“Nako, makan malam sudah siap.
Cepatlah turun.” Nyonya Mizuzawa berteriak dari lantai bawah.
Nako yang mendengar ibunya berteriak hanya
bisa mendengus pelan. Nako mempunyai sifat yang tidak suka di ganggu jika
belajar.
“Iya, okaasan. Aku segera turun.”
Sahut Nako. Nako turun dengan cepat, dia ingin segera makan malam, karena
perutnya sudah meronta-ronta minta di isi.
“Hai otousan.” Sapa Nako saat
duduk di meja makan.
“Bagaimana sekolahmu hari ini?
semakin terbiasa?” Tanya ayahnya.
Tuan Mizuzawa adalah seorang
Wakil Direktur di salah satu perusahaan swasta di Jepang yang sudah memiliki
cabang hampir di seluruh Asia Tenggara. 1 tahun yang lalu, mereka harus pindah
ke Korea. Karena Tuan Mizuzawa di pindah tugaskan, perusahaan cabang Korea
mengalami masalah dan Tuan Mizuzawa yang harus menyelesaikannya. Jadi mereka
sekeluarga harus pindah ke Korea.
“Tidak juga.” Jawab Nako malas.
“Kenapa otousan memilih sekolah itu?”
“Itu adalah sekolah terbaik di
Korea saat ini.” Tuan mizuzawa tersenyum bijak ke arah putri semata wayangnya.
“Kau tidak suka bersekolah di sana? Bukankah kau ingin menuntut ilmu di sekolah
itu?”
“Memang benar, tapi bukan cabang
Korea. Aku ingin bersekolah di Jepang.” Nako mendengus pelan. “Otauson, tak
bisakah kita kembali ke Jepang?”
BUKK!!
Seseorang memukul kepala Nako
dengan sebuah buku yang di gulung.
“Apa yang kau bicarakan? Aku
nyaman tinggal di korea.” Sahut seseorang yang memukul kepala Nako, dia adalah
Gii, kakak laki-laki Nako. Gii mengambil tempat duduk di seberang Nako, dan
tersenyum mengejek ke arah Nako. Nako hanya mengelus pelan kepalanya yang di
pukul oleh kakaknya. “Aku tak mau kembali ke Jepang.” Lanjutnya
Gii adalah satu-satunya kakak
yang di miliki oleh Nako. Kakak laki-laki yang hampir tak pernah akur
dengannya. Setiap hari di lewati mereka dengan pertengkaran-pertengkaran kecil.
Gii lebih tua 3 tahun dari Nako. Gii adalah seorang mahasiswa di Kyunghee
University jurusan Post Modern Music.
“Kenapa?” Tanya Nyonya Mizuzawa
yang muncul dari dapur dengan membawa semangkok besar kimchi. “Jepang adalah
negara kita, kita tak mungkin akan tinggal di Korea selamanya.”
Nyonya Mizuzawa adalah seorang
ibu rumah tangga. Dia adalah sosok ibu yang sangat perhatian kepada kedua
anaknya Gii dan Nako. Dia adalah tipikal ibu yang lembut tetapi tegas. Pada
awalnya Nyonya Mizuzawa tidak mengizinkan Gii untuk mengambil jurusan Post
Modern Music, tetapi karena Gii memaksa dan berjanji akan kuliah dengan
sungguh-sungguh, akhirnya dia luluh.
“Tentu saja dia tidak ingin
kembali ke korea. Karena dia sudah mempunyai pacar.” Nako tersenyum menang.
“Aduhh!!!” Jerit Nako, kakinya di tendang oleh Gii dengan keras. Nako
mengelus-elus pelan kakinya yang sekarang kemerahan. “Kenapa kau menendangku?”
“Bagaimana kau tau?” Tanya Gii
menyelidik, tidak menghiraukan rintihan kesakitan dari adiknya. “Kau membongkar
seluruh isi kamarku?”
“Buat apa?” Jawab Nako. “Aku tak
perlu membongkar kamarmu untuk mencari tahu itu.”
“Gii, kau sudah berjanji akan
belajar sungguh-sungguh. Tetapi kau malah pacaran.” Kata Nyonya Mizuzama dengan
nada lembut tapi mengancam. “Aku tidak menyekolahkanmu untuk pacaran. Tetapi untuk
belajar.”
“Siapa gadis beruntung itu?”
Tanya Tuan Mizuzawa tanpa memperdulikan perkataan istrinya. “Bawa dia kemari.
Kenalkan pada kami.”
Pipi Gii terlihat bersemu merah,
mungkin dia merasa malu.
“Otousan, bagaimana kau
mengizinkan anak laki-lakimu untuk berpacaran?” Tanya Nyonya Mizuzawa
mengancam.
“Bukan hanya berpacaran, dia
bahkan sudah berciuman.” Ujar Nako, membuat Gii salah tingkah.
“Apa?!” Tanya Nyonya Mazuzama
kaget, dia tidak percaya bahwa putra-nya bahkan sudah pernah berciuman. “Kau
sudah pernah berciuman? Astaga Gii, kau bahkan tak menceritakannya.”
“Itu bukan hal yang patut di
perbincangkan pada saat makan malam.” Jawab Gii dengan wajah yang sudah semerah
tomat. “Nako, akan kubalas kau.”
“Aku tak akan pernah takut.” Nako
tersenyum puas, tak menghiraukan ancaman dari sang kakak.
***
Nako berkali-kali melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 06.50, 10
menit lagi sebelum bel tanda masuk berbunyi. Kalau sampai terlambat maka Nako
tidak akan di izinkan masuk dan dia harus pulang. Ia membenci hal itu.
“Astaga. Oniisan, cepat sedikit.”
Rengek Nako. “Kau menyetir seperti siput. Aku akan terlambat jika kau mengemudi
dengan kecepatan seperti ini.”
“Aku sudah berusaha, mobil ini
saja yang lamban.”
“Jika aku tau akan begini, maka
aku tak akan pergi bersamamu. Lebih baik aku naik sepeda.”
“Kalau kau sekali lagi mengeluh,
akan ku turunkan kau di tengah jalan.”
Nako hanya cemberut kesal. Saat
mobil yang di kemudikan Gii sampai di depan pintu gerbang, Nako langsung
melesat keluar tanpa menutup kembali pintu mobilnya.
BRUKKKK!!!!
Nako menabrak seseorang di
koridor, tetapi orang yang di tabrak tidak jatuh.. Nako tersungkur di lantai,
mengumpulkan semua buku yang terlepas dari genggamannya dan berserakan di
lantai.
“Kau tidak punya mata?!” Suara laki-laki
itu, suara yang di kenal Nako. Suara yang selalu membuatnya marah. Suara itu
yang selalu mempermalukannya.
Nako mengangkat kepalanya, dia
ingin memastikan bahwa pemilik suara itu bukan dia. Orang yang selalu
menindasnya.
Hatinya mencelos saat mengetahui
pemilik suara itu adalah Yunho. Sang leader gangster bernama Tong Vfang Xien
Qi. Nako mengutuk dirinya sendiri karena menabraknya dan dia tau ini akan
berakhir buruk.
“Aku berbicara padamu orang
Jepang!” Kata Yunho menatap tajam Nako. “Apa kau tidak mengerti?! Hah?!”
Nako berdiri, semua buku telah
berada dalam pelukannya. “Maafkan aku, aku yang salah. Aku terburu-buru
sehingga aku tak memperhatikan jalan. Maaf.” Nako membungkuk cukup lama.
Sejujurnya dia tak mau meminta
maaf kepada Yunho kerena itu bukan sepenuhnya salah Nako. Tapi dia tak mau
mencari perkara, sudah cukup dia sering di permalukan oleh mereka. Tapi pagi
ini Nako tidak melihat Yunho bersama ketiga rekannya.
“Kau pikir permintaan maaf ada
gunanya?” Tanya Yunho menyindir. “Jika permintaan maaf ada gunanya, maka buat
apa ada hukum?”
“Tapi aku tak sengaja.” Sanggah
Nako. “Tapi permintaan maaf lebih baik dari pada tidak sama sekali.”
“Kau pikir aku akan memaafkanmu?”
“Aku tak peduli kau mau menerima
permintaan maaf ku atau tidak!”
“Kau berani melawanku?!” Gretak
Yunho
“Kenapa kau harus takut? Kau
bukan siapa-siapa!”
“Beraninya kau!” Yunho bersiap
memukul Nako, tapi Nako hanya menatap Yunho dengan tatapan mengancam. “Jangan
kau pikir karena kau wanita aku tak berani memukulmu!”
“Aku tak pernah takut untuk kau
pukul.” Kata Nako menantang. “Aku harus pergi. Sekali lagi aku minta maaf.”
***
Saat jam istirahat, Nako
memutuskan untuk menghampiri tempat klub taekwondo. Ia sudah berhenti menjadi
anggota jurnalistik, dan ia merasa sebaiknya ia ikut klub beladiri seperti
taekwondo. Ia menatap pintu ruang latihan para anggota klub taekwondo. Iapun
masuk ke sana, menatap beberapa orang yang sedang duduk-duduk sambil bercanda.
Tentu saja tak ada latihan siang-siang begini. Klub taekwondo biasa latihan setiap
pulang sekolah.
“Permisi. Aku mau daftar jadi
anggota klub.” Ucap Nako sambil menghampiri seorang gadis yang sedang duduk
sendirian.
“Silakan bilang pada ketua.” Kata
gadis itu.
“Mana ketua klubnya?”
“Itu, yang sedang duduk-duduk
dengan anggota klub lain.” Gadis itu menunjuk seseorang yang berada tak jauh
dari sana. Nako menatap ke arah yang ditunjuk, mendapati sosok Jung Yunho yang
sedang dikelilingi para laki-laki anggota klub taekwondo.
“Dia… ketuanya? Jung Yunho
maksudmu?” tanya Nako gemetar.
“Ya, dia ketua kami. Kenapa? Kau
tak jadi bergabung?”
Nako menelan ludah mendengar
kenyataan itu. Ia memandangi sosok Yunho yang tampak sangat judes, bahkan dia
tetap terlihat judes meski di depan teman satu klubnya sendiri. Nako
membayangkan, bisa-bisa ia dibentak-bentak setiap hari jika harus bergabung
dengan klub ini. Tapi di sisi lain, ia tak bisa membohongi dirinya sendiri
bahwa ia sangat ingin melihat Yunho lebih lama. Entah perasaan macam apa ini.
Tapi yang jelas, ia sudah merasakan sesuatu yang berbeda saat pertama kali ia
melihat Yunho. Meski Yunho selalu jahat padanya, selalu mengganggunya, tapi ia
merasa ia tak bisa membenci Yunho.
“Aku tidak akan mengundurkan
diri.” Ucap Nako mantap sambil berjalan menghampiri Yunho di sana.
Saat ia berada selangkah lagi
dari kerumunan para laki-laki itu, ia berhenti. Mereka semua menatapnya dan
langsung menghentikan pembicaraan mereka. Nako tersenyum, lalu membungkuk
dalam. Sebuah kebiasaan Jepang yang sampai kapanpun akan selalu dijaganya.
Walau ia tahu orang-orang Korea ini senang sekali mengejeknya jika ia masih
membawa-bawa budaya dari Jepang.
“Maaf, aku mengganggu. Aku ke
sini hanya untuk mengatakan pada ketua bahwa aku ingin mendaftar menjadi
anggota klub.” Ucap Nako dengan suara lantang dan tanpa keraguan sedikitpun.
“Siapa yang kau panggil ketua?”
tanya seorang laki-laki kurus.
“Jung Yunho.” Jawab Nako tegas.
“Kau sungguh-sungguh ingin
menjadi anggota klub?” tanya Yunho dengan nada mengejek. Nako hanya mengangguk
untuk menjawab pertanyaan itu. “Tapi kau harus mengikuti pelatihan khusus
anggota baru sebelum kau resmi menjadi anggota klub. Apakah kau sanggup?”
“Berapa lama aku harus mengikuti
pelatihan itu?” tanya Nako tanpa menjawab pertanyaan Yunho.
“Jika kau hebat, kau cukup
melakukannya selama satu minggu. Tapi jika kau lemah, maka bisa sampai satu
bulan kau harus melakukan pelatihan khusus. Bagaimana?”
Nako mempertimbangkan hal itu
beberapa saat. Ia tahu Yunho pasti akan menyiksanya sesuka hati jika ia
mengikuti pelatihan itu. Tapi setidaknya, di klub taekwondo ini tak ada ketiga
anggota geng yang lain. Setahu Nako, Shim Changmin memilih klub bulu tangkis.
Kim Junsu dan Park Yoochun tak pernah ia lihat mengikuti salah satu
ekstrakulikuler. Mungkin mereka berdua ikut sains club atau pecinta alam.
“Ketua sedang bicara padamu,
orang Jepang!” teriak salah satu dari mereka. Nako mengangkat wajah, menatap
mereka semua dengan tatapan penuh keyakinan.
“Baiklah, aku bersedia.”
***
Waktu sudah menunjuk pukul 17:00.
Nako mencoba menghubungi Gii agar menjemputnya ke sekolah, tapi panggilannya
tak kunjung dijawab. Sepertinya kali inipun Gii lupa menjemputnya karena sibuk
jalan-jalan dengan pacaranya. Nako hanya menghembuskan napas berat mengingat
keteledoran kakaknya itu. Akhirnya diapun memutuskan untuk pulang naik
kendaraan umum saja.
Namun, saat ia bermaksud untuk melangkah ke halte, ia merasakan sesuatu
membentur kepalanya dengan sangat keras. Sebuah cairan bening kekuningan yang
kental dan licin mengucur dari keningnya. Nako memandangi cangkang telur yang
jatuh ke tanah setelah pecah di kepalanya. Ia menoleh untuk menatap keempat
wajah yang dikenalnya tengah berdiri beberapa meter di hadapannya sambil
bersiap untuk melemparkan telur yang ke dua.
“Yang itu karena kau sudah
menabrakku tadi pagi.” Ucap Yunho.
Krakk!! Sebuah telur lagi pecah
dengan sempurna tepat di wajah Nako, cangkangnya berhasil melukai pipi Nako dan
membuat sebuah luka goresan di sana.
“Dan yang itu karena kau sudah
lancang meninggalkanku dengan hanya mengucapkan maaf. Kau tidak mempertanggung
jawabkan perbuatanmu!”
“Aku kan hanya tak sengaja
menabrakmu! Lagipula kau tidak dirugikan apa-apa!” Nako melawan.
“Apa maksudmu tidak dirugikan?!
Gara-gara kau menabrakku, waktuku jadi terbuang sia-sia!”
“Tapi kan tidak sampai 10 menit!”
“Tapi tetap saja kau merugikanku!!”
“Kau lebih merugikanku!!”
“Beraninya kau…!” Yunho
melemparkan sebutir telur lagi, dan…
Krakk!! Telur itu pecah. Nako
terpaku beberapa saat begitu ia menyadari telur itu sama sekali tidak mengenai
wajahnya. Ia baru sadar ada seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya.
Seseorang yang menangkap telur yang dilemparkan Yunho, lalu menggenggam telur
itu hingga pecah di tangannya.
“Kalian masih saja mengganggu
orang, ya? Hobi sekali.” Ucap Jaejoong sambil mengibaskan tangannya untuk
sedikit mengurangi cairan telur yang menempel di sana.
“Lagi-lagi kau mau cari masalah
dengan kami, ya?” Changmin tampak emosi.
“Bukannya kalian sumber masalah
di sekolah ini? Kenapa jadi menyalahkanku?”
“Jaga bicaramu!” Junsu berseru.
“Aku tidak merasa mengeluarkan kata-kata
kasar.”
“Kurang ajar sekali kau ini!”
Junsu bermaksud untuk menghampiri Jaejoong dan memukulnya, namun secepat kilat
Jaejoong berlari sambil menarik tangan Nako.
Mereka berempat tentu saja
berlari mengejarnya, tapi Jaejoong segera membawa Nako bersembunyi di balik
ruangan tempat menyimpan alat kebersihan. Ia tahu berlari takkan ada gunanya.
Mereka berempat pasti bisa berlari lebih cepat dan ia akan dengan mudah
tertangkap. Jadi ia merasa sembunyi adalah jalan yang terbaik.
“Siapa kau?!” tanya Nako curiga.
“Kim Jaejoong. Kau?”
“Misuzawa Nako.”
“Misuzawa, kenapa mereka itu
senang sekali mengganggu orang?” tanya Jaejoong berbisik.
“Memangnya kau tidak tahu, ya?
Mereka itu kan memang terkenal suka mengganggu orang. Aku dengar dari
teman-teman, mereka anak-anak broken home. Sebenarnya, aku kasihan juga pada
mereka.”
“Broken home? Kasihan sekali
mereka. Tapi seharusnya mereka tidak melakukan semua ini kepada orang yang
tidak bersalah. Kalau begini sama saja mereka melakukan kejahatan. Kenapa kau
diam saja diperlakukan seperti itu, Misuzawa?”
“Panggil Nako saja. Aku juga
sudah mencoba melawan, tapi mereka tak pernah berhenti menggangguku. Terlebih,
karena aku ini dari Jepang, jadi mereka menganggap aku tak pantas ada di
sekolah ini.”
“Memangnya kenapa kalau kau orang
Jepang? Aneh sekali mereka itu. Ah, biar kubersihkan dulu telur-telur
menjijikan itu dari kepalamu.” Jaejoong membuka jasnya dan mengusapkannya ke
kepala Nako. Tak ada yang bisa dilakukan Nako kecuali membiarkan Jaejoong
melakukan hal itu. Ia belum pernah merasa diperhatikan oleh siapapun di sekolah
ini. Dan ia sama sekali tidak menyangka, laki-laki yang bahkan terlihat
serampangan ini ternyata mau menolongnya dan bahkan peduli padanya.
“Kenapa kau… mau menolongku
tadi?” tanya Nako saat Jaejoong selesai membersihkan rambutnya.
“Apa?” Jaejoong seolah tidak
mengerti maksud pertanyaan Nako.
“Kenapa kau menolongku? Padahal
selama ini, tak ada satu orangpun yang berani melawan mereka.”
Jaejoong tertawa mendengar ucapan
Nako. “Aku menolongmu karena aku tidak takut pada mereka.”
“Kau tidak takut?”
Jaejoong menggeleng pelan.
“Kenapa harus takut? Mereka juga manusia. Mulai hari ini, kau juga jangan
pernah takut untuk melawan mereka. Selama kau tidak merasa bersalah, jangan
pernah mau disalahkan.” Jaejoong tersenyum, lalu membuka pintu dan melangkah
keluar meninggalkan Nako.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar