Welcome

Rabu, 16 Mei 2012

DBSK comeback? (part 24)


Jaejoong POV

Aku sangat cemas dengan keadaan Hana. Dia mengalami pendarahan setelah berdebat denganku tadi malam. Dan saat ini, aku hanya bisa duduk di samping ranjang Hana. Menatap wajah lelahnya yang tertidur lelap. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan kandungannya. Aku tak mau Hana dan anakku sampai terluka. Dan sampai saat ini dokter masih belum bisa memastikan penyebab pendarahan itu. Hasil uji laboratorium dan USG baru akan keluar beberapa jam lagi. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Hana atau dengan bayiku, maka aku akan menjadi satu-satunya orang yang patut disalahkan atas hal itu.

“Hana…” bisikku sambil menggenggam jemari halusnya erat-erat. “Aku tidak tahu kalau kau akan seperti ini. Aku benar-benar menyesal… tapi mustahil jika aku menolak tawaran itu. Aku sudah tak bisa menggantungkan harapan hanya pada keutuhan DBSK saja. Aku mohon mengertilah dengan keadaan kita saat ini…”

Rasanya saat itu aku ingin menangis. Aku merasa aku tak pernah bisa membahagiakan Hana. Aku juga tak mengerti mengapa waktu itu dia bersedia menikah denganku. Padahal aku sudah katakan padanya, mungkin waktuku akan terbagi antara dia dan karir. Mungkin dia akan merasa kesepian karena profesiku. Tapi dia menerima semua itu dengan lapang dada. Dia tak pernah bosan memberikan dukungannya bahkan di saat aku sendiri merasa sudah harus menyerah. Dia benar-benar wanita yang kuat. Aku bangga memiliki seorang pendamping sepertinya. Dan aku berjanji bahwa aku tidak akan pernah rela jika harus kehilangan anugerah terindahku ini.

Di saat aku tengah memandangi wajah tertidur Hana, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Di sana ada ibu mertuaku dan satu orang yang terakhir kali kulihat di acara pernikahan aku dan Hana. Ya, itu adalah adik iparku; Kyuhyun. Dia memang juniorku saat aku masih tergabung dalam DBSK. Tapi aku tak pernah mengenalnya secara dekat. Dan aku bahkan baru tahu bahwa dia adalah adiknya Hana setelah hampir satu tahun aku berpacaran dengan Hana.

“Bagaimana keadaan Hana?” tanya umma. Aku berdiri perlahan dari kursiku. Melepaskan tangan Hana dan mencoba tidak membuat suara gesekan antara kursi dan lantai.

“Dia sudah lebih baik. Sekarang dia sedang istirahat.” Ucapku seramah mungkin.

Umma mengangguk, beliau lantas menggantikanku duduk di kursi itu.

“Hyung…” suara Kyuhyun terdengar menyapaku. Aku menoleh cepat. “Bisa kita bicara di luar?”

“Eh?” aku meminta pengulangan.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Tentang apa?” aku merasa malas bicara dengannya dan terlebih lagi, aku sedang ingin sekali bersama Hana saat ini.

“Tentang kakakku.”

Jawabannya membuatku merasakan sesuatu hal yang tidak biasa. Apakah pada akhirnya anak ini akan melakukan tindakan yang selama ini kupikirkan? Mengatakan sejujurnya padaku bahwa dia tak suka dengan hubunganku dan Hana. Tapi bukankah saat ini waktunya sudah terlambat? Lalu apa yang ingin dibicarakannya tentang Hana?

Karena merasa penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk menuruti keinginannya saja.

“Baiklah.” Ucapku tak punya pilihan. “Di mana kau ingin kita bicara?”

“Ikutlah denganku.” Kyuhyun memberi intruksi dan aku menyempatkan diri untuk pamit pada ibu mertuaku sebelum akhirnya aku berlari keluar menyusul Kyuhyun.

Rupanya dia membawaku ke parkiran. Aku tidak tahu apa yang ingin dibicarakannya. Tapi aku berharap ini tidak akan lama.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan? Aku tidak punya banyak waktu.” Ucapku dingin.

“Aku ingin kau memberi penjelasan, bagaimana kakakku bisa sampai masuk rumah sakit lagi.”

“Itu bukan urusanmu.”

“Dia kakakku! Bagaimana mungkin itu tidak menjadi urusanku?!” Kyuhyun berteriak tepat di depan wajahku. Suaranya menyebabkan gema yang membuat seluruh orang yang ada di parkiran ini menatap ke arah kami.

“Aku juga tidak tahu kenapa Hana bisa masuk rumah sakit lagi!” balasku tak mau kalah.

“Jangan bohong!” Kali ini Kyuhyun mendorongku hingga tertahan di tembok. Dia meng-angkat kerah kemejaku dan menatapku dengan garang. “Aku tahu selama ini kau selalu menyakitinya! Kau ini suami macam apa, hah?! Seharusnya umma dan appa tidak perlu merestui pernikahan kalian berdua! Karena kau tidak pernah benar-benar mencintai kakakku!”

“Jangan seenaknya mengaturku, ya!” aku mendorong tubuh Kyuhyun keras-keras. Kali ini dia benar-benar sudah membuatku marah. “Kau tidak tahu apa-apa tentang masalahku! Dan kau tidak berhak menghakimiku seperti itu! Kau pikir, jika aku tidak mencintai Hana, aku bersedia bersumpah setia di depan gereja?! Kau pikir jika aku tidak mencintainya, apakah aku bisa mempertahankan hubungan kami hingga 3 tahun lebih?! Kau pikir aku main-main dengan Hana?!” emosiku sudah tak bisa dikendalikan lagi. Aku kembali mendorong tubuh-nya hingga kini dia yang tertahan di tembok. Aku tak peduli dengan beberapa pasang mata yang menatap ke arahku dengan tatapan curiga. Aku tidak terima Kyuhyun seenaknya mengatakan sesuatu yang tak pernah diketahuinya secara pasti.

“Kalau kau memang serius dengannya, lalu kenapa kau selalu menyakitinya?!”

BUAKK!!! Akhirnya aku melayangkan tinjuku. Rasa nyeri bercampur perih menyatu saat aku melihat darah mengucur dari ujung tinjuku. Kyuhyun masih menatapku tanpa berkedip. Akupun menarik tanganku kembali. Menatap darah yang juga mengucur di tembok yang baru saja menjadi pelampiasan kekesalanku.

“Kyuhyun…” ucapku dengan emosi tertahan. Aku bisa mendengar tarikan napas Kyuhyun dengan sangat jelas. Dia tampak ketakutan akibat melihat pukulanku pada tembok tadi. Lalu akupun melanjutkan kalimatku. “Asal kau tahu saja. Aku belum pernah mencintai wanita manapun, seperti aku mencintai Hana. Jadi jangan pernah berkata bahwa aku main-main dengannya. Karena kau tidak tahu apa-apa tentang perasaanku.”

Setelah berkata seperti itu, aku langsung berjalan meninggalkannya. Menerobos kerumunan orang yang sejak tadi memperhatikan kami.

***

Kyuhyun POV

Aku diam tak bergeming bahkan aku tak mengedipkan mataku, menatap punggung Jaejoong hyung yang berjalan menerobos kerumunan dan kembali ke gedung rumah sakit.

Beberapa pasang mata masih menatap kearahku memberi kesan bahwa aku lah yang bersalah. Kenapa dia marah kepadaku? Padahal aku hanya bertanya kepadanya..

Salahkah aku sebagai adik khawatir dengan keadaan kakakku?

Cho Hana, dia adalah kakakku satu-satunya. Dia adalah kakak yang sangat perhatian dan peduli terhadapku.

Dia selalu datang ke apartment untuk mengunjungiku ataupun hanya sekedar untuk menanyakan kabarku. Membawakannku makanan, memelukku dan menciumku. Sebagai kakak dia adalah kakak yang sempurna, bahkan semua member Super Junior iri terhadapku karena aku mempunyai sosok kakak yang sangat peduli dan perhatian.

Aku tak akan pernah memaafkan siapapun yang berani melukai kakakku bahkan sampai membuatnya tergeletak tak berdaya di rumah sakit. Sekalipun itu suaminya!

Kim Jaejoong, aku menghargainya sebagai senior-ku, sebagai suami dari kakakku, sebagai kakak iparku. Tapi aku tak akan memaafkannya jika dia berani melukai perasaan kakakku lagi. Jika dia mencintai kakakku seharusnya dia tidak menyakitinya. Membuatnya menangis bahkan melukai perasaannya!

“Sedang apa kau disini?” Sebuah suara membuyarkan lamunanku.. Aku mengenal suara itu. Suara Yoochun hyung.

Aku menatap ke sekeliling, beberapa orang telah pergi menyisakan beberapa pasang mata yang masih menatap ke arahku.

“Apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan Hana?” Yoochun hyung kembali bertanya.

“Aku baik-baik saja. Noona baik-baik saja.”

Dia mengandeng tanganku “Lebih baik kita masuk kedalam rumah sakit.”

Aku tak menjawab, jadi aku membiarkan dia menarik tanganku membawaku masuk kedalam rumah sakit.

Tok-Tok-Tok

Yoochun hyung mengetuk pintu, dan seseorang mengizinkannya masuk.

Yoochun hyung berjalan mendekati Jaejoong hyung yang berada tepat di sebelah Kakakku. Dia terlihat cemas sekali. Dia menggenggam erat tangan kakakku.

“Bagaimana dengan Hana?” Yoochun bertanya kepada Jaejoong hyung.

“Seperti yang kau lihat.”Dia menjawab dengan malas, tangannya membelai lembut rambut kakakku. “Sampai sekarang dia belum membuka mata.”

Tangan Jaejoong hyung terlihat memar, dia belum membesihkan lukannya. Tapi terlihat darahnya sudah membeku sehingga tidak mengalir lagi.

Aku bersumpah jika dia berani menyakiti kakakku lagi, maka aku tak akan membiarkannya menarik nafas kembali!

***

Yunho POV

Aku masih memikirkan bagaimana cara untuk mendekati Go Ara. Sesulit apapun itu aku harus mendapatkannya. Go Ara, hanya dia harapan terakhirku.

Aku mendapat informasi jika hari ini dia akan mengunjungi gedung SM. Kurasa dia kan menggantikan posisi si tua Bangka itu untuk sementara dan hari ini juga aku mempunyai jadwal untuk melatih anak-anak asuhan SM yang lain.

Ini adalah salah satu cara untuk mendekati Go Ara. Aku akan membuat dia bertekuk lutut dihadapanku.

“15 menit lagi, kita mulai kembali latihan koreografi-nya!” Aku memberi peringatan untuk member SHINee, anak asuhan SM yang harus kulatih. “Jangan sampai terlambat! Mengerti?”

“Ya!” kelima member SHINee menjawab dengan kompak. Mengambil tas mereka dan berjalan keluar, kurasa mereka membutuhkan energy tambahan..
 
Aku juga berniat untuk pergi mengisi perutku yang sedari tadi meronta-ronta untuk diisi.
 
Aku memesan makanan dan mencari tempat duduk. Tapi tak satupun tempat duduk yang masih kosong, kecuali meja yang di tempati Go Ara. aku menghampirinya..

“Boleh aku duduk disini?” Tanyaku.

“Tentu.” Dia tak menaikan wajahnya untuk melihat siapa yang bertanya. Tetap sibuk pada makanannya. Dia menaikan wajahnya dan ekspresi kaget terlihat jelas dari wajahnya.

“Kenapa kau duduk disini?”

“Tadi kau yang mengizinkanku duduk disini.” Aku menjawab dengan malas.

“Benarkah?”

“Jangan berpura-pura bodoh.” Aku mulai menyantap ramen yang ku pesan.

“Sedang apa kau di SM?” Dia menatap curiga kearahku. “Mau memukuli siapa lagi?”

Aku tekekeh pelan walaupun tak ada sesuatu yang lucu. “Sekarang aku menjadi guru tari buat anak-anak asuhan SM yang lain. Kau sendiri, sedang apa kau disini?”

“Aku menggantikan posisi appa ku untuk sementara waktu.”

“Pekerjaan yang sulit.” Aku bergumam pelan, dia hanya mengangguk.

Hening, tak satupun dari kami mau memecahkan keheningan. Kurasa kami sama-sama gugup.

“Yunho, apa kau sudah mendapatkan uang seratus juta won?” Dia bertanya.

Apa maksudnya menanyakan hal seperti ini. aku sempat merasa kesal, tapi aku harus menjaga sikapku atau aku akan membuat masalah baru.

“Belum.” Jawabku seperti tanpa beban.

“Bagaimana jika kau tidak mendapat uang sebanyak itu dalam waktu satu minggu?”

“Seperti yang kau tau, kami akan menerima surat dari pengadilan.” Aku menatap kedua bola matanya. “Sudahlah, tak usah membahas masalah ini.”

Go Ara terdiam, begitu pula aku.

“Kenapa kau tak marah padaku?” Aku bertanya. “Waktu kau bersama umma-mu, kau bersikap kasar terhadapku.”

“Saat itu..” Dia terlihat gugup. “Saat itu aku merasa kau orang yang sangat menyebalkan, tapi aku tahu bukan kau yang melakukannya. Jadi aku mencoba memaafkanmu.”

“Oh begitu.”

Dia merenggut kesal, setelah argument-nya yang panjang aku cuma menjawab dengan kata ‘Oh Begitu’.

Aku telah selesai makan dan aku menatap wajahnya. menikmati setiap lekuk wajahnya. Aku melihat ada sisa saos yang menempel di ujung bibirnya.

Aku mengambil sapu tangan.

“Maaf.”

Aku mengarahkan tanganku, membersihkan sisa saos yang berada di ujung bibirnya. Dia terlihat sedikit kaget, dia menyentuh tanganku. Aku melepaskan tanganku dan menyisakan sapu tanganku di tangannya.

Aku beranjak hendak pergi, meninggalkan dia yang masih tersipu malu.

“Terima kasih.” Aku masih bisa mendengar suaranya.

***

Junsu POV

Jika benar jalan yang kupilih ini, aku akan pergi setelah masalah ini selesai. Aku sudah tidak bisa melihat mereka lebih lama lagi. Tidak bisa mempertahankan sesuatu yang sudah seharusnya aku buang. Jadi aku memutuskan untuk menyudahi semuanya saja. Dan aku berharap setelah ini mereka bisa menjalani hidup dengan tenang. Tanpa perlu memikirkan apapun yang berhubungan dengan keutuhan grup ini. Grup yang memang sudah tak mungkin utuh lagi.

Awalnya aku mengira, aku tak perlu ikut campur mengenai masalah yang dialami Yoochun hyung. Dia yang membuat keributan, dia juga yang harus mempertanggung jawabkannya. Tapi setelah aku melihat kesetiakawanan dari rekanku yang lain, aku jadi merasa berdosa jika aku tidak membantu mereka. Dan saat ini, hanya satu hal yang bisa kulakukan untuk membantu mereka keluar dari masalah ini. Yaitu dengan, menyerahkan segalanya yang kumiliki.

Setelah memarkir mobil, aku segera berjalan memasuki gedung megah yang masih asing bagiku. Jujur, aku memang belum pernah ke sini. Tapi aku sudah tahu pasti tujuanku datang ke sini. Ya, memang hanya satu tujuan. Melepaskan kami berlima dari masalah dengan SM. Hanya untuk tujuan itulah aku datang ke sini. Semua orang di sepanjang lobby memandangku dengan tatapan yang sulit didefiniskan. Aku tahu mereka pasti mengenalku. Tapi mungkin mereka bertanya-tanya kenapa aku ada di sini. Sendirian. Dan bahkan tidak menyapa penerima tamu yang tadi sempat menawari bantuan padaku. Saat ini aku memang sedang tidak butuh bantuan dari para penerima tamu. Karena yang ingin kumintai bantuan saat ini adalah…

“Permisi.” Aku membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.

“Kim Junsu? Ada apa?”

Akupun menceritakan semuanya. Mengenai denda itu. Mengenai kesulitan kami untuk men-dapat uang 100 juta won. Aku berharap dengan cara ini aku bisa mendapatkan uang itu.

“Banyak sekali. Apa kau yakin ingin meminjamnya dariku?” tanya Lee Junki.

Aku mengangguk tak berdaya.

“Lalu bagaimana kau bisa mengembalikan uang itu?”

“Aku bersedia menerima kontrak denganmu tanpa dibayar sampai 100 juta won itu kembali padamu.”

“Kau dan keempat rekanmu?”

Aku menggeleng. “Tidak. Hanya aku. Kumohon jangan libatkan mereka lagi.”

“Bagaimana mungkin aku tidak melibatkan mereka? Sementara jumlah yang harus kau bayar…”

“Aku bisa menangani hal ini sendiri. Aku akan membayarnya. Sungguh, aku tak perlu campur tangan mereka untuk membantuku membayar hutang padamu.”

Sepertinya apa yang baru saja kukatakan cukup mengagetkan bagi Lee Junki. Memang sulit dibayangkan jika aku bisa mengembalikan uang sebanyak itu seorang diri. Tapi aku sudah tak punya pilihan lagi. Jika harus menunggu sampai mereka berempat berkata iya, maka sampai kapanpun uang itu tidak akan pernah bisa terbayar. Jadi sebaiknya aku memilih untuk mem-bayar sendiri saja. Aku yakin aku mampu. Walau memang pasti akan terasa sangat berat jika harus menjalani semuanya seorang diri.

“Aku tidak terlalu yakin kalau kau…”

“Kumohon, Tuan Lee. Aku akan melakukan apapun untuk membayarnya. Yang terpenting saat ini adalah, mereka berempat bisa hidup tenang setelah denda itu terbayar.”

“Tapi mereka pasti bertanya dari mana kau bisa mendapatkan uang itu.”

“…”

“Menurutku, sebaiknya nanti kau katakan saja bahwa uang itu kau dapat dariku. Siapa tahu dengan cara itu, mereka berempat akan setuju untuk bersatu lagi di bawah managementku. Jadi kau takkan sendirian menjalani semuanya.”

Aku memikirkan usulan Lee Junki. Sepertinya memang benar jika mereka berempat akan merasa berhutang pada management ini. Tapi aku tetap tidak yakin apakah mereka akan setuju jika harus bergabung kembali menjadi DBSK. Sepertinya rasa trauma itu terlalu kuat dan kini tumbuh menjadi tembok besar yang menghalangi kebersamaan kami. Bahkan setelah 3 tahun lamanya, tembok itu tak juga menipis. Malah semakin tinggi dan besar hingga kami terpisah semakin jauh.

“Baiklah.” Ucapku pasrah. “Aku akan katakan pada mereka. Tapi jika mereka ternyata tidak setuju, maka aku akan tetap menjalani semuanya sendirian.”

“Kau yakin tidak apa-apa?”

“Sangat yakin.”

Lee Junki mengangguk. Ia lalu menuliskan sesuatu pada kertas cek-nya. “Ini uangnya. Ambillah kapan saja.” 
Ucapnya sambil menyodorkan cek itu padaku. Aku menerimanya, memandangi nominal yang tertulis di sana. 100 juta won. Jumlah yang kubutuhkan.

“Terima kasih, Tuan. Aku permisi dulu.” Ucapku mengundurkan diri.

Akhirnya aku mendapatkan uang ini. Tak perlu menunggu satu minggu lamanya, aku akan segera menemui ibu produser dan menyerahkan apa yang dimintanya. Dengan begitu tak perlu ada yang terluka. Tak perlu ada pertengkaran lagi. Semuanya akan selesai begitu uang ini kuserahkan pada ibu produser.
 
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar