Author POV
Iseul merasa
jantungnya berdebar cepat saat dia memasuki ruang sidang sekali lagi. Pada
akhirnya, butuh tiga jam bagi para juri untuk mengambil keputusan. Matahari
terbenam, hari itu berakhir, dan dengan itu, akan datang sebuah keputusan
akhir.
Aku berlari menaiki tangga. “Jaejoong!” Seruku. “Kau
tidak akan percaya apa yang terjadi di sekolah hari ini!” aku berhenti di pintu
dan mengetuknya. “Jaejoong?!” seruku. Pintu terbuka dengan sendirinya.
“Jaejoong?” tanyaku lembut. “Apa kau ada di sini?” aku melihat sekilas salah
satu kaki celananya di kamar mandi. Ia berbaring di latai kamar mandi. Aku
berlari, jantungku berdetak cepat karena ketakutan.
Hakim terlihat lelah saat ia memandang ke dokumen di tangannya sekali lagi. Tiga jam itu tampaknya menjadi beban yang luar biasa baginya. Ia mengusap keningnya sebelum melanjutkan kasus ini.
Hakim terlihat lelah saat ia memandang ke dokumen di tangannya sekali lagi. Tiga jam itu tampaknya menjadi beban yang luar biasa baginya. Ia mengusap keningnya sebelum melanjutkan kasus ini.
“Apakah juri
telah mengambil keputusan?" Tanyanya.
“Ya, Yang
mulia.”
Aku menatap botol-botol pil yang kosong. Aku menatap
saudaraku, matanya tertutup, ia bernapas dengan susah payah.
“Jaejoong…” kataku sambil memeriksa denyut nadinya.
Air mata mulai mengaliri pipiku.
“Apa yang kau lakukan? Jaejoong bodoh, apa yang kau lakukan?!!”
“Apa yang kau lakukan? Jaejoong bodoh, apa yang kau lakukan?!!”
“Keputusan apa
yang telah diambil juri?” tanya hakim.
Perwakilan juri
berdiri. Dia mendesah keras. “Dalam kasus Kim Iseul meminta hak untuk
memutuskan hal-hal tentang tubuhnya sendiri, aturan juri…”
Iseul hampir
tidak bisa bernapas. Apakah ia memenangkan kasus ini atau kalah. Pada akhirnya
dia merasa kalah. Dia telah dikalahkan selama ini.
“Memihak Kim Iseul.” Ia menyimpulkan.
Aku menatapnya saat aku mencoba untuk melihat reaksinya. Ibu sedang bekerja shift malam dan ayah pergi selama seminggu, bekerja pada konstruksi di kota dua jam jauhnya. Aku sendirian. Aku melihat matanya mulai terbuka, aku dapat kembali bernapas lega.
"Jaejoong!" Kataku.
"Is.. e.. ul?” tanyanya. “Aku ma..si..h hi..d..u..p?”
"Ya", jawabku. " Tadi aku melihatmu
pingsan…"
"K..au..me..nye..l…a..mat..k..a..n..ku…?
la..gi..”
"Aku menatapnya sejenak. "Kau tidak ingin
diselamatkan?" Tanyaku.
"Ti..d..ak..” ia menjawab.
Hakim
mengangguk. Iseul tidak mengucapkan sepatah kata pun, begitu pula orangtuanya.
Kasus ini diputuskan, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Iseul bisa merasakan
semua orang menatapnya. Dia berbalik dan melihat Mr. Park dengan tatapan penuh
belas kasih. “Sudah selesai.” Katanya.
Iseul
mengangguk. "Ya, sudah berakhir…"
Iseul mengambil
barang-barangnya perlahan, menarik mantelnya. Butuh satu setengah jam bagi Mr.
Park untuk mendapatkan makanan mereka. Badai salju mengerikan, tapi ia harus
pergi menemui Jaejoong. Ia harus mengatakan bahwa ia telah melakukan seperti
yang diminta Jaejoong. Sekarang, Jaejoong harus menepati janjinya.
Aku menatapnya, tak yakin harus berkata apa. “Kenapa
tidak mau?” tanyaku. “Kenapa kau tidak ingin aku… aku… aku tidak mengerti…”
Jaejoong menghindari tatapanku menatap ke arah
botol-botol kosong yang telah kubuang.
“Ke..na..p..a k..a.u. ti..d..ak..
me..n..elp…on…ay..a..h..da..n..i..bu..?” dia balik bertanya.
“Jawab pertanyaanku, Jaejoong!” kataku, menatapnya
putus asa.
Ia menurunkan tatapannya.
“In..i..s..a..ng..at..me..nya..k..it..k..an..,.I..se..u..l. A..ku.. ha..ny..a..
i..ng..in..b..e..r..is..ti..ra..h..at. A..k..u..ing..i..n, ti..d..a..k,
a..ku..i..ng..in..se..m..u..a..or..ang be..r.. is..ti..ra..h..a..t.” katanya.
Air mataku mulai menggenang. “Jangan… jangan pernah
melakukan ini lagi, Jaejoong. Jangan pernah mencoba untuk menjalani hidupmu
sendirian. Berjanjilah kau tidak akan melakukannya lagi!”
Dia menatapku. Dia mengulurkan tangan dan menyeka air
mataku. “Ji..k..a..k..au..ber..ja..n..ji ba..h..w..a..na..n..ti,
j..i..ka...ka..a..ku..kam..b..uh,
ka..u..ti..d..a..k..ak..a..n..me..ny..um..ba..ng..
ka..n..apa..p..pu..n..la..g..i..pa..da..k..u. Bi..a..r..ka..n..tak..d..ir...ya..ng..me..mu..t..u..s..ka..n.”
Aku menggeleng. “TIDAK! Aku tidak akan pernah
melakukan itu! Aku di sini untuk menyelamatkanmu, Jaejoong! Apakah kau tidak
mengerti seberapa kau sangat berarti bagiku? Aku tidak bisa melakukan hal itu…
aku tidak mau melakukannya!” jawabku.
“Aku
ki..r..a..ka..u..a..k..an..me..nga...ta..k..a..nnya..”
Semua orang
mulai perlahan berbaris keluar dari ruang sidang. Iseul merasa seolah-olah
segala sesuatu terjadi dalam gerak lambat, namun dia masih merasa seolah-olah
dia tercekik. Beban atas keputusannya sudah memberatkan bahunya, membuatnya
nyaris hancur.
“Iseul, kau
baik-baik saja?” Mr. Park bertanya dengan tatapan prihatin.
Iseul menghirup
udara dan menghembuskannya pelan. “Ya. Terima kasih, Mr. Park.” Jawabnya.
Mr. Park mengangguk.
"Orangtuamu menunggumu di pintu masuk. Apakah kau ingin bicara dengan
mereka?” tanyanya.
Iseul mendongak
untuk melihat orangtuanya yang sabar menunggunya. Ayahnya tersenyum senang saat
tatapan mereka bertemu. Mata Iseul terarah pada ibunya. Soo Jin pun tersenyum.
Ia tampak sedih, tapi ia tetap bisa tersenyum.
“Ya, aku akan
bicara dengan mereka.”
Iseul POV
Aku tidak pernah
memberitahu siapapun apa yang terjadi hari itu. Tapi sebulan kemudian, mimpi
buruk hari itu kembali terulang menjadi kenyataan. Jaejoong telah mencoba untuk
mengakhiri hidupnya lagi. Dan sekali lagi, ia menanyakan hal yang sama padaku.
Dan tidak
seperti saat yang sebelumnya. Kali ini, aku setuju.
Tapi sebagai
imbalannya, ia harus melakukan satu hal: berjuang. Jika aku tidak membantunya
lagi, setidaknya ia harus mencoba untuk bertahan hidup. Aku ingin dia tetap
bertahan hidup. Semakin dia ingin aku lepas dari penderitaan, aku juga ingin
dia lepas dari penderitaannya… tapi, ia harus tetap hidup.
Author POV
Author POV
Soo Jin menunggu
dengan sabar sampai Iseul menghampiri mereka. Dia ingin berlari ke rumah sakit
sekarang, berada di sisi Jaejoong, dan meluapkan semua bebannya. Tapi
pertama-tama, dia harus memastikan putrinya datang. Dia harus memastikan
keluarganya masih utuh, walau apapun yang terjadi.
Beberapa hari yang lalu, mereka sudah bicara dengan dokter.
Beberapa hari yang lalu, mereka sudah bicara dengan dokter.
“Yah, saya yakin
Anda telah menyadari bahwa kesehatan Jajeoong memburuk.” Kata dokter.
Mereka berdua
mengangguk. “Seberapa parah?” Chang Su bertanya.
Dokter menghela
napas berat. “Sangat buruk. Dia semakin lemah setiap hari. Dan setiap hari, aku
merasa dia kehilangan lebih banyak dan lebih banyak lagi keinginan untuk
hidup.”
Soo Jin tidak
tahu harus berkata apa. Begitu pula Chang Su. Keheningan menyelimuti mereka.
Setelah beberapa menit, Soo Jin berdehem. Itu adalah pertanyaan yang dia tahu
akan dia tanyakan juga pada akhirnya, sejak pertama kali Jaejoong didiagnosis
terkena penyakit itu. Meski demikian, dia tidak ingin menanyakan hal ini, dia
tak ingin saat seperti ini tiba.
“Berapa lama ia
bisa bertahan?” Akhirnya dia bertanya, suaranya lemah.
Dokter
mengalihkan pandangannya. “Saya benar-benar menyesal...” katanya. Dia menghela
napas, mengusap-usap pelipisnya. Lalu ia mendongak, matanya berkaca-kaca. “Saya
sudah melihatnya berjuang begitu lama…”
Giliran Chang Su
kali ini. Soo Jin tidak bisa meminta lagi. “Berapa lama?” Tanyanya.
“Paling lama…”
ucap dokter. “Tiga minggu.”
Iseul POV
Ada perasaan
yang menghampiriku. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Meskipun
semua hal yang kulalui beberapa bulan terakhir ini terasa menyakitkan, tapi aku
merasa nyaman. Aku merasa seperti beban berat itu telah terangkat dari
pundakku. Ya, hal itu tidak akan membaik dengan cepat, tapi sekarang aku bisa
berkonsentrasi untuk membantu saudaraku. Aku harus menemukan donor untuknya
secepat yang aku bisa.
Jaejoong telah
memintaku untuk tidak mendonor padanya lagi, tapi dia tidak pernah mengatakan
bahwa orang lain tak boleh mendonor. Sekarang aku berpikir tentang hal itu. Ia
pasti mengatakan semua itu karena suatu alasan. Dia lelah, tapi dia masih ingin
hidup. Dia belum sepenuhnya menyerah… dan jika dia belum menyerah, begitupun
aku.
Soo Jin POV
“Iseul...”
kataku, begitu dia datang menghampiri kami.
“Hai ayah. Hai
ibu ." katanya.
“Hei, Nak.”
Chang Su menjawab, mengulurkan tangan dan mengacak-acak rambutnya. Dia
mengerutkan dahi.
“Ayah!” Katanya, mengulurkan tangan untuk membereskan rambutnya.
“Ayah!” Katanya, mengulurkan tangan untuk membereskan rambutnya.
Chang Su hanya
tertawa. “Ingin terlihat cantik di depan Yunho?” Tanyanya.
Mata Iseul
melebar dan wajahnya berubah merah. “Tidak.” Gumamnya. Aku tersenyum saat Chang
Su tertawa.
“Iseul...” kataku. Dia menatapku, matanya yang cokelat dan tak berdosa menatapku dengan sungguh-sungguh.
“Iseul...” kataku. Dia menatapku, matanya yang cokelat dan tak berdosa menatapku dengan sungguh-sungguh.
Aku merasa ada
yang mengganjal di tenggorokanku.
“Apakah kau akan
pulang bersama kami?” Akhirnya aku bertanya.
Iseul tersenyum
padaku. “Terima kasih, ibu. Aku akan pulang ke rumah. Tapi, aku rasa saat ini
aku harus tinggal di rumah Yunho. Mrs. Jung kesepian…” katanya. Suaranya nyaris
tak terdengar.
‘Aku juga merasa kesepian’ aku ingin
berkata begitu, tapi aku tak bisa kulakukannya. Kurasa pilihannya sudah benar.
Akhirnya aku hanya mengangguk.
“Baiklah, apakah
kau mau ikut dengan kami ke rumah sakit?” Tanyaku.
“Mm ..
sebenarnya aku ingin…” katanya.
“Iseul harus
pergi mengambil beberapa lembar kertas di kantorku dan kemudian, aku kira kami
akan mampir ke rumah Mrs. Jung, kan?” ucap Mr. Park.
Iseul
mengangguk. “Aku akan mengambilkan Yunho baju ganti. Apa Jaejoong
membutuhkannya juga? Aku bisa mampir dengan Mr. Park.”
“Sungguh? Well, kurasa dia juga membutuhkannya.
Itu bagus, Iseul. Bisakah kau membawakan semua itu untuknya? Aku harus kembali
ke rumah sakit, shift-ku sudah mulai.” Jawabku.
Iseul mengangguk
dan tersenyum padaku.
“Terima kasih
untuk segalanya, Mr. Park.” Chang Su berkata, menjabat tangan pengacara itu.
Aku melakukan hal yang sama.
“Tak masalah.”
Jawab Mr. Park.
“Berhati-hatilah!”
aku berkata pada Iseul. “Cuacanya sangat buruk.”
“Ya, Bu.” Katanya.
“Jangan khawatir. Sampai jumpa!” teriaknya sambil berjalan menyusuri lorong.
Aku balas melambai padanya. Aku ingin sekali memeluknya, tapi… mungkin lain
kali.
Yunho POV
Aku menatap
Jaejoong, kata-katanya masih terngiang di kepalaku. Aku mendesah menjatuhkan
kepalaku ke tanganku.
“Ma..af..k..a..n
a..ku..” kata Jaejoong.
Aku menggeleng.
“Tidak, kau tidak perlu meminta maaf padaku. Katakan itu pada orang-orang yang
pergi ke pengadilan karenamu. Iseul dan orang tuamu. Katakan pada mereka bahwa
kau minta maaf.”
“Ak..u..be..r..ka..ta..ke..p..a..da..mu,..ka..r..en..a..be..r..ta..h..un..-ta..h..un..l..a..lu..a..pa..ya..ng ku..ka..t..a..ka..n..pa..d..a..mu...” katanya, suaranya diiringi dengan air mata.
“Ak..u..be..r..ka..ta..ke..p..a..da..mu,..ka..r..en..a..be..r..ta..h..un..-ta..h..un..l..a..lu..a..pa..ya..ng ku..ka..t..a..ka..n..pa..d..a..mu...” katanya, suaranya diiringi dengan air mata.
“Diamlah,
Jaejoong.” Kataku.
“Ma..a..f..ka..n..a..ku!”
“Diam,
Jaejoong!” aku berteriak padanya. “Jangan meminta maaf lagi! Kita harus mengatasinya!
Kita harus temukan cara untuk mengatasinya!”
“Ba..g..ai..ma..na
a..ku bi..sa me..ng..a..ta..si a..pa yang te..l..ah ku..la..k..u..ka..n?” ia
bertanya, air mata mengalir di wajahnya.
“Ini mudah,
Jaejoong.” Kataku. “Jangan menyerah…jangan pernah menyerah… tetaplah hidup. Itu
satu-satunya cara yang tepat untuk membalas kasih sayang mereka.”
Soo jin POV
Aku
menghentakkan kakiku saat aku masuk ke rumah sakit, mencoba untuk menyingkirkan
semua salju yang telah menempel pada sepatuku. Salju telah berhenti, namun bulir
salju masih banyak menumpuk.
Aku cepat-cepat
berjalan menuju ruanganku dan berganti pakaian.
Aku mendengar
ketukan di pintu.
“Masuklah.”
kataku.
“Bagaimana
hasilnya?” Dr. Choi bertanya padaku.
“Kami kalah.”
Dia mengangguk.
“Aku mengerti…”
Aku cepat-cepat
meraih kertas-kertas di mejaku dan mulai membolak-baliknya.
“Yah ...
selamat.” katanya, berbalik untuk pergi.
“Apa maksudmu?”
Tanyaku.
Dia tersenyum.
“Ayolah, Soo Jin, kami semua tahu kau tidak ingin menang. Kau ingin putrimu
menang, tetapi kau ingin putramu tetap hidup. Kau tahu ada pilihan lain. Dan
dalam kasus ini mungkin kau telah mengira…” katanya. Dia menunjuk pada selembar
kertas di atas meja.
“Beberapa dokter
lain dan aku melakukan riset. Itu adalah beberapa donor yang mungkin cocok
untuk putramu. Berjuanglah, Soo Jin!” katanya seraya berlalu.
Aku menatap
kertas itu. Tiga puluh nama. Aku merasa pandanganku mulai kabur.
“Terima kasih.”
Ucapku tercekik.
Jaejoong POV
Aku tidak tahu
sepenuhnya perasaan apa ini. Tiba-tiba aku merasa seolah-olah seseorang
mencakar sesuatu dalam diriku, merobek-robek bagian dalam tubuhku. Rasa sakit
yang sangat dahsyat. Sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku
mencengkram perutku, rasa sakit ini tak bisa kutahan. “Arghhhhhhh!” aku
berteriak.
“Jaejoong!?”
Kata Yunho. “Jaejoong, ada apa? Tunggulah! Aku akan memanggil suster..!!”
Aku merasa
perlahan-lahan diriku mulai kehilangan kesadaran.
Perasaan apa
ini?
Rasanya seperti
ada seseorang yang sedang membawa jiwaku pergi.
“Jaejoong!” Aku
mendengar Yunho berteriak.
Soo jin POV
“Dr. Kim! Dr.
Kim Anda dibutuhkan di unit gawat darurat!” Interkom berbunyi padaku. Aku
segera bangkit dan setengah berlari, setengah berjalan ke arah intercom itu.
“Dr Kim! Anda
dibutuhkan segera di unit gawat darurat!” Interkom berbunyi lagi.
“Aku datang!”
Kataku, sedikit kesal. Aku menuju UGD dan saya segera dihadapkan dengan
perawat.
“Dr. Kim, pasien
kita laki-laki, usianya di awal empat puluhan. Kami belum menemukan
identifikasinya. Kecelakaan mobil tampaknya terjadi akibat kendaraan
tergelincir di atas es yang disebabkan oleh hujan salju tersebut. Kepalanya
terluka parah, patah kaki, dan patah pinggul. Ada banyak memar dan luka. Dia
telah kehilangan darah dalam jumlah besar.”
Aku mengangguk,
menarik napas panjang. Kami menghampiri pria yang kami bicarakan tadi. “Bawa
dia ke ruang gawat darurat!” aku berteriak, hampir tidak meliriknya. Aku
mengamati koran-koran yang disodorkan padaku. “Dia akan membutuhkan transfuse.”
Ucapku pada perawat.
“Segera.” dia
menjawab.
Aku mengikuti
petugas medis saat kami memasuki ruang operasi. Aku menarik sarung tangan dan
berbalik untuk menghadapi pasienku.
Begitu aku
melihat wajahnya, aku membeku.
Seluruh tubuhku
menolak untuk bergerak.
Aku mengenal
pria ini.
“Dr. Kim?”
Seseorang bertanya, tapi aku tidak menanggapi. Aku justru malah berlari ke
luar. Aku melihat tubuh lain yang dibawa ke ruang operasi yang lain, dipimpin
oleh Dr. Choi.
Aku berlari,
jantungku berdebar-debar.
Ini tidak bisa
terjadi, tidak akan bisa. Ini tidak mungkin. Ini pasti salah… ya Tuhan…
Aku menghampiri
mereka dan melihat pasien itu.
“Dr. Kim...”
ucap Dr. Choi, suaranya sudah menunjukkan penyesalan. Aku menatap wajah anak
berusia 17 tahun yang melihat ke arahku. Darah mengalir membasahi rambut pendek
hitamnya.
“Tolong,
seseorang, bawalah dia kembali!” ucap Dr. Choi. Aku merasa seseorang mencoba
untuk menyentuhku.
“Tidak. TIDAK!” Aku berteriak. “Apakah kau tidak mengerti? Ini Iseul! Ini putriku! Ini Iseul, sialan !!!!"
“Tidak. TIDAK!” Aku berteriak. “Apakah kau tidak mengerti? Ini Iseul! Ini putriku! Ini Iseul, sialan !!!!"
Air mata
membasahi wajahku. “Tolong, Soo Jin.” Ucap Dr. Choi. “Aku akan mencoba untuk
menyelamatkannya. Biarkan aku…”
Aku mengangguk
dan mereka membawanya pergi. “Dr. Kim tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk
melakukan operasi, telepon Dr. Nam.” Dr. Choi memerintahkan saat ia memasuki
ruang gawat darurat.
Aku terduduk
jatuh ke lantai. Iseul ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar