Changmin POV
Aku menatap kearah luar melalui jendela kamarku, duduk
memeluk lututku. Hari semakin larut, tapi amarah belum juga lenyap dari hatiku.
Jika saat itu Yoochyun hyung tidak mencegahku, mungkin aku sudah memukul wajah
Junsu hyung atau mematahkan kedua tangannya.
Detik demi detik bergulir, berjalan sangat lambat.
Tawaran itu kembali bergema dalam benakku. Tawaran itu merupakan tawaran untuk
yang kedua kalinya. Apakah kami akan menyia-nyiakannya kembali?
Amarahku kembali memuncak, jika SM tidak pernah
menawarkan kembalinya kami semua mungkin ini tidak akan terjadi. Sejak awal aku
menyadari bahwa SM mempermainkan kami semua, membuat kehancuran diantara kami.
Dendam di hati keempat hyung-ku sebanding dengan dendam SM kepada kami semua.
Aku tersenyum getir ketika mengingat apa yang telah SM
lakukan kepada kami semua. Masa seperti ini adalah masa yang cukup sulit untuk
kami semua, jika aku bisa mengangkat bendera putih dan menyerah maka aku akan
melakukannya dari dulu. Aku kembali terbang bebas bersama pikiranku sendiri.
Bagaimana dengan kami semua? Bagaimana dengan perasaan
kami semua?
Yoochun hyung? Sebentar lagi dia akan menjalani
persidangan dan melawan SM. Jaejoong hyung? Sekarang perhatiannya harus terbagi
antara masalah kami dengan SM dan Hana yang sama-sama mencuri perhatiannya.
Junsu hyung? Dia akan memulai karirnya sebagai penyanyi solo. Yunho hyung? Dia
mungkin akan memulai hidup barunya sebagai pelatih koreografi anak-anak asuhan
SM lainnya. Bagaimana denganku? Apa yang akan terjadi selanjutnya denganku?
Aku akan melepas semuanya, melepas gelar Magnae yang
selama ini melekat pada diriku, melepas nama MAX dan menjadi Changmin saja. Ya!
Shim Changmin, bukan MAX Changmin, atau mungkin aku bisa kembali ke rumah kedua
orangtuaku. Mungkin aku bisa hidup bahagia dengan Bomi.
Bomi? Kenapa nama itu terlintas begitu saja dalam benakku?
Aku tidak tahu sejak kapan –mungkin sejak pertama kali melihatnya, sejak
pertama kali dia mengajakku berbicara – aku tidak tahu mengapa dan aku tidak
tahu bagaimana aku bisa mencintainya. Perasaan itu muncul begitu saja, memenuhi
rongga dalam hatiku yang tak pernah terisi.
Aku merasa nyaman berada disampingnya, akhir-akhir ini
kami sering bertemu dan jalan bersama walaupun hanya sekedar untuk melepas
lelah, tapi aku benar-benar merasa nyaman jika berda disampingnya. Dia adalah
tipe-ku, aku bukan orang yang gampang untuk jatuh cinta apalagi menyatakan
perasaanku. Tapi aku akan berusaha memperjuangkan cintaku sampai akhir. Cinta
dapat membuat seseorang menjadi kuat.
Bomi adalah seorang wanita yang lembut, ceria tetapi
tegas. Dia bisa membuat duniaku menjadi jungkir balik. Jarak umurku dengannya
tidak terlalu jauh. Aku merasa dia berbeda dengan yang lainnya.
Berbicara tentang Bomi, membuatku lupa akan masalah
kami dengan SM.
Bip-Pip-Bip
Ponselku berdering, menandakan sebuah pesan singkat
masuk. Aku membuka pesan singkat itu, dan aku melihat siapa yang mengirimkan ku
pesan singkat. Dia adalah Bomi, wanita yang baru saja terlintas di benakku.
‘Aku tunggu kau di Seoul Grand Park, Jam 20.00. Jangan terlambat’ Aku
meletakkan ponselku kembali.
Mengapa Bomi mengajakku bertemu? Ada yang ingin dia
bicarakan?
Sejujurnya aku malas meningalkan tempat ini, aku masih
ingin duduk termenung disini. Tapi Bomi mengatakan bahwa aku tidak boleh
terlambat. Aku segera membalikan badan dan menatap jam yang terpasang di
dinding.
“Astaga!” Aku melompat saking kagetnya, sekarang sudah
jam 19.20.
Aku segera mengambil handuk dan segera mandi. Butuh
waktu 30 menit untukku bersiap-siap. Aku segera mengambil kunci mobil.
“Kenapa terburu-buru?” Tiba-tiba Yunho hyung, muncul
dari arah kamarnya, terlihat dia juga menggunakan mantel berpergiannya. “Kau
rapi sekali, mau pergi kemana?”
Aku masih sibuk memakai sepatuku. “Aku mau menemui
seseorang. Kau sendiri mau kemana?”
“Mememui seseorang juga, sama sepertimu.” Dia
tersenyum jail. “Kau ingin berkencan ya?” Tebaknya.
“Apa yang kau bicarakan hyung?” Aku sedikit tersipu
malu.
“Akhir-akhir ini aku sering melihatmu jalan dengan
seorang wanita, dan kau terlihat sangat bahagia saat didekatnya. Siapa wanita
itu?”
Setelah aku selesai memakai sepatuku aku segera pergi,
meninggalkan ekspresi bingung di wajah Yunho hyung. Aku tak punya waktu untuk
menjelaskan kepada Yunho hyung, aku akan menjelaskannya nanti.
Butuh waktu 10 menit untuk sampai ditaman itu. Pada
malam hari taman itu tidak terlalu ramai. Hanya akan ada beberapa orang yang
berlalu-lalang.
Aku menghentikan mobiku dan memarkirkannya. Aku turun
dan berjalan mencari sosok yang aku nantikan. Sosok dengan rambut yang tergerai
indah melewati bahu.
Aku menemukannya, dia berdiri membelakangiku. Rambutnya
tergerai indah melewati bah-unya bercahaya dibawah terang bulan dan dia
terlihat sedikit kedinginan. Harus ku akui bahwa cuaca malam ini cukup dingin.
Kulihat scarf yang terlilit sempurna di leher
jenjangnya, menbuatnya cukup hangat.
“Bomi” aku memangilnya, dia menoleh kearahku. “Ada
yang ingin kau bicarakan?”
“Kau kenapa oppa?” Dia bertanya. Matanya menatap tajam
kearah kedua bola mataku.
“Apa maksudmu? Aku tidak kenapa-napa.”
“Kau tak bisa membohongiku, aku melihat api kemarahan
pada sorot matamu.” Dia ter-senyum tipis. “Apa ini masih berhubungan dengan
keempat hyung-mu?”
Aku memang menceritakan masalahku dengan Bomi, masalah
yang bisa membuatku berkata kasar kepada yang lain. Masalaah yang membuat api
kemarahan berkobar dimataku. Dia mengetahuinya, dia mengetahui semuanya. SM,
DBSK, Jaejoong hyung, Yoochun hyung, Yunho hyung, dan Junsu hyung.
“Jika kau mengajakku kemari hanya untuk membicarakan
masalah ini!” Aku menaikan sedikit nada bicaraku. “Lebih baik kau tak perlu
mengajakku untuk bertemu!”
“Bukan itu.” Bomi mengajakku untuk jalan. Aku berjalan
disampingnya, rambut ikal panjangnya terbang ditiup angin. Melambai-lambai,
seolah mengajakku untuk membelainya. Dia begitu cantik malam ini. “Aku hanya
ingin jalan denganmu.”
Kami berjalan dalam diam dan terus berjalan, kegelapan
mulai menyelimuti kami.
Bomi berjalan disampingku, jemarinya terlihat menahan
dingin. Tanganku terkibas di sampingnya. Jari-jari kami hampir bersentuhan tapi
tidak saling terkait. Aku ingin meng-genggam jemarinya. Tapi aku tak mempunyai
keberanian untuk itu.
Bomi mengesek-gesekan kedua tangannya dan meniupkan
uap panas dari mulutnya.. Kurasa tangannya merasa kedinginan. Aku menghentikan
langkahku, aku tertinggal beberapa langkah dibelakangnya. Dia juga menghentikan
langkahnya, dan memandangiku keheranan. Dia tidak memakai sarung tangan, pantas
saja tangannya merasa kedinginan seperti itu.
“Kenapa kau tidak menggunakan sarung tangan?” Aku
bertanya, nada cemas terdengar jelas saat aku bertanya kepadanya.
“Aku lupa oppa.” Dia tertunduk. “Aku terlalu
bersemangat sehingga tidak menyadari bahwa aku tidak memakai sarung tangan.”
“Sini berikan tangan kananmu!” Aku memerintah
“Buat apa Oppa?” Walaupun dia bertanya, dia tetep
menyerahkan tangan kanannya. Aku melepaskan sarung tangan kananku dan
memakaikannya di tangan kanan Bomi.
“Oppa, nanti kau akan merasa kedinginan.”
“Lebih baik aku yang kedinginan, dari pada aku harus
melihatmu kedinginan seperti tadi.”
Aku menggenggam tangan kirinya, jari-jari kami saling bertautan dan dia
menggengam tangan kananku dengan cukup erat.
“Sudah cukup hangat?” Aku memastikannya.
“Emm.” Dia mengangguk, menggenggam tanganku lebih
erat.
Kami masih berjalan dalam diam, hanya lampu ditaman
dan terang bulan yang menyinari kami. Aku merasa sangat nyaman berada di
sampingnya.
“Hei.. Changmin oppa!” Ujarnya. Dia menghentikan
langkah kakiknya.
“Hmmm?” Aku menoleh untuk menatap wajahnya di bawah
terang bulan.
“Apa kau menyukai seseorang akhir-akhir ini?”
pertanyaan ini tidak seperti biasanya, kenapa dia menanyaiku tentang hal ini.
aku tak pernah dekat dengan seorang wanita selain dirinya.
“Entahlah.”
“Jawaban macam apa itu. Aku tak penah mendengar
jawaban seperti itu” Bomi melepaskan genggaman tangan kami. Aku tertawa kecil
melihat ekspresinya.
“Bagaimana denganmu?” Aku membalikan pertanyaan itu,
aku penasaran apa yang akan di katakannya, dia tersenyum misterius.
“Tentu saja ada.”
DEG- sepertinya jantungku berhenti berdetak. Apakah
dia mengajakku bertemu agar dia bisa mengatakan bahwa dia telah berkomitmen
dengan pria lain? Apakah ini akhir dari hubungan kami?
Aku tersenyum getir. Aku tak mau bertanya lebih jauh.
“Aku mencintaimu.” Dia melanjutkan. “Kau tau arti dari
kata ‘aku mencintaimu mu’ ?” Dia menggodaku.
Aku mendesah “Tentu saja aku tau. Aku tak sebodoh itu.”
Aku mendesah “Tentu saja aku tau. Aku tak sebodoh itu.”
Dia terkekeh pelan, dan menghentikannya saat aku
menatapnya dengan ekspresi kebingungan.
“Sejujurnya aku tak pernah mengatakan kalimat itu?”
Dia mulai merendahkan suaranya. “Aku hanya menunggu seseorang untuk mengatakan
kalimat itu kepadaku.”
Aku terdiam, menunggunya melanjutkan kalimatnya. Tapi
aku tak memotong sehingga diapun melanjutkannya.
“Aku ingin mendengar orang yang aku cintai berkata
‘Aku mencintaimu, Bomi’ maka aku akan menjawab aku juga mencintaimu. Tapi orang
bodoh itu sampai sekarang tak pernah mengatakannya.” Dia menarik nafas
dalam-dalam dan menghembuskannya secara pelan.
Orang bodoh? Apa yang dia maskud apadalah aku? Apa dia bisa membaca pikiranku?
Apa dia mengetahui perasaanku terhadapnya?
“Apa menurutmu tindakan yang kulakukan ini adalah tindakan
bodoh?” Dia terkekeh pelan. “Ya! Aku memang bodoh, aku wanita bodoh.” Dia
memukul kepalanya beberapa kali.
Aku menggeleng, “Tidak, itu bukan suatu tindakan yang
bodoh.”
Dia mengangkat kepalanya perlahan, menatap sorot
mataku. Saat dia menatapku seperti ini aku merasa ada perasaan cinta diantara
kami. Aku tepaku menatapnya, apakah ini saat yang tepat untuk menyatakan
cintaku padanya? diatas semua masalah yang sedang menghalang?
Aku menatap wajah polos milik Bomi, aku tahu kami baru bertemu, tapi aku merasa
sudah mengenalnya lama. Apa dia adalah jodohku? Orang yang ditakdirkan untuk
bersama ku selamanya?
“Aku mencintaimu, Changmin oppa.” Dia menatap wajahku,
aku tak mengeluarkan ekspresi apapun. Dia menunggu tapi setelah aku tak
mengeluarkan sepatah kataku-pun, dia tertawa. Manis. “Kau pasti berpikir bahwa
ini adalah tindakan yang sangat bodoh. Seorang wanita yang menyatakan cintanya
terlebih dahulu. Tapi yang perlu kau tahu adalah cinta itu dapat merubah
seseorang, membuat seseorang itu menjadi kuat atau malah menangis karenanya.”
Aku masih menatap kedua bola mata miliknya. Sekarang
dia merona merah. “Aku tak memiliki alasan apapun saat aku mencintaimu. Karena
cinta tidak membutuhkan alasan. seperti itulah cintaku padamu.”
Saat dia berkata seperti itu, sebuah tangan kecil
menyelinap. Meraih jemariku. Aku kembali memandanginya, kedua bola mata yang
jernih, pipi yang merona kemerahan, rambut hitam ikal yang tergerai melewati
bahunya, kulitnya tangannya yang terasa hangat saat menyentuh-ku. Aku menyadari
bahwa dia merupakan seseorang yang penting bagiku.
Bomi. Aku melihat harapan pada sorot matanya. Dia
berjalan menuju sebatang pohoh yang berdiri tegak dan bersandar di batangnya,
aku tak menolak saat dia menuntunku menuju pohon itu.
Aku masih menikmati setiap lekukan wajahnya,
memandangnya tak berhenti.
Dia bersandar ke pohon tersebut dan mendesah pelan.
Aku merasakan tarikan nafasnya yang berat. Aku melihat air mata mulai
menggenang di matanya. Mata beningnya.
Aku menaikan sebelah tanganku dan membelai lembut
pipinya, dan menghentikannya saat tanganku mencapai lehernya.
Genggaman tangan kami semakim erat, entah kekuatan apa
yang membuatku melakukannya, kekuatan yang tak pernah kualami sebelumnya,
seperti kekuatan magis, seperti magnet yang sulit untuk di tolak. Apakah ini
kekuatan cinta?. Aku sedikit menunduk,memejamkan kedua mataku dan mencium kedua
belah bibirnya..
***
Yunho POV
Aku tidak bisa katakan pada siapapun bahwa aku akan
pergi ke sini malam ini. Bahkan tadi saat Changmin bertanya, aku tak bisa mengatakan
padanya siapa yang akan kutemui. Aku sengaja tidak naik mobil dan hanya memesan
taksi agar aku tidak mudah dikenali. Mungkin aku akan dianggap sebagai orang
paling bodoh di dunia karena masih berani melakukan hal ini. Hal yang bahkan
tak bisa dibayangkan oleh pikiranku sendiri.
Begitu taksiku berhenti di depan sebuah gerbang baja
yang mewah, aku segera turun. Sudah terlalu lama aku tidak ke sini. Ke rumah
yang begitu megah menyerupai istana. Aku bergegas masuk dan memencet bel di
gerbang baja itu. Seorang petugas keamanan membukakan gerbang untukku.
“Jung Yunho? Silakan, Nyonya besar sudah menunggu.”
Katanya sambil membuka lebar pintu gerbang. Aku mengangguk, lalu berjalan masuk
menghampiri dua buah pintu meng-kilap yang menjulang tinggi. Aku mengetuknya
beberapa kali, dan seseorang membuka-kannya untukku.
Tidak sulit bagi para pelayan itu untuk mengenaliku,
jadi aku langsung dipersilahkan untuk masuk dan duduk di sebuah ruang tamu yang
luar biasa megah. Semua perabot yang dipajang di etalasenya terbuat dari emas
dan Kristal yang mahal. Aku tersenyum kecut saat mengingat semua kemewahan ini
didapat dari hasil kelicikan si tua bangka itu.
Tak berapa lama kemudian, aku melihat sosok wanita
paruh baya yang tengah melangkah di tangga spiral berlapis permadani merah. Itu
ibu produser. Aku segera berdiri menyambutnya dengan senyum seramah mungkin.
Dia lalu mempersilahkanku untuk duduk kembali.
“Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?” tanya ibu
produser. Aku menelan ludah beberapa kali. Dari mana aku harus memulainya?
Mengatakan maksudku tanpa membuatnya merasa tersinggung.
“Aku ingin membicarakan mengenai kasus Yoochun.”
Ucapku dengan suara agak gemetar.
“Apa lagi yang ingin kau bahas tentang itu? Kau ingin
bernego denganku?”
“Ya, Nyonya.” Aku berusaha berbicara senormal mungkin.
“Aku bersedia melakukan apapun asalkan kau jangan menuntut Yoochun ke
pengadilan.”
“Kau yakin?”
Aku mengangguk samar. Yang kuinginkan saat ini
hanyalah kestabilan hubungan kami berlima. Mengenai terbentuknya DBSK, aku
sudah tidak peduli lagi. Asalkan kami berlima bisa kembali rukun dan saling
percaya, bagiku itu sudah lebih dari cukup.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan membuat penawaran
denganmu.”
“Apa itu, Nyonya?”
“Bagaimana kalau Yoochun atau kalian berlima,
menggantikan kerugian yang kualami. Aku hanya minta seratus juta won untuk
membayar biaya rumah sakit suamiku sampai dia benar-benar sembuh total. Setelah
kalian membayar, aku berjanji tidak akan mengajukan tuntutan itu, dan aku juga
berjanji tidak akan mengganggu kalian berlima lagi. Jadi, apakah kau setuju?”
Penawaran itu cukup membuatku kehilangan kata-kata.
Seratus juta won? Itu benar-benar bukan jumlah yang sedikit. Bahkan aku butuh
satu tahun untuk mengumpulkan uang sebanyak itu dari hasil pekerjaanku mengajar
tarian. Tapi aku sudah tak punya pilihan. Aku harus melakukan ini untuk
menyelamatkan Yoochun.
“Jadi kau tidak setuju dengan penawaranku?” tanya ibu
produser mendesak.
“A, aku setuju, Nyonya. Baiklah, aku akan usahakan
ganti rugi itu. Berapa lama batas waktunya?”
“Satu minggu.”
“APA?!!” aku tercekat mendengarnya. Satu minggu
benar-benar tidak akan cukup untuk mengumpulkan uang sebanyak itu. “Satu bulan
saja ya, Nyonya?” aku memohon.
“Tidak bisa. Harus satu minggu. Terserah kalau kau
tidak setuju.”
Aku memikirkan baik-baik penawaran itu. Satu minggu
untuk seratus juta won, itu sama saja dia tetap ingin menuntut Yoochun ke
pengadilan. Tapi jika aku menolak penawaran ini tanpa melakukan usaha apapun,
maka aku akan merasa telah menjadi yang paling bersalah jika terjadi apa-apa
dengan Yoochun.
“Aku setuju dengan penawaranmu, Nyonya. Minggu depan,
aku akan membawa uang itu ke sini.”
Ibu produser tertawa puas mendengar jawabanku. Aku
tahu seratus juta won memang jumlah yang terbilang pantas untuk menggantikan
segala kerugian yang telah kami berlima lakukan pada produser. Tapi bagaimana
dengan segala kerugian yang telah dilakukan produser pada kami berlima? Apa
kami pernah menuntutnya untuk membayar semua itu?
“Saat kau akan membayar ganti rugi itu, aku minta
keempat rekanmu ikut. Kalau ada satu saja di antara mereka yang tidak ada, maka
aku akan melipatgandakan uang ganti rugi yang harus kau bayar. Paham?”
Aku mengangguk. Dan ibu produser masih terkekeh pelan
saat melihat kepasrahanku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar