Seluruh perhatian orang-orang di café itu tertuju pada
keempat sosok yang hampir melangkah keluar dari sana. Junsu menatap produsernya
dengan tak percaya. Menawari mereka sebuah kontrak untuk bersatu lagi? Apakah
ini nyata? Junsu sangat berharap keempat rekannya itu tidak membuang kesempatan
berharga ini. Ia sangat berharap mereka akan mengatakan iya tanpa harus
berpikir panjang. Tapi nyatanya, keempat sosok itu tidak merespon sama sekali.
Mereka hanya diam dan saling berpandangan. Tak ada yang bisa menebak apa yang
ada di pikiran mereka saat ini. Bahkan mungkin diri mereka sendiri juga tak
bisa menebaknya.
“Bukankah kalian berlima ingin bersatu lagi?” tanya
Lee Junki setelah mereka semua tak menjawab pertanyaan pertamanya.
“Kata siapa kami ingin bersatu lagi?” Jaejoong angkat
bicara. Kalimat yang baru saja dikeluarkannya membuat semua orang tercengang.
“Jangan sok tahu kalau kau belum me-ngenal kami. Aku tahu kau pasti sengaja
memanfaatkan situasi ini untuk mengajak kami bekerja sama, dan setelah itu kau
dan semua staff-mu bisa memperbudak kami seperti SM.”
“Kau tidak bisa menuduhku seperti itu! Aku berbeda
dengan produsermu di SM!” ucap Lee Junki, amarahnya terpancing karena ia merasa
Jaejoong telah menghinanya.
“Oh, begitu ya?” Jaejoong hanya mengucapkan kalimat
itu sebelum akhirnya melangkah pergi keluar dari sana. Ketiga member lain masih
berdiri di ambang pintu. Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menatap
punggung Jaejoong yang sudah mulai menjauh menuju tempat di mana ia memarkir
mobilnya. Sulit dipercaya, sosok bernama Kim Jaejoong itu meninggalkan sebuah
kesempatan besar di mana ia bisa bergabung kembali dalam grupnya tanpa
melibatkan SM.
“Kukira, Dong Bang Shin Ki tidak bisa terbentuk jika
lead vokal kami tidak ada di dalamnya.” Ucap Yoochun sambil menarik tangan
Yunho dan Changmin keluar dari sana.
“Aku beri waktu sampai kalian menyelesaikan
persidangan dengan SM! aku akan me-nunggu!” teriak Lee Junki. Entah ketiga
sosok yang sudah beranjak pergi itu mendengarkan kalimatnya atau tidak. Tapi
yang jelas, mereka bertiga pasti mendengar kalimat itu.
Kini suasana di dalam café menjadi sunyi. Junsu masih
berdiri tegak tanpa melakukan gerakan apapun. Dia tak percaya keempat rekannya
akan membuang kesempatan ini. Walau mereka masih diberi waktu untuk memikirkan
keputusan mereka, tapi tetap saja, kemungkinan besar, mereka akan tetap
mengatakan tidak jika salah satu di antara mereka tidak setuju.
“Nanti aku akan datang lagi.” Ucap Lee Junki. Junsu
mengatupkan mulutnya yang ternganga sejak tadi. “Jika pada hari itu, mereka
benar-benar mengatakan bahwa mereka tak mau bergabung, maka kau bisa
menandatangani kontrakmu sebagai penyanyi solo.”
“Ya, aku mengerti.”
“Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Sampaikan
salamku pada keempat rekanmu yang galak itu. Sampai jumpa!” Lee Junki sudah
beranjak pergi sambil membawa semua data-datanya. Junsu tidak mengatakan
apa-apa. Dia hanya terduduk lemas di kursi sambil mengusap rambutnya searah ke
belakang. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan keempat
makhluk itu. Kenapa mereka begitu mudah menolak tawaran ini? Tawaran yang bisa
menghidupkan kembali nama sebuah grup yang sudah begitu lama tak pernah
terdengar.
Tidakkah mereka merasa rindu akan kebersamaan yang
sempat hilang? Tidakkah mereka rindu bernyanyi di depan seluruh Cassiopeia?
Tidakkah mereka rindu tidur bersama dalam satu kamar, berebut menonton TV, atau
bahkan saling merasa iri jika salah satu di antara mereka mendapat surat
penggemar yang lebih banyak. Apa mereka tidak rindu pada semua itu? Apa mereka
sudah benar-benar melupakan semua itu? Secepat itu?
***
Jaejoong POV
Aku sampai di rumah sekitar pukul 11:00. Hana
membuatkanku segelas minuman hangat dan meletakkannya tepat di meja sebelah
tempatku duduk. Setelah itu dia duduk di sampingku. Jujur, aku sedang
benar-benar dalam mood yang tak enak. Tapi aku juga tak mungkin melampiaskan
kemarahanku padanya. Tidak untuk yang ke sekian kalinya.
“Jadi bagaimana dengan kelanjutan kontrak Junsu oppa?”
tanya Hana.
“Aku tidak bisa memastikannya.”
“Lalu kenapa kau terlihat sangat gelisah seperti ini?
Apa yang terjadi, oppa?” Hana menatap-ku dengan kecemasan yang tergambar jelas
di kedua bola matanya. Aku tersenyum sambil menggeleng pelan. Haruskah dia tahu
tentang tawaran produser yang tadi? Aku takut, jika dia tahu bahwa aku telah
menolak tawaran itu, dia akan marah padaku. Aku benar-benar tak ingin
membuatnya marah lagi. Sudah cukup selama ini aku selalu menyusahkannya dengan
keegoisanku.
“Hana…” ucapku pelan. “Kau benar-benar ingin Dong Bang
Shin Ki kembali?”
“Ya, oppa.”
“Kenapa kau ingin kami berlima bersatu lagi?”
“Karena aku tahu oppa juga masih sangat mencintai grup
itu. Dan lagi… menurutku oppa terlihat sangat keren kalau sedang bernyanyi,
apalagi kalau melakukan dance.”
Aku melihat pipi Hana bersemu merah. Dia belum pernah
mengatakan hal itu selama kami berpacaran begitu lama, bahkan sampai kami
menikah. Baru kali ini dia mengatakannya. Aku merasa sangat bodoh jika
mengingat betapa seringnya aku melihat Hana datang di setiap jumpa fans, tapi
sedikitpun aku tak pernah membalas senyum yang ditunjukkannya.
“Hanya itu sajakah alasanmu?” aku merasa kurang puas
dengan jawaban Hana.
“Mm… sebenarnya, masih ada alasan lain, oppa.”
“Apa itu?”
“Aku rindu melihat kalian berlima membawakan sebuah
lagu. Aku rindu melihat senyuman di wajah kalian berlima saat sedang
bersama-sama. Karena akhir-akhir ini, aku lebih sering melihat kalian
bertengkar. Aku benar-benar sedih melihat persahabatan kalian yang seperti
ini.”
“Tapi, Hana… kalaupun kami bisa bersatu lagi, apa
menurutmu kami bisa menjadi DBSK yang sama seperti dulu? Setelah sekian lama
kami tidak bertemu, tidak pernah bernyanyi bersama, apakah kami masih sanggup
membangun semuanya dari awal lagi?”
***
Taeyeon POV
Bunyi ponsel membuatku tak jadi memejamkan mata karena
lelah sehabis latihan tari. Aku melihat layar ponselku. Ternyata sebuah pesan,
dari Junsu oppa! aku membacanya dengan penuh semangat, dan ternyata dia
mengajakku bertemu di tempat pertama kali kami jadian. Hmm… ada apa ya? Kenapa
aku jadi gugup begini?
Tanpa berpikir panjang, akupun segera turun dari kasur
dan mencari pakaian yang bagus. Aku harus tampil cantik di depan Junsu oppa. begitu
selesai berpakaian, aku segera beranjak keluar dari apartmentku.
“Mau ke mana, unnie?” tanya Tiffany yang sedang duduk
di ruang tengah.
“Ada kencan dengan Junsu oppa.” jawabku bersemangat.
Para memberku yang lain langsung gaduh menggodaku.
Tapi aku tak menghiraukan mereka. aku segera keluar dari sana dan berjalan
menuju mobilku. Sebenarnya aku sedang malas me-nyetir sendiri, tapi karena aku
sudah tak sabar untuk bertemu dengan Junsu oppa, jadi aku rela menyetir walau
seluruh tubuhku masih pegal-pegal.
Saat aku sampai di sana, aku melihat Junsu oppa tengah
duduk sendirian sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. Dia benar-benar
cool, dan tampan. Akupun berjalan menghampirinya.
“Hai, oppa. maaf ya kalau aku membuatmu menunggu
lama.” Ucapku sambil duduk bersebrangan dengannya.
“Aku tidak ingin basa-basi.” Katanya judes. Aku
tercengang. Junsu oppa menatapku dengan serius. “Kenapa kau mengatakan pada
mereka berempat mengenai pertemuanku dengan produser itu?” tanyanya mendesak.
Aku menelan ludah mendengar pertanyaannya. Aku tidak tahu kalau dia akan marah
jika aku memberitahu mereka berempat mengenai hal itu.
“Oppa, aku… hanya ingin kalian berlima bersatu lagi.
Aku tak ingin melihat kalian seperti ini…”
“Tapi bukan begini caranya! Kau membuat semuanya bertambah
kacau, kau tahu?! Aku sengaja tidak memberitahu mereka, tapi kau malah
memberitahu mereka. seenaknya saja kau melakukan hal itu!” kemarahan terpancar
jelas di wajah Junsu oppa. aku belum pernah melihatnya semarah ini bahkan saat
dia mengakhiri hubungan asmara kami.
“Aku tidak tahu kalau kau tak ingin mereka tahu.
Kenapa kau malah menyalahkanku?!”
“Lalu menurutmu kau tidak bersalah? Menurutmu apa yang
kau lakukan itu sudah benar?! Begitu menurutmu, hah?!”
“Baik, aku
mengaku bersalah. Aku minta maaf jika memang oppa tidak suka.”
“Kau pikir kata maafmu itu bisa mengubah keadaan?! Kau
pikir kata maafmu bisa membuat kami berlima bersatu lagi sesuai keinginanmu?!”
“Jadi oppa ingin aku bagaimana?!” aku menatap wajahnya
dengan air mata tergenang. “Selama ini aku sangat berharap kalian bisa bersatu.
Aku tahu kalian masih saling menya-yangi dan kalian juga menyayangi grup itu,
kan? Aku bisa melihatnya dari matamu, oppa. matamu itu tidak bisa berbohong
padaku…”
Kulihat tubuh Junsu oppa terhempas ke meja. Dia menyembunyikan
wajahnya di sana. Mungkin dia tak ingin aku melihatnya menangis.
“Aku sudah tidak menyayangi grup itu lagi…” katanya
lirih.
“Jangan bohongi perasaanmu sendiri, oppa…” ucapku
sambil menyentuh bahunya.
“Jangan sentuh aku!” dia langsung menegakkan tubuhnya
lagi dan menatapku dengan sinis. Aku benar-benar takut melihatnya dalam keadaan
seperti ini. “Aku benci padamu, Taeyeon!”
Itu adalah kalimat terakhir yang kudengar darinya
sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan-ku begitu saja. Kalimat yang membuat
hatiku seolah ditusuk ribuan jarum secara bersamaan. Kalimat yang belum pernah
kudengar darinya walau semarah apapun dia padaku. Tanpa terasa air mataku
mengalir dengan sendirinya tanpa bisa kucegah. Punggung Junsu oppa masih bisa
kulihat, tapi sesaat kemudian, dia menghilang ke tempat parkir.
Kenapa begitu cepat aku harus kehilangan lagi
seseorang berharga yang sangat aku cintai?
Walau Junsu oppa memang tidak mengatakan bahwa dia ingin hubungan kami berakhir
lagi, tapi aku bisa melihat bahwa kebencian itu benar-benar muncul dari
hatinya. Dia membenci-ku. Dia bahkan sangat membenciku. Apakah setelah ini, aku
benar-benar harus melepasnya lagi?
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar