“Jaejoong-sshi apa yang terjadi
dengan jas mu?” Teriak Ibu panti asuhan kepada Jaejoong. Ia melotot menatap jas
yang di genggam Jaejoong penuh dengan cairan kental seperti kuning dan putih
telur. “Kau berhutang penjelasan kepadaku!”
Jaejoong diam dan terus berjalan
tanpa menghiraukan teriakan marah sang Ibu panti asuhan. Orang yang selama ini
mengasuhnya.
Ya! Kim Jaejoong adalah anak yang
di buang oleh orang tuanya, anak yang tidak di hargai karena telah lahir
kedunia ini. Nyonya Kim adalah malaikat penolongnya, walaupun Jaejoong tidak
pernah menganggapnya sebagai ibu kandungnya. Jaejoong sangat membenci ketika
dia harus tinggal di panti asuhan, jika ia boleh memilih maka ia akan memilih
hidup di jalan bukan di panti asuhan seperti ini.
“Jaejoong-sshi aku berbicara
padamu!” Nyonya Kim berkata dengan tegas. Membuat Jaejoong menghentikan
langkahnya dan membalikan badannya untuk menatap Nyonya Kim.
Jaejoong terdiam, menunggu
kalimat selanjutnya yang akan meluncur dari bibir Nyonya Kim. “Apa yang ingin
umma dengar?” Tanya Jaejoong saat Nyonya Kim tidak mengeluarkan sepatah kata
lagi.
“Apa yang terjadi dengan jas-mu?
Kenapa kotor seperti itu? Kau berkelahi lagi?” Tanya Nyonya Kim bertubi-tubi,
pertanyaan kuno seorang ibu yang cemas akan keadaan anaknya. Tapi tidak dengan
Jaejoong, dia menganggap pertanyaan itu sebagai pertanyaan biasa. Nyonya Kim
maju beberapa langkah agar lebih dekat dengan Jaejoong.
“Tidak.” Jawanya singkat.
“Jawaban macam apa itu?” Ujar
Nyonya Kim. “Aku bertanya beberapa pertanyaan kepadamu dan kau hanya menjawab
dengan 1 kata.”
“Umma, kau bertanya terlalu
banyak. Aku tidak berkelahi.” Jaejoong menjawab 1 pertanyaan dari beberapa
pertanyaan yang di ajukan.
“Lalu mengapa jas-mu kotor
seperti itu?”
“Saat kami berada di laboratorium
Biologi seseorang tidak sengaja menumpahkan cairan telur ini.” Jawab Jaejoong
berbohong.
“Jaejoong.” Kata Nyonya Kim
lirih. “Kau tau sudah berapa kali kau pindah sekolah?”
“Sudah tak terhitung kurasa.”
Jawab Jaejoong tanpa dosa.
“Reputasimu sudah terlalu buruk.
Jika kau di keluarkan karena membuat masalah lagi maka kau tak akan melanjutkan
sekolah!” kata Nyonya Kim tegas.
“Kalau begitu, kenapa tidak
sekarang? Aku tak ingin bersekolah di sana.” Jaejoong kembali menjawab tanpa
berfikir panjang. Dia menjawab tanpa memikirkan perasaan orang lain, perasaan
ibu yang telah membesarkannya. “Aku ingin pindah. Sekolah itu hanya untuk
anak-anak yang sombong karena kekayaan orang tua mereka.”
“Astaga Jaejoong. berapa kali kau
harus pindah sekolah?” Keluh Nyonya Kim. “Terserah kau mau sekolah atau tidak.
Jika kau masih ingin bersekolah maka kau harus bersekolah Horikoshi Gakuen.
Tidak ada pilihan!”
Sepertinya itu adalah keputusan
terakhir Nyonya Kim, dia berjalan meninggalkan Jaejoong yang terdiam.
***
Nako berlari terburu-buru menuju
tempat latihan Taekwondo. Hari ini adalah hari pertama latihan Taekwondo yang
harus di jalankan oleh Nako. Ini adalah keputusan yang di ambil oleh Nako, dia
tidak akan mundur.
SRAK!
Pintu terbuka, Nako yang masih
memakai seragam sekolah masuk dengan terengah-engah, berusaha mengatur tarikan
napasnya. “Maaf aku terlambat.” Kata Nako di tengah-tengah tarikan nafasnya
yang berat.
“Baru hari pertama kau sudah
terlambat.” Sindir Yunho. “Cepat kau ganti baju dan temui aku dalam waktu 3
menit!”
“Baik!” Jawab Nako lantang.
3 menit waktu yang di butuhkan
Nako untuk berganti baju, untuk pertama kalinya Nako memakai seragam putih yang
disebut baju latihan. Nako sering melihatnya di televisi atau saat member klub
Taekwondo latihan tapi ini pertama kalinya Nako memakai seragam putih itu.
“Maaf aku sedikit kesulitan
memakai bajunya.” Kata Nako sambil membungkuk kearah Yunho yang sedang memimpin
semua anggota klub Taekwondo untuk pemanasan.
Yunho menatap tajam kearah Nako,
yang masih menunduk. “Kau terlambat, push-up 40 kali.”
“Apa?!” Tanya Nako kaget. “Aku
hanya terlambat 4 menit!”
“Membantah ketua, push-up 50
kali.” Kata Yunho masih menatap tajam Nako. Mungkin ini salah satu cara Yunho
membalas dendam terhadap Nako.
“Tadi kau bilang 40 kali.” Kata
Nako yang tak mau kalah.
“Membantah lagi, tambal 10 kali.”
Nako melotot kearah Yunho. Dia tega sekali memperlakukan Nako seperti ini.
“Kau ingin membuat tanganku
patah?”
“Kau ini gadis yang keras kepala
sekali.” Geram Yunho “Jika kau tak mau melakukannya maka kau boleh keluar dari
sini!”
“Baik, aku akan push-up. 60 kali
kan?” Tanya Nako memastikan
Yunho diam tidak menjawab
pertanyaan Nako, jadi Nako mulai turun dan bersiap untuk push-up.
1… 2.. 3…… 59.. 60.. Nako kembali berdiri, dia terlihat sedikit pucat. Tangannya terkulai lemah.
1… 2.. 3…… 59.. 60.. Nako kembali berdiri, dia terlihat sedikit pucat. Tangannya terkulai lemah.
“Aku sudah melaksakan
perintahmu.” Kata Nako ketus.
“Lama sekali.” Cibir Yunho. “Kau
baru selesai push-up sedangkan yang lainnya sudah selesai pemanasan. Kau ini
wanita lemah.”
“Atas dasar apa kau menyebutku
wanita lemah?” Tantang Nako
“Karena kau mudah untuk di
tindas.” Jawabnya.
***
“Baik hari ini kita cukup latihan
sampai disini.” Teriak Yunho memberi aba-aba untuk bubar. Semua anggota klub
keluar meninggalkan tempat latihan.
Hanya Nako dan Yunho yang
tersisa, mereka saling menatap tajam. Perasaan aneh yang dirasakan Nako kembali
muncul.
Apakah ini perasaan cinta? Atau
perasaan kasihan? Nako menepis jauh-jauh perasaan itu. Dia tak mungkin jatuh
cinta dengan Yunho. Orang yang selalu menindasnya.
“Kenapa kau melihatku seperti
itu?” Tanya yunho menyelediki.
Nako segera memalingkan wajahnya,
menyembunyikan semburat warna merah merona yang muncul di pipinya.
“Kau menyukaiku?” Tanya Yunho.
“Buat apa aku menyukaimu, kalau
masih ada laki-laki yang lebih baik darimu.”
“Kau menyukai laki-laki cantik
itu?”
“Siapa? Kim Jaejoong maksudmu?”
“Siapa lagi, bahkan dia lebih
cantik dari pada dirimu.”
“Aku tak peduli.” Jawab Nako
mengambil tas, dia berniat untuk pulang karena dia tak mau berlama-lama disini
bersama setan itu. “Aku harus pulang, permisi!”
***
Langkah kaki Nako menjadi
satu-satunya suara yang terdengar di ruangan besar itu. Nako merasa niatnya
untuk mempelajari beladiri menjadi surut karena sikap tidak ramah yang
ditunjukkan Yunho. Ia merasa tak pernah diterima di kalangan anak-anak Korea
ini. Dan memang tidak akan pernah.
“Tunggu!” sebuah suara lantang
menghentikan langkah Nako yang bahkan belum sampai ke pintu. Nako menoleh ke
belakang, melihat Yunho bersidekap sambil menatapnya dengan alis mengerut. “Enak
saja kau pulang. Kau bahkan belum melakukan pelatihan pertamamu sebagai anggota
baru.”
Nako tidak menjawab apa-apa. Dia
hanya diam sambil memandangi Yunho dengan dingin. Para anggota klub taekwondo
yang lain masih banyak yang juga berada di ruangan itu. Mereka memperhatikan
Nako yang berdiri mematung seperti batu es. Yunho mulai mendekat, dan berhenti
tepat saat jaraknya hanya 2 meter dari Nako. Jantung Nako berdebar-debar saat
pandangannya menabrak tatapan Yunho yang lurus ke wajahnya. Ia belum pernah
selekat ini menatap mata Yunho yang bening dan tajam.
“Kau jangan khawatir, aku tidak akan
menyiksamu di pelatihan pertama ini.” Ucap Yunho dengan senyum yang agak
dipaksakan. Alis Nako terangkat keheranan. “Aku sudah menyiapkan pelatih yang
paling cocok untuk mendidikmu menjadi anggota klub yang hebat.”
“Pelatih?” Nako merasa agak
kecewa karena ia tak jadi berdua-duaan dengan Yunho.
“Ya, itu dia pelatihmu.” Yunho
menunjuk seseorang yang duduk di tepi area taekwondo dengan memakai jaket hitam
dan celana denim santai. Sama sekali tidak terlihat sebagai salah satu anggota
klub. Mata Nako terbelalak menatap sosok yang kini tersenyum sinis padanya.
Sosok Park Yoochun. Bagaimana mungkin? Park Yoochun akan jadi pelatihnya?
“Kenapa harus dia yang
melatihku?” tanya Nako dengan nada memprotes.
“Aku tidak sempat mengurusi orang
lemah sepertimu, anak Jepang. Sudah untung Yoochun bersedia melatihmu.
Seharusnya kau bersujud di kakinya dan mengucapkan seribu terima kasih.”
Nako mengepalkan tinjunya penuh
amarah. Dia ingin berteriak pada Yunho bahwa sebenarnya di ingin Yunho yang
melatihnya. Dia ingin melewati hari-hari melelahkan bersama Yunho, bukan
bersama Yoochun atau yang lainnya. Lagipula, sejak kapan Yoochun ada di situ?
Ia bahkan tidak melihat Yoochun ikut latihan bersama anggota klub taekwondo
yang lain.
“Hei! Kau dengar aku tidak?!”
suara lantang Yunho membuat Nako tersadarkan dari lamunannya.
“Aku dengar.” Ucap Nako dingin.
“Jadi kapan aku harus mulai latihan dengan Yoochun?”
“Panggil aku sabom!!” Yoochun
tiba-tiba menghentakkan kakinya di depan Nako. Bahkan Nako sama sekali tidak
menyadari bahwa Yoochun sudah berada di dekatnya.
“Tapi kan kita seumuran…”
“Di klub ini tidak mengenal umur!
Kau harus panggil sabom pada pelatihmu!!” Yoochun membentak Nako dengan cukup
keras dan intonasi yang sangat kasar. Perbuatan yang membuat para anggota klub
yang lain berbisik-bisik sambil mencemooh Nako. Pandangan Nako tertuju pada
Yunho yang masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Nako berharap Yunho akan
menolongnya dari kekejaman Yoochun, tapi ia baru sadar bahwa hal itu tak
mungkin terjadi. Nako justru merasa, sepertinya Yunho dan Yoochun sudah
merancang sebuah rencana untuk menyiksanya selama pelatihan keanggotaan ini.
“Maaf, sabom. Aku tidak akan
mengulanginya lagi.” Ucap Nako seraya membungkuk dalam.
“Ya sudah, kalau begitu, kau
tunggu aku di lapangan sekolah. Aku akan menyusul setelah ganti baju.”
“Baik, sabom!” Nako segera
menjalankan perintah. Ia keluar dari ruangan dan segera menuju lapangan sekolah
yang sudah sepi karena hari sudah sore. Ia berjanji akan menyelesaikan
pelatihan ini dengan baik, agar ia bisa secepatnya lepas dari Yoochun dan bisa
melihat Yunho setiap hari di tempat latihan.
Tak lama kemudian, Yoochun muncul
menyusul Nako di lapangan. Ia memakai seragam putih dengan ikat pinggang warna
merah. Nako menatap ikat pinggangnya sendiri. Masih putih. Dan ia tidak tahu
sejauh mana perbedaan tingkat antara dia dan Yoochun.
“Baiklah, untuk pemanasan, aku
ingin kau berlari mengelilingi lapangan ini sebanyak 10 kali! Jika kau tidak
bisa menyelesaikannya dalam 15 menit, aku akan memberikan tes yang lebih berat.
Paham?!”
“Paham!”
“Lakukan.”
Nako segera berlari mengelilingi
lapangan seperti apa yang diperintahkan Yoochun. Ia bertelanjang kaki, menahan
rasa sakit dan panas saat harus berlari di atas tanah berkerikil itu. Lapangan
ini sangat luas, dan rasanya memang tidak mungkin ia bisa menyelesaikan
tugasnya dalam waktu 15 menit. Tapi ia tetap tidak menyerah. Saat putaran ke
tiga, Nako sudah mulai merasa lututnya lemas dan dadanya panas. Ia ingin
berhenti berlari. Ia sudah merasa pandangannya berkunang-kunang, tapi ia tak
bisa berhenti. Jika ia berhenti, Yoochun mungkin akan menendang kakinya dan
menyuruhnya melakukan sesuatu yang lebih melelahkan lagi. Jadi dengan segenap
kekuatan yang dimilikinya, ia tetap berlari.
Putaran ke empat, ke lima… ke
enam… saat di putaran ke tujuh, ia merasa benar-benar harus berhenti. Jadi ia
memperlambat langkahnya. Ia sangat kelelahan. Bahkan untuk bernapas saja ia
harus membuka mulutnya agar tidak terlalu pengap. Lututnya sudah benar-benar
lemas, tidak kuat lagi berjalan.
“Sa… bom…” ucap Nako
terengah-engah. Suaranya hanya terdengar oleh dirinya sendiri, dan Yoochun kini
sedang menatapnya dengan tajam, seolah mengisyaratkan untuk kembali berlari.
Nako menegakkan tubuhnya,
melupakan kunang-kunang yang seperti berputar-putar di depan matanya. Ia
berlari meskipun sangat pelan. Kakinya sudah penuh luka, bahkan berdarah akibat
tergores kerikil-kerikil tajam saat ia berlari. Nako menyelesaikan putaran ke
tujuh dengan kecepatan berlari yang bahkan lebih lambat dibandingkan kecepatan
orang berjalan. Ia masih harus menyelesaikan tiga putaran lagi.
“Kau masih sanggup?!” teriak
Yoochun. Nako mendengar teriakan itu, tapi bibirnya tak mengizinkan untuk
menjawab. Ia hanya menoleh pada Yoochun dan menganggukkan kepala. Yoochun
mungkin tidak melihat anggukan kepala Nako, tapi pria itu tidak bertanya lagi.
Dia membiarkan Nako tetap mengitari lapangan dengan kaki penuh luka dan
kecepatan yang begitu lambat. Tubuh gadis itu tampak oleng, dia seperti nyaris
pingsan karena kelelahan. Namun entah bagaimana, Yoochun sama sekali tidak
merasa cemas kalau-kalau Nako mengalami sesak napas karena dipaksa berlari.
Di putaran ke sepuluh, tubuh Nako
sudah tak mengizinkannya untuk berlari. Ia jatuh terduduk dengan kedua tangan
menutup wajahnya. Nako sudah merasa benar-benar pusing, pandangannya gelap.
“Hei! Kau masih sanggup?!”
teriakan Yoochun terdengar lagi. Nako masih diam sebentar, ada air mata yang
merembes ke sudut-sudut matanya. Tapi sesaat kemudian, dia kembali berdiri.
Yoochun tersentak melihat Nako masih melangkahkan kaki lemasnya untuk
menyelesaikan putaran terakhir itu. Walau sangat lambat, seperti anak
merangkak, tapi Nako tetap mencoba berlari. Darah di telapak kakinya tak ia
hiraukan sama sekali. Yoochun menatap Nako dengan tatapan tak percaya. Sampai
akhirnya, Nako bisa menyelesaikan sepuluh putaran itu meski dalam waktu 35
menit. Nako jatuh seketika saat sampai di depan Yoochun. Dan ia tak ingat
apa-apa lagi setelah itu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar