Saat pelajaran berlangsung, Nako
masih menatap Yunho yang tampak serius mencatat materi yang ada di papan tulis.
Hari ini mereka berempat belum mengerjainya. Tumben sekali. Apa mereka berempat
sudah bosan mengerjainya terus setiap hari? Tapi jujur, Nako merasa ada sesuatu
yang hilang saat dia terbebas dari kekejaman gangster itu. Padahal kemerdekaan
adalah sesuatu yang sangat dimimpikannya.
Saat jam istirahat tiba, Nako memilih
untuk menyantap makan siangnya sendirian seperti biasa. Tadi dia ingin mengajak
Jaejoong, tapi dia pikir anak itu bukan orang yang tepat untuk diajak makan.
Jadi dia memutuskan untuk ke kantin sendirian saja. Tumben sekali para gangster
itu tidak mengacau di kantin. Biasanya pada jam-jam seperti ini mereka berempat
akan datang ke kantin dan menjadikan Nako sebagai bahan ejekan.
Namun di saat Nako tengah
mengaduk-aduk makanannya dengan lamunan ke sana-ke mari, ia melihat wajah-wajah
dingin yang sejak tadi ditunggunya. Hmm… ia sendiri baru menyadari bahwa ia
menunggu kehadiran mereka berempat. Tapi… tunggu. Kali ini mereka tidak datang
berempat, melainkan berlima! Nako mengucek matanya untuk meyakinkan bahwa ia
tak salah lihat. Mereka berlima berjalan melewati kantin, dan mengacuhkan
pandangan semua orang yang menatap ke arah mereka.
“Jaejoong?” ucap Nako serasa
ingin berteriak, tapi nama itu hanya terlantun dalam hatinya sendiri. Ia masih
menatap kelima sosok yang kini semakin menjauh dari kantin. Apakah mungkin
Jaejoong sudah menjadi bagian dari mereka berempat? Jaejoong bergabung dengan
gangster itu? Nako merasa seribu tanda tanya memadati kepalanya. Yang ia tahu
Jaejoong sangat membenci mereka berempat. Yang ia tahu Jaejoong bukan orang
jahat, bukan orang yang tak punya hati seperti mereka berempat.
Tapi… melihat Jaejoong menjadi
anggota ke lima dalam geng terkenal itu, Nako merasa wajah dingin itu amatlah
pantas berada di sana. Berjalan bersama empat laki-laki tampan yang juga
memiliki pesona tak tergambarkan. Nako seperti sedang menatap lima dewa yang
baru saja turun dari langit.
Nako pun bangun dari kursinya dan berlari mengejar mereka. Dia ingin bicara
pada Jaejoong dan memastikan posisi Jaejoong dalam geng itu.
“Hei! Kim Jaejoong!” serunya
sambil berlari kecil. Mereka berlima terus berjalan seolah tidak mendengar
apa-apa. “Jaejoong! Tunggu aku!” teriak Nako lagi. Dia langsung menyalip dan
berdiri di depan mereka berlima. Akhirnya mereka pun terpaksa berhenti.
“Minggir!” ucap Changmin galak.
Nako tidak peduli dengan gertakan
Changmin. Ia langsung menatap ke arah Jaejoong. “Nanti kita pulang bersama ya,
Jaejoong? Kalau mau, kau mampir ke rumahku saja. Aku punya banyak makanan.”
Ucap Nako bersemangat. Jaejoong yang berdiri di depannya hanya menatap kosong
ke arah wajah Nako.
“Maaf ya, Jaejoong tidak ada
waktu untuk main-main denganmu.” Yunho menyela.
“Apa maksudmu?” desis Nako tidak
senang.
“Mulai hari ini, Jaejoong adalah
bagian dari kami. Jadi kau tidak berhak lagi memanggil namanya seenak
dengkulmu. Kau harus tahu diri!” Junsu mewakili menjawab.
Nako menggeleng tak percaya,
diliriknya Jaejoong yang masih membisu, berharap bibir pucat itu akan membantah
apa yang baru saja dikatakan Junsu. Tapi rupanya Jaejoong tidak mengatakan
apa-apa. Dia hanya diam, menatap kosong ke wajah Nako.
“Apa benar semua itu, Jaejoong?”
tanya Nako memastikan.
Jaejoong diam beberapa saat.
Tatapan matanya menusuk ke dalam bola mata Nako. Ia bahkan bisa merasakan kedua
mata bening itu berbicara padanya. Tapi ia tak bisa memahami apa yang ingin
disampaikan Jaejoong melalui sorot mata yang tajam itu.
“Biarkan kami lewat.” Ucap
Jaejoong kemudian. Nako menelan ludahnya dengan perasaan tak terlukiskan. Ia
segera meminggirkan tubuhnya dan membiarkan mereka berlima berlalu. Jaejoong
yang baru saja menjadi sahabatnya. Satu-satunya sahabat yang ia miliki di
Korea. Kenapa ia harus secepat itu kehilangan Jaejoong? Kenapa?
***
Nako terlihat gelisah. Matanya
kembali menyusuri wilayah sekolah, berharap menemukan Jaejoong. sudah 1 jam
lebih Nako berdiri bersandar pada gerbang sekolah. Hari semankin sore, satu persatu
murid yang masih berada di sekolah meninggalkan gedung sekolah. Beberapa anak
menatap sinis kearah Nako saat melewatinya. Nako tak peduli, dia hanya
membutuhkan jawaban atas perubahan sikap Jaejoong terhadapnya.
Angin bertiup semakin kencang
saat Nako menatap lima sosok yang di nantikannya. Tidak! dia tidak menantikan
lima orang tapi hanya satu. Jaejoong berada pada barisan paling depan dan
tengah, tempat yang biasanya di tempati oleh Yunho . Apakah Yunho menyerahkan
posisinya pada Jaejoong? tapi apapun itu yang Nako tahu cuma satu yaitu,
Jaejoong tidak terlihat seperti biasa, dia terlihat sedikit lebih bahagia saat
sedang sendiri.
Jaejoong menyembunyikan sesuatu
dari Nako. Walaupun dia tak mengatakan sepatah katapun mengenai hal itu tapi
Nako bukan gadis bodoh yang bisa di tipu. Ekspresi wajah Jaejoong masih seperti
biasa, dingin dan tak pernah tersenyum, tapi matanya tak lagi tersenyum saat
menatap Nako.
Yunho? Apa yang dia lakukan sehingga Jaejoong bertekuk lutut padanya, menjadi
pengikutnya. Nako tahu bahwa Jaejoong tak akan pernah sudi bergabung dengan
gangster yang tak punya hati seperti mereka.
“Apa lagi yang ingin dilakukan
gadis Jepang itu?” Tanya Changmin mencibir saat mereka melewati Nako.
Nako tak peduli apa yang akan di
katakan atau di lakukan Yunho, Changmin, Junsu, ataupun Yoochun terhadapnya,
yang dia butuhkan saat ini adalah jawaban atas perubahan sikap Jaejoong
terhadapnya.
“Jaejoong.” Kata Nako lirih saat
Jaejoong tepat berada di hadapannya.
Jaejoong yang merasa namanya di
sebut oleh Nako hanya menghentikan langkahnya tanpa melirik Nako sedikitpun.
“Apa lagi yang ingin kau dengar
darinya? Dia sudah tak mau menemuimu, orang Jepang.” Changmin memulai menyulut
emosi Nako. Tapi Nako tahu bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk beradu
argument atau bahkan bertengkar.
“Jaejoong, bisakah kita bicara?”
Tanya Nako sopan, dari nada bicaranya terdengar bahwa dia sangat berharap. “Aku
mohon.”
“Jaejoong, jalan!” Yunho
mendesis. “Tak usah pedulikan gadis itu.”
“Kumohon, dengarkan aku.” Nako
memohon, berusaha sekuat tenaga menahan air matanya.
“Jangan pedulikan gadis itu!”
Geram Yunho, mengulangi perintahnya. “Kita harus pergi, sekarang!”
“Aku tak peduli, kalian mau pergi
atau tidak. Aku hanya ingin berbicara dengan Jaejoong! bukan dengan kalian!”
Nako menatap tajam kearah Yunho. “Ini urusanku dengan Jaejoong, bukan dengan
kalian!”
“Jaejoong bagian dari kami
sekarang.” Kata Yunho memperingati. “Urusan Jaejoong menjadi urusan kami juga,
mengerti?!”
“Tidak!” Nako berjalan mendekati
Jaejoong, berdiri tepat di depannya. Sorot mata itu, tidak seperti sorot mata
Jaejoong. “Bisakah kita bicara?”
“Tak ada yang perlu kita
bicarakan.” Jawab Jaejoong dingin, bibirnya membentuk sebuah setengah senyuman,
tersenyum getir. “Aku tak ingin berbicara padamu lagi, karena tak ada yang
perlu kukatakan lagi padamu.”
“Kau memang tidak, tapi aku
punya.” Nako menatap Jaejoong lekat-lekat. Berharap Jaejoong menatap balik
dirinya. Tapi pandangan Jaejoong tetap lurus kedepan. “Kau harus menjelaskan
padaku kenapa kau berubah seperti ini?”
“Hanya itu?” Jaejoong membalikan
pertanyaan, tanpa memperdulikan Nako yang berusaha menahan air matanya agar
tidak mengalir. Tak mungkin Jaejoong mengatakan yang sebenarnya kepada Nako.
Itu hanya akan membuat Nako merasa bersalah.
Nako terdiam, dia merasa Jaejoong
berubah 180° hanya dalam semalam. Dia menginginkan Jaejoong yang dulu, yang
bersikap dingin kepadanya tetapi masih memperdulikan dirinya, yang bersedia
meminjamkan bahunya saat dia ingin menangis, seperti tadi malam. Bukan Jaejoong
yang seperti ini, yang seolah-olah tidak melihatnya ada, yang menganggapnya
sebagai angin lalu.
“Minggir, kami sedang
terburu-buru!” Perintah Jaejoong.
“Tapi aku ingin kau menjelaskan
semuanya padaku!”
“Apa lagi yang ingin kau
dengar?!” Jaejoong membentak Nako. “Semuanya sudah jelas!”
“Kenapa kau bergabung dengar
mereka?!” Nako balas membentak Jaejoong. “Kau berubah karena mereka?”
“Bukankah perubahan itu sesuatu
hal yang baik?” Jaejoong kembali membalik pertanyaan, nada bicaranya kembali
tenang seolah Nako hanya menanyakan tentang cuaca hari ini. “Bukankah kau yang
menginginkan aku bergabung dengan mereka?”
“Aku.. tidak.. aku..” Nako
terbata-bata, Nako benci harus mengakui perihal itu. “Kau tak harus berubah
demi mereka.”
“Orang jepang itu ingin kau
bergabung dengan kami?” Yunho mencibir, menatap rendah gadis yang berdiri di
depan Jaejoong. “Dasar orang licik. Aku tak sabar untuk membuatmu menyesal
karena menuduh kami seperti itu.”
“Kau tak pantas menyebutnya
licik.” Jaejoong menggeram. “Kau sudah berjanji padaku.”. Jaejoong
memperingati.
“Janji? Apa yang mereka janjikan
padamu, Jaejoong?” Nako menatap jaejoong dengan lekat. Matanya meminta jawaban
atas pertanyaannya.
“Katakan padaku, apa yang mereka
janjikan padamu?!”
“Bukan urusanmu.” Jaejoong
menggeram. “Minggir, biarkan aku lewat!”
“Ada apa denganmu?!” Nako
membentak Jaejoong.
“Bukan urusanmu, urusi saja urusanmu
sendiri!” Jawab Jaejoong tak sabar, “Minggir!!”
Jaejoong berjalan, menabrak bahu
Nako. Nako yang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menangis, tetapi
perasaanyanya berkata lain. Bulir-bulir air mata jatuh dengan cepat menuju
tanah yang di pijaknya, bahunya berguncang pelan.
Yunho dan Changmin tersenyum
mengejek. Mengejek kebodohan Nako.
“Kumohon, kembalilah seperti
dulu.” Nako tak membalikan badannya untuk menatap Jaejoong, Jaejoong hanya
menghentikan langkahnya. “Kembali menjadi temanku, menjadi seseorang yang tidak
menganggapku rendah.”
Jaejoong melangkah pergi, Nako
tak bisa mengendalikan perasaannya. Dia berlari memeluk Jaejoong dari belakang.
Jaejoong tak bereaksi, hanya sedikit terkejut karena Nako memeluknya secara
tiba-tiba.
“Kumohon… kumohon.. jangan
bersikap seperti ini kepadaku.” Kata Nako di sela isakan tangisnya. “Jangan
menganggapku sebagai angin lalu!”
Jaejoong merasa punggungnya
basah, basah karena air matanya Nako. Selama ini tak ada yang benar-benar
peduli terhadapnya. Tak satupun, kecuali ibunya.
“Kau adalah sahabat terbaikku.
Kau satu-satunya yang berbicara padaku selama ini.” Nako kembali terisak.
“Sudah cukup semua orang membenciku, kenapa kau juga harus membenciku?”
Jaejoong terdiam, tak membantah
ataupun mengatakan sepatah katapun. Jaejoong sadar bahwa dia telah membuat Nako
terluka. Nako yang sudah dianggapnya sebagai adiknya. Jaejoong menyanyangi Nako
sebagai seorang sahabat tidak lebih dan tidak kurang. Hanya Nako yang peduli
terhadapnya, saat Nako berada di sisinya dia merasa memiliki seorang teman yang
tulus berteman dengannya.
Tapi Nako tak mengetahui apapun tentang Jaejoong, tentang masa lalunya yang
kelam. Jaejoong berani bersumpah bahwa Nako akan menjauhinya secara perlahan
jika dia mengetahui masa lalunya. Dunia ini memang kejam.
“Apa yang menyebabkanmu berubah
seperti ini?” Nako mempererat pelukannya, membuat Jaejoong kesulitan bernafas.
“Jangan bersikap seperti ini, kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri. Aku
memang baru saja mengenalmu, tapi aku merasa kau berbeda. Seperti aku sudah
mengenalmu sejak lama,”
Sejak lama? Mereka bahkan baru
saja bertemu beberapa minggu.
“Jangan bersikap seolah-olah kau
tak melihatku! Bahkan jika kau melewatiku, kau berpura-pura tidak melihatku.
Sorot matamu tak lagi tersenyum saat melihatku. Kenapa kau berubah secepat
ini?”
Jaejoong mencengkram erat kedua lengan Nako, dan melepaskan pelukan Nako dengan
kasar. Membuat Nako merintih kesakitan.
Nako jatuh berlutut, kedua
tangannya menutupi wajahnya. Bahunya berguncang semakin cepat. Tangisan
kehilangan.
“Kau tak mengetahui apapun
tentangku.” Jawab Jaejoong pelan, yang mungkin hanya di dengar oleh Yoochun.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar