Kau
membenciku… aku tahu itu. Aku bisa melihatnya di matamu. Kau kira ini
kesalahanku, kenyataan bahwa dia terbaring di ranjang, berjuang untuk hidup.
Karena aku menolak… aku menolak untuk membiarkanmu memanfaatkan diriku lagi
untuk menyelamatkannya.
“Mrs. Kim, apa alasanmu sampai kau membawa putrimu, Kim Iseul ke
pengadilan hari ini…?”
“Secara
tidak langsung dia ingin membunuh putra kami; Kim Jaejoong. Kesalahannya
adalah, dia menolak untuk melakukan perintah medis, Yang mulia.” Mrs. Kim
menjawab.
Saudaraku
memiliki penyakit ... yang disebut Ataksia telangiectasia. Ini adalah kelainan,
penyakit keturunan yang langka, yang mempengaruhi otak dan sistem kekebalan
tubuhmu. Dalam 20% kasus, kanker juga berkembang pada penderita. Karena kami
kembar fraternal, gen kami sangat mirip. Aku bangga bisa mendonorkan segala
sesuatu untuknya, karena aku sudah cukup beruntung karena tak mengidap penyakit
itu. Ibuku, aku tahu dia membenciku, dan mungkin dia tidak terlalu benci
padaku. Tapi aku telah memutuskan. Aku tidak akan
mendonorkan apapun lagi untuk saudaraku. Aku tidak tahan lagi, tubuhku rasanya
sudah hancur. Kadang-kadang, aku merasa seperti aku akan mati bersamanya.
---
Kim Iseul, Novemeber 26th, 2010
Sebuah
cerita tentang keluarga yang terpecah oleh satu keputusan. Apa yang membawanya
untuk melakukan hal ini? Dan yang terpenting, bagaimana akibat perbuatannya itu
terhadap orang yang paling ia cintai di dunia ini, saudara kembar fraternalnya;
Jaejoong.
"Penyakitku
adalah apa yang pernah membuat kami begitu dekat sebagai keluarga. Hari ini,
penyakit itu justru membuat kami memperlakukan satu sama lain sebagai orang
asing.”
--
Kim Jaejoong
Pada
akhirnya, apakah kau tahu apa yang dilakukan kehidupan untuk menjagamu?
Pada
akhirnya, apakah kau tahu alasanku?
Pada
akhirnya ... akankah kau masih membenciku atas apa yang telah aku lakukan,
Jaejoong?
***
Iseul POV
Ataxia
Telangiectasia: adalah penyakit ketidakteraturan syaraf yang jarang terjadi.
Penyakit ini berkembang sejak masa kanak-kanak, mempengaruhi kinerja otak
belakang. Otak belakang adalah bagian dari otak yang berfungsi untuk mengatur
gerakan motorik seperti bicara dan menjaga keseimbangan. Kesulitan bicara, dan
rasa kaku saat berjalan akan terjadi di sepuluh tahun pertama. Penderita juga
akan mengalami rasa sakit jika terkena radiasi.
Tipe Ataxia ini
merusak system kekebalan. 20% penderita Ataxia Telangiectasia juga akan
mengalami kanker, dan sebagian besar akan cepat menderita Leukimia akut. Usia
penderita tidak akan bisa melebihi 20 tahun. Dan tidak ada obat untuk penyakit
ini.
Aku ingat bahwa ibuku membacakan semua fakta
itu dengan nyaring padaku saat aku berusia 7 tahun, mencoba menjelaskan padaku
dengan bahasa paling sederhana. Aku masih memiliki banyak pertanyaan, dan aku
bertanya padanya.
“Tapi kenapa aku tidak memiliki penyakit itu,
Bu?” aku bertanya.
Dia menarik napas lalu menjawab. “Itu penyakit
keturunan, Iseul. Tapi itu juga penyakit terpendam. Yang artinya kau mendapatkan
penyakit itu dari orang tuamu.”
“Lalu kenapa ibu tidak mempunyainya?” tanyaku.
“Karena, Iseul. ‘Terpendam’ artinya kau harus
memiliki kepastian seperti… tanda di otakmu. Jika kau memiliki tanda itu, kau
menderita penyakit itu. Ayahmu dan ibu hanya memiliki separuh tandanya. Dan kau
juga hanya memiliki separuh tanda itu.” Jelasnya.
“Dan Jaejoong mempunyai tanda sepenuhnya?”
tanyaku.
“Ya.” Ia menjawab.
“Oh..” ucapku. Lalu aku turun dari
pangkuannya, turun dari kursi dan membuka pintu untuk melihat saudaraku. Aku
melihatnya menyadari kedatanganku, memencet remote dan mengganti-ganti channel
TV.
“Iseul!” katanya senang saat aku masuk.
“Jaejoong, kapan kau kembali?” tanyaku. “Semua
orang di sekolah merindukanmu, kau sudah tidak hadir selama seminggu.”
“Kurasa besok aku akan masuk lagi.” Jawab
Jaejoong. “Memangnya kenapa? Mereka melakukan hal-hal buruk padamu juga?”
“Ya, tapi ibu berkata bahwa mereka tidak
sepenting dirimu. Itu adalah alasan kenapa mereka lebih nakal dan aku harus
memberi pelajaran pada mereka.” Jawabku.
Jaejoong menarik napas. “Aku mengerti. Itu
bagus.”
Aku menatap saudaraku. Tiba-tiba, aku merasa
ada jarak yang sangat jauh di antara kami. Kami saudara kembar, tapi hanya dia
yang sakit. Aku adalah adiknya, yang selalu berusaha membuatnya terhibur. Semua
orang mengatakan apapun akan sulit untuknya, tapi aku merasa segalanya bisa
menjadi lebih mudah.
Dia adalah murid terpandai di kelas. Dia tahu
semua pengetahuan umum dan bisa membaca kata yang sangat rumit. Itu hanya
beberapa tahun, ketika kemudian aku melihat sendiri apa yang selama ini mereka
maksud.
***
Aku mendengar suara ketukan pintu. Dengan
cepat aku membuka mataku dari tidur singkat.
“Jaejoong?” panggilku.
“Y.y…yea..h”, Jaejoong menyahut.
Saudaraku bicara dengan terbata-bata. Itu
membuatnya mengucapkan kata dua kali lebih lama dari orang normal. Tapi aku tidak
memikirkannya, aku mengerti apa yang dibicarakannya.
“Dari mana kau?” tanyaku sambil mendekat
perlahan.
Dia tersenyum padaku. “Y..yun..hho
me…mint..a..ku..unt..uk..memban…tu..nya…memin…dah.kan… sesu..atu.”
Aku mengangguk. “Oh yeah, kau memberitahuku. Bagaimana?
Apakah itu bagus?” dia mengangguk. Dia mulai menaiki tangga lalu berhenti. Dia
kembali turun, menatap lekat kedua mataku.
“I-i..se.u..l”
katanya.
“Ya?”
“Bi-bi…sa..kah…kau mem..ban…tu.ku
me…nya..lakan…ke..ran?” tanyanya. Wajahnya menjadi merah karena malu.
Aku tidak menghiraukannya dan segera menaiki
tangga.
“Aku akan memanggilmu jika itu sudah siap!”
seruku.
Jaejoong sudah memberitahuku, beberapa kali,
bahwa dia ingin aku tidak terlalu sering membantunya. Dia tidak mengerti bahwa
semua itu tidak menjadi beban untukku. Bahkan sekalipun jika dia membutuhkanku
untuk membantunya berpakaian.
Ibu adalah seorang dokter, selalu sibuk,
selalu beralih dari satu gedung ke gedung lain, bicara dengan dokter lain yang
juga menangani masalah ketidakteraturan syaraf. Mungkin saja mereka memiliki
saran untuk menemukan obat bagi penyakit Jaejoong.
Jadi ini adalah giliranku. Membantu saudaraku
melakukan sesuatu sementara ayah dan ibu berusaha menemukan obat untuknya. Kami
sudah berusia 17 tahun sekarang, aku tahu penyakit itu membuatnya malu, tapi
aku tidak merasa begitu. Saudaraku adalah teman terbaikku. Aku lebih dekat
dengannya bahkan dibandingkan kedekatanku dengan ibu. Segalanya aku lakukan
untuknya, dan segalanya akan aku lakukan, asalkan itu bisa menjaganya tetap
bersamaku.
Jaejoong POV
Ketika aku
berdiri di bawah shower, membiarkan air hangat jatuh mengguyur tubuhku yang
lelah dan rapuh, aku merasa titik-titik air mata jatuh di wajahku. Aku tidak
tahu kenapa semua ini seolah tidak menyusahkannya. Kenapa dia bisa melakukan
begitu banyak hal untukku? Aku tahu dia adalah saudaraku, perasaan dan
penampilanku sama dengannya. Dan semua itu tetap tak bisa membuatku mengerti.
Begitu banyak
saat di mana aku berharap dia tidak menjadi saudara yang baik untukku. Itu
karena, dia tidak pernah menjalani begitu banyak operasi sepertiku. Awalnya,
itu hanya tampak seperti memberiku perhatian. Dia membantuku saat aku
kehilangan keseimbangan, menjagaku selama aku menjalani pemeriksaan di rumah
sakit, tapi ketika usiaku mencapai 10 tahun, semuanya berubah.
Ketika usiaku 10
tahun, aku divonis tersertang Lymphocytic Leukemia akut. Ataxia telah menyerang
system kekebalan tubuhku, membuatku semakin mudah terserang kanker. Dan hal itu
terjadi. Itu adalah pertama kalinya Iseul pergi ke rumah sakit sebagai pasien hanya
untuk menyelamatkan nyawaku.
Kau tidak akan
bisa membayangkan, berapa kali dia telah menyelamatkan hidupku.
Itu sudah 7
tahun yang lalu. Sudah berapa banyak hal yang dia berikan padaku? Donor darah,
waktu demi waktu. Ketika aku membutuhkan, dia melakukan transplantasi tulang
belakang untukku. Itu memperpanjang umurku sampai aku berusia 12 tahun, hanya
satu tahun, ketika aku membutuhkan satu lagi. Kanker itu membuatku membutuhkan
donor ginjal. Dia membaginya saat usia kami 14 tahun. Satu tahun kemudian, dia
mensuplai kebutuhanku lagi dengan mendonorkan sebelah paru-parunya agar aku
tetap bisa bernapas.
Itu sudah dua
tahun yang lalu sejak operasi terakhirku. Aku tidak tahu, berapa banyak lagi
yang akan dia berikan padaku. Aku tidak pernah menanyakan padanya tentang hal
ini. Kecuali pada suatu kesempatan. Aku menanyakan padanya mengenai donor
darah. Aku rasa, itu adalah alasan kenapa dia terus memberikan darahnya padaku.
Lagi dan lagi. Karena sekalipun aku tidak memintanya, dia menganggap itu sudah
menjadi tugasnya. Itu cukup membuatku tak perlu bertanya lagi. Apapun yang
dimilikinya maka itu milikku juga. Aku tahu. Dia mengatakan padaku bahwa ibu
pernah bilang begitu saat usia kami 13 tahun.
Apakah itu
berarti, tubuhnya akan menjadi rapuh, sama sepertiku? Hal itu membuatku takut.
Melebihi rasa takutku akan kematian… aku takut kalau aku akan membuatnya mati
bersamaku.
Soo Jin POV
Aku menerka apa
yang akan dikatakan dokter padaku. Mungkin ada perusahaan baru yang sesuai
dengan keinginannya? Tapi aku salah, dia ingin membicarakan tentang Iseul.
“Bagaimana
kabarnya, Dr. Kim?” tanya Dr. Young.
“Baik.” Jawabku.
“Kurasa kau
sudah tahu alasan kenapa aku tidak bertanya tentang putramu.” Kata Dr. Young.
“Benar. Memang
apa alasanmu?” tanyaku. “Iseul adalah satu-satunya yang sehat?”
“Ya dan tidak.”
Jawab Dr. Young. “Benar karena dia tidak punya penyakit seperti saudaranya,
tapi dia sudah mendonorkan begitu banyak organnya pada Jaejoong. Aku hanya
ingin memastikan bahwa tubuhnya tetap baik-baik saja.”
“Dia baik-baik
saja. Terima kasih sudah menanyakan.” Ucapku. Untuk mengatakan yang sebenarnya,
itu cukup membuatku cemas. Semua orang selalu bertanya tentang Iseul. Mereka
berkata bahwa dia penuh energy, penuh kebahagiaan. Aku tidak tahu apakah
puteriku masih tetap seperti itu jika saudaranya meninggal. Aku rasa itu karena
dia bisa menyelamatkannya. Tidak seperti aku. Tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku adalah
seorang dokter. Aku belajar bertahun-tahun. Tapi pada akhirnya aku tidak bisa
melakukan apapun untuk menyembuhkan puteraku. Aku merasa tak berguna saat ini.
Berbeda dengan Iseul. Iseul adalah penyangga kehidupannya. Dia sendiri yang
memegang takdir Jaejoong saat ini. Yang lebih mengagumkan, Ataxia tidak
menyebabkan kesulitan lebih jauh lagi pada kankernya. Itu karena Iseul begitu
banyak membantunya.
Aku terlihat
seperti seseorang yang mengerikan. Aku tahu itu. Aku memberitahu diriku setiap
waktu. Aku lebih mengkhawatirkan Jaejoong 10 kali melebihi aku mengkhawatirkan
Iseul, terutama jika mereka sedang dioperasi. Kenapa? Karena jika operasi itu
gagal, Jaejoong akan mati, tapi Iseul tidak. Aku akan selalu memiliki Iseul,
dia sehat dan kuat, tapi Jaejoong tidak. Rasanya seperti Tuhan hanya
membiarkanku memiliki Jaejoong sementara waktu. Ketika aku merasa aku memiliki
kesempatan untuk tetap menjaganya bersamaku, Tuhan mengingatkanku betapa
mudahnya aku kehilangan dia.
Apa kau mengerti
bagaimana rasanya? Tidak memiliki kesempatan untuk menggapai, kau tidak bisa
menolong dan hanya bisa berharap? Aku berharap, ada suatu keajaiban yang bisa
membuat Jaejoong tetap hidup. Tapi sejauh ini, aku sebagai ibunya, merasa tak
berdaya. Perasaan itu lebih buruk dibandingkan saat aku tahu aku akan
kehilangan dia. Mengetahui bahwa aku tidak bisa melewati batas kekuasaan yang
tidak bisa kulakukan.
Chang Su POV
Aku mengarahkan
seluruh konsentrasiku ke tempat yang benar. Dengan cepat aku yakin bahwa ini
adalah tempat berkumpulku dengan para karyawan. Setelah selesai, aku menuju
seorang pria yang sedang mengontrol derek.
“Kerja bagus,
Seung Jo, cukup untuk hari ini.” Aku memberitahunya. Seung Jo mengangguk.
“Terima kasih
boss.” Katanya sambil berlalu.
Ini adalah
pekerjaanku. Aku seorang arsitek. Aku bekerja dalam proyek pembangunan gedung
besar dengan teamku dan aku adalah leadernya. Ini adalah pekerjaan yang
menarik. Aku selalu merasa begitu. Aku menikmatinya, sungguh, tapi setiap waktu
aku harus berhenti mengunjungi istriku, aku tidak bisa melakukannya tapi aku
menikmatinya. Seorang dokter dan arsitek. Seorang mahasiswi, dan siswa SMA yang
didrop-out.
Tapi, aku
belajar untuk mendapatkan hakku. Jauh lebih penting bagiku memperhatikan cuaca
dibandingkan aku berdebat dengan istriku. Anak-anakku, Iseul dan Jaejoong.
Meskipun tercipta kembar, mereka berbeda satu sama lain. Aku selau merasa
perbedaan itulah yang justru membuat mereka sangat dekat.
Aku mulai
mengemudi menuju rumah. Seperti yang biasa aku lakukan, aku melarang anak
laki-laki berdiri di luar pintu atau mengintip lewat jendela. Aku sering
melihat anak laki-laki di depan rumahku. Aku menemui mereka dan menyuruh mereka
pergi.
“Selamat datang,
ayah!” Iseul menyambut. Aku berjalan ke dapur untuk melihatnya menolong
saudaranya untuk memegang sumpit dengan baik. Dia membutuhkan satu sumpit lagi,
hanya perlu membimbing tangannya. “Ingin makan malam?” tanya Iseul.
“Well,
sepertinya di luar sana ada orang yang lebih menginginkannya.” Jawabku. Iseul
memandangku dengan wajah kaget dan aku menunjuk ke arah pintu. “Mungkin salah
satu temanmu.”
Iseul bangkit
dan berjalan mendekati pintu. Sementara itu, aku memperhatikan puteraku mulai
makan. Dia menyuapkan sepotong kimchi ke mulutnya dan ketika sumpitnya sampai
di mulut, tangannya mendadak kaku. Dia menjatuhkan sumpit dan terbatuk-batuk
memuntahkan makanannya.
“Apa kau
baik-baik saja, Nak?” tanyaku, dengan cepat aku berlari menghampirinya. Dia
mengangguk, meremas dadanya karena batuk tadi. Aku mencoba membantunya untuk
kembali bernapas dengan baik, aku berlutut untuk memeriksa mulutnya dan
memastikan dia tidak tersedak apapun.
Aku mendengar
langkah cemas. “Apa yang terjadi?” muncul suara Iseul.
“Ti..dak…a..da..apa…ap..a”
Jaejoong menjawab setelah aku selesai memeriksa mulutnya.
“Baiklah, kau
kelihatan baik-baik saja.” Aku berkata. “Iseul.” Aku beralih menatap puteriku.
“Kenapa kau tidak membantu Jaejoong untuk ma—“
“TIDAK!”
Jaejoong berkata dengan keras. Dia segera berdiri.
“A..ku..ba..ik-ba..ik..saj..a. Aku… bi..sa..mm..mak…an..sen..diri.. Is..eul
tid..ak..per..lu..mel..akuk..an…hal…yyang…tid..ak..ber.. gu..na”
Iseul menatapnya
dengan khidmat, tidak berkata apa-apa. “Baiklah, kau tenang saja.” Kataku.
“Jika kau tidak mau dia melakukannya, dia tidak akan melakukannya. Jadi,
berhati-hatilah.”
“Aku ak..an
beru..sa..ha.” Jawab Jaejoong. Aku mengangguk tanpa berkata apa-apa. Sesekali
waktu, Jaejoong memang seperti ini, jika kalimat orang-orang terasa
menyakitinya.
“Jae…” terdengar
suara di belakang Iseul. Aku melihat anak laki-laki yang sering aku lihat
berdiri di luar rumah.
“Yu..n..ho!”
ucap Jaejoong, matanya tampak melebar. Wajahnya menghangat, dia tak percaya temannya
sudah sangat berubah.
“Kau
meninggalkan ini di rumahku.” Katanya tenang, memberikan pada Jaejoong kunci
rumahnya. Dia mengusap kepalanya. “Aku berusaha melihat mereka bekerja lebih
mudah, itulah kenapa aku menunggu di luar rumah, aku mencoba memastikan bahwa
kunci itu milikmu.”
Butuh waktu satu
menit untuk memahami bahwa kalimatnya juga ditujukan padaku. Dia harus memiliki
alasan yang jelas untuk mengatakan bahwa dia yang telah menjatuhkan kunci itu
di depan pintu.
“Baiklah, kau
harus lebih berhati-hati menjaganya. Jika kau memiliki kunci, aku masih
menganggap kau bisa menjaganya.” Ucapku.
Anak laki-laki
yang berdiri di depanku tampak terkejut dan ketakutan. Dia dengan cepat
menunduk memohon maaf. “Maafkan aku, Pak! Kau bisa memegang janjiku bahwa ini
tidak akan terjadi lagi!”
Aku menatapnya. Kemudian Iseul, Jaejoong, dan
aku tiba-tiba tertawa.
“Aku hanya
bercanda.” Ucapku, mengusap punggungnya. Aku merasa ingin tertawa lagi saat
melihat ekpresi malunya. Matanya bergantian menatap Iseul dan lantai. Iseul,
ya? Ah, anak-anak.
“Aish..
malunya.” Aku mendengar dia menggumam.
Aku berusaha
membantu anak itu lebih tenang. Kenapa tidak? Dia adalah teman Jaejoong selama
ini.
“Hey, sejak kau
ke sini, kenapa kau tidak mengunjungi kami untuk makan malam?” tanyaku.
“Itu sangat—“
dia memulai.
“Iseul yang
membuatnya.” Ucapku dengan suara rendah.
“Aku akan
menyukainya, terima kasih, Pak.” Yunho membalas, menunduk dalam sekali lagi.
Aku terkesiap. Aku mengalihkan pandang sesaat ke arah Jaejoong. Mungkin
puteraku tahu bahwa teman terbaiknya juga lelah mengurusnya seperti saudaranya.
Aku tertunduk.
Kejadian singkat ini akan selalu aku ingat.
Yunho berteriak.
“Ini enak! Siapa yang membuat makanan mengagumkan ini?”
Dengan melirik
Iseul dan Jaejoong, kami mengedipkan mata.
Ketika semuanya
menjadi tenang… sebelum badai besar di hidup kami terjadi lagi.
Jaejoong POV
Ketika usiaku 11
tahun, hal itu mulai menyerangku. Efek kemoterapi itu membekas. Aku kehilangan
semua rambutku, aku terlihat mengerikan, kecuali pada suatu hari aku merasa
cukup baik. Mungkin itu alasan kenapa aku menganggapnya sebuah kesalahan.
Kesalahan untuk meminta Ha Rie menari. Aku tidak yakin untuk menanyakan
padanya, aku tidak memiliki keberanian untuk itu… tapi kencan itu.. aku merasa
dia tidak akan menolakku berkencan.
Aku ingat dia
menghampiriku, matanya menjelajah dari kaki hingga ujung kepalaku. “Maaf, aku
harus pergi dengan seseorang.” Katanya.
“Benarkah?” aku
ingat kalimatnya, hatiku teriris. “Oh, lalu, maaf sudah merepotkanmu.”
“Yeah..” ucap Ha
Rie. Aku mulai pergi meninggalkannya dan mendengar dia memanggil namaku. Aku
merasa hatiku terisi oleh satu harapan lagi.
“Yeah?” aku
bertanya.
“Dengarlah…
tolong jangan katakan pada siapapun kalau aku meninggalkanmu. Mereka akan
berpikir bahwa aku adalah orang jahat karena telah meninggalkanmu. Maksudku,
aku yakin kau tidak keberatan jika aku memperlakukanmu dengan baik, kan? Aku
tak ingin katakan bahwa aku meninggalkanmu karena kau sakit atau kau bukan
tipeku. Itu pasti akan melukaimu. Baiklah, aku berharap kau benar-benar tidak
akan mengatakan hal ini pada siapapun.” Dia berkata.
Dia pergi dan
membiarkanku berdiri sendirian. Itu terasa seperti dia hanya menampar wajahku,
melukai perasaanku dengan kata-katanya, terutama dia adalah gadis pertama yang
aku sukai.
Aku pulang hari
itu, berjalan sendirian di bawah hujan. Aku sampai di rumah, membersihkan
tubuhku. Aku ingat ibuku mulai frustasi dengan kondisiku, tentang betapa
mudahnya aku menderita batuk, atau demam. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak
menghiraukan peringatannya dan pergi ke kamarku.
Ketika aku
memasuki kamar, aku bisa mendengar suara kakinya datang setelahku. Aku menutup
pintu dan mendengar ayahku memberitahunya untuk meninggalkanku sendiri.
“Semuanya akan baik-baik saja, biarkan dia sendirian dulu.” Katanya.
Aku sangat
berterimakasih pada ayahku. Aku berguling di ranjang dan mulai tertidur. Tubuh
rapuhku dilengkapi butir air mata yang jatuh di wajah. Menjadi sunyi seperti
itu… jadi lebih mengerikan daripada menerima tugas untuk tidak menangis.
Aku diam di
dalam kamarku yang gelap. Ketika aku sedikit lebih tenang, aku melihat secercah
cahaya terpancar dari celah di bawah pintu. Ada seseorang yang berdiri di
belakang pintuku, mungkin dia sedang mengintai.
Aku bangun
dengan pelan dan membuka pintu. Aku menemukan diriku berhadapan dengan
saudaraku, Iseul.
“Apa ada
masalah?” tanyaku.
“Aku ingin
mendengar ceritamu.” Katanya.
Aku menatapnya.
Bisakah aku memberitahunya? Teman terbaikku. Setelah itu aku membuka pintu dan
mempersilahkannya masuk. Aku butuh bicara pada seseorang.
Ketika aku
selesai bercerita, aku menangis di bahunya. Dia tersenyum padaku. “Jangan
khawatir, Jaejoong, kau akan menemukan seseorang yang lebih baik.” Katanya. Aku
mengangguk dan berterimakasih padanya. Dia tersenyum padaku. “Jangan
mempersulit dirimu lagi.” Katanya.
Sekitar satu jam
kemudian, aku dipanggil turun untuk makan malam.
“Di mana Iseul?”
aku bertanya saat aku duduk, tidak menghiraukan wajah cemas ibuku.
“Kukira dia
bersamamu. Dia tidak ada di kamarnya…” kata ayah. Lalu tiba-tiba ada suara
ketukan di pintu. Ibuku beranjak membukanya. Beberapa detik kemudian kami
mendengar suara menjerit yang keras. “Iseul! Lihatlah dirimu!”
Ayahku dan aku
bangun dengan cepat untuk melihat apa yang terjadi.
Hal pertama yang
aku lihat adalah kepala sekolah kami, dia terlihat marah. Lalu aku melihat
Iseul. Dia mengalami luka di keningnya dan pakaiannya robek di sana-sini.
Rambutnya sangat kacau. Tiba-tiba, aku membayangkan kemungkinan terburuk…
jangan-jangan beberapa pria berusaha mengambil keuntungan darinya.
“Mrs. Kim,
puterimu berkelahi. Dia terbukti menyerang salah satu teman sekelasnya. Maafkan
aku, tapi dia harus diskors selama satu minggu. Jika hal ini terjadi lagi, kami
akan mengeluarkan-nya dari sekolah.” Kepala sekolah berkata.
“Oh, maafkan
aku.” Ibuku berkata. Dia mencengkram Iseul dan mendorongnya masuk. “Aku
berjanji ini tidak akan terjadi lagi.”
“Aku harap juga
begitu.” Balas kepala sekolah. “Terima kasih.” Lalu dia berbalik dan pergi.
Begitu ibuku menutup pintu, ayah menarik napas.
“Betapa sangat
menyakitkan.” Katanya.
“Dia benar!”
ibuku berkata. Dia memandang Iseul yang sudah terduduk di lantai. “Apa yang
terjadi denganmu gadis kecil? Kami tidak pernah mengajarkanmu untuk
menyelesaikan masalah dengan berkelahi! Dengan keadaan saudaramu seperti ini,
kau ingin membuat lebih banyak masalah lagi bagi kami?” ibu berkata, lalu
menarik napas. “Pergilah ke kamarmu, gadis kecil, dan jangan ke mana-mana!”
Iseul tidak
berkata apa-apa. Dia pergi dan menaiki tangga.
“Tenanglah.”
Ucap ayah. “Anak-anak berkelahi sepanjang waktu, dia pasti dihasut.”
“Aku tak ingin
membicarakan masalah ini sekarang!” kata ibuku, mengangkat tangan ke kepalanya
seolah sedang sakit kepala.
“Baiklah, mari
kita lihat apakah dia baik-baik saja.” Kata ayah.
“Oh, dia
baik-baik saja! Jika dia punya tenaga untuk berkelahi, aku yakin dia baik-baik
saja.” Kata ibuku.
Dia menjauh dari kami tanpa kata-kata dan mengunci
dirinya di ruang kerja. Aku menatap ayahku yang mengangkat bahu. “Pergilah untuk
melakukan pertolongan pertama.” Dia memberitahuku. Aku tersenyum dan
mengangguk.
Ketika aku
menyetujuinya, aku mengikutinya menaiki tangga ke kamar Iseul. Dia mengetuk
pintu.
“Masuklah.” Ucap
Iseul.
Ayahku dan aku
masuk. Dia sedang terlentang di ranjangnya, terlihat tanpa ekspresi dalam jarak
jauh.
“Kemarilah, ayo
kita lihat luka itu.” Kata ayahku.
“Terimakasih,
ayah.” Kata Iseul.
“Jangan cemas.
Apa kau terluka lagi?” tanyanya.
Dia memegang
kepalanya. “Tidak terlalu.”
“Baguslah,
pertanyaan kedua yang tak kalah penting adalah, apa kau menang?” tanyanya.
Sebuah senyum
meyakinkan tampak di wajah Iseul. “Tentu saja.” Jawabnya.
“Itu baru
puteriku!” ucap ayah. “Oops, jangan beritahukan ibumu aku mengatakan hal ini.”
Dia menambahkan sambil menatap kami dengan serius. Kami berdua mengangguk.
“Ayah, bolehkah
aku diam di rumah bersama Iseul selama satu minggu?” tanyaku.
Dia menatapku
sejenak dan menarik napas. “Tentu, kenapa tidak. Katakan saja pada ibumu bahwa
kau tidak apa-apa dan dia akan mengizinkanmu.”
“Kau harus pergi
ke sekolah.” Kata Iseul. “Kau tidak akan betah berdiam di sini.”
“Tidak, ini
mudah saja. Di samping itu, aku memang ingin melakukannya.” Aku berkata. Iseul
mengerti dan mengangguk. Ayahku menatap kami berdua. Dia menarik napas.
“Anak kembar…
aku tidak akan pernah mengerti mereka.” Kami berdua tertawa keras.
Seminggu
kemudian, aku menunggu saudaraku turun dari tangga karena kami akan pergi ke
sekolah bersama.
“Iseul,
cepatlah!” panggil ibuku.
“Dia sedang
berdandan.” Sahut ayah. Ibuku melotot padanya dan dia segera mengalihkan
pandangan.
“Aku di sini!”
seru Iseul, dia baru saja sampai di dapur. Aku menatapnya, mulut ibuku
ternganga. Sesaat kemudian, ibuku berteriak kencang.
“Iseul!! APA
YANG KAU LAKUKAN PADA RAMBUTMU?!!!” ibuku menjerit.
“Aku
mencukurnya.” Dia berkata.
“KAU
MENCUKURNYA?!!” ibuku mengulang perkataan Iseul. Iseul mengangguk.
“Itu terlihat
bagus.” Ucap ayahku mencoba membesarkan hati Iseul.
“Diamlah!!” ucap
ibuku marah. “Iseul, kenapa kau lakukan itu?” tanyanya.
Iseul tersenyum
dan berjalan ke sampingku. Dia menatapku sejenak. “Karena kami kembar sejati.”
Katanya. “Dan mulai sekarang, tak seorangpun yang boleh mengatakan bahwa dia
berbeda, karena aku terlihat berbeda juga.”
Ibuku mematung
dalam diam.
“Jadi… ayo
pergi.” Ucap ayah cepat, meletakkan gelas kopinya dan mengambil kunci. “Sampai
jumpa nanti, sayang!” katanya sambil mendorong kami.
Iseul tersenyum
padaku. “Kau tidak akan menderita sendirian.” Bisiknya. Aku merasa titik air
mata menggenang di pelupuk mataku. Iseul… saudaraku tercinta.
Sejak hari itu,
aku melihat bayangan memar dan memotong wajah Ha Rie dari pikiranku.
Iseul adalah penyangga hidupku di setiap hal…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar