“Aku tidak percaya kau sampai rela melakukan ini.”
Ucap Taeyeon saat aku meceritakan padanya mengenai apa yang baru saja
kulakukan. Kami tengah duduk di mobil saat ini. Aku sengaja mengajaknya keluar
dari apartment untuk meminta sarannya atas keputusanku.
“Aku sudah tak punya pilihan lain, Taeyeon…” ucapku
agak menekan nada bicara.
“Kau bisa minta tolong padaku, oppa. seharusnya kau
menceritakan hal ini dari awal.”
“Aku tak ingin melibatkanmu dalam masalah ini.”
Tak ada jawaban dari bibir Taeyeon. Dia terdiam memandangiku
dengan tatapan prihatin. Aku memang pantas dikasihani. Sangat pantas. Meminjam
uang dari perusahaan untuk mem-bayar kesalahan yang tak pernah kulakukan. Tapi
aku merasa ini sudah menjadi kewajibanku juga. Jadi jika aku tidak membantu,
maka aku akan merasa sangat bersalah.
“Kau sudah bicarakan ini dengan yang lain?” tanya
Taeyeon memecah keheningan.
Aku menggeleng pelan.
“Jadi kau melakukannya tanpa izin mereka?!”
“Aku tahu mereka takkan mengizinkanku jika aku
mengatakan hal ini! Tapi jika aku tidak meminjam uang dari sana, kau pikir aku
bisa mendapatkan uang dari mana lagi?!” tanpa sengaja aku membentaknya. Taeyeon
tampak kaget akan kemarahanku. Tapi aku harus bagaimana? Aku sedang benar-benar
down dan tidak bisa memikirkan apapun tentang keramahan.
“Apa kau tidak berpikir bahwa apa yang kau lakukan ini
justru akan membuat mereka semakin tersiksa dan kesulitan?” Taeyeon menatap
kedua mataku lekat-lekat. Ada kecemasan yang tergambar jelas di wajahnya.
“Maksudmu…?”
“Kau tahu kalau mereka tak ingin kau menjadi penyanyi
solo. Dan kau juga tahu kalau mereka sudah terlalu trauma untuk disatukan lagi
menjadi sebuah grup. Lalu sekarang, secara sengaja kau membuat mereka harus
terjebak lagi dalam situasi seperti itu. Apa kau tidak berpikir seribu kali
sebelum mengambil keputusan mendadak seperti ini?”
Terkadang aku memang merasa, apa yang kupikir berguna,
ternyata tidak berguna untuk orang lain. Aku tahu memang bukan ide bagus
meminjam uang dari perusahaan itu. Tapi hanya itu satu-satunya cara yang
terpikir olehku. Daripada aku hanya diam di rumah dan menunggu rekan yang lain
mendapatkan uang itu, lebih baik akupun berusaha mendapatkan uang dengan
jalanku sendiri. Terserah. Kalaupun nanti mereka ternyata tidak setuju dengan
keputusanku, atau mereka membenciku sekalipun. Aku tidak peduli. Setelah aku
membayar-kan uang ini, aku masih mampu membayar sendiri hutang itu pada Lee
Junki. Ya. Aku tidak butuh bantuan mereka.
“Jadi kau juga menyalahkanku atas hal ini?” tanyaku sambil
menantang tatapan Taeyeon.
“Bukan begitu, oppa…”
“Lalu bagaimana? Sudah jelas-jelas kau tidak suka
dengan caraku. Padahal kau sama sekali tidak mengerti posisiku seperti apa
dalam masalah ini. Dan seenaknya saja kau menyala-hkanku tanpa pernah tahu apa
yang kurasakan.” Air mataku mulai menggenang dan nyaris jatuh ke pipi. Tapi aku
segera menghapusnya sebelum Taeyeon menyadari hal itu.
“Siapa bilang aku tidak mengerti posisimu?” tanya
Taeyeon pelan. Jemarinya terulur dan dalam sekejap menyapu air mata yang
membasahi bulu mataku. Aku terdiam dengan per-lakuannya. Aku tidak memiliki ide
untuk membalas dengan kata-kata ataupun dengan suatu gerakan. Jadi aku hanya
bisa diam dan menatapnya seperti ini. “Aku mendukung apapun yang menjadi
pilihanmu. Tapi, oppa, aku hanya… merasa tidak tega jika kau harus kehilangan
kesempatan untuk membentuk grup itu lagi.”
“Jangan pernah bicarakan tentang grup yang sudah mati
itu.” Ucapku tegas.
“Kau tidak mungkin membenci DBSK, kan?”
“Aku tidak benci grup itu.” Suaraku mulai terdengar
serius. Aku melihat wajah Taeyeon me-negang saat dia menyadari aku belum
menyelesaikan kalimatku. “Tapi aku benci pada diriku sendiri. Aku tidak
mengerti, kenapa dulu aku bersedia untuk menjadi bagian dari grup itu.”
***
Changmin POV
“Buat apa uang sebanyak itu?!” Ayahku membentakku, air
mata yang sedari tadi aku bendung mengalir deras.
“Appa, aku janji aku akan mengembalikannya dengan
segera.” Aku berlutut, memohon agar hati ayahku segera melunak dan ia mau
meminjamkanku uang 100 juta won.
“Changmin sudahlah.” Ibuku ikut berlutut di selebahku,
mencengkram bahuku dengan erat.
“Kau tak perlu melakukan ini.”
“Tapi umma, aku sudah tak mempunyai jalan keluar untuk
masalah ini.” Aku mencengkram tangan ibuku. “Ini adalah cara terakhir yang
dapat aku lakukan.”
“Appa..” Aku terisak. “Aku benar-benar membutuhkan
uang ini. Aku berjanji akan mengem-balikannya dengan segera.”
“Changmin!” Ayahku menatapku dengan tatapan iba,
sejujurya aku membenci tatapan itu, tapi disaat ini hanya ini yang bisa
kulakukan.
“Appa kumohon.” Aku tertunduk semakin dalam,
menyembunyikan air mata yang sedari tadi tidak berhenti mengalir. “Aku berjanji
appa.. aku berjanji.”
“Baiklah.” Dia mulai berkata, aku mengangkat wajahku
memandangnya tepat pada sorot matanya yang tajam. “Biarkan appa memikirkan
ini.”
“Tapi appa?!” Aku memotong. “Aku membutuhkan uang ini
segera. Jika tidak..”
“Appa tau konsekuensinya! Tapi appa tidak mempunyai
uang sebanyak itu.” Ayahku me-lanjutkan. Dia bangkit. “Appa akan memberitahu
keputusan yang appa ambil.” Dia berjalan meninggalkan aku di ruang tamu.
BRUKK!! Pintu di tutup dengan keras. Kurasa itu adalah
keputusan terkahhir dari ayahku.
“Semuanya akan baik-baik saja.” Kata ibuku sambil
mencium keningku.
***
Aku tak berhasil mendapatkan uang sebanyak 100 juta
won. Aku tak menyangka bahwa ayah akan sekeras itu padaku. Aku sudah berusaha.
Bip-Bip-Bip
Sebuah pesan singkat masuk kedalam ponselku, pesan itu
dari Junsu hyung. Dia mengajak kami untuk berkumpul di sebuah café.
Apa mungkin Junsu hyung telah mendapatkan uang
sebanyak 100 juta won?
Aku memutar kendali atas mobilku, rencananya aku mau
pulang ke apartment.
Tapi bagaimana mungkin Junsu hyung mendapatkan uang
sebanyak 100 juta won secepat ini? apa yang dia lakukan? Ada sesuatu yang tidak
beres.
***
Author POV
Changmin berjalan memasuki café, Junsu sengaja memilih
café yang sedikit sepi agar tidak terlalu menarik perhatian.
Jaejoong, Yoochun, Junsu, dan Yunho telah duduk manis
di temani secangkir cappuccino yang mereka pesan. Rupanya Changmin datang
sedikit terlambat.
Mereka duduk melingkari meja yang bundar. Gesekan
sepatu Changmin dengan lantai menimbulkan suara yang cukup menggema.
“Maaf aku datang terlambat.” Changmin memulai
pembicaraan, dia mengambil posisi tempat duduk diantara Jaejoong dan Yunho.
“Kita semua sudah berkumpul. Apa yang ingin kau
bicarakan?” Nada suara Jaejoong sangat dingin.
“…” Junsu tidak menjawab, dia tetap diam seribu
bahasa.
“Jika kau tak mau mengatakannya, lebih baik aku
pulang. Hana lebih membutuhkan perhatianku saat ini!” Jaejoong memberi
peringatan.
Jaejoong berniat bangkit, meninggalkan keempat
rekannya, tapi..
“Tadi aku kerumah ibu produser.” Junsu memulai, dia
masih tertunduk.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Changmin menyelidiki.
“Kau belutut dihadapannya atau mungkin kau bersujud di hadapannya?”
“Aku tak akan melakukan hal yang serendah itu!” Junsu
menggeram kearah Changmin.
“Lalu apa yang kau lakukan Junsu?” Yunho bertanya.
Junsu mengeluarkan selembar cek. Cek yang memiliki
jumlah nominal yang sangat banyak. 100 juta won. “Aku berniat membayar ganti
rugi.” Dia terdiam sesaat kemudian melanjutkan. “Dia tidak akan menerima jika
salah satu dari kita tidak hadir saat membayar ganti rugi tersebut.”
“APA?!!!” Yoochun, Yunho dan Jaejoong berteriak
bersama-sama. Seperti paduan suara.
“Aku sudah menduka, kau pasti akan menggunakan lututmu
untuk berfikir.” Changmin mendengus.
“Jaga ucapanmu!” Junsu menaikan nada bicaranya.
“Bagaimana kau mendapatkan uang sebanyak itu?” Yunho
menyelidiki. Ia menatap cek yang tergeletak diatas meja.
“Aku meminjam uang.” Kata Junsu lemah. Dia tau pasti
keempat rekannya akan marah.
“Apa kau bodoh. Bagaimana kita bisa mengembalikan uang
sebanyak itu?” Yunho mulai menaikan nada suaranya.
“Dari siapa kau meminjam uang itu?” Changmin bertanya,
tatapannya masih seseinis tadi.
Junsu berusaha menghindari tatapan Changmin. “Dari Lee
Junki, produser yang menawariku menjadi penyanyi solo.”
“Apa yang kau berikan sebagai ganti uang tersebut?”
Changmin kembali mengintrogasi Junsu.
“Aku akan bekerja tanpa dibayar sampai uang yang aku
pinjam terlunasi.” Junsu kembali tertunduk. Dia yakin apa yang dia lakukan
adalah benar.
“Itu sama saja kau menjadi budak seumur hidup!!”
Jaejoong menggebrak meja, dia berdiri menatap Junsu dengan tatapan tidak
percaya.
“Sudah kuduga.” Changmin mencibir.
“Tapi hyung, tidak ada cara lain.” Junsu mulai
terisak, ia mencoba menahan air matanya agar tidak keluar.
“Jaejoong, jaga emosimu. Aku tak mau ada yang
terluka.” Kata Yunho bijak.
“Kau pikir, kami akan membiarkanmu menjadi budak
lagi?!” Jaejoong membentak Junsu.
“Tapi hyung, aku tak mau masalah ini semakin
berlarut-larut. Biarkan aku saja yang meng-gantinya. Setelah ini kehidupan kita
akan kembali tenang.”
“Aku tak mengerti jalan pikiranmu! Kau pikir kami bisa
hidup tenang sedangkan kau tersiksa?!”
“Hyung, kau harus mengerti.” Junsu sudah tidak dapat
menahan air matanya, sehingga dia membiarkannya mengalir.
“Aku memang tidak mengerti! Aku memang tidak
mengerti!” Teriak Jaejoong frustasi.
“Hyung, kau selalu mengatakan kepadaku untuk
mengontrol emosiku, sekarang giliranmu untuk mengontrol emosimu.” Ujar
Changmin.
“Jaejoong, kita harus membicarakan ini dengan kepala
dingin.” Yunho memberi saran.
Jaejoong membanting tubuhnya kearah kursi, dia mengacak-acak rambutnya.
“Tapi dia manawarkan kita bersatu dibawah naungan
management-nya dan kita bisa mem-bayar uang pinjaman itu bersama-sama.” Junsu
melanjutkan, sekarang dia lebih tenang.
“Maksudmu, kita kembali bersatu di bawah naungannya?
Membentuk kembali DBSK? Secara tidak langsung dia akan mengikat kita atau
menjebak kita.” Changmin mengeluarkan argumentasinya. “Dan dia akan membuat
kita merasa berutang budi dan akan menerima tawarannya.”
Junsu semakin tertunduk. “Jika kalian tidak setuju
untuk bersatu kembali, biar aku saja yang membayar uang tersebut untuk kalian.”
“Kau ini bodoh! Kami tak akan membiarkanmu menjadi
budak mereka!” Jaejoong kembali berteriak.
“Jika ini semua karena cek ini!” Jaejoong mengambil
secara paksa cek yang tergeletak diatas meja. “Aku akan merobeknya!”
“Hyung, kumohon.” Junsu mencengkram tangan Jaejoong,
mencegahnya untuk merobek kertas itu.
“Sudah kukatakan kepada kalian agar tak perlu ikut
campur dalam masalah ini. Aku siap menghadapi pengadilan seorang diri.” Suara
Yoochun, menjadi satu-satunya suara yang terdengar
Mereka semua terdiam tanpa berani menjawab perkataan
Yoochun. Memang ini semua adalah masalah Yoochun, dan Yoochun berhak memutuskan
cara yang akan dipilihnya sendiri untuk menyelesaikan masalah ini.
“Kembalikan saja cek itu pada produsermu. Aku tidak
butuh bantuan darinya.” Ucap Yoochun.
“Kau tidak bisa seenaknya berkata begitu!” bantah
Yunho. “Kau pikir Junsu tidak berkorban harga diri untuk memohon pada
produsernya agar mau meminjamkan uang? Lalu sekarang, seenaknya saja kau
menyuruhnya mengembalikan cek yang sudah didapat dengan susah payah.”
“Lalu kau mau bagaimana? Kita datang ke rumah ibu
produser dan menyerahkan cek itu, lalu setelah itu kita akan menjalani
hari-hari sebagai sebuah grup lagi di bawah management yang bahkan tak kita
kenal. Begitu maksudmu?” Yoochun membalikkan tuduhan. Kini tak ada yang bisa
menjawab ucapan Yoochun. Semuanya terdiam dan larut dalam pikiran
masing-masing.
“Bagaimana kalau kita voting saja?” usul Changmin.
“Voting?” Jaejoong mengulang.
“Ya. Kita pasti memiliki pendapat masing-masing
tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah ini. Bagaimana menurut kalian?”
Semua diam seolah tidak mendengar pertanyaan Changmin.
“Diam berarti kalian setuju dengan usulku.” Changmin
memutuskan. “Baiklah, aku akan mulai dari Jaejoong hyung saja.”
“Aku masih ingin mencari uang itu.” Jawab Jaejoong
malas.
“Kurasa keinginan Junsu hyung dan Yoochun hyung sudah
jelas. Jadi, sebelum Yunho hyung memberitahukan keinginannya, aku akan
menyebutkan usulku lebih dulu.” Changmin menarik napas panjang sebelum akhirnya
mengeluarkan usul. “Aku sudah berencana untuk meminjam uang dari ayahku…”
“Tidak perlu.” Yunho memotong. Kini ia menjadi pusat
perhatian. “Aku sudah punya rencana lain. Aku akan mendekati anak dari produser
sialan itu.”
“Maksudmu Go Ara?” Jaejoong menebak.
“Benar. Jadi kau sudah mengenalnya?”
“Bagaimana mungkin aku tidak kenal? Dia menontonku
saat audisi >///<”
“Sebentar, hyung. Jadi maksudmu, kau ingin mendekati
Go Ara dan memanfaatkannya untuk menyelamatkan kita dari ibu tua itu?” tanya
Changmin.
“Tepat sekali.”
“Kau yakin kau bisa mendapatkannya?” tanya Yoochun
ragu.
“Tidak terlalu. Tapi… aku akan mencoba.”
“Kalau kau benar-benar jatuh cinta padanya bagaimana?”
Jaejoong mulai berpikir jauh.
“Memangnya kenapa kalau aku benar-benar suka padanya?”
“Tidak apa-apa.” Ucap Jaejoong judes.
“Sepertinya itu ide bagus juga.” Junsu ikut menimpali.
“Tidak.” Yoochun menjadi satu-satunya yang menentang.
“Aku tak butuh bantuan dari kalian berempat. Jadi sekali lagi kuperingatkan,
tak perlu ikut campur dalam masalah ini.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar