…

“Yeonni! Kau di sini rupanya? Aku mencarimu ke mana-mana.” Seorang pria datang dan menghampiri Taeyeon, membuat Taeyeon melepaskan tangannya dari Junsu. Pria itu seperti baru berusia sekitar 23 tahun. dan Junsu tidak mengenalnya. Begitu tangan Taeyeon terlepas darinya, ia segera melanjutkan langkah tanpa menoleh lagi kepada dua orang itu.

Kenapa di saat masalahnya sedang rumit, ia harus bertemu lagi dengan Taeyeon?

“Kau mencariku?” suara yang dikenal Junsu membuatnya tak jadi menekan tombol lift. Ia melihat sosok pria tua yang sangat dikenalnya. Sosok yang sudah begitu lama tak dilihatnya, dan ia merasa pria itu sama sekali tidak berubah sejak terakhir kali ia melihatnya.

 “Aku perlu bicara.” Ucap Junsu sambil berjalan mendekat.

“Tentang apa?”

“Jangan pura-pura tidak tahu.” Junsu melemparkan tatapan sinis pada pria itu. “Sebelumnya aku ingin tanya, apa kau sudah memberitahu Jaejoong hyung mengenai hal ini?”

“Sudah.”

BUAKK!!!

Sebuah pukulan keras mendarat di wajah sang produser.

“Itu karena kau sudah merusak bulan madu Jaejoong hyung.”

BUAKK!!!

Sekali lagi Junsu mengeluarkan tinjunya.

“Itu karena kau menyuruh kurir untuk memberitahuku, padahal seharusnya kau sendiri yang datang dan berlutut di kakiku.”

Sang produser menatap Junsu dengan menahan rasa pusing di kepalanya.

“Dengar, ya. Aku baru akan sudi menerima tawaranmu itu kalau kau bersedia mencium kakiku di depan seluruh staff SM dan mengundang semua media untuk meliputnya. Sebelum kau melakukan hal itu, jangan harap aku mau bergabung denganmu lagi!”

Junsu membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari gedung SM. mengacuhkan tatapan semua orang yang saling berbisik-bisik membicarakannya. Ia bersumpah, setelah ini, ia akan benar-benar pulang ke rumah ibunya, dengan atau tanpa persetujuan Yoochun.

Dan kalaupun nanti Jaejoong bahkan menyetujui penawaran itu, ia tetap tidak akan mau bergabung sebelum syarat yang diajukannya dipenuhi oleh sang produser. Atau, jika mereka memang ingin menggantikan posisinya dengan orang lain, silakan saja. Ia tidak keberatan. Ia merasa jauh lebih baik jika ia digantikan. Karena ia memang sudah tak tertarik lagi untuk membangun kembali DBSK di bawah naungan SM.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar