Welcome

Selasa, 15 Mei 2012

Unbeatable Heart (translate) part 9

orginal author : yukie23 at http://www.asianfanfics.com

Chang Su POV

Aku berjalan ke arah tempat puteriku terduduk, aku menarik wajahnya dan memalingkan pandangannya dari dinding.

“Ini.” Ucapku sambil menyodorkan soda.

“Terima kasih, ayah.” Katanya. Dia terlihat benar-benar kelelahan. Aku yakin itu bukan karena dia datang ke sini dengan berlari. 20 menit yang dijadwalkan sudah berlalu. Tapi para juri membutuhkan lebih banyak waktu untuk membuat keputusan. Aku sendiri tidak tahu siapa yang benar, karena kedua-duanya terlihat benar.

“Apa kau lapar?” tanyaku.
Dia menoleh padaku dan mengangguk. “Mr. Park sedang keluar untuk membelikan makan siang.” Tambahnya.

“Oh.” Ucapku dengan tertunduk. “Dia baik sekali.”

Dia mengangguk. “Yeah, Mr. Park memang baik.” Aku berdiri terpaku beberapa saat. Aku membuka penutup sodaku.

“Iseul, aku minta maaf tentang Yunho.” Aku teringat hal itu tiba-tiba. Dia menoleh padaku dengan terkejut.

“Ini bukan salahmu.” Katanya. “Tapi terima kasih.”

Aku mengangguk. “Ibumu juga minta maaf. Tapi, kurasa dia takut untuk datang ke sini. Kau mengerti, kan? Kau mengerti bahwa ibumu sangat… ketakutan. Dia juga ketakutan sepertimu.”

Dia mengangguk. “Yeah. Aku tahu. Aku bisa melihat hal itu dari matanya. Setiap hari… dia selalu ketakutan.”

Aku menarik naaps dan mengangguk. “Dengarlah, Iseul, hari itu, beberapa tahun lalu… seharusnya aku tidak pernah memberitahumu untuk hanya memikirkan rasa sakit Jaejoong, aku—“

“Tidak, ayah.” Ucap Iseul, memotong ucapanku dan menggelengkan kepalanya. “Kau tidak mem beritahuku hal itu. Aku hanya memilih untuk mengabaikan rasa sakitku dan hanya melakukan semuanya untuk Jaejoong. Kita semua melakukannya. Karena jika kita melakukan hal itu, kita akan menjaganya tetap hidup, kan? Itulah yang kita semua inginkan.”

Aku tetap diam, mendengarkan ucapannya.

“Setiap saat kita melihatnya dalam kerapuhan, kita semua merasa sedih dan menangis. Kita semua dalam penderitaan, tapi kita tak pernah menunjukkannya, karena kita juga tahu penderitaannya. Pada akhirnya, penderitaan Jaejoong lebih berat dan membuat kita tak bisa berpura-pura lagi. Dan karena itu jugalah, jika kita mengabaikan penderitaan itu, akan memudahkan kita untuk berani… dan akan memudahkan kita untuk berjuang menjaganya tetap hidup. Karena kita melihat rasa sakitnya. Dan kita ingin semua itu berakhir.”

Aku tersenyum untuk menenangkan diriku. “Kau tahu, Iseul? Aku selalu berpikir Jaejoong lebih pintar darimu. Tapi aku salah, kau membuat kompetisi ini seimbang.” Ucapku.

Dia tersenyum padaku. “Yunho yang memberitahuku semua itu.” Katanya. “Dan itu sangat… membantuku.”

Aku tersenyum. “Yunho memang pria yang baik.” Ucapku. Dia membuka tutup sodanya, anggukan kepalanya menyetujui pendapatku. “Apa kau berpacaran dengannya?” tanyaku datar.
Iseul tersedak saat meminum soda.

“Woah woah!” ucapku sambil menepuk punggungnya.

“Ayah!” katanya ketika bisa bernapas normal. “Pertanyaan macam apa itu?”

“Aku hanya bercanda!” ucapku, berusaha menenangkan diri. Dia tersenyum sambil menatap lantai.

“Apa kau menyukainya?” aku mendesak. Ini adalah kesempatanku. Mungkin saja dia adalah pacar pertama Iseul, aku merasa ingin melompat dan berteriak, atau semacam itu.

“Kami tidak berpacaran, ayah.” Katanya, membuat harapanku lenyap. “…belum.” Tambahnya.

“OH MY GOD, ISEUL!!” aku berteriak. Matanya melebar dan menatapku. Aku menoleh pada Soo Jin yang sedang memandangiku dari jauh dengan alis terangkat. “Kejutan besar!” ucapku sambil mencengkram bahu Iseul erat-erat. Iseul tiba-tiba tertawa lepas. Aku melihat kelegaan di wajah Soo Jin. Yah, akhirnya semua ini tidak seburuk yang aku pikirkan.

Sekarang biarkan aku mendengarkan cerita selengkapnya dari puteriku…

Soo Jin POV

Sebagian diriku ingin berjalan ke sana dan berbicara padanya. Ikut bercakap-cakap dengan suami ku dan puteriku. Bagian lain dari diriku merasa takut. Takut dia akan membenciku, seperti yang memang seharusnya dia rasakan. Karena aku tidak pernah memikirkan betapa ketakutannya dia, aku hanya memikirkan bahwa Jaejoong sekarat.

Jadi, ini kesalahanku, kan? Karena aku sudah menutup mata untuk melihat penderitaannya. Aku harus bagaimana?

Setelah begitu banyak operasi, aku harus menemui seseorang, yang selalu berada dekat dengan Iseul.
Tapi aku tak pernah berpikir… aku tidak akan pernah berpikir… bahwa dia akan menolak untuk melanjutkan.

Aku memperhatikan Chang Su membuat puterinya tertawa. Ini adalah cara untuk mengajaknya kembali ke rumah. Chang su akan membuat lelucon, lalu aku dan Jaejoong akan menatapnya lesu, sementara Iseul tertawa dan tertawa. Dan pada akhirnya, Jaejoong dan aku juga tertawa. Bukan karena leluconnya lucu, tapi karena mendengar tawa Iseul, senyumnya… sangat membawa kedamaian.

Jika kami kalah, aku akan mencari seseseorang yang bisa mendonor untuk Jaejoong. Aku akan mencari ke manapun sampai aku menemukan orang yang mau mendonor.

Dan aku akan membawa puteriku pulang. Kembali ke keluarga kami, tempat di mana seharusnya dia berada.

Sekarang aku hanya butuh… aku butuh ketegaran Jaejoong.

Iseul POV

Usiaku 18 tahun besok. Begitupun Jaejoong. Ketika aku duduk di sana, tertawa dengan ayahku, menunggu Mr. Park datang membawa makanan, aku tak bisa menghilangkan apa yang kupikirkan dari kepalaku.

Besok usia kami 18 tahun.

4 hari yang lalu, sebelum dia jatuh, Yunho membawaku untuk mengambil kartu identitas baru. Aku ingat itu adalah moment terakhir, ketika aku akan pergi dan aku melihat sebuah stiker hati kecil.

“Apa ini?” tanyaku.

“Ini untuk siapapun yang akan mendonor setelah mereka meninggal. Kita menaruh stiker di ID mereka, lalu orang-orang akan langsung tahu bahwa mayat itu akan mendonor.” Ucap wanita di depanku.

Aku menyadari Yunho tengah menatapku. “Apakah sebagian besar orang memilikinya?” tanyaku.

“Tidak sebanyak yang kita pikirkan.” Jawab wanita itu.

Aku mengangguk. Aku juga berpikirian sama.

“Aku ingin satu.” Ucapku. Yunho mengangkat alisnya tanpa berkata apa-apa. Aku melihat sebuah senyuman di bibirnya. Dia sudah tahu aku akan melakukannya.

“Kau ingin mendonorkan apa?” tanya wanita itu.

Aku diam sejenak dan memikirkannya. Ini tidak akan sakit jika aku mati. Tidak seperti jika aku masih hidup. Aku tidak perlu merasa cemas, aku tidak perlu takut karena aku tidak akan merasakan apapun.

“Apapun yang bisa kuberikan.” Jawabku.

Wanita itu menatapku terkejut. “Asataga, kau benar-benar gadis kecil yang pemberani.” Katanya. Dia tetap mengetik pada komputernya.

“Yeah, itulah dia.” Yunho menyambung. Dia tersenyum padaku dan merogoh kantongnya. Dia mengeluarkan ID dan menunjukkannya padaku. Di sana, tepat di pojoknya, ada stiker hati kecil yang sama seperti yang juga akan aku miliki.

Aku tersenyum. “Apa yang akan kau donorkan?”

“Apapun yang bisa kuberikan.” Jawabnya. “Jika kita tidak melakukannya, maka takkan ada seorangpun, kan? Sebagian besar orang ingin mayatnya dibakar atau dikubur, walaupun pada ak-hirnya, organ-organ kita tidak akan hidup lagi. Sampai kau merasakan pengalaman itu… pengalaman seseorang yang membutuhkan organ, atau seseorang yang kau cintai membutuhkannya… hanya sampai kau menyadari bahwa semua itu sangatlah berarti.”

Aku mengangguk. “Itu benar.”

Dia tersenyum, menaruh kembali ID nya. “Dan itulah kenapa kita adalah orang pertama yang menjadi pendonor.”

Aku mengangguk. Itu memang alasan yang tepat.

Yunho POV

“Jaejoong, menurutmu berapa lama salju akan turun?” tanyaku. Aku sudah datang ke kamarnya karena aku merasa akan jauh lebih baik jika melewati waktu bersama. Aku juga bepikir bahwa aku bosan, sama sepertinya.

Jaejoong mengangkat bahu. “A..k..u….b..er…h..a..r..ap…ma…s..i..h..ak..a…n..l..a..ma.”

Aku mengangguk. “Iseul yang malang.” Ucapku. “Aku sangat ingin dia ada di sini. Jeez! Aku akan menjadi kekasih yang paling tidak dapat dipercaya di dunia!”

Aku mendengar suara hidung yang tersumbat. Aku menoleh untuk melihat Jaejoong, dan dia tidak tersedak apapun. “Jae? Ada apa?” tanyaku.

“K..e..ka..s..i..h?” tanyanya.

Aku mendesah padanya saat dia menatapku dengan matanya yang bening. “Ya, belum… tapi kami akan segera jadi kekasih!” ucapku.

Dia memutar matanya. Aku menoleh lagi ke arah jendela, merasakan aura melancolis yang merasuki diriku saat aku menatap salju jatuh satu-persatu.

“Pasti di luar sana dingin sekali. Aku harap mereka semua berhati-hati dan bisa kembali dengan aman.” Ucapku.

“Y...ye...ah.” ucap Jaejoong. Aku merasakan matanya menatapku dan aku menoleh untuk melihatnya tengah menatapku tajam.

“Apa?” tanyaku.

Dia menarik napas berat. “Y...yu..n..ho. A..p..a..k..au..be..n..ar..b..e…n..ar.. m..eng..e..r..t..i.. I..se..u..l?” tanyanya.

“Apa maksudmu?”

“A..pa…k..a...u..m..e..ng..er..t..i..ke..n..a..p..a..di..a..me..la..k..u..k..an..i..n..i?”

Aku mengalihkan pandanganku darinya. “Jujur saja, Jaejoong, kadang aku mengerti, kadang juga tidak. Ketika aku memikirkan tentang semua yang ia derita, aku mengerti perasaannya, tapi ketika aku melihatmu… kadang-kadang aku tidak mengerti. Aku tahu pasti berat baginya jika melihatmu dalam kondisi seperti ini. Aku tidak berkata bahwa dia keras kepala, tapi terkadang aku tidak mengerti kenapa dia membiarkan dirinya menderita seperti ini. Mungkin baginya akan jauh lebih menyakitkan jika tidak mendonor dibandingkan harus mendonor untukmu.”

Aku menoleh pada Jaejoong. “Tapi itu tak masalah, selama dia…” aku berhenti. Jaejoong mulai menangis. “Jae…” ucapku hati-hati. “Jae, aku tidak membencinya. Ini adalah hal terakhir yang bisa kulakukan di dunia.” Ucapku, berjalan ke sampingnya.

“Ta..p..i..ka..u..d..a..n..d..ia..,..ka..l..i..a..n..b..er..d..ua..ha..r..u..s..mem..b…en..c..i..k..u. A..k..u.. sa..ng..a..t..pe..ng..e..c..u..t.”

“Apa yang kau bicarakan, Jaejoong? Iseul tidak pernah membencimu, begitupun aku. Dia menyayangimu, dan aku berhutang padamu atas hidup ini…” ucapku, suaraku melemah saat aku melihat dia menggelengkan kepalanya.

“S..e..k..a..r..ang..d..i..a..se..n..d..i..r..i..a..n,..u..n..t..uk..se..s..u..a..t..u..ya..ng..ta..k..ing..i..n..di..a.. la..k..u..k..a..n.” ucap Jaejoong. Dia menutup wajah dengan tangannya.

“Yeah, Jaejoong, dia tidak ingin hal ini berdampak padamu, tak satupun dari kami yang menginginkannya, tapi pada akhirnya…”tiba-tiba Jaejoong memotong ucapanku.

“K..k..a..u..ti..d..a..k..me..ng..e..r..ti!” katanya. Aku melihat rasa sakit di wajahnya, rasa sakit yang terlalu aku kenal. “Di..a..me..n..d..e..ri..ta..ka..r..e..na..a..k..u!”

Aku menatapnya beberapa menit dengan lugas. “Itulah yang kita rasakan, Jaejoong. Kita tak bisa mengatakan bahwa perasaan ini menyebabkan penderitaan pada seseorang yang kita sayangi, tapi… hanya itu, Jaejoong, bukan karena kita. Tapi karena penyakit kita. Penyakit kita membuat orang lain ikut menderita. Kita tidak bersalah.”

Jaejoong tiba-tiba menggapaikan tangannya dan meremas bajuku mendekat ke arahnya. "A..pa...ka..u..me..ng..e..r..ti, Y..u..n..ho? a..ku..ta..k..i…ng..i..n..me..ny..a..k..i..ti..ny..a..la..g..i.. A..ku..ta..k. .i..ng..i..n. .me..n..ja..d..i.. pe..nge..c..u..t. Se..m..u..a..ny..a..su..d..a..h..cu..k..u..p. A..ku..ing..i. n..me..ng.. h..en..t..i..k..an..pe..n..d..e..ri..ta..a..n..ny..a, d..an..pe..n..d..er..i..ta..a..n..ku. K..a..u.. me..ng..e..r..ti, k..a..n?” katanya dengan nada parau, untuk menahan air mata yang memaksa keluar.

Aku menatapnya saat dia menoleh padaku, kepasrahan tampak di matanya. Aku mulai mengingat semua pembicaraan yang sudah kulakukan dengannya selama ini, semua yang pernah aku dengar darinya. Aku merasa sebuah teriakan memaksa keluar dari tenggorokanku.

“Tak masalah apapun yang dia katakan padamu, Iseul, tetaplah yakin kau bisa kuat.” Suara Jae joong terekam dalam ingatanku.

“Aku ingin membalas semua yang sudah dia lakukan, sekalipun sesuatu yang tidak ingin dia lakukan.”

“Iseul terlihat cantik di hari pernikahannya. Aku harap aku bisa ada di sana.”

“Aku takut, Jaejoong. Aku tak ingin ini terjadi… kau tahu aku tidak, aku..” suara Iseul yang terbayang.

“Jangan pernah menyerah demi aku. Kumohon… Jangan pernah berhenti berjuang.”

“Aku lelah. Tubuhku lelah berjuang.

Aku sudah terlalu lama merasa lelah.”

“Apa yang kau katakan, Jaejoong? Apa yang ingin kau beritahukan padaku?”

Jaejoong melepaskanku, menjatuhkan wajahnya ke tangan, bahunya tampak berat oleh keletihan.

“A..k..u..pe..nge..c..u..t.” katanya.

“Jaejoong...apa yang sudah kau lakukan?” tanyaku. Aku meraih wajahnya dan menatap kedua matanya. Kemarahan mulai merasuki diriku saat aku mulai mendapat kesimpulan dari sikapnya. Aku perlu mendengar pemberitahuannya, dia harus mengakuinya, hal terburuk yang pernah dia lakukan dalam hidupnya.

Dia menatapku. Mulutnya terbuka dan hampir menjerit karena menangis, bercampur dengan keputus asaan dan penyesalan. Dia menarik dirinya menjauh dariku. “A..k..u..me..l..a..ku..k..an.. ny..a, Y..u..n..ho. A..k..u..me..ny..a..k..i..ti..nya..A..k..u..me..mi..n..t..a..ny..a..un..t..u..k..ti..da..k…me..m..b..e..ri..ku.. ap..a..p..u..n..la..g..i.U..n..t..uk..ti..d..a..k..me..n..do..n..o..r..la..g..i. A..k..u.. ya.. ng..me..m..i..n..ta..ny..a u…n..t..uk…me..l..a..k..u..k..an..i..t..u.”

Teriakan itu akhirnya keluar dari tenggorokanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar