Welcome

Selasa, 15 Mei 2012

Unbeatable Heart (translate) part 8

orginal author : yukie23 at http://www.asianfanfics.com

Jaejoong POV

Aku menoleh ketika aku mendengar pintu dibuka. Seseorang yang berdiri di ambang pintu adalah Iseul.

“I..se..ul.” ucapku.

Dia berjalan pelan ke arahku dan dia berhenti ketika dia sudah berdiri tepat di hadapanku. Lalu dia menggapaikan tangannya memelukku. Aku bisa merasakan tubuhnya gemetar.

“K..ka..u..t..ak..u..t?”

Dia mengangguk. “Aku takut, Jaejoong. Aku tak ingin ini terjadi… kau tahu aku tidak… aku…” suaranya semakin parau.

“A..k..u..ta..h..u.” ucapku. “Ak..u..me..nya..ya..ng..i..m..u, Is..e..ul. Se..l..a..lu.”

Dia melepaskan pelukannya. Lalu perlahan tangannya menelusuri wajahku. “K..a..u..ta..m..p.. ak..le..l..a..h.” ucapku.

“Kau juga.” Dia berbisik.

“Ya…h.”

Dia menatapku beberapa saat ketika kata-kataku memukulnya. “Jangan menyerah demi aku. Kumohon… jangan pernah berhenti berjuang.”

“Ti..d..a..k…ak..a..n.” jawabku. Aku merangkulkan tangan ke bahunya, memeluk adikku. Dia pergi ke ruang persidangan sendiri, tapi aku selalu di sampingnya… aku akan selalu berada di sampingnya, apapun yang terjadi.

Soo Jin POV

Aku memperhatikan puteriku memasuki ruang persidangan dan duduk di samping pengacaranya. Dia terlihat gelisah dan lelah. Tuhan, dia terlihat sangat lelah. Aku tak bisa menduga berapa lama dia tidak tidur? Aku tidak pernah melihatnya seperti… sangat kelelahan.

Dia berjalan di depanku tanpa mempedulikan tatapanku. Dia duduk dan memandang lurus ke depan. Aku tahu tangannya gemetar, kegelisahannya terlihat jelas. Akupun menoleh pada Chang su. “Apa kau kira dia akan baik-baik saja?” tanyaku.

Chang Su menatapku. “Tidak, Soo Jin. Iseul sudah mengalami trauma berat. Dia tidak akan benar-benar baik-baik saja, tapi ketika semua ini selesai, kau harus membuka dirimu untuknya lagi. Kau harus menunjukkan padanya bagaimana cara mengatasi semua ini, kita berdua sama-sama menginginkan yang terbaik. Itu adalah sesuatu yang tak pernah kita beritahukan padanya. Kita selalu memberitahunya bahwa selama dia bersama kita, Jaejoong akan tetap hidup. Sekarang, dia melepaskan semua bantuannya di masa depan yang hampir tiba, dan itu akan membuat Jaejoong tak bisa bertahan hidup lagi. Kita selalu tahu itu… tapi dia tidak tahu. Ini kenyataan yang sangat berat, Soo Jin, kita tak bisa melindunginya, kita hanya bisa membantunya.”

Aku menatapnya kosong. “Kenapa kau memberitahuku semua itu sekarang?” tanyaku, merasakan sesak di tenggorokanku. Chang Su menarik napas.

“Karena, Soo Jin, caramu memperlakukannya tampak seolah kau membencinya. Dan Iseul mulai tampak membenci dirinya… aku tidak tahu bagaimana caranya membantumu. Aku hanya tahu bagaimana cara membantu Iseul. Aku mencoba membantumu untuk mengerti perasaan Iseul, tapi pada akhirnya, kalian berdua berbeda. Mungkin terlalu berbeda.” Katanya.

Aku menoleh pada puteriku yang sedang bicara dengan pengacaranya. “Dia mirip denganmu. Itu lah alasannya, Chang Su… puteri kita hanya mirip denganmu. Dan aku tidak pernah sepenuhnya mengerti jalan pikiranmu.”

Chang Su mengangguk. “Baiklah, sepertinya kau sudah siap untuk memulai semua ini.” Kata-nya. Aku mengangguk.

Ya, aku akan memulainya.

Author POV

Hakim memasuki rangan. Dia duduk di kursinya dan menatap file yang berisikan keterangan kasus di mejanya. Satu-satunya kasus yang paling membuatnya ketakutan. Dia membacanya dengan cepat, karena dia sudah tahu detailnya. Hari-hari yang dilaluinya, dia habiskan dengan mengharap kedua juri dan dia akan membuat keputusan yang benar di akhir kasus ini.

“Kasus Kim Iseul menuntut kedua orang tuanya, Kim Chang Su dan Park Soo Jin?” hakim bertanya.

“Ya, benar.” Suara lain tertuju padanya. Dia menatap Mr. Park, pengacara yang dia kenal baik.

“Baiklah, Mr. Park, siapa klien-mu?”

“Kim Iseul, Tuan.” Katanya.

Hakim mengangguk. “Orang yang dituntut?”

“Di sini, Tuan. Namaku Park Soo Jin, dan ini suamiku, Chang Su.”

“Pembela resmimu?”

“Di sini, Tuan.” Mr. Lee berkata sambil berdiri.

“Ok, tolong jelaskan kenapa kau membawa kasus ini ke pengadilan, Mr. Park?” seorang jaksa bertanya.

“Tentu saja, Tuan. Klien-ku adalah seorang kembar identik. Saudara kembarnya, Kim Jaejoong didiagnosis terkenapa Ataxia Telan…”

Kim Iseul berdiri. Dia lalu menjelaskan alasannya sendiri, tentang mengapa dia memutuskan untuk menuntut.

“Jadi, Iseul.” Mr. Lee berkata. “Apa kau sudah sepenuhnya memperkirakan apa yang akan terjadi jika kau menolak untuk mendonor pada Jaejoong?”

“Aku menyadari sepenuhnya situasi ini.”

“Dan apa bagimu tak masalah jika saudaramu mati?”

“Keberatan!” Mr. Park berseru.

“Tahan sebentar.” Ucap Hakim. Dia menoleh pada Mr. Lee.

“Ya, biarkan aku bertanya pada Iseul. Konsekuensi dari tindakanmu, apa kau sudah mempersiapkan untuk menerimanya?”

“Ya.” Iseul menjawab.

Mr. Lee mengangguk. “Iseul, apa artinya Jaejoong untukmu?”

“Itu sesuatu yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Dia segalanya bagiku. Dia saudaraku, seseorang yang selalu aku pikirkan. Aku tahu konsekuensinya, tapi itu tidak berarti aku meng-inginkan semua itu terjadi. Tolong… mengertilah…” ucap Iseul, suaranya mulai parau. “Aku takut. Aku tidak bisa melakukan ini lagi. Aku takut.”

Mr. Lee mengangguk. “Tak ada pertanyaan lagi.”

Chang Su mendengar kalimat puterinya dan tiba-tiba mengingat kejadian saat puterinya berusia 11 tahun.

“Ayah, aku takut.” Begitu ucap Iseul.

Dia tidak pernah berhenti ketakutan. Dia selalu ketakutan. Tapi pada akhirnya, Chang Su merasa, itu justru adalah kesalahannya. Karena pada akhirnya, dia yang memberitahukan pada Iseul bahwa Jaejoong juga takut. Pada akhinya, sepajang tahun, Iseul memikirkan apa Jaejoong baik-baik saja. Hanya sampai sekarang, dia sudah tidak peduli pada kesehatannya lagi.

…………………………

Kim Chang Su berdiri. “Aku tak akan membeberkan pada siapapun mengenai semua yang terjadi. Setelah aku memberi tahu pun, penyakit itu tetap akan membunuhnya. Aku hanya ingin keluarga ku kembali lagi. Ini bukan permintaan yang terlalu berlebihan, kan?”

Park Soo Jin berdiri.

“Aku hanya ingin menyelamatkan puteraku. Aku mencintai puteriku, tapi ketika kau tahu bawa Iseul menolak untuk menyelamtkan saudaranya, apa yang bisa kau lakukan? Ini bukan berarti aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku akan melakukannya jika aku bisa, aku akan mendonor, tapi organku tak cocok. Aku hanya ingin puteraku hidup, aku ingin keluargaku bersama lagi.”

“Dan di samping itu, kau masih melarang Iseul mengunjungi Jaejoong?” Mr. Park bertanya.
“Aku melakukannya demi Iseul. Bagiku sangat menyakitkan saat melihat Jaejoong dalam kondisi semakin buruk. Aku juga membayangkan apa yang dirasakan Iseul. Aku tidak bermaksud menjauhkan mereka berdua. Aku hanya tak ingin puteriku… aku tak ingin dia menderita sepertiku.”

Yunho POV

Salju mulai turun lagi. Aku menonton berita yang mengumumkan bahwa badai musim dingin akan menyerang Seoul.

“Ini adalah badai, sesuatu yang tidak pernah muncul selama 10 tahun lalu.” Ucap reporter.

Aku menatap ke luar jendela dan memperhatikan salju yang turun bergulir.

“Suhu cuaca akan sampai -20o Fahrenheit.” Lanjutnya.

Ini mengartikan alam sedang marah. Ketika alam tahu apa yang terjadi di ruang persidangan dan dia pun akhirnya marah. Marah atas kenyataan yang tak bisa diperbaiki lagi.

Jaejoong POV

Aku semakin sulit bicara. Perlahan aku menutup mata. Aku tahu besok sepertinya aku akan kehilangan suaraku. Aku tidak akan bisa berbicara lagi dengan Iseul, atau Yunho, atau Ibu, atau Ayah.

Berapa lama aku bisa menjalani semua ini? Sementara, aku tidak bisa bergerak lagi, hidup hanya untuk bernapas. Bisakah seseorang tahan menjalaninya? Bisakah kau bertahan hidup, tanpa tujuan apapun dalam hidupmu?

Aku lelah. Tubuhku lelah untuk berjuang.

Aku sudah merasa lelah begitu lama.

Semua ini selalu membuatku lelah.

Tapi aku harus hidup…

Untuk hal-hal yang membahagiakan…

Selama aku masih hidup…

Author POV

Hakim menarik napas berat. Kasus hampir selesai. “Apa ada kata-kata terakhir untuk para juri, Mr. Lee?” tanya hakim.

Mr. Lee mengangguk. “Ya, Tuan.” Dengan cepat dia membaca tulisan di sebuah kertas dan langsung berdiri. Dia berjalan ke arah juri.

“Kasus ini sangat rumit. Di sini ada ajaran moral dan issue yang mungkin sebagian besar dari kita tak pernah memikirkan sampai sejauh itu. Biarkan aku memberitahumu, sebelum kau membuat keputusan akhir, cobalah untuk membayangkan kau ada di posisi mereka. Di posisi Mr. Kim, di posisi Mrs. Kim, di posisi Kim Iseul, dan yang terpenting dari semua itu, di posisi Kim Jaejoong. Buatlah keputusan yang menurutmu terbaik. Apakah seseorang akan meninggalkan saudaranya seperti itu? Jika ada api di rumahmu, dan kau bisa keluar dengan mudah, tapi tak ada satupun keluargamu yang bisa keluar dari sana, apakah kau berani untuk menyelamatkan mereka? Akankah kau melakukannya? Atau hanya menyelamatkan diri sendiri? Ini bukan tentang apa yang bisa dilakukan, tapi ini tentang apa yang harus dilakukan. Terima kasih.”

“Mr. Park?” tanya hakim.

Mr. Park berdiri dan berjalan ke depan setelah Mr. Lee duduk.

“Aku setuju dengan Mr. Lee bahwa dalam kasus ini ada banyak ajaran moral dan issue, dan dengan kalimatnya tadi, aku ingin menyanggah ini bukan tentang apa yang seharusnya dilakukan, tapi tentang apa yang bisa dilakukan. Menyambung analogi Mr. Lee, mengenai kebakaran itu, aku yakin kita semua setuju, jika berada di posisi itu, kau akan melakukan apa yang harus kau lakukan. Tak peduli kau melakukan atau tidak melakukannya dalam kasus ini. Apa yang akan aku tanyakan sekarang ini adalah, apa yang bisa kau lakukan jika kau ingin memadamkan apinya. Harus menjadi orang yang menyelamatkan, atau membiarkan mereka membuat keputusan sendiri? Ini adalah pertanyaan tentang apa yang bisa dilakukan. Karena pada akhirnya, masih banyak orang lain yang juga bisa melakukannya. Terima kasih.”

Dia berjalan kembali ke kursinya.

“Para juri akan melakukan diskusi, kita akan melanjutkannya lagi dalam 20 menit.” Ucap hakim.

Yunho POV

Ketika aku berusia 12 tahun, aku melihat anak kecil yang juga ada di rumah sakit, sama sepertiku. Aku mencoba berteman dengannya. Kenapa tidak? Jika aku harus sering ke rumah sakit, aku harus memiliki banyak teman di sana.

Itulah saat Leukimia benar-benar menyerangku. Aku menjadi sangat lemah, dan aku tahu aku hanya memiliki sedikit waktu, itulah yang membuat ibuku tak pernah berharap lagi.

Masalahnya adalah, aku tidak tahu bagaimana bicara dengan anak itu. Akhirnya, aku memutuskan untuk meninggalkannya sendiri. Dengan kondisi seperti ini, aku yakin aku hanya membuat siapapun yang kuajak berteman malah bertambah sedih. Jika aku mati dengan cepat, itu akan membuatnya sedih juga. Jadi aku memutuskan untuk menjauh darinya.

Sampai suatu hari, setelah aku mendengar bahwa keadaanku semakin buruk, aku memutuskan untuk menyerah.

Saat itu ada begitu banyak hal yang tak bisa kujelaskan pada ibuku. Sesuatu yang bisa kutangani sendiri.

Mendengarkan saran dokter terus-menerus hanya untuk mengurangi penderitaanku.

Aku mulai mengabaikan diriku. Aku akan mengabaikan semua makanan yang diberikan padaku, bahkan aku sama sekali tak menengoknya. Suatu hari, ketika aku bermaksud membuang makanan saat tak ada siapapun, pintu terbuka dan Jaejoong masuk. Dia menatapku ketika aku berusaha menunjukkan padanya bahwa aku tidak melakukan apapun.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Siapa kau?” tanyaku, tidak peduli pada pertanyaannya.

“Namaku Kim Jaejoong, dan mereka memintaku untuk memanggilmu. Kau lupa latihan pagi. Apa yang tadi kau lakukan?” tanyanya lagi.

Aku menarik napas. “Aku ingin… aku ingin…” kucoba untuk mengabaikan pertanyaan itu lagi.

“Apa yang kau lakukan?!”

“Hei! Kau tidak paham?” jawabku. “Aku membuang makanan itu, kan?! Aku benci makananku.”

“Kenapa? Kenapa kau melakukannya?” dia bertanya dengan suara lirih.

“Karena!” ucapku. “Aku akan segera mati. Tak ada gunanya aku makan, tak ada gunanya aku berlatih. Aku melakukannya karena aku tak mau membuat ibuku sedih!”

Jaejoong menatapku. “Beritahu mereka aku akan ke sana dalam satu menit.” Ucapku.

“Kau beruntung.” Ucapnya.

“Apa?” tanyaku, menoleh padanya.

“Kau beruntung. Kau tahu bahwa di dunia ini begitu banyak oang yang menderita penyakit yang sama denganmu dan mereka tidak bisa melakukan kemoterapi. Ini adalah tahun-tahun yang sangat berat dalam hidup kita… kita melakukan semuanya untuk mereka. Orang-orang di luar sana tidak mendapatkan penanganan medis, berbeda denganmu atau denganku. Mereka mungkin ingin hidup, dan kau seenaknya menyia-nyiakan hidupmu seperti itu. Lebih baik kau memberikan hidupmu pada mereka jika kau pikir semuanya sudah tak berguna. Sebaiknya kau… tidak hanya memikirkan dirimu sendiri saja.”

Aku menatapnya, tanpa berkata apa-apa. Matanya tampak sendu ketika dia mengatakan semua itu, tapi dia tidak pernah mengatakan maaf. Dia tidak pernah mengatakan hal yang salah. Dia hanya berkata.

“Aku akan memberitahu mereka kau akan segera ke sana.”

Kata-kata yang diucapkannya padaku, tidak akan pernah aku lupakan. Aku akan selalu mengingatnya di kepalaku setiap kali aku ingin menyerah.

Dan saat ini, kata-kata itulah yang ada di kepalaku.

Setelah kejadian itu aku mulai bicara dengannya. Itu terus berlanjut dan aku berterima kasih padanya karena telah menyelamatkan hidupku. Aku ingat dia tersenyum padaku dan berkata. “Ti-dak… kau menyelamatkan dirimu sendiri.”

Jaejoong selalu sangat pintar, selalu sangat baik.

Sekalipun, dia selalu menderita.

Jadi untuk membalasnya, aku bertingkah seperti orang bodoh.

Dan sekarang untuk membalas Iseul, aku melakukan hal yang sama.

Lihatlah, Jaejoong, aku bukan pengecut. Aku ada di sini sekarang untuk menjagamu tetap hidup.

Untuk membiarkan ibuku melewati hari lebih lama dengan putera tunggalnya.

Dan untuk memastikan bahwa aku menjaga Iseul dalam sebuah kedamaian.

Kau tahu, bahwa aku membutuhkan alasan untuk hidup. Jika hanya satu… itu cukup membawaku untuk berjuang menuju kehidupan yang lebih abadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar