Welcome

Minggu, 20 Mei 2012

The Gangster (part 2)


“Nako, makan malam sudah siap. Cepatlah turun.” Nyonya Mizuzawa berteriak dari lantai bawah.

Nako yang mendengar ibunya berteriak hanya bisa mendengus pelan. Nako mempunyai sifat yang tidak suka di ganggu jika belajar.

“Iya, okaasan. Aku segera turun.” Sahut Nako. Nako turun dengan cepat, dia ingin segera makan malam, karena perutnya sudah meronta-ronta minta di isi.

“Hai otousan.” Sapa Nako saat duduk di meja makan.

“Bagaimana sekolahmu hari ini? semakin terbiasa?” Tanya ayahnya.

Tuan Mizuzawa adalah seorang Wakil Direktur di salah satu perusahaan swasta di Jepang yang sudah memiliki cabang hampir di seluruh Asia Tenggara. 1 tahun yang lalu, mereka harus pindah ke Korea. Karena Tuan Mizuzawa di pindah tugaskan, perusahaan cabang Korea mengalami masalah dan Tuan Mizuzawa yang harus menyelesaikannya. Jadi mereka sekeluarga harus pindah ke Korea.

“Tidak juga.” Jawab Nako malas. “Kenapa otousan memilih sekolah itu?”

“Itu adalah sekolah terbaik di Korea saat ini.” Tuan mizuzawa tersenyum bijak ke arah putri semata wayangnya. “Kau tidak suka bersekolah di sana? Bukankah kau ingin menuntut ilmu di sekolah itu?”

“Memang benar, tapi bukan cabang Korea. Aku ingin bersekolah di Jepang.” Nako mendengus pelan. “Otauson, tak bisakah kita kembali ke Jepang?”

BUKK!!

Seseorang memukul kepala Nako dengan sebuah buku yang di gulung.

“Apa yang kau bicarakan? Aku nyaman tinggal di korea.” Sahut seseorang yang memukul kepala Nako, dia adalah Gii, kakak laki-laki Nako. Gii mengambil tempat duduk di seberang Nako, dan tersenyum mengejek ke arah Nako. Nako hanya mengelus pelan kepalanya yang di pukul oleh kakaknya. “Aku tak mau kembali ke Jepang.” Lanjutnya

Gii adalah satu-satunya kakak yang di miliki oleh Nako. Kakak laki-laki yang hampir tak pernah akur dengannya. Setiap hari di lewati mereka dengan pertengkaran-pertengkaran kecil. Gii lebih tua 3 tahun dari Nako. Gii adalah seorang mahasiswa di Kyunghee University jurusan Post Modern Music.

“Kenapa?” Tanya Nyonya Mizuzawa yang muncul dari dapur dengan membawa semangkok besar kimchi. “Jepang adalah negara kita, kita tak mungkin akan tinggal di Korea selamanya.”

Nyonya Mizuzawa adalah seorang ibu rumah tangga. Dia adalah sosok ibu yang sangat perhatian kepada kedua anaknya Gii dan Nako. Dia adalah tipikal ibu yang lembut tetapi tegas. Pada awalnya Nyonya Mizuzawa tidak mengizinkan Gii untuk mengambil jurusan Post Modern Music, tetapi karena Gii memaksa dan berjanji akan kuliah dengan sungguh-sungguh, akhirnya dia luluh.

“Tentu saja dia tidak ingin kembali ke korea. Karena dia sudah mempunyai pacar.” Nako tersenyum menang. “Aduhh!!!” Jerit Nako, kakinya di tendang oleh Gii dengan keras. Nako mengelus-elus pelan kakinya yang sekarang kemerahan. “Kenapa kau menendangku?”

“Bagaimana kau tau?” Tanya Gii menyelidik, tidak menghiraukan rintihan kesakitan dari adiknya. “Kau membongkar seluruh isi kamarku?”

“Buat apa?” Jawab Nako. “Aku tak perlu membongkar kamarmu untuk mencari tahu itu.”

“Gii, kau sudah berjanji akan belajar sungguh-sungguh. Tetapi kau malah pacaran.” Kata Nyonya Mizuzama dengan nada lembut tapi mengancam. “Aku tidak menyekolahkanmu untuk pacaran. Tetapi untuk belajar.”

“Siapa gadis beruntung itu?” Tanya Tuan Mizuzawa tanpa memperdulikan perkataan istrinya. “Bawa dia kemari. Kenalkan pada kami.”

Pipi Gii terlihat bersemu merah, mungkin dia merasa malu.

“Otousan, bagaimana kau mengizinkan anak laki-lakimu untuk berpacaran?” Tanya Nyonya Mizuzawa mengancam.

“Bukan hanya berpacaran, dia bahkan sudah berciuman.” Ujar Nako, membuat Gii salah tingkah.

“Apa?!” Tanya Nyonya Mazuzama kaget, dia tidak percaya bahwa putra-nya bahkan sudah pernah berciuman. “Kau sudah pernah berciuman? Astaga Gii, kau bahkan tak menceritakannya.”

“Itu bukan hal yang patut di perbincangkan pada saat makan malam.” Jawab Gii dengan wajah yang sudah semerah tomat. “Nako, akan kubalas kau.”

“Aku tak akan pernah takut.” Nako tersenyum puas, tak menghiraukan ancaman dari sang kakak.

***
 
Nako berkali-kali melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 06.50, 10 menit lagi sebelum bel tanda masuk berbunyi. Kalau sampai terlambat maka Nako tidak akan di izinkan masuk dan dia harus pulang. Ia membenci hal itu.

“Astaga. Oniisan, cepat sedikit.” Rengek Nako. “Kau menyetir seperti siput. Aku akan terlambat jika kau mengemudi dengan kecepatan seperti ini.”

“Aku sudah berusaha, mobil ini saja yang lamban.”

“Jika aku tau akan begini, maka aku tak akan pergi bersamamu. Lebih baik aku naik sepeda.”

“Kalau kau sekali lagi mengeluh, akan ku turunkan kau di tengah jalan.”

Nako hanya cemberut kesal. Saat mobil yang di kemudikan Gii sampai di depan pintu gerbang, Nako langsung melesat keluar tanpa menutup kembali pintu mobilnya.

BRUKKKK!!!!

Nako menabrak seseorang di koridor, tetapi orang yang di tabrak tidak jatuh.. Nako tersungkur di lantai, mengumpulkan semua buku yang terlepas dari genggamannya dan berserakan di lantai.

“Kau tidak punya mata?!” Suara laki-laki itu, suara yang di kenal Nako. Suara yang selalu membuatnya marah. Suara itu yang selalu mempermalukannya.

Nako mengangkat kepalanya, dia ingin memastikan bahwa pemilik suara itu bukan dia. Orang yang selalu menindasnya.

Hatinya mencelos saat mengetahui pemilik suara itu adalah Yunho. Sang leader gangster bernama Tong Vfang Xien Qi. Nako mengutuk dirinya sendiri karena menabraknya dan dia tau ini akan berakhir buruk.

“Aku berbicara padamu orang Jepang!” Kata Yunho menatap tajam Nako. “Apa kau tidak mengerti?! Hah?!”

Nako berdiri, semua buku telah berada dalam pelukannya. “Maafkan aku, aku yang salah. Aku terburu-buru sehingga aku tak memperhatikan jalan. Maaf.” Nako membungkuk cukup lama.

Sejujurnya dia tak mau meminta maaf kepada Yunho kerena itu bukan sepenuhnya salah Nako. Tapi dia tak mau mencari perkara, sudah cukup dia sering di permalukan oleh mereka. Tapi pagi ini Nako tidak melihat Yunho bersama ketiga rekannya.

“Kau pikir permintaan maaf ada gunanya?” Tanya Yunho menyindir. “Jika permintaan maaf ada gunanya, maka buat apa ada hukum?”

“Tapi aku tak sengaja.” Sanggah Nako. “Tapi permintaan maaf lebih baik dari pada tidak sama sekali.”

“Kau pikir aku akan memaafkanmu?”

“Aku tak peduli kau mau menerima permintaan maaf ku atau tidak!”

“Kau berani melawanku?!” Gretak Yunho

“Kenapa kau harus takut? Kau bukan siapa-siapa!”

“Beraninya kau!” Yunho bersiap memukul Nako, tapi Nako hanya menatap Yunho dengan tatapan mengancam. “Jangan kau pikir karena kau wanita aku tak berani memukulmu!”

“Aku tak pernah takut untuk kau pukul.” Kata Nako menantang. “Aku harus pergi. Sekali lagi aku minta maaf.”

***

Saat jam istirahat, Nako memutuskan untuk menghampiri tempat klub taekwondo. Ia sudah berhenti menjadi anggota jurnalistik, dan ia merasa sebaiknya ia ikut klub beladiri seperti taekwondo. Ia menatap pintu ruang latihan para anggota klub taekwondo. Iapun masuk ke sana, menatap beberapa orang yang sedang duduk-duduk sambil bercanda. Tentu saja tak ada latihan siang-siang begini. Klub taekwondo biasa latihan setiap pulang sekolah.

“Permisi. Aku mau daftar jadi anggota klub.” Ucap Nako sambil menghampiri seorang gadis yang sedang duduk sendirian.

“Silakan bilang pada ketua.” Kata gadis itu.

“Mana ketua klubnya?”

“Itu, yang sedang duduk-duduk dengan anggota klub lain.” Gadis itu menunjuk seseorang yang berada tak jauh dari sana. Nako menatap ke arah yang ditunjuk, mendapati sosok Jung Yunho yang sedang dikelilingi para laki-laki anggota klub taekwondo.

“Dia… ketuanya? Jung Yunho maksudmu?” tanya Nako gemetar.

“Ya, dia ketua kami. Kenapa? Kau tak jadi bergabung?”

Nako menelan ludah mendengar kenyataan itu. Ia memandangi sosok Yunho yang tampak sangat judes, bahkan dia tetap terlihat judes meski di depan teman satu klubnya sendiri. Nako membayangkan, bisa-bisa ia dibentak-bentak setiap hari jika harus bergabung dengan klub ini. Tapi di sisi lain, ia tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia sangat ingin melihat Yunho lebih lama. Entah perasaan macam apa ini. Tapi yang jelas, ia sudah merasakan sesuatu yang berbeda saat pertama kali ia melihat Yunho. Meski Yunho selalu jahat padanya, selalu mengganggunya, tapi ia merasa ia tak bisa membenci Yunho.

“Aku tidak akan mengundurkan diri.” Ucap Nako mantap sambil berjalan menghampiri Yunho di sana.

Saat ia berada selangkah lagi dari kerumunan para laki-laki itu, ia berhenti. Mereka semua menatapnya dan langsung menghentikan pembicaraan mereka. Nako tersenyum, lalu membungkuk dalam. Sebuah kebiasaan Jepang yang sampai kapanpun akan selalu dijaganya. Walau ia tahu orang-orang Korea ini senang sekali mengejeknya jika ia masih membawa-bawa budaya dari Jepang.

“Maaf, aku mengganggu. Aku ke sini hanya untuk mengatakan pada ketua bahwa aku ingin mendaftar menjadi anggota klub.” Ucap Nako dengan suara lantang dan tanpa keraguan sedikitpun.

“Siapa yang kau panggil ketua?” tanya seorang laki-laki kurus.

“Jung Yunho.” Jawab Nako tegas.

“Kau sungguh-sungguh ingin menjadi anggota klub?” tanya Yunho dengan nada mengejek. Nako hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu. “Tapi kau harus mengikuti pelatihan khusus anggota baru sebelum kau resmi menjadi anggota klub. Apakah kau sanggup?”

“Berapa lama aku harus mengikuti pelatihan itu?” tanya Nako tanpa menjawab pertanyaan Yunho.

“Jika kau hebat, kau cukup melakukannya selama satu minggu. Tapi jika kau lemah, maka bisa sampai satu bulan kau harus melakukan pelatihan khusus. Bagaimana?”

Nako mempertimbangkan hal itu beberapa saat. Ia tahu Yunho pasti akan menyiksanya sesuka hati jika ia mengikuti pelatihan itu. Tapi setidaknya, di klub taekwondo ini tak ada ketiga anggota geng yang lain. Setahu Nako, Shim Changmin memilih klub bulu tangkis. Kim Junsu dan Park Yoochun tak pernah ia lihat mengikuti salah satu ekstrakulikuler. Mungkin mereka berdua ikut sains club atau pecinta alam.

“Ketua sedang bicara padamu, orang Jepang!” teriak salah satu dari mereka. Nako mengangkat wajah, menatap mereka semua dengan tatapan penuh keyakinan.

“Baiklah, aku bersedia.”

***

Waktu sudah menunjuk pukul 17:00. Nako mencoba menghubungi Gii agar menjemputnya ke sekolah, tapi panggilannya tak kunjung dijawab. Sepertinya kali inipun Gii lupa menjemputnya karena sibuk jalan-jalan dengan pacaranya. Nako hanya menghembuskan napas berat mengingat keteledoran kakaknya itu. Akhirnya diapun memutuskan untuk pulang naik kendaraan umum saja.
 
Namun, saat ia bermaksud untuk melangkah ke halte, ia merasakan sesuatu membentur kepalanya dengan sangat keras. Sebuah cairan bening kekuningan yang kental dan licin mengucur dari keningnya. Nako memandangi cangkang telur yang jatuh ke tanah setelah pecah di kepalanya. Ia menoleh untuk menatap keempat wajah yang dikenalnya tengah berdiri beberapa meter di hadapannya sambil bersiap untuk melemparkan telur yang ke dua.

“Yang itu karena kau sudah menabrakku tadi pagi.” Ucap Yunho.

Krakk!! Sebuah telur lagi pecah dengan sempurna tepat di wajah Nako, cangkangnya berhasil melukai pipi Nako dan membuat sebuah luka goresan di sana.

“Dan yang itu karena kau sudah lancang meninggalkanku dengan hanya mengucapkan maaf. Kau tidak mempertanggung jawabkan perbuatanmu!”

“Aku kan hanya tak sengaja menabrakmu! Lagipula kau tidak dirugikan apa-apa!” Nako melawan.

“Apa maksudmu tidak dirugikan?! Gara-gara kau menabrakku, waktuku jadi terbuang sia-sia!”

“Tapi kan tidak sampai 10 menit!”

“Tapi tetap saja kau merugikanku!!”

“Kau lebih merugikanku!!”

“Beraninya kau…!” Yunho melemparkan sebutir telur lagi, dan…

Krakk!! Telur itu pecah. Nako terpaku beberapa saat begitu ia menyadari telur itu sama sekali tidak mengenai wajahnya. Ia baru sadar ada seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya. Seseorang yang menangkap telur yang dilemparkan Yunho, lalu menggenggam telur itu hingga pecah di tangannya.

“Kalian masih saja mengganggu orang, ya? Hobi sekali.” Ucap Jaejoong sambil mengibaskan tangannya untuk sedikit mengurangi cairan telur yang menempel di sana.

“Lagi-lagi kau mau cari masalah dengan kami, ya?” Changmin tampak emosi.

“Bukannya kalian sumber masalah di sekolah ini? Kenapa jadi menyalahkanku?”

“Jaga bicaramu!” Junsu berseru.

“Aku tidak merasa mengeluarkan kata-kata kasar.”

“Kurang ajar sekali kau ini!” Junsu bermaksud untuk menghampiri Jaejoong dan memukulnya, namun secepat kilat Jaejoong berlari sambil menarik tangan Nako.

Mereka berempat tentu saja berlari mengejarnya, tapi Jaejoong segera membawa Nako bersembunyi di balik ruangan tempat menyimpan alat kebersihan. Ia tahu berlari takkan ada gunanya. Mereka berempat pasti bisa berlari lebih cepat dan ia akan dengan mudah tertangkap. Jadi ia merasa sembunyi adalah jalan yang terbaik.

“Siapa kau?!” tanya Nako curiga.

“Kim Jaejoong. Kau?”

“Misuzawa Nako.”

“Misuzawa, kenapa mereka itu senang sekali mengganggu orang?” tanya Jaejoong berbisik.

“Memangnya kau tidak tahu, ya? Mereka itu kan memang terkenal suka mengganggu orang. Aku dengar dari teman-teman, mereka anak-anak broken home. Sebenarnya, aku kasihan juga pada mereka.”

“Broken home? Kasihan sekali mereka. Tapi seharusnya mereka tidak melakukan semua ini kepada orang yang tidak bersalah. Kalau begini sama saja mereka melakukan kejahatan. Kenapa kau diam saja diperlakukan seperti itu, Misuzawa?”

“Panggil Nako saja. Aku juga sudah mencoba melawan, tapi mereka tak pernah berhenti menggangguku. Terlebih, karena aku ini dari Jepang, jadi mereka menganggap aku tak pantas ada di sekolah ini.”

“Memangnya kenapa kalau kau orang Jepang? Aneh sekali mereka itu. Ah, biar kubersihkan dulu telur-telur menjijikan itu dari kepalamu.” Jaejoong membuka jasnya dan mengusapkannya ke kepala Nako. Tak ada yang bisa dilakukan Nako kecuali membiarkan Jaejoong melakukan hal itu. Ia belum pernah merasa diperhatikan oleh siapapun di sekolah ini. Dan ia sama sekali tidak menyangka, laki-laki yang bahkan terlihat serampangan ini ternyata mau menolongnya dan bahkan peduli padanya.

“Kenapa kau… mau menolongku tadi?” tanya Nako saat Jaejoong selesai membersihkan rambutnya.

“Apa?” Jaejoong seolah tidak mengerti maksud pertanyaan Nako.

“Kenapa kau menolongku? Padahal selama ini, tak ada satu orangpun yang berani melawan mereka.”

Jaejoong tertawa mendengar ucapan Nako. “Aku menolongmu karena aku tidak takut pada mereka.”

“Kau tidak takut?”

Jaejoong menggeleng pelan. “Kenapa harus takut? Mereka juga manusia. Mulai hari ini, kau juga jangan pernah takut untuk melawan mereka. Selama kau tidak merasa bersalah, jangan pernah mau disalahkan.” Jaejoong tersenyum, lalu membuka pintu dan melangkah keluar meninggalkan Nako.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar