Jaejoong POV
Aku sangat cemas dengan keadaan Hana. Dia mengalami
pendarahan setelah berdebat denganku tadi malam. Dan saat ini, aku hanya bisa
duduk di samping ranjang Hana. Menatap wajah lelahnya yang tertidur lelap. Aku
khawatir terjadi apa-apa dengan kandungannya. Aku tak mau Hana dan anakku
sampai terluka. Dan sampai saat ini dokter masih belum bisa memastikan penyebab
pendarahan itu. Hasil uji laboratorium dan USG baru akan keluar beberapa jam
lagi. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Hana atau dengan bayiku, maka aku
akan menjadi satu-satunya orang yang patut disalahkan atas hal itu.
“Hana…” bisikku sambil menggenggam jemari halusnya
erat-erat. “Aku tidak tahu kalau kau akan seperti ini. Aku benar-benar
menyesal… tapi mustahil jika aku menolak tawaran itu. Aku sudah tak bisa
menggantungkan harapan hanya pada keutuhan DBSK saja. Aku mohon mengertilah
dengan keadaan kita saat ini…”
Rasanya saat itu aku ingin menangis. Aku merasa aku
tak pernah bisa membahagiakan Hana. Aku juga tak mengerti mengapa waktu itu dia
bersedia menikah denganku. Padahal aku sudah katakan padanya, mungkin waktuku
akan terbagi antara dia dan karir. Mungkin dia akan merasa kesepian karena
profesiku. Tapi dia menerima semua itu dengan lapang dada. Dia tak pernah bosan
memberikan dukungannya bahkan di saat aku sendiri merasa sudah harus menyerah.
Dia benar-benar wanita yang kuat. Aku bangga memiliki seorang pendamping
sepertinya. Dan aku berjanji bahwa aku tidak akan pernah rela jika harus
kehilangan anugerah terindahku ini.
Di saat aku tengah memandangi wajah tertidur Hana,
tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Di sana ada ibu mertuaku dan satu orang yang
terakhir kali kulihat di acara pernikahan aku dan Hana. Ya, itu adalah adik
iparku; Kyuhyun. Dia memang juniorku saat aku masih tergabung dalam DBSK. Tapi
aku tak pernah mengenalnya secara dekat. Dan aku bahkan baru tahu bahwa dia
adalah adiknya Hana setelah hampir satu tahun aku berpacaran dengan Hana.
“Bagaimana keadaan Hana?” tanya umma. Aku berdiri
perlahan dari kursiku. Melepaskan tangan Hana dan mencoba tidak membuat suara
gesekan antara kursi dan lantai.
“Dia sudah lebih baik. Sekarang dia sedang istirahat.”
Ucapku seramah mungkin.
Umma mengangguk, beliau lantas menggantikanku duduk di
kursi itu.
“Hyung…” suara Kyuhyun terdengar menyapaku. Aku
menoleh cepat. “Bisa kita bicara di luar?”
“Eh?” aku meminta pengulangan.
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Tentang apa?” aku merasa malas bicara dengannya dan
terlebih lagi, aku sedang ingin sekali bersama Hana saat ini.
“Tentang kakakku.”
Jawabannya membuatku merasakan sesuatu hal yang tidak
biasa. Apakah pada akhirnya anak ini akan melakukan tindakan yang selama ini
kupikirkan? Mengatakan sejujurnya padaku bahwa dia tak suka dengan hubunganku
dan Hana. Tapi bukankah saat ini waktunya sudah terlambat? Lalu apa yang ingin
dibicarakannya tentang Hana?
Karena merasa penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk
menuruti keinginannya saja.
“Baiklah.” Ucapku tak punya pilihan. “Di mana kau
ingin kita bicara?”
“Ikutlah denganku.” Kyuhyun memberi intruksi dan aku
menyempatkan diri untuk pamit pada ibu mertuaku sebelum akhirnya aku berlari
keluar menyusul Kyuhyun.
Rupanya dia membawaku ke parkiran. Aku tidak tahu apa
yang ingin dibicarakannya. Tapi aku berharap ini tidak akan lama.
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan? Aku tidak punya
banyak waktu.” Ucapku dingin.
“Aku ingin kau memberi penjelasan, bagaimana kakakku
bisa sampai masuk rumah sakit lagi.”
“Itu bukan urusanmu.”
“Dia kakakku! Bagaimana mungkin itu tidak menjadi
urusanku?!” Kyuhyun berteriak tepat di depan wajahku. Suaranya menyebabkan gema
yang membuat seluruh orang yang ada di parkiran ini menatap ke arah kami.
“Aku juga tidak tahu kenapa Hana bisa masuk rumah
sakit lagi!” balasku tak mau kalah.
“Jangan bohong!” Kali ini Kyuhyun mendorongku hingga
tertahan di tembok. Dia meng-angkat kerah kemejaku dan menatapku dengan garang.
“Aku tahu selama ini kau selalu menyakitinya! Kau ini suami macam apa, hah?!
Seharusnya umma dan appa tidak perlu merestui pernikahan kalian berdua! Karena
kau tidak pernah benar-benar mencintai kakakku!”
“Jangan seenaknya mengaturku, ya!” aku mendorong tubuh
Kyuhyun keras-keras. Kali ini dia benar-benar sudah membuatku marah. “Kau tidak
tahu apa-apa tentang masalahku! Dan kau tidak berhak menghakimiku seperti itu!
Kau pikir, jika aku tidak mencintai Hana, aku bersedia bersumpah setia di depan
gereja?! Kau pikir jika aku tidak mencintainya, apakah aku bisa mempertahankan
hubungan kami hingga 3 tahun lebih?! Kau pikir aku main-main dengan Hana?!”
emosiku sudah tak bisa dikendalikan lagi. Aku kembali mendorong tubuh-nya
hingga kini dia yang tertahan di tembok. Aku tak peduli dengan beberapa pasang
mata yang menatap ke arahku dengan tatapan curiga. Aku tidak terima Kyuhyun
seenaknya mengatakan sesuatu yang tak pernah diketahuinya secara pasti.
“Kalau kau memang serius dengannya, lalu kenapa kau
selalu menyakitinya?!”
BUAKK!!! Akhirnya aku melayangkan tinjuku. Rasa nyeri
bercampur perih menyatu saat aku melihat darah mengucur dari ujung tinjuku.
Kyuhyun masih menatapku tanpa berkedip. Akupun menarik tanganku kembali.
Menatap darah yang juga mengucur di tembok yang baru saja menjadi pelampiasan
kekesalanku.
“Kyuhyun…” ucapku dengan emosi tertahan. Aku bisa
mendengar tarikan napas Kyuhyun dengan sangat jelas. Dia tampak ketakutan
akibat melihat pukulanku pada tembok tadi. Lalu akupun melanjutkan kalimatku.
“Asal kau tahu saja. Aku belum pernah mencintai wanita manapun, seperti aku
mencintai Hana. Jadi jangan pernah berkata bahwa aku main-main dengannya.
Karena kau tidak tahu apa-apa tentang perasaanku.”
Setelah berkata seperti itu, aku langsung berjalan
meninggalkannya. Menerobos kerumunan orang yang sejak tadi memperhatikan kami.
***
Kyuhyun POV
Aku diam tak bergeming bahkan aku tak mengedipkan
mataku, menatap punggung Jaejoong hyung yang berjalan menerobos kerumunan dan
kembali ke gedung rumah sakit.
Beberapa pasang mata masih menatap kearahku memberi
kesan bahwa aku lah yang bersalah. Kenapa dia marah kepadaku? Padahal aku hanya
bertanya kepadanya..
Salahkah aku sebagai adik khawatir dengan keadaan
kakakku?
Cho Hana, dia adalah kakakku satu-satunya. Dia adalah
kakak yang sangat perhatian dan peduli terhadapku.
Dia selalu datang ke apartment untuk mengunjungiku
ataupun hanya sekedar untuk menanyakan kabarku. Membawakannku makanan,
memelukku dan menciumku. Sebagai kakak dia adalah kakak yang sempurna, bahkan
semua member Super Junior iri terhadapku karena aku mempunyai sosok kakak yang
sangat peduli dan perhatian.
Aku tak akan pernah memaafkan siapapun yang berani
melukai kakakku bahkan sampai membuatnya tergeletak tak berdaya di rumah sakit.
Sekalipun itu suaminya!
Kim Jaejoong, aku menghargainya sebagai senior-ku,
sebagai suami dari kakakku, sebagai kakak iparku. Tapi aku tak akan
memaafkannya jika dia berani melukai perasaan kakakku lagi. Jika dia mencintai
kakakku seharusnya dia tidak menyakitinya. Membuatnya menangis bahkan melukai
perasaannya!
“Sedang apa kau disini?” Sebuah suara membuyarkan
lamunanku.. Aku mengenal suara itu. Suara Yoochun hyung.
Aku menatap ke sekeliling, beberapa orang telah pergi
menyisakan beberapa pasang mata yang masih menatap ke arahku.
“Apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan Hana?”
Yoochun hyung kembali bertanya.
“Aku baik-baik saja. Noona baik-baik saja.”
Dia mengandeng tanganku “Lebih baik kita masuk kedalam
rumah sakit.”
Aku tak menjawab, jadi aku membiarkan dia menarik
tanganku membawaku masuk kedalam rumah sakit.
Tok-Tok-Tok
Yoochun hyung mengetuk pintu, dan seseorang
mengizinkannya masuk.
Yoochun hyung berjalan mendekati Jaejoong hyung yang
berada tepat di sebelah Kakakku. Dia terlihat cemas sekali. Dia menggenggam
erat tangan kakakku.
“Bagaimana dengan Hana?” Yoochun bertanya kepada
Jaejoong hyung.
“Seperti yang kau lihat.”Dia menjawab dengan malas,
tangannya membelai lembut rambut kakakku. “Sampai sekarang dia belum membuka
mata.”
Tangan Jaejoong hyung terlihat memar, dia belum
membesihkan lukannya. Tapi terlihat darahnya sudah membeku sehingga tidak
mengalir lagi.
Aku bersumpah jika dia berani menyakiti kakakku lagi,
maka aku tak akan membiarkannya menarik nafas kembali!
***
Yunho POV
Aku masih memikirkan bagaimana cara untuk mendekati Go
Ara. Sesulit apapun itu aku harus mendapatkannya. Go Ara, hanya dia harapan
terakhirku.
Aku mendapat informasi jika hari ini dia akan
mengunjungi gedung SM. Kurasa dia kan menggantikan posisi si tua Bangka itu
untuk sementara dan hari ini juga aku mempunyai jadwal untuk melatih anak-anak
asuhan SM yang lain.
Ini adalah salah satu cara untuk mendekati Go Ara. Aku
akan membuat dia bertekuk lutut dihadapanku.
“15 menit lagi, kita mulai kembali latihan
koreografi-nya!” Aku memberi peringatan untuk member SHINee, anak asuhan SM
yang harus kulatih. “Jangan sampai terlambat! Mengerti?”
“Ya!” kelima member SHINee menjawab dengan kompak.
Mengambil tas mereka dan berjalan
keluar, kurasa mereka membutuhkan energy tambahan..
Aku juga berniat untuk pergi mengisi perutku yang
sedari tadi meronta-ronta untuk diisi.
Aku memesan makanan dan mencari tempat duduk. Tapi tak satupun tempat duduk
yang masih kosong, kecuali meja yang di tempati Go Ara. aku menghampirinya..
“Boleh aku duduk disini?” Tanyaku.
“Tentu.” Dia tak menaikan wajahnya untuk melihat siapa
yang bertanya. Tetap sibuk pada makanannya. Dia menaikan wajahnya dan ekspresi
kaget terlihat jelas dari wajahnya.
“Kenapa kau duduk disini?”
“Tadi kau yang mengizinkanku duduk disini.” Aku
menjawab dengan malas.
“Benarkah?”
“Jangan berpura-pura bodoh.” Aku mulai menyantap ramen
yang ku pesan.
“Sedang apa kau di SM?” Dia menatap curiga kearahku.
“Mau memukuli siapa lagi?”
Aku tekekeh pelan walaupun tak ada sesuatu yang lucu.
“Sekarang aku menjadi guru tari buat anak-anak asuhan SM yang lain. Kau sendiri,
sedang apa kau disini?”
“Aku menggantikan posisi appa ku untuk sementara
waktu.”
“Pekerjaan yang sulit.” Aku bergumam pelan, dia hanya
mengangguk.
Hening, tak satupun dari kami mau memecahkan
keheningan. Kurasa kami sama-sama gugup.
“Yunho, apa kau sudah mendapatkan uang seratus juta
won?” Dia bertanya.
Apa maksudnya menanyakan hal seperti ini. aku sempat
merasa kesal, tapi aku harus menjaga sikapku atau aku akan membuat masalah
baru.
“Belum.” Jawabku seperti tanpa beban.
“Bagaimana jika kau tidak mendapat uang sebanyak itu
dalam waktu satu minggu?”
“Seperti yang kau tau, kami akan menerima surat dari
pengadilan.” Aku menatap kedua bola matanya. “Sudahlah, tak usah membahas
masalah ini.”
Go Ara terdiam, begitu pula aku.
“Kenapa kau tak marah padaku?” Aku bertanya. “Waktu
kau bersama umma-mu, kau bersikap kasar terhadapku.”
“Saat itu..” Dia terlihat gugup. “Saat itu aku merasa
kau orang yang sangat menyebalkan, tapi aku tahu bukan kau yang melakukannya.
Jadi aku mencoba memaafkanmu.”
“Oh begitu.”
Dia merenggut kesal, setelah argument-nya yang panjang
aku cuma menjawab dengan kata ‘Oh Begitu’.
Aku telah selesai makan dan aku menatap wajahnya.
menikmati setiap lekuk wajahnya. Aku melihat ada sisa saos yang menempel di
ujung bibirnya.
Aku mengambil sapu tangan.
“Maaf.”
Aku mengarahkan tanganku, membersihkan sisa saos yang
berada di ujung bibirnya. Dia terlihat sedikit kaget, dia menyentuh tanganku.
Aku melepaskan tanganku dan menyisakan sapu tanganku di tangannya.
Aku beranjak hendak pergi, meninggalkan dia yang masih
tersipu malu.
“Terima kasih.” Aku masih bisa mendengar suaranya.
***
Junsu POV
Jika benar jalan yang kupilih ini, aku akan pergi
setelah masalah ini selesai. Aku sudah tidak bisa melihat mereka lebih lama
lagi. Tidak bisa mempertahankan sesuatu yang sudah seharusnya aku buang. Jadi
aku memutuskan untuk menyudahi semuanya saja. Dan aku berharap setelah ini
mereka bisa menjalani hidup dengan tenang. Tanpa perlu memikirkan apapun yang
berhubungan dengan keutuhan grup ini. Grup yang memang sudah tak mungkin utuh
lagi.
Awalnya aku mengira, aku tak perlu ikut campur
mengenai masalah yang dialami Yoochun hyung. Dia yang membuat keributan, dia
juga yang harus mempertanggung jawabkannya. Tapi setelah aku melihat
kesetiakawanan dari rekanku yang lain, aku jadi merasa berdosa jika aku tidak
membantu mereka. Dan saat ini, hanya satu hal yang bisa kulakukan untuk
membantu mereka keluar dari masalah ini. Yaitu dengan, menyerahkan segalanya
yang kumiliki.
Setelah memarkir mobil, aku segera berjalan memasuki
gedung megah yang masih asing bagiku. Jujur, aku memang belum pernah ke sini.
Tapi aku sudah tahu pasti tujuanku datang ke sini. Ya, memang hanya satu
tujuan. Melepaskan kami berlima dari masalah dengan SM. Hanya untuk tujuan
itulah aku datang ke sini. Semua orang di sepanjang lobby memandangku dengan
tatapan yang sulit didefiniskan. Aku tahu mereka pasti mengenalku. Tapi mungkin
mereka bertanya-tanya kenapa aku ada di sini. Sendirian. Dan bahkan tidak
menyapa penerima tamu yang tadi sempat menawari bantuan padaku. Saat ini aku
memang sedang tidak butuh bantuan dari para penerima tamu. Karena yang ingin
kumintai bantuan saat ini adalah…
“Permisi.” Aku membuka pintu tanpa mengetuk terlebih
dahulu.
“Kim Junsu? Ada apa?”
Akupun menceritakan semuanya. Mengenai denda itu.
Mengenai kesulitan kami untuk men-dapat uang 100 juta won. Aku berharap dengan
cara ini aku bisa mendapatkan uang itu.
“Banyak sekali. Apa kau yakin ingin meminjamnya
dariku?” tanya Lee Junki.
Aku mengangguk tak berdaya.
“Lalu bagaimana kau bisa mengembalikan uang itu?”
“Aku bersedia menerima kontrak denganmu tanpa dibayar
sampai 100 juta won itu kembali padamu.”
“Kau dan keempat rekanmu?”
Aku menggeleng. “Tidak. Hanya aku. Kumohon jangan
libatkan mereka lagi.”
“Bagaimana mungkin aku tidak melibatkan mereka?
Sementara jumlah yang harus kau bayar…”
“Aku bisa menangani hal ini sendiri. Aku akan
membayarnya. Sungguh, aku tak perlu campur tangan mereka untuk membantuku
membayar hutang padamu.”
Sepertinya apa yang baru saja kukatakan cukup
mengagetkan bagi Lee Junki. Memang sulit dibayangkan jika aku bisa
mengembalikan uang sebanyak itu seorang diri. Tapi aku sudah tak punya pilihan
lagi. Jika harus menunggu sampai mereka berempat berkata iya, maka sampai
kapanpun uang itu tidak akan pernah bisa terbayar. Jadi sebaiknya aku memilih
untuk mem-bayar sendiri saja. Aku yakin aku mampu. Walau memang pasti akan
terasa sangat berat jika harus menjalani semuanya seorang diri.
“Aku tidak terlalu yakin kalau kau…”
“Kumohon, Tuan Lee. Aku akan melakukan apapun untuk
membayarnya. Yang terpenting saat ini adalah, mereka berempat bisa hidup tenang
setelah denda itu terbayar.”
“Tapi mereka pasti bertanya dari mana kau bisa
mendapatkan uang itu.”
“…”
“Menurutku, sebaiknya nanti kau katakan saja bahwa
uang itu kau dapat dariku. Siapa tahu dengan cara itu, mereka berempat akan
setuju untuk bersatu lagi di bawah managementku. Jadi kau takkan sendirian
menjalani semuanya.”
Aku memikirkan usulan Lee Junki. Sepertinya memang
benar jika mereka berempat akan merasa berhutang pada management ini. Tapi aku
tetap tidak yakin apakah mereka akan setuju jika harus bergabung kembali
menjadi DBSK. Sepertinya rasa trauma itu terlalu kuat dan kini tumbuh menjadi
tembok besar yang menghalangi kebersamaan kami. Bahkan setelah 3 tahun lamanya,
tembok itu tak juga menipis. Malah semakin tinggi dan besar hingga kami
terpisah semakin jauh.
“Baiklah.” Ucapku pasrah. “Aku akan katakan pada
mereka. Tapi jika mereka ternyata tidak setuju, maka aku akan tetap menjalani
semuanya sendirian.”
“Kau yakin tidak apa-apa?”
“Sangat yakin.”
Lee Junki mengangguk. Ia lalu menuliskan sesuatu pada
kertas cek-nya. “Ini uangnya. Ambillah kapan saja.”
Ucapnya sambil menyodorkan
cek itu padaku. Aku menerimanya, memandangi nominal yang tertulis di sana. 100
juta won. Jumlah yang kubutuhkan.
“Terima kasih, Tuan. Aku permisi dulu.” Ucapku
mengundurkan diri.
Akhirnya aku mendapatkan uang ini. Tak perlu menunggu
satu minggu lamanya, aku akan segera menemui ibu produser dan menyerahkan apa
yang dimintanya. Dengan begitu tak perlu ada yang terluka. Tak perlu ada
pertengkaran lagi. Semuanya akan selesai begitu uang ini kuserahkan pada ibu
produser.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar