Author POV
Junsu menunggu dengan harap-harap cemas di sebuah café
yang agak sepi. Menunggu kehadiran seseorang. Apakah seseorang itu Taeyeon?
entahlah hanya Junsu yang tau.
Junsu kembali melirik jam tangan yang dikenakannya, jam menunjukan pukul
11..15, sudah lewat 15 menit dari waktu yang telah di tentukan.
Seorang pria memakai jas hitam dengan wajah yang
sangat berwibawa masuk kedalam café, mengambil tempat duduk tepat disebelah
Junsu.
Dialah seseorang yang ingin Junsu temui, bukan
Taeyeon. Seorang produser yang sudah menawari Junsu untuk bersolo karir.
Kenapa Junsu setega itu, meninggalkan keempat rekannya
dalam masalah yang sudah terlalu banyak. Berusaha menjadi penyanyi solo
sedangkan keempat rekannya berharap dia kembali, kembali untuk melengkapi
posisi dalam sebuah group bernama Dong Bang Shin Ki.
“Maaf, aku terlambat.” Produser itu berkata sambil
membungkuk sedikit, dan mengambil tempat duduk tepat di depan Junsu. “Apakah
kau sudah lama menunggu?”
Dia, dia adalah seorang produser yana bernama Lee
Junki, produser yang pernah ditemui Junsu beberapa waktu silam, produser yang
mempunyai sebuah management yang cukup besar di Asia.
“Hanya 15 menit lebih.” Jawab Junsu malas.
Dia mengeluarkan sebuah file folder, terlihat beberapa
kertas terselip didalamnya. Dia mengeluarkan sebatang pulpen dan meletakan itu
semua di atas meja.
“Kim Junsu.” Dia menatap wajah Junsu yang sedang
menunduk, dan menebarkan senyum yang cukup bijaksana.
“Ya?” Junsu sedikit kaget dan mengangkat wajahnya.
“Apa kau benar-benar menginginkan tawaran ini? menjadi
penyanyi solo?” Produser itu memastikan.
***
Junsu POV
Junsu POV
“Apa kau benar-benar menginginkan tawaran ini? menjadi
penyanyi solo?” Produser itu memastikan.
Pertanyaan itu seperti sebuah kalimat yang akan
menjadi awal dari hidupku yang baru, atau mungkin akan menjadi akhir bagi
keempat rekannku.
Aku menatap tumpukan kertas yang berada diatas meja,
memandanginya dengan tatapan yang tak bisa digambarkan. Perasaan bingung
kembali memenuhi seluruh pikiranku.
Apa aku harus menandatanginya? Atau aku harus
meninggalkan tawaran ini?
Aku kembali menatap wajah produser yang sedang
tersenyum hangat, menunggu keputusan yang akan ku ambil.
Jika aku menandatanganinya maka aku akan terikat
kontrak selama 3 tahun lagi. dan selama tiga tahun itu pula aku akan pergi dari
panggung ke panggung untuk bernyanyi, dari negara yang satu ke negara yang
lain.
Bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan
kembalinya group bernama Dong Bang Shin Ki? apakah aku tega meninggalkan
mereka?
SM! Jika mengingat 2 huruf itu, rasa benci kembali
memenuhi hatiku. Entahlah, aku sangat membencinya. Dia yang menyebabkan ini
semua. Dia yang merusak hubungan persahabatan diantara kami.
Aku tak meyadari bahwa aku telah mengepalkan kedua
tanganku, bersiap menyalurkan amarahku. Meluapkan emosiku.
“Bagaimana?” Suara itu, membangunkanku dari
bayang-bayang tentang DBSK, dari kebencianku terhadap SM.
Jika aku menandatangi kontrak ini, maka DBSK mempunyai
peluang yang kecil untuk kembali. Dan aku juga mempunyai kesempatan untuk
membalas dendam dengan SM.
DBSK mempunyai peluang yang kecil untuk kembali?
Kurasa tidak, mereka akan tetap kembali dengan atau tanpaku. Aku tidak peduli,
kurasa mereka semua juga tidak peduli dengan kehadiranku. Tak ada seseorangpun
yang peduli terhadapku. Tapi pertengkaran diantara kami berlima merupakan suatu
fakta yang jelas bahwa DBSK tidak mempunyai peluang untuk kembali, rasa benci
yang muncul diantara kami bisa menjadi dinding yang kuat untuk menghalangi
apapun.
Aku kembali pada keputusan awalku bahwa jika DBSK
harus kembali maka kami harus berada dalam naungan management apapun kecuali
SM.
Aku kembali menatap kertas-kertas yang tertumpuk rapi.
Aku memutuskan untuk…..
***
Author POV
Junsu masih tertunduk, mungkin dia akan mengubah
keputusannya, mungkin dia akan menolak tawaran itu.
“Bagaimana?” Produser itu bertanya untuk kedua
kalinya. “Apakah kau akan menerima tawaranku atau tidak?”
“Seperti perkataanku tempo hari.” Junsu duduk lebih
tegak dari semula, menatap kedua bola mata produser itu dengan tatapan yang
tajam. Berusaha memastikan bahwa langkah yang diambilnya merupakan langkah yang
paling tepat. Langkah yang akan mengawali kehidupan barunya. Langkah yang akan
membantunya untuk membalas dendam. Langkah yang akan membuatnya menjadi
penghianat diantara keempat rekannya.
Produser itu menyerahkan sebatang pulpen kearah Junsu,
dan menyerahkan tumpukan kertas itu tepat di depan Junsu. Senyuman hangatnya
masih tertempel diwajahnya.
“Lebih baik kau membaca kontrak itu terlebih dahulu.”
Dia memberi saran. “Jika pada kontrak itu terdapat suatu yang tak kau inginkan
aku bisa merubahnya.”
“Tak perlu. Aku percaya padamu.” Junsu meraih pulpen
yang diberikan produser itu, membuka lembar demi lembar kertas yang bertumpuk.
“Dimana aku harus menandatanganinya?”
“Pada halaman tengah dan belakang.” Produser itu
berkata. “Tapi akan lebih baik jika kau membacanya.”
“Sudah ku katakana padamu, aku mempercayaimu.” Junsu
sedikit menaikan nada bicaranya. “Tapi aku akan membacanya untuk memastikan
tidak ada ranjau yang kau selipkan diantara kertas kontak ini.”
Junsu mengingat kejadian buruknya dengan SM, kontrak
yang penuh dengan ranjau. Kontrak yang menyebabkan dia berpisah dengan kedua
rekannya.
Sesekali Junsu beguman, menggumamkan kata yang mungkin
hanya dia sendiri yang mengerti.
“Cukup menarik.” Akhirnya Junsu mengucapkan kata yang
membuat produser itu mengembangkan senyumanya. “Baik aku setuju.”
“Kau bisa menandatanganinya.” Dia masih tersenyum.
“Jika kau menandatanginya kau akan memulai debutmu sebagai penyanyi solo.”
Junsu bersiap mengoreskan tinta hitam tersebut diatas
kertas putih. Hitam diatas putih, yang akan memiliki kekuatan hukum.
Junsu benar-benar akan melakukannya, menandatangani
kontak itu dan menghancurkan harapan keempat rekannya.
Ujung pulpen tersebut telah meyentuh kertas. Junsu
hanya tinggal menggerakan tangannyan untuk menjadi sebuah tanda tangan.
BRUKKK!!! Suara pintu café dibuka dengan cukup keras
dan menimbulkan suara yang sangat akrab di telingan Junsu.
“Hentikan!!” seseorang berteriak dengan nada yang
sangat tinggi.
Junsu dan produser itu membalikan badan mereka untuk
melihat siapa yang telah membuka pintu dengan kasar dan berteriak seperti itu.
Junsu tak dapat melihat dengan jelas, hanya siluet
tubuh 4 orang yang berjalan mendekatinya. Dia sama sekali tak mengharapkan
kehadiran siapapun saat ini.
Empat orang itu, wajah itu. Junsu sangat mengenalinya,
dia adalah Yunho, Jaejoong, Yoochun, dan Changmin.
Mengapa mereka bisa berada disini? Junsu bersumpah
bahwa dia tak pernah mengatakan kepada siapapun kecuali Taeyeon bahwa hari ini
dia akan bertemu dengan produser yang telah manawarinya untuk menjadi penyanyi
solo.
Seseorang manarik dengan paksa pulpen yang di genggam
oleh Junsu. Changmin, dialah yang menarik pulpen itu dan membuangnya. Produser
itu sedikit bergidik, melihat keempat wajah yang tak asing lagi baginya,
melihat kemarahan yang terpancar di mata setiap orang. Dia bepikir, apakah ini waktu
yang tepat untuk menawari mereka kontrak kerja? Bergabung menjadi satu di bawah
naungannya?
“Apa yang kau lakukan!” Junsu berdiri dan menatap
wajah Changmin dengan tatapan tidak percaya. “Kembalikan pulpen itu sekarang
juga, Shim Changmin!”
“Bagaimana jika aku menolak?!” Terlihat senyum sinis
tertempel diwajahnya, dia merendah-kan nada bicaranya. “Apa yang akan kau
lakukan?!”
“Aku akan tetap menadatanginya. Walaupun kalian tidak
menyetujuinya..”
“Junsu lebih baik kita bicarakan ini terlebih
dahulu.”Jaejoong yang mengangkat suara duluan, nada dan ekspresinya lembut
seperti biasa.. “Ini tentang kita semua. Taeyeon tadi menelepon. Katanya, kau
akan menemui produser itu hari ini dan sini.”
Taeyeon? kenapa dia menelepon keempat rekan Junsu dan
memberitahu mereka bahwa hari ini dia akan berada disini. Taeyeon? Junsu merasa
marah dengan Taeyeon akan hal ini.
“Taeyeon?!” Ujarnya tak percaya. “Aku tak percaya dia
akan memberitahu kalian.”
“Jangan salahkan Taeyeon!” Kali ini Yunho yang
berbicara dengan tegas. “Apa kau sudah yakin dengan ini semua, kau akan
meninggalkan kami semua?”
Junsu mengangguk. “Sangat Yakin.”
Changmin bersiap meninju wajah Junsu, tatepi Yoochun
yang berada disebelahnya men-cegah. Meraih tangan Changmin agar dia tak bisa
melayangkan tinjunya.
“Changmin, kita semua disini untuk membicarakan ini
dengan kepala dingin bukan dengan kekerasaan.” Yoochun memperingati Changmin,
dan menatap tajam kearah sang magnae.
Changmin mengeluarkan tatapan sinisnya, dan meletakkan kedua tangannya didepan
dadanya. Menatap wajah Yoochun dengan tatapan tidak percaya.
Jaejoong memandang Yunho, meminta pendapat. Akhirnya
Yunho melanjutkan. “Junsu, kami tau kau sangat membenci SM. Tapi tak maukah kau
menyelesaikan masalah kita dengan SM terlebih dahulu? Kau tau bahwa sebentar
lagi Yoochun akan di tuntut oleh pihak SM dengan tuntukan kekerasan dan
pencemaran nama baik dan kemungkinan besar Yoochun akan masuk penjara karena
hal itu.”
Yoochun tersenyum getir, mengingat akan kejadian itu.
Kejadian yang membuat produser SM menjadi babak-belur dan terbaring tak berdaya
diatas ranjang rumah sakit.
“Kanapa aku harus terlibat dengan masalah kalian?”
Jaejoong berdehem tidak senang, “Tak bisakah kau
mengesampingkan keegoisanmu sesaat dan bersikap peduli kepada kami?”
Junsu terdiam. Entahlah. Dia tak punya pilihan lain
sekarang, kecuali harus mendengar per-kataan keempat rekannya. Junsu adalah
tipe orang yang keras kepala, seperti saat DBSK harus bubar. Dia pernah berkata
bahwa ‘Jika salah satu dari kami harus keluar dari DBSK maka aku juga akan
keluar dari DBSK’. Maka itulah yang dia lakukan, keluar dari DBSK dengan
Jaejoong dan Yoochun serta membentuk sebuah group beru bernama JYJ di bawah
naungan C-Jes Entertainment, lalu…
“Sudah kukatakan pada kalian, dia itu keras kepala!”
Changmin memotong pikiran Junsu dengan nada mencibir. “Pembicaraan ini hanya
akan membuang-bung waktu kita.”
“Changmin!” Jaejoong berkata dengan tegas kearah
Changmin. “Jaga ucapanmu! Atau akan ada pertengkarang lagi diantara kita.”
Changmin membalas tatapan sinis Jaejoong. Yoochun
masih berdiri tenang, seolah-olah mereka hanya membicarakan masalah cuaca.
“Kenapa kalian mau aku mengelesaikan masalah kita
dengan SM?” Junsu bertanya. “Jika aku menandatangani kontrak ini, maka
masalahku dengan SM akan selesai.” Junsu menekan 3 kata teakhir.
“Kau ini bodoh atau idiot?” Changmin sudah tidak sabar
lagi.. “Kau pikir SM sebodoh itu, membiarkan kita semua lepas dari gengamannya.
Kau pikir dia akan senang melihat karirmu kembali bersinar, aku yakin dia akan
berusaha sekuat tenaga untuk membuatmu jatuh dan hancur. Membuat kita semua
hancur.” Changmin menaikan nada bicaranya ketika mengucap-kan kalimat ‘Membuat
kita semua hancur’
Junsu terlihat marah. “Kau memang pintar atau lebih
tepatnya jenius, tapi kau tak boleh seenaknya mengatakan orang lain idiot!” Junsu
bersiap melayangkan tinjunya, tapi Yunho mencegahnya.
“Kita disini untuk membicarakan baik-baik bukan dengan
kekerasan!” Jaejoong kembali memperingati.
“Tidak ada yang perlu kita bicarakan dengannya!”
Changmin memotong kalimat Jaejoong. “Ini sudah jelas, dia akan meninggalkan
kita. Meninggalkan kita hanya demi kontrak sialan itu. Dia tidak akan mengubah keputusannya demi apapun termasuk demi kita semua!”
Sepertinya hanya Changmin yang mengerti keadaan ini, hanya Changmin yang bisa
membaca pikiran Junsu.
“Shim Changmin!!” Jaejoong berkata dengan tegas,
menatap sinis kearah Changmin. “Aku berharap kau bisa menjaga ucapanmu, atau
kau akan melihat akibatnya!” Yunho dan Yoochun juga menatap sinis kearah
Changmin.
“Aku tidak akan pernah merasa takut!” Changmin
berkata, berusaha menghindari tatapan sinis dari yang lain. “Sekalipun aku
harus mematahkan tangannya, aku bersumpah tidak akan membiarkannya terikat
kontrak sampai masalah kita selesai!”
Junsu menatap wajah Changmin dengan perasaan yang
berubah, ekspresinya sangat terkejut.
“Changmin!” Yoochun berkata, menatap kearah sang
magnae agar dia bisa menutup mulutnya. “Tak bisakah kau memendam amarahmu?”
“Sudah!” Suara milik Yunho bergema didalam café ini.
“Junsu, kami tak pernah mengetahui bahwa kau memiliki keinginan untuk menjadi
penyanyi solo. Apa kau ingin menjadi penyanyi solo hanya untuk membalas dendam
ke SM?”
Kalimat Yunho, kalimat itu terasa seperti pisau yang
menusuk. Yunho mengatahui apa tujuan dibalik kontrak ini.
“Hyung.” Dia sedikit tertunduk. “Bisakah kalian
mengerti keadaanku? Aku lelah dengan semua ini! aku lelah harus berkelahi, aku
lelah harus mengalah!”
“Kau pikir!” Changmin memulai argumentasinya kembali.
“Disini hanya kau yang mengalah?!”
“Sejak kapan kau berkata dengan nada tinggi saat
berbicara denganku?” Junsu menatap Changmin dengan tatapan penuh amarah dan
ketidakpercayaan.
“Sejak kau besikap egois!” Changmin kembali menatap
mata Junsu. “Sejak kau tidak pernah menggunakan hatimu untuk mengambil
keputusan!”
PLAKKK!!! Sebuah tamparan mendarat sempurna diwajah
Changmin.
“Kau?!!!” Changmin menggeram.
“Sudah hentikan!!” Yunho berada diantara mereka,
mencegah agar adegan baku-hantam tidak terjadi kembali seperti tempo hari.
“Changmin kuharap kau bisa menjaga ucapanmu. Junsu kuharap kau bisa menjaga
emosimu.”
“Aku akan menjaga emosiku, jika dia bisa menjaga
ucapannya!”
Produser itu menatap perseteruan diantara mereka
berlima dengan tatapan kaget. Dia tak percaya jika akhirnya akan seperti ini.
“Jika kalian datang kemari hanya untuk mencegahku,
maka aku tetap tidak akan meyerah. Aku akan tetap menandatangani kontrak itu.
Apapun yang terjadi!”
“Kalau begitu aku akan tetap mematahakan kedua
tanganmu!” Changmin tetap bersikeras kepada keputusannya.
“Hentikan!!” Jaejoong kembali mengeluarkan suaranya.
“Junsu kami berharap kau tidak menandatangani kontrak itu sampai masalah
tuntuan SM terhadap Yoochun selesai!”
Jaejoong dan Yunho beranjak, sepertinya ini adalah
keputusan terakhir mereka. Memberi peringatan kepada Junsu. Changmin dan dan
Yoochun mengikuti langkah Jaejoong dan Yunho, lalu berhenti di ambang pintu
café yang letaknya tidak jauh dari Junsu.
“Kami berharap kau mau memikirkannya sekali lagi.”
Ujur Yunho pelan. “Masih ada orang yang menanti kehadiranmu.”
Junsu menatap keempat rekannya dengan ekspresi tidak
percaya. Yunho hanya terseyum tipis melihatnya.
“Tunggu dulu!!” Sesorang berteriak, Jaejoong, Yunho,
Changmin, dan Yoochun membalikan badan mereka, melihat siapa yang telah berani
menghentikan langkah mereka.
“Aku ingin bicara dengan kalian semua!” ternyata dia
adalah produser itu, produser yang menawari Junsu untuk menjadi penyanyi solo.
Jaejoong, Yunho, Changmin dan Yoochun tidak berjalan
mendekat, mereka masih berdiri di ambang pintu café.
“Bagaimana jika kalian bersatu kembali, membangun
kembali group bernama Dong Bang Shin Ki di bawah management-ku?” tawarnya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar