Author POV
Hana menunggu didapur dan menyaiapkan beberapa makanan
ringan serta minuman..
Junsu, Changmin, Yoochun duduk di sebuah sofa yang bebentuk setengah lingkaran.
Yoochun duduk diantara Junsu dan Changmin, dia tidak mau kedua makhluk itu
berkelahi kembali. Yunho masih menatap kosong kearah foto pernikahan Jaejoong
dan Hana, sibuk dengan pikirannya sendiri. Jaejoong? Dia bersandar pada
dinding.
Situasi disini sangat tegang, tak ada satupun di
antara mereka yang akan memulai pembicara-an dan memecahkan keheningan.
Hana masuk kedalam ruang tamu, membawa senampan jus
buah dan beberapa makanan ringan.
“Oppa, lebih baik kalian minum dulu.” Hana tersenyum.
“Aku tidak akan mengganggu, berbicaralah dengan kepala dingin.”Hana kembali
masuk kedalam kamar, entah apa yang akan dilakukannya didalam kamar.
“Changmin, tadi malam saat aku berjalan pulang. Aku
melihatmu mencium seorang wanita dibawah pohon. Apakah dia wanitamu?” Suara
Jaejoong memecahkan keheningan.
Changmin menatap Jaejoong dengan tatapan tidak
percaya, bagaimana mungkin ada seseorang yang melihatnya mencium Bomi?.
Semburat warna merah muncul dipipi Changmin.
“Hyung, kita disini bukan untuk membicarakan Bomi,
kita disini untuk membicarakan masalah Yoochyun hyung dengan SM.”
Changmin sadar apa yang telah diucapkannya, dia
menutup mulutnya. Mengutuk dirinya sendiri karena dia telah menyebut nama
seorang wanita yang diciumnya semalam.
Yoochun dan Jaejoong tertawa, melihat kepoloson
Changmin. Hanya Junsu dan Yunho yang diam tak bergeming. “Jadi wanita itu
bernama Bomi.” Kata Jaejoong di sela-sela tawanya.
“Wanita yang kurang beruntung.” Yoochun menambahkan,
dia kembali tertawa.
“Eh?” Changmin tampak kaget “Kurang beruntung?”
“Changmin kecil, kau bisa juga jatuh cinta.” Suara
Jaejoong terdengar. Yoochun kembali tertawa.
“Sudahlah!” Junsu setengah berteriak. “Kita disini
bukan untuk membahas Changmin atapun wanita bernama Bomi itu.”
Jaejoong dan Yoochun berusaha menahan tawa mereka,
menatap wajah merah milik Changmin. Mereka sadar bahwa apa yang mereka
tertawakan membuat Changmin menjadi risih dan malu.
“Bagaimana? Apakah Ibu produser itu sudah melayangkan
surat tuntutannya kepadamu?” Jaejoong bertanya kearah Yoochun.
Yoochun menggeleng dan mengangkat bahu. “Belum, kurasa
dia sudah lupa.”
“Ibu tua itu tak akan mungkin melupakannya, walaupun
umurnya sudah lebih dari setengah abad aku berani bertaruh bahwa ingatannya
masih seperti anak muda.” Suara tinggi Changmin mencibir.
“Jika surat tuntutan sudah berada ditanganku. Apa yang
harus aku lakukan?’ Yoochun bertanya, meminta solusi.
“Tak ada cara lain. Kita akan melawan mereka.”
Jaejoong berkata dengan senyum getir.
“Aku bersumpah
tidak akan membiarkan dia bernafas lega kembali atau…”
“Tak perlu.” Yunho memotong perkataan Jaejoong.
“Apa maksudmu hyung?” Changmin menatap wajah Yunho
dengan tatapan bingung.
“Aku sudah benegosiasi dengan ibu produser itu. Dia
tidak akan menuntut kita, jika kita membayar ganti rugi sebesar seratus juta
won dalam waktu satu minggu.”
“Kau berlutut dihadapannya?!” Changmin mengebrak meja
yang ada didepannya. Menatap penuh curiga kearah Yunho.
“Dimana harga dirimu?!” Suara Jaejoong seperti petir
yang menyambar Yunho.
“Apa yang kau lakukan?! Kau pikir aku sudi membayar
ganti sugi kepada mereka?!”
Yoochun
berdiri, wajahnya menegang. “Aku tak akan pernah sudi membayar ganti rugi
kepada mereka barang sepeserpun!!”
“Aku hanya mau kita menghindari jalur hukum.” Yunho terisak
menahan tangisnya. “Aku tak mau salah satu diantara kita berada di balik jeruji
besi.”
“Hyung!!” Changmin menaikann nada bicaranya. “Kau ini
bodoh atau apasih. Bagaimana kita bisa mengumpulkan uang sebanyak itu?! Seratus
juta won!! Seratus juta won!!” Changmin menaikan kembali nada bicaranya saat
mengucapkan kalimat seratus juta won.
“Aku akan menemui ibu produser itu dan aku akan bilang
bahwa kau menarik kembali ucapanmu!!” Yoochun hendak beranjak pergi, tapi Yunho
mencegahnya. Dia mencengkram erat lengan Yoochun.
“Apa yang kau pikirkan saat itu?! Mengemis padanya
untuk membebaskan kita?!” Jaejoong meluapkan kembali emosinya.
“Aku hanya bernegosiasi padanya saat itu. Tidak
lebih.” Air mata menggenang di pelupuk matanya.
“Kau pikir bagaimana kita mengumpulkan uang sebanyak
itu dalam waktu satu minggu?!” Changmin terlihat frustasi.
“Aku tidak tahu, maka dari itu aku mengajak kalian
semua berkumpul untuk membicarakann ini.”
Situasi ini semakin menegang. Amarah terlihat jelas
diantara mereka.
“Aku menyerah!! Aku meyerah, kau membuat keadaan
semakin sulit!!” Yoochun meng-hempaskan tubuhnya dengan kasar keatas sofa.
“Kau ini terlalu bijaksana atau bodoh sih?!” Changmin
juga menghempaskan tubuhnya. “Sekarang apa yang harus kita lakukan?!”
Mereka semua saling terdiam dalam pikiran
masing-masing. Kenapa harus seratus juta won hanya untuk mengobati produser
yang bahkan tidak mengalami cacat? Hanya butuh dijahit di sekitar rahangnya
saja. Itu tidak akan memakan biaya sampai 10 juta won. Menurut mereka, ibu
produser itu bukan ingin meminta ganti rugi, tapi ingin memeras mereka.
“Tadi kau bilang, berapa lama batas waktunya?” tanya
Jaejoong memecah keheningan.
“Satu minggu.” Jawab Yunho.
“Ini gila.” Changmin menggerutu lagi. “Apa kau tidak
berpikir bahwa kita tidak mungkin bisa mengumpulkan uang sebanyak itu hanya
dalam waktu satu minggu? Kau gunakan otakmu tidak, sih?”
“Sudah cukup,
Changmin. Jangan terus-menerus menyalahkan Yunho hyung seperti itu.” Timpal
Junsu. Changmin hanya memutar matanya dengan ekspresi tak peduli.
“Apa boleh buat. Yunho sudah terlanjur mengatakan hal
itu, jadi kita harus menepatinya.” Ucap Jaejoong memutuskan.
“Apa kau bilang? Memangnya kau akan mendapatkan uang
sebanyak itu dari mana?!” Changmin kembali berteriak.
“Lalu kita harus bagaimana sekarang?!” Jaejoong balas
membentak Changmin.
“Menyalahkan Yunho?! Itu saja yang harus kita
lakukan?! Lalu jika kita terus menyalahkan-nya, kau pikir masalah ini akan
selesai, hah?!”
Changmin tertunduk melihat api kemarahan di mata
Jaejoong. Tak ada lagi yang berbicara. Apa yang dikatakan Jaejoong memang
benar. Menyalahkan Yunho saja tidak akan mengubah apa-apa. Janji itu sudah
terlanjur diucapkan, dan bagaimanapun, harus ditepati. Sekarang ini bukan
saatnya mereka saling menyalahkan, tapi justru saatnya mereka bersatu untuk
menyelesaikan masalah bersama-sama.
“Aku sudah putuskan.” Yoochun tiba-tiba membuka suara.
Semua perhatian tertuju padanya. “Aku tetap tidak akan membayar. Aku akan
menghadapi persidangan itu, dengan atau tanpa persetujuan kalian. Terima kasih
karena kalian sudah peduli dengan masalahku.” Yoochun sudah beranjak pergi, dan
bodohnya, tak ada satupun di antara mereka yang bisa mengeluarkan suara untuk
mencegah kepergian Yoochun. Sampai akhirnya…
“Oppa!” suara Hana menggema memenuhi seisi ruangan.
Yoochun menahan langkahnya, namun ia tidak menoleh lagi ke belakang. “Jangan
pergi dulu, oppa. ada sesuatu yang sangat ingin kubicarakan dengan kalian
berlima.”
Akhirnya, Yoochun membalikkan tubuh dan kembali duduk.
Namun wajahnya tetap terlihat tidak senang.
“Aku ingin tanya pada kalian, apa yang sebenarnya
membuat kalian jadi saling bermusuhan seperti ini?” pertanyaan pertama yang
diajukan Hana berhasil membuat mereka berlima terdiam dalam perasaan bersalah.
Tak ada satupun yang menjawab. Mereka semua tahu jawabannya, tapi mereka tak
bisa mengatakannya. Terlalu menyakitkan untuk diucapkan dengan lisan.
“Karena keegoisan kami sendiri, semuanya jadi seperti
ini.” Ucap Yoochun. Suaranya terdengar mengambang antara yakin dan tidak. Tak
ada yang menanggapi kalimatnya. Mereka semua terdiam menunggu Yoochun
mengucapkan kalimat berikutnya. “Keegoisan untuk memaksa orang lain agar
sejalan. Aku tahu sebenarnya kita semua ingin grup itu kembali, tapi kita
merasa takut akan dipermainkan untuk yang ke dua kalinya. Perasaan trauma itu,
pasti belum hilang sampai sekarang. Bahkan bekasnya masih tertinggal dengan
sangat jelas. dan jika ada produser lain yang menawari untuk membentuk grup itu
lagi, kenapa kita harus menolak? Karena masih merasa tidak percaya. Karena
masih merasa takut untuk memulainya lagi. Aku tahu hal itu. Aku tahu pasti
bahwa kita berlima tidak bisa dipersatukan lagi di bawah management manapun.”
Hana menangis mendengar ucapan Yoochun. Bagaimana
tidak? Mereka berlima adalah idolanya selama ini. Ia sangat mencintai Dong Bang
Shin Ki. Ia tak pernah berhenti membanggakan grup itu di depan teman-temannya
saat ia masih sekolah. Menikah dengan Jaejoong, mengenal dekat kelima member
DBSK, adalah sesuatu yang tak pernah dibayangkannya selama ini. Ia mungkin
terlalu bahagia sampai ia tak sadar bahwa grup yang dicintainya itu sudah tak
utuh lagi. Dan ia baru menyadari betapa ia sangat kehilangan grup itu saat
mereka berlima sudah memilih jalan hidup mereka masing-masing.
“Kalian bilang, apapun akan kalian lakukan untuk
fans.” Ucap Hana sambil menyeka air matanya. Mereka berlima mengangguk samar
dan hampir serentak. “Apa kalian lupa bahwa aku juga fans kalian? Dan aku ingin
kalian berhenti bertengkar mulai hari ini.”
Mereka saling berpandangan mendengar permintaan Hana.
Tentu saja mereka ingin berdamai. Tanpa ada pertengkaran lagi, tanpa harus
saling menyakiti lagi. Kini satu-satunya cara untuk bersama-sama lepas dari
masalah adalah, mereka harus bersatu kembali. Karena jika mereka terpecah
seperti ini, maka produser itu akan semakin puas. Itu artinya, tujuannya untuk
menghancurkan persaudaraan mereka sukses total.
“Baiklah, aku minta maaf.” Suara Junsu yang pertama
terdengar. “Aku tahu aku terlalu egois selama ini. Lari dari masalah dan
seenaknya memilih jalurku sendiri. Tapi aku ingin kalian tahu, aku sangat
menyayangi kalian, grup ini, dan seluruh fans kita.”
“Kami semua sudah memaafkanmu, Junsu. Kami tahu
perasaanmu, karena kami semua juga merasakan hal yang sama.” Jaejoong membagi
senyumannya yang mempesona.
“Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama.
Menghadapi pengadilan, ataupun membayar uang ganti rugi. Kita akan
menyelesaikannya bersama-sama.” Tambah Yunho.
Mereka semua menunjukkan wajah lega. Jaejoong
mengangkat jempolnya ke arah Hana. Dan Hana tersenyum puas melihat kelima
idolanya kembali rukun.
***
Yunho POV
Sore yang cukup dingin. Sepertinya nanti malam akan
turun salju. Aku mengelap keringatku dan meneguk minuman yang kubawa dari
rumah. Para muridku sedang istirahat, dan itu artinya aku juga bisa istirahat.
Karena di dalam ruang latihan tak ada siapa-siapa, jadi aku memutuskan untuk
keluar dari sana dan berjalan menuju restoran di sanggar ini.
“Ah, permisi!” aku mendengar suara seorang gadis.
Akupun menoleh untuk menatap sesosok gadis berambut panjang kecoklatan. Siapa
dia? Aku belum pernah melihatnya di sini.
“Ada yang bisa kubantu?” tanyaku kemudian.
“Aku mau ke toilet, tapi dari tadi aku tidak
menemukannya.”
“Oh, toilet ada di ujung koridor ini. Kau hanya
tinggal berjalan lurus saja.” Aku menunjuk arah yang kumaksud. Gadis itu
mengangguk dan segera berlari meninggalkanku.
Gadis yang cantik. Hmm… yah, setidaknya dia lebih
cantik dibandingkan mantan-mantan pacarku. Tapi… siapa ya dia? Kenapa aku baru
kali ini melihatnya?
Akupun mencoba tidak peduli dengan identitas si gadis
cantik misterius itu. Akhirnya aku melanjutkan langkahku menuju restoran. Di
sana aku bertemu dengan ketua sanggar, dan dia menawariku untuk duduk
dengannya.
“Ah, hyung, kau tahu gadis cantik yang baru pertama
kali datang ke sini?” tanyaku berbisik.
“Jadi kau sudah bertemu dengannya ya? Aku tidak
menyangka.” Ketua sanggar terkekeh pelan.
“Siapa dia, hyung? Apa kau mengenalnya?”
“Tentu saja aku mengenalnya. Dia itu adalah Go Ara,
puteri dari produser SM.”
Aku terpana mendengar kalimat terakhirnya. Puteri dari
si tua bangka itu? Tapi kenapa aku tak pernah melihatnya selama ini? Kenapa
baru kali ini aku melihatnya? Gadis itu… bahkan tidak terlihat menyebalkan
seperti kedua orang tuanya. Tapi bagaimanapun, jika dia memang anak dari si tua
bangka itu, artinya dia bukan ada di pihakku. Seketika itu, langsung kutelan
rasa kagumku yang baru saja tumbuh. Jika mengingat bagaimana kedua orang tuanya
mempermainkanku dan keempat rekanku selama ini, api kebencian akan langsung
berkobar di dadaku.
“Dia sudah punya pacar?” tanyaku setelah jeda yang
cukup panjang.
“Setahuku belum. Memangnya kenapa? Kau ingin
menjadikannya pacarmu?”
Aku kembali terdiam. Menjadikan dia pacarku? Anak dari
si tua bangka itu? Kurasa aku tidak mungkin melakukannya terkecuali untuk
sesuatu urusan. Misalnya, untuk membantuku dan keempat rekanku lepas dari
tuntutan untuk ganti rugi ataupun tuntutan di pengadilan. Ya, benar. Kurasa aku
bisa memanfaatkan si cantik itu untuk melawan kedua orang tuanya sendiri.
“Menurutmu aku bisa mendapatkannya tidak?” tanyaku
penasaran.
“Jangan mimpi. Kau harus ingat dia itu siapa. Kau saja
punya banyak masalah dengan orang tuanya. Mana mungkin dia diizinkan menjalin
hubungan denganmu. Sudahlah, Yunho, jangan semakin memperbesar masalah. Aku
sudah cukup iba melihat masalah-masalahmu selama ini.”
“Orang tuanya memang tidak mungkin mengizinkan, tapi
aku yakin hati Go Ara pasti akan mengizinkanku untuk memilikinya. Lihat saja
nanti.”
“Ah! Itu dia Go Ara!” ketua sanggar berseru padaku.
Aku mendongak untuk melihat sosok itu tengah berjalan menuju restoran ini. Aku
tak jadi tersenyum saat aku melihat sosok di sebelahnya. Ya, dia tidak
sendirian. Dia bersama dengan seseorang yang sangat kukenal.
Ibu produser. Sosok yang berjalan di samping Go Ara
adalah sosok ibu produser.
Dan sialnya, aku terlambat menyembunyikan wajahku saat
ibu produser sudah terlanjur menoleh dan melihat ke arahku. Keringat dingin
mengucur deras dari sekujur tubuhku saat kulihat mereka berdua mendekat menuju
mejaku.
Kenapa ibu produser harus ada di saat aku ingin
mendekati Go Ara?
“Yunho, jika aku menjadi kau, aku tak akan pernah
mencoba untuk mendekatinnya.” Aku menatap wajah ketua sanggar itu, ekspresi
bingung terlihat jelas dari wajahku. Aku menunggu kalimat selanjutnya, karena
aku tak memotong ddan dia melanjutkan “Karena, Go Ara menolak semua pria yang
mencoba mendekatinya.”
Aku menolehkan wajahku, menatap dua sosok wanita yang
berjalan mendekatiku. “Lebih baik aku pergi sekarang.” Ketua sanggar itu
menepuk bahuku dan berjalan meninggalkan restoran, aku hanya menatap siluet
punggungnya yang semakin menjauh.
Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Apa aku harus pergi dari sini sekarang, berpura-pura tidak melihat mereka? Tapi
mereka sudah terlanjur melihatku. Sial!
Jika aku tahu mereka akan datang kemari, maka sejak awal aku tak akan pernah
datang kemari. Aku tak mau bertemu dengan ibu produser itu. Aku mengutuk diriku
sendiri karena telah kemari.
Langkah mereka semakin cepat, aku merasa keringatku
semakin deras mengalir. Beberapa tetes keringat mengalir melewati pipiku dan
jatuh kelantai.
Aku mencoba bediri,tapi aku merasa lutut-ku tak mau
bekerjasama untuk menopang berat badanku. Aku merasa darahku mengalir lebih
cepat.
Aku membungkukkan badanku, walaupun sejujurnya aku tak
mau. Yah! Kalian tau aku harus bersikap sedikit sopan kepada mereka. “Selamat
sore.” Aku mencoba berbasa-basi.
“Yunho! Bagaimana? Kau sudah berhasil mengumpulkan
uang sebanyak seratus juta won?” Dia tak menghiraukan basa-basiku. Aku tahu dia
akan bertanya tentang masalah ini.
Aku tak menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab
pertanyaannya. Jadi kubiarkan saja pertanyaan itu berlalu.
“Seratus juta won?” Go Ara membuka mulutnya. “Untuk
apa, umma?”
“Untuk membayar ganti rugi atas perbuatan yang telah
mereka lakukan terhadap appa-mu.” Aku mencoba menghindari tatapan sinis dari
Ibu produser itu.
“Umma, kurasa seratus juta won kurang untuk membuat
mereka jera.” Go Ara menyindir.
“Seratus juta
won tak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan terhadap appa.
Membuatnya terbaring sekarat di rumah sakit.”
Apa?! Seratus juta won masih kurang? Jika dia bukan
anak produser itu, maka sudah kurobek mulutnya karena mengatakan hal seperti
itu.
“Umma, apakah kau tidak ingat kejadian tiga tahun yang
lalu. Mereka juga hampir membuat appa mati!”
“Sayang, kuarasa seratus juta won sudah cukup.” Ibu
produser itu tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai. “Akan kupastikan mereka
tak akan berani menyentuh appa-mu lagi, walaupun hanya seujung kuku.”
Go Ara tersenyum pahit, manatap sinis kearahku. Dia
memiliki wajah yang cantik, dan rambut panjang yang tergerai indah melewati
punggungnya. Badannya yang ramping dan tinggi. Kulitnya putih bersih, pipinya
merah. Bisa dikatakan Go Ara adalah tipe-ku, dia sangat cantik, tetapi patut
disayangkan dia adalah anak dari si tua Bangka itu. Orang yang membuat kami
menderita, orang yang tertawa diatas penderitaan kami, orang yang menyebabkan
ini semua terjadi.
“Lebih baik kita pergi dari sini saja. Aku kehilangan
selera makanku.” Go Ara menekan empat kata terakhir.
“Baiklah. Yunho! Waktu kalian tinggal enam hari lagi,
jika dalam waktu yang sudah ditentukan kalian tidak mampu membayar ganti rugi
maka aku akan melayangkan surat tuntutan terhadap kau dan keempat rekanmu.” Ibu
produser itu memperingatiku.
Aku masih terdiam,menatap kedua sosok yang berjalan
meninggalkan restoran. Siluet tubuh mereka masih terlihat jelas. Tapi aku
berusaha untuk tidak memperdulikan mereka.
Waktu yang tersisa tinggal enam hari lagi. Bagaimana
kami bisa mendapatkan uang sebanyak seratus juta won dalam waktu enam hari?.
Ahhhh! Aku mengacak-ngacak rambutku. Frustasi? Pasti!
Go Ara! Aku harus mendekatinya, bagaimanapun caranya.
Kurasa dia akan sangat berguna pada saat seperti ini.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar