Welcome

Rabu, 16 Mei 2012

DBSK comeback? (part 25)


“Aku tidak percaya kau sampai rela melakukan ini.” Ucap Taeyeon saat aku meceritakan padanya mengenai apa yang baru saja kulakukan. Kami tengah duduk di mobil saat ini. Aku sengaja mengajaknya keluar dari apartment untuk meminta sarannya atas keputusanku.

“Aku sudah tak punya pilihan lain, Taeyeon…” ucapku agak menekan nada bicara.

“Kau bisa minta tolong padaku, oppa. seharusnya kau menceritakan hal ini dari awal.”

“Aku tak ingin melibatkanmu dalam masalah ini.”

Tak ada jawaban dari bibir Taeyeon. Dia terdiam memandangiku dengan tatapan prihatin. Aku memang pantas dikasihani. Sangat pantas. Meminjam uang dari perusahaan untuk mem-bayar kesalahan yang tak pernah kulakukan. Tapi aku merasa ini sudah menjadi kewajibanku juga. Jadi jika aku tidak membantu, maka aku akan merasa sangat bersalah.

“Kau sudah bicarakan ini dengan yang lain?” tanya Taeyeon memecah keheningan.

Aku menggeleng pelan.

“Jadi kau melakukannya tanpa izin mereka?!”

“Aku tahu mereka takkan mengizinkanku jika aku mengatakan hal ini! Tapi jika aku tidak meminjam uang dari sana, kau pikir aku bisa mendapatkan uang dari mana lagi?!” tanpa sengaja aku membentaknya. Taeyeon tampak kaget akan kemarahanku. Tapi aku harus bagaimana? Aku sedang benar-benar down dan tidak bisa memikirkan apapun tentang keramahan.

“Apa kau tidak berpikir bahwa apa yang kau lakukan ini justru akan membuat mereka semakin tersiksa dan kesulitan?” Taeyeon menatap kedua mataku lekat-lekat. Ada kecemasan yang tergambar jelas di wajahnya.

“Maksudmu…?”

“Kau tahu kalau mereka tak ingin kau menjadi penyanyi solo. Dan kau juga tahu kalau mereka sudah terlalu trauma untuk disatukan lagi menjadi sebuah grup. Lalu sekarang, secara sengaja kau membuat mereka harus terjebak lagi dalam situasi seperti itu. Apa kau tidak berpikir seribu kali sebelum mengambil keputusan mendadak seperti ini?”

Terkadang aku memang merasa, apa yang kupikir berguna, ternyata tidak berguna untuk orang lain. Aku tahu memang bukan ide bagus meminjam uang dari perusahaan itu. Tapi hanya itu satu-satunya cara yang terpikir olehku. Daripada aku hanya diam di rumah dan menunggu rekan yang lain mendapatkan uang itu, lebih baik akupun berusaha mendapatkan uang dengan jalanku sendiri. Terserah. Kalaupun nanti mereka ternyata tidak setuju dengan keputusanku, atau mereka membenciku sekalipun. Aku tidak peduli. Setelah aku membayar-kan uang ini, aku masih mampu membayar sendiri hutang itu pada Lee Junki. Ya. Aku tidak butuh bantuan mereka.

“Jadi kau juga menyalahkanku atas hal ini?” tanyaku sambil menantang tatapan Taeyeon.

“Bukan begitu, oppa…”

“Lalu bagaimana? Sudah jelas-jelas kau tidak suka dengan caraku. Padahal kau sama sekali tidak mengerti posisiku seperti apa dalam masalah ini. Dan seenaknya saja kau menyala-hkanku tanpa pernah tahu apa yang kurasakan.” Air mataku mulai menggenang dan nyaris jatuh ke pipi. Tapi aku segera menghapusnya sebelum Taeyeon menyadari hal itu.

“Siapa bilang aku tidak mengerti posisimu?” tanya Taeyeon pelan. Jemarinya terulur dan dalam sekejap menyapu air mata yang membasahi bulu mataku. Aku terdiam dengan per-lakuannya. Aku tidak memiliki ide untuk membalas dengan kata-kata ataupun dengan suatu gerakan. Jadi aku hanya bisa diam dan menatapnya seperti ini. “Aku mendukung apapun yang menjadi pilihanmu. Tapi, oppa, aku hanya… merasa tidak tega jika kau harus kehilangan kesempatan untuk membentuk grup itu lagi.”

“Jangan pernah bicarakan tentang grup yang sudah mati itu.” Ucapku tegas.

“Kau tidak mungkin membenci DBSK, kan?”

“Aku tidak benci grup itu.” Suaraku mulai terdengar serius. Aku melihat wajah Taeyeon me-negang saat dia menyadari aku belum menyelesaikan kalimatku. “Tapi aku benci pada diriku sendiri. Aku tidak mengerti, kenapa dulu aku bersedia untuk menjadi bagian dari grup itu.”

***

Changmin POV

“Buat apa uang sebanyak itu?!” Ayahku membentakku, air mata yang sedari tadi aku bendung mengalir deras.

“Appa, aku janji aku akan mengembalikannya dengan segera.” Aku berlutut, memohon agar hati ayahku segera melunak dan ia mau meminjamkanku uang 100 juta won.

“Changmin sudahlah.” Ibuku ikut berlutut di selebahku, mencengkram bahuku dengan erat.

“Kau tak perlu melakukan ini.”

“Tapi umma, aku sudah tak mempunyai jalan keluar untuk masalah ini.” Aku mencengkram tangan ibuku. “Ini adalah cara terakhir yang dapat aku lakukan.”

“Appa..” Aku terisak. “Aku benar-benar membutuhkan uang ini. Aku berjanji akan mengem-balikannya dengan segera.”

“Changmin!” Ayahku menatapku dengan tatapan iba, sejujurya aku membenci tatapan itu, tapi disaat ini hanya ini yang bisa kulakukan.

“Appa kumohon.” Aku tertunduk semakin dalam, menyembunyikan air mata yang sedari tadi tidak berhenti mengalir. “Aku berjanji appa.. aku berjanji.”

“Baiklah.” Dia mulai berkata, aku mengangkat wajahku memandangnya tepat pada sorot matanya yang tajam. “Biarkan appa memikirkan ini.”

“Tapi appa?!” Aku memotong. “Aku membutuhkan uang ini segera. Jika tidak..”

“Appa tau konsekuensinya! Tapi appa tidak mempunyai uang sebanyak itu.” Ayahku me-lanjutkan. Dia bangkit. “Appa akan memberitahu keputusan yang appa ambil.” Dia berjalan meninggalkan aku di ruang tamu.

BRUKK!! Pintu di tutup dengan keras. Kurasa itu adalah keputusan terkahhir dari ayahku.

“Semuanya akan baik-baik saja.” Kata ibuku sambil mencium keningku.

***

Aku tak berhasil mendapatkan uang sebanyak 100 juta won. Aku tak menyangka bahwa ayah akan sekeras itu padaku. Aku sudah berusaha.

Bip-Bip-Bip

Sebuah pesan singkat masuk kedalam ponselku, pesan itu dari Junsu hyung. Dia mengajak kami untuk berkumpul di sebuah café.

Apa mungkin Junsu hyung telah mendapatkan uang sebanyak 100 juta won?

Aku memutar kendali atas mobilku, rencananya aku mau pulang ke apartment.

Tapi bagaimana mungkin Junsu hyung mendapatkan uang sebanyak 100 juta won secepat ini? apa yang dia lakukan? Ada sesuatu yang tidak beres.

***

Author POV

Changmin berjalan memasuki café, Junsu sengaja memilih café yang sedikit sepi agar tidak terlalu menarik perhatian.

Jaejoong, Yoochun, Junsu, dan Yunho telah duduk manis di temani secangkir cappuccino yang mereka pesan. Rupanya Changmin datang sedikit terlambat.

Mereka duduk melingkari meja yang bundar. Gesekan sepatu Changmin dengan lantai menimbulkan suara yang cukup menggema.

“Maaf aku datang terlambat.” Changmin memulai pembicaraan, dia mengambil posisi tempat duduk diantara Jaejoong dan Yunho.

“Kita semua sudah berkumpul. Apa yang ingin kau bicarakan?” Nada suara Jaejoong sangat dingin.

“…” Junsu tidak menjawab, dia tetap diam seribu bahasa.

“Jika kau tak mau mengatakannya, lebih baik aku pulang. Hana lebih membutuhkan perhatianku saat ini!” Jaejoong memberi peringatan.

Jaejoong berniat bangkit, meninggalkan keempat rekannya, tapi..

“Tadi aku kerumah ibu produser.” Junsu memulai, dia masih tertunduk.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Changmin menyelidiki. “Kau belutut dihadapannya atau mungkin kau bersujud di hadapannya?”

“Aku tak akan melakukan hal yang serendah itu!” Junsu menggeram kearah Changmin.

“Lalu apa yang kau lakukan Junsu?” Yunho bertanya.

Junsu mengeluarkan selembar cek. Cek yang memiliki jumlah nominal yang sangat banyak. 100 juta won. “Aku berniat membayar ganti rugi.” Dia terdiam sesaat kemudian melanjutkan. “Dia tidak akan menerima jika salah satu dari kita tidak hadir saat membayar ganti rugi tersebut.”

“APA?!!!” Yoochun, Yunho dan Jaejoong berteriak bersama-sama. Seperti paduan suara.

“Aku sudah menduka, kau pasti akan menggunakan lututmu untuk berfikir.” Changmin mendengus.

“Jaga ucapanmu!” Junsu menaikan nada bicaranya.

“Bagaimana kau mendapatkan uang sebanyak itu?” Yunho menyelidiki. Ia menatap cek yang tergeletak diatas meja.

“Aku meminjam uang.” Kata Junsu lemah. Dia tau pasti keempat rekannya akan marah.

“Apa kau bodoh. Bagaimana kita bisa mengembalikan uang sebanyak itu?” Yunho mulai menaikan nada suaranya.

“Dari siapa kau meminjam uang itu?” Changmin bertanya, tatapannya masih seseinis tadi.

Junsu berusaha menghindari tatapan Changmin. “Dari Lee Junki, produser yang menawariku menjadi penyanyi solo.”

“Apa yang kau berikan sebagai ganti uang tersebut?” Changmin kembali mengintrogasi Junsu.

“Aku akan bekerja tanpa dibayar sampai uang yang aku pinjam terlunasi.” Junsu kembali tertunduk. Dia yakin apa yang dia lakukan adalah benar.

“Itu sama saja kau menjadi budak seumur hidup!!” Jaejoong menggebrak meja, dia berdiri menatap Junsu dengan tatapan tidak percaya.

“Sudah kuduga.” Changmin mencibir.

“Tapi hyung, tidak ada cara lain.” Junsu mulai terisak, ia mencoba menahan air matanya agar tidak keluar.

“Jaejoong, jaga emosimu. Aku tak mau ada yang terluka.” Kata Yunho bijak.

“Kau pikir, kami akan membiarkanmu menjadi budak lagi?!” Jaejoong membentak Junsu.

“Tapi hyung, aku tak mau masalah ini semakin berlarut-larut. Biarkan aku saja yang meng-gantinya. Setelah ini kehidupan kita akan kembali tenang.”

“Aku tak mengerti jalan pikiranmu! Kau pikir kami bisa hidup tenang sedangkan kau tersiksa?!”

“Hyung, kau harus mengerti.” Junsu sudah tidak dapat menahan air matanya, sehingga dia membiarkannya mengalir.

“Aku memang tidak mengerti! Aku memang tidak mengerti!” Teriak Jaejoong frustasi.

“Hyung, kau selalu mengatakan kepadaku untuk mengontrol emosiku, sekarang giliranmu untuk mengontrol emosimu.” Ujar Changmin.

“Jaejoong, kita harus membicarakan ini dengan kepala dingin.” Yunho memberi saran.
 
Jaejoong membanting tubuhnya kearah kursi, dia mengacak-acak rambutnya.

“Tapi dia manawarkan kita bersatu dibawah naungan management-nya dan kita bisa mem-bayar uang pinjaman itu bersama-sama.” Junsu melanjutkan, sekarang dia lebih tenang.

“Maksudmu, kita kembali bersatu di bawah naungannya? Membentuk kembali DBSK? Secara tidak langsung dia akan mengikat kita atau menjebak kita.” Changmin mengeluarkan argumentasinya. “Dan dia akan membuat kita merasa berutang budi dan akan menerima tawarannya.”

Junsu semakin tertunduk. “Jika kalian tidak setuju untuk bersatu kembali, biar aku saja yang membayar uang tersebut untuk kalian.”

“Kau ini bodoh! Kami tak akan membiarkanmu menjadi budak mereka!” Jaejoong kembali berteriak.

“Jika ini semua karena cek ini!” Jaejoong mengambil secara paksa cek yang tergeletak diatas meja. “Aku akan merobeknya!”

“Hyung, kumohon.” Junsu mencengkram tangan Jaejoong, mencegahnya untuk merobek kertas itu.

“Sudah kukatakan kepada kalian agar tak perlu ikut campur dalam masalah ini. Aku siap menghadapi pengadilan seorang diri.” Suara Yoochun, menjadi satu-satunya suara yang terdengar

Mereka semua terdiam tanpa berani menjawab perkataan Yoochun. Memang ini semua adalah masalah Yoochun, dan Yoochun berhak memutuskan cara yang akan dipilihnya sendiri untuk menyelesaikan masalah ini.

“Kembalikan saja cek itu pada produsermu. Aku tidak butuh bantuan darinya.” Ucap Yoochun.

“Kau tidak bisa seenaknya berkata begitu!” bantah Yunho. “Kau pikir Junsu tidak berkorban harga diri untuk memohon pada produsernya agar mau meminjamkan uang? Lalu sekarang, seenaknya saja kau menyuruhnya mengembalikan cek yang sudah didapat dengan susah payah.”

“Lalu kau mau bagaimana? Kita datang ke rumah ibu produser dan menyerahkan cek itu, lalu setelah itu kita akan menjalani hari-hari sebagai sebuah grup lagi di bawah management yang bahkan tak kita kenal. Begitu maksudmu?” Yoochun membalikkan tuduhan. Kini tak ada yang bisa menjawab ucapan Yoochun. Semuanya terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.

“Bagaimana kalau kita voting saja?” usul Changmin.

“Voting?” Jaejoong mengulang.

“Ya. Kita pasti memiliki pendapat masing-masing tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah ini. Bagaimana menurut kalian?”

Semua diam seolah tidak mendengar pertanyaan Changmin.

“Diam berarti kalian setuju dengan usulku.” Changmin memutuskan. “Baiklah, aku akan mulai dari Jaejoong hyung saja.”

“Aku masih ingin mencari uang itu.” Jawab Jaejoong malas.

“Kurasa keinginan Junsu hyung dan Yoochun hyung sudah jelas. Jadi, sebelum Yunho hyung memberitahukan keinginannya, aku akan menyebutkan usulku lebih dulu.” Changmin menarik napas panjang sebelum akhirnya mengeluarkan usul. “Aku sudah berencana untuk meminjam uang dari ayahku…”

“Tidak perlu.” Yunho memotong. Kini ia menjadi pusat perhatian. “Aku sudah punya rencana lain. Aku akan mendekati anak dari produser sialan itu.”

“Maksudmu Go Ara?” Jaejoong menebak.

“Benar. Jadi kau sudah mengenalnya?”

“Bagaimana mungkin aku tidak kenal? Dia menontonku saat audisi >///<”

“Sebentar, hyung. Jadi maksudmu, kau ingin mendekati Go Ara dan memanfaatkannya untuk menyelamatkan kita dari ibu tua itu?” tanya Changmin.

“Tepat sekali.”

“Kau yakin kau bisa mendapatkannya?” tanya Yoochun ragu.

“Tidak terlalu. Tapi… aku akan mencoba.”

“Kalau kau benar-benar jatuh cinta padanya bagaimana?” Jaejoong mulai berpikir jauh.

“Memangnya kenapa kalau aku benar-benar suka padanya?”

“Tidak apa-apa.” Ucap Jaejoong judes.

“Sepertinya itu ide bagus juga.” Junsu ikut menimpali.

“Tidak.” Yoochun menjadi satu-satunya yang menentang. “Aku tak butuh bantuan dari kalian berempat. Jadi sekali lagi kuperingatkan, tak perlu ikut campur dalam masalah ini.”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar