Welcome

Senin, 21 Mei 2012

The Gangster (part 11)


Saat pelajaran berlangsung, Nako masih menatap Yunho yang tampak serius mencatat materi yang ada di papan tulis. Hari ini mereka berempat belum mengerjainya. Tumben sekali. Apa mereka berempat sudah bosan mengerjainya terus setiap hari? Tapi jujur, Nako merasa ada sesuatu yang hilang saat dia terbebas dari kekejaman gangster itu. Padahal kemerdekaan adalah sesuatu yang sangat dimimpikannya.

Saat jam istirahat tiba, Nako memilih untuk menyantap makan siangnya sendirian seperti biasa. Tadi dia ingin mengajak Jaejoong, tapi dia pikir anak itu bukan orang yang tepat untuk diajak makan. Jadi dia memutuskan untuk ke kantin sendirian saja. Tumben sekali para gangster itu tidak mengacau di kantin. Biasanya pada jam-jam seperti ini mereka berempat akan datang ke kantin dan menjadikan Nako sebagai bahan ejekan.

Namun di saat Nako tengah mengaduk-aduk makanannya dengan lamunan ke sana-ke mari, ia melihat wajah-wajah dingin yang sejak tadi ditunggunya. Hmm… ia sendiri baru menyadari bahwa ia menunggu kehadiran mereka berempat. Tapi… tunggu. Kali ini mereka tidak datang berempat, melainkan berlima! Nako mengucek matanya untuk meyakinkan bahwa ia tak salah lihat. Mereka berlima berjalan melewati kantin, dan mengacuhkan pandangan semua orang yang menatap ke arah mereka.

“Jaejoong?” ucap Nako serasa ingin berteriak, tapi nama itu hanya terlantun dalam hatinya sendiri. Ia masih menatap kelima sosok yang kini semakin menjauh dari kantin. Apakah mungkin Jaejoong sudah menjadi bagian dari mereka berempat? Jaejoong bergabung dengan gangster itu? Nako merasa seribu tanda tanya memadati kepalanya. Yang ia tahu Jaejoong sangat membenci mereka berempat. Yang ia tahu Jaejoong bukan orang jahat, bukan orang yang tak punya hati seperti mereka berempat.

Tapi… melihat Jaejoong menjadi anggota ke lima dalam geng terkenal itu, Nako merasa wajah dingin itu amatlah pantas berada di sana. Berjalan bersama empat laki-laki tampan yang juga memiliki pesona tak tergambarkan. Nako seperti sedang menatap lima dewa yang baru saja turun dari langit.
 
Nako pun bangun dari kursinya dan berlari mengejar mereka. Dia ingin bicara pada Jaejoong dan memastikan posisi Jaejoong dalam geng itu.

“Hei! Kim Jaejoong!” serunya sambil berlari kecil. Mereka berlima terus berjalan seolah tidak mendengar apa-apa. “Jaejoong! Tunggu aku!” teriak Nako lagi. Dia langsung menyalip dan berdiri di depan mereka berlima. Akhirnya mereka pun terpaksa berhenti.

“Minggir!” ucap Changmin galak.

Nako tidak peduli dengan gertakan Changmin. Ia langsung menatap ke arah Jaejoong. “Nanti kita pulang bersama ya, Jaejoong? Kalau mau, kau mampir ke rumahku saja. Aku punya banyak makanan.” Ucap Nako bersemangat. Jaejoong yang berdiri di depannya hanya menatap kosong ke arah wajah Nako.

“Maaf ya, Jaejoong tidak ada waktu untuk main-main denganmu.” Yunho menyela.

“Apa maksudmu?” desis Nako tidak senang.

“Mulai hari ini, Jaejoong adalah bagian dari kami. Jadi kau tidak berhak lagi memanggil namanya seenak dengkulmu. Kau harus tahu diri!” Junsu mewakili menjawab.

Nako menggeleng tak percaya, diliriknya Jaejoong yang masih membisu, berharap bibir pucat itu akan membantah apa yang baru saja dikatakan Junsu. Tapi rupanya Jaejoong tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya diam, menatap kosong ke wajah Nako.

“Apa benar semua itu, Jaejoong?” tanya Nako memastikan.

Jaejoong diam beberapa saat. Tatapan matanya menusuk ke dalam bola mata Nako. Ia bahkan bisa merasakan kedua mata bening itu berbicara padanya. Tapi ia tak bisa memahami apa yang ingin disampaikan Jaejoong melalui sorot mata yang tajam itu.

“Biarkan kami lewat.” Ucap Jaejoong kemudian. Nako menelan ludahnya dengan perasaan tak terlukiskan. Ia segera meminggirkan tubuhnya dan membiarkan mereka berlima berlalu. Jaejoong yang baru saja menjadi sahabatnya. Satu-satunya sahabat yang ia miliki di Korea. Kenapa ia harus secepat itu kehilangan Jaejoong? Kenapa?

***

Nako terlihat gelisah. Matanya kembali menyusuri wilayah sekolah, berharap menemukan Jaejoong. sudah 1 jam lebih Nako berdiri bersandar pada gerbang sekolah. Hari semankin sore, satu persatu murid yang masih berada di sekolah meninggalkan gedung sekolah. Beberapa anak menatap sinis kearah Nako saat melewatinya. Nako tak peduli, dia hanya membutuhkan jawaban atas perubahan sikap Jaejoong terhadapnya.

Angin bertiup semakin kencang saat Nako menatap lima sosok yang di nantikannya. Tidak! dia tidak menantikan lima orang tapi hanya satu. Jaejoong berada pada barisan paling depan dan tengah, tempat yang biasanya di tempati oleh Yunho . Apakah Yunho menyerahkan posisinya pada Jaejoong? tapi apapun itu yang Nako tahu cuma satu yaitu, Jaejoong tidak terlihat seperti biasa, dia terlihat sedikit lebih bahagia saat sedang sendiri.

Jaejoong menyembunyikan sesuatu dari Nako. Walaupun dia tak mengatakan sepatah katapun mengenai hal itu tapi Nako bukan gadis bodoh yang bisa di tipu. Ekspresi wajah Jaejoong masih seperti biasa, dingin dan tak pernah tersenyum, tapi matanya tak lagi tersenyum saat menatap Nako.
 
Yunho? Apa yang dia lakukan sehingga Jaejoong bertekuk lutut padanya, menjadi pengikutnya. Nako tahu bahwa Jaejoong tak akan pernah sudi bergabung dengan gangster yang tak punya hati seperti mereka.

“Apa lagi yang ingin dilakukan gadis Jepang itu?” Tanya Changmin mencibir saat mereka melewati Nako.

Nako tak peduli apa yang akan di katakan atau di lakukan Yunho, Changmin, Junsu, ataupun Yoochun terhadapnya, yang dia butuhkan saat ini adalah jawaban atas perubahan sikap Jaejoong terhadapnya.

“Jaejoong.” Kata Nako lirih saat Jaejoong tepat berada di hadapannya.

Jaejoong yang merasa namanya di sebut oleh Nako hanya menghentikan langkahnya tanpa melirik Nako sedikitpun.

“Apa lagi yang ingin kau dengar darinya? Dia sudah tak mau menemuimu, orang Jepang.” Changmin memulai menyulut emosi Nako. Tapi Nako tahu bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk beradu argument atau bahkan bertengkar.

“Jaejoong, bisakah kita bicara?” Tanya Nako sopan, dari nada bicaranya terdengar bahwa dia sangat berharap. “Aku mohon.”

“Jaejoong, jalan!” Yunho mendesis. “Tak usah pedulikan gadis itu.”

“Kumohon, dengarkan aku.” Nako memohon, berusaha sekuat tenaga menahan air matanya.

“Jangan pedulikan gadis itu!” Geram Yunho, mengulangi perintahnya. “Kita harus pergi, sekarang!”

“Aku tak peduli, kalian mau pergi atau tidak. Aku hanya ingin berbicara dengan Jaejoong! bukan dengan kalian!” Nako menatap tajam kearah Yunho. “Ini urusanku dengan Jaejoong, bukan dengan kalian!”

“Jaejoong bagian dari kami sekarang.” Kata Yunho memperingati. “Urusan Jaejoong menjadi urusan kami juga, mengerti?!”

“Tidak!” Nako berjalan mendekati Jaejoong, berdiri tepat di depannya. Sorot mata itu, tidak seperti sorot mata Jaejoong. “Bisakah kita bicara?”

“Tak ada yang perlu kita bicarakan.” Jawab Jaejoong dingin, bibirnya membentuk sebuah setengah senyuman, tersenyum getir. “Aku tak ingin berbicara padamu lagi, karena tak ada yang perlu kukatakan lagi padamu.”

“Kau memang tidak, tapi aku punya.” Nako menatap Jaejoong lekat-lekat. Berharap Jaejoong menatap balik dirinya. Tapi pandangan Jaejoong tetap lurus kedepan. “Kau harus menjelaskan padaku kenapa kau berubah seperti ini?”

“Hanya itu?” Jaejoong membalikan pertanyaan, tanpa memperdulikan Nako yang berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir. Tak mungkin Jaejoong mengatakan yang sebenarnya kepada Nako. Itu hanya akan membuat Nako merasa bersalah.

Nako terdiam, dia merasa Jaejoong berubah 180° hanya dalam semalam. Dia menginginkan Jaejoong yang dulu, yang bersikap dingin kepadanya tetapi masih memperdulikan dirinya, yang bersedia meminjamkan bahunya saat dia ingin menangis, seperti tadi malam. Bukan Jaejoong yang seperti ini, yang seolah-olah tidak melihatnya ada, yang menganggapnya sebagai angin lalu.

“Minggir, kami sedang terburu-buru!” Perintah Jaejoong.

“Tapi aku ingin kau menjelaskan semuanya padaku!”

“Apa lagi yang ingin kau dengar?!” Jaejoong membentak Nako. “Semuanya sudah jelas!”

“Kenapa kau bergabung dengar mereka?!” Nako balas membentak Jaejoong. “Kau berubah karena mereka?”

“Bukankah perubahan itu sesuatu hal yang baik?” Jaejoong kembali membalik pertanyaan, nada bicaranya kembali tenang seolah Nako hanya menanyakan tentang cuaca hari ini. “Bukankah kau yang menginginkan aku bergabung dengan mereka?”

“Aku.. tidak.. aku..” Nako terbata-bata, Nako benci harus mengakui perihal itu. “Kau tak harus berubah demi mereka.”

“Orang jepang itu ingin kau bergabung dengan kami?” Yunho mencibir, menatap rendah gadis yang berdiri di depan Jaejoong. “Dasar orang licik. Aku tak sabar untuk membuatmu menyesal karena menuduh kami seperti itu.”

“Kau tak pantas menyebutnya licik.” Jaejoong menggeram. “Kau sudah berjanji padaku.”. Jaejoong memperingati.

“Janji? Apa yang mereka janjikan padamu, Jaejoong?” Nako menatap jaejoong dengan lekat. Matanya meminta jawaban atas pertanyaannya.

“Katakan padaku, apa yang mereka janjikan padamu?!”

“Bukan urusanmu.” Jaejoong menggeram. “Minggir, biarkan aku lewat!”

“Ada apa denganmu?!” Nako membentak Jaejoong.

“Bukan urusanmu, urusi saja urusanmu sendiri!” Jawab Jaejoong tak sabar, “Minggir!!”

Jaejoong berjalan, menabrak bahu Nako. Nako yang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menangis, tetapi perasaanyanya berkata lain. Bulir-bulir air mata jatuh dengan cepat menuju tanah yang di pijaknya, bahunya berguncang pelan.

Yunho dan Changmin tersenyum mengejek. Mengejek kebodohan Nako.

“Kumohon, kembalilah seperti dulu.” Nako tak membalikan badannya untuk menatap Jaejoong, Jaejoong hanya menghentikan langkahnya. “Kembali menjadi temanku, menjadi seseorang yang tidak menganggapku rendah.”

Jaejoong melangkah pergi, Nako tak bisa mengendalikan perasaannya. Dia berlari memeluk Jaejoong dari belakang. Jaejoong tak bereaksi, hanya sedikit terkejut karena Nako memeluknya secara tiba-tiba.

“Kumohon… kumohon.. jangan bersikap seperti ini kepadaku.” Kata Nako di sela isakan tangisnya. “Jangan menganggapku sebagai angin lalu!”

Jaejoong merasa punggungnya basah, basah karena air matanya Nako. Selama ini tak ada yang benar-benar peduli terhadapnya. Tak satupun, kecuali ibunya.

“Kau adalah sahabat terbaikku. Kau satu-satunya yang berbicara padaku selama ini.” Nako kembali terisak. “Sudah cukup semua orang membenciku, kenapa kau juga harus membenciku?”

Jaejoong terdiam, tak membantah ataupun mengatakan sepatah katapun. Jaejoong sadar bahwa dia telah membuat Nako terluka. Nako yang sudah dianggapnya sebagai adiknya. Jaejoong menyanyangi Nako sebagai seorang sahabat tidak lebih dan tidak kurang. Hanya Nako yang peduli terhadapnya, saat Nako berada di sisinya dia merasa memiliki seorang teman yang tulus berteman dengannya.
 
Tapi Nako tak mengetahui apapun tentang Jaejoong, tentang masa lalunya yang kelam. Jaejoong berani bersumpah bahwa Nako akan menjauhinya secara perlahan jika dia mengetahui masa lalunya. Dunia ini memang kejam.

“Apa yang menyebabkanmu berubah seperti ini?” Nako mempererat pelukannya, membuat Jaejoong kesulitan bernafas. “Jangan bersikap seperti ini, kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri. Aku memang baru saja mengenalmu, tapi aku merasa kau berbeda. Seperti aku sudah mengenalmu sejak lama,”

Sejak lama? Mereka bahkan baru saja bertemu beberapa minggu.

“Jangan bersikap seolah-olah kau tak melihatku! Bahkan jika kau melewatiku, kau berpura-pura tidak melihatku. Sorot matamu tak lagi tersenyum saat melihatku. Kenapa kau berubah secepat ini?”
 
Jaejoong mencengkram erat kedua lengan Nako, dan melepaskan pelukan Nako dengan kasar. Membuat Nako merintih kesakitan.

Nako jatuh berlutut, kedua tangannya menutupi wajahnya. Bahunya berguncang semakin cepat. Tangisan kehilangan.

“Kau tak mengetahui apapun tentangku.” Jawab Jaejoong pelan, yang mungkin hanya di dengar oleh Yoochun.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar