Chang Su POV
Aku berjalan ke
arah tempat puteriku terduduk, aku menarik wajahnya dan memalingkan
pandangannya dari dinding.
“Ini.” Ucapku
sambil menyodorkan soda.
“Terima kasih,
ayah.” Katanya. Dia terlihat benar-benar kelelahan. Aku yakin itu bukan karena
dia datang ke sini dengan berlari. 20 menit yang dijadwalkan sudah berlalu.
Tapi para juri membutuhkan lebih banyak waktu untuk membuat keputusan. Aku
sendiri tidak tahu siapa yang benar, karena kedua-duanya terlihat benar.
“Apa kau lapar?”
tanyaku.
Dia menoleh
padaku dan mengangguk. “Mr. Park sedang keluar untuk membelikan makan siang.”
Tambahnya.
“Oh.” Ucapku
dengan tertunduk. “Dia baik sekali.”
Dia mengangguk.
“Yeah, Mr. Park memang baik.” Aku berdiri terpaku beberapa saat. Aku membuka
penutup sodaku.
“Iseul, aku
minta maaf tentang Yunho.” Aku teringat hal itu tiba-tiba. Dia menoleh padaku
dengan terkejut.
“Ini bukan
salahmu.” Katanya. “Tapi terima kasih.”
Aku mengangguk.
“Ibumu juga minta maaf. Tapi, kurasa dia takut untuk datang ke sini. Kau
mengerti, kan? Kau mengerti bahwa ibumu sangat… ketakutan. Dia juga ketakutan
sepertimu.”
Dia mengangguk.
“Yeah. Aku tahu. Aku bisa melihat hal itu dari matanya. Setiap hari… dia selalu
ketakutan.”
Aku menarik
naaps dan mengangguk. “Dengarlah, Iseul, hari itu, beberapa tahun lalu… seharusnya
aku tidak pernah memberitahumu untuk hanya memikirkan rasa sakit Jaejoong,
aku—“
“Tidak, ayah.”
Ucap Iseul, memotong ucapanku dan menggelengkan kepalanya. “Kau tidak mem
beritahuku hal itu. Aku hanya memilih untuk mengabaikan rasa sakitku dan hanya
melakukan semuanya untuk Jaejoong. Kita semua melakukannya. Karena jika kita
melakukan hal itu, kita akan menjaganya tetap hidup, kan? Itulah yang kita
semua inginkan.”
Aku tetap diam,
mendengarkan ucapannya.
“Setiap saat
kita melihatnya dalam kerapuhan, kita semua merasa sedih dan menangis. Kita
semua dalam penderitaan, tapi kita tak pernah menunjukkannya, karena kita juga
tahu penderitaannya. Pada akhirnya, penderitaan Jaejoong lebih berat dan
membuat kita tak bisa berpura-pura lagi. Dan karena itu jugalah, jika kita
mengabaikan penderitaan itu, akan memudahkan kita untuk berani… dan akan
memudahkan kita untuk berjuang menjaganya tetap hidup. Karena kita melihat rasa
sakitnya. Dan kita ingin semua itu berakhir.”
Aku tersenyum
untuk menenangkan diriku. “Kau tahu, Iseul? Aku selalu berpikir Jaejoong lebih
pintar darimu. Tapi aku salah, kau membuat kompetisi ini seimbang.” Ucapku.
Dia tersenyum
padaku. “Yunho yang memberitahuku semua itu.” Katanya. “Dan itu sangat…
membantuku.”
Aku tersenyum.
“Yunho memang pria yang baik.” Ucapku. Dia membuka tutup sodanya, anggukan
kepalanya menyetujui pendapatku. “Apa kau berpacaran dengannya?” tanyaku datar.
Iseul tersedak saat meminum soda.
Iseul tersedak saat meminum soda.
“Woah woah!”
ucapku sambil menepuk punggungnya.
“Ayah!” katanya
ketika bisa bernapas normal. “Pertanyaan macam apa itu?”
“Aku hanya
bercanda!” ucapku, berusaha menenangkan diri. Dia tersenyum sambil menatap
lantai.
“Apa kau
menyukainya?” aku mendesak. Ini adalah kesempatanku. Mungkin saja dia adalah
pacar pertama Iseul, aku merasa ingin melompat dan berteriak, atau semacam itu.
“Kami tidak
berpacaran, ayah.” Katanya, membuat harapanku lenyap. “…belum.” Tambahnya.
“OH MY GOD,
ISEUL!!” aku berteriak. Matanya melebar dan menatapku. Aku menoleh pada Soo Jin
yang sedang memandangiku dari jauh dengan alis terangkat. “Kejutan besar!”
ucapku sambil mencengkram bahu Iseul erat-erat. Iseul tiba-tiba tertawa lepas.
Aku melihat kelegaan di wajah Soo Jin. Yah, akhirnya semua ini tidak seburuk
yang aku pikirkan.
Sekarang biarkan
aku mendengarkan cerita selengkapnya dari puteriku…
Soo Jin POV
Sebagian diriku
ingin berjalan ke sana dan berbicara padanya. Ikut bercakap-cakap dengan suami
ku dan puteriku. Bagian lain dari diriku merasa takut. Takut dia akan
membenciku, seperti yang memang seharusnya dia rasakan. Karena aku tidak pernah
memikirkan betapa ketakutannya dia, aku hanya memikirkan bahwa Jaejoong
sekarat.
Jadi, ini
kesalahanku, kan? Karena aku sudah menutup mata untuk melihat penderitaannya.
Aku harus bagaimana?
Setelah begitu
banyak operasi, aku harus menemui seseorang, yang selalu berada dekat dengan
Iseul.
Tapi aku tak pernah berpikir… aku tidak akan pernah berpikir… bahwa dia akan menolak untuk melanjutkan.
Tapi aku tak pernah berpikir… aku tidak akan pernah berpikir… bahwa dia akan menolak untuk melanjutkan.
Aku
memperhatikan Chang Su membuat puterinya tertawa. Ini adalah cara untuk
mengajaknya kembali ke rumah. Chang su akan membuat lelucon, lalu aku dan
Jaejoong akan menatapnya lesu, sementara Iseul tertawa dan tertawa. Dan pada
akhirnya, Jaejoong dan aku juga tertawa. Bukan karena leluconnya lucu, tapi
karena mendengar tawa Iseul, senyumnya… sangat membawa kedamaian.
Jika kami kalah,
aku akan mencari seseseorang yang bisa mendonor untuk Jaejoong. Aku akan
mencari ke manapun sampai aku menemukan orang yang mau mendonor.
Dan aku akan
membawa puteriku pulang. Kembali ke keluarga kami, tempat di mana seharusnya
dia berada.
Sekarang aku
hanya butuh… aku butuh ketegaran Jaejoong.
Iseul POV
Usiaku 18 tahun
besok. Begitupun Jaejoong. Ketika aku duduk di sana, tertawa dengan ayahku,
menunggu Mr. Park datang membawa makanan, aku tak bisa menghilangkan apa yang
kupikirkan dari kepalaku.
Besok usia kami
18 tahun.
4 hari yang
lalu, sebelum dia jatuh, Yunho membawaku untuk mengambil kartu identitas baru.
Aku ingat itu adalah moment terakhir, ketika aku akan pergi dan aku melihat
sebuah stiker hati kecil.
“Apa ini?” tanyaku.
“Ini untuk
siapapun yang akan mendonor setelah mereka meninggal. Kita menaruh stiker di ID
mereka, lalu orang-orang akan langsung tahu bahwa mayat itu akan mendonor.”
Ucap wanita di depanku.
Aku menyadari
Yunho tengah menatapku. “Apakah sebagian besar orang memilikinya?” tanyaku.
“Tidak sebanyak
yang kita pikirkan.” Jawab wanita itu.
Aku mengangguk.
Aku juga berpikirian sama.
“Aku ingin
satu.” Ucapku. Yunho mengangkat alisnya tanpa berkata apa-apa. Aku melihat
sebuah senyuman di bibirnya. Dia sudah tahu aku akan melakukannya.
“Kau ingin
mendonorkan apa?” tanya wanita itu.
Aku diam sejenak
dan memikirkannya. Ini tidak akan sakit jika aku mati. Tidak seperti jika aku
masih hidup. Aku tidak perlu merasa cemas, aku tidak perlu takut karena aku tidak
akan merasakan apapun.
“Apapun yang
bisa kuberikan.” Jawabku.
Wanita itu
menatapku terkejut. “Asataga, kau benar-benar gadis kecil yang pemberani.”
Katanya. Dia tetap mengetik pada komputernya.
“Yeah, itulah
dia.” Yunho menyambung. Dia tersenyum padaku dan merogoh kantongnya. Dia
mengeluarkan ID dan menunjukkannya padaku. Di sana, tepat di pojoknya, ada
stiker hati kecil yang sama seperti yang juga akan aku miliki.
Aku tersenyum.
“Apa yang akan kau donorkan?”
“Apapun yang
bisa kuberikan.” Jawabnya. “Jika kita tidak melakukannya, maka takkan ada
seorangpun, kan? Sebagian besar orang ingin mayatnya dibakar atau dikubur,
walaupun pada ak-hirnya, organ-organ kita tidak akan hidup lagi. Sampai kau
merasakan pengalaman itu… pengalaman seseorang yang membutuhkan organ, atau
seseorang yang kau cintai membutuhkannya… hanya sampai kau menyadari bahwa
semua itu sangatlah berarti.”
Aku mengangguk.
“Itu benar.”
Dia tersenyum,
menaruh kembali ID nya. “Dan itulah kenapa kita adalah orang pertama yang
menjadi pendonor.”
Aku mengangguk.
Itu memang alasan yang tepat.
Yunho POV
“Jaejoong,
menurutmu berapa lama salju akan turun?” tanyaku. Aku sudah datang ke kamarnya
karena aku merasa akan jauh lebih baik jika melewati waktu bersama. Aku juga
bepikir bahwa aku bosan, sama sepertinya.
Jaejoong
mengangkat bahu. “A..k..u….b..er…h..a..r..ap…ma…s..i..h..ak..a…n..l..a..ma.”
Aku mengangguk.
“Iseul yang malang.” Ucapku. “Aku sangat ingin dia ada di sini. Jeez! Aku akan
menjadi kekasih yang paling tidak dapat dipercaya di dunia!”
Aku mendengar
suara hidung yang tersumbat. Aku menoleh untuk melihat Jaejoong, dan dia tidak
tersedak apapun. “Jae? Ada apa?” tanyaku.
“K..e..ka..s..i..h?”
tanyanya.
Aku mendesah
padanya saat dia menatapku dengan matanya yang bening. “Ya, belum… tapi kami
akan segera jadi kekasih!” ucapku.
Dia memutar
matanya. Aku menoleh lagi ke arah jendela, merasakan aura melancolis yang
merasuki diriku saat aku menatap salju jatuh satu-persatu.
“Pasti di luar
sana dingin sekali. Aku harap mereka semua berhati-hati dan bisa kembali dengan
aman.” Ucapku.
“Y...ye...ah.”
ucap Jaejoong. Aku merasakan matanya menatapku dan aku menoleh untuk melihatnya
tengah menatapku tajam.
“Apa?” tanyaku.
Dia menarik
napas berat. “Y...yu..n..ho. A..p..a..k..au..be..n..ar..b..e…n..ar.. m..eng..e..r..t..i..
I..se..u..l?” tanyanya.
“Apa maksudmu?”
“A..pa…k..a...u..m..e..ng..er..t..i..ke..n..a..p..a..di..a..me..la..k..u..k..an..i..n..i?”
Aku mengalihkan
pandanganku darinya. “Jujur saja, Jaejoong, kadang aku mengerti, kadang juga
tidak. Ketika aku memikirkan tentang semua yang ia derita, aku mengerti
perasaannya, tapi ketika aku melihatmu… kadang-kadang aku tidak mengerti. Aku
tahu pasti berat baginya jika melihatmu dalam kondisi seperti ini. Aku tidak
berkata bahwa dia keras kepala, tapi terkadang aku tidak mengerti kenapa dia
membiarkan dirinya menderita seperti ini. Mungkin baginya akan jauh lebih
menyakitkan jika tidak mendonor dibandingkan harus mendonor untukmu.”
Aku menoleh pada
Jaejoong. “Tapi itu tak masalah, selama dia…” aku berhenti. Jaejoong mulai
menangis. “Jae…” ucapku hati-hati. “Jae, aku tidak membencinya. Ini adalah hal
terakhir yang bisa kulakukan di dunia.” Ucapku, berjalan ke sampingnya.
“Ta..p..i..ka..u..d..a..n..d..ia..,..ka..l..i..a..n..b..er..d..ua..ha..r..u..s..mem..b…en..c..i..k..u.
A..k..u.. sa..ng..a..t..pe..ng..e..c..u..t.”
“Apa yang kau
bicarakan, Jaejoong? Iseul tidak pernah membencimu, begitupun aku. Dia menyayangimu,
dan aku berhutang padamu atas hidup ini…” ucapku, suaraku melemah saat aku
melihat dia menggelengkan kepalanya.
“S..e..k..a..r..ang..d..i..a..se..n..d..i..r..i..a..n,..u..n..t..uk..se..s..u..a..t..u..ya..ng..ta..k..ing..i..n..di..a..
la..k..u..k..a..n.” ucap Jaejoong. Dia menutup wajah dengan tangannya.
“Yeah, Jaejoong,
dia tidak ingin hal ini berdampak padamu, tak satupun dari kami yang
menginginkannya, tapi pada akhirnya…”tiba-tiba Jaejoong memotong ucapanku.
“K..k..a..u..ti..d..a..k..me..ng..e..r..ti!”
katanya. Aku melihat rasa sakit di wajahnya, rasa sakit yang terlalu aku kenal.
“Di..a..me..n..d..e..ri..ta..ka..r..e..na..a..k..u!”
Aku menatapnya
beberapa menit dengan lugas. “Itulah yang kita rasakan, Jaejoong. Kita tak bisa
mengatakan bahwa perasaan ini menyebabkan penderitaan pada seseorang yang kita
sayangi, tapi… hanya itu, Jaejoong, bukan karena kita. Tapi karena penyakit
kita. Penyakit kita membuat orang lain ikut menderita. Kita tidak bersalah.”
Jaejoong
tiba-tiba menggapaikan tangannya dan meremas bajuku mendekat ke arahnya. "A..pa...ka..u..me..ng..e..r..ti, Y..u..n..ho? a..ku..ta..k..i…ng..i..n..me..ny..a..k..i..ti..ny..a..la..g..i.. A..ku..ta..k. .i..ng..i..n. .me..n..ja..d..i.. pe..nge..c..u..t.
Se..m..u..a..ny..a..su..d..a..h..cu..k..u..p. A..ku..ing..i.
n..me..ng.. h..en..t..i..k..an..pe..n..d..e..ri..ta..a..n..ny..a,
d..an..pe..n..d..er..i..ta..a..n..ku. K..a..u.. me..ng..e..r..ti, k..a..n?”
katanya dengan nada parau, untuk menahan air mata yang memaksa keluar.
Aku menatapnya
saat dia menoleh padaku, kepasrahan tampak di matanya. Aku mulai mengingat
semua pembicaraan yang sudah kulakukan dengannya selama ini, semua yang pernah
aku dengar darinya. Aku merasa sebuah teriakan memaksa keluar dari
tenggorokanku.
“Tak masalah
apapun yang dia katakan padamu, Iseul, tetaplah yakin kau bisa kuat.” Suara Jae
joong terekam dalam ingatanku.
“Aku ingin
membalas semua yang sudah dia lakukan, sekalipun sesuatu yang tidak ingin dia
lakukan.”
“Iseul terlihat
cantik di hari pernikahannya. Aku harap aku bisa ada di sana.”
“Aku takut,
Jaejoong. Aku tak ingin ini terjadi… kau tahu aku tidak, aku..” suara Iseul
yang terbayang.
“Jangan pernah
menyerah demi aku. Kumohon… Jangan pernah berhenti berjuang.”
“Aku lelah.
Tubuhku lelah berjuang.
Aku sudah
terlalu lama merasa lelah.”
“Apa yang kau
katakan, Jaejoong? Apa yang ingin kau beritahukan padaku?”
Jaejoong
melepaskanku, menjatuhkan wajahnya ke tangan, bahunya tampak berat oleh
keletihan.
“A..k..u..pe..nge..c..u..t.”
katanya.
“Jaejoong...apa
yang sudah kau lakukan?” tanyaku. Aku meraih wajahnya dan menatap kedua
matanya. Kemarahan mulai merasuki diriku saat aku mulai mendapat kesimpulan
dari sikapnya. Aku perlu mendengar pemberitahuannya, dia harus mengakuinya, hal
terburuk yang pernah dia lakukan dalam hidupnya.
Dia menatapku.
Mulutnya terbuka dan hampir menjerit karena menangis, bercampur dengan keputus
asaan dan penyesalan. Dia menarik dirinya menjauh dariku.
“A..k..u..me..l..a..ku..k..an.. ny..a, Y..u..n..ho. A..k..u..me..ny..a..k..i..ti..nya..A..k..u..me..mi..n..t..a..ny..a..un..t..u..k..ti..da..k…me..m..b..e..ri..ku..
ap..a..p..u..n..la..g..i.U..n..t..uk..ti..d..a..k..me..n..do..n..o..r..la..g..i.
A..k..u.. ya.. ng..me..m..i..n..ta..ny..a
u…n..t..uk…me..l..a..k..u..k..an..i..t..u.”
Teriakan itu
akhirnya keluar dari tenggorokanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar