Welcome

Minggu, 20 Mei 2012

The Gangster (part 3)

“Jaejoong-sshi apa yang terjadi dengan jas mu?” Teriak Ibu panti asuhan kepada Jaejoong. Ia melotot menatap jas yang di genggam Jaejoong penuh dengan cairan kental seperti kuning dan putih telur. “Kau berhutang penjelasan kepadaku!”

Jaejoong diam dan terus berjalan tanpa menghiraukan teriakan marah sang Ibu panti asuhan. Orang yang selama ini mengasuhnya.

Ya! Kim Jaejoong adalah anak yang di buang oleh orang tuanya, anak yang tidak di hargai karena telah lahir kedunia ini. Nyonya Kim adalah malaikat penolongnya, walaupun Jaejoong tidak pernah menganggapnya sebagai ibu kandungnya. Jaejoong sangat membenci ketika dia harus tinggal di panti asuhan, jika ia boleh memilih maka ia akan memilih hidup di jalan bukan di panti asuhan seperti ini.

“Jaejoong-sshi aku berbicara padamu!” Nyonya Kim berkata dengan tegas. Membuat Jaejoong menghentikan langkahnya dan membalikan badannya untuk menatap Nyonya Kim.

Jaejoong terdiam, menunggu kalimat selanjutnya yang akan meluncur dari bibir Nyonya Kim. “Apa yang ingin umma dengar?” Tanya Jaejoong saat Nyonya Kim tidak mengeluarkan sepatah kata lagi.

“Apa yang terjadi dengan jas-mu? Kenapa kotor seperti itu? Kau berkelahi lagi?” Tanya Nyonya Kim bertubi-tubi, pertanyaan kuno seorang ibu yang cemas akan keadaan anaknya. Tapi tidak dengan Jaejoong, dia menganggap pertanyaan itu sebagai pertanyaan biasa. Nyonya Kim maju beberapa langkah agar lebih dekat dengan Jaejoong.

“Tidak.” Jawanya singkat.

“Jawaban macam apa itu?” Ujar Nyonya Kim. “Aku bertanya beberapa pertanyaan kepadamu dan kau hanya menjawab dengan 1 kata.”

“Umma, kau bertanya terlalu banyak. Aku tidak berkelahi.” Jaejoong menjawab 1 pertanyaan dari beberapa pertanyaan yang di ajukan.

“Lalu mengapa jas-mu kotor seperti itu?”

“Saat kami berada di laboratorium Biologi seseorang tidak sengaja menumpahkan cairan telur ini.” Jawab Jaejoong berbohong.

“Jaejoong.” Kata Nyonya Kim lirih. “Kau tau sudah berapa kali kau pindah sekolah?”

“Sudah tak terhitung kurasa.” Jawab Jaejoong tanpa dosa.

“Reputasimu sudah terlalu buruk. Jika kau di keluarkan karena membuat masalah lagi maka kau tak akan melanjutkan sekolah!” kata Nyonya Kim tegas.

“Kalau begitu, kenapa tidak sekarang? Aku tak ingin bersekolah di sana.” Jaejoong kembali menjawab tanpa berfikir panjang. Dia menjawab tanpa memikirkan perasaan orang lain, perasaan ibu yang telah membesarkannya. “Aku ingin pindah. Sekolah itu hanya untuk anak-anak yang sombong karena kekayaan orang tua mereka.”

“Astaga Jaejoong. berapa kali kau harus pindah sekolah?” Keluh Nyonya Kim. “Terserah kau mau sekolah atau tidak. Jika kau masih ingin bersekolah maka kau harus bersekolah Horikoshi Gakuen. Tidak ada pilihan!”

Sepertinya itu adalah keputusan terakhir Nyonya Kim, dia berjalan meninggalkan Jaejoong yang terdiam.

***

Nako berlari terburu-buru menuju tempat latihan Taekwondo. Hari ini adalah hari pertama latihan Taekwondo yang harus di jalankan oleh Nako. Ini adalah keputusan yang di ambil oleh Nako, dia tidak akan mundur.

SRAK!

Pintu terbuka, Nako yang masih memakai seragam sekolah masuk dengan terengah-engah, berusaha mengatur tarikan napasnya. “Maaf aku terlambat.” Kata Nako di tengah-tengah tarikan nafasnya yang berat.

“Baru hari pertama kau sudah terlambat.” Sindir Yunho. “Cepat kau ganti baju dan temui aku dalam waktu 3 menit!”

“Baik!” Jawab Nako lantang.

3 menit waktu yang di butuhkan Nako untuk berganti baju, untuk pertama kalinya Nako memakai seragam putih yang disebut baju latihan. Nako sering melihatnya di televisi atau saat member klub Taekwondo latihan tapi ini pertama kalinya Nako memakai seragam putih itu.

“Maaf aku sedikit kesulitan memakai bajunya.” Kata Nako sambil membungkuk kearah Yunho yang sedang memimpin semua anggota klub Taekwondo untuk pemanasan.

Yunho menatap tajam kearah Nako, yang masih menunduk. “Kau terlambat, push-up 40 kali.”

“Apa?!” Tanya Nako kaget. “Aku hanya terlambat 4 menit!”

“Membantah ketua, push-up 50 kali.” Kata Yunho masih menatap tajam Nako. Mungkin ini salah satu cara Yunho membalas dendam terhadap Nako.

“Tadi kau bilang 40 kali.” Kata Nako yang tak mau kalah.

“Membantah lagi, tambal 10 kali.” Nako melotot kearah Yunho. Dia tega sekali memperlakukan Nako seperti ini.

“Kau ingin membuat tanganku patah?”

“Kau ini gadis yang keras kepala sekali.” Geram Yunho “Jika kau tak mau melakukannya maka kau boleh keluar dari sini!”

“Baik, aku akan push-up. 60 kali kan?” Tanya Nako memastikan

Yunho diam tidak menjawab pertanyaan Nako, jadi Nako mulai turun dan bersiap untuk push-up.
1… 2.. 3…… 59.. 60.. Nako kembali berdiri, dia terlihat sedikit pucat. Tangannya terkulai lemah.

“Aku sudah melaksakan perintahmu.” Kata Nako ketus.

“Lama sekali.” Cibir Yunho. “Kau baru selesai push-up sedangkan yang lainnya sudah selesai pemanasan. Kau ini wanita lemah.”

“Atas dasar apa kau menyebutku wanita lemah?” Tantang Nako

“Karena kau mudah untuk di tindas.” Jawabnya.

***

“Baik hari ini kita cukup latihan sampai disini.” Teriak Yunho memberi aba-aba untuk bubar. Semua anggota klub keluar meninggalkan tempat latihan.

Hanya Nako dan Yunho yang tersisa, mereka saling menatap tajam. Perasaan aneh yang dirasakan Nako kembali muncul.

Apakah ini perasaan cinta? Atau perasaan kasihan? Nako menepis jauh-jauh perasaan itu. Dia tak mungkin jatuh cinta dengan Yunho. Orang yang selalu menindasnya.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” Tanya yunho menyelediki.

Nako segera memalingkan wajahnya, menyembunyikan semburat warna merah merona yang muncul di pipinya.

 “Kau menyukaiku?” Tanya Yunho.

“Buat apa aku menyukaimu, kalau masih ada laki-laki yang lebih baik darimu.”

“Kau menyukai laki-laki cantik itu?”

“Siapa? Kim Jaejoong maksudmu?”

“Siapa lagi, bahkan dia lebih cantik dari pada dirimu.”

“Aku tak peduli.” Jawab Nako mengambil tas, dia berniat untuk pulang karena dia tak mau berlama-lama disini bersama setan itu. “Aku harus pulang, permisi!”

***

Langkah kaki Nako menjadi satu-satunya suara yang terdengar di ruangan besar itu. Nako merasa niatnya untuk mempelajari beladiri menjadi surut karena sikap tidak ramah yang ditunjukkan Yunho. Ia merasa tak pernah diterima di kalangan anak-anak Korea ini. Dan memang tidak akan pernah.

“Tunggu!” sebuah suara lantang menghentikan langkah Nako yang bahkan belum sampai ke pintu. Nako menoleh ke belakang, melihat Yunho bersidekap sambil menatapnya dengan alis mengerut. “Enak saja kau pulang. Kau bahkan belum melakukan pelatihan pertamamu sebagai anggota baru.”

Nako tidak menjawab apa-apa. Dia hanya diam sambil memandangi Yunho dengan dingin. Para anggota klub taekwondo yang lain masih banyak yang juga berada di ruangan itu. Mereka memperhatikan Nako yang berdiri mematung seperti batu es. Yunho mulai mendekat, dan berhenti tepat saat jaraknya hanya 2 meter dari Nako. Jantung Nako berdebar-debar saat pandangannya menabrak tatapan Yunho yang lurus ke wajahnya. Ia belum pernah selekat ini menatap mata Yunho yang bening dan tajam.

“Kau jangan khawatir, aku tidak akan menyiksamu di pelatihan pertama ini.” Ucap Yunho dengan senyum yang agak dipaksakan. Alis Nako terangkat keheranan. “Aku sudah menyiapkan pelatih yang paling cocok untuk mendidikmu menjadi anggota klub yang hebat.”

“Pelatih?” Nako merasa agak kecewa karena ia tak jadi berdua-duaan dengan Yunho.

“Ya, itu dia pelatihmu.” Yunho menunjuk seseorang yang duduk di tepi area taekwondo dengan memakai jaket hitam dan celana denim santai. Sama sekali tidak terlihat sebagai salah satu anggota klub. Mata Nako terbelalak menatap sosok yang kini tersenyum sinis padanya. Sosok Park Yoochun. Bagaimana mungkin? Park Yoochun akan jadi pelatihnya?

“Kenapa harus dia yang melatihku?” tanya Nako dengan nada memprotes.

“Aku tidak sempat mengurusi orang lemah sepertimu, anak Jepang. Sudah untung Yoochun bersedia melatihmu. Seharusnya kau bersujud di kakinya dan mengucapkan seribu terima kasih.”

Nako mengepalkan tinjunya penuh amarah. Dia ingin berteriak pada Yunho bahwa sebenarnya di ingin Yunho yang melatihnya. Dia ingin melewati hari-hari melelahkan bersama Yunho, bukan bersama Yoochun atau yang lainnya. Lagipula, sejak kapan Yoochun ada di situ? Ia bahkan tidak melihat Yoochun ikut latihan bersama anggota klub taekwondo yang lain.

“Hei! Kau dengar aku tidak?!” suara lantang Yunho membuat Nako tersadarkan dari lamunannya.

“Aku dengar.” Ucap Nako dingin. “Jadi kapan aku harus mulai latihan dengan Yoochun?”

“Panggil aku sabom!!” Yoochun tiba-tiba menghentakkan kakinya di depan Nako. Bahkan Nako sama sekali tidak menyadari bahwa Yoochun sudah berada di dekatnya.

“Tapi kan kita seumuran…”

“Di klub ini tidak mengenal umur! Kau harus panggil sabom pada pelatihmu!!” Yoochun membentak Nako dengan cukup keras dan intonasi yang sangat kasar. Perbuatan yang membuat para anggota klub yang lain berbisik-bisik sambil mencemooh Nako. Pandangan Nako tertuju pada Yunho yang masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Nako berharap Yunho akan menolongnya dari kekejaman Yoochun, tapi ia baru sadar bahwa hal itu tak mungkin terjadi. Nako justru merasa, sepertinya Yunho dan Yoochun sudah merancang sebuah rencana untuk menyiksanya selama pelatihan keanggotaan ini.

“Maaf, sabom. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Ucap Nako seraya membungkuk dalam.

“Ya sudah, kalau begitu, kau tunggu aku di lapangan sekolah. Aku akan menyusul setelah ganti baju.”

“Baik, sabom!” Nako segera menjalankan perintah. Ia keluar dari ruangan dan segera menuju lapangan sekolah yang sudah sepi karena hari sudah sore. Ia berjanji akan menyelesaikan pelatihan ini dengan baik, agar ia bisa secepatnya lepas dari Yoochun dan bisa melihat Yunho setiap hari di tempat latihan.

Tak lama kemudian, Yoochun muncul menyusul Nako di lapangan. Ia memakai seragam putih dengan ikat pinggang warna merah. Nako menatap ikat pinggangnya sendiri. Masih putih. Dan ia tidak tahu sejauh mana perbedaan tingkat antara dia dan Yoochun.

“Baiklah, untuk pemanasan, aku ingin kau berlari mengelilingi lapangan ini sebanyak 10 kali! Jika kau tidak bisa menyelesaikannya dalam 15 menit, aku akan memberikan tes yang lebih berat. Paham?!”

“Paham!”

“Lakukan.”

Nako segera berlari mengelilingi lapangan seperti apa yang diperintahkan Yoochun. Ia bertelanjang kaki, menahan rasa sakit dan panas saat harus berlari di atas tanah berkerikil itu. Lapangan ini sangat luas, dan rasanya memang tidak mungkin ia bisa menyelesaikan tugasnya dalam waktu 15 menit. Tapi ia tetap tidak menyerah. Saat putaran ke tiga, Nako sudah mulai merasa lututnya lemas dan dadanya panas. Ia ingin berhenti berlari. Ia sudah merasa pandangannya berkunang-kunang, tapi ia tak bisa berhenti. Jika ia berhenti, Yoochun mungkin akan menendang kakinya dan menyuruhnya melakukan sesuatu yang lebih melelahkan lagi. Jadi dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, ia tetap berlari.

Putaran ke empat, ke lima… ke enam… saat di putaran ke tujuh, ia merasa benar-benar harus berhenti. Jadi ia memperlambat langkahnya. Ia sangat kelelahan. Bahkan untuk bernapas saja ia harus membuka mulutnya agar tidak terlalu pengap. Lututnya sudah benar-benar lemas, tidak kuat lagi berjalan.

“Sa… bom…” ucap Nako terengah-engah. Suaranya hanya terdengar oleh dirinya sendiri, dan Yoochun kini sedang menatapnya dengan tajam, seolah mengisyaratkan untuk kembali berlari.

Nako menegakkan tubuhnya, melupakan kunang-kunang yang seperti berputar-putar di depan matanya. Ia berlari meskipun sangat pelan. Kakinya sudah penuh luka, bahkan berdarah akibat tergores kerikil-kerikil tajam saat ia berlari. Nako menyelesaikan putaran ke tujuh dengan kecepatan berlari yang bahkan lebih lambat dibandingkan kecepatan orang berjalan. Ia masih harus menyelesaikan tiga putaran lagi.

“Kau masih sanggup?!” teriak Yoochun. Nako mendengar teriakan itu, tapi bibirnya tak mengizinkan untuk menjawab. Ia hanya menoleh pada Yoochun dan menganggukkan kepala. Yoochun mungkin tidak melihat anggukan kepala Nako, tapi pria itu tidak bertanya lagi. Dia membiarkan Nako tetap mengitari lapangan dengan kaki penuh luka dan kecepatan yang begitu lambat. Tubuh gadis itu tampak oleng, dia seperti nyaris pingsan karena kelelahan. Namun entah bagaimana, Yoochun sama sekali tidak merasa cemas kalau-kalau Nako mengalami sesak napas karena dipaksa berlari.

Di putaran ke sepuluh, tubuh Nako sudah tak mengizinkannya untuk berlari. Ia jatuh terduduk dengan kedua tangan menutup wajahnya. Nako sudah merasa benar-benar pusing, pandangannya gelap.

“Hei! Kau masih sanggup?!” teriakan Yoochun terdengar lagi. Nako masih diam sebentar, ada air mata yang merembes ke sudut-sudut matanya. Tapi sesaat kemudian, dia kembali berdiri. Yoochun tersentak melihat Nako masih melangkahkan kaki lemasnya untuk menyelesaikan putaran terakhir itu. Walau sangat lambat, seperti anak merangkak, tapi Nako tetap mencoba berlari. Darah di telapak kakinya tak ia hiraukan sama sekali. Yoochun menatap Nako dengan tatapan tak percaya. Sampai akhirnya, Nako bisa menyelesaikan sepuluh putaran itu meski dalam waktu 35 menit. Nako jatuh seketika saat sampai di depan Yoochun. Dan ia tak ingat apa-apa lagi setelah itu.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar