Yunho POV
Aku berjalan ke
kamar Jaejoong. “Hey!” ucapku, menunjukkan padanya bahwa aku membawakan makanan
sebagai kejutan baginya. Wajahnya tampak cerah.
“H..e..y.”
jawabnya, tersenyum.
“Maaf, Iseul
tidak bisa ikut. Banyak reporter-reporter gila di luar sana.” Ucapku. Wajahnya
agak kecewa, tapi, senyumnya tidak hilang. Aku berharap alasanku lebih baik
daripada tak ada sama sekali.
“Bagaimana
keadaanmu?” tanyaku, mengupaskan jeruk untuknya.
“Ba..i..k.”
jawabnya.
Aku mengangguk.
Aku mengambil sepotong jeruk dan mengarahkan ke mulutnya. Dia menatapku,
wajahnya tampak segan.
“Ayolah…”
ucapku. “Makanlah… aku akan menyuapimu seperti aku menyuapi Iseul.”
Wajahnya
perlahan membentuk senyuman. “K..au..b..odo..h.” katanya. Dia membuka mulut dan
perlahan mengunyah jeruk.
“Benar.”
Jawabku. “Tapi aku orang bodoh milik Iseul.” Ucapku, menaik-turunkan alisku ke
arah nya. Dia tertawa begitu saja, dan akhirnya dia tersedak jeruk itu.
“Woah, woah!”
ucapku. Menepuk punggungnya saat dia terbatuk dan terengah-engah. Aku meraih
segelas air dengan cepat dan membantunya minum. Setelah beberapa menit dia
tampak lebih tenang. “Kau baik-baik saja, Jae?” tanyaku.
Dia mengangguk.
“K..a..u..bo..d..oh.”
“Terima kasih.”
Jawabku. Dia tersenyum padaku.
“Ba..g..a..i..ma..n..a..ke..a..d..aa..n..Is…eul?”
“Cukup baik.”
Jawabku. “Aku rasa sekarang dia mulai menyukaiku… walaupun kemungkinannya masih
kecil.”
“B..er..h..en…ti..mem..b..ang..g..a..ka..n..d..ir..i..m..u.”
Aku memutar
mataku. “Kau hanya tak bisa menerima kenyataan bahwa aku adalah pria yang
sempurna untuk Iseul.”
Jaejoong tertawa
lebar. “Wa..l..au..p…un..ib..u..m..u…mem..b…o..c..or..k..an… ke..k..u..ra..ng..
an…mu.”.
“Yah!” ucapku
dengan nada gemas. “Kau tidak bisa mempercayai semua yang dikatakan ibu-ku… dia
tidak… terlalu mengetahui… dengan baik.”
“D..an..k..a..u?”
“Chyeah!”
jawabku, mencoba menghibur diri di waktu yang sama. “Aku lebih mewarisi sifat
ayahku.”
Jaejoong hanya
tersenyum padaku, menggelengkan kepalanya. Aku tersenyum juga padanya dan
menggigit sebuah apel.
“Kau ingin aku
mengunyahkan ini untukmu?” tanyaku, sambil menunjuk apel.
Jaejoong
merengutkan wajahnya. “E…w..w ..ti..d..ak.”
Aku memutar
mata. “Ayolah, Jae, kita kan keluarga.”
Jajoong memutar
matanya padaku. “Apa?!” tanyaku. “Kau tahu hubungan kami, kau akan segera
mendengar Iseul memberitahumu bahwa kami akan menikah.”
Jaejoong
tertunduk. “A..k..u..ak..a..n..me..n..ung..gu..ha..r…i..it..u.”
Aku berhenti
mengunyah. Kupandangi wajahnya. Dia tampak menatap kosong ke depan, dengan
senyum di wajahnya. Aku memperhatikannya tanpa kata-kata. Dia mungkin sedang
membayangkan akan seperti apa Iseul saat menikah nanti. Aku menunggu beberapa
menit, melihat wajahhnya berubah ekspresi.
“Ada apa?”
tanyaku, tepat saat perhatiannya terfokus padaku.
Dia tersenyum
padaku. “D..ia..ter..l..i..h..at..sa..ng..a..t..ca..n…tik.”
Aku mengangguk.
“Ya, aku juga berpikir begitu.” Ucapku. Aku duduk di tepi ranjangnya.
“A..k..u..ha..r..a..p..a…ku..bi..sa..a..d..a..di..s..a..na.”
Aku merasa baru
saja mendapat sakit perut. Apa yang dibicarakan Jaejoong, kadang-kadang
membuatku merasa bahwa dia sudah menyerah. Tapi, aku hanya orang bodoh,
seseorang yang membuat si kembar tertawa, dan itu adalah peran yang harus
kumainkan setiap kali mereka berdua mulai menyerah.
Aku memutar mataku, membiarkan bibirku tertawa. “Ayolah, Jaejoong, kau akan ada
di sana, tak ada alasan bagimu untuk melewatkan kesempatan menghentikan
pernikahan di tengah-tengah dan mengatakan pada semua orang bahwa aku hanya
bermimpi.”
Jaejoong
tertunduk. Lalu dia menoleh padaku dengan senyum yang menyimpan banyak makna.
“K..a..u..ta..k..ha..r..u..s…me..m..ak..s..a..k..an..di..r..i..m..u.”
Senyum memudar
dari wajahku. “Jaejoong, aku tidak memaksakan diriku. Jika gadis yang aku sukai
dan teman terbaikku bahagia, maka tugasku sudah selesai. Percaya atau tidak,
perasaanmu sangat mempengaruhiku. Dan begitu juga hidupmu, karena jika aku
tidak pernah bertemu denganmu, aku tidak akan ada di sini sekarang.”
“J..a..ng..a..n..ka..t..a..ka..n..i…t..u.”
“Terima kasih,
Jae. Terima kasih untuk segalanya. Ini adalah kesempatanku untuk membalasmu.
Dengan cara menjagamu dan Iseul. Kau sangat berarti bagiku.”
Jaejoong
menatapku, matanya berkaca-kaca.
“Jaejoong! Demi
apapun, jangan menangis!” ucapku.
“M..ma..a..f.”
katanya, mengalihkan pandangan. Aku menoleh ke arah lain, mencoba menahan air
mataku.
“Apapun yang
terjadi… jangan menyerah, oke? Aku sudah bertahan hidup sejauh ini, hanya
untukmu. Kita harus bertahan hidup bersama. Itu satu-satunya cara untuk membuat
Iseul bahagia, kan? Dan itulah tujuan kita, membuatnya bahagia.”
Aku menatap
Jaejoong yang mengangguk. Dia memegangi kepalanya. Aku memalingkan wajah dengan
cepat, menyeka air mata yang baru saja menetes.
“Kau bilang,
saat pertama kita bertemu, kau ingin bersama Iseul sampai kau tua, menjaganya.
Kau bilang kau ingin membalas semua yang telah dia lakukan.” Ucapku. “Lebih
baik kau melakukan itu, Jae. Aku tidak bisa pergi jika kau masih memiliki
hutang, dan aku bersumpah aku tidak akan pernah membiarkanmu harus membayar
hutangku padanya. Kita berdua memiliki hutang yang harus dibayar, dan kita
harus melakukannya.”
“Y…ea..h” jawab
Jaejoong. “P..as..t..i.” dia menambahkan, suaranya lirih.
“Janji?”
tanyaku, masih memalingkan wajah darinya.
“Ja..n..j..i.A..ku..ha..r..u..s..mem..ba..y…ar…se..m..u..a..ya..ng..s..ud..a..h..di..la..k..u..kan..ny..a.
Se…ka..l..i..p..un..ya..ng..t..i..d..ak..ing..i..n..di..l..a..ku..k..an..ny..a.”
“Itu bisa
diatur.”
Iseul POV
Sirine terngiang
sekali lagi di telingaku, sebuah gangguan bagi orang yang sedang tidur. Aku
menatap suster dan dokter yang berlalu-lalang di hadapanku dengan terburu-buru.
Tak satupun dari mereka berhenti di depanku… tak satupun dari mereka
memberitahuku apa yang terjadi dengannya.
Aku menatap ruangan kosong, air mata jatuh begitu saja.
Kenapa?
Kenapa takdir
harus menggariskan seperti ini?
Kenapa takdir
mengharuskanku menjalani semua ini?
“Iseul..”
terdengar suara gelisah. Aku menatap Mrs. Jung. Matanya merah karena menangis.
“Mrs. Jung!”
ucapku. Aku berdiri seketika. “Maaf… aku tidak tahu harus melakukan apa, aku
membawanya ke sini. Aku.. aku..” suaraku hilang. Air mata terus membanjiri
wajahku.
“Tak masalah.”
Mrs. Jung menenangkan, berusaha memberiku senyuman. “Apa kau sudah mendengar
sesuatu?”
Aku
menggelengkan kepalaku. “Kami sampai di sini belum begitu lama, mereka mungkin
masih memeriksanya.”
Mrs. Jung
mengangguk. Dia meraih tanganku. “Terima kasih, Iseul. Jika tak ada kau, aku
tak tahu kalau dia harus dilarikan ke rumah sakit. Aku sangat bodoh karena
bekerja pada sip 3… hanya itu yang aku pikirkan… kami sangat dekat… sangat
dekat untuk merasakan telepati.” Air mata mulai jatuh di wajahnya.
“Mrs. Jung..”
ucapku. “Apa kau baik-baik saja?”
Dia mengangguk
pelan. “Aku hanya… aku tidak pernah membayangkan dia akan jatuh lagi. Dia
tampak sangat sehat kemarin… jadi…”
Aku mengangguk.
Semalam aku mendengar suara petir. Aku pikir itu menakutkan… badai di tengah
musim dingin. Petir sangat membuatku takut, dan kapanpun terjadi badai, aku
akan pergi ke kamar Jaejoong dan dia akan membuatku nyaman. Selama kami
anak-anak, Jaejoong selalu membuatku merasa seperti itu.
Tapi semalam…
aku menemui Yunho. Aku memasuki kamarnya dan berusaha membangunkannya. Dia
tidak bereaksi. Saat itu aku menyadari… bahwa dia tidak bernapas dengan benar.
Aku terkejut
sekali selama beberapa saat setelah aku mencoba CPR. Aku tercekat melihat
bahunya memar. Kucoba berhenti menangis dan tetap berpikir jernih. Aku
memanggil ambulans tepat setelah menghubungi ibunya.
“Kenapa dia
tidak memberitahuku… dia…” Mrs. Jung berkata.
Aku tidak tahu
harus menjawab apa. Aku ingat bahwa kemarin pagi, aku berusaha untuk terlihat
lebih baik di kelasnya dan dia menjauhkan lengannya dariku, saat itu kukira dia
berpikir bahwa aku akan melihat sesuatu. Dan dia memang tak ingin aku
melihatnya. Dia sudah tahu… dia tahu dia akan segera jatuh jika aku memegang
lengannya.
“Keluarga Jung
Yunho?” aku mendengar dokter memanggil. Aku menatap Mrs. Jung terburu-buru
menghampirinya.
“Ya, dokter?”
tanyanya.
“Maaf aku harus
mengatakan hal ini, tapi puteramu sudah terjatuh, tekanan darah putihnya sangat
tinggi. Kita akan mulai kemoterapi secepat yang kami bisa.” Katanya.
Mrs. Jung
mengangguk untuk mengiyakan perkataan dokter. “Ya, ya, terima kasih, dokter.
Apa dia sudah sadar? Bisakah aku melihatnya?”
“Tentu.” Jawab
dokter. “Di kamar sebelah kiri.” Dokter mulai beranjak pergi. Aku menatap Mrs.
Jung yang menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan teriakan. Aku bangun
perlahan dari kursiku dan berjalan mendekatinya.
Dia benar-benar
mengingatkanku pada ibuku. Reaksi yang sama dari ibuku setiap kali Jaejoong
terjatuh. Mereka tak pernah menginginkannya… tak seorangpun yang pernah
menginginkannya.
“Mrs. Jung?”
tanyaku. Dia menatapku dengan mata basah. “Ayo kita lihat Yunho.”
Dia mengangguk.
Aku tersenyum padanya dan merangkulkan lenganku ke bahunya. Perlahan, aku
membimbingnya berjalan ke kamar Yunho.
Ketika kami
masuk, hal pertama yang dilakukannya adalah marah.
“Yunho!! Kau
bodoh! Kenapa kau tidak memberitahuku?!” katanya, seraya berlari ke samping
Yunho. Dia menatap ibunya, dengan mata sendu. Dia menelan ludah untuk menahan
tangis. “Kenapa kau merahasiakannya?! Kenapa?!”
Dia menjatuhkan
kepalanya ke tangan dan mulai tesedu-sedu.
“Ibu.” Ucap Yunho
tegas. Dia menggapaikan tangannya untuk mengelus rambut ibunya. Aku melihat
memar di lengannya, aku mendengar kelelahan di suaranya. Kenapa semua itu
tampak sangat jelas sekarang?
“Maafkan aku,
bu… aku kira… aku kira aku bisa mengalahkannya… maafkan aku, bu… maafkan aku.”
Katanya dengan berurai air mata.
“Apa kau
mendengarku, Bu? Maafkan aku. Maafkan aku. Aku tak ingin melihatmu seperti ini
lagi. Aku ingin mengalahkannya… lepas darinya… maafkan aku.”
Mrs. Jung
kembali menangis. Aku berjalan ke arah Yunho.
“Iseul..”
katanya. “Lihatlah aku. La—“
Aku menahannya.
Tanganku diletakkan di bibirnya. Dia mengedipkan matanya dengan heran,
eksresinya penuh keterkejutan. Mrs. Jung menoleh dan menatapku.
Aku menatap
lututku. “Yunho… kau bodoh!!!” teriakku, akhirnya bisa mengeluarkan semua emosi
yang terpendam dalam diriku. “Kau benar-benar bodoh!! Kenapa kau melakukannya?!
Kenapa kau menyembunyikan sesuatu yang begitu penting?! Bagaimana bisa…
bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu… bagaimana jika aku tidak membawamu
ke sini… bagaimana jika…” aku berhenti, suaraku tak mampu lagi mengalir dan air
mata membanjiriku.
Dia adalah orang
bodoh.
Seorang bodoh
yang membuatku tersenyum sepanjang waktu.
Seorang bodoh
yang menggenggam tanganku saat tak ada seorangpun yang menolongku.
Seorang bodoh
yang selalu berdiri di sampingku.
Seorang bodoh
yang selalu menenangkanku setiap kali aku menangis.
Seorang bodoh
yang memberiku segalanya tanpa mengharap balasan apapun.
Dan apa yang
kulakukan? Aku tidak bisa melakukan apapun. Karena dia berusaha untuk
berperang… untuk tetap hidup. Dan aku tidak seperti itu, aku melakukan hal yang
sebaliknya. Aku seperti orang jahat. Aku tidak pernah bisa memahami situasinya.
Aku merasakan
ada tangan yang menyentuh bahuku. “Iseul… Yunho memang bodoh. Kau tidak akan
pernah tahu semua hal bodoh yang telah dilakukannya. Tapi jangan pernah… jangan
pernah sekali-kali… kau berpikir bahwa ini salahmu.” Jelas Mrs. Jung.
“Kau juga harus
menjalankan saran itu, Bu.” Ucap Yunho.
“Diamlah… kau
hanya perlu istirahat dan jangan lakukan apa-apa.” Katanya. Aku mendengar
kecemasan dalam suaranya. “Ayo, Iseul, tak apa-apa, hanya jangan bicara padanya
selama satu jam, itu akan jadi hukuman yang tepat, ayo, kita pergi, sayang.”
Tiba-tiba aku
merasakan seseorang mencengkram bahuku. Genggamannya lemah. Yunho bangun dan
membuatku menatapnya. Dia tersenyum padaku. “Aku baik-baik saja, Iseul”
katanya. “Sampai jumpa… pada kesempatan lain, jika aku bisa melihatmu tertidur
lagi.”
Aku merasa
terpukul oleh kata-katanya lagi. Dia tersenyum padaku. Aku mendekat padanya,
melingkarkan lenganku ke lehernya. Aku ingin lebih dekat dengannya… dia yang
begitu berarti bagiku, sama seperti Jaejoong.
Dan sama seperti
Jaejoong… jika aku kehilangan dia… aku akan benar-benar hancur.
“Apa kau siap?”
tanya Yunho, menatapku dengan mata sendu. Aku mengangguk. “Maafkan aku, aku tak
bisa ada di sana… mereka tak ingin aku pergi.” Katanya.
“Tak masalah.”
Jawabku. Kemoterapi sudah dimulai, tapi dia sudah kehilangan banyak rambut. Aku
merasa tenggorokanku kering. Aku ingin dia ada di sana, menemaniku. Aku tidak
ingin ada di sana sendiri, dan aku membutuhkannya untuk membuatku lebih baik.
Dia harus segera sembuh.
Yunho tersenyum
padaku. “Oke, apapun yang kau inginkan, telepon saja aku.”
Aku mengangguk.
“Iseul!” datang
suara Mr. Park. “Kau harus segera ke sana, kita akan segera pergi.”
“Oke.” Ucapku.
Yunho tersenyum.
“Aku selalu di sini, mendukungmu dari jauh.”
Aku mengangguk.
Aku bangun untuk pergi, tapi sebelum aku melangkah, aku berbalik dan memeluknya
erat.
Yunho POV
Ya, hatiku
bergetar saat Iseul memelukku. Ini adalah kedua kalinya dia memelukku. Waktu
itu aku merasa dia seperti menekan oksigen dalam tubuhku, bukan karena dia
merangkul terlalu erat, tapi karena aku tidak bisa bernapas dengan benar jika
terlalu dekat dengannya.
Jangan tanyakan
kenapa aku tidak memberitahu siapapun. Kenapa tak seorangpun tahu aku akan
jatuh. Baiklah, aku berencana untuk menjadi bodoh sampai akhir nanti, kan?
Jadi, aku terus menjadi orang bodoh… selalu.
“Terima kasih… terima
kasih untuk segalanya, Yunho.” Ucap Iseul.
Aku tersenyum.
“Jangan khawatir, Iseul. Tetaplah tegar.” Jawabku. Dia melepaskan pelukannya
dan menatapku. Diapun mengangguk.
“Aku akan
mencobanya.”
Saat itu, tepat
sebelum aku tahu bahwa dia akan pergi, aku tidak tahu kenapa… tapi aku merasa…
ini adalah hasrat yang sangat gila. Hasrat yang tak bisa kuhentikan. Hasrat
yang membuatku meraih tangannya dan memeluknya seketika.
“Yunho?”
tanyanya, ketika aku membelai rambutnya. Aku menarik diri darinya dan menatap
mata cokelatnya yang tengah menatapku polos.
Aku tidak
berpikir dua kali tentang ini.
Aku hanya ingin
melakukannya.
Aku lelah
terus-menerus menunggu.
Aku sudah
berjuang cukup lama, jadi…
Mungkin aku
harus mencoba untuk melakukan hal ini.
Aku tidak akan
menyerah… dan aku ingin dia tahu. Sebelum dia memasuki ruang persidangan, aku
ingin dia tahu betapa berharganya dia bagiku.
Jadi aku mencium
keningnya.
Aku memejamkan
mataku. Ciuman itu hanya beberapa detik. Aku menarik diriku dan tersenyum
padanya. Dia menatapku, aku tahu dia sangat terkejut.
“Ingatlah ini
selalu, Iseul… tak akan terjadi apa-apa.” Ucapku. Dia masih memandangiku.
“Aku
mencintaimu.” Ucapku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar