Welcome

Rabu, 16 Mei 2012

DBSK comeback? (part 22)

Author POV

Hana menunggu didapur dan menyaiapkan beberapa makanan ringan serta minuman..
 
Junsu, Changmin, Yoochun duduk di sebuah sofa yang bebentuk setengah lingkaran. Yoochun duduk diantara Junsu dan Changmin, dia tidak mau kedua makhluk itu berkelahi kembali. Yunho masih menatap kosong kearah foto pernikahan Jaejoong dan Hana, sibuk dengan pikirannya sendiri. Jaejoong? Dia bersandar pada dinding.

Situasi disini sangat tegang, tak ada satupun di antara mereka yang akan memulai pembicara-an dan memecahkan keheningan.

Hana masuk kedalam ruang tamu, membawa senampan jus buah dan beberapa makanan ringan.

“Oppa, lebih baik kalian minum dulu.” Hana tersenyum. “Aku tidak akan mengganggu, berbicaralah dengan kepala dingin.”Hana kembali masuk kedalam kamar, entah apa yang akan dilakukannya didalam kamar.

“Changmin, tadi malam saat aku berjalan pulang. Aku melihatmu mencium seorang wanita dibawah pohon. Apakah dia wanitamu?” Suara Jaejoong memecahkan keheningan.

Changmin menatap Jaejoong dengan tatapan tidak percaya, bagaimana mungkin ada seseorang yang melihatnya mencium Bomi?. Semburat warna merah muncul dipipi Changmin.

“Hyung, kita disini bukan untuk membicarakan Bomi, kita disini untuk membicarakan masalah Yoochyun hyung dengan SM.”

Changmin sadar apa yang telah diucapkannya, dia menutup mulutnya. Mengutuk dirinya sendiri karena dia telah menyebut nama seorang wanita yang diciumnya semalam.

Yoochun dan Jaejoong tertawa, melihat kepoloson Changmin. Hanya Junsu dan Yunho yang diam tak bergeming. “Jadi wanita itu bernama Bomi.” Kata Jaejoong di sela-sela tawanya.

“Wanita yang kurang beruntung.” Yoochun menambahkan, dia kembali tertawa.

“Eh?” Changmin tampak kaget “Kurang beruntung?”

“Changmin kecil, kau bisa juga jatuh cinta.” Suara Jaejoong terdengar. Yoochun kembali tertawa.

“Sudahlah!” Junsu setengah berteriak. “Kita disini bukan untuk membahas Changmin atapun wanita bernama Bomi itu.”

Jaejoong dan Yoochun berusaha menahan tawa mereka, menatap wajah merah milik Changmin. Mereka sadar bahwa apa yang mereka tertawakan membuat Changmin menjadi risih dan malu.

“Bagaimana? Apakah Ibu produser itu sudah melayangkan surat tuntutannya kepadamu?” Jaejoong bertanya kearah Yoochun.

Yoochun menggeleng dan mengangkat bahu. “Belum, kurasa dia sudah lupa.”

“Ibu tua itu tak akan mungkin melupakannya, walaupun umurnya sudah lebih dari setengah abad aku berani bertaruh bahwa ingatannya masih seperti anak muda.” Suara tinggi Changmin mencibir.

“Jika surat tuntutan sudah berada ditanganku. Apa yang harus aku lakukan?’ Yoochun bertanya, meminta solusi.

“Tak ada cara lain. Kita akan melawan mereka.” Jaejoong berkata dengan senyum getir.

“Aku bersumpah tidak akan membiarkan dia bernafas lega kembali atau…”

“Tak perlu.” Yunho memotong perkataan Jaejoong.

“Apa maksudmu hyung?” Changmin menatap wajah Yunho dengan tatapan bingung.

“Aku sudah benegosiasi dengan ibu produser itu. Dia tidak akan menuntut kita, jika kita membayar ganti rugi sebesar seratus juta won dalam waktu satu minggu.”

“Kau berlutut dihadapannya?!” Changmin mengebrak meja yang ada didepannya. Menatap penuh curiga kearah Yunho.

“Dimana harga dirimu?!” Suara Jaejoong seperti petir yang menyambar Yunho.

“Apa yang kau lakukan?! Kau pikir aku sudi membayar ganti sugi kepada mereka?!”

Yoochun berdiri, wajahnya menegang. “Aku tak akan pernah sudi membayar ganti rugi kepada mereka barang sepeserpun!!”

“Aku hanya mau kita menghindari jalur hukum.” Yunho terisak menahan tangisnya. “Aku tak mau salah satu diantara kita berada di balik jeruji besi.”

“Hyung!!” Changmin menaikann nada bicaranya. “Kau ini bodoh atau apasih. Bagaimana kita bisa mengumpulkan uang sebanyak itu?! Seratus juta won!! Seratus juta won!!” Changmin menaikan kembali nada bicaranya saat mengucapkan kalimat seratus juta won.

“Aku akan menemui ibu produser itu dan aku akan bilang bahwa kau menarik kembali ucapanmu!!” Yoochun hendak beranjak pergi, tapi Yunho mencegahnya. Dia mencengkram erat lengan Yoochun.

“Apa yang kau pikirkan saat itu?! Mengemis padanya untuk membebaskan kita?!” Jaejoong meluapkan kembali emosinya.

“Aku hanya bernegosiasi padanya saat itu. Tidak lebih.” Air mata menggenang di pelupuk matanya.

“Kau pikir bagaimana kita mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu satu minggu?!” Changmin terlihat frustasi.

“Aku tidak tahu, maka dari itu aku mengajak kalian semua berkumpul untuk membicarakann ini.”

Situasi ini semakin menegang. Amarah terlihat jelas diantara mereka.

“Aku menyerah!! Aku meyerah, kau membuat keadaan semakin sulit!!” Yoochun meng-hempaskan tubuhnya dengan kasar keatas sofa.

“Kau ini terlalu bijaksana atau bodoh sih?!” Changmin juga menghempaskan tubuhnya. “Sekarang apa yang harus kita lakukan?!”

Mereka semua saling terdiam dalam pikiran masing-masing. Kenapa harus seratus juta won hanya untuk mengobati produser yang bahkan tidak mengalami cacat? Hanya butuh dijahit di sekitar rahangnya saja. Itu tidak akan memakan biaya sampai 10 juta won. Menurut mereka, ibu produser itu bukan ingin meminta ganti rugi, tapi ingin memeras mereka.

“Tadi kau bilang, berapa lama batas waktunya?” tanya Jaejoong memecah keheningan.

“Satu minggu.” Jawab Yunho.

“Ini gila.” Changmin menggerutu lagi. “Apa kau tidak berpikir bahwa kita tidak mungkin bisa mengumpulkan uang sebanyak itu hanya dalam waktu satu minggu? Kau gunakan otakmu tidak, sih?”

“Sudah cukup, Changmin. Jangan terus-menerus menyalahkan Yunho hyung seperti itu.” Timpal Junsu. Changmin hanya memutar matanya dengan ekspresi tak peduli.

“Apa boleh buat. Yunho sudah terlanjur mengatakan hal itu, jadi kita harus menepatinya.” Ucap Jaejoong memutuskan.

“Apa kau bilang? Memangnya kau akan mendapatkan uang sebanyak itu dari mana?!” Changmin kembali berteriak.

“Lalu kita harus bagaimana sekarang?!” Jaejoong balas membentak Changmin.

“Menyalahkan Yunho?! Itu saja yang harus kita lakukan?! Lalu jika kita terus menyalahkan-nya, kau pikir masalah ini akan selesai, hah?!”

Changmin tertunduk melihat api kemarahan di mata Jaejoong. Tak ada lagi yang berbicara. Apa yang dikatakan Jaejoong memang benar. Menyalahkan Yunho saja tidak akan mengubah apa-apa. Janji itu sudah terlanjur diucapkan, dan bagaimanapun, harus ditepati. Sekarang ini bukan saatnya mereka saling menyalahkan, tapi justru saatnya mereka bersatu untuk menyelesaikan masalah bersama-sama.

“Aku sudah putuskan.” Yoochun tiba-tiba membuka suara. Semua perhatian tertuju padanya. “Aku tetap tidak akan membayar. Aku akan menghadapi persidangan itu, dengan atau tanpa persetujuan kalian. Terima kasih karena kalian sudah peduli dengan masalahku.” Yoochun sudah beranjak pergi, dan bodohnya, tak ada satupun di antara mereka yang bisa mengeluarkan suara untuk mencegah kepergian Yoochun. Sampai akhirnya…

“Oppa!” suara Hana menggema memenuhi seisi ruangan. Yoochun menahan langkahnya, namun ia tidak menoleh lagi ke belakang. “Jangan pergi dulu, oppa. ada sesuatu yang sangat ingin kubicarakan dengan kalian berlima.”

Akhirnya, Yoochun membalikkan tubuh dan kembali duduk. Namun wajahnya tetap terlihat tidak senang.

“Aku ingin tanya pada kalian, apa yang sebenarnya membuat kalian jadi saling bermusuhan seperti ini?” pertanyaan pertama yang diajukan Hana berhasil membuat mereka berlima terdiam dalam perasaan bersalah. Tak ada satupun yang menjawab. Mereka semua tahu jawabannya, tapi mereka tak bisa mengatakannya. Terlalu menyakitkan untuk diucapkan dengan lisan.

“Karena keegoisan kami sendiri, semuanya jadi seperti ini.” Ucap Yoochun. Suaranya terdengar mengambang antara yakin dan tidak. Tak ada yang menanggapi kalimatnya. Mereka semua terdiam menunggu Yoochun mengucapkan kalimat berikutnya. “Keegoisan untuk memaksa orang lain agar sejalan. Aku tahu sebenarnya kita semua ingin grup itu kembali, tapi kita merasa takut akan dipermainkan untuk yang ke dua kalinya. Perasaan trauma itu, pasti belum hilang sampai sekarang. Bahkan bekasnya masih tertinggal dengan sangat jelas. dan jika ada produser lain yang menawari untuk membentuk grup itu lagi, kenapa kita harus menolak? Karena masih merasa tidak percaya. Karena masih merasa takut untuk memulainya lagi. Aku tahu hal itu. Aku tahu pasti bahwa kita berlima tidak bisa dipersatukan lagi di bawah management manapun.”

Hana menangis mendengar ucapan Yoochun. Bagaimana tidak? Mereka berlima adalah idolanya selama ini. Ia sangat mencintai Dong Bang Shin Ki. Ia tak pernah berhenti membanggakan grup itu di depan teman-temannya saat ia masih sekolah. Menikah dengan Jaejoong, mengenal dekat kelima member DBSK, adalah sesuatu yang tak pernah dibayangkannya selama ini. Ia mungkin terlalu bahagia sampai ia tak sadar bahwa grup yang dicintainya itu sudah tak utuh lagi. Dan ia baru menyadari betapa ia sangat kehilangan grup itu saat mereka berlima sudah memilih jalan hidup mereka masing-masing.

“Kalian bilang, apapun akan kalian lakukan untuk fans.” Ucap Hana sambil menyeka air matanya. Mereka berlima mengangguk samar dan hampir serentak. “Apa kalian lupa bahwa aku juga fans kalian? Dan aku ingin kalian berhenti bertengkar mulai hari ini.”

Mereka saling berpandangan mendengar permintaan Hana. Tentu saja mereka ingin berdamai. Tanpa ada pertengkaran lagi, tanpa harus saling menyakiti lagi. Kini satu-satunya cara untuk bersama-sama lepas dari masalah adalah, mereka harus bersatu kembali. Karena jika mereka terpecah seperti ini, maka produser itu akan semakin puas. Itu artinya, tujuannya untuk menghancurkan persaudaraan mereka sukses total.

“Baiklah, aku minta maaf.” Suara Junsu yang pertama terdengar. “Aku tahu aku terlalu egois selama ini. Lari dari masalah dan seenaknya memilih jalurku sendiri. Tapi aku ingin kalian tahu, aku sangat menyayangi kalian, grup ini, dan seluruh fans kita.”

“Kami semua sudah memaafkanmu, Junsu. Kami tahu perasaanmu, karena kami semua juga merasakan hal yang sama.” Jaejoong membagi senyumannya yang mempesona.

“Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama. Menghadapi pengadilan, ataupun membayar uang ganti rugi. Kita akan menyelesaikannya bersama-sama.” Tambah Yunho.

Mereka semua menunjukkan wajah lega. Jaejoong mengangkat jempolnya ke arah Hana. Dan Hana tersenyum puas melihat kelima idolanya kembali rukun.

***

Yunho POV

Sore yang cukup dingin. Sepertinya nanti malam akan turun salju. Aku mengelap keringatku dan meneguk minuman yang kubawa dari rumah. Para muridku sedang istirahat, dan itu artinya aku juga bisa istirahat. Karena di dalam ruang latihan tak ada siapa-siapa, jadi aku memutuskan untuk keluar dari sana dan berjalan menuju restoran di sanggar ini.

“Ah, permisi!” aku mendengar suara seorang gadis. Akupun menoleh untuk menatap sesosok gadis berambut panjang kecoklatan. Siapa dia? Aku belum pernah melihatnya di sini.

“Ada yang bisa kubantu?” tanyaku kemudian.

“Aku mau ke toilet, tapi dari tadi aku tidak menemukannya.”

“Oh, toilet ada di ujung koridor ini. Kau hanya tinggal berjalan lurus saja.” Aku menunjuk arah yang kumaksud. Gadis itu mengangguk dan segera berlari meninggalkanku.

Gadis yang cantik. Hmm… yah, setidaknya dia lebih cantik dibandingkan mantan-mantan pacarku. Tapi… siapa ya dia? Kenapa aku baru kali ini melihatnya?

Akupun mencoba tidak peduli dengan identitas si gadis cantik misterius itu. Akhirnya aku melanjutkan langkahku menuju restoran. Di sana aku bertemu dengan ketua sanggar, dan dia menawariku untuk duduk dengannya.

“Ah, hyung, kau tahu gadis cantik yang baru pertama kali datang ke sini?” tanyaku berbisik.

“Jadi kau sudah bertemu dengannya ya? Aku tidak menyangka.” Ketua sanggar terkekeh pelan.

“Siapa dia, hyung? Apa kau mengenalnya?”

“Tentu saja aku mengenalnya. Dia itu adalah Go Ara, puteri dari produser SM.”

Aku terpana mendengar kalimat terakhirnya. Puteri dari si tua bangka itu? Tapi kenapa aku tak pernah melihatnya selama ini? Kenapa baru kali ini aku melihatnya? Gadis itu… bahkan tidak terlihat menyebalkan seperti kedua orang tuanya. Tapi bagaimanapun, jika dia memang anak dari si tua bangka itu, artinya dia bukan ada di pihakku. Seketika itu, langsung kutelan rasa kagumku yang baru saja tumbuh. Jika mengingat bagaimana kedua orang tuanya mempermainkanku dan keempat rekanku selama ini, api kebencian akan langsung berkobar di dadaku.

“Dia sudah punya pacar?” tanyaku setelah jeda yang cukup panjang.

“Setahuku belum. Memangnya kenapa? Kau ingin menjadikannya pacarmu?”

Aku kembali terdiam. Menjadikan dia pacarku? Anak dari si tua bangka itu? Kurasa aku tidak mungkin melakukannya terkecuali untuk sesuatu urusan. Misalnya, untuk membantuku dan keempat rekanku lepas dari tuntutan untuk ganti rugi ataupun tuntutan di pengadilan. Ya, benar. Kurasa aku bisa memanfaatkan si cantik itu untuk melawan kedua orang tuanya sendiri.

“Menurutmu aku bisa mendapatkannya tidak?” tanyaku penasaran.

“Jangan mimpi. Kau harus ingat dia itu siapa. Kau saja punya banyak masalah dengan orang tuanya. Mana mungkin dia diizinkan menjalin hubungan denganmu. Sudahlah, Yunho, jangan semakin memperbesar masalah. Aku sudah cukup iba melihat masalah-masalahmu selama ini.”

“Orang tuanya memang tidak mungkin mengizinkan, tapi aku yakin hati Go Ara pasti akan mengizinkanku untuk memilikinya. Lihat saja nanti.”

“Ah! Itu dia Go Ara!” ketua sanggar berseru padaku. Aku mendongak untuk melihat sosok itu tengah berjalan menuju restoran ini. Aku tak jadi tersenyum saat aku melihat sosok di sebelahnya. Ya, dia tidak sendirian. Dia bersama dengan seseorang yang sangat kukenal.

Ibu produser. Sosok yang berjalan di samping Go Ara adalah sosok ibu produser.

Dan sialnya, aku terlambat menyembunyikan wajahku saat ibu produser sudah terlanjur menoleh dan melihat ke arahku. Keringat dingin mengucur deras dari sekujur tubuhku saat kulihat mereka berdua mendekat menuju mejaku.

Kenapa ibu produser harus ada di saat aku ingin mendekati Go Ara?

“Yunho, jika aku menjadi kau, aku tak akan pernah mencoba untuk mendekatinnya.” Aku menatap wajah ketua sanggar itu, ekspresi bingung terlihat jelas dari wajahku. Aku menunggu kalimat selanjutnya, karena aku tak memotong ddan dia melanjutkan “Karena, Go Ara menolak semua pria yang mencoba mendekatinya.”

Aku menolehkan wajahku, menatap dua sosok wanita yang berjalan mendekatiku. “Lebih baik aku pergi sekarang.” Ketua sanggar itu menepuk bahuku dan berjalan meninggalkan restoran, aku hanya menatap siluet punggungnya yang semakin menjauh.

Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus pergi dari sini sekarang, berpura-pura tidak melihat mereka? Tapi mereka sudah terlanjur melihatku. Sial!
 
Jika aku tahu mereka akan datang kemari, maka sejak awal aku tak akan pernah datang kemari. Aku tak mau bertemu dengan ibu produser itu. Aku mengutuk diriku sendiri karena telah kemari.

Langkah mereka semakin cepat, aku merasa keringatku semakin deras mengalir. Beberapa tetes keringat mengalir melewati pipiku dan jatuh kelantai.

Aku mencoba bediri,tapi aku merasa lutut-ku tak mau bekerjasama untuk menopang berat badanku. Aku merasa darahku mengalir lebih cepat.

Aku membungkukkan badanku, walaupun sejujurnya aku tak mau. Yah! Kalian tau aku harus bersikap sedikit sopan kepada mereka. “Selamat sore.” Aku mencoba berbasa-basi.

“Yunho! Bagaimana? Kau sudah berhasil mengumpulkan uang sebanyak seratus juta won?” Dia tak menghiraukan basa-basiku. Aku tahu dia akan bertanya tentang masalah ini.

Aku tak menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaannya. Jadi kubiarkan saja pertanyaan itu berlalu.

“Seratus juta won?” Go Ara membuka mulutnya. “Untuk apa, umma?”

“Untuk membayar ganti rugi atas perbuatan yang telah mereka lakukan terhadap appa-mu.” Aku mencoba menghindari tatapan sinis dari Ibu produser itu.

“Umma, kurasa seratus juta won kurang untuk membuat mereka jera.” Go Ara menyindir.

“Seratus juta won tak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan terhadap appa. Membuatnya terbaring sekarat di rumah sakit.”

Apa?! Seratus juta won masih kurang? Jika dia bukan anak produser itu, maka sudah kurobek mulutnya karena mengatakan hal seperti itu.

“Umma, apakah kau tidak ingat kejadian tiga tahun yang lalu. Mereka juga hampir membuat appa mati!”

“Sayang, kuarasa seratus juta won sudah cukup.” Ibu produser itu tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai. “Akan kupastikan mereka tak akan berani menyentuh appa-mu lagi, walaupun hanya seujung kuku.”

Go Ara tersenyum pahit, manatap sinis kearahku. Dia memiliki wajah yang cantik, dan rambut panjang yang tergerai indah melewati punggungnya. Badannya yang ramping dan tinggi. Kulitnya putih bersih, pipinya merah. Bisa dikatakan Go Ara adalah tipe-ku, dia sangat cantik, tetapi patut disayangkan dia adalah anak dari si tua Bangka itu. Orang yang membuat kami menderita, orang yang tertawa diatas penderitaan kami, orang yang menyebabkan ini semua terjadi.

“Lebih baik kita pergi dari sini saja. Aku kehilangan selera makanku.” Go Ara menekan empat kata terakhir.

“Baiklah. Yunho! Waktu kalian tinggal enam hari lagi, jika dalam waktu yang sudah ditentukan kalian tidak mampu membayar ganti rugi maka aku akan melayangkan surat tuntutan terhadap kau dan keempat rekanmu.” Ibu produser itu memperingatiku.

Aku masih terdiam,menatap kedua sosok yang berjalan meninggalkan restoran. Siluet tubuh mereka masih terlihat jelas. Tapi aku berusaha untuk tidak memperdulikan mereka.

Waktu yang tersisa tinggal enam hari lagi. Bagaimana kami bisa mendapatkan uang sebanyak seratus juta won dalam waktu enam hari?.

Ahhhh! Aku mengacak-ngacak rambutku. Frustasi? Pasti!

Go Ara! Aku harus mendekatinya, bagaimanapun caranya. Kurasa dia akan sangat berguna pada saat seperti ini.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar