Welcome

Selasa, 15 Mei 2012

Unbeatable Heart (translate) part 1

original author : yukie23 at http://www.asianfanfics.com


 Kau membenciku… aku tahu itu. Aku bisa melihatnya di matamu. Kau kira ini kesalahanku, kenyataan bahwa dia terbaring di ranjang, berjuang untuk hidup. Karena aku menolak… aku menolak untuk membiarkanmu memanfaatkan diriku lagi untuk menyelamatkannya. 

“Mrs. Kim, apa alasanmu sampai kau membawa putrimu, Kim Iseul ke pengadilan hari ini…?”

“Secara tidak langsung dia ingin membunuh putra kami; Kim Jaejoong. Kesalahannya adalah, dia menolak untuk melakukan perintah medis, Yang mulia.” Mrs. Kim menjawab.

Saudaraku memiliki penyakit ... yang disebut Ataksia telangiectasia. Ini adalah kelainan, penyakit keturunan yang langka, yang mempengaruhi otak dan sistem kekebalan tubuhmu. Dalam 20% kasus, kanker juga berkembang pada penderita. Karena kami kembar fraternal, gen kami sangat mirip. Aku bangga bisa mendonorkan segala sesuatu untuknya, karena aku sudah cukup beruntung karena tak mengidap penyakit itu. Ibuku, aku tahu dia membenciku, dan mungkin dia tidak terlalu benci padaku. Tapi aku telah memutuskan. Aku tidak akan mendonorkan apapun lagi untuk saudaraku. Aku tidak tahan lagi, tubuhku rasanya sudah hancur. Kadang-kadang, aku merasa seperti aku akan mati bersamanya. 
--- Kim Iseul, Novemeber 26th, 2010

Sebuah cerita tentang keluarga yang terpecah oleh satu keputusan. Apa yang membawanya untuk melakukan hal ini? Dan yang terpenting, bagaimana akibat perbuatannya itu terhadap orang yang paling ia cintai di dunia ini, saudara kembar fraternalnya; Jaejoong.
"Penyakitku adalah apa yang pernah membuat kami begitu dekat sebagai keluarga. Hari ini, penyakit itu justru membuat kami memperlakukan satu sama lain sebagai orang asing.”  
-- Kim Jaejoong 

Pada akhirnya, apakah kau tahu apa yang dilakukan kehidupan untuk menjagamu? 
Pada akhirnya, apakah kau tahu alasanku? 
Pada akhirnya ... akankah kau masih membenciku atas apa yang telah aku lakukan, Jaejoong?

***

Iseul POV

Ataxia Telangiectasia: adalah penyakit ketidakteraturan syaraf yang jarang terjadi. Penyakit ini berkembang sejak masa kanak-kanak, mempengaruhi kinerja otak belakang. Otak belakang adalah bagian dari otak yang berfungsi untuk mengatur gerakan motorik seperti bicara dan menjaga keseimbangan. Kesulitan bicara, dan rasa kaku saat berjalan akan terjadi di sepuluh tahun pertama. Penderita juga akan mengalami rasa sakit jika terkena radiasi.

Tipe Ataxia ini merusak system kekebalan. 20% penderita Ataxia Telangiectasia juga akan mengalami kanker, dan sebagian besar akan cepat menderita Leukimia akut. Usia penderita tidak akan bisa melebihi 20 tahun. Dan tidak ada obat untuk penyakit ini.

Aku ingat bahwa ibuku membacakan semua fakta itu dengan nyaring padaku saat aku berusia 7 tahun, mencoba menjelaskan padaku dengan bahasa paling sederhana. Aku masih memiliki banyak pertanyaan, dan aku bertanya padanya.

“Tapi kenapa aku tidak memiliki penyakit itu, Bu?” aku bertanya.
Dia menarik napas lalu menjawab. “Itu penyakit keturunan, Iseul. Tapi itu juga penyakit terpendam. Yang artinya kau mendapatkan penyakit itu dari orang tuamu.”

“Lalu kenapa ibu tidak mempunyainya?” tanyaku.

“Karena, Iseul. ‘Terpendam’ artinya kau harus memiliki kepastian seperti… tanda di otakmu. Jika kau memiliki tanda itu, kau menderita penyakit itu. Ayahmu dan ibu hanya memiliki separuh tandanya. Dan kau juga hanya memiliki separuh tanda itu.” Jelasnya.

“Dan Jaejoong mempunyai tanda sepenuhnya?” tanyaku.

“Ya.” Ia menjawab.

“Oh..” ucapku. Lalu aku turun dari pangkuannya, turun dari kursi dan membuka pintu untuk melihat saudaraku. Aku melihatnya menyadari kedatanganku, memencet remote dan mengganti-ganti channel TV.

“Iseul!” katanya senang saat aku masuk.

“Jaejoong, kapan kau kembali?” tanyaku. “Semua orang di sekolah merindukanmu, kau sudah tidak hadir selama seminggu.”

“Kurasa besok aku akan masuk lagi.” Jawab Jaejoong. “Memangnya kenapa? Mereka melakukan hal-hal buruk padamu juga?”

“Ya, tapi ibu berkata bahwa mereka tidak sepenting dirimu. Itu adalah alasan kenapa mereka lebih nakal dan aku harus memberi pelajaran pada mereka.” Jawabku.

Jaejoong menarik napas. “Aku mengerti. Itu bagus.”

Aku menatap saudaraku. Tiba-tiba, aku merasa ada jarak yang sangat jauh di antara kami. Kami saudara kembar, tapi hanya dia yang sakit. Aku adalah adiknya, yang selalu berusaha membuatnya terhibur. Semua orang mengatakan apapun akan sulit untuknya, tapi aku merasa segalanya bisa menjadi lebih mudah.
Dia adalah murid terpandai di kelas. Dia tahu semua pengetahuan umum dan bisa membaca kata yang sangat rumit. Itu hanya beberapa tahun, ketika kemudian aku melihat sendiri apa yang selama ini mereka maksud.

***
Aku mendengar suara ketukan pintu. Dengan cepat aku membuka mataku dari tidur singkat.

“Jaejoong?” panggilku.

“Y.y…yea..h”, Jaejoong menyahut.

Saudaraku bicara dengan terbata-bata. Itu membuatnya mengucapkan kata dua kali lebih lama dari orang normal. Tapi aku tidak memikirkannya, aku mengerti apa yang dibicarakannya.

“Dari mana kau?” tanyaku sambil mendekat perlahan.

Dia tersenyum padaku. “Y..yun..hho me…mint..a..ku..unt..uk..memban…tu..nya…memin…dah.kan… sesu..atu.”

Aku mengangguk. “Oh yeah, kau memberitahuku. Bagaimana? Apakah itu bagus?” dia mengangguk. Dia mulai menaiki tangga lalu berhenti. Dia kembali turun, menatap lekat kedua mataku.

 “I-i..se.u..l” katanya.

“Ya?”

“Bi-bi…sa..kah…kau mem..ban…tu.ku me…nya..lakan…ke..ran?” tanyanya. Wajahnya menjadi merah karena malu.

Aku tidak menghiraukannya dan segera menaiki tangga.

“Aku akan memanggilmu jika itu sudah siap!” seruku.

Jaejoong sudah memberitahuku, beberapa kali, bahwa dia ingin aku tidak terlalu sering membantunya. Dia tidak mengerti bahwa semua itu tidak menjadi beban untukku. Bahkan sekalipun jika dia membutuhkanku untuk membantunya berpakaian.

Ibu adalah seorang dokter, selalu sibuk, selalu beralih dari satu gedung ke gedung lain, bicara dengan dokter lain yang juga menangani masalah ketidakteraturan syaraf. Mungkin saja mereka memiliki saran untuk menemukan obat bagi penyakit Jaejoong.

Jadi ini adalah giliranku. Membantu saudaraku melakukan sesuatu sementara ayah dan ibu berusaha menemukan obat untuknya. Kami sudah berusia 17 tahun sekarang, aku tahu penyakit itu membuatnya malu, tapi aku tidak merasa begitu. Saudaraku adalah teman terbaikku. Aku lebih dekat dengannya bahkan dibandingkan kedekatanku dengan ibu. Segalanya aku lakukan untuknya, dan segalanya akan aku lakukan, asalkan itu bisa menjaganya tetap bersamaku.

Jaejoong POV

Ketika aku berdiri di bawah shower, membiarkan air hangat jatuh mengguyur tubuhku yang lelah dan rapuh, aku merasa titik-titik air mata jatuh di wajahku. Aku tidak tahu kenapa semua ini seolah tidak menyusahkannya. Kenapa dia bisa melakukan begitu banyak hal untukku? Aku tahu dia adalah saudaraku, perasaan dan penampilanku sama dengannya. Dan semua itu tetap tak bisa membuatku mengerti.

Begitu banyak saat di mana aku berharap dia tidak menjadi saudara yang baik untukku. Itu karena, dia tidak pernah menjalani begitu banyak operasi sepertiku. Awalnya, itu hanya tampak seperti memberiku perhatian. Dia membantuku saat aku kehilangan keseimbangan, menjagaku selama aku menjalani pemeriksaan di rumah sakit, tapi ketika usiaku mencapai 10 tahun, semuanya berubah.

Ketika usiaku 10 tahun, aku divonis tersertang Lymphocytic Leukemia akut. Ataxia telah menyerang system kekebalan tubuhku, membuatku semakin mudah terserang kanker. Dan hal itu terjadi. Itu adalah pertama kalinya Iseul pergi ke rumah sakit sebagai pasien hanya untuk menyelamatkan nyawaku.

Kau tidak akan bisa membayangkan, berapa kali dia telah menyelamatkan hidupku.

Itu sudah 7 tahun yang lalu. Sudah berapa banyak hal yang dia berikan padaku? Donor darah, waktu demi waktu. Ketika aku membutuhkan, dia melakukan transplantasi tulang belakang untukku. Itu memperpanjang umurku sampai aku berusia 12 tahun, hanya satu tahun, ketika aku membutuhkan satu lagi. Kanker itu membuatku membutuhkan donor ginjal. Dia membaginya saat usia kami 14 tahun. Satu tahun kemudian, dia mensuplai kebutuhanku lagi dengan mendonorkan sebelah paru-parunya agar aku tetap bisa bernapas.

Itu sudah dua tahun yang lalu sejak operasi terakhirku. Aku tidak tahu, berapa banyak lagi yang akan dia berikan padaku. Aku tidak pernah menanyakan padanya tentang hal ini. Kecuali pada suatu kesempatan. Aku menanyakan padanya mengenai donor darah. Aku rasa, itu adalah alasan kenapa dia terus memberikan darahnya padaku. Lagi dan lagi. Karena sekalipun aku tidak memintanya, dia menganggap itu sudah menjadi tugasnya. Itu cukup membuatku tak perlu bertanya lagi. Apapun yang dimilikinya maka itu milikku juga. Aku tahu. Dia mengatakan padaku bahwa ibu pernah bilang begitu saat usia kami 13 tahun.

Apakah itu berarti, tubuhnya akan menjadi rapuh, sama sepertiku? Hal itu membuatku takut. Melebihi rasa takutku akan kematian… aku takut kalau aku akan membuatnya mati bersamaku.

Soo Jin POV

Aku menerka apa yang akan dikatakan dokter padaku. Mungkin ada perusahaan baru yang sesuai dengan keinginannya? Tapi aku salah, dia ingin membicarakan tentang Iseul.

“Bagaimana kabarnya, Dr. Kim?” tanya Dr. Young.

“Baik.” Jawabku.

“Kurasa kau sudah tahu alasan kenapa aku tidak bertanya tentang putramu.” Kata Dr. Young.

“Benar. Memang apa alasanmu?” tanyaku. “Iseul adalah satu-satunya yang sehat?”

“Ya dan tidak.” Jawab Dr. Young. “Benar karena dia tidak punya penyakit seperti saudaranya, tapi dia sudah mendonorkan begitu banyak organnya pada Jaejoong. Aku hanya ingin memastikan bahwa tubuhnya tetap baik-baik saja.”

“Dia baik-baik saja. Terima kasih sudah menanyakan.” Ucapku. Untuk mengatakan yang sebenarnya, itu cukup membuatku cemas. Semua orang selalu bertanya tentang Iseul. Mereka berkata bahwa dia penuh energy, penuh kebahagiaan. Aku tidak tahu apakah puteriku masih tetap seperti itu jika saudaranya meninggal. Aku rasa itu karena dia bisa menyelamatkannya. Tidak seperti aku. Tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku adalah seorang dokter. Aku belajar bertahun-tahun. Tapi pada akhirnya aku tidak bisa melakukan apapun untuk menyembuhkan puteraku. Aku merasa tak berguna saat ini. Berbeda dengan Iseul. Iseul adalah penyangga kehidupannya. Dia sendiri yang memegang takdir Jaejoong saat ini. Yang lebih mengagumkan, Ataxia tidak menyebabkan kesulitan lebih jauh lagi pada kankernya. Itu karena Iseul begitu banyak membantunya.

Aku terlihat seperti seseorang yang mengerikan. Aku tahu itu. Aku memberitahu diriku setiap waktu. Aku lebih mengkhawatirkan Jaejoong 10 kali melebihi aku mengkhawatirkan Iseul, terutama jika mereka sedang dioperasi. Kenapa? Karena jika operasi itu gagal, Jaejoong akan mati, tapi Iseul tidak. Aku akan selalu memiliki Iseul, dia sehat dan kuat, tapi Jaejoong tidak. Rasanya seperti Tuhan hanya membiarkanku memiliki Jaejoong sementara waktu. Ketika aku merasa aku memiliki kesempatan untuk tetap menjaganya bersamaku, Tuhan mengingatkanku betapa mudahnya aku kehilangan dia.

Apa kau mengerti bagaimana rasanya? Tidak memiliki kesempatan untuk menggapai, kau tidak bisa menolong dan hanya bisa berharap? Aku berharap, ada suatu keajaiban yang bisa membuat Jaejoong tetap hidup. Tapi sejauh ini, aku sebagai ibunya, merasa tak berdaya. Perasaan itu lebih buruk dibandingkan saat aku tahu aku akan kehilangan dia. Mengetahui bahwa aku tidak bisa melewati batas kekuasaan yang tidak bisa kulakukan.

Chang Su POV

Aku mengarahkan seluruh konsentrasiku ke tempat yang benar. Dengan cepat aku yakin bahwa ini adalah tempat berkumpulku dengan para karyawan. Setelah selesai, aku menuju seorang pria yang sedang mengontrol derek.

“Kerja bagus, Seung Jo, cukup untuk hari ini.” Aku memberitahunya. Seung Jo mengangguk.

“Terima kasih boss.” Katanya sambil berlalu.

Ini adalah pekerjaanku. Aku seorang arsitek. Aku bekerja dalam proyek pembangunan gedung besar dengan teamku dan aku adalah leadernya. Ini adalah pekerjaan yang menarik. Aku selalu merasa begitu. Aku menikmatinya, sungguh, tapi setiap waktu aku harus berhenti mengunjungi istriku, aku tidak bisa melakukannya tapi aku menikmatinya. Seorang dokter dan arsitek. Seorang mahasiswi, dan siswa SMA yang didrop-out.

Tapi, aku belajar untuk mendapatkan hakku. Jauh lebih penting bagiku memperhatikan cuaca dibandingkan aku berdebat dengan istriku. Anak-anakku, Iseul dan Jaejoong. Meskipun tercipta kembar, mereka berbeda satu sama lain. Aku selau merasa perbedaan itulah yang justru membuat mereka sangat dekat.

Aku mulai mengemudi menuju rumah. Seperti yang biasa aku lakukan, aku melarang anak laki-laki berdiri di luar pintu atau mengintip lewat jendela. Aku sering melihat anak laki-laki di depan rumahku. Aku menemui mereka dan menyuruh mereka pergi.

“Selamat datang, ayah!” Iseul menyambut. Aku berjalan ke dapur untuk melihatnya menolong saudaranya untuk memegang sumpit dengan baik. Dia membutuhkan satu sumpit lagi, hanya perlu membimbing tangannya. “Ingin makan malam?” tanya Iseul.

“Well, sepertinya di luar sana ada orang yang lebih menginginkannya.” Jawabku. Iseul memandangku dengan wajah kaget dan aku menunjuk ke arah pintu. “Mungkin salah satu temanmu.”

Iseul bangkit dan berjalan mendekati pintu. Sementara itu, aku memperhatikan puteraku mulai makan. Dia menyuapkan sepotong kimchi ke mulutnya dan ketika sumpitnya sampai di mulut, tangannya mendadak kaku. Dia menjatuhkan sumpit dan terbatuk-batuk memuntahkan makanannya.

“Apa kau baik-baik saja, Nak?” tanyaku, dengan cepat aku berlari menghampirinya. Dia mengangguk, meremas dadanya karena batuk tadi. Aku mencoba membantunya untuk kembali bernapas dengan baik, aku berlutut untuk memeriksa mulutnya dan memastikan dia tidak tersedak apapun.

Aku mendengar langkah cemas. “Apa yang terjadi?” muncul suara Iseul.

“Ti..dak…a..da..apa…ap..a” Jaejoong menjawab setelah aku selesai memeriksa mulutnya.

“Baiklah, kau kelihatan baik-baik saja.” Aku berkata. “Iseul.” Aku beralih menatap puteriku. “Kenapa kau tidak membantu Jaejoong untuk ma—“

“TIDAK!” Jaejoong berkata dengan keras. Dia segera berdiri. “A..ku..ba..ik-ba..ik..saj..a. Aku… bi..sa..mm..mak…an..sen..diri.. Is..eul tid..ak..per..lu..mel..akuk..an…hal…yyang…tid..ak..ber.. gu..na”

Iseul menatapnya dengan khidmat, tidak berkata apa-apa. “Baiklah, kau tenang saja.” Kataku. “Jika kau tidak mau dia melakukannya, dia tidak akan melakukannya. Jadi, berhati-hatilah.”

“Aku ak..an beru..sa..ha.” Jawab Jaejoong. Aku mengangguk tanpa berkata apa-apa. Sesekali waktu, Jaejoong memang seperti ini, jika kalimat orang-orang terasa menyakitinya.

“Jae…” terdengar suara di belakang Iseul. Aku melihat anak laki-laki yang sering aku lihat berdiri di luar rumah.

“Yu..n..ho!” ucap Jaejoong, matanya tampak melebar. Wajahnya menghangat, dia tak percaya temannya sudah sangat berubah.

“Kau meninggalkan ini di rumahku.” Katanya tenang, memberikan pada Jaejoong kunci rumahnya. Dia mengusap kepalanya. “Aku berusaha melihat mereka bekerja lebih mudah, itulah kenapa aku menunggu di luar rumah, aku mencoba memastikan bahwa kunci itu milikmu.”

Butuh waktu satu menit untuk memahami bahwa kalimatnya juga ditujukan padaku. Dia harus memiliki alasan yang jelas untuk mengatakan bahwa dia yang telah menjatuhkan kunci itu di depan pintu.

“Baiklah, kau harus lebih berhati-hati menjaganya. Jika kau memiliki kunci, aku masih menganggap kau bisa menjaganya.” Ucapku.

Anak laki-laki yang berdiri di depanku tampak terkejut dan ketakutan. Dia dengan cepat menunduk memohon maaf. “Maafkan aku, Pak! Kau bisa memegang janjiku bahwa ini tidak akan terjadi lagi!”

Aku menatapnya. Kemudian Iseul, Jaejoong, dan aku tiba-tiba tertawa.

“Aku hanya bercanda.” Ucapku, mengusap punggungnya. Aku merasa ingin tertawa lagi saat melihat ekpresi malunya. Matanya bergantian menatap Iseul dan lantai. Iseul, ya? Ah, anak-anak.

“Aish.. malunya.” Aku mendengar dia menggumam.

Aku berusaha membantu anak itu lebih tenang. Kenapa tidak? Dia adalah teman Jaejoong selama ini.

“Hey, sejak kau ke sini, kenapa kau tidak mengunjungi kami untuk makan malam?” tanyaku.

“Itu sangat—“ dia memulai.

“Iseul yang membuatnya.” Ucapku dengan suara rendah.

“Aku akan menyukainya, terima kasih, Pak.” Yunho membalas, menunduk dalam sekali lagi. Aku terkesiap. Aku mengalihkan pandang sesaat ke arah Jaejoong. Mungkin puteraku tahu bahwa teman terbaiknya juga lelah mengurusnya seperti saudaranya.

Aku tertunduk. Kejadian singkat ini akan selalu aku ingat.

Yunho berteriak. “Ini enak! Siapa yang membuat makanan mengagumkan ini?”

Dengan melirik Iseul dan Jaejoong, kami mengedipkan mata.

Ketika semuanya menjadi tenang… sebelum badai besar di hidup kami terjadi lagi.

Jaejoong POV

Ketika usiaku 11 tahun, hal itu mulai menyerangku. Efek kemoterapi itu membekas. Aku kehilangan semua rambutku, aku terlihat mengerikan, kecuali pada suatu hari aku merasa cukup baik. Mungkin itu alasan kenapa aku menganggapnya sebuah kesalahan. Kesalahan untuk meminta Ha Rie menari. Aku tidak yakin untuk menanyakan padanya, aku tidak memiliki keberanian untuk itu… tapi kencan itu.. aku merasa dia tidak akan menolakku berkencan.

Aku ingat dia menghampiriku, matanya menjelajah dari kaki hingga ujung kepalaku. “Maaf, aku harus pergi dengan seseorang.” Katanya.

“Benarkah?” aku ingat kalimatnya, hatiku teriris. “Oh, lalu, maaf sudah merepotkanmu.”

“Yeah..” ucap Ha Rie. Aku mulai pergi meninggalkannya dan mendengar dia memanggil namaku. Aku merasa hatiku terisi oleh satu harapan lagi.

“Yeah?” aku bertanya.

“Dengarlah… tolong jangan katakan pada siapapun kalau aku meninggalkanmu. Mereka akan berpikir bahwa aku adalah orang jahat karena telah meninggalkanmu. Maksudku, aku yakin kau tidak keberatan jika aku memperlakukanmu dengan baik, kan? Aku tak ingin katakan bahwa aku meninggalkanmu karena kau sakit atau kau bukan tipeku. Itu pasti akan melukaimu. Baiklah, aku berharap kau benar-benar tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun.” Dia berkata.

Dia pergi dan membiarkanku berdiri sendirian. Itu terasa seperti dia hanya menampar wajahku, melukai perasaanku dengan kata-katanya, terutama dia adalah gadis pertama yang aku sukai.

Aku pulang hari itu, berjalan sendirian di bawah hujan. Aku sampai di rumah, membersihkan tubuhku. Aku ingat ibuku mulai frustasi dengan kondisiku, tentang betapa mudahnya aku menderita batuk, atau demam. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak menghiraukan peringatannya dan pergi ke kamarku.

Ketika aku memasuki kamar, aku bisa mendengar suara kakinya datang setelahku. Aku menutup pintu dan mendengar ayahku memberitahunya untuk meninggalkanku sendiri. “Semuanya akan baik-baik saja, biarkan dia sendirian dulu.” Katanya.

Aku sangat berterimakasih pada ayahku. Aku berguling di ranjang dan mulai tertidur. Tubuh rapuhku dilengkapi butir air mata yang jatuh di wajah. Menjadi sunyi seperti itu… jadi lebih mengerikan daripada menerima tugas untuk tidak menangis.

Aku diam di dalam kamarku yang gelap. Ketika aku sedikit lebih tenang, aku melihat secercah cahaya terpancar dari celah di bawah pintu. Ada seseorang yang berdiri di belakang pintuku, mungkin dia sedang mengintai.

Aku bangun dengan pelan dan membuka pintu. Aku menemukan diriku berhadapan dengan saudaraku, Iseul.

“Apa ada masalah?” tanyaku.

“Aku ingin mendengar ceritamu.” Katanya.

Aku menatapnya. Bisakah aku memberitahunya? Teman terbaikku. Setelah itu aku membuka pintu dan mempersilahkannya masuk. Aku butuh bicara pada seseorang.

Ketika aku selesai bercerita, aku menangis di bahunya. Dia tersenyum padaku. “Jangan khawatir, Jaejoong, kau akan menemukan seseorang yang lebih baik.” Katanya. Aku mengangguk dan berterimakasih padanya. Dia tersenyum padaku. “Jangan mempersulit dirimu lagi.” Katanya.

Sekitar satu jam kemudian, aku dipanggil turun untuk makan malam.

“Di mana Iseul?” aku bertanya saat aku duduk, tidak menghiraukan wajah cemas ibuku.

“Kukira dia bersamamu. Dia tidak ada di kamarnya…” kata ayah. Lalu tiba-tiba ada suara ketukan di pintu. Ibuku beranjak membukanya. Beberapa detik kemudian kami mendengar suara menjerit yang keras. “Iseul! Lihatlah dirimu!”

Ayahku dan aku bangun dengan cepat untuk melihat apa yang terjadi.

Hal pertama yang aku lihat adalah kepala sekolah kami, dia terlihat marah. Lalu aku melihat Iseul. Dia mengalami luka di keningnya dan pakaiannya robek di sana-sini. Rambutnya sangat kacau. Tiba-tiba, aku membayangkan kemungkinan terburuk… jangan-jangan beberapa pria berusaha mengambil keuntungan darinya.

“Mrs. Kim, puterimu berkelahi. Dia terbukti menyerang salah satu teman sekelasnya. Maafkan aku, tapi dia harus diskors selama satu minggu. Jika hal ini terjadi lagi, kami akan mengeluarkan-nya dari sekolah.” Kepala sekolah berkata.

“Oh, maafkan aku.” Ibuku berkata. Dia mencengkram Iseul dan mendorongnya masuk. “Aku berjanji ini tidak akan terjadi lagi.”

“Aku harap juga begitu.” Balas kepala sekolah. “Terima kasih.” Lalu dia berbalik dan pergi. Begitu ibuku menutup pintu, ayah menarik napas.

“Betapa sangat menyakitkan.” Katanya.

“Dia benar!” ibuku berkata. Dia memandang Iseul yang sudah terduduk di lantai. “Apa yang terjadi denganmu gadis kecil? Kami tidak pernah mengajarkanmu untuk menyelesaikan masalah dengan berkelahi! Dengan keadaan saudaramu seperti ini, kau ingin membuat lebih banyak masalah lagi bagi kami?” ibu berkata, lalu menarik napas. “Pergilah ke kamarmu, gadis kecil, dan jangan ke mana-mana!”

Iseul tidak berkata apa-apa. Dia pergi dan menaiki tangga.

“Tenanglah.” Ucap ayah. “Anak-anak berkelahi sepanjang waktu, dia pasti dihasut.”

“Aku tak ingin membicarakan masalah ini sekarang!” kata ibuku, mengangkat tangan ke kepalanya seolah sedang sakit kepala.

“Baiklah, mari kita lihat apakah dia baik-baik saja.” Kata ayah.

“Oh, dia baik-baik saja! Jika dia punya tenaga untuk berkelahi, aku yakin dia baik-baik saja.” Kata ibuku.

Dia menjauh dari kami tanpa kata-kata dan mengunci dirinya di ruang kerja. Aku menatap ayahku yang mengangkat bahu. “Pergilah untuk melakukan pertolongan pertama.” Dia memberitahuku. Aku tersenyum dan mengangguk.

Ketika aku menyetujuinya, aku mengikutinya menaiki tangga ke kamar Iseul. Dia mengetuk pintu.

“Masuklah.” Ucap Iseul.

Ayahku dan aku masuk. Dia sedang terlentang di ranjangnya, terlihat tanpa ekspresi dalam jarak jauh.

“Kemarilah, ayo kita lihat luka itu.” Kata ayahku.

“Terimakasih, ayah.” Kata Iseul.

“Jangan cemas. Apa kau terluka lagi?” tanyanya.

Dia memegang kepalanya. “Tidak terlalu.”

“Baguslah, pertanyaan kedua yang tak kalah penting adalah, apa kau menang?” tanyanya.

Sebuah senyum meyakinkan tampak di wajah Iseul. “Tentu saja.” Jawabnya.

“Itu baru puteriku!” ucap ayah. “Oops, jangan beritahukan ibumu aku mengatakan hal ini.” Dia menambahkan sambil menatap kami dengan serius. Kami berdua mengangguk.

“Ayah, bolehkah aku diam di rumah bersama Iseul selama satu minggu?” tanyaku.

Dia menatapku sejenak dan menarik napas. “Tentu, kenapa tidak. Katakan saja pada ibumu bahwa kau tidak apa-apa dan dia akan mengizinkanmu.”

“Kau harus pergi ke sekolah.” Kata Iseul. “Kau tidak akan betah berdiam di sini.”

“Tidak, ini mudah saja. Di samping itu, aku memang ingin melakukannya.” Aku berkata. Iseul mengerti dan mengangguk. Ayahku menatap kami berdua. Dia menarik napas.

“Anak kembar… aku tidak akan pernah mengerti mereka.” Kami berdua tertawa keras.

Seminggu kemudian, aku menunggu saudaraku turun dari tangga karena kami akan pergi ke sekolah bersama.

“Iseul, cepatlah!” panggil ibuku.

“Dia sedang berdandan.” Sahut ayah. Ibuku melotot padanya dan dia segera mengalihkan pandangan.

“Aku di sini!” seru Iseul, dia baru saja sampai di dapur. Aku menatapnya, mulut ibuku ternganga. Sesaat kemudian, ibuku berteriak kencang.

“Iseul!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA RAMBUTMU?!!!” ibuku menjerit.

“Aku mencukurnya.” Dia berkata.

“KAU MENCUKURNYA?!!” ibuku mengulang perkataan Iseul. Iseul mengangguk.

“Itu terlihat bagus.” Ucap ayahku mencoba membesarkan hati Iseul.

“Diamlah!!” ucap ibuku marah. “Iseul, kenapa kau lakukan itu?” tanyanya.

Iseul tersenyum dan berjalan ke sampingku. Dia menatapku sejenak. “Karena kami kembar sejati.” Katanya. “Dan mulai sekarang, tak seorangpun yang boleh mengatakan bahwa dia berbeda, karena aku terlihat berbeda juga.”

Ibuku mematung dalam diam.

“Jadi… ayo pergi.” Ucap ayah cepat, meletakkan gelas kopinya dan mengambil kunci. “Sampai jumpa nanti, sayang!” katanya sambil mendorong kami.

Iseul tersenyum padaku. “Kau tidak akan menderita sendirian.” Bisiknya. Aku merasa titik air mata menggenang di pelupuk mataku. Iseul… saudaraku tercinta.

Sejak hari itu, aku melihat bayangan memar dan memotong wajah Ha Rie dari pikiranku.
 
Iseul adalah penyangga hidupku di setiap hal…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar