Welcome

Selasa, 15 Mei 2012

Unbeatable Heart (translate) part 10

orginal author : yukie23 at http://www.asianfanfics.com

Author POV

Iseul merasa jantungnya berdebar cepat saat dia memasuki ruang sidang sekali lagi. Pada akhirnya, butuh tiga jam bagi para juri untuk mengambil keputusan. Matahari terbenam, hari itu berakhir, dan dengan itu, akan datang sebuah keputusan akhir.

Aku berlari menaiki tangga. “Jaejoong!” Seruku. “Kau tidak akan percaya apa yang terjadi di sekolah hari ini!” aku berhenti di pintu dan mengetuknya. “Jaejoong?!” seruku. Pintu terbuka dengan sendirinya. “Jaejoong?” tanyaku lembut. “Apa kau ada di sini?” aku melihat sekilas salah satu kaki celananya di kamar mandi. Ia berbaring di latai kamar mandi. Aku berlari, jantungku berdetak cepat karena ketakutan.

Hakim terlihat lelah saat ia memandang ke dokumen di tangannya sekali lagi. Tiga jam itu tampaknya menjadi beban yang luar biasa baginya. Ia mengusap keningnya sebelum melanjutkan kasus ini.

“Apakah juri telah mengambil keputusan?" Tanyanya.

“Ya, Yang mulia.”

Aku menatap botol-botol pil yang kosong. Aku menatap saudaraku, matanya tertutup, ia bernapas dengan susah payah. 

“Jaejoong…” kataku sambil memeriksa denyut nadinya. Air mata mulai mengaliri pipiku. 

“Apa yang kau lakukan? Jaejoong bodoh, apa yang kau lakukan?!!”


“Keputusan apa yang telah diambil juri?” tanya hakim.

Perwakilan juri berdiri. Dia mendesah keras. “Dalam kasus Kim Iseul meminta hak untuk memutuskan hal-hal tentang tubuhnya sendiri, aturan juri…”
Iseul hampir tidak bisa bernapas. Apakah ia memenangkan kasus ini atau kalah. Pada akhirnya dia merasa kalah. Dia telah dikalahkan selama ini.

“Memihak Kim Iseul.” Ia menyimpulkan.

Aku menatapnya saat aku mencoba untuk melihat reaksinya. Ibu sedang bekerja shift malam dan ayah pergi selama seminggu, bekerja pada konstruksi di kota dua jam jauhnya. Aku sendirian. Aku melihat matanya mulai terbuka, aku dapat kembali bernapas lega.
  
"Jaejoong!" Kataku. 

"Is.. e.. ul?” tanyanya. “Aku ma..si..h hi..d..u..p?”
 
"Ya", jawabku.  " Tadi aku melihatmu pingsan…"

"K..au..me..nye..l…a..mat..k..a..n..ku…? la..gi..”
 
"Aku menatapnya sejenak. "Kau tidak ingin diselamatkan?" Tanyaku. 

"Ti..d..ak..” ia menjawab.

Hakim mengangguk. Iseul tidak mengucapkan sepatah kata pun, begitu pula orangtuanya. Kasus ini diputuskan, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Iseul bisa merasakan semua orang menatapnya. Dia berbalik dan melihat Mr. Park dengan tatapan penuh belas kasih. “Sudah selesai.” Katanya.

Iseul mengangguk. "Ya, sudah berakhir…"

Iseul mengambil barang-barangnya perlahan, menarik mantelnya. Butuh satu setengah jam bagi Mr. Park untuk mendapatkan makanan mereka. Badai salju mengerikan, tapi ia harus pergi menemui Jaejoong. Ia harus mengatakan bahwa ia telah melakukan seperti yang diminta Jaejoong. Sekarang, Jaejoong harus menepati janjinya.

Aku menatapnya, tak yakin harus berkata apa. “Kenapa tidak mau?” tanyaku. “Kenapa kau tidak ingin aku… aku… aku tidak mengerti…”

Jaejoong menghindari tatapanku menatap ke arah botol-botol kosong yang telah kubuang.

“Ke..na..p..a k..a.u. ti..d..ak.. me..n..elp…on…ay..a..h..da..n..i..bu..?” dia balik bertanya.

“Jawab pertanyaanku, Jaejoong!” kataku, menatapnya putus asa.

Ia menurunkan tatapannya. “In..i..s..a..ng..at..me..nya..k..it..k..an..,.I..se..u..l. A..ku.. ha..ny..a.. i..ng..in..b..e..r..is..ti..ra..h..at. A..k..u..ing..i..n, ti..d..a..k, a..ku..i..ng..in..se..m..u..a..or..ang be..r.. is..ti..ra..h..a..t.” katanya.

Air mataku mulai menggenang. “Jangan… jangan pernah melakukan ini lagi, Jaejoong. Jangan pernah mencoba untuk menjalani hidupmu sendirian. Berjanjilah kau tidak akan melakukannya lagi!”

Dia menatapku. Dia mengulurkan tangan dan menyeka air mataku. “Ji..k..a..k..au..ber..ja..n..ji ba..h..w..a..na..n..ti, j..i..ka...ka..a..ku..kam..b..uh, ka..u..ti..d..a..k..ak..a..n..me..ny..um..ba..ng.. ka..n..apa..p..pu..n..la..g..i..pa..da..k..u. Bi..a..r..ka..n..tak..d..ir...ya..ng..me..mu..t..u..s..ka..n.”

Aku menggeleng. “TIDAK! Aku tidak akan pernah melakukan itu! Aku di sini untuk menyelamatkanmu, Jaejoong! Apakah kau tidak mengerti seberapa kau sangat berarti bagiku? Aku tidak bisa melakukan hal itu… aku tidak mau melakukannya!” jawabku.

“Aku ki..r..a..ka..u..a..k..an..me..nga...ta..k..a..nnya..”

Semua orang mulai perlahan berbaris keluar dari ruang sidang. Iseul merasa seolah-olah segala sesuatu terjadi dalam gerak lambat, namun dia masih merasa seolah-olah dia tercekik. Beban atas keputusannya sudah memberatkan bahunya, membuatnya nyaris hancur.

“Iseul, kau baik-baik saja?” Mr. Park bertanya dengan tatapan prihatin.

Iseul menghirup udara dan menghembuskannya pelan. “Ya. Terima kasih, Mr. Park.” Jawabnya.

Mr. Park mengangguk. "Orangtuamu menunggumu di pintu masuk. Apakah kau ingin bicara dengan mereka?” tanyanya.

Iseul mendongak untuk melihat orangtuanya yang sabar menunggunya. Ayahnya tersenyum senang saat tatapan mereka bertemu. Mata Iseul terarah pada ibunya. Soo Jin pun tersenyum. Ia tampak sedih, tapi ia tetap bisa tersenyum.

“Ya, aku akan bicara dengan mereka.”

Iseul POV

Aku tidak pernah memberitahu siapapun apa yang terjadi hari itu. Tapi sebulan kemudian, mimpi buruk hari itu kembali terulang menjadi kenyataan. Jaejoong telah mencoba untuk mengakhiri hidupnya lagi. Dan sekali lagi, ia menanyakan hal yang sama padaku.

Dan tidak seperti saat yang sebelumnya. Kali ini, aku setuju.

Tapi sebagai imbalannya, ia harus melakukan satu hal: berjuang. Jika aku tidak membantunya lagi, setidaknya ia harus mencoba untuk bertahan hidup. Aku ingin dia tetap bertahan hidup. Semakin dia ingin aku lepas dari penderitaan, aku juga ingin dia lepas dari penderitaannya… tapi, ia harus tetap hidup.

Author POV

Soo Jin menunggu dengan sabar sampai Iseul menghampiri mereka. Dia ingin berlari ke rumah sakit sekarang, berada di sisi Jaejoong, dan meluapkan semua bebannya. Tapi pertama-tama, dia harus memastikan putrinya datang. Dia harus memastikan keluarganya masih utuh, walau apapun yang terjadi.

Beberapa hari yang lalu, mereka sudah bicara dengan dokter.

“Yah, saya yakin Anda telah menyadari bahwa kesehatan Jajeoong memburuk.” Kata dokter.

Mereka berdua mengangguk. “Seberapa parah?” Chang Su bertanya.

Dokter menghela napas berat. “Sangat buruk. Dia semakin lemah setiap hari. Dan setiap hari, aku merasa dia kehilangan lebih banyak dan lebih banyak lagi keinginan untuk hidup.”

Soo Jin tidak tahu harus berkata apa. Begitu pula Chang Su. Keheningan menyelimuti mereka. Setelah beberapa menit, Soo Jin berdehem. Itu adalah pertanyaan yang dia tahu akan dia tanyakan juga pada akhirnya, sejak pertama kali Jaejoong didiagnosis terkena penyakit itu. Meski demikian, dia tidak ingin menanyakan hal ini, dia tak ingin saat seperti ini tiba.

“Berapa lama ia bisa bertahan?” Akhirnya dia bertanya, suaranya lemah.

Dokter mengalihkan pandangannya. “Saya benar-benar menyesal...” katanya. Dia menghela napas, mengusap-usap pelipisnya. Lalu ia mendongak, matanya berkaca-kaca. “Saya sudah melihatnya berjuang begitu lama…”

Giliran Chang Su kali ini. Soo Jin tidak bisa meminta lagi. “Berapa lama?” Tanyanya.

“Paling lama…” ucap dokter. “Tiga minggu.”

Iseul POV

Ada perasaan yang menghampiriku. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Meskipun semua hal yang kulalui beberapa bulan terakhir ini terasa menyakitkan, tapi aku merasa nyaman. Aku merasa seperti beban berat itu telah terangkat dari pundakku. Ya, hal itu tidak akan membaik dengan cepat, tapi sekarang aku bisa berkonsentrasi untuk membantu saudaraku. Aku harus menemukan donor untuknya secepat yang aku bisa.

Jaejoong telah memintaku untuk tidak mendonor padanya lagi, tapi dia tidak pernah mengatakan bahwa orang lain tak boleh mendonor. Sekarang aku berpikir tentang hal itu. Ia pasti mengatakan semua itu karena suatu alasan. Dia lelah, tapi dia masih ingin hidup. Dia belum sepenuhnya menyerah… dan jika dia belum menyerah, begitupun aku.

Soo Jin POV

“Iseul...” kataku, begitu dia datang menghampiri kami.

“Hai ayah. Hai ibu ." katanya.

“Hei, Nak.” Chang Su menjawab, mengulurkan tangan dan mengacak-acak rambutnya. Dia mengerutkan dahi.

“Ayah!” Katanya, mengulurkan tangan untuk membereskan rambutnya.

Chang Su hanya tertawa. “Ingin terlihat cantik di depan Yunho?” Tanyanya.

Mata Iseul melebar dan wajahnya berubah merah. “Tidak.” Gumamnya. Aku tersenyum saat Chang Su tertawa.

“Iseul...” kataku. Dia menatapku, matanya yang cokelat dan tak berdosa menatapku dengan sungguh-sungguh.

Aku merasa ada yang mengganjal di tenggorokanku.

“Apakah kau akan pulang bersama kami?” Akhirnya aku bertanya.

Iseul tersenyum padaku. “Terima kasih, ibu. Aku akan pulang ke rumah. Tapi, aku rasa saat ini aku harus tinggal di rumah Yunho. Mrs. Jung kesepian…” katanya. Suaranya nyaris tak terdengar.

‘Aku juga merasa kesepian’ aku ingin berkata begitu, tapi aku tak bisa kulakukannya. Kurasa pilihannya sudah benar. Akhirnya aku hanya mengangguk.

“Baiklah, apakah kau mau ikut dengan kami ke rumah sakit?” Tanyaku.

“Mm .. sebenarnya aku ingin…” katanya.

“Iseul harus pergi mengambil beberapa lembar kertas di kantorku dan kemudian, aku kira kami akan mampir ke rumah Mrs. Jung, kan?” ucap Mr. Park.

Iseul mengangguk. “Aku akan mengambilkan Yunho baju ganti. Apa Jaejoong membutuhkannya juga? Aku bisa mampir dengan Mr. Park.”

“Sungguh? Well, kurasa dia juga membutuhkannya. Itu bagus, Iseul. Bisakah kau membawakan semua itu untuknya? Aku harus kembali ke rumah sakit, shift-ku sudah mulai.” Jawabku.

Iseul mengangguk dan tersenyum padaku.

“Terima kasih untuk segalanya, Mr. Park.” Chang Su berkata, menjabat tangan pengacara itu. Aku melakukan hal yang sama.

“Tak masalah.” Jawab Mr. Park.

“Berhati-hatilah!” aku berkata pada Iseul. “Cuacanya sangat buruk.”

“Ya, Bu.” Katanya. “Jangan khawatir. Sampai jumpa!” teriaknya sambil berjalan menyusuri lorong. Aku balas melambai padanya. Aku ingin sekali memeluknya, tapi… mungkin lain kali.

Yunho POV

Aku menatap Jaejoong, kata-katanya masih terngiang di kepalaku. Aku mendesah menjatuhkan kepalaku ke tanganku.

“Ma..af..k..a..n a..ku..” kata Jaejoong.

Aku menggeleng. “Tidak, kau tidak perlu meminta maaf padaku. Katakan itu pada orang-orang yang pergi ke pengadilan karenamu. Iseul dan orang tuamu. Katakan pada mereka bahwa kau minta maaf.”

“Ak..u..be..r..ka..ta..ke..p..a..da..mu,..ka..r..en..a..be..r..ta..h..un..-ta..h..un..l..a..lu..a..pa..ya..ng ku..ka..t..a..ka..n..pa..d..a..mu...” katanya, suaranya diiringi dengan air mata.

“Diamlah, Jaejoong.” Kataku.

“Ma..a..f..ka..n..a..ku!”

“Diam, Jaejoong!” aku berteriak padanya. “Jangan meminta maaf lagi! Kita harus mengatasinya! Kita harus temukan cara untuk mengatasinya!”

“Ba..g..ai..ma..na a..ku bi..sa me..ng..a..ta..si a..pa yang te..l..ah ku..la..k..u..ka..n?” ia bertanya, air mata mengalir di wajahnya.

“Ini mudah, Jaejoong.” Kataku. “Jangan menyerah…jangan pernah menyerah… tetaplah hidup. Itu satu-satunya cara yang tepat untuk membalas kasih sayang mereka.”

Soo jin POV

Aku menghentakkan kakiku saat aku masuk ke rumah sakit, mencoba untuk menyingkirkan semua salju yang telah menempel pada sepatuku. Salju telah berhenti, namun bulir salju masih banyak menumpuk.

Aku cepat-cepat berjalan menuju ruanganku dan berganti pakaian.

Aku mendengar ketukan di pintu.

“Masuklah.” kataku.

“Bagaimana hasilnya?” Dr. Choi bertanya padaku.

“Kami kalah.”

Dia mengangguk. “Aku mengerti…”

Aku cepat-cepat meraih kertas-kertas di mejaku dan mulai membolak-baliknya.

“Yah ... selamat.” katanya, berbalik untuk pergi.

“Apa maksudmu?” Tanyaku.

Dia tersenyum. “Ayolah, Soo Jin, kami semua tahu kau tidak ingin menang. Kau ingin putrimu menang, tetapi kau ingin putramu tetap hidup. Kau tahu ada pilihan lain. Dan dalam kasus ini mungkin kau telah mengira…” katanya. Dia menunjuk pada selembar kertas di atas meja.

“Beberapa dokter lain dan aku melakukan riset. Itu adalah beberapa donor yang mungkin cocok untuk putramu. Berjuanglah, Soo Jin!” katanya seraya berlalu.

Aku menatap kertas itu. Tiga puluh nama. Aku merasa pandanganku mulai kabur.

“Terima kasih.” Ucapku tercekik.

Jaejoong POV

Aku tidak tahu sepenuhnya perasaan apa ini. Tiba-tiba aku merasa seolah-olah seseorang mencakar sesuatu dalam diriku, merobek-robek bagian dalam tubuhku. Rasa sakit yang sangat dahsyat. Sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku mencengkram perutku, rasa sakit ini tak bisa kutahan. “Arghhhhhhh!” aku berteriak.

“Jaejoong!?” Kata Yunho. “Jaejoong, ada apa? Tunggulah! Aku akan memanggil suster..!!”

Aku merasa perlahan-lahan diriku mulai kehilangan kesadaran.

Perasaan apa ini?

Rasanya seperti ada seseorang yang sedang membawa jiwaku pergi.

“Jaejoong!” Aku mendengar Yunho berteriak.

Soo jin POV

“Dr. Kim! Dr. Kim Anda dibutuhkan di unit gawat darurat!” Interkom berbunyi padaku. Aku segera bangkit dan setengah berlari, setengah berjalan ke arah intercom itu.

“Dr Kim! Anda dibutuhkan segera di unit gawat darurat!” Interkom berbunyi lagi.

“Aku datang!” Kataku, sedikit kesal. Aku menuju UGD dan saya segera dihadapkan dengan perawat.

“Dr. Kim, pasien kita laki-laki, usianya di awal empat puluhan. Kami belum menemukan identifikasinya. Kecelakaan mobil tampaknya terjadi akibat kendaraan tergelincir di atas es yang disebabkan oleh hujan salju tersebut. Kepalanya terluka parah, patah kaki, dan patah pinggul. Ada banyak memar dan luka. Dia telah kehilangan darah dalam jumlah besar.”

Aku mengangguk, menarik napas panjang. Kami menghampiri pria yang kami bicarakan tadi. “Bawa dia ke ruang gawat darurat!” aku berteriak, hampir tidak meliriknya. Aku mengamati koran-koran yang disodorkan padaku. “Dia akan membutuhkan transfuse.” Ucapku pada perawat.

“Segera.” dia menjawab.

Aku mengikuti petugas medis saat kami memasuki ruang operasi. Aku menarik sarung tangan dan berbalik untuk menghadapi pasienku.

Begitu aku melihat wajahnya, aku membeku.

Seluruh tubuhku menolak untuk bergerak.

Aku mengenal pria ini.

“Dr. Kim?” Seseorang bertanya, tapi aku tidak menanggapi. Aku justru malah berlari ke luar. Aku melihat tubuh lain yang dibawa ke ruang operasi yang lain, dipimpin oleh Dr. Choi.

Aku berlari, jantungku berdebar-debar.

Ini tidak bisa terjadi, tidak akan bisa. Ini tidak mungkin. Ini pasti salah… ya Tuhan…

Aku menghampiri mereka dan melihat pasien itu.

“Dr. Kim...” ucap Dr. Choi, suaranya sudah menunjukkan penyesalan. Aku menatap wajah anak berusia 17 tahun yang melihat ke arahku. Darah mengalir membasahi rambut pendek hitamnya.

“Tolong, seseorang, bawalah dia kembali!” ucap Dr. Choi. Aku merasa seseorang mencoba untuk menyentuhku.

“Tidak. TIDAK!” Aku berteriak. “Apakah kau tidak mengerti? Ini Iseul! Ini putriku! Ini Iseul, sialan !!!!"

Air mata membasahi wajahku. “Tolong, Soo Jin.” Ucap Dr. Choi. “Aku akan mencoba untuk menyelamatkannya. Biarkan aku…”

Aku mengangguk dan mereka membawanya pergi. “Dr. Kim tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk melakukan operasi, telepon Dr. Nam.” Dr. Choi memerintahkan saat ia memasuki ruang gawat darurat.
Aku terduduk jatuh ke lantai. Iseul ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar