Author POV
Hari ini Jaejoong dan Hana akan berbulan madu di Pulau
Gili Laba, yang berada di pulau Komodo, Indonesia dan di Lombok. Yoochun dan Junsu
mengantarkan mereka sampai di bandara, selanjutnya adalah waktu berdua untuk
Jaejoong dan Hana.
“Hyung, selamat berbulan madu.” Yoochun setengah
berteriak. “Jangan lupa oleh-olehnya.”
“Jaejoong hyung, Hana, jangan lupa aku mau keponakan
laki-laki.”
“Eh?” Jaejonng dan Hana sama kagetnya mendengar
pernyataan Junsu
“Kenapa laki-laki, aku maunya perempuan.” Yoochun
menambahkan.
Muncul semburat warna merah di pipinya Jaejoong dan
Hana hanya tersenyum melihat kelakuan mereka berdua. Sekarang pesawat Jaejoong
dan Hana telah lepas landas, meninggalkan korea dan menuju tempat mereka
berbulan madu.
“Ahhhh.” Yoochun meregangkan otot-otonya. “Junsu
sebaikanya kita pulang.”
“Ayo, kau yang menyetir ya.”
“Eh?” Yoochun balik bertanya. “Kenapa aku?”
“Karena aku sedang malas.”
Junsu dan Yoochun berniat balik ke apartement mereka,
tetapi mereka terjebak macet. Beberapa orang yang masih menggenakan seragam SMA
berkumpul. Entahlah itu perkumpulan apa yang jelas Junsu tidak mau tau.
“Ohh, Jaejoong oppa telah menikah.” Salah seorang di
antara kumpulan itu.
“Aku berharap wanita itu dapat membahagiankan Jaejoong
oppa.” Kata yang lainnya
“Aku berharap wanita itu lebih cantik dari pada
Jaejoong oppa.”
“Wanita yang sangat beruntung.” Kata seorang anak SMA
yang memegang sebuah majalah.
“Padahal dia
bukan dari kalangan artis, dia hanya gadis biasa.”
“Aku lebih setuju Jaejoong oppa dengan wanita yang
bernama Hana ini, dari pada dia bersama Ayumi Hamasaki.” Kata yang lainnya.
“Iya, kurasa wanita ini lebih cantik daripada Ayumi
Hamasaki.”
“Coba liat betapa bahagianya Jaejoong oppa.” Sekarang
mereka berkumpul sambil membuka majalah itu, majalah yang berisi tentang berita
pernikahan Jaejoong dan Hana. “Lihat ini.”
“Oh, betapa cantik dan beruntungnya gadis itu.”
“Lihat gaun yang dikenakannya.” Tunjuk salah seorang
diantara mereka. “Berwarna putih gading, elegant dan sangat mempesona.”
“Pantaslah Jaejoong oppa menikah dengannya.”
“Eh?!” Kata seorang diantara mereka. “Lihat ini! Lihat
ini!”
“Bukannya ini Changmin oppa dan Yunho oppa.”
“Iya bener, itu mereka.” Kata gadis yang memakai pita
berwarna merah. “Ternyata Jaejoong oppa, tidak melupakan Yunho oppa dan
Changmin oppa.”
“Aku berharap mereka bersatu kembali.” Kalimat ini
membuat Junsu kaget.
***
Hana POV
Malam yang hening. Aku dan Jaejoong oppa menginap di
sebuah hotel yang sangat indah. Ini akan jadi malam pertamaku berada dalam satu
kamar dengannya. Dan aku merasa benar-benar tegang. Perlahan, aku menyisir
rambutku di depan cermin. Jaejoong oppa mengajak berjalan-jalan di luar sampai
tengah malam nanti. Jadi, saat ini aku harus benar-benar berdandan rapi.
Tiba-tiba, bunyi ponsel mengejutkanku.
Aku menoleh ke kasur. Ponsel Jaejoong oppa tergeletak
di sana. Aku pun mendekat, menatap nama yang tertera di layar. Ini… ibunya
Jaejoong oppa.
“Hana!” teriak Jaejoong oppa dari kamar mandi. “Siapa
itu?! Angkatlah!”
“Ba, baik, oppa!” aku mengambil ponsel itu dengan
gemetar. Lalu menekan tombol ok.
“Halo!”
suara di sana terdengar bersemangat.
“Ha, halo? Umma? Ini aku. Hana. Ada apa umma menelpon?
Jaejoong oppa sedang mandi.”
“Ah, Hana.
Tidak, tidak ada apa-apa. Umma hanya ingin memastikan bahwa kalian
bersenang-senang di sana. Bagaimana? Kau dan Joongie sudah melakukan apa saja?”
“Kami baru sampai, umma. Belum melakukan apa-apa.”
Ucapku dengan pipi bersemu merah.
“Ah, begitu. Ya
sudah, nanti umma menelpon lagi. Umma tak mau mengganggu bulan madu kalian.
Sampaikan salam umma pada Joongie, ya.”
Klik. Telepon dimatikan. Aku menghembuskan napas
panjang dan terduduk di ranjang. Kukira ada apa. Untung saja umma hanya
menanyakan keadaan Jaejoong oppa.
Tak lama kemudian, aku melihat Jaejoong oppa keluar
dari kamar mandi. Dia bertelanjang dada, dan hanya memakai handuk yang
dililitkan ke pinggang. Rambutnya yang basah… tubuhnya yang atletis… semuanya…
membuatku…
“Apa yang kau lihat?!” tanya Jaejoong oppa tiba-tiba.
Aku langsung menelan ludah.
“Ti, tidak, oppa….”
“Kau tunggu di luar saja. Aku tidak akan lama.”
“Baik!” dan setelah itu akupun langsung keluar dari
kamar.
***
Yunho POV
Profesionalisme adalah sesuatu yang harus dijaga.
Sekalipun saat ini aku sedang sangat tidak bisa berkonsentrasi, tapi aku tetap
harus melatih para juniorku untuk gerakan dance. Anak-anak ini juga merupakan
asuhan SM. mereka adalah Shinee. Dan aku sudah dikontrak untuk menjadi guru
dance mereka untuk beberapa bulan ini.
“Gerakanmu terlalu lambat!” teriakku pada Minho. Dia
segera melatih koordinasi gerakannya sekali lagi.
“Kau terlalu kaku!” kali ini aku berteriak pada
Taemin. Walaupun dia pintar dance, tapi sepertinya gerakannya tidak sebaik yang
biasanya.
Saat melihat anak-anak ini, entah kenapa aku jadi
ingat saat-saat aku masih bersama DBSK. Kami berlatih dance bersama, dimarahi
koreografer, lembur sampai malam. Semua itu memang melelahkan, tapi aku menikmatinya
bersama keempat rekanku. Jadi sangat menyakitkan saat harus melihat kebersamaan
kelima member Shinee.
“Yunho!” ketua sanggar memanggilku. “Kau dipanggil
oleh produser.”
“Sekarang?”
“Ya. Sekarang.”
“Lalu anak-anak ini?”
“Biar aku yang menggantikanmu.”
Aku mengangguk dan langsung menuju ke ruangan
produser. Sudah malam begini, tak biasanya produser belum pulang. Saat aku
masuk, produser tengah berdiri menatap ke luar jendela.
“Apa kau memanggilku?” tanyaku pelan. Dia menoleh
padaku.
“Ya. Duduklah.” Katanya mempersilahkan. Aku segera
menempati kursi yang menghadap ke mejanya. Dia duduk di kursi kehormatannya
seperti biasa.
“Apa yang ingin kau bicarakan?”
“Aku dengar JYJ sudah bubar. Jadi bagaimana kalau aku
menawarkan kalian berlima untuk bersatu lagi? Aku janji aku tidak akan pernah
mengulangi kesalahanku seperti waktu itu. Kau bisa memegang janjiku dengan
jaminan seluruh saham yang kumiliki di SM.”
Aku terdiam. Tawaran yang diberikannya tidak
main-main. Bergabung kembali menjadi DBSK? Segampang itu dia mengatakannya
setelah dia sendiri yang menghancurkan kami? Memangnya dia kira, mudah bagi
kami untuk saling menerima satu sama lain untuk menjadi sebuah grup lagi?
Setelah sekian lama kami berpisah, menjalani karir sendiri-sendiri. Lalu sekarang,
tiba-tiba saja dia mengatakan hal itu seenak hatinya.
“Kau tanyakan saja pada anggota yang lain.” Jawabku
malas.
“Tapi kau kan leadernya.”
“Sekarang sudah tidak lagi.”
“Kalau seandainya mereka mau, apa kau juga akan
menerima tawaranku?”
“Pasti.”
“Baiklah, aku akan menanyakan pada mereka berempat.”
Meskipun produser sudah mengatakan hal itu, aku tetap
tidak yakin DBSK bisa utuh kembali. Terutama Jaejoong. Dia adalah orang yang
paling menentang kebijakan SM. dan aku yakin dia tidak akan memaafkan SM dengan
begitu mudah. Lalu bagaimana dengan para Cassiopeia? Masih adakah sekelompok
orang yang menamai dirinya sebagai Cassiopeia di dunia ini? Setelah begitu lama
idola mereka menghilang. Rasanya itu sangat diragukan. Tapi kalau ternyata
Cassiopeia itu memang masih ada, aku janjikan nama DBSK tidak akan pernah mati
di hati mereka.
***
Jaejoong POV
Aku menggandeng tangan Hana menelusuri pinggiran
pantai yang sepi. Hanya ada suara debur ombak dan suara jangkrik yang sangat
khas. Aku aman di sini. Tak ada kamera yang membuntuti karena daerah ini jauh
dari keramaian dan ingar-bingar dunia para anchor. Kami berjalan sepanjang
pantai dengan bertelanjang kaki, membiarkan ombak menerpa hingga selutut kami.
Setelah itu aku dan Hana duduk di atas pasir. Aku
mengukir nama kami berdua.
“Kau tahu kenapa kita bisa menikah?” tanyaku sambil
memeluk bahunya.
“Kenapa?”
“Karena Tuhan sudah mentakdirkan kita untuk menikah.
Dan apa kau tahu kenapa aku meng-ajakmu ke sini?”
“Karena aku suka pantai?”
“Bukan.” Aku menyisir rambutnya dengan jemariku.
“Karena Tuhan juga sudah mentakdir-kannya.” Dia tertawa mendengar kalimatku
yang satu itu. “Lalu… apa kau tahu kenapa aku mengukir nama kita di atas pasir
ini?”
“Karena Tuhan sudah mentakdirkannya?”
“Bukan.”
“Lalu apa?”
Hana menengadah menatap wajahku.
“Karena aku mencintaimu.” Ucapku sambil melepaskan
pelukannya untuk menatap wajahnya dengan lekat.
Hana tersenyum. Manis.
“Kau memang pintar merayu.” Katanya meledek.
“Siapa yang bilang aku pintar merayu?” tanyaku sambil mencubit
hidungnya. Dia tertawa, berusaha menghindari cubitanku.
Entah kenapa, saat bersama Hana, aku selalu bisa
melupakan semua masalahku. Dia memang bukan gadis terkenal, dan justru karena
itulah aku menikahinya. Aku masih ingat saat pertama kali aku bertemu dengan
Hana. Dulu Hana adalah fansku, dan dia sering mengirim surat padaku. Di antara
semua fans yang mengirim surat, aku paling menyukai suratnya karena dia pandai
meyusun kata-kata yang bisa membuatku tercengang. Aku mengajaknya bertemu di
suatu tempat. Dan pada awalnya, dia sangat terkejut. Bahkan saat aku mengatakan
bahwa aku mencintainya, dia sampai menangis. Kupikir dia menangis karena aku
melakukan kesalahan. Ternyata itu karena dia terharu dengan ucapanku. Dan
dengan ini, aku telah berhasil menggapai salah satu mimpiku. Yaitu menikahi
salah satu fansku.
“Oppa…” katanya pelan.
“Hmm?”
“Katakanlah yang sejujurnya. Apakah kau masih
mencintai DBSK?”
“Aku… tidak tahu.”
“Kenapa kau tidak tahu?”
“Kenapa kau harus tanyakan itu di saat kita sedang
berbulan madu?!” aku menegaskan.
“Oppa…”
“Aku tidak suka membahasnya di sini! Kau mengerti?!”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar