Welcome

Rabu, 16 Mei 2012

DBSK comeback? (part 18)


Author POV

Junsu menunggu dengan harap-harap cemas di sebuah café yang agak sepi. Menunggu kehadiran seseorang. Apakah seseorang itu Taeyeon? entahlah hanya Junsu yang tau.
 
Junsu kembali melirik jam tangan yang dikenakannya, jam menunjukan pukul 11..15, sudah lewat 15 menit dari waktu yang telah di tentukan.

Seorang pria memakai jas hitam dengan wajah yang sangat berwibawa masuk kedalam café, mengambil tempat duduk tepat disebelah Junsu.

Dialah seseorang yang ingin Junsu temui, bukan Taeyeon. Seorang produser yang sudah menawari Junsu untuk bersolo karir.

Kenapa Junsu setega itu, meninggalkan keempat rekannya dalam masalah yang sudah terlalu banyak. Berusaha menjadi penyanyi solo sedangkan keempat rekannya berharap dia kembali, kembali untuk melengkapi posisi dalam sebuah group bernama Dong Bang Shin Ki.

“Maaf, aku terlambat.” Produser itu berkata sambil membungkuk sedikit, dan mengambil tempat duduk tepat di depan Junsu. “Apakah kau sudah lama menunggu?”

Dia, dia adalah seorang produser yana bernama Lee Junki, produser yang pernah ditemui Junsu beberapa waktu silam, produser yang mempunyai sebuah management yang cukup besar di Asia.

“Hanya 15 menit lebih.” Jawab Junsu malas.

Dia mengeluarkan sebuah file folder, terlihat beberapa kertas terselip didalamnya. Dia mengeluarkan sebatang pulpen dan meletakan itu semua di atas meja.

“Kim Junsu.” Dia menatap wajah Junsu yang sedang menunduk, dan menebarkan senyum yang cukup bijaksana.

“Ya?” Junsu sedikit kaget dan mengangkat wajahnya.

“Apa kau benar-benar menginginkan tawaran ini? menjadi penyanyi solo?” Produser itu memastikan.

***

Junsu POV

“Apa kau benar-benar menginginkan tawaran ini? menjadi penyanyi solo?” Produser itu memastikan.

Pertanyaan itu seperti sebuah kalimat yang akan menjadi awal dari hidupku yang baru, atau mungkin akan menjadi akhir bagi keempat rekannku.

Aku menatap tumpukan kertas yang berada diatas meja, memandanginya dengan tatapan yang tak bisa digambarkan. Perasaan bingung kembali memenuhi seluruh pikiranku.

Apa aku harus menandatanginya? Atau aku harus meninggalkan tawaran ini?

Aku kembali menatap wajah produser yang sedang tersenyum hangat, menunggu keputusan yang akan ku ambil.

Jika aku menandatanganinya maka aku akan terikat kontrak selama 3 tahun lagi. dan selama tiga tahun itu pula aku akan pergi dari panggung ke panggung untuk bernyanyi, dari negara yang satu ke negara yang lain.

Bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan kembalinya group bernama Dong Bang Shin Ki? apakah aku tega meninggalkan mereka?

SM! Jika mengingat 2 huruf itu, rasa benci kembali memenuhi hatiku. Entahlah, aku sangat membencinya. Dia yang menyebabkan ini semua. Dia yang merusak hubungan persahabatan diantara kami.

Aku tak meyadari bahwa aku telah mengepalkan kedua tanganku, bersiap menyalurkan amarahku. Meluapkan emosiku.

“Bagaimana?” Suara itu, membangunkanku dari bayang-bayang tentang DBSK, dari kebencianku terhadap SM.

Jika aku menandatangi kontrak ini, maka DBSK mempunyai peluang yang kecil untuk kembali. Dan aku juga mempunyai kesempatan untuk membalas dendam dengan SM. 

DBSK mempunyai peluang yang kecil untuk kembali? Kurasa tidak, mereka akan tetap kembali dengan atau tanpaku. Aku tidak peduli, kurasa mereka semua juga tidak peduli dengan kehadiranku. Tak ada seseorangpun yang peduli terhadapku. Tapi pertengkaran diantara kami berlima merupakan suatu fakta yang jelas bahwa DBSK tidak mempunyai peluang untuk kembali, rasa benci yang muncul diantara kami bisa menjadi dinding yang kuat untuk menghalangi apapun.

Aku kembali pada keputusan awalku bahwa jika DBSK harus kembali maka kami harus berada dalam naungan management apapun kecuali SM.

Aku kembali menatap kertas-kertas yang tertumpuk rapi. Aku memutuskan untuk…..

***

Author POV

Junsu masih tertunduk, mungkin dia akan mengubah keputusannya, mungkin dia akan menolak tawaran itu.

“Bagaimana?” Produser itu bertanya untuk kedua kalinya. “Apakah kau akan menerima tawaranku atau tidak?”

“Seperti perkataanku tempo hari.” Junsu duduk lebih tegak dari semula, menatap kedua bola mata produser itu dengan tatapan yang tajam. Berusaha memastikan bahwa langkah yang diambilnya merupakan langkah yang paling tepat. Langkah yang akan mengawali kehidupan barunya. Langkah yang akan membantunya untuk membalas dendam. Langkah yang akan membuatnya menjadi penghianat diantara keempat rekannya.

Produser itu menyerahkan sebatang pulpen kearah Junsu, dan menyerahkan tumpukan kertas itu tepat di depan Junsu. Senyuman hangatnya masih tertempel diwajahnya.

“Lebih baik kau membaca kontrak itu terlebih dahulu.” Dia memberi saran. “Jika pada kontrak itu terdapat suatu yang tak kau inginkan aku bisa merubahnya.”

“Tak perlu. Aku percaya padamu.” Junsu meraih pulpen yang diberikan produser itu, membuka lembar demi lembar kertas yang bertumpuk. “Dimana aku harus menandatanganinya?”

“Pada halaman tengah dan belakang.” Produser itu berkata. “Tapi akan lebih baik jika kau membacanya.”

“Sudah ku katakana padamu, aku mempercayaimu.” Junsu sedikit menaikan nada bicaranya. “Tapi aku akan membacanya untuk memastikan tidak ada ranjau yang kau selipkan diantara kertas kontak ini.”

Junsu mengingat kejadian buruknya dengan SM, kontrak yang penuh dengan ranjau. Kontrak yang menyebabkan dia berpisah dengan kedua rekannya.

Sesekali Junsu beguman, menggumamkan kata yang mungkin hanya dia sendiri yang mengerti.

“Cukup menarik.” Akhirnya Junsu mengucapkan kata yang membuat produser itu mengembangkan senyumanya. “Baik aku setuju.”

“Kau bisa menandatanganinya.” Dia masih tersenyum. “Jika kau menandatanginya kau akan memulai debutmu sebagai penyanyi solo.”

Junsu bersiap mengoreskan tinta hitam tersebut diatas kertas putih. Hitam diatas putih, yang akan memiliki kekuatan hukum.

Junsu benar-benar akan melakukannya, menandatangani kontak itu dan menghancurkan harapan keempat rekannya.

Ujung pulpen tersebut telah meyentuh kertas. Junsu hanya tinggal menggerakan tangannyan untuk menjadi sebuah tanda tangan.

BRUKKK!!! Suara pintu café dibuka dengan cukup keras dan menimbulkan suara yang sangat akrab di telingan Junsu.

“Hentikan!!” seseorang berteriak dengan nada yang sangat tinggi.

Junsu dan produser itu membalikan badan mereka untuk melihat siapa yang telah membuka pintu dengan kasar dan berteriak seperti itu.

Junsu tak dapat melihat dengan jelas, hanya siluet tubuh 4 orang yang berjalan mendekatinya. Dia sama sekali tak mengharapkan kehadiran siapapun saat ini.

Empat orang itu, wajah itu. Junsu sangat mengenalinya, dia adalah Yunho, Jaejoong, Yoochun, dan Changmin.

Mengapa mereka bisa berada disini? Junsu bersumpah bahwa dia tak pernah mengatakan kepada siapapun kecuali Taeyeon bahwa hari ini dia akan bertemu dengan produser yang telah manawarinya untuk menjadi penyanyi solo.

Seseorang manarik dengan paksa pulpen yang di genggam oleh Junsu. Changmin, dialah yang menarik pulpen itu dan membuangnya. Produser itu sedikit bergidik, melihat keempat wajah yang tak asing lagi baginya, melihat kemarahan yang terpancar di mata setiap orang. Dia bepikir, apakah ini waktu yang tepat untuk menawari mereka kontrak kerja? Bergabung menjadi satu di bawah naungannya?

“Apa yang kau lakukan!” Junsu berdiri dan menatap wajah Changmin dengan tatapan tidak percaya. “Kembalikan pulpen itu sekarang juga, Shim Changmin!”

“Bagaimana jika aku menolak?!” Terlihat senyum sinis tertempel diwajahnya, dia merendah-kan nada bicaranya. “Apa yang akan kau lakukan?!”

“Aku akan tetap menadatanginya. Walaupun kalian tidak menyetujuinya..”

“Junsu lebih baik kita bicarakan ini terlebih dahulu.”Jaejoong yang mengangkat suara duluan, nada dan ekspresinya lembut seperti biasa.. “Ini tentang kita semua. Taeyeon tadi menelepon. Katanya, kau akan menemui produser itu hari ini dan sini.”

Taeyeon? kenapa dia menelepon keempat rekan Junsu dan memberitahu mereka bahwa hari ini dia akan berada disini. Taeyeon? Junsu merasa marah dengan Taeyeon akan hal ini.

“Taeyeon?!” Ujarnya tak percaya. “Aku tak percaya dia akan memberitahu kalian.”

“Jangan salahkan Taeyeon!” Kali ini Yunho yang berbicara dengan tegas. “Apa kau sudah yakin dengan ini semua, kau akan meninggalkan kami semua?”

Junsu mengangguk. “Sangat Yakin.”

Changmin bersiap meninju wajah Junsu, tatepi Yoochun yang berada disebelahnya men-cegah. Meraih tangan Changmin agar dia tak bisa melayangkan tinjunya.

“Changmin, kita semua disini untuk membicarakan ini dengan kepala dingin bukan dengan kekerasaan.” Yoochun memperingati Changmin, dan menatap tajam kearah sang magnae.
 
Changmin mengeluarkan tatapan sinisnya, dan meletakkan kedua tangannya didepan dadanya. Menatap wajah Yoochun dengan tatapan tidak percaya.

Jaejoong memandang Yunho, meminta pendapat. Akhirnya Yunho melanjutkan. “Junsu, kami tau kau sangat membenci SM. Tapi tak maukah kau menyelesaikan masalah kita dengan SM terlebih dahulu? Kau tau bahwa sebentar lagi Yoochun akan di tuntut oleh pihak SM dengan tuntukan kekerasan dan pencemaran nama baik dan kemungkinan besar Yoochun akan masuk penjara karena hal itu.”

Yoochun tersenyum getir, mengingat akan kejadian itu. Kejadian yang membuat produser SM menjadi babak-belur dan terbaring tak berdaya diatas ranjang rumah sakit.

“Kanapa aku harus terlibat dengan masalah kalian?”

Jaejoong berdehem tidak senang, “Tak bisakah kau mengesampingkan keegoisanmu sesaat dan bersikap peduli kepada kami?”

Junsu terdiam. Entahlah. Dia tak punya pilihan lain sekarang, kecuali harus mendengar per-kataan keempat rekannya. Junsu adalah tipe orang yang keras kepala, seperti saat DBSK harus bubar. Dia pernah berkata bahwa ‘Jika salah satu dari kami harus keluar dari DBSK maka aku juga akan keluar dari DBSK’. Maka itulah yang dia lakukan, keluar dari DBSK dengan Jaejoong dan Yoochun serta membentuk sebuah group beru bernama JYJ di bawah naungan C-Jes Entertainment, lalu…

“Sudah kukatakan pada kalian, dia itu keras kepala!” Changmin memotong pikiran Junsu dengan nada mencibir. “Pembicaraan ini hanya akan membuang-bung waktu kita.”

“Changmin!” Jaejoong berkata dengan tegas kearah Changmin. “Jaga ucapanmu! Atau akan ada pertengkarang lagi diantara kita.”

Changmin membalas tatapan sinis Jaejoong. Yoochun masih berdiri tenang, seolah-olah mereka hanya membicarakan masalah cuaca.

“Kenapa kalian mau aku mengelesaikan masalah kita dengan SM?” Junsu bertanya. “Jika aku menandatangani kontrak ini, maka masalahku dengan SM akan selesai.” Junsu menekan 3 kata teakhir.

“Kau ini bodoh atau idiot?” Changmin sudah tidak sabar lagi.. “Kau pikir SM sebodoh itu, membiarkan kita semua lepas dari gengamannya. Kau pikir dia akan senang melihat karirmu kembali bersinar, aku yakin dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membuatmu jatuh dan hancur. Membuat kita semua hancur.” Changmin menaikan nada bicaranya ketika mengucap-kan kalimat ‘Membuat kita semua hancur’

Junsu terlihat marah. “Kau memang pintar atau lebih tepatnya jenius, tapi kau tak boleh seenaknya mengatakan orang lain idiot!” Junsu bersiap melayangkan tinjunya, tapi Yunho mencegahnya.

“Kita disini untuk membicarakan baik-baik bukan dengan kekerasan!” Jaejoong kembali memperingati.

“Tidak ada yang perlu kita bicarakan dengannya!” Changmin memotong kalimat Jaejoong. “Ini sudah jelas, dia akan meninggalkan kita. Meninggalkan kita hanya demi kontrak sialan itu. Dia tidak akan mengubah keputusannya demi apapun termasuk demi kita semua!”
 
Sepertinya hanya Changmin yang mengerti keadaan ini, hanya Changmin yang bisa membaca pikiran Junsu.

“Shim Changmin!!” Jaejoong berkata dengan tegas, menatap sinis kearah Changmin. “Aku berharap kau bisa menjaga ucapanmu, atau kau akan melihat akibatnya!” Yunho dan Yoochun juga menatap sinis kearah Changmin.

“Aku tidak akan pernah merasa takut!” Changmin berkata, berusaha menghindari tatapan sinis dari yang lain. “Sekalipun aku harus mematahkan tangannya, aku bersumpah tidak akan membiarkannya terikat kontrak sampai masalah kita selesai!”

Junsu menatap wajah Changmin dengan perasaan yang berubah, ekspresinya sangat terkejut.

“Changmin!” Yoochun berkata, menatap kearah sang magnae agar dia bisa menutup mulutnya. “Tak bisakah kau memendam amarahmu?”

“Sudah!” Suara milik Yunho bergema didalam café ini. “Junsu, kami tak pernah mengetahui bahwa kau memiliki keinginan untuk menjadi penyanyi solo. Apa kau ingin menjadi penyanyi solo hanya untuk membalas dendam ke SM?”

Kalimat Yunho, kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk. Yunho mengatahui apa tujuan dibalik kontrak ini.

“Hyung.” Dia sedikit tertunduk. “Bisakah kalian mengerti keadaanku? Aku lelah dengan semua ini! aku lelah harus berkelahi, aku lelah harus mengalah!”

“Kau pikir!” Changmin memulai argumentasinya kembali. “Disini hanya kau yang mengalah?!”

“Sejak kapan kau berkata dengan nada tinggi saat berbicara denganku?” Junsu menatap Changmin dengan tatapan penuh amarah dan ketidakpercayaan.

“Sejak kau besikap egois!” Changmin kembali menatap mata Junsu. “Sejak kau tidak pernah menggunakan hatimu untuk mengambil keputusan!”

PLAKKK!!! Sebuah tamparan mendarat sempurna diwajah Changmin.

“Kau?!!!” Changmin menggeram.

“Sudah hentikan!!” Yunho berada diantara mereka, mencegah agar adegan baku-hantam tidak terjadi kembali seperti tempo hari. “Changmin kuharap kau bisa menjaga ucapanmu. Junsu kuharap kau bisa menjaga emosimu.”

“Aku akan menjaga emosiku, jika dia bisa menjaga ucapannya!”

Produser itu menatap perseteruan diantara mereka berlima dengan tatapan kaget. Dia tak percaya jika akhirnya akan seperti ini.

“Jika kalian datang kemari hanya untuk mencegahku, maka aku tetap tidak akan meyerah. Aku akan tetap menandatangani kontrak itu. Apapun yang terjadi!”

“Kalau begitu aku akan tetap mematahakan kedua tanganmu!” Changmin tetap bersikeras kepada keputusannya.

“Hentikan!!” Jaejoong kembali mengeluarkan suaranya. “Junsu kami berharap kau tidak menandatangani kontrak itu sampai masalah tuntuan SM terhadap Yoochun selesai!”

Jaejoong dan Yunho beranjak, sepertinya ini adalah keputusan terakhir mereka. Memberi peringatan kepada Junsu. Changmin dan dan Yoochun mengikuti langkah Jaejoong dan Yunho, lalu berhenti di ambang pintu café yang letaknya tidak jauh dari Junsu.

“Kami berharap kau mau memikirkannya sekali lagi.” Ujur Yunho pelan. “Masih ada orang yang menanti kehadiranmu.”

Junsu menatap keempat rekannya dengan ekspresi tidak percaya. Yunho hanya terseyum tipis melihatnya.

“Tunggu dulu!!” Sesorang berteriak, Jaejoong, Yunho, Changmin, dan Yoochun membalikan badan mereka, melihat siapa yang telah berani menghentikan langkah mereka.

“Aku ingin bicara dengan kalian semua!” ternyata dia adalah produser itu, produser yang menawari Junsu untuk menjadi penyanyi solo.

Jaejoong, Yunho, Changmin dan Yoochun tidak berjalan mendekat, mereka masih berdiri di ambang pintu café.

“Bagaimana jika kalian bersatu kembali, membangun kembali group bernama Dong Bang Shin Ki di bawah management-ku?” tawarnya.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar