BRAK!!! Changmin menggebrak salah
satu meja yang terletak di cafeteria. Membuat beberapa siswa yang duduk di meja
tersebut bergetar ketakutan.
“Kalian semua, pergi dari sini!”
Changmin memberi perintah, menatap kelima orang yang duduk melingkar. Tak
satupun dari mereka yang beranjak meninggalkan meja tersebut. Mereka hanya diam
ketakutan. “Kalian tidak punya telinga?! Kami mau duduk disini!”
“Ke.. ke.. ke.. napa?” Tanya
salah seseorang di antara mereka, setelah dia mengumpulkan keberanian untuk
melawan gangster itu. “Disana masih ada meja kosong, kau bisa menempatinya.”
Changmin menarik kerah baju anak
laki-laki yang membantah perintahnya. Anak laki-laki itu kesulitan bernapas, karena
cengkraman Changmin yang begitu kuat.
“Kau berani melawan kami?!” Suara
Changmin meninggi, menatap rendah anak laki-laki di hadapannya. “Kau tau apa
akibatnya jika kau melawan kami?!”
BUKKK!! Changmin memukul anak
laki-laki itu, membuat pelipis mata sebelah kirinya robek dan berdarah. Dia
merintih kesakitan. “Itu akibatnya jika kau melawan kami.”
“Kalian itu hanya sekelompok
orang yang tak memiliki perasaan!” Anak laki-laki itu mulai menyulut emosi
Changmin. “Kalian hanya sekelompok orang yang memamerkan kekayaan orang tua
kalian. Bahkan kalian tak bisa melakukan hal baik terhadap siapapun. Terutama
kau Shim Changmin!” Katanya menekan 2 kata terakhir.
BUKKK!!! Changmin kembali
melayangkan tunjunya. Membuat anak laki-laki itu kembali merintih kesakitan.
“Jangan pernah menyebut namaku dengan mulut kotormu itu!!” Kata Changmin
memperingati.
“Sudahlah Changmin, jangan kau
kotori tanganmu.” Kata Yunho malas.
Changmin melepaskan kerah baju
anak itu, menghempaskan tubuh anak laki-laki itu ke tanah dan membuatnya jatuh
tersungkur.
“Cepat pergi dari sini atau aku
akan membuatmu lebih menyesal!” Changmin memperingati. Dia kembali menatap
empat orang yang masih tersisa. “Kenapa masih disini?!!”
Tanpa menunggu perintah kedua,
mereka semua segera pergi meninggalkan meja itu. mempersilahkan ketiga dewa itu
duduk di sana.
“Kau tak perlu melakukan hal
seperti itu.” Junsu berkata sambil mengambil tempat duduk di antara Changmin
dan Yunho. “Kau bisa membunuh anak ingusan itu.”
“Aku tak peduli.” Jawab Changmin
dingin.
“Kemana Yoochun dan Jaejoong?”
Tanya Yunho, mengubah topic pembicaraan.
“Kurasa mereka terlambat.” Jawab
Junsu sama malasnya.
“Kami terlambat ya?” Yoochun
santai, segera mengambil posisi untuk duduk. “Kau, duduklah.” perintah Yoochun
saat Jaejoong masih berdiri, menatap bangku kosong di sebelah Yunho.
“Ini semua karena orang jepang
itu, dia memperlambat kami.”
Rahang Jaejoong mengeras saat
Yoochun membicarakan Nako.
“Apa yang dia lakukan?” Tanya
Junsu mulai tertarik.
“Menemui Jaejoong hyung? Lagi?”
Tebak Changmin malas. “Tak bosan-bosannya dia mendapat perlakuan kasar.”
“Bukankan dia pernah menyatakan
cintanya padamu hyung?” Tanya Changmin kepada Yunho.
Yunho tersenyum mengejek.
Jaejoong menatap Yunho, orang yang membuat Nako patah hati.
“Gadis seperti dia tak pantas
menjadi pacarku.” Kata Yunho mengejek. “Apa yang dia lakukan terhadapmu,
Jaejoong?”
“Bukan hal yang penting.” Jawab
Jaejoong malas. “Jangan bicarakan dia. Kalian membuat selera makanku hilang.”
Seorang pelayan meletakkan
beberapa gelas jus dan makanan ringan yang di pesan. Tersenyum manis, tetapi
tak satupun dari mereka yang mengucapkan ‘Terima Kasih’ atau sekedar tersenyum
basa-basi. Jaejoong mengambil salah satu gelas jus dan meneguknya cepat.
“Aku dengar dia akan pindah
kembali ke Jepang.” kata Junsu, membuat Jaejoong tersedak. “Kau kenapa?”
“Tidak, tidak apa-apa.” Jawab
Jaejoong cepat. “Apa maksudmu? Dia kembali ke Jepang?”
“Hmmm..” Jawab Yunho malas,
“Kurasa dia sudah tidak kuat menghadapi kita. Padahal aku baru saja ingin
membuatnya malu.”
“Ya! Aku ingin sekali membuatnya
merasa tidak di hargai di dunia ini.” Timpal Junsu.
“Padahal aku baru saja menikmati
pertunjukan yang menarik. Tak pernah aku melihatnya menangis seperti kemarin.
Jaejoong hyung benar-benar membuatnya sakit hati.” Tambah Changmin. “Oh, ya,
kapan dia berangkat? Aku belum mengucapkan selamat tinggal.” Changmin tertawa.
“Apa kita harus menyusulnya ke
Jepang?” Tanya Yoochun dingin. “Mempermalukannya di negera asalnya?”
“Hentikan!” Jaejoong berdiri, dia
terlihat sangat marah. “Aku tak mau mendengar lagi apapun tentang Nako.” Mereka
semua terdiam, menatap Jaejoong yang berdiri. “Tak ada lagi alasanku untuk
tetap berada dalam gangster ini!”
***
Teriakan Jaejoong membuat suasana
kantin menjadi hening seketika. Semua murid yang duduk di sana kini saling
berbisik-bisik, beberapa orang yang tadinya sekedar lewat bahkan menyempatkan
diri untuk berdiam menonton keributan gangster terpopuler itu.
“Kau ini kenapa sih? Santai saja.
Ayo duduk kembali.” Perintah Yunho saat menyadari semua orang kini
memperhatikan mereka.
“Aku tidak perlu lagi duduk
semeja dengan kalian berempat. Apa kalian lupa alasanku bergabung dengan
kalian?” Jaejoong menatap wajah mereka berempat satu-persatu. Ia tidak
keberatan jika Nako pulang ke Jepang. Sama sekali tidak keberatan. Jika Nako
pergi, ia bisa keluar dari gangster ini dan ia tak perlu khawatir mereka
berempat akan menyakiti Nako lagi.
“Karena anak sialan itu?” tanya
Yoochun merendahkan.
“Jaga mulutmu!” Jaejoong melotot
marah. Yoochun menyandarkan tubuhnya ke kursi dan melipat tangan dengan santai.
“Kau sama sekali tidak berhak menyebut namanya seperti itu!”
“Oh, benarkah? Kupikir dia memang
senang dipanggil begitu.”
Jaejoong menggeleng penuh amarah.
Ia menendang kaki meja dan setelah itu bermaksud untuk pergi meninggalkan
kantin, namun Junsu langsung menarik pergelangan tangannya.
“Kau boleh saja keluar dari
gangster ini, hyung. Tapi asal kau tahu, anak Jepang itu belum pergi dan dia
masih berada dalam cengkraman kami sampai saat ini.”
“Tapi sebentar lagi dia akan pergi…”
ucap Jaejoong marah bercampur kecewa.
“Lantas kenapa? Dia baru akan
pergi, belum benar-benar pergi.”
Ada perasaan sesak yang merasuki
dadanya. Ia menatap wajah keempat pria yang tampak tak memiliki perasaan. Ia
benci pada mereka berempat. Ia ingin secepatnya keluar dari gangster ini. Tapi
apa yang bisa ia lakukan? Mereka berempat seolah dengan sengaja memanfaatkan
Nako agar Jaejoong tetap bergabung dalam gangster itu. Betapa mereka amat
sangat jahat.
“Kau tentu tidak ingin kan kalau
hari ini dia tak bisa pulang karena sepedanya hancur?” tanya Yunho.
“Jangan sentuh benda itu
sedikitpun!” seru Jaejoong. Yunho mengangkat alis. “Baiklah, aku akan tetap
bergabung dengan kalian.”
***
Hari demi hari berlalu. Nako tidak
pernah lagi dikerjai oleh gangster jahat itu. Ia tidak tahu apa alasan mereka
jadi mendiaminya seperti itu. Tapi baguslah, jadi orang-orang tidak akan
berpikir bahwa Nako pulang ke Jepang karena tidak tahan dikerjai gangster it
uterus-terusan. Ya, Nako benar-benar akan pulang. Minggu depan surat
kepindahannya selesai, jadi ia akan langsung berangkat. Sebenarnya ia ingin
sekali mengucap salam perpisahan untuk Jaejoong. Tapi sayangnya, ia sama sekali
tidak punya kesempatan untuk itu.
Setiap hari Nako memperhatikan
sikap Jaejoong. Ia tidak berubah. Masih tetap bersikap dingin dan selalu
mengacuhkannya. Bahkan setiap kali mereka berlima lewat di depan Nako, mereka
sama sekali tidak menganggap keberadaan Nako. Betapa menyakitkannya menjadi
orang yang tidak dianggap seperti itu. Tapi apapun yang terjadi, Nako sudah
berjanji bahwa ia takkan menangis lagi hanya karena masalah ini. Ia akan tetap
tersenyum untuk semua orang.
“Kau sudah cek semua barang bawaanmu?” tanya
Ny. Misuzawa saat mengantar Nako ke bandara.
“Sudah, okaasan. aku sudah
memastikan tidak ada yang tertinggal.”
“Baguslah kalau begitu. Jaga
dirimu baik-baik ya?” Ny. Misuzawa mencium kening putrinya. Nako hanya
mengangguk, lalu berjalan ke depan ayahnya.
“Aku pergi, otousan.”
“Kau sudah tahu rute yang harus
kau tempuh ke rumah ojiisan kan?” tanya ayahnya memastikan.
Nako mengangguk sambil tersenyum.
Nako mengangguk sambil tersenyum.
“Berhati-hatilah, ya? Jangan lupa
hubungi kami jika kau sudah sampai di Jepang.” Ucap Tn. Misuzawa sambil
mengusap rambut Nako.
“Baik, otousan.” Nako mengangguk
patuh, lalu ia beralih menghampiri kakaknya. “Gii…” ucap Nako pelan. Gii masih
melipat tangannya, ekspresi wajahnya tak bisa dijelaskan. “Kau bisa bebas di
rumah. Aku tidak akan mengganggumu lagi.” Lanjut Nako sambil menatap wajah
kakaknya.
“Aku pasti akan merindukanmu.”
Ucap Gii lembut. Belum pernah selama ini dia bicara pada Nako dengan suara
lembut seperti itu. Nako menatap wajah kakaknya yang tampak sedih.
“Aku akan menelponmu setiap
hari.” Nako tersenyum lebar. Gii membalas senyuman itu, lalu menarik tubuh
adiknya dalam pelukan yang erat. Hangat. Penuh ketulusan. Nako membalas pelukan
itu dan memejamkan matanya.
“Jangan lupa ingatkan aku untuk
mengerjakan tugas ya?” ucap Gii berbisik.
“Tentu saja. Aku akan selalu
mengingatkanmu untuk menyelesaikan tugas.”
Gii melepaskan pelukannya, lalu
membiarkan Nako melangkah pergi menaiki pesawat sambil menarik kopernya. Ia
melambai pada ketiga wajah yang ia sayangi sebelum akhirnya benar-benar
melangkah menaiki tangga pesawat. Namun saat ia akan masuk ke dalam pesawat, ia
menoleh sekali lagi. Berharap sosok yang ditunggunya akan datang ke sana dan
melepasnya. Tapi pada akhirnya ia sadar, orang yang ditunggunya tidak mungkin
datang. Jaejoong bahkan tak ada waktu untuk memikirkannya.
Jadi ia melangkah masuk ke dalam
pesawat. Meninggalkan kota yang selamanya takkan pernah ia singgahi lagi. Tentu
saja. Karena ia tak ingin mengulangi penderitaannya dengan berada di
tengah-tengah orang Korea yang selalu memeda-bedakan status sosialnya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar