Welcome

Senin, 21 Mei 2012

The Gangster (part 13)


BRAK!!! Changmin menggebrak salah satu meja yang terletak di cafeteria. Membuat beberapa siswa yang duduk di meja tersebut bergetar ketakutan.

“Kalian semua, pergi dari sini!” Changmin memberi perintah, menatap kelima orang yang duduk melingkar. Tak satupun dari mereka yang beranjak meninggalkan meja tersebut. Mereka hanya diam ketakutan. “Kalian tidak punya telinga?! Kami mau duduk disini!”

“Ke.. ke.. ke.. napa?” Tanya salah seseorang di antara mereka, setelah dia mengumpulkan keberanian untuk melawan gangster itu. “Disana masih ada meja kosong, kau bisa menempatinya.”
Changmin menarik kerah baju anak laki-laki yang membantah perintahnya. Anak laki-laki itu kesulitan bernapas, karena cengkraman Changmin yang begitu kuat.

“Kau berani melawan kami?!” Suara Changmin meninggi, menatap rendah anak laki-laki di hadapannya. “Kau tau apa akibatnya jika kau melawan kami?!”

BUKKK!! Changmin memukul anak laki-laki itu, membuat pelipis mata sebelah kirinya robek dan berdarah. Dia merintih kesakitan. “Itu akibatnya jika kau melawan kami.”

“Kalian itu hanya sekelompok orang yang tak memiliki perasaan!” Anak laki-laki itu mulai menyulut emosi Changmin. “Kalian hanya sekelompok orang yang memamerkan kekayaan orang tua kalian. Bahkan kalian tak bisa melakukan hal baik terhadap siapapun. Terutama kau Shim Changmin!” Katanya menekan 2 kata terakhir.

BUKKK!!! Changmin kembali melayangkan tunjunya. Membuat anak laki-laki itu kembali merintih kesakitan. “Jangan pernah menyebut namaku dengan mulut kotormu itu!!” Kata Changmin memperingati.

“Sudahlah Changmin, jangan kau kotori tanganmu.” Kata Yunho malas.

Changmin melepaskan kerah baju anak itu, menghempaskan tubuh anak laki-laki itu ke tanah dan membuatnya jatuh tersungkur.

“Cepat pergi dari sini atau aku akan membuatmu lebih menyesal!” Changmin memperingati. Dia kembali menatap empat orang yang masih tersisa. “Kenapa masih disini?!!”

Tanpa menunggu perintah kedua, mereka semua segera pergi meninggalkan meja itu. mempersilahkan ketiga dewa itu duduk di sana.

“Kau tak perlu melakukan hal seperti itu.” Junsu berkata sambil mengambil tempat duduk di antara Changmin dan Yunho. “Kau bisa membunuh anak ingusan itu.”

“Aku tak peduli.” Jawab Changmin dingin.

“Kemana Yoochun dan Jaejoong?” Tanya Yunho, mengubah topic pembicaraan.

“Kurasa mereka terlambat.” Jawab Junsu sama malasnya.

“Kami terlambat ya?” Yoochun santai, segera mengambil posisi untuk duduk. “Kau, duduklah.” perintah Yoochun saat Jaejoong masih berdiri, menatap bangku kosong di sebelah Yunho.

“Ini semua karena orang jepang itu, dia memperlambat kami.”

Rahang Jaejoong mengeras saat Yoochun membicarakan Nako.

“Apa yang dia lakukan?” Tanya Junsu mulai tertarik.

“Menemui Jaejoong hyung? Lagi?” Tebak Changmin malas. “Tak bosan-bosannya dia mendapat perlakuan kasar.”

“Bukankan dia pernah menyatakan cintanya padamu hyung?” Tanya Changmin kepada Yunho.

Yunho tersenyum mengejek. Jaejoong menatap Yunho, orang yang membuat Nako patah hati.

“Gadis seperti dia tak pantas menjadi pacarku.” Kata Yunho mengejek. “Apa yang dia lakukan terhadapmu, Jaejoong?”

“Bukan hal yang penting.” Jawab Jaejoong malas. “Jangan bicarakan dia. Kalian membuat selera makanku hilang.”

Seorang pelayan meletakkan beberapa gelas jus dan makanan ringan yang di pesan. Tersenyum manis, tetapi tak satupun dari mereka yang mengucapkan ‘Terima Kasih’ atau sekedar tersenyum basa-basi. Jaejoong mengambil salah satu gelas jus dan meneguknya cepat.

“Aku dengar dia akan pindah kembali ke Jepang.” kata Junsu, membuat Jaejoong tersedak. “Kau kenapa?”

“Tidak, tidak apa-apa.” Jawab Jaejoong cepat. “Apa maksudmu? Dia kembali ke Jepang?”

“Hmmm..” Jawab Yunho malas, “Kurasa dia sudah tidak kuat menghadapi kita. Padahal aku baru saja ingin membuatnya malu.”

“Ya! Aku ingin sekali membuatnya merasa tidak di hargai di dunia ini.” Timpal Junsu.

“Padahal aku baru saja menikmati pertunjukan yang menarik. Tak pernah aku melihatnya menangis seperti kemarin. Jaejoong hyung benar-benar membuatnya sakit hati.” Tambah Changmin. “Oh, ya, kapan dia berangkat? Aku belum mengucapkan selamat tinggal.” Changmin tertawa.

“Apa kita harus menyusulnya ke Jepang?” Tanya Yoochun dingin. “Mempermalukannya di negera asalnya?”

“Hentikan!” Jaejoong berdiri, dia terlihat sangat marah. “Aku tak mau mendengar lagi apapun tentang Nako.” Mereka semua terdiam, menatap Jaejoong yang berdiri. “Tak ada lagi alasanku untuk tetap berada dalam gangster ini!”

***

Teriakan Jaejoong membuat suasana kantin menjadi hening seketika. Semua murid yang duduk di sana kini saling berbisik-bisik, beberapa orang yang tadinya sekedar lewat bahkan menyempatkan diri untuk berdiam menonton keributan gangster terpopuler itu.

“Kau ini kenapa sih? Santai saja. Ayo duduk kembali.” Perintah Yunho saat menyadari semua orang kini memperhatikan mereka.

“Aku tidak perlu lagi duduk semeja dengan kalian berempat. Apa kalian lupa alasanku bergabung dengan kalian?” Jaejoong menatap wajah mereka berempat satu-persatu. Ia tidak keberatan jika Nako pulang ke Jepang. Sama sekali tidak keberatan. Jika Nako pergi, ia bisa keluar dari gangster ini dan ia tak perlu khawatir mereka berempat akan menyakiti Nako lagi.

“Karena anak sialan itu?” tanya Yoochun merendahkan.

“Jaga mulutmu!” Jaejoong melotot marah. Yoochun menyandarkan tubuhnya ke kursi dan melipat tangan dengan santai. “Kau sama sekali tidak berhak menyebut namanya seperti itu!”

“Oh, benarkah? Kupikir dia memang senang dipanggil begitu.”

Jaejoong menggeleng penuh amarah. Ia menendang kaki meja dan setelah itu bermaksud untuk pergi meninggalkan kantin, namun Junsu langsung menarik pergelangan tangannya.

“Kau boleh saja keluar dari gangster ini, hyung. Tapi asal kau tahu, anak Jepang itu belum pergi dan dia masih berada dalam cengkraman kami sampai saat ini.”

“Tapi sebentar lagi dia akan pergi…” ucap Jaejoong marah bercampur kecewa.

“Lantas kenapa? Dia baru akan pergi, belum benar-benar pergi.”

Ada perasaan sesak yang merasuki dadanya. Ia menatap wajah keempat pria yang tampak tak memiliki perasaan. Ia benci pada mereka berempat. Ia ingin secepatnya keluar dari gangster ini. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Mereka berempat seolah dengan sengaja memanfaatkan Nako agar Jaejoong tetap bergabung dalam gangster itu. Betapa mereka amat sangat jahat.

“Kau tentu tidak ingin kan kalau hari ini dia tak bisa pulang karena sepedanya hancur?” tanya Yunho.

“Jangan sentuh benda itu sedikitpun!” seru Jaejoong. Yunho mengangkat alis. “Baiklah, aku akan tetap bergabung dengan kalian.”

***

Hari demi hari berlalu. Nako tidak pernah lagi dikerjai oleh gangster jahat itu. Ia tidak tahu apa alasan mereka jadi mendiaminya seperti itu. Tapi baguslah, jadi orang-orang tidak akan berpikir bahwa Nako pulang ke Jepang karena tidak tahan dikerjai gangster it uterus-terusan. Ya, Nako benar-benar akan pulang. Minggu depan surat kepindahannya selesai, jadi ia akan langsung berangkat. Sebenarnya ia ingin sekali mengucap salam perpisahan untuk Jaejoong. Tapi sayangnya, ia sama sekali tidak punya kesempatan untuk itu.

Setiap hari Nako memperhatikan sikap Jaejoong. Ia tidak berubah. Masih tetap bersikap dingin dan selalu mengacuhkannya. Bahkan setiap kali mereka berlima lewat di depan Nako, mereka sama sekali tidak menganggap keberadaan Nako. Betapa menyakitkannya menjadi orang yang tidak dianggap seperti itu. Tapi apapun yang terjadi, Nako sudah berjanji bahwa ia takkan menangis lagi hanya karena masalah ini. Ia akan tetap tersenyum untuk semua orang.

 “Kau sudah cek semua barang bawaanmu?” tanya Ny. Misuzawa saat mengantar Nako ke bandara.

“Sudah, okaasan. aku sudah memastikan tidak ada yang tertinggal.”

“Baguslah kalau begitu. Jaga dirimu baik-baik ya?” Ny. Misuzawa mencium kening putrinya. Nako hanya mengangguk, lalu berjalan ke depan ayahnya.

“Aku pergi, otousan.”

“Kau sudah tahu rute yang harus kau tempuh ke rumah ojiisan kan?” tanya ayahnya memastikan.
Nako mengangguk sambil tersenyum.

“Berhati-hatilah, ya? Jangan lupa hubungi kami jika kau sudah sampai di Jepang.” Ucap Tn. Misuzawa sambil mengusap rambut Nako.

“Baik, otousan.” Nako mengangguk patuh, lalu ia beralih menghampiri kakaknya. “Gii…” ucap Nako pelan. Gii masih melipat tangannya, ekspresi wajahnya tak bisa dijelaskan. “Kau bisa bebas di rumah. Aku tidak akan mengganggumu lagi.” Lanjut Nako sambil menatap wajah kakaknya.

“Aku pasti akan merindukanmu.” Ucap Gii lembut. Belum pernah selama ini dia bicara pada Nako dengan suara lembut seperti itu. Nako menatap wajah kakaknya yang tampak sedih.

“Aku akan menelponmu setiap hari.” Nako tersenyum lebar. Gii membalas senyuman itu, lalu menarik tubuh adiknya dalam pelukan yang erat. Hangat. Penuh ketulusan. Nako membalas pelukan itu dan memejamkan matanya.

“Jangan lupa ingatkan aku untuk mengerjakan tugas ya?” ucap Gii berbisik.

“Tentu saja. Aku akan selalu mengingatkanmu untuk menyelesaikan tugas.”

Gii melepaskan pelukannya, lalu membiarkan Nako melangkah pergi menaiki pesawat sambil menarik kopernya. Ia melambai pada ketiga wajah yang ia sayangi sebelum akhirnya benar-benar melangkah menaiki tangga pesawat. Namun saat ia akan masuk ke dalam pesawat, ia menoleh sekali lagi. Berharap sosok yang ditunggunya akan datang ke sana dan melepasnya. Tapi pada akhirnya ia sadar, orang yang ditunggunya tidak mungkin datang. Jaejoong bahkan tak ada waktu untuk memikirkannya.

Jadi ia melangkah masuk ke dalam pesawat. Meninggalkan kota yang selamanya takkan pernah ia singgahi lagi. Tentu saja. Karena ia tak ingin mengulangi penderitaannya dengan berada di tengah-tengah orang Korea yang selalu memeda-bedakan status sosialnya.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar