Author POV
“Aku hanya menginginkan jawaban kalian.” Produser
berkata lagi. “Iya atau tidak?”
Pertanyaan itu membuat situasi bertambah panas. Junsu
tampak menggemeretakkan giginya untuk menahan amarah. Changmin mengepalkan
tinju keras-keras, menahan keinginan besarnya untuk menghancurkan wajah
produser sialan yang duduk dengan wajah meleceh-kan. Sementara Jaejoong hampir
merobek-robek mulut produser itu kalau saja dia tidak mengingat ada hukum yang
berlaku di dunia ini. Dan Yoochun sejak tadi sudah melemparkan tatapan sinis
pada semua petinggi SM. Hanya Yunho, satu-satunya yang tampak tenang menghadapi
hal ini.
“Kalian semua tuli?” tanya produser lagi. “Iya atau
tidak?”
“Kau ini mau kubunuh, ya?!” Jaejoong tak bisa menahan
emosinya lagi dan bermaksud untuk mencekik leher produser.
“Kendalikan dirimu, Jae!” cegah Yunho. Jaejoong
menghempaskan tubuhnya kembali di kursi. Kini Yunho menjadi satu-satunya orang
yang berdiri di ruangan itu. Dia menatap wajah produser dengan tenang. Entah
saat itu dia benar-benar tenang, atau hanya berpura-pura tenang. Lalu
per-lahan-lahan, dia mulai membuka suara. “Aku sudah pernah katakan bahwa aku
akan menyetujui permintaanmu jika keempat member lain setuju. Tapi sepertinya
tidak ada satupun di antara mereka yang setuju, jadi kurasa… aku tidak bisa
menerimanya.” Ucap Yunho lantang.
Hening sejenak.
“Aku menyetujui tawaran itu.”
Tiba-tiba seseorang menyeruak perhatian. Semua yang
ada di sana menatap pada si empunya suara. Changmin mengangkat wajahnya dan
mengedarkan pandangan pada semua mata yang menatapnya dengan penasaran. Ia
tidak menghiraukan tatapan tak percaya yang tersorot dari mata gelap Jaejoong.
“Coba ulangi perkataanmu.” Ucap produser.
“Aku menyetujui tawaran itu.” Ungkap Changmin tegas.
“Dia hanya bercanda!” Jaejoong menyela.
“Aku tidak bercanda!” tiba-tiba Changmin mengeluarkan
suara tenor yang biasanya hanya ia pakai saat bernyanyi. Melengking tinggi dan
membuat gema di ruangan itu. Jaejoong mengerutkan keningnya. “Aku ingin kembali
lagi bersama Dong Bang Shin Ki. Aku tahu kita memang tidak bisa mempercayai SM
begitu saja. Tapi coba pikirkan, kalau memang mereka ingin curang, kenapa
mereka tidak melakukannya pada grup yang lain? Aku yakin ada sesuatu yang
istimewa yang membuat SM menawarkan kontrak ini lagi pada kita. Dan aku yakin,
di hati kalian semua, pasti kalian juga merindukan saat-saat bersama seperti
dulu. Aku yakin itu…”
Titik air mata jatuh di mata indah Changmin. Sang
magnae itu menutup wajahnya sejenak untuk menyeka bulir air matanya.
“Jadi bagaimana dengan para hyung yang terhormat ini?
Apa kalian juga akan menyetujui seperti Changmin?” tanya juru bicara SM.
Mereka diam sejenak, saling mendalami pikiran
masing-masing. Sudah tak terpancar lagi raut wajah penuh emosi seperti tadi.
Berkat kata-kata Changmin, mereka semua mengingat lagi memori-memori yang
pernah mereka lewati beberapa tahun silam. Betapa bahagianya kalau mereka bisa
kembali lagi dengan formasi yang utuh. Mungkin seluruh Cassiopeia akan menangis
karena merasa terharu dengan hal itu. Tapi masalahnya, bukan para Cassiopeia
yang akan menjalani kontrak dengan SM. mereka tidak akan pernah mengerti
seperti apa keadaan kelima member ini yang sebenarnya. Karena pada
kenyataannya, tetap tak ada yang bisa menjamin bahwa si produser sialan itu
tidak akan membohongi mereka lagi. Bahkan kalaupun sudah ada janji hitam di
atas putih, itu tak cukup meyakinkan mereka. sebab si produser itu sangat
licik, dia bisa menggunakan tipu muslihat apapun untuk mendapatkan kembali apa
yang diinginkannya.
“Baiklah, aku setuju.” Ucap Yoochun.
Produser tersenyum penuh arti.
“Ada lagi?” tanya sang juru bicara.
“Sebenarnya… aku juga setuju.” Yunho menyambung.
“Jaejoong-shii?” jubir beralih pada Jaejoong.
“Apa jaminan yang bisa kau berikan, untuk membuatku
yakin kalau kali ini kau tidak mem-permainkanku lagi?” tanya Jaejoong.
“Kau boleh
membakar gedung ini kalau aku mempermainkanmu.” Ucap sang produser.
“Menarik juga.” Jaejoong tersenyum kecil. “Baik, aku
setuju.”
“Lalu bagaimana dengan Junsu?” kali ini sang juru
bicara menatap ke arah Junsu. Yang ditanya malah seperti tak mendengar apa-apa.
Hanya menundukkan wajah sambil menggerak-gerakkan kursinya ke kiri dan ke
kanan.
“Juru bicara sedang bicara denganmu, Kim Junsu.” Tegur
Yunho dengan nada datar.
Junsu mengangkat wajahnya, membalas tatapan semua orang
yang menanti jawabannya. Ia lalu mengalihkan pandangan pada produser SM yang
sedang duduk dengan santai di kursinya.
“Apa yang terjadi dengan wajahmu, Tuan produser?
Sepertinya, kau baru mengalami kecelakaan, ya?” nada bicara Junsu terdengar
meledek. Produser memalingkan wajahnya karena malu.
“Kim Junsu, bagaimana keputusanmu?” Jubir bertanya
lagi.
“Aku rasa tuan produser yang terhormat itu lebih tahu
jawabannya daripada aku.” Ujar Junsu lagi. Kini seluruh pandangan tertuju pada
si produser.
“Tuan?” tanya juru bicara. “Apa yang…”
“Aku tidak sudi melakukan apa yang kau minta tempo
hari.” Ucap sang produser.
“Kalau begitu aku juga tak sudi untuk memenuhi
tawaranmu.”
“Ya sudah. Lagipula aku bisa menggantimu dengan orang
yang lebih baik.”
“Baguslah kalau begitu.” Junsu melangkahkan kakinya
keluar dari ruangan tanpa menunggu tanggapan lagi. Tak ada yang bisa
mencegahnya karena mereka semua tercengang melihat kepergian Junsu.
BRUK!
Setelah Junsu menutup pintu, barulah mereka sadar
bahwa mereka telah membiarkan asset berharga itu pergi begitu saja.
“Kau benar-benar akan mencari pengganti Junsu?” tanya
Jaejoong kemudian.
Produser mengangguk santai.
“Kalau begitu, sepertinya kau harus mencari
penggantiku juga.” Dan tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Jaejoong bangkit dari
kursinya dan keluar menyusul Junsu.
“Ada lagi yang ingin digantikan?” tanya produser.
***
Jaejoong POV
Aku hampir berlari saat akan memasuki lift. Karena
pintunya tak juga terbuka, akhirnya aku memutuskan untuk menuruni tangga. Aku
harus bicara dengan Junsu. Harus! Apa yang sebenarnya dia lakukan pada
produser? Apa yang diminta Junsu pada produser?
Akhirnya aku sampai di lantai dasar dengan napas
tersengal-sengal. Junsu tidak ada di sana. Dia mungkin sudah pergi. Tapi
ternyata, saat aku keluar dari gedung, aku melihatnya tengah berlari menuju
area parkir. Aku merasakan kakiku lemas sekali, tak cukup kuat untuk berlari
walaupun hanya semenit. Jadi, aku memutuskan untuk memanggilnya.
“Junsu!!” teriakku. Dia langsung berhenti, dan
menoleh. “Tunggu aku, Junsu! Kita perlu bicara!” aku melanjutkan. Dia menuruti
permintaanku. Akupun berjalan mendekat meski sebenarnya aku ingin dia yang
berbalik menghampiriku. “Katakan, apa yang kau lakukan pada produser?”
“Kau tidak perlu tahu, hyung.” Katanya dingin.
“Jelas saja aku perlu tahu!”
“Untuk apa?! Kau selalu melarangku untuk mencampuri
urusanmu, tapi kau seenaknya ingin tahu urusanku! Kau egois!!” Junsu berteriak
tepat di depan wajahku. Orang-orang yang berlalu-lalang di sana kini
memperhatikan kami.
“Kenapa sekarang kau malah menyalahkanku?!” tanyaku
dengan emosi tak terbendung.
“Tanyakan saja pada dirimu sendiri.” Junsu kembali
berlalu setelah mengatakan kalimat itu.
Jadi dia benar-benar tidak mau bergabung lagi dalam
grup ini?
Aku terpaku beberapa saat sampai aku melihat dia
hendak memasuki mobilnya. Secepat mungkin aku berlari mengejarnya,
menghalanginya masuk ke dalam mobil.
“Junsu!” cegahku hampir menangis. “Apa kau tidak
merindukan masa-masa saat kita menjadi Dong Bang Shin Ki? Apa kau tak ingin bernyanyi
untuk seluruh Cassiopeia seperti dulu lagi? Aku yakin mereka masih menunggu
kita. Kau bilang senyuman fans adalah sesuatu yang sangat berarti untukmu. Tapi
kenapa sekarang kau malah seperti ini…?”
“Aku sudah lelah, hyung. Aku sudah tidak mau lagi.
Bernyanyi, menjadi budak SM, aku sudah bosan dengan semua itu. Aku ingin
menjalani hidupku sendiri. Hidup yang bebas dari dunia hiburan. Jika kau tidak
setuju dengan keputusanku, aku tidak peduli.” Junsu sudah memasuki mobilnya.
Aku tercengang mendengar kata-katanya. Dia bilang, dia bosan bernyanyi…?
Mobil Junsu sudah berbelok dan hampir keluar dari area
parkir. Tapi aku segera menghadangnya.
“Kau kira, jika kau tak mengiyakan tawaran ini, lantas
DBSK akan terbentuk lagi? Kau kira posisimu dalam grup bisa digantikan?!”
tanyaku dengan mata berkaca-kaca.
Wajah dalam mobil itu tidak berekspresi apa-apa. Dia
mengklakson pertanda aku harus menyingkir dari jalannya. Tapi aku tidak mau
pergi sebelum dia mengatakan bahwa dia juga ingin membentuk kembali Dong Bang Shin
Ki yang telah lama mati.
“Aku mohon…” ucapku dengan isak tangis yang tak
tertahan. “Jangan membuatku kehilangan sesuatu yang berharga, yang hampir
kudapatkan kembali…”
Jujur, aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan
Junsu. Aku hanya menangis, aku tahu tak seharusnya aku menangis. Tapi saat ini
hanya itu yang bisa kulakukan. Aku mengerti alasan kenapa ia tak mau menerima
tawaran itu. Tapi yang aku tidak mengerti, kenapa dia terlihat seolah-olah dia
sudah begitu melupakan DBSK? Junsu yang seperti itu… bukan Junsu yang kukenal
selama ini.
***
Author POV
Yoochun, Yunho, dan Changmin menatap kepergian
Jaejoong dan Junsu dengan tatapan heran. Beberapa pembesar SM menggelengkan
kepala mereka, mungkin mereka berfikir bahwa posisi Jaejoong dan Junsu bisa di
gantikan, tapi sampai kapanpun posisi Jaejoong dan Junsu tidak dapat
digantikan, terlebih lagi dihati para Cassiopeia.
Kenapa disaat DBSK hampir bangun dari tidur lamanya,
masih ada rintangan yang harus dilewati. Changmin sudah menghilangkan ego-nya
tetapi kenapa permasalah lain muncul dari Junsu?
Yoochun menghempaskan badannya ke kursi, dan menghela
napas panjang. Dia terlihat sedikit kaget, dan menatap langit-langit ruang
rapat. Dia ingin menjadi bagian dari group, tapi bukan dengan 3 member saja.
Changmin? Bagaimana dengan Changmin? Dia masih menatap
pintu itu dengan tatapan kosong, menanti agar pintu itu kembali terbuka dan 2
sosok yang dinantikannya datang kembali, dua orang yang sangat dirindukannya,
dua orang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya.
Yunho masih terlihat sama tenangnya, dia masih bisa
tersenyum, walaupun senyum itu bukan senyuman kebahagiaan. Tatapan sinis tak
lepas dari sorot matanya, menyapu seluruh ruang rapat.
Bagaimana dengan produser dan semua staff yang hadir
dalam rapat ini? Produser itu masih bisa tersenyum, ego-nya benar-benar tinggi.
Mereka kira posisi Jaejoong dan Junsu bisa digantikan? Digantikan oleh 2 orang
yang beruntung karena menang audisi? Mereka kira semudah itu mencari 2 orang
yang bisa menggantikan posisi Jaejoong dan Junsu, mengisi bagian kosong pada
setiap bagian lagu, mengisi posisis Lead Vocal yang telah ditinggalkan.
Beberapa staff dan pemegang saham SM berbisik-bisik, entahlah apa yang mereka
bicarakan, yang pasti Yoochun, Yunho, dan Changmin tidak mau tahu.
“Ada lagi yang mau digantikan?” Tanya produser itu.
Yoochun, Yunho, dan Changmin tidak bergerak
sedikitpun, tidak membuka mulut mereka untuk menjawab pertanyaan sang produser
itu. Yoochun dan Changmin terlihat sedikit gelisah, menunggu keputusan yang
akan diambil oleh Yunho sebagai leader mereka.
Apakah Yunho akan menyetujui atau dia kan menolak
mentah-mentah tawaran SM kepada mereka? Hanya Yunho yang tau jawabannya.
Produser itu berbalik, menatap ketiga orang yang
pernah bernaung di bawah kekuasaannya. Sorot matanya menantikan jawaban.
“Bagaimana?” Tanya produser itu lagi.
Yunho tersenyum, senyuman yang bisa dibilang
mematikan. Dia tidak menoleh sedikitpun kepada Yoochun dan Changmin, matanya
masih menatap lurus kearah produser itu.
Changmin dan Yoochun menatap Yunho dengan perasaan
yang berdebar-debar.
Apakah ini awal dari bangunnya DBSK dari tidur
panjangnya? Atau ini merupakan akhir dari segalanya?
“Bagaimana?” Untuk kesekian kalinya produser itu
bertanya.
Yunho membuka mulutnya, dia menarik napas panjang.
“Sudah kukatakan padamu tempo hari.” Yunho tersenyum.
“Aku tidak akan mengubah keputusanku.”
“Apa yang kau katakan padanya, hyung?” Changmin
menatap Yunho dengan sinis.
“Baiklah, aku akan berusaha memenuhi apa yang kau
minta.” Produser itu berkata, saat Changmin membuka mulut, sehingga Changmin
tidak protes kepada Yunho.
“Bagus.” Yunho berkata sambil berjalan menuju pintu
keluar. “Aku tidak akan comeback dengan formasi yang setengah-setengah.”
“Hyung tunggu!” Changmin berteriak memanggil Yunho
yang sudah keluar. Yoochun meng-ikuti Changmin dan Yunho keluar ruang rapat.
“Hyung!!!” Changmin berusaha mengejar Yunho yang sudah
masuk kedalam lift. “Yoochun hyung? Bagaimana?”
“Kita tanyakan padanya apa yang dia minta.” Yoochun
memberi saran, pintu lift kembali terbuka, tetapi tak ada sosok Yunho
didalamnya.
“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” Tanya Changmin
kepada Yoochun.
“Kita harus mencarinya.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar