Jaejoong POV
Untung saja Hana membangunkanku tepat waktu sehingga
aku tidak terlambat untuk menandatangani surat pengakhiran kontrak kerja.
Manager dan produser pelaksana masih menyiapkan berbagai kertas yang harus aku
tanda tangani. Setalah aku menandatangani surat itu maka tugasku sebagai
penyanyi telah selesai.
“Hanya kau yang belum menandatangani surat pengakhiran
kontrak kerja, Junsu dan Yoochun sudah menandatanganinya seminggu yang lalu.”
Produser itu menyerahkan pena yang di pegangnya. Aku meraih pena tersebut.
“Aku tau.” Aku mengambil tumpukan kertas yang sudah
disusun dengan rapi, aku membalik-balikan kertas tersebut. “Dimana aku harus
menandatanganinya?”
“Di bagian tengah dan belakang.” Produser itu menjawab
sambil terseyum.
Tanpa sedikit keraguanpun aku mengoreskan pena itu
diatas kertas, tinta yang berwarna hitam membentuk subuah tanda-tangan. Aku
bernafas lega, sekarang aku tidak terikat kontrak lagi dengan siapapun.
Aku menyerahkan kertas-kertas itu kepada produser itu,
dan aku tersenyum puas.
“Senang sekali bisa bekerja sama dengan kalian.” Aku
berkata sambil menjabat tangan manager dan produser itu.
“Gaji terakhirmu akan aku transfer ke rekeningmu.”
Produser itu berkata dengan senyum yang sangat bijaksana. “Jadi apa yang akan
kau lakukan setelah ini?”
“Terima kasih.” Aku tersenyum. “Kurasa, aku akan
menghabiskan waktu berdua dengan Hana.”
“Oh ya ya ya.” Kata produser itu lagi. “Aku turut
bahagia atas pernikahanmu. Semoga kau cepat mendapatkan kerturunan.”
“Terima kasih.”
“Aku dengar SM mengajak kalian untuk bersatu kembali,
membangun group Dong Bang Shin Ki dari awal.”
Apakah berita tentang SM yang menawarkan kami untuk
kembali bersatu sudah tersebar? Aku benci jika harus membicarakan tentang ini.
Seketika itu juga kenangan masa lalu kembali muncul dalam benakku, persidangan,
kontrak eksklusif, ketidakadilan, muncul secara bergantian, memenuhi rongga
otakku. Tanpa aku sadari, aku mengepalkan kedua tanganku, bersiap untuk meninju
apapun yang ada di hadapanku.
“Maaf jika aku menyinggung hal ini.” Produser itu
membungkuk sedikit dan meminta maaf.
“Sudahlah tidak apa-apa.” Aku menjaga agar nada
suaraku tidak meninggi karena amarah ini.
“Apa aku bisa pulang sekarang?” Lebih baik aku
menghindari pembicaran semacam ini, atau kalian tidak akan bisa melihat gedung
ini berdiri tegak lagi.
“Silahkan.” Kata Produser itu, dia merasa sedikit
menyesal karena membahas ini di depanku.
BRUK! Aku membanting pintu itu lebih keras dari pada
biasanya, entah karena aku marah atau karena aku terlalu bersemangat melepas
masa-masa gemilangku sebagai penyanyi dan memulai kehidupanku bersama Hana,
istriku yang sangat ku cintai.
Aku berencana mampir ke toko kue dan membelikan Hana
beberapa potong kue kesukaan-nya. Aku mulai mengantri dan memesan beberapa
potong kue. Akhirnya pesananku datang, aku berniat membayar pesananku dan aku
meraih saku yang berada di celanaku tapi aku tak menemukannya, aku mencari
dimana dompetku berada, tapi sekali lagi aku tak menemukan dompet yang kucari.
Aku sedikit panik.
“Ada yang bisa saya bantu?” Pelayan itu menawarkan
bantuan.
“Kurasa, aku kehilangan dompetku.” Aku berkata,
tanganku masih sibuk mencari benda kecil itu, tapi hasilnya tetap nihil, aku
tidak menemukan apa yang aku cari. “Kurasa, aku tidak jadi membeli kue ini.”
Aku tersenyum, senyum pahit.
“Oh.. kurasa kau bisa membawa kue ini.” Dia tersenyum.
“Kau tak perlu membayarnya.”
“Eh?” Aku sedikit kaget, apa dia kira aku ini
pengemis. Aku sedikit marah kepada pelayan ini. “Tidak, kurasa aku akan kembali
lain kali.”
“Aku mengenalmu.” Kata pelayan itu lagi.
“Eh?” Aku kembali dibuat bingung olehnya. Kenapa
wanita ini mengenalku sedangkan aku tak mengenalnya. Tiba-tiba ponselku
berbunyi, aku meraih ponselku dan melihat siapa yang telah meneleponku.
Nama Yoochun tertera di layar, aku mengangkatnya.
“Halo?... ada apa Yoochun?... besok malam?....
Entahlah..” Aku berjalan meninggalkan toko kue itu dan berjalan menuju mobilku
“Kenapa mendadak seperti ini?... akan ku usahakan… Bagaimana dengan Junsu? Kau
sudah bertemu dengannya?... aku tau, dia sangat membenci SM… Dia juga akan
datang?... Baiklah akan aku usahakan… Aku akan pulang ke apartment-ku dan Hana…
Baiklah, sampai jumpa.” Aku memutuskan teleponku.
Sekarang aku sedang dalam perjalan menuju apartment,
aku bersumpah tidak akan menceritakan pada siapapun tentang kejadian tadi di
toko kue tadi.
Tok! Tok! Tok!
“Sebentar.” Aku mengetahui suara wanita itu, itu
adalah suara Hana. “Mengapa kau kunci pintu ini?” aku berkata saat Hana
membukakan pintunya.
“Maaf oppa.” Hana berkata, kulihat dia sedang memakai
celemek, tidak seperti biasanya. Aku menutup pintu apartment dan mencium kedua
pipinya yang lembut.
“Kenapa kau memakai celemek?” aku bertanya kepadanya.
“Aku.. Aku menyiapkan makan malam untukmu, Oppa.” Dia
tersipu malu, muncul semburat warna merah dipipinya.
“Kau menyiapkan makan malam? Tidak seperti biasanya.”
Aku menggodanya.
“Ah sudahlah, lebih baik kau berganti baju, setelah
itu makan.” Hana membantuku melepas jaket yang kukenakan.
“Jadi istriku yang cantik ini, lebih jago memasak dari
pada suaminya ya?” Aku menggodanya lagi.
“Ah tidak, aku hanya memasak makan malam biasa. Tidak
ada yang spesial.” Dia melepaskan celemeknya. “Oppa.”
“Ya?” Aku menoleh kearahnya.
“Tadi dompetmu tertinggal.” Hana berkata sambil
melipat celemek itu. “Aku letakkan diatas meja, didalam kamar.”
Aku tersenyum, senyuman yang sangat masam. “Hmmm.”
***
Changmin POV
Aku baru selesai mandi ketika jam menunjukan pukul
17.00, aku segera melepaskan handuk yang kukenakan dan mulai memakai baju, aku
tak perlu memakai pakaian formal. Karena menurutku rapat ini hanya akan
berakhir dengan kegagalan.
2 jam lagi sebelum rapat dengan semua staff dan
pemegang saham SM.
Aku merebahkan badanku diatas sofa, Yunho hyung juga
belum pulang dari melatih koreografi anak-anak asuhan SM yang lain, aku tidak akan
menunggu Yunho hyung, karena aku akan berangkat sendiri ke gedung itu, gedung
yang merupakan sarang setan.
Aku hendak berjalan-jalan sebelum aku menghadiri rapat
itu. Sejujurnya aku malas mem-bicarakan ini. Bagaimana tidak, mereka yang telah
menghancurkan, dan mereka berkata dengan santainya bahwa mereka ingin
mempersatukan kami kembali? Mereka kira siapa yang akan menjalankan kontrak?
Siapa yang akan mengejar target? Kenapa butuh 3 tahun bagi mereka untuk
mempersatukan kami kembali?
3 tahun bukan waktu yang sebentar, 3 tahun itu telah
membuat jarak diantara kami semakin melebar. Mereka pikir kami masih bisa
tinggal disatu ruangan yang sama setelah jarak itu semakin lebar? Mereka hanya
memikirkan perut mereka saja. Mereka tidak berpikir bahwa kami yang akan
menderita.
Aku mengepalkan tanganku, ya, aku masih menyimpan
dendam kepada SM, karena mereka aku terikat kontrak eksklusif selama 2 tahun,
kerana mereka aku kehilangan ketiga hyungku, karena mereka aku tersiksa selama
2 tahun mengejar target yang mereka minta.
Tapi.. Tapi.. aku mau nama Dong Bang Shin Ki kembali,
kembali bersinar. Aku masih mau mendengar sekelompok orang mengelu-elukan nama
DBSK, berteriak dan berkata bahwa mereka mencintai kami. Aku masih mau menjadi
magnae dalam group, aku masih mau mengisi nada-nada tinggi dalam setiap lagu.
Aku masih mau menjdi bagian dari DBSK, masih mau bernyanyi untuk Cassiopeia.
Pikiran dan hatiku terbagi antara menyetujui dan
tidak. menerima tawaran tersebut atau tidak. Aku bukan anak kecil lagi, aku
bukan seseorang yang bodoh yang akan mengulang kesalahan untuk yang kedua
kalinya.
Aku menatap hamparan langit yang luas, tak terasa aku
sudah berjalan sejauh ini. 1 KM lagi sebelum aku tiba di gedung itu.
Aku mengingat-ngingat masa lalu yang menyenangkan
bersama kelima hyung-ku, aku ingat saat pertama kali aku mengikuti audisi, saat
bertemu dengan yang lainnya, kami bergabung dalam satu group yang sama,
berlatih koreografi bersama, melakukan pemotretan untuk majalah ataupun untuk
hal lainnya, syuting video clip, dan bahkan bermain drama singkat.
Memori-memori itu berputar semakin cepat, membuatku tak dapat menahan rasa
sedihku. Sampai sebuah memori telintas dalam banakku, conser terakhir kami
dengan formasi yang lengkap..
Tahun 2009 di NHK kohaku Uta Gassen, itu adalah
penampilan kami yang terakhir dengan formasi yang lengkap 5 member, bukan 2
member. Kami menyanyikan lagu Stand By U. lagu yang penuh makna.
Aku benar-banar tak dapat membendung air mataku,
setetes air bening jatuh melewati pipiku dan disusul tetes-tetes air mata yang
lainnya. Aku benci menangis, aku menggigit bibir bawahku agar aku dapat
berhenti menangis, tapi itu sia-sia air mata ini tetap mengalir tak dapat
dihentikan seperti laju air sungai yang deras.
Entah berapa lama aku menagis, tapi aku menyadari
bahwa jaket yang kukenakan sedikit basah oleh air mataku, seseorang menyerahkan
sapu tangan kearahku, aku mengangkat wajahku, berusaha menatap siapa yang
memberikanku sapu tangan, dia seorang wanita, ya seorang wanita dengan rambut
tergerai indah berwarna coklat yang melewati pundaknnya.
Aku tak bergeming sedikitpun. Wanita itu mengusap air mata-ku yang masih
melekat di pipi-ku. Kuraih tangannya, dia melepaskannya dan menyerahkan sapu
tangan itu.
“Jangan menagis.” Dia berkata “Dunia ini memang kejam,
tapi kau tak pantas menangisi apapun yang sudah berlalu.”
Aku masih diam tak bergeming, aku menatap matanya,
matanya berwarna coktat madu. Aku merasakan sesuatu didalam perutku, perutku
seperti bersalto, perasaan apa ini? Ohh Tuhan jangan perasaan ini. Aku bahkan
tidak mengenalnya.
“Baiklah.” Dia tersenyum, senyuman yang sangat hangat.
“Aku akan pergi. Sampai jumpa.”
Dia berjalan menjauh, meninggalkanku yang masih diam
mematung.
“Tunggu siapa namamu?” Aku berteriak.
“Namaku Bo Mi.” Dia berteriak sambil melambaikan
tangannya.
Aku masih memegang sapu tangan miliknya, sapu tangan
itu berwarna perak. Di pojok bagian bawah tertulis nama, aku membacanya “Bo
Mi”
Aku kembali berjalan menuju gedung SM. Tanpa terasa
aku telah sampai kedalam gedung milik SM.
Beberapa orang menyapaku, aku terus berjalan tanpa
menghiraukan mereka.
“Hey.” Seseorang menepuk pundakku, aku membalikan
badan dan melihat Yoochun oppa berdiri tegak dibelakangku.
“Hey, hyung.” Aku berbasa-basi dengannya “Dimana Junsu
hyung?”
“Kurasa dia akan datang terlambat.”
Aku dan Yoochun hyung berjalan memasuki lift, aku
menekan tombal yang tertulis angka 5, yang artinya ruangan rapat ada di lantai
5.
“Dari mana saja kau?” Seseorang berkata saat pintu
lift mulai terbuka,aku mengenal suara itu, itu adalah suara Yunho hyung. “Aku
bertanya padamu Shim Changmin, dari mana saja kau? Aku mengkhawatirkanmu? Aku
menjemputmu di apartment tapi apa yang aku dapati? apartment itu kosong.”
“Tadi aku
berjalan-jalan sebentar.” Aku berkata jujur.
“Mengapa pakaianmu lembab? Kenapa matamu sembab?” Yunho
hyung mulai membombardirkan berbagai pertanyaan kepadaku. “Jelaskan padaku Shim
Changmin!”
“Sejak kapan kau perhatian padaku?” Aku balik bertanya
dengan nada yang sedikit kasar.
Sebelum Yunho hyung menjawab, pintu lift segera terbua
kulihat Jaejoong hyung dan Junsu hyung keluar dari lift.
“Kukira kalian tidak akan datang.” Yoochun hyung
menghampiri mereka berdua.
“Apa kami terlambat?” Jaejoong hyung malah bertanya
balik, dia menatap wajah kami semua dan dia berhenti saat menatapku. “Apa kau
menangis Changmin?” Tebaknya.
“Tidak, tadi aku menumpahkan minumku.” Jawabku asal.
“Kau itu tak pandai berbohong, jangan berbohong pada
kami.” Jaejoong hyung, seperti biasa, dia bisa selalu mengetahui bahwa aku
berbohong atau tidak.
“Aku.. aku..”
Pintu terbuka, seseorang yang memakai jas keluar dari
pintu itu, pintu yang memisahkan antar lobby dengan ruang rapat.
“Produser telah menunggu kalian dari tadi.” Kata
seorang co-produser.
Aku membiarkan keempat hyung-ku berjalan duluan dan
aku menyusul mereka dari belakang. Memasuki ruangan rapat atau boleh dibilang
ruangan yang akan segera roboh oleh amarahku atau amarah keempat hyung-ku.
Tersedia lima kursi kosong, yang aku ketahui sengaja
di siapkan untuk kami berlima. Aku duduk diantara Jaejoong hyung dan Yunho
hyung, ini mengingatkanku pada formasi regular DBSK. Aku bersandar pada kursi
itu, beberapa orang yang aku ketahui sebagai pemengang saham di SM berada pada
ruangan yang sama.
Semuanya diam, tak ada yang bersuara. Bahkan aku bisa
mendengar tarikan nafas Jaejoong hyung.
“Bagaimana?” Tanya produser itu, langsung ke inti
pokok permasalahan. Kulihat Junsu hyung sedikit mengepalkan tangannya.
Kami berlima tetap diam seribu bahasa, tak ada yang
menjawab pertanyaan si produser sialan itu.
“Jika kami harus bersatu kembali, kenapa kami harus
bernaung di bawah kekuasaan kalian?!” Jaejoong mulai berkata dengan tegas.
“Menurutku masih ada management yang lebih baik dari pada kalian!”
“Tenang dulu Kim jaejoong.” Produser itu
menyunggingkan sebuah senyuman yang aku tafsirkan sebagai tanda waspada. “kita
berkumpul disini untuk membicarakan ini dengan kepala dingin.”
“Apa yang akan kalian janjikan?” Junsu hyung mulai
berkata. “Janji? Harta? Tahta?”
Aku merasa keadaan disini sedikit tegang, aku menatap
Yunho hyung, dia tenang, tetapi aku tak tau apa yang tersembunyi di balik
wajahnya yang sangat tenang itu.
“Santai sedikit.” Dia mulai berkata. “Apa kalian tidak
mau bersatu kembali bersatu? Mem-bangun nama Dong Bang Shin ki dari awal?
Mencetak rekor baru di dunia music?”
“Buat apa itu semua.” Jaejoong hyung berkata kembali.
“Jika pada akhirnya hanya kalian yang menikmati hasil jerih payah kami!”
Aku mau, aku mau membangun nama Dong Bang Shin Ki dari
awal, aku mau mencetak rekor baru di dunia music bersama kelima hyungku,
tetapi.. aku.. aku tau mau berada di bawah kekuasaan mereka, aku tau mau
menjadi boneka yang bisa dikendalikan.
“Aku berjanji tidak akan mengulangi hal bodoh yang
kulakukan 3 tahun yang lalu.” Produser itu mulai berkata.
“Apa buktinya?” sekarang giliran Yoochun hyung yang
berbicara. “Apa buktinya jika kalian tidak berbohong?”
“Kenapa butuh waktu 3 tahun bagi kalian untuk
menawarkan ini, menawarkan kembalinya kami semua!” Aku melontarkan kata-kata
itu. Aku sedikit merasakan amarahku.
“Dan kenapa kalian menginginkan kami berlima?” Yunho
hyung angkat bicara. “Tak cukupkah asuhan kalian memberikan keuntungan yang
besar untuk kalian?!”
“Bagaimana kami tau bahwa kalian tidak berbohong?”
Junsu hyung kembali berbicara.
“Hanya orang bodoh yang mengulangi kesalahan yang sama
untuk kedua kalinya.”
Aku menatap wajah Junsu hyung, dia kembali berbicara
“Kesalahan terbesarku adalah menandatangi kontrak dengan kalian, apa aku harus
mengulangi kesalahanku lagi?!”
“Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku dengan
kalian semua.. Aku berani meyerahkan semua saham yang kumiliki.” Dia
menawarkan.
Aku tau ini bukan tawaran yang main-main, ku tatap
wajah keempat hyung-ku. Raut wajah ini, bukan raut wajah yang biasnya, aku
berpikir mereka juga merasakan apa yang aku rasa. Tawaran ini bukan main-main,
dan ini bisa menjadi awal baru bagi kami. Tapi kebencianku kepada SM kembali
muncul. Menentang apapun yang berhubungan dengan SM.
“Apa kalian
tidak mau bersatu kembali?” Produser itu malah bertanya kembali. “comeback dengan
formasi yang utuh, 5 member?”
“Jangan mengubah arah pembicaraan!” Jaejoong hyung
berkata denga tegas. “Jawab saja pertanyaan kami yang tadi!”
“Aku tidak akan menjawab pertanyaan kalian sebelum
kalian menjawab pertanyaanku.” Produser
itu berkata, kata-kata itu berhasil membangunkan amarah kami berlima.
“Beraninya kau!!” Jaejoong hyung menggeram. “Apa
kalian sudah bosan melihat gedung ini berdiri tegak?!”
“Aku hanya menginginkan jawaban kalian.” Dia berkata
lagi. “Iya atau tidak?”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar