Welcome

Senin, 21 Mei 2012

The Gangster (part 12)


Rumah Changmin adalah rumah termegah yang pernah dilihat Jaejoong selama ini. Besar ruang tamunya saja nyaris sama luas dengan lantai bawah panti asuhan Jaejoong. Di rumah yang lebih mirip hotel itu, Changmin hanya sendirian dengan beberapa pelayan. Orang tuanya hanya pulang enam bulan sekali, dan itupun sangat jarang mereka bertemu dengan Changmin. Berada di tengah-tengah anak orang kaya seperti mereka, membuat Jaejoong berpikir betapa ia sangat berbeda. Apa yang membuat anak-anak orang kaya ini sampai tertarik untuk mengajaknya bergabung dalam grup?

“Kelihatannya anak Jepang itu sangat kehilanganmu ya?” ucap Junsu saat mereka berlima duduk di sofa Changmin yang lembut dan empuk. Jaejoong tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya mengangkat bahu menandakan ia tak punya jawaban.

“Aku tidak menyangka kau benar-benar tega membuatnya menangis sampai berlutut seperti itu.” Yunho menyambung. Wajah dinginnya tampak menunjukkan ekspersi kepuasan.

“Itu mudah saja.” Ucap Jaejoong pelan. “Membuatnya menangis, atau mencium kakiku sekalipun.”

“Ehm… hyung, coba aku lihat jas seragam yang kau pakai.” Ucap Changmin. Jaejoong melongo sebentar. Ia pun hanya menuruti perintah Changmin dan segera melepaskan jasnya. Changmin mengambil jas itu dan memandang logo yang tertera di bagian depan. “Dari mana kau dapatkan jas ini?”

“Apa maksudmu?” Jaejoong balik bertanya.

“Aku yakin ini bukan seragam yang diberikan sekolah, karena logonya bukan logo sekolah kita. Ini logo sekolah Jepang.” Ucap Changmin sambil menunjukkan lencana yang menempel di jas itu.

Kini mereka berempat menatap Jaejoong dengan sorot mata menghakimi.

“Aku meminjamnya dari Gii. Dia adalah… kakaknya Misuzawa.” Jawab Jaejoong enteng.

Changmin langsung menjatuhkan jas itu ke lantai dan menginjaknya dengan sengaja. Jaejoong melotot kaget melihat perlakuan Changmin.

“Kembalikan jas itu secepatnya! Kalau kau tidak punya jas seragam, aku bisa meminjamkanmu sebanyak yang kau mau.” Ucap Yunho.

Tubuh Jaejoong gemetar oleh perkataan itu. Apakah mereka berempat tidak sadar siapa yang sudah menyebabkan ia jadi tak punya jas seragam? Apa mereka sudah lupa dengan insiden cat tumpah itu? Saat Jaejoong terkena tumpahan cat, Nako adalah satu-satunya orang yang peduli dengannya dan mau menolongnya. Membantunya membersihkan jas, mengizinkannya menginap, meminjamkan seragam kakaknya. Nako begitu baik walaupun mereka baru saling mengenal.

“Hei, kau dengar aku tidak?” tanya Yunho lagi. Jaejoong hanya mengangguk.

“Jangan pernah meminjam apapun lagi padanya. Mulai hari ini, jika kau butuh sesuatu, katakan saja pada kami. Sebisa mungkin kami akan membantumu.” Suara Yoochun menjadi suara terakhir yang didengar Jaejoong sebelum akhirnya dia pergi ke kamar mandi untuk melampiaskan kekesalannya.

***

Awan mendung lagi-lagi tampak menyelimuti langit. Nako sudah menunggu selama hampir dua jam di depan gerbang panti asuhan itu. Tadi dia sudah menemui ibu panti, dan katanya Jaejoong belum pulang. Jadi demi bertemu dengan Jaejoong, Nako rela menunggu sampai Jaejoong kembali. Ia tahu ia takkan bisa mengajak Jaejoong bicara di sekolah, karena keempat makhluk menyebalkan itu pasti akan selalu membatasi ruang geraknya. Jika ia datang ke panti asuhan ini, ia bisa bicara empat mata dengan Jaejoong. Karena yang ia perlu tahu hanya satu, kenapa Jaejoong bisa bergabung dengan gangster itu.

Hembusan angin mengirim sensasi rasa dingin yang menyusup sampai ke tubuh Nako. Ia menyadari ada seseorang yang berdiri beberapa meter di depannya. Ia mengalihkan pandangannya dari tanah yang ia pijak, menatap sosok pria pucat yang kini menatapnya serius.

“Ada apa kau ke sini?” tanya Jaejoong sambil berjalan mendekat. Nako merasa jantungnya berhenti berdetak saat tubuh Jaejoong hanya selangkah di depannya.

“Aku… aku… aku hanya….”

“Pulanglah. Orang tuamu pasti mencemaskanmu.”

“Tapi, Jaejoong…”

“Oh iya, aku lupa.” Jaejoong merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah seragam sekolah. Ia melemparkan seragam itu tepat ke wajah Nako. “Aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Jadi seragam itu kukembalikan saja. Sampaikan pada Gii bahwa aku sangat berterima kasih.”

Nako tidak bisa mengucapkan apa-apa. Rahangnya terkunci. Ia menatap Jaejoong yang sudah berjalan memasuki gerbang. Jaejoong bahkan tidak menoleh lagi padanya dan terus berjalan memasuki panti asuhan. Nako menggigit bibirnya dan menelan ludah berkali-kali untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia memandangi seragam milik Gii yang kini sudah ada di tangannya. Ia benar-benar tidak percaya Jaejoong akan berubah secepat itu. Pasti keempat makhluk brengsek itu telah mempengaruhi Jaejoong sampai sikap Jaejoong jadi seperti itu. Mereka memang brengsek! Nako lebih memilih dikerjai setiap hari daripada dia harus kehilangan seseorang yang sangat berharga seperti Jaejoong. Dan ia bersumpah bahwa ia takkan memaafkan mereka lagi atas apa yang telah mereka lakukan kali ini.

***

Jaejoong terduduk di belakang pintu kamarnya. Ia merasa air mata memaksa jatuh, tapi ia tak ingin menangisi apapun. Bersikap seperti itu di depan Nako benar-benar membuatnya merasa sebagai orang yang sangat jahat. Ia tahu Nako pasti terluka oleh sikapnya tadi, ia tahu tak seharusnya ia bersikap seperti itu. Tapi ia harus bagaimana lagi? Mana mungkin ia bersikap lembut lagi di depan Nako? Ia tak mau memberi harapan pada Nako untuk bisa berteman dengannya lagi. Karena Jaejoong sadar, ia tak pernah pantas menjadi teman bagi siapapun. Ia hanya orang jahat, dan selamanya akan tetap begitu.

***

Pikiran Nako sudah tidak bisa terfokus lagi pada buku-buku pelajaran di tangannya. Dia meletakkan buku-buku itu ke meja belajar, menaruh semua alat tulis yang sejak tadi dipegangnya. Kini Nako duduk memeluk lutut di atas kasurnya. Dia menatap kosong ke arah seragam Jaejoong yang tergeletak tepat di hadapannya. Seragam yang penuh cat. Jaejoong lupa membawa seragam itu pulang, dan Nako masih menyimpan seragam itu di sana. Waktu itu Jaejoong masih bisa tersenyum padanya, bahkan berada di rumah ini walaupun hanya satu malam. Nako segera mengusap matanya yang mulai basah. Ia belum pernah merasakan kehilangan sampai seperti ini. Sesakit ini.

“Nako?” sebuah suara terdengar memanggil di luar pintu. “Kau sudah tidur?”

“Belum…” jawab Nako pelan. Pintu itupun terbuka. Nako melihat ibunya masuk dan membawakan segelas air putih.

“Kau menangis?” tanya Ny. Misuzawa sambil mengamati wajah putrinya. Nako menggeleng asal. Dia tahu dia takkan bisa membohongi ibunya, tapi dia tetap tidak bisa mengakui begitu saja bahwa ia menangis. Terlebih, ia menangisi sesuatu hal yang tidak akan bisa dipahami ibunya.

“Aku baik-baik saja, okaasan.” Ucap Nako sambil menunjukkan senyum palsu.

“Okaasan tahu kau tidak sedang baik-baik saja. Ceritakan masalahmu pada okaasan, jangan dipendam sendiri.” Ucap Ny. Misuzawa sambil membelai rambut putrinya dengan lembut. Nako merasa tidak ada satupun orang yang bisa ia jadikan tempat bercerita mengenai masalah ini. Ia hanya merasa nyaman saat bercerita pada Jaejoong. Tapi kini, ia justru memiliki masalah dengan Jaejoong. Masalah yang sama sekali tidak dimengertinya. Dan kini ia merasa Jaejoong seolah sengaja menjauhinya. Anak itu tidak pernah bersungguh-sungguh ingin berteman dengannya. Orang Korea memang jahat!

“Aku mau pulang ke Jepang saja.” Ucap Nako kemudian. Ny. Misuzawa langsung melotot kaget.

“Karena teman-teman sekolahmu yang nakal itu?” tebak Ny. Misuzawa. Nako menggeleng kuat-kuat. “Lalu kenapa kau ingin pindah ke Jepang?”

Nako memejamkan matanya sejenak. Pikirannya melayang-layang mengingat wajah dingin Jaejoong dan semua kalimat yang diucapkan Jaejoong padanya. Secepat itu dia berubah, seolah kemarin mereka masih berteman, dan hari ini mereka bermusuhan tanpa alasan yang jelas. Tapi entah bagaimana, Nako tidak merasa bahwa Jaejoong memusuhinya. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik alasannya bergabung dengan gangster itu. Tapi apa? Nako sama sekali tak bisa menebaknya. Dan Jaejoong pun sepertinya tak mau memberitahukan hal itu.

“Aku hanya merasa tempatku bukan di sini, Okaasan. Aku akan merasa lebih baik jika tinggal di Jepang.” Ucap Nako sambil memaksakan bibirnya tersenyum.

“Baiklah, nanti okaasan coba bicarakan degan otousan. Kalau otousan mengizinkan, maka kau boleh pulang ke Jepang.”

“Terima kasih, okaasan.”

Nako tahu keputusannya ini memang terlalu berlebihan. Hanya karena Jaejoong menjauhinya saja, ia langsung ingin pindah sekolah. Tapi di balik semua itu, ia tak bisa membohongi perasaannya sendiri betapa ia sangat tidak nyaman berada di sekolah itu. Ia sudah mencoba bertahan selama hampir dua tahun, dikerjai setiap hari dan dihina oleh mereka semua. Ia bertahan karena perminataan orang tuanya. Tapi saat ini, beban yang dipikulnya bukan hanya hinaan dan caci maki dari anak-anak Korea itu, tapi juga rasa sakit hati yang begitu dalam atas sikap Jaejoong. Namun tetap saja, Nako merasa hatinya tak bisa membenci Jaejoong. Walau sebesar apapun Jaejoong telah melukai perasaannya.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar