Welcome

Rabu, 16 Mei 2012

DBSK comeback? (part 19)

Seluruh perhatian orang-orang di café itu tertuju pada keempat sosok yang hampir melangkah keluar dari sana. Junsu menatap produsernya dengan tak percaya. Menawari mereka sebuah kontrak untuk bersatu lagi? Apakah ini nyata? Junsu sangat berharap keempat rekannya itu tidak membuang kesempatan berharga ini. Ia sangat berharap mereka akan mengatakan iya tanpa harus berpikir panjang. Tapi nyatanya, keempat sosok itu tidak merespon sama sekali. Mereka hanya diam dan saling berpandangan. Tak ada yang bisa menebak apa yang ada di pikiran mereka saat ini. Bahkan mungkin diri mereka sendiri juga tak bisa menebaknya.

“Bukankah kalian berlima ingin bersatu lagi?” tanya Lee Junki setelah mereka semua tak menjawab pertanyaan pertamanya.

“Kata siapa kami ingin bersatu lagi?” Jaejoong angkat bicara. Kalimat yang baru saja dikeluarkannya membuat semua orang tercengang. “Jangan sok tahu kalau kau belum me-ngenal kami. Aku tahu kau pasti sengaja memanfaatkan situasi ini untuk mengajak kami bekerja sama, dan setelah itu kau dan semua staff-mu bisa memperbudak kami seperti SM.”

“Kau tidak bisa menuduhku seperti itu! Aku berbeda dengan produsermu di SM!” ucap Lee Junki, amarahnya terpancing karena ia merasa Jaejoong telah menghinanya.

“Oh, begitu ya?” Jaejoong hanya mengucapkan kalimat itu sebelum akhirnya melangkah pergi keluar dari sana. Ketiga member lain masih berdiri di ambang pintu. Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menatap punggung Jaejoong yang sudah mulai menjauh menuju tempat di mana ia memarkir mobilnya. Sulit dipercaya, sosok bernama Kim Jaejoong itu meninggalkan sebuah kesempatan besar di mana ia bisa bergabung kembali dalam grupnya tanpa melibatkan SM.

“Kukira, Dong Bang Shin Ki tidak bisa terbentuk jika lead vokal kami tidak ada di dalamnya.” Ucap Yoochun sambil menarik tangan Yunho dan Changmin keluar dari sana.

“Aku beri waktu sampai kalian menyelesaikan persidangan dengan SM! aku akan me-nunggu!” teriak Lee Junki. Entah ketiga sosok yang sudah beranjak pergi itu mendengarkan kalimatnya atau tidak. Tapi yang jelas, mereka bertiga pasti mendengar kalimat itu.

Kini suasana di dalam café menjadi sunyi. Junsu masih berdiri tegak tanpa melakukan gerakan apapun. Dia tak percaya keempat rekannya akan membuang kesempatan ini. Walau mereka masih diberi waktu untuk memikirkan keputusan mereka, tapi tetap saja, kemungkinan besar, mereka akan tetap mengatakan tidak jika salah satu di antara mereka tidak setuju.

“Nanti aku akan datang lagi.” Ucap Lee Junki. Junsu mengatupkan mulutnya yang ternganga sejak tadi. “Jika pada hari itu, mereka benar-benar mengatakan bahwa mereka tak mau bergabung, maka kau bisa menandatangani kontrakmu sebagai penyanyi solo.”

“Ya, aku mengerti.”

“Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Sampaikan salamku pada keempat rekanmu yang galak itu. Sampai jumpa!” Lee Junki sudah beranjak pergi sambil membawa semua data-datanya. Junsu tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya terduduk lemas di kursi sambil mengusap rambutnya searah ke belakang. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan keempat makhluk itu. Kenapa mereka begitu mudah menolak tawaran ini? Tawaran yang bisa menghidupkan kembali nama sebuah grup yang sudah begitu lama tak pernah terdengar.

Tidakkah mereka merasa rindu akan kebersamaan yang sempat hilang? Tidakkah mereka rindu bernyanyi di depan seluruh Cassiopeia? Tidakkah mereka rindu tidur bersama dalam satu kamar, berebut menonton TV, atau bahkan saling merasa iri jika salah satu di antara mereka mendapat surat penggemar yang lebih banyak. Apa mereka tidak rindu pada semua itu? Apa mereka sudah benar-benar melupakan semua itu? Secepat itu?

***

Jaejoong POV

Aku sampai di rumah sekitar pukul 11:00. Hana membuatkanku segelas minuman hangat dan meletakkannya tepat di meja sebelah tempatku duduk. Setelah itu dia duduk di sampingku. Jujur, aku sedang benar-benar dalam mood yang tak enak. Tapi aku juga tak mungkin melampiaskan kemarahanku padanya. Tidak untuk yang ke sekian kalinya.

“Jadi bagaimana dengan kelanjutan kontrak Junsu oppa?” tanya Hana.

“Aku tidak bisa memastikannya.”

“Lalu kenapa kau terlihat sangat gelisah seperti ini? Apa yang terjadi, oppa?” Hana menatap-ku dengan kecemasan yang tergambar jelas di kedua bola matanya. Aku tersenyum sambil menggeleng pelan. Haruskah dia tahu tentang tawaran produser yang tadi? Aku takut, jika dia tahu bahwa aku telah menolak tawaran itu, dia akan marah padaku. Aku benar-benar tak ingin membuatnya marah lagi. Sudah cukup selama ini aku selalu menyusahkannya dengan keegoisanku.

“Hana…” ucapku pelan. “Kau benar-benar ingin Dong Bang Shin Ki kembali?”

“Ya, oppa.”

“Kenapa kau ingin kami berlima bersatu lagi?”

“Karena aku tahu oppa juga masih sangat mencintai grup itu. Dan lagi… menurutku oppa terlihat sangat keren kalau sedang bernyanyi, apalagi kalau melakukan dance.”

Aku melihat pipi Hana bersemu merah. Dia belum pernah mengatakan hal itu selama kami berpacaran begitu lama, bahkan sampai kami menikah. Baru kali ini dia mengatakannya. Aku merasa sangat bodoh jika mengingat betapa seringnya aku melihat Hana datang di setiap jumpa fans, tapi sedikitpun aku tak pernah membalas senyum yang ditunjukkannya.

“Hanya itu sajakah alasanmu?” aku merasa kurang puas dengan jawaban Hana.

“Mm… sebenarnya, masih ada alasan lain, oppa.”

“Apa itu?”

“Aku rindu melihat kalian berlima membawakan sebuah lagu. Aku rindu melihat senyuman di wajah kalian berlima saat sedang bersama-sama. Karena akhir-akhir ini, aku lebih sering melihat kalian bertengkar. Aku benar-benar sedih melihat persahabatan kalian yang seperti ini.”

“Tapi, Hana… kalaupun kami bisa bersatu lagi, apa menurutmu kami bisa menjadi DBSK yang sama seperti dulu? Setelah sekian lama kami tidak bertemu, tidak pernah bernyanyi bersama, apakah kami masih sanggup membangun semuanya dari awal lagi?”

***

Taeyeon POV

Bunyi ponsel membuatku tak jadi memejamkan mata karena lelah sehabis latihan tari. Aku melihat layar ponselku. Ternyata sebuah pesan, dari Junsu oppa! aku membacanya dengan penuh semangat, dan ternyata dia mengajakku bertemu di tempat pertama kali kami jadian. Hmm… ada apa ya? Kenapa aku jadi gugup begini?

Tanpa berpikir panjang, akupun segera turun dari kasur dan mencari pakaian yang bagus. Aku harus tampil cantik di depan Junsu oppa. begitu selesai berpakaian, aku segera beranjak keluar dari apartmentku.

“Mau ke mana, unnie?” tanya Tiffany yang sedang duduk di ruang tengah.

“Ada kencan dengan Junsu oppa.” jawabku bersemangat.

Para memberku yang lain langsung gaduh menggodaku. Tapi aku tak menghiraukan mereka. aku segera keluar dari sana dan berjalan menuju mobilku. Sebenarnya aku sedang malas me-nyetir sendiri, tapi karena aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan Junsu oppa, jadi aku rela menyetir walau seluruh tubuhku masih pegal-pegal.

Saat aku sampai di sana, aku melihat Junsu oppa tengah duduk sendirian sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. Dia benar-benar cool, dan tampan. Akupun berjalan menghampirinya.

“Hai, oppa. maaf ya kalau aku membuatmu menunggu lama.” Ucapku sambil duduk bersebrangan dengannya.

“Aku tidak ingin basa-basi.” Katanya judes. Aku tercengang. Junsu oppa menatapku dengan serius. “Kenapa kau mengatakan pada mereka berempat mengenai pertemuanku dengan produser itu?” tanyanya mendesak. Aku menelan ludah mendengar pertanyaannya. Aku tidak tahu kalau dia akan marah jika aku memberitahu mereka berempat mengenai hal itu.

“Oppa, aku… hanya ingin kalian berlima bersatu lagi. Aku tak ingin melihat kalian seperti ini…”

“Tapi bukan begini caranya! Kau membuat semuanya bertambah kacau, kau tahu?! Aku sengaja tidak memberitahu mereka, tapi kau malah memberitahu mereka. seenaknya saja kau melakukan hal itu!” kemarahan terpancar jelas di wajah Junsu oppa. aku belum pernah melihatnya semarah ini bahkan saat dia mengakhiri hubungan asmara kami.

“Aku tidak tahu kalau kau tak ingin mereka tahu. Kenapa kau malah menyalahkanku?!”

“Lalu menurutmu kau tidak bersalah? Menurutmu apa yang kau lakukan itu sudah benar?! Begitu menurutmu, hah?!”

“Baik, aku mengaku bersalah. Aku minta maaf jika memang oppa tidak suka.”

“Kau pikir kata maafmu itu bisa mengubah keadaan?! Kau pikir kata maafmu bisa membuat kami berlima bersatu lagi sesuai keinginanmu?!”

“Jadi oppa ingin aku bagaimana?!” aku menatap wajahnya dengan air mata tergenang. “Selama ini aku sangat berharap kalian bisa bersatu. Aku tahu kalian masih saling menya-yangi dan kalian juga menyayangi grup itu, kan? Aku bisa melihatnya dari matamu, oppa. matamu itu tidak bisa berbohong padaku…”

Kulihat tubuh Junsu oppa terhempas ke meja. Dia menyembunyikan wajahnya di sana. Mungkin dia tak ingin aku melihatnya menangis.

“Aku sudah tidak menyayangi grup itu lagi…” katanya lirih.

“Jangan bohongi perasaanmu sendiri, oppa…” ucapku sambil menyentuh bahunya.

“Jangan sentuh aku!” dia langsung menegakkan tubuhnya lagi dan menatapku dengan sinis. Aku benar-benar takut melihatnya dalam keadaan seperti ini. “Aku benci padamu, Taeyeon!”

Itu adalah kalimat terakhir yang kudengar darinya sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan-ku begitu saja. Kalimat yang membuat hatiku seolah ditusuk ribuan jarum secara bersamaan. Kalimat yang belum pernah kudengar darinya walau semarah apapun dia padaku. Tanpa terasa air mataku mengalir dengan sendirinya tanpa bisa kucegah. Punggung Junsu oppa masih bisa kulihat, tapi sesaat kemudian, dia menghilang ke tempat parkir.

Kenapa begitu cepat aku harus kehilangan lagi seseorang berharga yang sangat aku cintai?
 
Walau Junsu oppa memang tidak mengatakan bahwa dia ingin hubungan kami berakhir lagi, tapi aku bisa melihat bahwa kebencian itu benar-benar muncul dari hatinya. Dia membenci-ku. Dia bahkan sangat membenciku. Apakah setelah ini, aku benar-benar harus melepasnya lagi?

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar