Welcome

Rabu, 16 Mei 2012

DBSK comeback? (part 10)


Yunho POV

Aku berjalan memasuki lift, meninggalkan Changmin dan Yoochun. Sejujurnya aku mendengar Changmin memanggilku tetapi aku berusaha untuk tidak mendengarkannya. Aku tetap pada keputusan awalku, aku tetap pada pendirianku.

Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan tinggi, aku tak punya tujuan yang pasti aku tidak akan pulang ke apartment itu. Aku memutuskan untuk tinggal di salah satu hotel di kota Seoul untuk sementara waktu.

Aku sampai di salah satu hotel terbesar di kote Seoul, segera aku memarkirkan mobilku dan berjalan memasauki lobby hotel. Seseorang memegang tangan kananku, mencegahku untuk memasuki lobby hotel. Cengkramannya sangat kuat, sehingga membuat tulang-tulang pergelangan tanganku menjadi sakit.

Aku membalikan badan, untuk melihat siap ayang berani memegang tangannku dengan sekeras ini. Apa dia tidak sadar siapa aku?

Kulihat wajah Changmin yang sedkit memerah, entahlah itu memerah karena dia marah atau apalah. Aku juga melihat sosok Yoochun di belakang. Changmin menarik kerah bajuku dan
 
BUKK! Sebuah tonjokan mendarat di mukaku. Aku merasakan sakit di bagian wajahku sebelah kiri. Bibir bawahku sedikit sobek yang mengeluarkan cairan berwarna merah kental.

“Apa yang kau lakukan?!” Aku berteriak di depan muka Changmin.

“Apa yang kau minta pada si tua bangka itu?” Changmin membalas, suaranya yang tinggi terdengar nyaring di telingaku. “Apa kau mau kita terjebak kontrak lagi dengan mereka?” Changmin mengepalkan kembali tangannya, mungkin dia bersiap untuk meninju wajah kiriku.

Dengan segera Yoochun mencegah, meraih tangan Changmin.

“Bisakah kita berbica baik-baik?” Yoochun memberi saran, tetapi sepertinya emosi Changmin sulit di kendalikan. Changmin menarik tangannya, membuat Yoochun harus melepaskan pegangannya, dia menarik kembali kerahku, lebih tinggi, membuatku sedikit sulit bernafas.

“Aku mau kau menjelaskan semuanya padaku.!!” Nada suara Changmin semakin tinggi. Aku merasa Changmin akan meluapkan semua emosinya, malam ini dan disini. “Sudah cukup kau menutupi semua ini dari ku HYUNG! Aku mau kau jujur padaku!”

“Tak ada yang perlu aku katakan padamu.” Jawabku dingin. Yoochun gemetaran. “Semuanya sudah jelas.”

BUKK! Satu lagi tinjuan Changmin mendarat sempurna di mataku sebelah kiri, aku merasa mataku sedikit berdenyut, aku meringis menahan rasa sakit. Tak apa jika Changmin ingin mengeluarkan semua emosi yang telah disimpannya selama ini, aku siap menjadi pelampiasan amarahnya.

Yoochun bergidik melihat pertengkaran kami.

“Aku bukan anak kecil lagi hyung!” Dia berkata, sekarang dia terlihat sedikit lebih tenang. “Aku mau kau menceritakan semuanya padaku! Aku mau kau jujur padaku! aku mau tak ada rahasia diantara kita.” Sepertinya Changmin menahan tangisannya agar tidak meledak.

“Maafkan aku.” Aku berkata “Bukan maksudku menyembunyikan sesuatu darimu.”

“Lalu apa?! Apa yang kau minta pada si tua Bangka itu?!” Changmin benar-benar terlihat rapuh.

“Aku mau kita comeback dengan formasi yang lengkap. untuk apa kita comeback jika hanya bertiga? Untuk apa kita comeback jika posisi Jaejoong hyung dan Junsu hyung digantikan?”
Aku menatap Changmin, dia seakan-akan kehilangan control akan dirinya, dia menangis, suatu hal yang jarang aku lihat.

Yoochun, menggigit bibir bawahnya, menahan tangis.

“Kau pikir aku akan menyetujui tawaran itu?” Aku berkata sambil menatap wajah Changmin yang basah oleh air mata. “Kau pikir aku mau comeback dengan 2 atau 3 orang member? Changmin dengarkan aku!” Aku mengangkat wajah Changmin yang tertunduk. “Aku tidak akan membiarkan si tua bangka itu merusaknya lagi.”

“Aku mau DBSK kembali bersatu, aku mau hyung.” Changmin kembali terisak. “Tapi dengan formasi yang utuh, dengan 5 member tanpa ada posisi yang diganti.”

“Aku mengerti.” Aku terseyum, bibir bawahku terasa sakit. “Aku juga menginginkan itu semua.”

Dreeet- Dreeeet- Dreeeet

Sebuah pesan singkat sampai di ponselku, kubuka pesan singkat itu, ternyata pesan singkat ini dari produser itu. Pesan singkat itu berbunyi : “Yunho-sshi untuk sementara kami akan mengadakan audisi untuk mengisi kekosongan dalam group. Kuharap kau menyetujuinya.”

Begitulah bunyi pesan singkat itu. Aku terdiam sejenak, Changmin menatapku dengan tatapan penasaran sampai dia merampas paksa ponselku, dan dia membanting ponselku.

“AKAN AKU BUNUH MEREKA!!” Changmin menggeram.

“Changmin!” Yoochun berteriak memanggil Changmin yang berjalan menuju mobilnya.

“Kenapa kau berubah secepat ini?! Tadi kau menyetujui kembalinya DBSK!”

“Aku memang mau DBSK kembali terbentuk, tapi aku tau mau posisi Jaejoong hyung dan Junsu hyung di gantikan!” Dia semakin mempercepat langkahnya. “Buat apa kita membentuk kembali DBSK tanpa Jaejoong hyung dan Junsu hyung?!”

Changmin segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Aku dan Yoochun masuk kedalam mobilku dan segera mengejar mobil Changmin. Benar saja Changmin menuju gedung SM. Aku melihat kemarahan didalam mata Changmin. Kenapa dia berubah secepat ini?

***

Changmin POV

Aku memang menyetujui di bentuk kembali sebuah group dengan nama Dong Bang Shin Ki. Aku memang merindukan masa-masa di mana kami selalu bersama, melakukan Asian Tour dan menyanyi untuk Cassiopeia. Masa-masa dimana kami selalu bisa menghibur fans, masa-masa di mana kami menerima berbagai penghargaan atas hasil karya kami. Aku menerimanya dengan harapa kami semua, Yunho Hyung, Jaejoong Hyung, Yoochun Hyung, Junsu Hyung, dan aku yang akan membentuk kembali group itu, bukan dengan 2 orang pengganti.

Mereka kira setelah aku mengatakan bahwa aku menerima tawaran mereka, mereka bisa melakukan hal itu seenaknya. Mencari kekosongan pada group, mencari pengganti Jaejoong hyung dan Junsu hyung?

Aku muak dengan semua ini, muak dengan SM, aku mencoba mengesampingkan ego-ku , tetapi mereka malah melakukan hal yang membuatku marah!

Aku mau mengulang masa-masa indah bersama keempat hyung-ku, bukan MEMULAI-nya lagi. Buat apa jika kami comeback dengan member baru, buat apa?

Aku memacu mobilku semakin cepat. Aku merasakan aliran darahku semakin cepat.

Aku sampai di gedung SM, aku tak sabar menunggu pintu lift terbuka, akhirnya aku menaiki tangga. Keringat menetes dari wajahku.

BUKKK! Aku mendaratkan sebuah tinju di wajah produser itu, membuat wajahnya semakin memar. Dia terjatuh dan menabrak tembok.

“Apa yang kau lakukan?! Shim Changmin?!” Produser itu mencoba berdiri lagi.

“Yang tadi untuk tawaranmu!” Aku berkata dengan nada yang sangat tinggi. “Karena telah membuatku bermimipi untuk kembali bersatu dengan keempat hyung-ku.”

BUKKK! “Yang ini untuk mu. Karena kau berfikir bahwa posisi Jaejoong hyung dan Junsu hyung bisa digantikan.”

Dia merintih kesakitan. Aku berniat untuk meninjunya lagi sampai ada yang mencegahku. Yunho hyung dan Yoochun hyung, memegang kedua tanganku. Mencegahku untuk memukul wajah produser yang mulai keunguan.

“Lepaskan aku!!” Aku meronta-ronta. “Aku telah meyesal menerima tawaranmu!!”

“Kalau begitu pergilah!” Produser itu menunjukan pintu keluar.

“Aku akan menerima tawaranmu, jika kau bisa membuat Junsu hyung dan Jaejoong hyung kembali!” Aku berteriak.

***

Jaejoong POV

Aku sudah mencoba menahan air mataku sebisa mungkin. Tapi aku tidak bisa. Sepanjang jalan menuju rumah, aku hanya menutup wajahku dengan kedua tangan, membiarkan sopirku mengemudi perlahan-lahan. Aku ingin sekali menerima tawaran produser itu. Meskipun aku tidak bisa percaya sepenuhnya pada janji-janjinya, tapi aku tak bisa berbohong kalau aku sangat mengharap kan kembalinya DBSK. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran Junsu. Aku tidak mengerti…

“Sudah sampai, Tuan.” Ucap sopirku. Aku segera menatap ke luar kaca mobil. Benar, ini sudah di depan rumahku. Akupun melangkah keluar dan membanting pintu.

“Oppa! aku sangat mencemaskanmu! Kenapa ponselmu tidak aktif?!” tiba-tiba Hana berlari keluar dari dalam rumah. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Yang kulakukan hanya berjalan menuju sofa dan menghempaskan diriku di sana. Aku malu Hana melihatku dalam keadaan seperti ini. Aku tidak boleh menangis. Tidak boleh…

“Apa yang terjadi?” tanya Hana lagi. Dia menatapku dengan penuh kecemasan. “Kenapa kau menangis? Apa mereka menyakitimu…? Lalu bagaimana dengan keputusan rapat itu?”

“Tinggalkan aku sendiri.” Ucapku dengan suara parau.

“Tapi, oppa…”

“Aku bilang tinggalkan aku!”

Hana terdiam mendengar kemarahanku. Aku mengacak rambutku sendiri, rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya dan mengatakan bahwa aku rindu pada DBSK. Aku rindu…

“Jangan memendam masalahmu sendirian, oppa. ceritalah padaku…” ucap Hana dengan suara lembutnya. Dia meggapai jemariku dan menggenggamnya erat. Aku tidak merasakan kehangatan seperti yang biasanya. Aku tidak merasakan apapun. Kecuali penyesalan yang tiada batasnya.

“Hana, aku minta maaf…” ucapku dengan menahan air mata. Dia mengangkat alisnya. “Sepertinya DBSK tidak mungkin bisa kembali lagi. Tidak untuk yang ke dua kalinya.”

“Tapi kenapa…? Bukankah kalian berlima sama-sama ingin grup itu kembali? Lalu apa yang menghalangi kalian untuk bersatu lagi?”

“Apa kau masih tidak mengerti juga? Kau sadar tidak, siapa yang menawarkan kami untuk bergabung? Produser setan dan antek-anteknya yang suka memeras! Dulu mereka sudah menjadikan kami semua sebagai budak. Kau pikir kami akan menandatangani surat kontrak yang lebih cocok disebut sebagai kartu mati, hah?!”

“Kenapa oppa malah marah-marah padaku?!”

“Karena kau tak pernah mengerti perasaanku! Kau hanya menuntut ini dan itu, tapi kau tak pernah memikirkan bahwa itu semua MEMBEBANIKU!!!”

“Menuntut apa?! Selama ini kau tidak pernah bilang kalau kau merasa terbebani!”

“Itu karena aku menjaga perasaanmu!”

“Lalu kenapa sekarang kau tidak menjaga perasaanku?!”

PLAKK…!

Tanpa sadar aku menampar Hana. Matanya berkaca-kaca, ia memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan kerasku. Tapi entah kenapa, aku sama sekali tidak merasa menyesal atas apa yang telah kulakukan padanya.

“APA?!” aku membentaknya dengan kasar. “Kau mau menangis?!”

Hana tidak menjawab pertanyaanku. Dia terduduk di sofa, membiarkan aliran tangis membasahi pipinya yang halus. Apa yang sudah kulakukan…? Menampar istriku? Aku menyakiti seseorang yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan kekesalanku. Betapa bodohnya aku sampai tega melampiaskan amarah pada Hana.

“Ma, maafkan aku, Hana… aku tidak bermaksud…” kucoba menyentuh wajahnya, tapi ia menghindar. Ia pergi ke kamar dan membanting pintu. Oke, bagus. Sekarang aku benar-benar berada dalam masalah besar. Lalu apa yang bisa kulakukan? Meminta maaf pada Hana? Kurasa, kata maaf itu tidak akan pernah cukup untuk membayarkan sakit hatinya atas apa yang telah aku lakukan. Sekarang siapa yang bisa aku salahkan? Tuhan? Diriku sendiri?

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar