Welcome

Selasa, 15 Mei 2012

Unbeatable Heart (translate) part 7

orginal author : yukie23 at http://www.asianfanfics.com


Yunho POV

Aku berjalan ke kamar Jaejoong. “Hey!” ucapku, menunjukkan padanya bahwa aku membawakan makanan sebagai kejutan baginya. Wajahnya tampak cerah.

“H..e..y.” jawabnya, tersenyum.

“Maaf, Iseul tidak bisa ikut. Banyak reporter-reporter gila di luar sana.” Ucapku. Wajahnya agak kecewa, tapi, senyumnya tidak hilang. Aku berharap alasanku lebih baik daripada tak ada sama sekali.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyaku, mengupaskan jeruk untuknya.

“Ba..i..k.” jawabnya.
Aku mengangguk. Aku mengambil sepotong jeruk dan mengarahkan ke mulutnya. Dia menatapku, wajahnya tampak segan.

“Ayolah…” ucapku. “Makanlah… aku akan menyuapimu seperti aku menyuapi Iseul.”

Wajahnya perlahan membentuk senyuman. “K..au..b..odo..h.” katanya. Dia membuka mulut dan perlahan mengunyah jeruk.

“Benar.” Jawabku. “Tapi aku orang bodoh milik Iseul.” Ucapku, menaik-turunkan alisku ke arah nya. Dia tertawa begitu saja, dan akhirnya dia tersedak jeruk itu.

“Woah, woah!” ucapku. Menepuk punggungnya saat dia terbatuk dan terengah-engah. Aku meraih segelas air dengan cepat dan membantunya minum. Setelah beberapa menit dia tampak lebih tenang. “Kau baik-baik saja, Jae?” tanyaku.

Dia mengangguk. “K..a..u..bo..d..oh.”

“Terima kasih.” Jawabku. Dia tersenyum padaku.

“Ba..g..a..i..ma..n..a..ke..a..d..aa..n..Is…eul?”

“Cukup baik.” Jawabku. “Aku rasa sekarang dia mulai menyukaiku… walaupun kemungkinannya masih kecil.”

“B..er..h..en…ti..mem..b..ang..g..a..ka..n..d..ir..i..m..u.”

Aku memutar mataku. “Kau hanya tak bisa menerima kenyataan bahwa aku adalah pria yang sempurna untuk Iseul.”

Jaejoong tertawa lebar. “Wa..l..au..p…un..ib..u..m..u…mem..b…o..c..or..k..an… ke..k..u..ra..ng.. an…mu.”.

“Yah!” ucapku dengan nada gemas. “Kau tidak bisa mempercayai semua yang dikatakan ibu-ku… dia tidak… terlalu mengetahui… dengan baik.”

“D..an..k..a..u?”

“Chyeah!” jawabku, mencoba menghibur diri di waktu yang sama. “Aku lebih mewarisi sifat ayahku.”

Jaejoong hanya tersenyum padaku, menggelengkan kepalanya. Aku tersenyum juga padanya dan menggigit sebuah apel.

“Kau ingin aku mengunyahkan ini untukmu?” tanyaku, sambil menunjuk apel.

Jaejoong merengutkan wajahnya. “E…w..w ..ti..d..ak.”

Aku memutar mata. “Ayolah, Jae, kita kan keluarga.”

Jajoong memutar matanya padaku. “Apa?!” tanyaku. “Kau tahu hubungan kami, kau akan segera mendengar Iseul memberitahumu bahwa kami akan menikah.”

Jaejoong tertunduk. “A..k..u..ak..a..n..me..n..ung..gu..ha..r…i..it..u.”

Aku berhenti mengunyah. Kupandangi wajahnya. Dia tampak menatap kosong ke depan, dengan senyum di wajahnya. Aku memperhatikannya tanpa kata-kata. Dia mungkin sedang membayangkan akan seperti apa Iseul saat menikah nanti. Aku menunggu beberapa menit, melihat wajahhnya berubah ekspresi.

“Ada apa?” tanyaku, tepat saat perhatiannya terfokus padaku.

Dia tersenyum padaku. “D..ia..ter..l..i..h..at..sa..ng..a..t..ca..n…tik.”

Aku mengangguk. “Ya, aku juga berpikir begitu.” Ucapku. Aku duduk di tepi ranjangnya.

“A..k..u..ha..r..a..p..a…ku..bi..sa..a..d..a..di..s..a..na.”

Aku merasa baru saja mendapat sakit perut. Apa yang dibicarakan Jaejoong, kadang-kadang membuatku merasa bahwa dia sudah menyerah. Tapi, aku hanya orang bodoh, seseorang yang membuat si kembar tertawa, dan itu adalah peran yang harus kumainkan setiap kali mereka berdua mulai menyerah.
 
Aku memutar mataku, membiarkan bibirku tertawa. “Ayolah, Jaejoong, kau akan ada di sana, tak ada alasan bagimu untuk melewatkan kesempatan menghentikan pernikahan di tengah-tengah dan mengatakan pada semua orang bahwa aku hanya bermimpi.”

Jaejoong tertunduk. Lalu dia menoleh padaku dengan senyum yang menyimpan banyak makna.

“K..a..u..ta..k..ha..r..u..s…me..m..ak..s..a..k..an..di..r..i..m..u.”

Senyum memudar dari wajahku. “Jaejoong, aku tidak memaksakan diriku. Jika gadis yang aku sukai dan teman terbaikku bahagia, maka tugasku sudah selesai. Percaya atau tidak, perasaanmu sangat mempengaruhiku. Dan begitu juga hidupmu, karena jika aku tidak pernah bertemu denganmu, aku tidak akan ada di sini sekarang.”

“J..a..ng..a..n..ka..t..a..ka..n..i…t..u.”

“Terima kasih, Jae. Terima kasih untuk segalanya. Ini adalah kesempatanku untuk membalasmu. Dengan cara menjagamu dan Iseul. Kau sangat berarti bagiku.”

Jaejoong menatapku, matanya berkaca-kaca.

“Jaejoong! Demi apapun, jangan menangis!” ucapku.

“M..ma..a..f.” katanya, mengalihkan pandangan. Aku menoleh ke arah lain, mencoba menahan air mataku.

“Apapun yang terjadi… jangan menyerah, oke? Aku sudah bertahan hidup sejauh ini, hanya untukmu. Kita harus bertahan hidup bersama. Itu satu-satunya cara untuk membuat Iseul bahagia, kan? Dan itulah tujuan kita, membuatnya bahagia.”

Aku menatap Jaejoong yang mengangguk. Dia memegangi kepalanya. Aku memalingkan wajah dengan cepat, menyeka air mata yang baru saja menetes.

“Kau bilang, saat pertama kita bertemu, kau ingin bersama Iseul sampai kau tua, menjaganya. Kau bilang kau ingin membalas semua yang telah dia lakukan.” Ucapku. “Lebih baik kau melakukan itu, Jae. Aku tidak bisa pergi jika kau masih memiliki hutang, dan aku bersumpah aku tidak akan pernah membiarkanmu harus membayar hutangku padanya. Kita berdua memiliki hutang yang harus dibayar, dan kita harus melakukannya.”

“Y…ea..h” jawab Jaejoong. “P..as..t..i.” dia menambahkan, suaranya lirih.

“Janji?” tanyaku, masih memalingkan wajah darinya.

“Ja..n..j..i.A..ku..ha..r..u..s..mem..ba..y…ar…se..m..u..a..ya..ng..s..ud..a..h..di..la..k..u..kan..ny..a. Se…ka..l..i..p..un..ya..ng..t..i..d..ak..ing..i..n..di..l..a..ku..k..an..ny..a.”

“Itu bisa diatur.”

Iseul POV

Sirine terngiang sekali lagi di telingaku, sebuah gangguan bagi orang yang sedang tidur. Aku menatap suster dan dokter yang berlalu-lalang di hadapanku dengan terburu-buru. Tak satupun dari mereka berhenti di depanku… tak satupun dari mereka memberitahuku apa yang terjadi dengannya.
 
Aku menatap ruangan kosong, air mata jatuh begitu saja.

Kenapa?

Kenapa takdir harus menggariskan seperti ini?

Kenapa takdir mengharuskanku menjalani semua ini?

“Iseul..” terdengar suara gelisah. Aku menatap Mrs. Jung. Matanya merah karena menangis.

“Mrs. Jung!” ucapku. Aku berdiri seketika. “Maaf… aku tidak tahu harus melakukan apa, aku membawanya ke sini. Aku.. aku..” suaraku hilang. Air mata terus membanjiri wajahku.

“Tak masalah.” Mrs. Jung menenangkan, berusaha memberiku senyuman. “Apa kau sudah mendengar sesuatu?”

Aku menggelengkan kepalaku. “Kami sampai di sini belum begitu lama, mereka mungkin masih memeriksanya.”

Mrs. Jung mengangguk. Dia meraih tanganku. “Terima kasih, Iseul. Jika tak ada kau, aku tak tahu kalau dia harus dilarikan ke rumah sakit. Aku sangat bodoh karena bekerja pada sip 3… hanya itu yang aku pikirkan… kami sangat dekat… sangat dekat untuk merasakan telepati.” Air mata mulai jatuh di wajahnya.

“Mrs. Jung..” ucapku. “Apa kau baik-baik saja?”

Dia mengangguk pelan. “Aku hanya… aku tidak pernah membayangkan dia akan jatuh lagi. Dia tampak sangat sehat kemarin… jadi…”

Aku mengangguk. Semalam aku mendengar suara petir. Aku pikir itu menakutkan… badai di tengah musim dingin. Petir sangat membuatku takut, dan kapanpun terjadi badai, aku akan pergi ke kamar Jaejoong dan dia akan membuatku nyaman. Selama kami anak-anak, Jaejoong selalu membuatku merasa seperti itu.

Tapi semalam… aku menemui Yunho. Aku memasuki kamarnya dan berusaha membangunkannya. Dia tidak bereaksi. Saat itu aku menyadari… bahwa dia tidak bernapas dengan benar.

Aku terkejut sekali selama beberapa saat setelah aku mencoba CPR. Aku tercekat melihat bahunya memar. Kucoba berhenti menangis dan tetap berpikir jernih. Aku memanggil ambulans tepat setelah menghubungi ibunya.

“Kenapa dia tidak memberitahuku… dia…” Mrs. Jung berkata.

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku ingat bahwa kemarin pagi, aku berusaha untuk terlihat lebih baik di kelasnya dan dia menjauhkan lengannya dariku, saat itu kukira dia berpikir bahwa aku akan melihat sesuatu. Dan dia memang tak ingin aku melihatnya. Dia sudah tahu… dia tahu dia akan segera jatuh jika aku memegang lengannya.

“Keluarga Jung Yunho?” aku mendengar dokter memanggil. Aku menatap Mrs. Jung terburu-buru menghampirinya.

“Ya, dokter?” tanyanya.

“Maaf aku harus mengatakan hal ini, tapi puteramu sudah terjatuh, tekanan darah putihnya sangat tinggi. Kita akan mulai kemoterapi secepat yang kami bisa.” Katanya.

Mrs. Jung mengangguk untuk mengiyakan perkataan dokter. “Ya, ya, terima kasih, dokter. Apa dia sudah sadar? Bisakah aku melihatnya?”

“Tentu.” Jawab dokter. “Di kamar sebelah kiri.” Dokter mulai beranjak pergi. Aku menatap Mrs. Jung yang menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan teriakan. Aku bangun perlahan dari kursiku dan berjalan mendekatinya.

Dia benar-benar mengingatkanku pada ibuku. Reaksi yang sama dari ibuku setiap kali Jaejoong terjatuh. Mereka tak pernah menginginkannya… tak seorangpun yang pernah menginginkannya.

“Mrs. Jung?” tanyaku. Dia menatapku dengan mata basah. “Ayo kita lihat Yunho.”

Dia mengangguk. Aku tersenyum padanya dan merangkulkan lenganku ke bahunya. Perlahan, aku membimbingnya berjalan ke kamar Yunho.

Ketika kami masuk, hal pertama yang dilakukannya adalah marah.

“Yunho!! Kau bodoh! Kenapa kau tidak memberitahuku?!” katanya, seraya berlari ke samping Yunho. Dia menatap ibunya, dengan mata sendu. Dia menelan ludah untuk menahan tangis. “Kenapa kau merahasiakannya?! Kenapa?!”

Dia menjatuhkan kepalanya ke tangan dan mulai tesedu-sedu.

“Ibu.” Ucap Yunho tegas. Dia menggapaikan tangannya untuk mengelus rambut ibunya. Aku melihat memar di lengannya, aku mendengar kelelahan di suaranya. Kenapa semua itu tampak sangat jelas sekarang?

“Maafkan aku, bu… aku kira… aku kira aku bisa mengalahkannya… maafkan aku, bu… maafkan aku.” Katanya dengan berurai air mata.

“Apa kau mendengarku, Bu? Maafkan aku. Maafkan aku. Aku tak ingin melihatmu seperti ini lagi. Aku ingin mengalahkannya… lepas darinya… maafkan aku.”

Mrs. Jung kembali menangis. Aku berjalan ke arah Yunho.

“Iseul..” katanya. “Lihatlah aku. La—“

Aku menahannya. Tanganku diletakkan di bibirnya. Dia mengedipkan matanya dengan heran, eksresinya penuh keterkejutan. Mrs. Jung menoleh dan menatapku.

Aku menatap lututku. “Yunho… kau bodoh!!!” teriakku, akhirnya bisa mengeluarkan semua emosi yang terpendam dalam diriku. “Kau benar-benar bodoh!! Kenapa kau melakukannya?! Kenapa kau menyembunyikan sesuatu yang begitu penting?! Bagaimana bisa… bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu… bagaimana jika aku tidak membawamu ke sini… bagaimana jika…” aku berhenti, suaraku tak mampu lagi mengalir dan air mata membanjiriku.

Dia adalah orang bodoh.

Seorang bodoh yang membuatku tersenyum sepanjang waktu.

Seorang bodoh yang menggenggam tanganku saat tak ada seorangpun yang menolongku.

Seorang bodoh yang selalu berdiri di sampingku.

Seorang bodoh yang selalu menenangkanku setiap kali aku menangis.

Seorang bodoh yang memberiku segalanya tanpa mengharap balasan apapun.

Dan apa yang kulakukan? Aku tidak bisa melakukan apapun. Karena dia berusaha untuk berperang… untuk tetap hidup. Dan aku tidak seperti itu, aku melakukan hal yang sebaliknya. Aku seperti orang jahat. Aku tidak pernah bisa memahami situasinya.

Aku merasakan ada tangan yang menyentuh bahuku. “Iseul… Yunho memang bodoh. Kau tidak akan pernah tahu semua hal bodoh yang telah dilakukannya. Tapi jangan pernah… jangan pernah sekali-kali… kau berpikir bahwa ini salahmu.” Jelas Mrs. Jung.

“Kau juga harus menjalankan saran itu, Bu.” Ucap Yunho.

“Diamlah… kau hanya perlu istirahat dan jangan lakukan apa-apa.” Katanya. Aku mendengar kecemasan dalam suaranya. “Ayo, Iseul, tak apa-apa, hanya jangan bicara padanya selama satu jam, itu akan jadi hukuman yang tepat, ayo, kita pergi, sayang.”

Tiba-tiba aku merasakan seseorang mencengkram bahuku. Genggamannya lemah. Yunho bangun dan membuatku menatapnya. Dia tersenyum padaku. “Aku baik-baik saja, Iseul” katanya. “Sampai jumpa… pada kesempatan lain, jika aku bisa melihatmu tertidur lagi.”

Aku merasa terpukul oleh kata-katanya lagi. Dia tersenyum padaku. Aku mendekat padanya, melingkarkan lenganku ke lehernya. Aku ingin lebih dekat dengannya… dia yang begitu berarti bagiku, sama seperti Jaejoong.

Dan sama seperti Jaejoong… jika aku kehilangan dia… aku akan benar-benar hancur.

“Apa kau siap?” tanya Yunho, menatapku dengan mata sendu. Aku mengangguk. “Maafkan aku, aku tak bisa ada di sana… mereka tak ingin aku pergi.” Katanya.

“Tak masalah.” Jawabku. Kemoterapi sudah dimulai, tapi dia sudah kehilangan banyak rambut. Aku merasa tenggorokanku kering. Aku ingin dia ada di sana, menemaniku. Aku tidak ingin ada di sana sendiri, dan aku membutuhkannya untuk membuatku lebih baik. Dia harus segera sembuh.

Yunho tersenyum padaku. “Oke, apapun yang kau inginkan, telepon saja aku.”

Aku mengangguk.

“Iseul!” datang suara Mr. Park. “Kau harus segera ke sana, kita akan segera pergi.”

“Oke.” Ucapku.

Yunho tersenyum. “Aku selalu di sini, mendukungmu dari jauh.”

Aku mengangguk. Aku bangun untuk pergi, tapi sebelum aku melangkah, aku berbalik dan memeluknya erat.

Yunho POV

Ya, hatiku bergetar saat Iseul memelukku. Ini adalah kedua kalinya dia memelukku. Waktu itu aku merasa dia seperti menekan oksigen dalam tubuhku, bukan karena dia merangkul terlalu erat, tapi karena aku tidak bisa bernapas dengan benar jika terlalu dekat dengannya.

Jangan tanyakan kenapa aku tidak memberitahu siapapun. Kenapa tak seorangpun tahu aku akan jatuh. Baiklah, aku berencana untuk menjadi bodoh sampai akhir nanti, kan? Jadi, aku terus menjadi orang bodoh… selalu.

“Terima kasih… terima kasih untuk segalanya, Yunho.” Ucap Iseul.

Aku tersenyum. “Jangan khawatir, Iseul. Tetaplah tegar.” Jawabku. Dia melepaskan pelukannya dan menatapku. Diapun mengangguk.

“Aku akan mencobanya.”
Saat itu, tepat sebelum aku tahu bahwa dia akan pergi, aku tidak tahu kenapa… tapi aku merasa… ini adalah hasrat yang sangat gila. Hasrat yang tak bisa kuhentikan. Hasrat yang membuatku meraih tangannya dan memeluknya seketika.

“Yunho?” tanyanya, ketika aku membelai rambutnya. Aku menarik diri darinya dan menatap mata cokelatnya yang tengah menatapku polos.

Aku tidak berpikir dua kali tentang ini.

Aku hanya ingin melakukannya.

Aku lelah terus-menerus menunggu.

Aku sudah berjuang cukup lama, jadi…

Mungkin aku harus mencoba untuk melakukan hal ini.

Aku tidak akan menyerah… dan aku ingin dia tahu. Sebelum dia memasuki ruang persidangan, aku ingin dia tahu betapa berharganya dia bagiku.

Jadi aku mencium keningnya.

Aku memejamkan mataku. Ciuman itu hanya beberapa detik. Aku menarik diriku dan tersenyum padanya. Dia menatapku, aku tahu dia sangat terkejut.

“Ingatlah ini selalu, Iseul… tak akan terjadi apa-apa.” Ucapku. Dia masih memandangiku.
“Aku mencintaimu.” Ucapku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar