Hana POV
Jaejoong oppa sedang duduk di ruang tamu, mengganti
channel televisi dari yang satu ke yang lain. Walaupun matanya menatap kearah
TV tapi tatapan itu bukan tatapan yang sedang menikmati acara TV, tatapan itu
tatapan kosong.
Aku duduk di sebelahnya, aku sedikit memberi jarak
karena aku masih sedikit kesal dengan-nya. Percakapan terkahirku dengannya
membuatku kesal. Aku berfikir bahwa Jaejoong oppa bersikap sedikit egois,
meninggalkan Yoochun oppa dan yang lainnya dalam masalah seperti ini. Jaejoong
oppa mencoba meraih rambutku, dia berniat untuk membelai lembut rambutku.
Tetapi aku segera menarik diri, agar dia tak bisa menyentuhku.
“Kau masih marah?” Ujar Jaejoong, dia kembali
mengganti channel. Jaejoong tak berani menatapku, dia tak mau membuatku semakin
marah.
“….” Aku diam seribu bahasa, aku tak mau menjawab
pertanyaan itu. Tanpa aku jawabpun dia sudah tau jawabannya.
Jaejoong membalikan tubuhnya dia menatapku, mencoba
menggenggam tanganku, berkali-kali aku melepaskan genggaman tangannya, tapi dia
tetap berusaha mencoba kembali meraih jemari-jemariku. Aku menyerah,
membiarkannya mencengkram jemariku.
“Hana..” dia terdiam, menunggu rekasiku tapi aku tak
mengeluarkan ekspresi apapun, kemudian dia melanjutkan. “Aku minta maaf,
mungkin aku memang egois tapi aku yakin Yoochun bisa menyelesaikan masalah ini
tanpa bantuan dariku.”
“Tapi itu sama saja kau mengantarkannya menuju
jurang!” Aku menarik tanganku, melepas-kan tangan Jaejoong. “Kau
meninggalkannya pada saat seperti ini, di saat dia membutuhkan bantuan dan
dukungan.”
“Aku tak akan pernah meninggalkannya, aku hanya
berusaha mendukungnya dari belakang.” Jaejoong terdiam, tangannya kembali
meraih remote TV dan mengganti-ganti channel. Aku hanya menatap kosong kearah
TV. “Yoochun telah dewasa, dia pasti bisa menyelesaikan masalah ini…”
Aku mencoba memfokuskan pandangangku ke arah TV. Jika
aku tidak salah lihat tadi aku melihat Kyuhyun.
“Oppa coba kau kembali ke
channel yang tadi.” Aku memotong.
“Eh?” Dia terlihat bingung, tapi dia tetap melakukan
apa yang aku perintahkan.
Saluran TV itu memutarkan sebuah video clip Super
Junior, Kyuhyun merupakan member dari Super Junior dan dia adalah adikku
satu-satunya. Aku sangat merindukannya, sudah lama aku tidak mengunjunginya.
Sejak aku menikah aku tak pernah mengunjunginya di apartment milik Super
Junior, terakhir kali kau melihatnya saat aku terbaring di rumah sakit dan dia
mengatakan bahwa dia akan pergi ke Jepang.
“Kau merindukannya?” Suara Jaejoong membuyarkan
lamunanku.. Aku diam tak manjawab pertanyaannya, Ya! Aku sangat merindukannya. “Aku
harap dia baik-baik saja di Jepang.” Ujar Jaejoong.
“Dia terlihat semakin dewasa.”
Bip-Bip-Bip
Ponselku berbunyi, sebuah panggilan masuk dari nomor
yang tak kukenal.
“Hallo?” aku menjawab telepon itu.
“Hallo. Selamat malam. Apa ini dengan Cho Hana?” Suara
di seberang bertanya.
“Benar, ini siapa ya?”
“Ini aku Leeteuk, aku ingin memberitahumu bahwa
Kyuhyun kecelakaan sekarang dia sedang kritis di rumah sakit. Dia mengalami
pendarahan dan beberapa tulang rusuknya patah.”
“……” Aku diam,
beberapa bulir air mata menetes melewati pipiku. Jaejoong oppa panik dan dia segera
mendekatiku, dan memeluk bahuku dan membisikan beberapa kata yang cukup
menenangkanku.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” Aku bertanya, aku
sudah tak bisa menahan air mataku lagi, jadi aku membiarkannya mengalir.
“Sekarang dia sedang di tangani dokter, aku tak tahu
keadaan selanjutnya. Sebelum dia masuk ruang operasi dia sempat menyebut-nyebut
namamu. Kurasa dia ingin kau berada di sisinya saat ini.”
Klik. Aku memutuskan sambungan telepon. Aku tak mau
mendengar lebih banyak lagi.
Sudah cukup! Kyuhyun adik semata wayangku kecelakaan.
Kenapa? kenapa harus dia?
Kenapa harus adikku!! Aku menjerit, menutupi wajahku
dengan kedua tanganku. Sekali lagi aku menjerit. Aku tak mau kehilangan
Kyuhyun.“Ada apa?” Jaejoong memelukku, membelai lembut rambutku.
“Kyu..” Aku terisak-isak histeris. “Dia.. hiks.. dia..
kecelakaan… hiks.. sekarang.. hiks.. hiks.. dia dalam keadaan kritis..”
“Bagaimana mungkin?” Jaejoong oppa memelukku semakin
erat. “Kita ke Jepang sekarang!”
***
***
Author POV
Taeyeon duduk manis di bangku café, sepertinya dia
menunggu seseorang. Pasti dia menung-gu Junsu. Sudah 55 menit dari waktu yang
di janjikan, tapi Junsu tak juga menampakan batang hidungnya.
Taeyeon kembali melirik jam tangannya, hatinya terasa
gelisah, dia takut terjadi apa-apa dengan Junsu. Tak bisanyanya dia datang
terlambat, walaupun terlambat tak pernah lebih dari 30 menit.
Apa yang terjadi dengan Junsu?
Junsu datang terengah-engah, dia mencoba mengatur
nafasnya. Setelah cukup teratur dia duduk di depan Taeyeon. Taeyeon tersenyum lembut,
seakan Junsu tak pernah membuat kesalahan kepadanya karena membuatnya menunggu
sendirian di café.
“Oppa lebih baik kau minum dulu.” Taeyeon menyodorkan
segelas juice ke arah Junsu, dan Junsu menerimanya, meneguknya sampai habis.
“Maaf aku terlambat.” Junsu memulai percakapan dengan
meminta maaf kepada Taeyeon.
“Tak masalah.” Jawabnya, dia masih tersenyum lembut.
“Kurasa ada urusan penting yang harus kau kerjakan terlebih dulu.”
“Kau benar.” Junsu bersandar pada kursi, tangannya
mulai mengacak-ngacak rambutnya sendiri.
Taeyeon mendekat badannya ke meja. Melipat tangannya
dan meletakkan dagunya di atas tangannya. Menatap wajah Junsu, menikmati setiap
lekukan wajahnya. Dia sangat manis.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” Junsu kembali pada
posisi semula, mengerutkan alisnya dan menatap Taeyeon yang tersenyum sendiri.
“Tidak.” Taeyeon masih terus menatap wajah Junsu. “Kau
sendiri, kau terlihat lebih frustasi sekarang. ada masalah?”
“Yah! Kau benar.” Kata Junsu, menghempaskan badannya
pada sandaran kursi. “Aku tak tau kapan masalah ini akan selesai.”
“Masalah ini akan selesai, tadi Jessica memberitahuku
bahwa ibu produser sudah melayangkan surat tuntutannya ke Yoochun oppa, kurasa
pengadilan sudah di depan mata.”
“APA?!!” Junsu berteriak, dia menatap Taeyeon dengan
tatapan tidak percaya. “Bagaimana kau tau?”
Taeyeon duduk dengan tegak, dia merasa telah
mengucapkan kata-kata yang salah. Dia tak mau mempersulit keadaan tapi dia
mengatakan hal itu tanpa dosa. Seakan itu bukan masalahnya, dan Taeyeon mengutuk
dirinya sendiri karena telah mengatakan hal tersebut.
“Jessica yang memberitahuku.” Taeyeon tertunduk. “Jadi
bagaimana selanjutnya? Kau akan membayar ganti rugi tersebut? Bukannya kau
sudah mendapatkan uang seratus juta won?”
“Aku sudah mengembalikannya.” Kata Junsu, “Mereka tak
mau menerima uang pinjaman tersebut.”
“Apa mereka tidak berpikir bahwa kau mempertaruhkan
harga dirimu untuk meminjam uang tersebut.” Taeyeon cemberut.
Junsu terkekeh pelan. “Hanya kau yang mengerti
posisiku.” Taeyeon tersenyum.
“Apa mereka tak menghargaimu sebagai rekan mereka.” Taeyeon
memulai kembali. “Kau sudah mengembalikan uang tersebut?”
“Yep.” Jawabnya singkat.
“Lalu bagaimana?” Tanya Taeyeon penasaran.
“Aku hanya mengembalikannya, lalu sekarang aku duduk
disini bersamamu.” Jawab Junsu, itu adalah jawaban yang tak ingin di dengar
oleh Taeyeon.
“Oppa, maksudku. Bagaimana kau membayar ganti rugi
itu?”
“Aku tak tahu, kurasa jalan terkahir adalah jalan
hukum.”Junsu memutar bola matanya. “Seperti yang diinginkan Yoochun hyung.”
“Lalu..” Taeyeon hendak bertanya kembali, tapi Junsu
memotongnya.
“Jika kau masih bertanya lagi, maka aku akan
menciummu.”
***
Changmin POV
Bayang-bayang suasana pengadilan tergambar jelas di
depan wajahku. Aku benar-benar tak ingin berada di ruangan itu lagi untuk yang
kedua kalinya. Bahkan kini, walaupun bukan aku yang akan duduk di kursi
terdakwa, tapi rasanya sama saja. Melihat Yoochun hyung ada di sana sendirian,
lebih baik aku tidak perlu datang ke pengadilan itu.
Kupandangi koper yang kutaruh di jok sebelahku. Uang
yang kudapatkan dari appa.
Memang, jumlahnya hanya separuh dari yang kubutuhkan,
dan untuk mencukupi semuanya, aku akan pergi untuk mengambil seluruh
tabunganku. Sebenarnya aku tidak yakin apakah uang tabunganku akan cukup untuk
menggenapi jumlah ini. Tapi aku akan mencobanya dulu. Seingatku, tabungan yang
kusimpan di bank jumlahnya hampir lima puluh juta won. Kuharap jumlah
tabunganku saat ini benar-benar cukup untuk menyelamatkan Yoochun hyung dari
tuntutan itu.
Begitu sampai di depan bank, aku berhenti. Kuparkirkan
mobilku di tempat yang telah ter-sedia. Akupun berjalan keluar dari mobil,
memasuki bank dan mengacuhkan tatapan orang-orang yang sepertinya sedang
berbisik-bisik membicarakanku. Kasus yang kami alami dengan SM memang sudah
menyebar luas. Walau tak satupun pihak yang terlibat membuka masalah ini di
depan publik, tapi masyarakat seprtinya tahu secara otomatis mengenai kasus
ini.
“Boleh lihat kartu Anda?” tanya pegawai bank saat aku
mengemukakan maksudku. Akupun segera menyerahkan buku tabunganku. Pegawai itu
mengetikkan sesuatu pada monitornya, dan setelah itu dia menyerahkan bukuku
kembali. “Jumlah uang Anda 470 juta won.”
Aku terdiam mendengarnya. Masih kurang 30 juta won
lagi untuk menggenapi jumlah uang yang diminta ibu produser. Kurasa aku bisa
mendapatkannya dari Yunho hyung.
“Baiklah, aku ingin mengambil semuanya.” Ucapku
kemudian.
Pegawai bank itu langsung menjalankan perintahku. Tapi
sesaat kemudian, aku merasakan ponselku bergetar. Ada pesan masuk, dari nomor yang
tidak kukenal.
Aku ingin bicara denganmu. Di taman
kota. Sekarang. –Meissy-
Aku tak berkedip membaca pesan singkat itu. Meissy?
Itu kan… pacarnya Yoochun hyung. Ada apa dia mengajakku bicara? Aku bahkan
tidak mengenalnya. Apa… sebaiknya aku tak usah datang saja? Tapi aku penasaran!
“Ini, Tuan.” Suara pegawai bank itu mengejutkanku. Aku
melongok koper yang disodor-kannya.
“Terima kasih.” Ucapku sambil bergegas pergi sambil
membawa koper itu.
Taman kota… letaknya tidak terlalu jauh dari sini. Aku
bisa sampai di sana dengan cepat. Tapi… aku merasa ragu untuk bertemu dengan
Meissy. Hmm, mungkin saja ada hal penting yang ingin dibicarakannya. Jadi
kuputuskan untuk menemuinya di tempat itu.
Saat aku sampai, aku langsung melihatnya duduk
sendirian. Dia melambai padaku, me-nyuruhku untuk menghampirinya. Akupun hanya
bisa menurut.
“Ada apa?” tanyaku canggung.
“Aku ingin bicara denganmu, tentang Yoochun.”
“Langsung saja ke inti. Aku tidak punya banyak waktu.”
“Hmm, baiklah.” Meissy tampak berubah mood. “Aku sudah
tahu semuanya. Tentang denda yang harus kalian bayar, dan tentang kegigihan
kalian untuk membantu Yoochun. Aku sangat berterimakasih atas semua itu. Tapi,
aku ingin memberitahumu bahwa sebenarnya kau tidak perlu melakukan apapun untuk
membantu Yoochun. Simpan saja semua uangmu dan tenagamu untuk hal yang lebih
berguna. Aku janjikan, Yoochun akan bisa menghadapi pengadilan itu tanpa
bantuanmu atau ketiga rekanmu yang lain.”
Aku mengepalkan tinjuku erat-erat mendengar ucapan
Meissy. Dia sama egoisnya dengan Yoochun hyung. Aku curiga, jangan-jangan,
Meissy lah yang sudah mengirim sugesti pada Yoochun hyung agar tidak menerima
bantuan kami.
“Apa kau bisa jamin kalau Yoochun hyung akan
memenangkan sidang itu?”
“Tentu saja.”
“Kenapa kau bisa sangat yakin?”
“Karena aku tahu siapa yang akan menjadi kuasa hukum
Yoochun di pengadilan itu.”
“Siapa memangnya?”
“Anak dari sang penuntut. Go Ara.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar