“Aku ingin bicara denganmu.” Ucap
Yoochun saat Jaejoong lewat di sampingnya.
“Tentang apa?” tanya Jaejoong tanpa menoleh.
“Tentang teman-temanku.”
“Aku tidak mau dengar apa-apa tentang mereka.” Jaejoong bermaksud untuk melangkah masuk, tapi Yoochun segera menarik tangannya.
“Aku tahu mereka memang keterlaluan, tapi aku…”
“Kau juga sama saja seperti mereka! kalian berempat tidak ada bedanya! Sama-sama egois! Jahat! Suka menyakiti orang yang tidak bersalah! Aku tidak mengerti kenapa semua orang masih bisa menghormati manusia brengsek seperti kalian!!”
“Bukankah kau lebih brengsek?”
“Apa maksudmu?!” Jaejoong mendesis kesal dengan ucapan Yoochun yang satu itu.
“Jangan berpura-pura baik di depanku, Kim Jaejoong. Aku tahu kau pernah masuk penjara karena kau membunuh seseorang dengan tanganmu sendiri. Iya, kan?”
Jaejoong terpaku mendengarnya. Tentang hal itu, ia sudah melupakannya sejak dulu. Kejadian yang dulu membawanya masuk ke dalam hotel prodeo yang penuh dengan penyiksaan. Dari situlah Jaejoong mulai belajar melawan rasa sakit, dari situ jugalah Jaejoong menekadkan dalam dirinya bahwa ia takkan mau lagi melakukan kesalahan yang sama untuk ke dua kalinya.
“Kalau iya memangnya kenapa? Kau mau bilang kalau kau takut aku akan membunuhmu?” tantang Jaejoong sambil menatap sinis pada Yoochun.
“Aku tidak pernah takut pada kematian, apalagi di tangan orang sepertimu.” Yoochun tersenyum getir sebelum akhirnya mendahului masuk ke dalam kelas. Jaejoong tidak berkata apa-apa lagi. Ia bergegas masuk ke kelas karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
Namun saat Jaejoong masuk ke kelas, ia melihat mejanya penuh dengan gundukan sampah basah yang sangat bau dan menjijikan. Hal itu membuat meja dan kursinya tersisihkan dari meja-meja lain karena tak ada anak yang mau dekat dengan sampah-sampah itu. Jaejoong berjalan menuju mejanya, melihat dan seperti mengamati dengan sangat detail timbunan sampah basah yang menutupi mejanya.
“Astaga… kotor sekali kelas ini!” sebuah suara cempreng tiba-tiba terdengar. Jaejoong menoleh pada seorang guru yang masuk sambil bertolak pinggang. “Aku tidak akan mengajar sebelum semua sampah-sampah ini dibersihkan!” teriak guru itu.
“Jaejoong yang mengotori mejanya sendiri, Guru! Dia tidak pernah membuang bekas makanan ke tempat sampah!” seorang siswa berseru.
“Kim Jaejoong! Cepat kau bersihkan sampah-sampah itu sampai mejamu bersih kembali! Jika dalam 30 menit semua ini belum beres juga, aku akan memberimu hukuman untuk membersihkan seluruh ruang kelas yang ada di sekolah ini! Paham?!”
“Aku tidak mau membersihkan semua ini.” Ucap Jaejoong tegas.
“Apa kau bilang?!”
“Bukan aku yang membawa sampah-sampah ini masuk. Jadi aku tidak mau membersihkannya!”
“Tapi sudah jelas mejamu yang penuh sampah! Dan teman sekelasmu mengatakan bahwa kau yang telah menimbun sampah itu!”
“Terserah Guru mau percaya atau tidak. Tapi aku bersumpah demi nama siapapun, bahwa aku tidak pernah membawa sampah-sampah ini. Jadi aku tidak akan mau membersihkannya!!”
“Berani sekali kau menentang gurumu seperti ini!”
“Aku tidak menentang Guru!”
“Lalu apa namanya kalau bukan menentang?!!”
“Aku hanya ingin Guru tahu bahwa itu semua bukan perbuatanku, dan aku tak mau melakukan hukuman atas sesuatu yang tidak pernah kulakukan!!!” Jaejoong langsung melesat keluar dan membanting pintu. Semua murid di kelas itu masih menatap pintu yang sudah tertutup setelah dibanting dengan begitu keras oleh Jaejoong.
Yoochun melirik meja penuh sampah itu dengan perasaan yang tak tergambarkan. Ia tahu siapa yang telah menaruh sampah-sampah itu di sana. Bagaimana mungkin ia tidak tahu? Karena ia melihat sendiri saat teman-temannya menyuruh orang untuk menumpuk sampah-sampah itu.
Sejak pertama kali Jaejoong masuk dan diperkenalkan di depan kelas, Yoochun merasa sudah pernah mengenal Jaejoong sebelumnya. Tepatnya, ia merasa sudah sering mendengar nama Jaejoong. Dan ia baru sadar bahwa anak baru di kelasnya itu dulu pernah diberitakan masuk penjara. Dan beritanya sudah pernah ia baca di sebuah surat kabar.
“Kasihan ya, anak baru itu. Aku jadi tak tega.” Ucap seorang gadis yang duduk di depan Yoochun.
“Iya, aku juga kasihan padanya. Apalagi setelah aku dengar alasan dia dibuang dari keluarganya.”
***
Nako memperhatikan Yunho yang
duduk 2 bangku di depannnya. Nako tak memperhatikan guru yang menjelaskan di
depan begitu juga dengan Yunho, dia hanya sibuk dengan pensil dan kertasnya.
Entah apa yang di tulisnya.
Perasaan aneh itu muncul kembali,
perasaan yang sering Nako tepis jauh-jauh. Nako tidak mau mengakui perasaan
aneh itu sebagai perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta.
Tidak! Tidak mungkin Nako jatuh
cinta kepada seseorang seperti Yunho! Yunho? Orang yang sangat membencinya
hanya karena dia orang Jepang. Membenci karena alasan yang tidak masuk akal.
Nako kembali memandang Yunho yang sedang tertawa bersama Junsu dan Changmin. Sepertinya mereka mendapat ide baru untuk membuat hidup Jaejoong semakin menderita atau hidup Nako?
Nako kembali memandang Yunho yang sedang tertawa bersama Junsu dan Changmin. Sepertinya mereka mendapat ide baru untuk membuat hidup Jaejoong semakin menderita atau hidup Nako?
BUKK!!
Sebuah penghapus papan tulis
melayang, dan mendarat sempurna di kepala Nako.
“Misuzawa,perhatikan guru yang
sedang mengajar!” Perintah seorang guru yang sedari tadi di acuhkan oleh Nako.
Gelak tawa muncul, beberapa siswa
menertawakan Nako. Nako hanya merintih kesakitan dan mengelus pelan kepala yang
terkena lemparan penghapus papan tulis. Changmin dan Junsu tertawa kecil, puas
melihat Nako di marahi oleh Guru. Yunho membalikkan badanya, tertawa getir,tawa
tanpa expresi, melirik sinis ke arah Nako. Nako hanya menunduk malu,
menyembunyikan warna merah pada pipinya
“Kau memperhatikan Jung Yunho?”
tanya seseorang di sebelah Nako, nada bicaranya sangat sinis.Gadis itu bernama
Yui, tidak biasanya Yui berbicara pada Nako
Nako diam, tak menjawab.
Bagaimana Yui tau bahwa dia sedang memperhatikan Yunho. “Kau memperhatikannya
kan? Kau menyukinya?” Ulangnya, dia menunggu Nako untuk menjawab pertanyaan
itu.
“Tidak!” Jawab Nako tegas
“Kau tak usah berbohong padaku,
saat kau melihat Yunho, muncul semburat warna merah pada pipimu.” Yui membela
diri. “Kau pasti menyukainya.”
“Aku tidak…”
“Kau pikir Yunho juga
mencintaimu?” sindir Yui. “Yunho tak mungkin mencintai gadis sepertimu!”
“Hentikan..” kata Nako lirih
menahan tangis, ia menjaga agar suaranya tetap normal.
“Yunho tak pernah melirik orang
sepertimu, kau bagaikan sampah dimatanya.” Yui kembali berkata, tidak
memperdulikan ucapan Nako yang memintanya untuk berhenti. “Yunho tak pernah
mencintai gadis sepertimu. Dia tak pernah mencintai dan di cintai. Kurasa kau
hanya membuang-buang waktu untuk mencintainya.”
“Hentikan…” Pinta Nako sekali
lagi.
“Kau pikir, kau bisa membuat
Yunho jatuh cinta?” Dia kembali bertanya. “Berapa banyak wanita yang mencoba
untuk mengisi hatinya yang kosong, dan semua itu berakhir dengan sia-sia.
Begitu juga denganmu.”
Nako merasa hampa, dia tau
perasaannya itu adalah suatu kesalahan. Dia sadar bahwa perasaan itu hanya akan
membunuhnya secara perlahan. Dia tau bahwa dia tak mungkin bersama dengan
Yunho. Nako mencoba membendung air matanya, sekuat tenaga menahannya agar tidak
mengalir. Nako menggigit bibir bawahnya..
Nako tak mungkin mengisi
kekosongan pada hati Yunho. Dia sadar itu.
“Kau harus melupakannya secara
perlahan atau perasaan itu akan membunuhmu secara perlahan….”
“Hentikan!!!” Nako berteriak,
berdiri dan menggebrak meja. Air matanya sudah tidak dapat di bendung lagi.
Seisi kelas memperhatikan Nako,
Guru yang mejelaskanpun memperhatikan Nako dengan tatapan apa-yang-kau-lakukan
dan memerintahkannya untuk duduk kembali.
“Aku tak mau mendengarkan
penjelasanmu, Yui!” Nako berteriak, menatap sinis kearah Yui. “Aku tau apa yang
aku rasakan. Aku tidak mencintai Yunho!”
Mendengar namanya di sebut Yunho
membalikan badan, menatap bingung ke arah Nako. Kenapa namanya di bawa-bawa.
Nako yang baru sadar menyebut nama Yunho segera menutup mulutnya.
Apa yang baru saja dia katakan? Nako berlari meninggalkan ruangan kelas menuju
kamar mandi.
Nako menangis di salah satu bilik kamar mandi, menumpahkan semuanya. Perasaannya.
Nako menangis di salah satu bilik kamar mandi, menumpahkan semuanya. Perasaannya.
30 menit berlalu, Nako sudah
berhasil mengontrol emosinya. Mencoba menenangkan diri. setelah dia yakin dia
tidak akan mengeluarkan air mata lagi, dia mencoba membuka pintu, tapi pintu
itu tak mau terbuka sedikitpun.
Sepertinya pintu itu di kunci
dari luar. Nako berusaha lebih keras. Tapi percuma saja, pintu itu tak bergeser
sedikitpun. Nako mejadi sedikit panik. Dia mencoba lagi dan lagi, memutar kenop
pintu dengan cepat, berharap bahwa pintu itu hanya macet dan bisa segera di
buka.
Tak berhasil, Nako kembali menarik
pintu itu dengan sekuat tenaganya, dan tentu saja hasilnya sia-sia. Brengsek!
Dia mengumpat dalam hatinya. Siapa yang berani mengunci dirinya didalam kamar
mandi.
Nako membuka mulut bersiap
meminta tolong kepada siapa saja yang mendengarnya untuk membukakan pintunya,
tapi tak sedikitpun kata yang keluar dari mulutnya. Seakan di telan kembali
oleh tenggorokannya. Nako menggetuk-ngetuk pintu, berharap seseorang
mendengarnya.
Dengan suara parau, Nako kembali
menangis. Dia merasa takut.
“Sudah lelah menangis?” Tanya
seseorang dari luar. Nako hafal suara itu, suara milik Yunho.
Bagaimana mungkin Yunho bisa masuk kedalam
toilet wanita?
“Apa yang sedang kau lakukan
disini?! Cepat bukakan pintunya! Aku ingin keluar.” Teriak Nako dengan segenap
kekuatan yang tersisa.
“Kau bukan di posisi untuk
memilih.” Kata Yunho dingin.
“Tolong, aku hanya ingin keluar
dan pergi.” Kata Nako di sela isakan tangisnya. “Tolong…”
“Aku hanya ingin berbicara
padamu.” Ujar yunho, nada bicaranya seperti sedang menanyakan cuaca, seringan
mungkin.
“Kau pikir saat ini tepat untuk
berbicara masalah sepele?” Nako kembali berteriak. “Cepat keluarkan aku!”
“Aku tak akan mengeluarkanmu,
sampai kau menjelaskan semuanya padaku!” Ancam Yunho.
“Penjelasan apa yang ingin kau
dengar?” Nako menurunkan nada bicaranya, dia merasa lelah. “Tak ada yang perlu
di jelaskan.”
“Kenapa kau membenciku?”
Nako tidak menjawab, dia kembali
terisak. Selembar pintu yang memisahkan jarak antara dia dan Yunho membuat dia
kembali merasakan perasaan itu.
“Aku bertanya padamu orang
jepang! Kenapa kau membenciku?!” Ulang yunho dengan nada yang lebih keras.
Bukan jawaban yang keluar dari
mulut Nako, tapi sebuah isakan tangis. “Karena…” Nako tidak melanjutkan. Dia
merasa tak mempunyai keberanian untuk mengatakan ‘Aku mencintaimu’
“Karena aku jahat kepadamu?”
tebak Yunho. Membuat Nako kembali terisak. “Alasan klise, kau sama saja seperti
wanita murahan yang mengejar-ngejarku.”
“Aku bukan wanita murahan.” Kata
Nako lirih, membela dirinya sendiri. Nako memutuskan untuk menghentikan
tangisannya dan memberanikan diri.
“Lalu apa alasanmu?”
“Karena, aku mencintaimu.”
Hening, baik Yunho maupun Nako
tak mengucapkan sepatah kata lagi. mereka berdua diam dalam seribu bahasa.
Keheningan terasa mencengkram dan menyelimuti mereka.
Yunho merasa Nako berkata dengan
jujur dan tulus. Tapi Yunho tak mempunyai perasaan yang sama dengan perasaan
yang di miliki Nako.Yunho tak ingin membuka hatinya untuk siapapun termasuk
untuk Nako.
Yunho berjalan mendekat,
membukakan pintu. Dia menatap tubuh lemah Nako. Bahunya berguncang, matanya
sembab. Tapi air mata sudah berhenti mengalir dari matanya.
Nako mematung, membiarkan Yunho
mendekatinya. Sejujurnya dia ingin segera pergi, meninggalkan Yunho. Tapi
kakinya tak mengizinkan itu.
Yunho menarik tangan Nako,
membuatnya jatuh dalam pelukan Yunho. Yunho memeluk nako, tangannya berada pada
pinggang Nako. Yunho menaikan dagu Nako dengan sebelah tangan dan mendekatkan
wajahnya. bersiap untuk merasakan manisnya sebuah kecupan.
Yunho mulai menutup mata, dan
melumat kedua bibir Nako dengan kasar. Nako yang kaget dengan perlakuan Yunho,
meronta-ronta ingin di lepas. Tapi pelukan Yunho sangat erat, membuat Nako
sulit melepaskan dirinya.
“Lepaskan…” Suara nako tenggelam.
Yunho tak memberi celah untuk Nako berbicara. Nako merasa kehabisan napas.
“Kau…lepaskan…brengsek…”
Nako berhasil melepaskan
bibirnya. Wajah Nako berubah menjadi merah karena marah. Yunho merebut ciuman
pertamanya dengan cara seperti ini?
Yunho hanya tersenyum, tapi tidak
dengan matanya. Tak ada sedikitpun senyuman di matanya. Yunho terengah-engah
mencoba mengatur nafasnya.
“Kau! Brengsek!” Nada bicara Nako
meninggi, mencoba melepaskan pelukan Yunho. “Apa yang kau lakukan?! Seenaknya
saja kau melakukan hal seperti itu!!”
“Kau sendiri yang mengatakan bahwa
kau mencintaiku.”
“Aku memang mencintaimu! Tapi
bukan berarti kau telah memilikiku dan bisa menciumku seperti itu!!”
“Lalu, salahkah aku menciummu?”
“Cari saja perempuan lain yang
bisa kau perlakukan seenak jidatmu! Wanita itu bukan aku!!”
Nako berhasil melepaskan dirinya,
dan dia bersiap untuk pergi. Tapi Yunho mencegah, mencengkram tangannya.
“Tunggu.” Yunho memohon.
“Apa lagi yang kau inginkan
dariku?! Belum puas kau merebut ciuman pertamaku seperti itu?!” Nako menepis
tangan yunho dengan kasar. “Lupakan saja kejadian tadi! Aku salah telah
mengatakan hal itu kepadamu!”
Nako berjalan meninggalkan Yunho,
yang masih mematung.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar