Welcome

Senin, 21 Mei 2012

The Gangster (part 8)


Hembus angin yang mulai terasa dingin membuat Jaejoong menutup matanya lagi. Dia sudah berlari hampir 5 km jauhnya dari sekolah itu. Sekolah yang terasa seperti neraka. Dipenuhi dengan orang-orang tak bermoral yang membuatnya jengah jika harus berada di tengah-tengah mereka. Jaejoong kini sudah berada di sebuah tempat yang cukup sesuai untuk menyendiri. Ia bisa merasakan air matanya hendak jatuh berlinang ke pipi, tapi ia menghapusnya dengan cepat.

Bagaimana mungkin ia menangis untuk sesuatu hal yang tidak dimengertinya?

Kata-kata Yoochun tadi masih terngiang di telinganya. Ia kabur dari sekolah bukan karena sampah-sampah yang menimbun mejanya, tapi karena ucapan Yoochun. Betapa menyakitkannya saat orang lain mengatakan bahwa ia seorang pembunuh. Semua orang bahkan mengutuknya sebagai anak tak tahu diri saat ia berusia 10 tahun. Dan hampir seluruh media komunikasi menyebarkan berita bahwa ia adalah seorang pembunuh. Bahkan orang yang ia bunuh, bukan sekedar orang biasa. Melainkan ibunya sendiri.

Bagaimana mungkin ia tega membunuh seorang ibu yang sudah melahirkannya ke dunia ini?
Jaejoong merasakan air matanya jatuh membasahi pipi. Tangis itu tak mampu terbendung lagi setiap kali ia mengingat kejadian beberapa tahun silam.

****************

Suara petir bersambaran bak angkasa memaki kulit bumi. Hujan turun deras membuat suara petir dan aliran air berpacu mengisi keheningan malam yang dingin. Jaejoong duduk memeluk lutut di depan pintu yang terkunci, mendengarkan caci maki yang terdengar dari balik pintu itu.

“Kau habiskan uang untuk apa lagi?! Berjudi? Main perempuan?!” terdengar suara ibunya yang sangat jelas bernada marah.

“Memangnya kenapa kalau aku main perempuan? Itu kan uangku! Kau sama sekali tidak mencari uang!” kali ini suara ayahnya yang terdengar.

“Tapi kita punya anak! Dia masih sekolah! Seharusnya kau sadar bahwa uang itu harus dipakai untuk memenuhi kebutuhannya! Bukan untuk hal-hal tidak berguna seperti itu!”

“Kau tidak berhak mengaturku! Dasar perempuan tidak berguna!!”

“Kau yang tidak berguna!!”

PLAKK!!

Jaejoong memejamkan mata saat mendengar tamparan keras itu. Pasti ayahnya memukul ibunya lagi. Hal yang sudah sering terjadi, bahkan hampir setiap hari saat ayahnya pulang.

“Kenapa kau selalu seperti ini? Aku hanya ingin kau sadar bahwa kita perlu uang untuk menyekolahkan anak kita…” suara ibunya terdengar parau, pasti ibu menangis lagi.

“Dia tidak perlu sekolah! Aku akan menyuruhnya bekerja untuk membantuku mencari uang!”

“Jaejoong harus sekolah agar tidak tumbuh menjadi pria tak bermoral seperti ayahnya!!!”

“Kurang ajar kau!!!”

“Aaaakh…!”

Jaejoong langsung berdiri dan menggedor pintu saat ia mendengar ibunya menjerit. Tak lama kemudian, ayahnya membukakan pintu, menatap Jaejoong sepersekian detik, lalu pergi meninggalkan rumah dengan menerobos hujan.

Jaejoong tak mempedulikan ayahnya, ia segera masuk ke dalam kamar dan mendapati ibunya tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.

Sebuah belati tertancap sempurna di dada ibunya. Jaejoong berlari, menghampiri tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa.

“Umma…” ucap Jaejoong parau sambil mencabut belati yang tertancap di dada ibunya. “Kenapa umma meninggalkanku? Kalau umma pergi, aku dengan siapa…?” air mata Jaejoong mengalir berjatuhan di pipinya. Namun, saat ia akan mengangkat tubuh ibunya, beberapa orang masuk ke kamar. Mereka adalah para tetangga yang tadi mendengar suara teriakan.

“Ya Tuhan… apa yang kau lakukan, Kim Jaejoong? Kau… membunuh ibumu sendiri…?”

Saat itu Jaejoong hanya anak berusia 10 tahun yang tak tahu harus mengatakan apa. Dia sudah menjelaskan bahwa ini adalah perbuatan ayahnya, tapi tak ada yang percaya. Polisi pun mengatakan bahwa yang ada di belati itu hanya sidik jari Jaejoong. Pasti sidik jari ayahnya sudah terhapus saat ia mencabut belati itu.

Semua orang menghakiminya sebagai seorang pembunuh. Ia baru saja kehilangan ibu yang sangat dicintainya, satu-satunya orang yang melindunginya selama ini. Ia sudah tak punya keluarga lagi sekarang, dan lebih dari semua itu, dia harus masuk penjara untuk mempertanggungjawabkan sesuatu yang tak pernah dilakukannya. Karena sejak kejadian malam itu, sang ayah tak pernah muncul lagi, dan semua saksi mengatakan bahwa mereka tak melihat ayah Jaejoong di sekitar rumah itu sebelum dan sesudah kejadian. Tak ada seorangpun yang percaya dengan perkataan Jaejoong karena ia tidak memiliki bukti yang kuat.

Sejak saat itu, Jaejoong mulai belajar untuk menjalani hidup sebagai orang yang tidak mengenal rasa sakit. Dia akan melawan siapapun yang ia anggap tidak sejalan dengannya. Dan sejak saat itu pula, ia bersumpah atas nama ibunya, bahwa dia tidak akan pernah lagi sudi mempertanggungjawabkan suatu kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. Walau sekecil apapun kesalahan itu.

*******************

Tinju Jaejoong terkepal dengan erat saat ia mengingat masa lalunya itu. Ia mengembalikan pikirannya ke dunia yang dihadapinya saat ini. Dunianya yang tanpa ibu, tanpa orang yang menganggap bahwa dirinya bukan orang jahat. Tapi saat ini—karena terlalu sering dicap sebagai pembunuh—Jaejoong jadi merasa bahwa dia memang benar-benar seorang pembunuh.

Kini ia tak tahu harus pergi ke mana. Ia tak mungkin kembali lagi ke sekolah, dan ia juga tak bisa kembali ke panti asuhan. Ibu panti pasti akan langsung mencekiknya jika ia tahu bahwa Jaejoong bolos sekolah. Tak ada tempat yang terasa pantas untuknya di dunia ini. Dia merasa begitu tersisih dan sendirian.

***

Nako masih berlari di sepanjang koridor, tak mempedulikan Yunho yang berlari di belakangnya. Ia sudah cukup malu atas apa yang dikatakannya tadi di depan Yunho. Mengakui bahwa dia mencintai Yunho? Itu sungguh suatu kesalahan yang amat sangat besar.

“Tunggu!” suara Yunho terdengar lagi. Nako merasa kakinya lelah, tapi ia tak mau berhenti. Namun nyatanya, segigih apapun dia berlari, kekuatannya tidak imbang dengan kekuatan Yunho. Ia hanya bisa pasrah saat Yunho akhirnya memegang pergelangan tangannya dan membuatnya terpaksa berhenti.

“Aku mohon, lepaskan aku.” Ucap Nako dengan wajah tertunduk. Dia sudah nyaris menangis, dan dia tak ingin menunjukkan air matanya di depan Yunho.

“Aku ingin tanya satu hal padamu.” Suara Yunho terdengar serius. “Apakah kau benar-benar mencintaiku?” pertanyaan Yunho yang satu ini membuat Nako merasakan sesuatu dalam hatinya seolah berdesir kencang. Ia ingin mengatakan iya, tapi keberaniannya tidak cukup untuk melakukan itu. “Tatap mataku, dan jawablah, apa kau benar-benar mencintaiku, Nako?”

Untuk pertama kalinya Nako mendengar Yunho memanggil namanya. Selama ini Yunho selalu memanggilnya dengan sebutan Anak Jepang. Akhirnya Nako mengangkat wajahnya, menatap kedua bola mata Yunho yang setajam elang. Menikmati setiap lekuk dari wajah tampan milik pria yang berdiri di hadapannya itu. Dia tak bisa berbohong bahwa dia memang sangat mencintai Yunho. Bahkan tanpa ia sadari, perasaan itu bersemi di hatinya sejak pertama kali ia melihat wajah maskulin itu.

“Aku…” Nako merasa kalimatnya terjepit di ujung lidah. Yunho menatapnya semakin dalam, dan hangat. Seolah wajah tampan itu tengah menanti sebuah kalimat yang sudah begitu lama ingin didengarnya. “Aku memang mencintaimu, Yunho…”

“Benarkah?”

Nako mengangguk. Dia merasa sangat bodoh karena begitu mudah terjebak oleh pesona Yunho. Kini ia tak tahu apa yang ada di kepala Yunho setelah mendengar pengakuannya yang konyol itu.

“Kau ingin mendengar jawabanku?” tanya Yunho pelan. Jemarinya mengelus pipi Nako dengan lembut. Sebuah sentuhan yang membuat Nako serasa melayang-layang di angkasa. Ia pun mengangguk secara otomatis untuk mengiyakan pertanyaan Yunho. “Kalau begitu, aku tanya teman-temanku dulu, ya?”

Nako masih terpaku mendengarnya. Yunho… ingin bertanya pada teman-temannya?

“Hei, semuanya! Kalian dengar? Anak Jepang ini mengatakan bahwa dia mencintaiku! Menurut kalian, apa aku harus menerimanya?!” Yunho berteriak hingga menarik perhatian semua murid di sana.

Mereka semua mentertawakan dengan sinis sambil berseru, “Tolak saja! Dia tak pantas jadi pacarmu!”

Nako menatap orang-orang yang kini tertawa sambil berbisik-bisik mengejeknya. Dia lalu menatap ke arah Yunho yang tengah menatapnya sinis sambil melipat tangan. Ketiga anggota geng lain muncul dari balik lorong. Mereka semua menatapnya dari jauh, melemparkan tatapan jijik yang menyakitkan.

“Kau sudah dengar jawabannya, kan? Mereka semua menginginkan agar aku menolakmu. Jadi, kurasa itulah jawabanku.” Ujar Yunho menyindir.

“Kau jahat! Kau mempermainkan perasaanku! Aku benci padamu!” Nako segera berlari menerobos kerumunan anak-anak yang masih tertawa mengejeknya. Dia tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Dia merasa sangat bodoh karena telah berpikir bahwa Yunho akan menerima cintanya. Sudah jelas-jelas gadis lain yang lebih sempurna saja ditolak oleh Yunho.

Saat ini perasaan Nako benar-benar kacau. Dia merasa malu, kecewa, marah, semuanya bercampur menjadi satu. Dan tak ada satu orangpun yang bisa membuatnya merasa dihargai saat ini. Kecuali satu orang yang baru saja terlintas dalam benaknya. Kim Jaejoong! Ya, dia merasa hanya anak itu satu-satunya yang bisa ia ajak bicara. Jadi ia putuskan untuk berlari mencari Jaejoong.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar