Jaejoong POV
Aku menoleh
ketika aku mendengar pintu dibuka. Seseorang yang berdiri di ambang pintu adalah
Iseul.
“I..se..ul.”
ucapku.
Dia berjalan
pelan ke arahku dan dia berhenti ketika dia sudah berdiri tepat di hadapanku.
Lalu dia menggapaikan tangannya memelukku. Aku bisa merasakan tubuhnya gemetar.
“K..ka..u..t..ak..u..t?”
Dia mengangguk.
“Aku takut, Jaejoong. Aku tak ingin ini terjadi… kau tahu aku tidak… aku…”
suaranya semakin parau.
“A..k..u..ta..h..u.”
ucapku. “Ak..u..me..nya..ya..ng..i..m..u, Is..e..ul. Se..l..a..lu.”
Dia melepaskan
pelukannya. Lalu perlahan tangannya menelusuri wajahku. “K..a..u..ta..m..p..
ak..le..l..a..h.” ucapku.
“Kau juga.” Dia
berbisik.
“Ya…h.”
Dia menatapku
beberapa saat ketika kata-kataku memukulnya. “Jangan menyerah demi aku.
Kumohon… jangan pernah berhenti berjuang.”
“Ti..d..a..k…ak..a..n.”
jawabku. Aku merangkulkan tangan ke bahunya, memeluk adikku. Dia pergi ke ruang
persidangan sendiri, tapi aku selalu di sampingnya… aku akan selalu berada di
sampingnya, apapun yang terjadi.
Soo Jin POV
Aku
memperhatikan puteriku memasuki ruang persidangan dan duduk di samping
pengacaranya. Dia terlihat gelisah dan lelah. Tuhan, dia terlihat sangat lelah.
Aku tak bisa menduga berapa lama dia tidak tidur? Aku tidak pernah melihatnya
seperti… sangat kelelahan.
Dia berjalan di
depanku tanpa mempedulikan tatapanku. Dia duduk dan memandang lurus ke depan.
Aku tahu tangannya gemetar, kegelisahannya terlihat jelas. Akupun menoleh pada
Chang su. “Apa kau kira dia akan baik-baik saja?” tanyaku.
Chang Su
menatapku. “Tidak, Soo Jin. Iseul sudah mengalami trauma berat. Dia tidak akan
benar-benar baik-baik saja, tapi ketika semua ini selesai, kau harus membuka
dirimu untuknya lagi. Kau harus menunjukkan padanya bagaimana cara mengatasi
semua ini, kita berdua sama-sama menginginkan yang terbaik. Itu adalah sesuatu
yang tak pernah kita beritahukan padanya. Kita selalu memberitahunya bahwa
selama dia bersama kita, Jaejoong akan tetap hidup. Sekarang, dia melepaskan
semua bantuannya di masa depan yang hampir tiba, dan itu akan membuat Jaejoong
tak bisa bertahan hidup lagi. Kita selalu tahu itu… tapi dia tidak tahu. Ini
kenyataan yang sangat berat, Soo Jin, kita tak bisa melindunginya, kita hanya
bisa membantunya.”
Aku menatapnya
kosong. “Kenapa kau memberitahuku semua itu sekarang?” tanyaku, merasakan sesak
di tenggorokanku. Chang Su menarik napas.
“Karena, Soo
Jin, caramu memperlakukannya tampak seolah kau membencinya. Dan Iseul mulai
tampak membenci dirinya… aku tidak tahu bagaimana caranya membantumu. Aku hanya
tahu bagaimana cara membantu Iseul. Aku mencoba membantumu untuk mengerti
perasaan Iseul, tapi pada akhirnya, kalian berdua berbeda. Mungkin terlalu
berbeda.” Katanya.
Aku menoleh pada
puteriku yang sedang bicara dengan pengacaranya. “Dia mirip denganmu. Itu lah
alasannya, Chang Su… puteri kita hanya mirip denganmu. Dan aku tidak pernah
sepenuhnya mengerti jalan pikiranmu.”
Chang Su
mengangguk. “Baiklah, sepertinya kau sudah siap untuk memulai semua ini.”
Kata-nya. Aku mengangguk.
Ya, aku akan
memulainya.
Author POV
Hakim memasuki
rangan. Dia duduk di kursinya dan menatap file yang berisikan keterangan kasus
di mejanya. Satu-satunya kasus yang paling membuatnya ketakutan. Dia membacanya
dengan cepat, karena dia sudah tahu detailnya. Hari-hari yang dilaluinya, dia
habiskan dengan mengharap kedua juri dan dia akan membuat keputusan yang benar
di akhir kasus ini.
“Kasus Kim Iseul
menuntut kedua orang tuanya, Kim Chang Su dan Park Soo Jin?” hakim bertanya.
“Ya, benar.”
Suara lain tertuju padanya. Dia menatap Mr. Park, pengacara yang dia kenal
baik.
“Baiklah, Mr.
Park, siapa klien-mu?”
“Kim Iseul,
Tuan.” Katanya.
Hakim
mengangguk. “Orang yang dituntut?”
“Di sini, Tuan.
Namaku Park Soo Jin, dan ini suamiku, Chang Su.”
“Pembela
resmimu?”
“Di sini, Tuan.”
Mr. Lee berkata sambil berdiri.
“Ok, tolong
jelaskan kenapa kau membawa kasus ini ke pengadilan, Mr. Park?” seorang jaksa
bertanya.
“Tentu saja,
Tuan. Klien-ku adalah seorang kembar identik. Saudara kembarnya, Kim Jaejoong
didiagnosis terkenapa Ataxia Telan…”
Kim Iseul
berdiri. Dia lalu menjelaskan alasannya sendiri, tentang mengapa dia memutuskan
untuk menuntut.
“Jadi, Iseul.”
Mr. Lee berkata. “Apa kau sudah sepenuhnya memperkirakan apa yang akan terjadi
jika kau menolak untuk mendonor pada Jaejoong?”
“Aku menyadari
sepenuhnya situasi ini.”
“Dan apa bagimu
tak masalah jika saudaramu mati?”
“Keberatan!” Mr.
Park berseru.
“Tahan
sebentar.” Ucap Hakim. Dia menoleh pada Mr. Lee.
“Ya, biarkan aku
bertanya pada Iseul. Konsekuensi dari tindakanmu, apa kau sudah mempersiapkan
untuk menerimanya?”
“Ya.” Iseul
menjawab.
Mr. Lee
mengangguk. “Iseul, apa artinya Jaejoong untukmu?”
“Itu sesuatu
yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Dia segalanya bagiku. Dia saudaraku,
seseorang yang selalu aku pikirkan. Aku tahu konsekuensinya, tapi itu tidak
berarti aku meng-inginkan semua itu terjadi. Tolong… mengertilah…” ucap Iseul,
suaranya mulai parau. “Aku takut. Aku tidak bisa melakukan ini lagi. Aku
takut.”
Mr. Lee
mengangguk. “Tak ada pertanyaan lagi.”
Chang Su
mendengar kalimat puterinya dan tiba-tiba mengingat kejadian saat puterinya
berusia 11 tahun.
“Ayah, aku
takut.” Begitu ucap Iseul.
Dia tidak pernah
berhenti ketakutan. Dia selalu ketakutan. Tapi pada akhirnya, Chang Su merasa,
itu justru adalah kesalahannya. Karena pada akhirnya, dia yang memberitahukan
pada Iseul bahwa Jaejoong juga takut. Pada akhinya, sepajang tahun, Iseul
memikirkan apa Jaejoong baik-baik saja. Hanya sampai sekarang, dia sudah tidak
peduli pada kesehatannya lagi.
…………………………
Kim Chang Su
berdiri. “Aku tak akan membeberkan pada siapapun mengenai semua yang terjadi.
Setelah aku memberi tahu pun, penyakit itu tetap akan membunuhnya. Aku hanya
ingin keluarga ku kembali lagi. Ini bukan permintaan yang terlalu berlebihan,
kan?”
Park Soo Jin
berdiri.
“Aku hanya ingin
menyelamatkan puteraku. Aku mencintai puteriku, tapi ketika kau tahu bawa Iseul
menolak untuk menyelamtkan saudaranya, apa yang bisa kau lakukan? Ini bukan
berarti aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku akan melakukannya jika aku
bisa, aku akan mendonor, tapi organku tak cocok. Aku hanya ingin puteraku
hidup, aku ingin keluargaku bersama lagi.”
“Dan di samping
itu, kau masih melarang Iseul mengunjungi Jaejoong?” Mr. Park bertanya.
“Aku melakukannya demi Iseul. Bagiku sangat menyakitkan saat melihat Jaejoong dalam kondisi semakin buruk. Aku juga membayangkan apa yang dirasakan Iseul. Aku tidak bermaksud menjauhkan mereka berdua. Aku hanya tak ingin puteriku… aku tak ingin dia menderita sepertiku.”
“Aku melakukannya demi Iseul. Bagiku sangat menyakitkan saat melihat Jaejoong dalam kondisi semakin buruk. Aku juga membayangkan apa yang dirasakan Iseul. Aku tidak bermaksud menjauhkan mereka berdua. Aku hanya tak ingin puteriku… aku tak ingin dia menderita sepertiku.”
Salju mulai
turun lagi. Aku menonton berita yang mengumumkan bahwa badai musim dingin akan
menyerang Seoul.
“Ini adalah
badai, sesuatu yang tidak pernah muncul selama 10 tahun lalu.” Ucap reporter.
Aku menatap ke
luar jendela dan memperhatikan salju yang turun bergulir.
“Suhu cuaca akan
sampai -20o Fahrenheit.” Lanjutnya.
Ini mengartikan
alam sedang marah. Ketika alam tahu apa yang terjadi di ruang persidangan dan
dia pun akhirnya marah. Marah atas kenyataan yang tak bisa diperbaiki lagi.
Jaejoong POV
Aku semakin
sulit bicara. Perlahan aku menutup mata. Aku tahu besok sepertinya aku akan
kehilangan suaraku. Aku tidak akan bisa berbicara lagi dengan Iseul, atau
Yunho, atau Ibu, atau Ayah.
Berapa lama aku
bisa menjalani semua ini? Sementara, aku tidak bisa bergerak lagi, hidup hanya
untuk bernapas. Bisakah seseorang tahan menjalaninya? Bisakah kau bertahan
hidup, tanpa tujuan apapun dalam hidupmu?
Aku lelah.
Tubuhku lelah untuk berjuang.
Aku sudah merasa
lelah begitu lama.
Semua ini selalu
membuatku lelah.
Tapi aku harus
hidup…
Untuk hal-hal
yang membahagiakan…
Selama aku masih
hidup…
Author POV
Hakim menarik
napas berat. Kasus hampir selesai. “Apa ada kata-kata terakhir untuk para juri,
Mr. Lee?” tanya hakim.
Mr. Lee
mengangguk. “Ya, Tuan.” Dengan cepat dia membaca tulisan di sebuah kertas dan
langsung berdiri. Dia berjalan ke arah juri.
“Kasus ini
sangat rumit. Di sini ada ajaran moral dan issue yang mungkin sebagian besar
dari kita tak pernah memikirkan sampai sejauh itu. Biarkan aku memberitahumu,
sebelum kau membuat keputusan akhir, cobalah untuk membayangkan kau ada di
posisi mereka. Di posisi Mr. Kim, di posisi Mrs. Kim, di posisi Kim Iseul, dan
yang terpenting dari semua itu, di posisi Kim Jaejoong. Buatlah keputusan yang
menurutmu terbaik. Apakah seseorang akan meninggalkan saudaranya seperti itu?
Jika ada api di rumahmu, dan kau bisa keluar dengan mudah, tapi tak ada satupun
keluargamu yang bisa keluar dari sana, apakah kau berani untuk menyelamatkan
mereka? Akankah kau melakukannya? Atau hanya menyelamatkan diri sendiri? Ini
bukan tentang apa yang bisa dilakukan, tapi ini tentang apa yang harus
dilakukan. Terima kasih.”
“Mr. Park?”
tanya hakim.
Mr. Park berdiri
dan berjalan ke depan setelah Mr. Lee duduk.
“Aku setuju
dengan Mr. Lee bahwa dalam kasus ini ada banyak ajaran moral dan issue, dan
dengan kalimatnya tadi, aku ingin menyanggah ini bukan tentang apa yang
seharusnya dilakukan, tapi tentang apa yang bisa dilakukan. Menyambung analogi
Mr. Lee, mengenai kebakaran itu, aku yakin kita semua setuju, jika berada di
posisi itu, kau akan melakukan apa yang harus kau lakukan. Tak peduli kau
melakukan atau tidak melakukannya dalam kasus ini. Apa yang akan aku tanyakan
sekarang ini adalah, apa yang bisa kau lakukan jika kau ingin memadamkan
apinya. Harus menjadi orang yang menyelamatkan, atau membiarkan mereka membuat
keputusan sendiri? Ini adalah pertanyaan tentang apa yang bisa dilakukan.
Karena pada akhirnya, masih banyak orang lain yang juga bisa melakukannya.
Terima kasih.”
Dia berjalan
kembali ke kursinya.
“Para juri akan
melakukan diskusi, kita akan melanjutkannya lagi dalam 20 menit.” Ucap hakim.
Yunho POV
Ketika aku
berusia 12 tahun, aku melihat anak kecil yang juga ada di rumah sakit, sama
sepertiku. Aku mencoba berteman dengannya. Kenapa tidak? Jika aku harus sering
ke rumah sakit, aku harus memiliki banyak teman di sana.
Itulah saat
Leukimia benar-benar menyerangku. Aku menjadi sangat lemah, dan aku tahu aku
hanya memiliki sedikit waktu, itulah yang membuat ibuku tak pernah berharap
lagi.
Masalahnya
adalah, aku tidak tahu bagaimana bicara dengan anak itu. Akhirnya, aku
memutuskan untuk meninggalkannya sendiri. Dengan kondisi seperti ini, aku yakin
aku hanya membuat siapapun yang kuajak berteman malah bertambah sedih. Jika aku
mati dengan cepat, itu akan membuatnya sedih juga. Jadi aku memutuskan untuk
menjauh darinya.
Sampai suatu
hari, setelah aku mendengar bahwa keadaanku semakin buruk, aku memutuskan untuk
menyerah.
Saat itu ada
begitu banyak hal yang tak bisa kujelaskan pada ibuku. Sesuatu yang bisa
kutangani sendiri.
Mendengarkan
saran dokter terus-menerus hanya untuk mengurangi penderitaanku.
Aku mulai
mengabaikan diriku. Aku akan mengabaikan semua makanan yang diberikan padaku,
bahkan aku sama sekali tak menengoknya. Suatu hari, ketika aku bermaksud
membuang makanan saat tak ada siapapun, pintu terbuka dan Jaejoong masuk. Dia
menatapku ketika aku berusaha menunjukkan padanya bahwa aku tidak melakukan
apapun.
“Apa yang kau
lakukan?” tanyanya.
“Apa yang kau
lakukan di sini? Siapa kau?” tanyaku, tidak peduli pada pertanyaannya.
“Namaku Kim
Jaejoong, dan mereka memintaku untuk memanggilmu. Kau lupa latihan pagi. Apa
yang tadi kau lakukan?” tanyanya lagi.
Aku menarik
napas. “Aku ingin… aku ingin…” kucoba untuk mengabaikan pertanyaan itu lagi.
“Apa yang kau
lakukan?!”
“Hei! Kau tidak
paham?” jawabku. “Aku membuang makanan itu, kan?! Aku benci makananku.”
“Kenapa? Kenapa
kau melakukannya?” dia bertanya dengan suara lirih.
“Karena!”
ucapku. “Aku akan segera mati. Tak ada gunanya aku makan, tak ada gunanya aku
berlatih. Aku melakukannya karena aku tak mau membuat ibuku sedih!”
Jaejoong
menatapku. “Beritahu mereka aku akan ke sana dalam satu menit.” Ucapku.
“Kau beruntung.”
Ucapnya.
“Apa?” tanyaku,
menoleh padanya.
“Kau beruntung.
Kau tahu bahwa di dunia ini begitu banyak oang yang menderita penyakit yang
sama denganmu dan mereka tidak bisa melakukan kemoterapi. Ini adalah
tahun-tahun yang sangat berat dalam hidup kita… kita melakukan semuanya untuk
mereka. Orang-orang di luar sana tidak mendapatkan penanganan medis, berbeda
denganmu atau denganku. Mereka mungkin ingin hidup, dan kau seenaknya
menyia-nyiakan hidupmu seperti itu. Lebih baik kau memberikan hidupmu pada
mereka jika kau pikir semuanya sudah tak berguna. Sebaiknya kau… tidak hanya
memikirkan dirimu sendiri saja.”
Aku menatapnya,
tanpa berkata apa-apa. Matanya tampak sendu ketika dia mengatakan semua itu,
tapi dia tidak pernah mengatakan maaf. Dia tidak pernah mengatakan hal yang
salah. Dia hanya berkata.
“Aku akan
memberitahu mereka kau akan segera ke sana.”
Kata-kata yang
diucapkannya padaku, tidak akan pernah aku lupakan. Aku akan selalu
mengingatnya di kepalaku setiap kali aku ingin menyerah.
Dan saat ini,
kata-kata itulah yang ada di kepalaku.
Setelah kejadian
itu aku mulai bicara dengannya. Itu terus berlanjut dan aku berterima kasih
padanya karena telah menyelamatkan hidupku. Aku ingat dia tersenyum padaku dan
berkata. “Ti-dak… kau menyelamatkan dirimu sendiri.”
Jaejoong selalu
sangat pintar, selalu sangat baik.
Sekalipun, dia
selalu menderita.
Jadi untuk membalasnya,
aku bertingkah seperti orang bodoh.
Dan sekarang
untuk membalas Iseul, aku melakukan hal yang sama.
Lihatlah,
Jaejoong, aku bukan pengecut. Aku ada di sini sekarang untuk menjagamu tetap
hidup.
Untuk membiarkan
ibuku melewati hari lebih lama dengan putera tunggalnya.
Dan untuk
memastikan bahwa aku menjaga Iseul dalam sebuah kedamaian.
Kau tahu, bahwa
aku membutuhkan alasan untuk hidup. Jika hanya satu… itu cukup membawaku untuk
berjuang menuju kehidupan yang lebih abadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar