Yunho POV
Aku berjalan memasuki lift, meninggalkan Changmin dan
Yoochun. Sejujurnya aku mendengar Changmin memanggilku tetapi aku berusaha
untuk tidak mendengarkannya. Aku tetap pada keputusan awalku, aku tetap pada
pendirianku.
Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan tinggi, aku
tak punya tujuan yang pasti aku tidak akan pulang ke apartment itu. Aku
memutuskan untuk tinggal di salah satu hotel di kota Seoul untuk sementara
waktu.
Aku sampai di salah satu hotel terbesar di kote Seoul,
segera aku memarkirkan mobilku dan berjalan memasauki lobby hotel. Seseorang
memegang tangan kananku, mencegahku untuk memasuki lobby hotel. Cengkramannya
sangat kuat, sehingga membuat tulang-tulang pergelangan tanganku menjadi sakit.
Aku membalikan badan, untuk melihat siap ayang berani
memegang tangannku dengan sekeras ini. Apa dia tidak sadar siapa aku?
Kulihat wajah Changmin yang sedkit memerah, entahlah
itu memerah karena dia marah atau apalah. Aku juga melihat sosok Yoochun di
belakang. Changmin menarik kerah bajuku dan
BUKK! Sebuah tonjokan mendarat di mukaku. Aku merasakan sakit di bagian wajahku
sebelah kiri. Bibir bawahku sedikit sobek yang mengeluarkan cairan berwarna
merah kental.
“Apa yang kau lakukan?!” Aku berteriak di depan muka
Changmin.
“Apa yang kau minta pada si tua bangka itu?” Changmin
membalas, suaranya yang tinggi terdengar nyaring di telingaku. “Apa kau mau
kita terjebak kontrak lagi dengan mereka?” Changmin mengepalkan kembali
tangannya, mungkin dia bersiap untuk meninju wajah kiriku.
Dengan segera Yoochun mencegah, meraih tangan
Changmin.
“Bisakah kita berbica baik-baik?” Yoochun memberi
saran, tetapi sepertinya emosi Changmin sulit di kendalikan. Changmin menarik
tangannya, membuat Yoochun harus melepaskan pegangannya, dia menarik kembali
kerahku, lebih tinggi, membuatku sedikit sulit bernafas.
“Aku mau kau menjelaskan semuanya padaku.!!” Nada
suara Changmin semakin tinggi. Aku merasa Changmin akan meluapkan semua
emosinya, malam ini dan disini. “Sudah cukup kau menutupi semua ini dari ku
HYUNG! Aku mau kau jujur padaku!”
“Tak ada yang perlu aku katakan padamu.” Jawabku
dingin. Yoochun gemetaran. “Semuanya sudah jelas.”
BUKK! Satu lagi tinjuan Changmin mendarat sempurna di
mataku sebelah kiri, aku merasa mataku sedikit berdenyut, aku meringis menahan
rasa sakit. Tak apa jika Changmin ingin mengeluarkan semua emosi yang telah
disimpannya selama ini, aku siap menjadi pelampiasan amarahnya.
Yoochun bergidik melihat pertengkaran kami.
“Aku bukan anak kecil lagi hyung!” Dia berkata,
sekarang dia terlihat sedikit lebih tenang. “Aku mau kau menceritakan semuanya
padaku! Aku mau kau jujur padaku! aku mau tak ada rahasia diantara kita.”
Sepertinya Changmin menahan tangisannya agar tidak meledak.
“Maafkan aku.” Aku berkata “Bukan maksudku
menyembunyikan sesuatu darimu.”
“Lalu apa?! Apa yang kau minta pada si tua Bangka
itu?!” Changmin benar-benar terlihat rapuh.
“Aku mau kita comeback dengan formasi yang lengkap.
untuk apa kita comeback jika hanya bertiga? Untuk apa kita comeback jika posisi
Jaejoong hyung dan Junsu hyung digantikan?”
Aku menatap Changmin, dia seakan-akan kehilangan control akan dirinya, dia menangis, suatu hal yang jarang aku lihat.
Aku menatap Changmin, dia seakan-akan kehilangan control akan dirinya, dia menangis, suatu hal yang jarang aku lihat.
Yoochun, menggigit bibir bawahnya, menahan tangis.
“Kau pikir aku akan menyetujui tawaran itu?” Aku
berkata sambil menatap wajah Changmin yang basah oleh air mata. “Kau pikir aku
mau comeback dengan 2 atau 3 orang member? Changmin dengarkan aku!” Aku
mengangkat wajah Changmin yang tertunduk. “Aku tidak akan membiarkan si tua
bangka itu merusaknya lagi.”
“Aku mau DBSK kembali bersatu, aku mau hyung.”
Changmin kembali terisak. “Tapi dengan formasi yang utuh, dengan 5 member tanpa
ada posisi yang diganti.”
“Aku mengerti.” Aku terseyum, bibir bawahku terasa
sakit. “Aku juga menginginkan itu semua.”
Dreeet- Dreeeet- Dreeeet
Sebuah pesan singkat sampai di ponselku, kubuka pesan
singkat itu, ternyata pesan singkat ini dari produser itu. Pesan singkat itu
berbunyi : “Yunho-sshi untuk sementara kami akan mengadakan audisi untuk
mengisi kekosongan dalam group. Kuharap kau menyetujuinya.”
Begitulah bunyi pesan singkat itu. Aku terdiam
sejenak, Changmin menatapku dengan tatapan penasaran sampai dia merampas paksa
ponselku, dan dia membanting ponselku.
“AKAN AKU BUNUH MEREKA!!” Changmin menggeram.
“Changmin!” Yoochun berteriak memanggil Changmin yang
berjalan menuju mobilnya.
“Kenapa kau berubah secepat ini?! Tadi kau menyetujui
kembalinya DBSK!”
“Aku memang mau DBSK kembali terbentuk, tapi aku tau
mau posisi Jaejoong hyung dan Junsu hyung di gantikan!” Dia semakin mempercepat
langkahnya. “Buat apa kita membentuk kembali DBSK tanpa Jaejoong hyung dan
Junsu hyung?!”
Changmin segera memacu mobilnya dengan kecepatan
tinggi. Aku dan Yoochun masuk kedalam mobilku dan segera mengejar mobil
Changmin. Benar saja Changmin menuju gedung SM. Aku melihat kemarahan didalam
mata Changmin. Kenapa dia berubah secepat ini?
***
Changmin POV
Aku memang menyetujui di bentuk kembali sebuah group
dengan nama Dong Bang Shin Ki. Aku memang merindukan masa-masa di mana kami
selalu bersama, melakukan Asian Tour dan menyanyi untuk Cassiopeia. Masa-masa
dimana kami selalu bisa menghibur fans, masa-masa di mana kami menerima
berbagai penghargaan atas hasil karya kami. Aku menerimanya dengan harapa kami
semua, Yunho Hyung, Jaejoong Hyung, Yoochun Hyung, Junsu Hyung, dan aku yang
akan membentuk kembali group itu, bukan dengan 2 orang pengganti.
Mereka kira setelah aku mengatakan bahwa aku menerima
tawaran mereka, mereka bisa melakukan hal itu seenaknya. Mencari kekosongan
pada group, mencari pengganti Jaejoong hyung dan Junsu hyung?
Aku muak dengan semua ini, muak dengan SM, aku mencoba
mengesampingkan ego-ku , tetapi mereka malah melakukan hal yang membuatku
marah!
Aku mau mengulang masa-masa indah bersama keempat
hyung-ku, bukan MEMULAI-nya lagi. Buat apa jika kami comeback dengan member
baru, buat apa?
Aku memacu mobilku semakin cepat. Aku merasakan aliran
darahku semakin cepat.
Aku sampai di gedung SM, aku tak sabar menunggu pintu
lift terbuka, akhirnya aku menaiki tangga. Keringat menetes dari wajahku.
BUKKK! Aku mendaratkan sebuah tinju di wajah produser
itu, membuat wajahnya semakin memar. Dia terjatuh dan menabrak tembok.
“Apa yang kau lakukan?! Shim Changmin?!” Produser itu
mencoba berdiri lagi.
“Yang tadi untuk tawaranmu!” Aku berkata dengan nada
yang sangat tinggi. “Karena telah membuatku bermimipi untuk kembali bersatu
dengan keempat hyung-ku.”
BUKKK! “Yang ini untuk mu. Karena kau berfikir bahwa
posisi Jaejoong hyung dan Junsu hyung bisa digantikan.”
Dia merintih kesakitan. Aku berniat untuk meninjunya
lagi sampai ada yang mencegahku. Yunho hyung dan Yoochun hyung, memegang kedua
tanganku. Mencegahku untuk memukul wajah produser yang mulai keunguan.
“Lepaskan aku!!” Aku meronta-ronta. “Aku telah meyesal
menerima tawaranmu!!”
“Kalau begitu pergilah!” Produser itu menunjukan pintu
keluar.
“Aku akan menerima tawaranmu, jika kau bisa membuat
Junsu hyung dan Jaejoong hyung kembali!” Aku berteriak.
***
Jaejoong POV
Aku sudah mencoba menahan air mataku sebisa mungkin.
Tapi aku tidak bisa. Sepanjang jalan menuju rumah, aku hanya menutup wajahku
dengan kedua tangan, membiarkan sopirku mengemudi perlahan-lahan. Aku ingin
sekali menerima tawaran produser itu. Meskipun aku tidak bisa percaya
sepenuhnya pada janji-janjinya, tapi aku tak bisa berbohong kalau aku sangat
mengharap kan kembalinya DBSK. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di
pikiran Junsu. Aku tidak mengerti…
“Sudah sampai, Tuan.” Ucap sopirku. Aku segera menatap
ke luar kaca mobil. Benar, ini sudah di depan rumahku. Akupun melangkah keluar
dan membanting pintu.
“Oppa! aku sangat mencemaskanmu! Kenapa ponselmu tidak
aktif?!” tiba-tiba Hana berlari keluar dari dalam rumah. Aku tidak menjawab
pertanyaannya. Yang kulakukan hanya berjalan menuju sofa dan menghempaskan
diriku di sana. Aku malu Hana melihatku dalam keadaan seperti ini. Aku tidak
boleh menangis. Tidak boleh…
“Apa yang terjadi?” tanya Hana lagi. Dia menatapku
dengan penuh kecemasan. “Kenapa kau menangis? Apa mereka menyakitimu…? Lalu
bagaimana dengan keputusan rapat itu?”
“Tinggalkan aku sendiri.” Ucapku dengan suara parau.
“Tapi, oppa…”
“Aku bilang tinggalkan aku!”
Hana terdiam mendengar kemarahanku. Aku mengacak
rambutku sendiri, rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya dan
mengatakan bahwa aku rindu pada DBSK. Aku rindu…
“Jangan memendam masalahmu sendirian, oppa. ceritalah
padaku…” ucap Hana dengan suara lembutnya. Dia meggapai jemariku dan
menggenggamnya erat. Aku tidak merasakan kehangatan seperti yang biasanya. Aku
tidak merasakan apapun. Kecuali penyesalan yang tiada batasnya.
“Hana, aku minta maaf…” ucapku dengan menahan air
mata. Dia mengangkat alisnya. “Sepertinya DBSK tidak mungkin bisa kembali lagi.
Tidak untuk yang ke dua kalinya.”
“Tapi kenapa…? Bukankah kalian berlima sama-sama ingin
grup itu kembali? Lalu apa yang menghalangi kalian untuk bersatu lagi?”
“Apa kau masih tidak mengerti juga? Kau sadar tidak,
siapa yang menawarkan kami untuk bergabung? Produser setan dan antek-anteknya
yang suka memeras! Dulu mereka sudah menjadikan kami semua sebagai budak. Kau
pikir kami akan menandatangani surat kontrak yang lebih cocok disebut sebagai
kartu mati, hah?!”
“Kenapa oppa malah marah-marah padaku?!”
“Karena kau tak pernah mengerti perasaanku! Kau hanya
menuntut ini dan itu, tapi kau tak pernah memikirkan bahwa itu semua
MEMBEBANIKU!!!”
“Menuntut apa?! Selama ini kau tidak pernah bilang
kalau kau merasa terbebani!”
“Itu karena aku menjaga perasaanmu!”
“Lalu kenapa sekarang kau tidak menjaga perasaanku?!”
PLAKK…!
Tanpa sadar aku menampar Hana. Matanya berkaca-kaca,
ia memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan kerasku. Tapi entah kenapa,
aku sama sekali tidak merasa menyesal atas apa yang telah kulakukan padanya.
“APA?!” aku membentaknya dengan kasar. “Kau mau
menangis?!”
Hana tidak menjawab pertanyaanku. Dia terduduk di
sofa, membiarkan aliran tangis membasahi pipinya yang halus. Apa yang sudah
kulakukan…? Menampar istriku? Aku menyakiti seseorang yang bahkan tidak ada
sangkut pautnya dengan kekesalanku. Betapa bodohnya aku sampai tega
melampiaskan amarah pada Hana.
“Ma, maafkan aku, Hana… aku tidak bermaksud…” kucoba menyentuh
wajahnya, tapi ia menghindar. Ia pergi ke kamar dan membanting pintu. Oke,
bagus. Sekarang aku benar-benar berada dalam masalah besar. Lalu apa yang bisa
kulakukan? Meminta maaf pada Hana? Kurasa, kata maaf itu tidak akan pernah
cukup untuk membayarkan sakit hatinya atas apa yang telah aku lakukan. Sekarang
siapa yang bisa aku salahkan? Tuhan? Diriku sendiri?
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar