Rumah Changmin adalah rumah
termegah yang pernah dilihat Jaejoong selama ini. Besar ruang tamunya saja
nyaris sama luas dengan lantai bawah panti asuhan Jaejoong. Di rumah yang lebih
mirip hotel itu, Changmin hanya sendirian dengan beberapa pelayan. Orang tuanya
hanya pulang enam bulan sekali, dan itupun sangat jarang mereka bertemu dengan
Changmin. Berada di tengah-tengah anak orang kaya seperti mereka, membuat
Jaejoong berpikir betapa ia sangat berbeda. Apa yang membuat anak-anak orang
kaya ini sampai tertarik untuk mengajaknya bergabung dalam grup?
“Kelihatannya anak Jepang itu
sangat kehilanganmu ya?” ucap Junsu saat mereka berlima duduk di sofa Changmin
yang lembut dan empuk. Jaejoong tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya
mengangkat bahu menandakan ia tak punya jawaban.
“Aku tidak menyangka kau
benar-benar tega membuatnya menangis sampai berlutut seperti itu.” Yunho menyambung.
Wajah dinginnya tampak menunjukkan ekspersi kepuasan.
“Itu mudah saja.” Ucap Jaejoong
pelan. “Membuatnya menangis, atau mencium kakiku sekalipun.”
“Ehm… hyung, coba aku lihat jas
seragam yang kau pakai.” Ucap Changmin. Jaejoong melongo sebentar. Ia pun hanya
menuruti perintah Changmin dan segera melepaskan jasnya. Changmin mengambil jas
itu dan memandang logo yang tertera di bagian depan. “Dari mana kau dapatkan
jas ini?”
“Apa maksudmu?” Jaejoong balik
bertanya.
“Aku yakin ini bukan seragam yang
diberikan sekolah, karena logonya bukan logo sekolah kita. Ini logo sekolah
Jepang.” Ucap Changmin sambil menunjukkan lencana yang menempel di jas itu.
Kini mereka berempat menatap
Jaejoong dengan sorot mata menghakimi.
“Aku meminjamnya dari Gii. Dia
adalah… kakaknya Misuzawa.” Jawab Jaejoong enteng.
Changmin langsung menjatuhkan jas
itu ke lantai dan menginjaknya dengan sengaja. Jaejoong melotot kaget melihat
perlakuan Changmin.
“Kembalikan jas itu secepatnya!
Kalau kau tidak punya jas seragam, aku bisa meminjamkanmu sebanyak yang kau
mau.” Ucap Yunho.
Tubuh Jaejoong gemetar oleh
perkataan itu. Apakah mereka berempat tidak sadar siapa yang sudah menyebabkan
ia jadi tak punya jas seragam? Apa mereka sudah lupa dengan insiden cat tumpah
itu? Saat Jaejoong terkena tumpahan cat, Nako adalah satu-satunya orang yang
peduli dengannya dan mau menolongnya. Membantunya membersihkan jas,
mengizinkannya menginap, meminjamkan seragam kakaknya. Nako begitu baik
walaupun mereka baru saling mengenal.
“Hei, kau dengar aku tidak?”
tanya Yunho lagi. Jaejoong hanya mengangguk.
“Jangan pernah meminjam apapun
lagi padanya. Mulai hari ini, jika kau butuh sesuatu, katakan saja pada kami.
Sebisa mungkin kami akan membantumu.” Suara Yoochun menjadi suara terakhir yang
didengar Jaejoong sebelum akhirnya dia pergi ke kamar mandi untuk melampiaskan
kekesalannya.
***
Awan mendung lagi-lagi tampak
menyelimuti langit. Nako sudah menunggu selama hampir dua jam di depan gerbang
panti asuhan itu. Tadi dia sudah menemui ibu panti, dan katanya Jaejoong belum
pulang. Jadi demi bertemu dengan Jaejoong, Nako rela menunggu sampai Jaejoong
kembali. Ia tahu ia takkan bisa mengajak Jaejoong bicara di sekolah, karena
keempat makhluk menyebalkan itu pasti akan selalu membatasi ruang geraknya.
Jika ia datang ke panti asuhan ini, ia bisa bicara empat mata dengan Jaejoong.
Karena yang ia perlu tahu hanya satu, kenapa Jaejoong bisa bergabung dengan
gangster itu.
Hembusan angin mengirim sensasi
rasa dingin yang menyusup sampai ke tubuh Nako. Ia menyadari ada seseorang yang
berdiri beberapa meter di depannya. Ia mengalihkan pandangannya dari tanah yang
ia pijak, menatap sosok pria pucat yang kini menatapnya serius.
“Ada apa kau ke sini?” tanya
Jaejoong sambil berjalan mendekat. Nako merasa jantungnya berhenti berdetak
saat tubuh Jaejoong hanya selangkah di depannya.
“Aku… aku… aku hanya….”
“Pulanglah. Orang tuamu pasti
mencemaskanmu.”
“Tapi, Jaejoong…”
“Oh iya, aku lupa.” Jaejoong
merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah seragam sekolah. Ia melemparkan seragam
itu tepat ke wajah Nako. “Aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Jadi seragam itu
kukembalikan saja. Sampaikan pada Gii bahwa aku sangat berterima kasih.”
Nako tidak bisa mengucapkan
apa-apa. Rahangnya terkunci. Ia menatap Jaejoong yang sudah berjalan memasuki
gerbang. Jaejoong bahkan tidak menoleh lagi padanya dan terus berjalan memasuki
panti asuhan. Nako menggigit bibirnya dan menelan ludah berkali-kali untuk
menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia memandangi seragam milik Gii yang kini
sudah ada di tangannya. Ia benar-benar tidak percaya Jaejoong akan berubah
secepat itu. Pasti keempat makhluk brengsek itu telah mempengaruhi Jaejoong
sampai sikap Jaejoong jadi seperti itu. Mereka memang brengsek! Nako lebih
memilih dikerjai setiap hari daripada dia harus kehilangan seseorang yang
sangat berharga seperti Jaejoong. Dan ia bersumpah bahwa ia takkan memaafkan
mereka lagi atas apa yang telah mereka lakukan kali ini.
***
Jaejoong terduduk di belakang
pintu kamarnya. Ia merasa air mata memaksa jatuh, tapi ia tak ingin menangisi
apapun. Bersikap seperti itu di depan Nako benar-benar membuatnya merasa
sebagai orang yang sangat jahat. Ia tahu Nako pasti terluka oleh sikapnya tadi,
ia tahu tak seharusnya ia bersikap seperti itu. Tapi ia harus bagaimana lagi?
Mana mungkin ia bersikap lembut lagi di depan Nako? Ia tak mau memberi harapan
pada Nako untuk bisa berteman dengannya lagi. Karena Jaejoong sadar, ia tak
pernah pantas menjadi teman bagi siapapun. Ia hanya orang jahat, dan selamanya
akan tetap begitu.
***
Pikiran Nako sudah tidak bisa
terfokus lagi pada buku-buku pelajaran di tangannya. Dia meletakkan buku-buku
itu ke meja belajar, menaruh semua alat tulis yang sejak tadi dipegangnya. Kini
Nako duduk memeluk lutut di atas kasurnya. Dia menatap kosong ke arah seragam
Jaejoong yang tergeletak tepat di hadapannya. Seragam yang penuh cat. Jaejoong
lupa membawa seragam itu pulang, dan Nako masih menyimpan seragam itu di sana.
Waktu itu Jaejoong masih bisa tersenyum padanya, bahkan berada di rumah ini
walaupun hanya satu malam. Nako segera mengusap matanya yang mulai basah. Ia
belum pernah merasakan kehilangan sampai seperti ini. Sesakit ini.
“Nako?” sebuah suara terdengar
memanggil di luar pintu. “Kau sudah tidur?”
“Belum…” jawab Nako pelan. Pintu
itupun terbuka. Nako melihat ibunya masuk dan membawakan segelas air putih.
“Kau menangis?” tanya Ny.
Misuzawa sambil mengamati wajah putrinya. Nako menggeleng asal. Dia tahu dia
takkan bisa membohongi ibunya, tapi dia tetap tidak bisa mengakui begitu saja
bahwa ia menangis. Terlebih, ia menangisi sesuatu hal yang tidak akan bisa
dipahami ibunya.
“Aku baik-baik saja, okaasan.”
Ucap Nako sambil menunjukkan senyum palsu.
“Okaasan tahu kau tidak sedang
baik-baik saja. Ceritakan masalahmu pada okaasan, jangan dipendam sendiri.”
Ucap Ny. Misuzawa sambil membelai rambut putrinya dengan lembut. Nako merasa
tidak ada satupun orang yang bisa ia jadikan tempat bercerita mengenai masalah
ini. Ia hanya merasa nyaman saat bercerita pada Jaejoong. Tapi kini, ia justru
memiliki masalah dengan Jaejoong. Masalah yang sama sekali tidak dimengertinya.
Dan kini ia merasa Jaejoong seolah sengaja menjauhinya. Anak itu tidak pernah
bersungguh-sungguh ingin berteman dengannya. Orang Korea memang jahat!
“Aku mau pulang ke Jepang saja.”
Ucap Nako kemudian. Ny. Misuzawa langsung melotot kaget.
“Karena teman-teman sekolahmu
yang nakal itu?” tebak Ny. Misuzawa. Nako menggeleng kuat-kuat. “Lalu kenapa
kau ingin pindah ke Jepang?”
Nako memejamkan matanya sejenak.
Pikirannya melayang-layang mengingat wajah dingin Jaejoong dan semua kalimat
yang diucapkan Jaejoong padanya. Secepat itu dia berubah, seolah kemarin mereka
masih berteman, dan hari ini mereka bermusuhan tanpa alasan yang jelas. Tapi
entah bagaimana, Nako tidak merasa bahwa Jaejoong memusuhinya. Ada sesuatu yang
tersembunyi di balik alasannya bergabung dengan gangster itu. Tapi apa? Nako
sama sekali tak bisa menebaknya. Dan Jaejoong pun sepertinya tak mau
memberitahukan hal itu.
“Aku hanya merasa tempatku bukan
di sini, Okaasan. Aku akan merasa lebih baik jika tinggal di Jepang.” Ucap Nako
sambil memaksakan bibirnya tersenyum.
“Baiklah, nanti okaasan coba
bicarakan degan otousan. Kalau otousan mengizinkan, maka kau boleh pulang ke
Jepang.”
“Terima kasih, okaasan.”
Nako tahu keputusannya ini memang
terlalu berlebihan. Hanya karena Jaejoong menjauhinya saja, ia langsung ingin
pindah sekolah. Tapi di balik semua itu, ia tak bisa membohongi perasaannya
sendiri betapa ia sangat tidak nyaman berada di sekolah itu. Ia sudah mencoba
bertahan selama hampir dua tahun, dikerjai setiap hari dan dihina oleh mereka
semua. Ia bertahan karena perminataan orang tuanya. Tapi saat ini, beban yang
dipikulnya bukan hanya hinaan dan caci maki dari anak-anak Korea itu, tapi juga
rasa sakit hati yang begitu dalam atas sikap Jaejoong. Namun tetap saja, Nako
merasa hatinya tak bisa membenci Jaejoong. Walau sebesar apapun Jaejoong telah
melukai perasaannya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar