Hembus angin yang mulai terasa
dingin membuat Jaejoong menutup matanya lagi. Dia sudah berlari hampir 5 km
jauhnya dari sekolah itu. Sekolah yang terasa seperti neraka. Dipenuhi dengan
orang-orang tak bermoral yang membuatnya jengah jika harus berada di
tengah-tengah mereka. Jaejoong kini sudah berada di sebuah tempat yang cukup
sesuai untuk menyendiri. Ia bisa merasakan air matanya hendak jatuh berlinang
ke pipi, tapi ia menghapusnya dengan cepat.
Bagaimana mungkin ia menangis
untuk sesuatu hal yang tidak dimengertinya?
Kata-kata Yoochun tadi masih
terngiang di telinganya. Ia kabur dari sekolah bukan karena sampah-sampah yang menimbun
mejanya, tapi karena ucapan Yoochun. Betapa menyakitkannya saat orang lain
mengatakan bahwa ia seorang pembunuh. Semua orang bahkan mengutuknya sebagai
anak tak tahu diri saat ia berusia 10 tahun. Dan hampir seluruh media
komunikasi menyebarkan berita bahwa ia adalah seorang pembunuh. Bahkan orang
yang ia bunuh, bukan sekedar orang biasa. Melainkan ibunya sendiri.
Bagaimana mungkin ia tega
membunuh seorang ibu yang sudah melahirkannya ke dunia ini?
Jaejoong merasakan air matanya
jatuh membasahi pipi. Tangis itu tak mampu terbendung lagi setiap kali ia
mengingat kejadian beberapa tahun silam.
****************
Suara petir bersambaran bak
angkasa memaki kulit bumi. Hujan turun deras membuat suara petir dan aliran air
berpacu mengisi keheningan malam yang dingin. Jaejoong duduk memeluk lutut di
depan pintu yang terkunci, mendengarkan caci maki yang terdengar dari balik
pintu itu.
“Kau habiskan uang untuk apa
lagi?! Berjudi? Main perempuan?!” terdengar suara ibunya yang sangat jelas
bernada marah.
“Memangnya kenapa kalau aku main
perempuan? Itu kan uangku! Kau sama sekali tidak mencari uang!” kali ini suara
ayahnya yang terdengar.
“Tapi kita punya anak! Dia masih
sekolah! Seharusnya kau sadar bahwa uang itu harus dipakai untuk memenuhi
kebutuhannya! Bukan untuk hal-hal tidak berguna seperti itu!”
“Kau tidak berhak mengaturku!
Dasar perempuan tidak berguna!!”
“Kau yang tidak berguna!!”
PLAKK!!
Jaejoong memejamkan mata saat
mendengar tamparan keras itu. Pasti ayahnya memukul ibunya lagi. Hal yang sudah
sering terjadi, bahkan hampir setiap hari saat ayahnya pulang.
“Kenapa kau selalu seperti ini?
Aku hanya ingin kau sadar bahwa kita perlu uang untuk menyekolahkan anak kita…”
suara ibunya terdengar parau, pasti ibu menangis lagi.
“Dia tidak perlu sekolah! Aku
akan menyuruhnya bekerja untuk membantuku mencari uang!”
“Jaejoong harus sekolah agar
tidak tumbuh menjadi pria tak bermoral seperti ayahnya!!!”
“Kurang ajar kau!!!”
“Aaaakh…!”
Jaejoong langsung berdiri dan
menggedor pintu saat ia mendengar ibunya menjerit. Tak lama kemudian, ayahnya
membukakan pintu, menatap Jaejoong sepersekian detik, lalu pergi meninggalkan
rumah dengan menerobos hujan.
Jaejoong tak mempedulikan
ayahnya, ia segera masuk ke dalam kamar dan mendapati ibunya tergeletak di
lantai dengan bersimbah darah.
Sebuah belati tertancap sempurna
di dada ibunya. Jaejoong berlari, menghampiri tubuh ibunya yang sudah tak
bernyawa.
“Umma…” ucap Jaejoong parau
sambil mencabut belati yang tertancap di dada ibunya. “Kenapa umma
meninggalkanku? Kalau umma pergi, aku dengan siapa…?” air mata Jaejoong
mengalir berjatuhan di pipinya. Namun, saat ia akan mengangkat tubuh ibunya,
beberapa orang masuk ke kamar. Mereka adalah para tetangga yang tadi mendengar
suara teriakan.
“Ya Tuhan… apa yang kau lakukan,
Kim Jaejoong? Kau… membunuh ibumu sendiri…?”
Saat itu Jaejoong hanya anak
berusia 10 tahun yang tak tahu harus mengatakan apa. Dia sudah menjelaskan
bahwa ini adalah perbuatan ayahnya, tapi tak ada yang percaya. Polisi pun
mengatakan bahwa yang ada di belati itu hanya sidik jari Jaejoong. Pasti sidik
jari ayahnya sudah terhapus saat ia mencabut belati itu.
Semua orang menghakiminya sebagai
seorang pembunuh. Ia baru saja kehilangan ibu yang sangat dicintainya,
satu-satunya orang yang melindunginya selama ini. Ia sudah tak punya keluarga
lagi sekarang, dan lebih dari semua itu, dia harus masuk penjara untuk
mempertanggungjawabkan sesuatu yang tak pernah dilakukannya. Karena sejak
kejadian malam itu, sang ayah tak pernah muncul lagi, dan semua saksi
mengatakan bahwa mereka tak melihat ayah Jaejoong di sekitar rumah itu sebelum
dan sesudah kejadian. Tak ada seorangpun yang percaya dengan perkataan Jaejoong
karena ia tidak memiliki bukti yang kuat.
Sejak saat itu, Jaejoong mulai
belajar untuk menjalani hidup sebagai orang yang tidak mengenal rasa sakit. Dia
akan melawan siapapun yang ia anggap tidak sejalan dengannya. Dan sejak saat
itu pula, ia bersumpah atas nama ibunya, bahwa dia tidak akan pernah lagi sudi
mempertanggungjawabkan suatu kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. Walau
sekecil apapun kesalahan itu.
*******************
Tinju Jaejoong terkepal dengan
erat saat ia mengingat masa lalunya itu. Ia mengembalikan pikirannya ke dunia
yang dihadapinya saat ini. Dunianya yang tanpa ibu, tanpa orang yang menganggap
bahwa dirinya bukan orang jahat. Tapi saat ini—karena terlalu sering dicap
sebagai pembunuh—Jaejoong jadi merasa bahwa dia memang benar-benar seorang
pembunuh.
Kini ia tak tahu harus pergi ke
mana. Ia tak mungkin kembali lagi ke sekolah, dan ia juga tak bisa kembali ke
panti asuhan. Ibu panti pasti akan langsung mencekiknya jika ia tahu bahwa
Jaejoong bolos sekolah. Tak ada tempat yang terasa pantas untuknya di dunia
ini. Dia merasa begitu tersisih dan sendirian.
***
Nako masih berlari di sepanjang
koridor, tak mempedulikan Yunho yang berlari di belakangnya. Ia sudah cukup
malu atas apa yang dikatakannya tadi di depan Yunho. Mengakui bahwa dia
mencintai Yunho? Itu sungguh suatu kesalahan yang amat sangat besar.
“Tunggu!” suara Yunho terdengar
lagi. Nako merasa kakinya lelah, tapi ia tak mau berhenti. Namun nyatanya,
segigih apapun dia berlari, kekuatannya tidak imbang dengan kekuatan Yunho. Ia
hanya bisa pasrah saat Yunho akhirnya memegang pergelangan tangannya dan
membuatnya terpaksa berhenti.
“Aku mohon, lepaskan aku.” Ucap
Nako dengan wajah tertunduk. Dia sudah nyaris menangis, dan dia tak ingin
menunjukkan air matanya di depan Yunho.
“Aku ingin tanya satu hal
padamu.” Suara Yunho terdengar serius. “Apakah kau benar-benar mencintaiku?”
pertanyaan Yunho yang satu ini membuat Nako merasakan sesuatu dalam hatinya
seolah berdesir kencang. Ia ingin mengatakan iya, tapi keberaniannya tidak
cukup untuk melakukan itu. “Tatap mataku, dan jawablah, apa kau benar-benar
mencintaiku, Nako?”
Untuk pertama kalinya Nako mendengar
Yunho memanggil namanya. Selama ini Yunho selalu memanggilnya dengan sebutan
Anak Jepang. Akhirnya Nako mengangkat wajahnya, menatap kedua bola mata Yunho
yang setajam elang. Menikmati setiap lekuk dari wajah tampan milik pria yang
berdiri di hadapannya itu. Dia tak bisa berbohong bahwa dia memang sangat
mencintai Yunho. Bahkan tanpa ia sadari, perasaan itu bersemi di hatinya sejak
pertama kali ia melihat wajah maskulin itu.
“Aku…” Nako merasa kalimatnya
terjepit di ujung lidah. Yunho menatapnya semakin dalam, dan hangat. Seolah
wajah tampan itu tengah menanti sebuah kalimat yang sudah begitu lama ingin
didengarnya. “Aku memang mencintaimu, Yunho…”
“Benarkah?”
Nako mengangguk. Dia merasa
sangat bodoh karena begitu mudah terjebak oleh pesona Yunho. Kini ia tak tahu
apa yang ada di kepala Yunho setelah mendengar pengakuannya yang konyol itu.
“Kau ingin mendengar jawabanku?”
tanya Yunho pelan. Jemarinya mengelus pipi Nako dengan lembut. Sebuah sentuhan
yang membuat Nako serasa melayang-layang di angkasa. Ia pun mengangguk secara
otomatis untuk mengiyakan pertanyaan Yunho. “Kalau begitu, aku tanya
teman-temanku dulu, ya?”
Nako masih terpaku mendengarnya.
Yunho… ingin bertanya pada teman-temannya?
“Hei, semuanya! Kalian dengar?
Anak Jepang ini mengatakan bahwa dia mencintaiku! Menurut kalian, apa aku harus
menerimanya?!” Yunho berteriak hingga menarik perhatian semua murid di sana.
Mereka semua mentertawakan dengan
sinis sambil berseru, “Tolak saja! Dia tak pantas jadi pacarmu!”
Nako menatap orang-orang yang
kini tertawa sambil berbisik-bisik mengejeknya. Dia lalu menatap ke arah Yunho
yang tengah menatapnya sinis sambil melipat tangan. Ketiga anggota geng lain
muncul dari balik lorong. Mereka semua menatapnya dari jauh, melemparkan
tatapan jijik yang menyakitkan.
“Kau sudah dengar jawabannya,
kan? Mereka semua menginginkan agar aku menolakmu. Jadi, kurasa itulah
jawabanku.” Ujar Yunho menyindir.
“Kau jahat! Kau mempermainkan
perasaanku! Aku benci padamu!” Nako segera berlari menerobos kerumunan
anak-anak yang masih tertawa mengejeknya. Dia tidak menyangka semuanya akan
berakhir seperti ini. Dia merasa sangat bodoh karena telah berpikir bahwa Yunho
akan menerima cintanya. Sudah jelas-jelas gadis lain yang lebih sempurna saja
ditolak oleh Yunho.
Saat ini perasaan Nako
benar-benar kacau. Dia merasa malu, kecewa, marah, semuanya bercampur menjadi
satu. Dan tak ada satu orangpun yang bisa membuatnya merasa dihargai saat ini.
Kecuali satu orang yang baru saja terlintas dalam benaknya. Kim Jaejoong! Ya,
dia merasa hanya anak itu satu-satunya yang bisa ia ajak bicara. Jadi ia
putuskan untuk berlari mencari Jaejoong.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar