Authors : Dyah Ayu Anggraeni dan Entin Kartika Sari
Suasana kantin yang ricuh menjadi
hal yang biasa saat istirahat makan siang. Sebagian besar anak biasa
menghabiskan waktu di kantin selama istirahat, dan hanya segelintir siswa yang
memilih untuk pergi ke perpustakaan selama waktu istirahat. Nako duduk di depan
meja sambil menikmati menu makan siang sendirian. Dia memang lebih suka
sendirian, karena dia merasa teman tak pernah bisa memberinya kenyamanan. Dia
tak butuh teman untuk melewati waktu istirahatnya.
“Hei! Cepat minggir!” suara gaduh
itu memecah ketenangan di kantin. Nako mengangkat kepalanya untuk melihat siapa
si empunya suara tinggi itu. Dan ia hanya bisa mendengus pasrah saat mendapati
keempat sosok yang sudah tidak asing lagi. Anak-anak gangster yang suka
mengganggu ketenangan di sekolah ini. Empat cowok menyebalkan yang biasa
dipanggil Tong Vfang Xien Qi.
Hah… ia tak terlalu peduli dengan arti dari
nama itu.
“Heh, anak Jepang!” sebuah suara
baritone mengejutkan lamunannya. Nako menatap wajah yang kini tersenyum meledek
ke arahnya. “Kenapa kau sendirian? Mau ditemani?” tanya salah satu dari mereka
yang bernama Kim Junsu.
Nako tidak menjawab pertanyaan
itu. Ia hanya diam sambil menatap tajam wajah mereka satu-persatu.
“Aku sedang bicara denganmu,
bodoh!” Junsu menggebrak meja dan menantang tatapan Nako.
“Tenang, hyung. Aku rasa aku bisa
mewakilinya menjawab.” Changmin menyela. “Cewe Jepang ini sendirian saja karena
tak ada yang mau berteman dengannya. Dia kan ANAK ANEH!”
Sontak semua orang yang ada di
kantin tertawa terbahak-bahak. Nako menatap satu-persatu wajah yang tampak puas
mentertawakannya. Ini bukan hal baru baginya. Dihina dan dijauhi karena dia
bukan orang Korea, sudah menjadi santapannya setiap hari. Ia benar-benar tidak
mengerti kenapa keempat anggota gangster ini begitu senang mengganggunya.
Padahal ia merasa tidak pernah membuat masalah dengan mereka berempat. Ia benci
diperlakukan berbeda seperti ini. Ia merasa mereka semua begitu tak adil
menatapnya. Apakah salah jika ia berasal dari Jepang dan sekolah di Korea?
Apakah salah?
***
“Horikoshi Gakuen.” Jaejoong
membaca nama yang tertera di gapura sekolah itu. Ia menatap lembar kertas di
tangannya sekali lagi. Nama yang tertera di sana, sangat cocok dengan yang
dilihatnya di gapura besar ini. Jaejoong segera melangkahkan kakinya masuk ke
dalam gerbang tanpa menoleh pada seorang keamanan yang berjaga di sana. Ia
ingat pesan ibunya. Langsung temui kepala sekolah dan ia bisa masuk kelas. Jadi
ia segera mencari di mana ruangan kepala sekolah.
Sekolah barunya ini ternyata luar
biasa megah. Dengan gedung berwarna putih bersih, bertingkat-tingkat, dan
hamparan rumput di lapangan baseball yang sempurna. Jaejoong merasa hidupnya
akan sangat indah jika ia menjadi siswa di sini. Sudah 3 sekolah yang menolak
menerimanya karena reputasi yang buruk. Tapi sekolah ini berbeda. Ia
diperbolehkan mengikuti tes masuk terlebih dahulu, dan atas segala
pertimbangan, ia diterima menjadi siswa di sana karena hasil tes nya memenuhi
syarat.
Jaejoong membaca sebuah tulisan
yang berbunyi “ruang kepala sekolah”, dan ia segera masuk ke sana tanpa
mengetuk pintu atau mengucapkan salam.
“Hai, Pak!” ucap Jaejoong saat
sudah berada di dalam ruangan. Seorang pria tua berkepala botak yang sedang
duduk di kursi, langsung mendongak menatapnya.
“Siapa kau? Berani sekali kau
masuk tanpa permisi.” Ucap pria itu.
“Perkenalkan, namaku Kim
Jaejoong. Aku murid pindahan dari Seoul.”
Jaejoong memaksakan bibirnya
tersenyum lebar. Kepalsuannya terlihat jelas di mata pria tua itu.
Ia memandangi penampilan Jaejoong dari ujung rambut sampai ujung kaki. Anak
laki-laki yang sangat tidak rapi. Rambutnya gondrong dan hanya disisir dengan
jari, jas sekolah yang terbuka seluruh kancingnya. Kemeja tidak dimasukkan, dan
dia bahkan tidak memakai dasi. Terlebih lagi sepatu sportnya yang lusuh telah
mengotori lantai mengkilap di ruangan itu.
“Siapa yang menyuruhmu masuk ke
sini?” tanya sang pria tua.
“Ibuku.”
“Ibumu?”
“Ya, ibuku bilang, langsung ke
ruang kepala sekolah saja, nanti langsung boleh masuk kelas.”
Pria tua itu mengusap kepala
botaknya sambil menarik napas berat. Ia pun berdiri dari kursinya, lalu
mendekat ke arah Jaejoong.
“Kau di kelas mana?”
“2-B” ucap Jaejoong sambil
memperlihatkan secarik kertas pada pria itu.
“Aku akan menyuruh wali kelasmu
untuk mengantarkanmu ke kelas.” Ucap pria tua itu sambil bergegas meraih gagang
teleponnya.
***
Srak!
Yunho membuang sebuah kertas ke
dalam keranjang sampah.
“Dibuang lagi, hyung?” tanya
Yoochun.
“Kau bahkan belum membacanya.”
Timpal Changmin.
“Untuk apa? Isinya rata-rata
sama. Hanya merayu dan mengajak kenalan.” Ucap Yunho malas.
“Kau tidak takut kalau mereka
semua sakit hati, lalu beramai-ramai menghabisimu?” tanya Junsu.
Yunho tidak menjawab pertanyaan
itu. Ia tidak terlalu memikirkan masalah perasaannya terhadap seorang wanita.
Selama ini, ia dan anggota geng yang lain terkenal dengan keganasan dan
ketampanan yang mereka miliki. Hampir semua gadis yang menyukai mereka, pada
akhirnya mereka sakiti juga. Karena memang itulah yang menjadi tugas mereka
dilahirkan ke dunia ini. Untuk membuat orang lain sama menderitanya seperti
mereka berempat.
Mungkin dilihat secara kasat
mata, hidup mereka memang sempurna. Mereka cerdas, tampan, banyak harta, dan
populer di kalangan para gadis. Tapi sebenarnya di balik itu semua, mereka
tidak memiliki banyak hal yang justru hampir dimiliki semua orang. Mereka
berempat tidak memiliki keluarga yang bahagia, tidak memiliki masa kecil yang
indah, dan tidak pernah merasa punya orang tua. Itulah yang membuat mereka
tumbuh menjadi orang-orang yang tidak kenal rasa sakit.
“Ada mangsa!” seru Changmin
memecah keheningan di antara mereka. Tatapan mereka langsung tertuju pada
seorang anak laki-laki berponi yang sedang berjalan menuju kursi taman sambil
membawa bekal di tangannya.
“Aku dulu yang mulai, ya?” ucap
Yoochun.
“Baiklah.” Mereka bertiga
menjawab serempak.
Yoochun segera berjalan mendekati
anak itu, berpura-pura menuju arah yang berlawanan.
“Oups!” ucap Yoochun sambil
menyenggol bahu anak itu sampai bekalnya tumpah ke tanah. “Maaf, aku tidak
sengaja. Lain kali, kalau tak ingin bekalmu tumpah, jangan menghalangi
jalanku.”
“Kau yang sengaja menyenggolku!”
teriak anak itu sambil membereskan bekalnya yang berantakan.
“Assshhh… sudah berani
menyalahkan orang. Kau mau aku mematahkan lehermu, hah?” Yoochun menarik kerah
kemeja anak itu dengan kasar.
“Aku tidak takut padamu!”
“Kau bercanda?” Yoochun
melepaskan tangannya dari kemeja anak itu dan mulai melayangkan tinju.
Hup!
Seseorang menahan tangan Yoochun
yang nyaris mendarat menghancurkan kepala anak itu. Yoochun menatap sosok yang
menangkap tangannya.
“Kukira di sekolah tidak boleh
melakukan kekerasan.” Ucap Jaejoong sambil melepaskan tangan Yoochun kembali.
Yoochun tidak menjawab apa-apa, dia merasa baru saja tersambar petir yang
sangat keras. Selama ini, belum pernah ada seorangpun yang berani
menghalanginya saat ia sedang melakukan misinya.
“Siapa kau?” sebuah suara di belakang Yoochun
terdengar memecah keheningan. Yoochun menoleh untuk menatap Yunho yang sedang
menatap Jaejoong sambil melipat kedua tangannya di depan perut.
“Namaku Kim Jaejoong. Senang
bertemu dengan kalian semua.” Ucap Jaejoong sambil membungkuk, lalu ia
bermaksud untuk segera pergi.
“Tunggu dulu!” Yunho memanggilnya
lagi. Jaejoong hanya menahan langkah tanpa menoleh. “Kau pikir kau bisa kabur
begitu saja setelah seenaknya memberontak kami?”
“Memberontak?” tanya Jaejoong
keheranan sambil membalikkan tubuhnya.
“Jadi kau tidak kenal kami?”
Junsu bertanya.
Jaejoong hanya menggeleng polos.
“Kami ini anggota geng yang
dikenal dengan nama Tong Vfang Xien Qi.”
Jaejoong mengerutkan alisnya.
“Tong apa? Tong fa sinki? Seperti nama restoran.”
Mereka berempat saling
berpandangan beberapa saat.
“Lalu kenapa kalau kalian anggota
geng itu? Apakah sangat penting sehingga aku harus tahu?”
“Tentu saja.” Yunho tersenyum menyeringai.
“Kau harus tahu bahwa setelah ini, kau tidak akan pernah lagi bisa menikmati
kebahagiaan dalam hidupmu. Karena kau, sudah membuat masalah besar dengan
kami.”
***

Ahhhhhhhhh, gue suka sama ff yang ini. Banyak adegan berantemnya. Jadi berasa kalau DBSK itu bad boy. Hahaha
BalasHapusYang terbaru kapan rilis?
yang kita tulis bertiga nanti gue mulai posting kalo kita nulisnya udah end haha.
BalasHapusKelamaan nunggu di gue lagi dongs? Hahaha
HapusMaaf ya, mood gue naik turun terus, gara-gara SNMPTN Tulis ini.