Hana POV
Aku menatap wajah Jaejoong oppa yang terlelap dalam
mimpinya, aku merasa ada sesuatu yang salah. Aku menatap wajah Jaejoong semakin
dalam. Menikmati setiap lekukan wajahnya yang tampan. Merasakan desahan
nafasnya yang dalam dan teratur. Merasakan kehangatan saat berada di
sampingnya. Aku benar-benar mencintainya.
Dream do come true, hal itu yang selalu ada di benakku
saat aku melihatnya, dia bagai seorang malaikat yang dikirim Tuhan untukku.
Aku meletakkan jari telunjuku di keningnya, dengan
lembut aku menggerakan jariku menuju bawah melewati hidungnya dan berhenti di
bibir merah cherry-nya. aku takut dia terbangun, sehingga aku mengangkat
jariku. Entah karena dorongan apa, aku meletakan tanganku diatas dadanya, aku
merasakan detak jantungnya, sangat teratur.
Aku kembali menatap wajahnya, dibalik wajahnya yang
ceria tersimpan banyak hal yang tidak aku ketahui. Aku benar-benar merasa,
pertemuan terakhirnya dengan mereka sedikit membuatnya sedih. Apa aku terlalu
memaksanya untuk kembali bersatu dengan yang lainnya membangun kembali DBSK
dari awal. Aku bersedia melakukan apapun agar Jaejoong oppa merasa bahagia.
Yah, sejujurnya aku mau bersamanya selamanya, seperti
janjiku saat pernikahan itu. Karena DBSK-lah aku mengenalnya, karena
kecintaanku pada group itu aku bisa menikahinya. Aku merupakan salah dari
Cassiopeia, aku merupakan fans mereka, sebagai fans akupun berharap mereka
comeback dengan formasi yang lengkap dengan 5 member. Tapi aku meragukan hal
itu.
Aku menatap langit-langit dengan tatapan kosong,
membiarkan pikiranku melayang entah ke mana. Aku juga meraka saat ini Jaejoong
oppa tersiksa.
“Kau belum tidur.” Suara itu, suara Jaejoong oppa. Aku
menoleh, ternyata dia terbangun sama sepertiku. “Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Aku hanya sedang berfikir..” Aku kembali terdiam, aku
tak mau membuatnya cemas. “Sudah lupakan saja oppa, kembalilah tidur.” Aku
memerintah Jaejoong untuk kembali tidur.
“Aku tak bisa. Kenapa? Ceritalah.”
“Tidak, ini bukan suatu hal yang penting.” Aku menatap
wajahnya, aku tahu, dia berkata seperti ini karena tak mau mebuatku cemas.
“….”
“Ahhh.” Dia bangun, dan merenggangkan ototnya yang
kaku. “lebih baik kita berjalan-jalan dan menunggu matahari terbit.”
“Oppa, sekarang masih pagi.” Aku menguap, padahal
sejujurnya aku tidak mengantuk. Aku kembali menarik selimutku.
“Sudahlah, ini sudah menjelang pagi. Kau ini tidur
terus.”
“Tapi ini masih jam 5 pagi, ini masih dingin.” Aku
menarik selimutku lebih tinggi lagi.
“Kalau kau merasa dingin, biar aku yang memelukku,
pasti kau akan merasa hangat.” Dia menawariku.
“Tidak.”
“Iya.”
Jaejoong oppa berusaha menarik selimutku, akhirnya
kami saling menarik selimut.
“Tidak tidak tidak tidak.” Kataku
“Iya Iya Iya Iya.” Jaejoong meniruku
“Tidak Tidak Tidak.”
“Iya Tidak Iya.”
“Tidak Tidak Tidak.”
“Tidak Iya Tidak.”
“Tidak Tidak.”
“Tidak….”
“Iya.” Aku mengutuk diriku sendiri karena berkata Iya,
aku menutup mulutku.
Jaejoong menarik tanganku dan terpaksa aku menemaninya
menunggu matahari terbit. Aku tersenyum.
***
Jaejoong POV
Aku tahu udara di sini tidak sedingin di Korea. Tapi
kenapa sejak tadi Hana menggandeng tanganku begitu erat? Apa karena semua orang
di sini memperhatikanku? Lalu Hana berubah menjadi sangat possessive? Ah, dasar
perempuan. Aku membalas cengkraman Hana, merasakan kulit tangannya yang halus
dan agak dingin karena udara pagi.
“Oppa, waktu itu umma menitipkan salam untukmu…” ucap
Hana memecah keheningan.
“Oh..” hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku juga
tak tahu harus mengucapkan apa.
Aku mengajaknya berhenti saat kami tiba di sebuah area
pertanian yang luas. Langit masih gelap, dan sinar fajar belum sepenuhnya
terbit dari balik bukit. Aku melihat Hana terpesona dengan pemandangan sawah
yang hijau membentang. Sesuatu yang sangat jarang dilihatnya di Korea. Jika
sedang bersama Hana seperti ini… aku merasa setiap tarikan napasku menjadi
begitu berarti.
“Indah sekali, oppa. pemandangannya indah sekali…”
katanya sambil menunjuk-nunjuk ke arah hamparan padi. Aku hanya bisa membalas
dengan anggukan kepala yang samar. Apa yang harus kulakukan, untuk
menyembunyikan kegelisahanku saat ini…?
Di saat aku sedang terpana melihat wajah ceria Hana,
tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah pesan masuk. Aku membacanya dengan
hati-hati. Dan saat aku mengetahui isinya, sontak bumi yang kupijak bagaikan
runtuh dan mengubur tubuhku jauh di dalamnya. Pesan ini… dari produser SM. si
tua Bangka sialan itu. Ternyata dia masih berani menghubungiku, bahkan memohon
agar aku kembali bergabung dalam formasi DBSK. Dia pikir semua hal yang telah
dilakukannya padaku selama ini hanyalah main-main? Seenaknya saja dia
mengatakan hal itu.
“Ada apa, oppa?” tanya Hana menyadari perubahan
ekspresiku setelah membaca sms itu.
“Ah, ti, tidak. Tidak ada apa-apa.” Jawabku sambil
memasukkan ponsel kembali ke dalam saku.
“Jangan bohong. Aku tahu ada sesuatu yang kau
sembunyikan. Ayo bilang padaku. Apa itu dari managermu? Atau dari produser
c-jes? Atau siapa?” Hana memaksa. Aku tak pernah tega melihat ekspresinya yang
seperti itu. Tapi jika aku jujur padanya, aku takut hal ini akan membuat bulan madu
kami jadi berantakan.
“Ini… ini dari…”
“Produser SM?” Hana menebak. Aku menelan ludah dengan
susah payah sebelum akhirnya terpaksa mengangguk mengiyakan. “Apa yang dia
katakan padamu? Apa dia mau menyiksa-mu lagi? Biar nanti aku bunuh saja dia
kalau berani macam-macam padamu lagi!”
“Memangnya kau berani?” aku tersenyum menggodanya.
Hana memalingkan wajah.
“Aku berani, oppa.” katanya pelan.
“Kau tidak perlu melakukannya, Hana. Aku sudah lelah
menghadapi SM. aku ingin berdamai saja dengan mereka.”
“APA?!!!”
“Ya, aku rasa aku akan damai saja.”
Hana menatapku lekat-lekat, aku balas menatapnya.
“Memangnya apa yang diminta produser SM?”
“Dia meminta kami berlima untuk kembali membentuk
formasi DBSK.”
Beberapa saat suasana hening. Lalu tiba-tiba, Hana
menarik wajahku untuk menatap ke dalam bola mataku. Aku menarik napas panjang
saat dalam pikiranku terlintas suatu keputusan.
“Jadi kau akan menerima tawaran itu?”
***
Yunho POV
Sejak kami kembali dari pertemuan tadi, Changmin
menjadi berubah. dia tidak bicara sepatah katapun saat kami dalam perjalanan
pulang. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Apakah dia menyetujui,
atau tidak menyetujui tawaran itu. Hanya dia sendiri yang tahu jawabannya. Saat
kami tiba di apartment, dia langsung masuk ke kamar dan tidak keluar lagi
sampai aku selesai membereskan kamarku. Mungkin Changmin begitu terkejut dengan
berita itu. Mungkin batinnya masih belum siap untuk memutuskan apakah dia siap
memulai grup ini lagi.
Perjalanan menembus kesuksesan bukanlah hal mudah.
Butuh semua hal yang kita miliki untuk meraih pucak kegemilangan. Dan aku masih
tidak mengerti, apa sebenarnya maksud SM menawarkan kembali keutuhan DBSK?
Setelah mereka menghancurkan kami, lalu mereka ingin mengumpulkan kami lagi
untuk kemudian mereka hancurkan lagi? Apa mereka sudah tidak punya hati? Tapi…
aku juga sempat berpikir, mungkin saja SM mau berubah. mungkin saja mereka akan
memperbaiki sikap mereka dan benar-benar mengangkat nama DBSK lagi seperti
dulu. Dan kini masalahnya hanya satu. Bagaimana caraku mengetahui apakah SM
benar-benar serius untuk memanage kami lagi atau mereka hanya bermaksud memeras
kami seperti dulu?
“Changmin.” Panggilku saat melihatnya mengambil air ke
dapur. Changmin menoleh sekilas, lalu meneguk air dalam gelas yang dipegangnya.
“Kau marah karena berita ini baru kami sampai kan sekarang?” aku mencoba
menebak.
“Tidak.” Katanya sambil berjalan dan kembali memasuki
kamarnya. Aku mengikutinya dan berdiri di ambang pintu kamarnya.
“Lalu kenapa sikapmu seperti ini?”
“Seperti apa?”
“Kau seperti… bukan Changmin yang biasanya.” Aku
merasa tak memiliki kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang terlintas
dalam benakku.
“Aku hanya masih tak percaya saja dengan tawaran SM.
menurutku, semuanya terlalu mendadak. Dan aku ingin tahu, kenapa mereka
memberitahukan hal itu pada kalian, sementara aku tidak diberitahu. Apakah
mereka ingin aku tidak perlu menjadi satu grup lagi dengan kalian?”
“Bukan begitu!” ucapku spontan. Changmin mengangkat
alis. “Maksudku… tentu saja bukan. Aku mendengar sendiri produser ingin kita
berlima kembali. Dan itu artinya, bersama kau juga. Mungkin produser memiliki
alasan khusus mengenai kenapa dia belum memberi-tahumu juga sampai saat ini.”
Aku mencoba mengungkapkan pendapatku dengan nada bicara sewajar mungkin. Aku hanya
tak mau Changmin menyimpan dendam yang berkepanjangan di saat masalah kami
dengan SM hampir selesai.
“Aku tahu, hyung. Kau tak perlu menjelaskannya
padaku.” Ucap Changmin pelan.
Aku mengerti perasaannya. Sangat mengerti. Rasa sakit
hati dan penyesalan yang jauh lebih besar dari yang dapat kami bayangkan.
Perpisahan kami dengan ketiga member itu, mungkin sudah sejak dulu kami
lupakan. Tapi saat pernikahan Jaejoong, semuanya terulang kembali dengan sangat
mudah. Jerih payah kami untuk melupakan segala hal tentang mereka, me-nelan
mentah-mentah kerinduan pada mereka, semua itu dengan mudahnya menjadi suatu
hal yang sia-sia.
“Changmin…” ucapku berhati-hati.
“Ya?”
“Apakah kau akan menerima tawaran mereka untuk
membentuk kembali grup ini?” aku menatap wajahnya yang lelah. Dia tampak
tenang, tapi di balik ketenangan itu, aku yakin tersembunyi kegundahan yang
luar biasa.
“Tentu saja aku ingin sekali membentuk kembali grup
ini, hyung. Tapi masalahnya, apakah kita berlima bisa konsisten menanggung
semua resiko saat kita kembali muncul di public? Setelah 3 tahun ini kita
hilang. Bahkan kurasa, kekompakan kita berlima pun sudah nyaris lenyap. Aku
hanya takut kalau-kalau SM mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Aku sudah cukup trauma, hyung. Sudah cukup.”
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat kebencian di
mata Changmin.
***
Author POV
Langkah Junsu terburu-buru memasuki gedung SM. dia
tidak memberitahu siapapun bahwa dia akan datang ke sana hari ini. Bahkan
Yoochun sekalipun tidak tahu tentang hal itu. Junsu merasa perlu bicara dengan
produser untuk menyampaikan penolakannya secara halus. Dia tidak akan pernah
mau bergabung di bawah naungan management itu lagi. Tidak untuk yang ke dua
kalinya. Kalaupun dia memang harus bergabung kembali membentuk DBSK, yang pasti
itu bukan di bawah naungan SM.
Saat Junsu sampai di lobby, tiba-tiba ada seseorang
yang menabraknya.
“Maaf!” ucap Junsu tanpa menoleh. Dia bermaksud
melanjutkan langkahnya, namun sese-orang menarik tangannya dengan cepat.
Junsu tercengang. Wajah yang kini ada di hadapannya
adalah wajah yang sangat dirindukannya. Itu… Taeyeon. Rasanya Junsu ingin
memeluk erat tubuh Taeyeon, mencium rambut hitamnya yang indah. Tapi dalam
sekejap, semua keinginan itu hilang pada saat…
“Yeonni! Kau di sini rupanya? Aku mencarimu ke
mana-mana.” Seorang pria datang dan menghampiri Taeyeon, membuat Taeyeon
melepaskan tangannya dari Junsu. Pria itu seperti baru berusia sekitar 23
tahun. dan Junsu tidak mengenalnya. Begitu tangan Taeyeon terlepas darinya, ia
segera melanjutkan langkah tanpa menoleh lagi kepada dua orang itu.
Kenapa di saat masalahnya sedang rumit, ia harus
bertemu lagi dengan Taeyeon?
“Kau mencariku?” suara yang dikenal Junsu membuatnya
tak jadi menekan tombol lift. Ia melihat sosok pria tua yang sangat dikenalnya.
Sosok yang sudah begitu lama tak dilihatnya, dan ia merasa pria itu sama sekali
tidak berubah sejak terakhir kali ia melihatnya.
“Aku perlu
bicara.” Ucap Junsu sambil berjalan mendekat.
“Tentang apa?”
“Jangan pura-pura tidak tahu.” Junsu melemparkan
tatapan sinis pada pria itu. “Sebelumnya aku ingin tanya, apa kau sudah
memberitahu Jaejoong hyung mengenai hal ini?”
“Sudah.”
BUAKK!!!
Sebuah pukulan keras mendarat di wajah sang produser.
“Itu karena kau sudah merusak bulan madu Jaejoong
hyung.”
BUAKK!!!
Sekali lagi Junsu mengeluarkan tinjunya.
“Itu karena kau menyuruh kurir untuk memberitahuku,
padahal seharusnya kau sendiri yang datang dan berlutut di kakiku.”
Sang produser menatap Junsu dengan menahan rasa pusing
di kepalanya.
“Dengar, ya. Aku baru akan sudi menerima tawaranmu itu
kalau kau bersedia mencium kakiku di depan seluruh staff SM dan mengundang
semua media untuk meliputnya. Sebelum kau melakukan hal itu, jangan harap aku
mau bergabung denganmu lagi!”
Junsu membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari
gedung SM. mengacuhkan tatapan semua orang yang saling berbisik-bisik
membicarakannya. Ia bersumpah, setelah ini, ia akan benar-benar pulang ke rumah
ibunya, dengan atau tanpa persetujuan Yoochun.
Dan kalaupun nanti Jaejoong bahkan menyetujui
penawaran itu, ia tetap tidak akan mau bergabung sebelum syarat yang
diajukannya dipenuhi oleh sang produser. Atau, jika mereka memang ingin
menggantikan posisinya dengan orang lain, silakan saja. Ia tidak keberatan. Ia
merasa jauh lebih baik jika ia digantikan. Karena ia memang sudah tak tertarik
lagi untuk membangun kembali DBSK di bawah naungan SM.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar