Welcome

Rabu, 16 Mei 2012

DBSK comeback? (part 13)


Yoochun POV

“Tolong kamu jaga hana, ya?” ucap ajuma.

“Memangnya ajuma mau ke mana?” tanyaku.

“Kami berdua harus pulang. Besok kami akan datang lagi. Kalau terjadi sesuatu dengan Hana, kau suruh Jaejoong untuk menghubungi kami saja.”

Aku mengangguk mengiyakan intruksi ajuma. Setelah itu mereka berlalu meninggalkanku yang masih duduk terpekur di samping ranjang Hana. Dokter sudah menyuntikkan sesuatu ke dalam selang infusnya, dan sekarang Hana tertidur. Kenapa Jaejoong hyung lama sekali? Apa dia berkelahi dengan para security itu dan dia dibawa ke kantor polisi?

“Oppa…” aku mendengar suara Hana. Dia masih terpejam. Apa dia mengigau tentang Jaejoong hyung? Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Jaejoong hyung tidak ada di sini. Ponselnya pun tidak aktif. Dan aku berada di bawah perintah untuk tidak meninggalkan Hana sampai Jaejoong hyung kembali ke sini.

Kreek…

Pintu terbuka perlahan. Aku melihat Jaejoong hyung masuk dengan wajah kesalnya.

“Kau lama sekali, hyung!” protesku.

“Bagaimana keadaan Hana?”

“Tadi perutnya sakit. Tapi dokter sudah memberinya obat, dan sekarang dia tertidur.” Aku membiarkan Jaejoong hyung meraih jemari tangan Hana dan menggenggamnya erat.

“Oppa…” Hana bergumam lagi dalam tidurnya.

“Aku di sini, Hana.” Ucap Jaejoong hyung. Saat itu, aku merasa ingin menangis. Aku terharu sekali melihat mereka berdua.

Perlahan tapi pasti, Hana membuka matanya. Dia menoleh padaku, lalu pada Jaejoong hyung.

“Kenapa oppa meninggalkanku di saat aku butuh oppa?” tanya Hana pelan.

“Tadi aku harus…”

“Aku membutuhkan oppa. kenapa oppa tidak ada di sampingku?!”

“Hana, aku harus…”

“Oppa bohong padaku! Oppa tidak menepati janji!”

“Aku harus menyelesaikan urusan dengan Changmin! Bisa tidak sih, kau dengarkan aku dulu?!! Kau pikir aku hanya mengurusimu saja?!”

“Hyung!” aku menengahi. Hana sedang hamil, dan Jaejoong hyung masih saja membentaknya.

“Kau diam saja! Aku tidak sedang bicara denganmu!” ucapnya.

“Tapi aku tidak mungkin membiarkanmu membentak Hana seperti itu! Dia sedang hamil!”

“Jadi kau mau membelanya, hah?! Tak usah campuri urusanku dengan Hana!”

Aku menelan ludah. Jika saja aku tidak mengingat bahwa di sini ada Hana, aku pasti sudah mencekik leher Jaejoong hyung dan merobek-robek mulutnya.

“Sudah! Jangan menangis!” Jaejoong hyung membentak Hana lagi. Kulihat Hana menggigit bibirnya untuk membendung air mata yang memaksa keluar.

“Bisa tidak sih, kau sedikit memikirkan perasaan istrimu? Kenapa kau begitu senang mem-bentaknya seperti itu?” tanyaku dengan nada suara rendah.

“Aku suaminya! Jadi aku berhak memperlakukan istriku sesuai keinginanku!”

“HYUNG!! Hana itu istrimu, bukan budakmu!”

“Beraninya kau…”

“Cukup!” Hana mencegah tangan Jaejoong hyung yang nyaris memukul wajahku. “Kenapa kalian malah bertengkar? Yoochun oppa, sudahlah. Yang dikatakan Jaejoong oppa itu benar. Dia suamiku, dan dia berhak memperlakukanku sesuai keinginannya. dan Jaejoong oppa, kau boleh saja membentakku, atau menamparku sekalipun, tapi jangan melampiaskan kekesalan-mu pada orang lain. Sudah terlalu banyak yang kau lukai. Apa kau akan melukai Yoochun oppa juga kali ini?” Hana menatap wajah Jaejoong hyung dengan mata berkaca-kaca.

“Keluarlah dari sini. Sekarang!!” Jaejoong hyung menatapku tajam sambil menunjuk ke arah pintu. Aku mengepalkan tinjuku untuk menahan amarah.

“Ingat, ya, kalau kau sampai berbuat kasar lagi pada istrimu, aku tidak akan pernah memaafkanmu, hyung. Tidak akan pernah!!!” dan setelah itu aku membanting pintu kamar. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Jaejoong hyung setelah mendengar ancamanku itu. Yang jelas, aku sudah benar-benar marah atas sikapnya yang keterlaluan. Dia tidak pantas mem-bentak Hana seperti itu, walaupun dia sedang merasa kesal. Terlebih lagi, saat ini Hana sedang hamil. Seharusnya Jaejoong hyung penuh perhatian, bukan malah membentak-bentak seperti itu.

***

Changmin POV

Apa sih yang ada di pikiran Jaejoong hyung, aku sudah mengesampingkan ego-ku dan meminta maaf padanya, tetapi dia malah membentakku seperti itu. Aku menatap punggung Jaejoong hyung yang berjalan menjauh, masuk kedalam rumah sakit itu.

“Sudahlah.” Yunho mengelus punggungku. “Mungkin dia sedang banyak pikiran.”

“Iya, hyung.” Aku menatap wajah Yunho hyung. “Aku tau. Maafkan aku.”

“Tidak masalah. Lebih baik aku masuk ke kamar, aku lelah.” Dia memegang perban di keningnya. “Kau mau ikut?”

“Kurasa tidak, aku mau pulang hyung.”

“Baiklah, hati-hati di jalan.” Dia melambaikan tanganya sambil berjalan meninggalkanku.

Aku berjalan tanpa tujuan, walaupun aku berkata bahwa aku akan pulang, tapi sejujurnya aku tak ingin pulang.

Kata-kata Jaejoong hyung masih tergambar dengan jelas di dalam benakku. Aku tak mengerti apa yang menyebabkan dia tak bisa mengontrol emosinya, padahal selama ini yang aku tau dia selalu bisa mengontrol emosinya dan memaklumi sikapku yang sedikit kekanak-kanakan.
 
Apakah masalah ini akan berakhir disini? Apakah ini akhir dari segalanya? Berakhir seperti ini? Dengan pertengkaran diantara kami. Dengan rasa benci diantara kami yang mulai tumbuh?

Aku masih berjalan tanpa tujuan, sekarang aku berada di pertigaan jalan. Aku tak melihat ada lampu lalu lintas jadi kuputuskan untuk menunggu jalanan sedikit sepi agar aku bisa menyebrang jalan.

Tiba-tiba aku melihat seorang gadis sedang menyebrang jalan, saat kulihat dari arah berlawanan terdapat mobil yang sedang dalam kecepatan tinggi melintas. Apa dia mau bunuh diri?

Mobil itu masih terus memacu mobilnya, aku berpikir apakah yang mengemudi itu tidak melihat ada seorang gadis yang sedang menyebrang?

Aku berlari, memeluknya dan kami terjatuh disekitar trotoar. Aku mendengar suara gesekan antara ban mobil dengan aspal. Sekitar 2 cm saja, mobil itu bisa menyentuh tubuh mungil gadis yang sedang kupeluk ini. jika aku terlambat beberapa detik, kurasa tubuh mungil gadis ini akan teluka.

“Apa kau mau bunuh diri?!” Aku membantunya berdiri. Kulihat beberapa belanjaanya terjatuh dan berserahan. Sebagian dari belanjaannya rusak.

“Maaf.” Dia membungkuk dalam. “Aku tak melihat ada mobil yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.”

“Lain kali, jika ingin menyebrang kau harus berhati-hati!”

“Terima kasih sudah menolongku.” Dia berjongkok dan mengumpulkan kembali belanja-annya yang sebagian besar sudah rusak. “Aku yang salah, aku ceroboh.”

Aku ikut berjongkok dan membantunya mengumpulkan belanjaannya itu, aku masih tidak dapat melihat wajah gadis berambut coklat hangat ini. Aku berniat mengambil beberapa barang yang masih cukup bagus bentuknya, tapi tanganku menyentuh tangannya. Aku me-rasakan tangannya masih bergetar, kurasa dia masih kaget atas kejadian yang baru terjadi.
 
Aku membantunya berdiri, semua barang yang masih bisa digunakannya telah berada dalam pelukannya.

Aku melihat wajahnya, bibirnya terlihat sedikit pucat. Apakah dia sakit? Atau dia masih kaget atas kejadian tadi?

“Kau sakit?” Aku bertanya padanya. “Kau terlihat sedikit pucat.”

“Tidak, aku tidak sakit.” Dia tersenyum. Aku mengenali senyuman itu. “Aku hanya sedikit.. sedikit.. kaget.”

“Bomi?” Aku sedikit ragu.

“Bagaimana… bagaimana kau mengetahui namaku?”

“Kau pasti tidak mengingatku.” Aku memperkenalkan diri. “Aku Max, hmmm bukan, bukan lagi. Aku Shim Changmin” dia meraih tangan yang ku ulurkan padanya.

Aku bukan lagi Max, karena Max hanyalah nama panggungku. Aku harus melepaskan nama itu. Ya harus!
Aku mengajaknya untuk menepi. Agar kami tak menghalangi jalan.

“Apa kau lapar?” Dia bertanya padaku.

“Kurasa tidak.” tapi aku merasakan perutku berkata lain, dan mengeluarkan bunyi yang aneh.

Dia tertawa, oh betapa cantiknya saat dia tertawa. “Kau tidak bisa berbohong.” Dia berusaha menyembunyikan tawanya. “Ayo kita makan, kurasa aku akan mentraktirmu makan malam ini.”

Aku berjalan disampingnya, dan aku menawarkannya untuk membawa kantong belanjaanya. Kami berjalan dalam diam. Sampai dia berkata..

“Sepertinya kita pernah bertemu?” Dia terlihat seperti berfikir, kurasa dia mencoba meng-ingat-ngingat sesuatu. “Ah! Aku mengingatmu, kau yang kemarin menangis di jalankan?”

Aku merasakan pipiku berubah menjadi lebih merah dari pada yang dibutuhkan. Kenapa dia mengingat saat aku menangis, ohh betapa bagusnya itu -,-

Aku mengacak-ngacak rambutku dan menunduk malu. “Ah, kau mengingatku?”

“Tentu saja.” Dia tersenyum, dan terlihat lebih ceria. “Aku tak mungkin melupakannu.”

“Kenapa?”

“Karena, aku merasa kau istimewa.” Dia berkata seperti itu, entah mengapa aku merasa sangat nyaman berada di sampingnya.

Sekarang kami telah sampi disebuah café. Dia memilih duduk diluar, kurasa dia ingin menikmati indahnya bulan malam ini.

Sejak kami campai di café ini, dia hanya memandang kearah bulan. Aku menikmati setiap lekuk wajahnya, menikmatinya. Dia begitu cantik dan ceria. Dia memesan 2 cangkir cappuccino, untukku dan untuknya. Aku harus menunggu 5 menit sampai pesanan yang kami pesan sampai.

“Kenapa waktu itu kamu menangis?” Dia bertanya padaku. Kenapa dia bertanya tentang masalah yang aku benci ini.

“Hanya sedikit masalah dengan hyung-ku.”

Pesanan kami sampai, sehingga aku bisa mengubah arah pembicaraan. Dia mulai meyeruput cappuccino miliknya, ahhh dia begitu manis.

Perasaan apa ini? Apa ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandanya pertama? Tapi aku tidak mengenal gadis yang ada dihadapanku.

Aku melihat ada busa yang menempel di atas bibirnya.

“Ada sesuatu disini mu.” Aku menunjuk bibir atasku, dia segera memalingkan wajahnya dan membersihkan busa yang menempel diatas bibirnya menggunakan punggung tangannya.
 
Dia terkekeh pelan. Aku menghabiskan malam ini bersamanya. Sungguh malam yang indah.

***

Junsu POV

Apakah langkah yang aku ambil ini benar? Menerima tawaran produser itu untuk menjadi penyanyi solo. Ahhhh…. Aku mengacak-ngacak rambutku. Aku takut mengambil langkah yang salah.

Setelah produser itu memberikanku kartu nama dia pergi. Aku menatap kartu nama itu “Lee Junki.” adalah nama produser itu. Aku memasukan kartu nama itu kedalam sakuku.

Pesananku sudah datang, aku memesan semangkuk bubur, tetapi entah mengapa rasa laparku sudah hilang. Aku hanya memainkan sendokku dan mengaduk-ngaduk buburku.

Apakan ini yang aku harapkan? Menjadi penyanyi solo?

Aku merasa bingung, kenapa aku menerima tawaran produser iitu? Kenapa aku tidak berfikir seribu kali untuk menerimanya? Bagaimana tanggapan yang lain saat mengetahui aku akan segera terikat kontrak?

Ahhhh… aku kembali mengacak-ngacak rambutku, aku frustasi, apa yang harus aku lakukan?

Bipp-Bipp-Bipp

Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku, pesan singkat itu dari Yoochun hyung. Kenapa dia mengirimiku pesan singkat? Adakah hal buruk yang terjadi?

“Yunho hyung, mengalami luka dibagian keningnya, kau sudah tahukan? Dia dirawat dirumah sakit di Seoul, lantai 6 no. 252. Aku hanya ingin memberitahumu, siapa tau kau ingin mengunjunginya dan meminta maaf padanya!”

Aku tak membalas pesan itu, aku segera mengambil jaket dan memacukan mobilku menuju rumah sakit itu.

Sepanjang perjalanan aku kembali berpikir. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memberitahu Yunho hyung jika aku akan segera terikat kontrak dengan salah satu management terbesar di Asia? Atau aku tidak menceritakannya saja?

Kenapa? Kenapa harus SM yang menawarkan terbentuknya kembali DBSK. Kenapa? Kenapa bukan management lain?.

Saat di perjalanan menuju rumah sakit, aku bertemu dengan Changmin, dia bersama seorang wanita. Aku tidak mengenal wanita itu. Mereka masuk kedalam café, aku menghentikan mobilku dan aku melihat Changmin dari kejauhan. Kurasa emosinya sudah dapat dikendali-kan dan dia terlihat jauh lebih bahagia sekarang. Apakah aku harus turun, menghampirinya dan meminta maaf? Tapi aku tak mau mengganggunya, apalagi disaat dia terlihat bahagia seperti itu. Aku kembali memacu mobilku menuju rumah sakit.

Aku mencari kamar bernomor 252, kamar yang di tempati oleh Yunho hyung. Ahh ini dia..

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar