Author POV
TOK! TOK! TOK.
Junsu mengetuk pintu kamar Yunho.
“Masuk.” Itu suara Yunho, Junsu membuka pintu dan
masuk kedalamnya.
“Junsu?” Yunho berkata sambil memegangi keningnya yang
dibalut perban.
“Ya ini aku hyung.”
“Kau melihat Yoochun?”
“Tidak, aku belum bertemu dengannya.” Jawab Junsu
malas. “Hyung, aku minta maaf.”
“Sudahlah.” Yunho tersenyum. “Ada keperluan apa kau
kemari?”
“Aku..” Junsu tak melanjutkan kalimatnya.
“Ya?” Yunho berkata, dia menaikan sebelah alisnya.
“Aku, akan segera terikat kontrak.”
“Apa?! Apa maksudmu?” Sekarang Yunho berdiri,
terdengar nada tidak percaya pada suaranya.
“Aku akan memulai debut-ku sebagai penyanyi solo.”
“JUNSU!! Apa kau sudah gila?!” Yunho berteriak kearah
Junsu.
“Aku tidak gila hyung!” Junsu kembali berteriak.
“Ada apa denganmu?!” Yunho semakin tidak dapat
mengendalikan emosinya, dia berteriak.
“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu!! Kenapa?! Kenapa
kau bersikap seperti ini?!” Yunho mulai membentak Junsu. “Kenapa?! Kenapa
masalah ini berawal dari KEEGOISANMU!!! Kenapa kau tidak bisa mengesampingkan
egomu dan memaafkan orang lain?!”
“Sampai kapanpun akku tak akan sudi meminta maaf
kepada SM!” junsu berteriak. “Sampai kapanpun, bahkan sampai aku mati!”
“Kau harus menolak tawaran untuk bernyanyi solo!”
“Kau pikir kau ini siapa?!” Kata Junsu. “Kau tak
berhak mengaturku!!!”
“Tak bisakah kau memikirkan perasaan yang lain?!” Mata
Yunho mulai berkaca-kaca. “Tak maukah kau membentuk kembali group yang telah
lama beristirahat ?! Tak bisakah kau memikirkan perasaan Cassiopeia?!”
“Aku berusaha memikirkan perasaan yang lain!” Junsu
terdiam sebentar. “Tapi kalian tak bisa memahami perasaanku!!”
“Kau ini.” Yunho menarik kerah baju Junsu dan
mendorongnya ke tembok. “Kenapa kau melakukan hal ini?! kau mau menghancurkana
persahabatan kita?!”
“Hyung, aku lelah dengan semua ini. Aku tak mau
persahaban kita hancur.” Kata Junsu, dia terisak. “Aku mau membentuk kembali
DBSK, tetapi tidak dibawah kekuasaan SM.”
“Kita bisa membicarakan ini bersama! Tapi apa yang kau
lakukan?! Menerima tawaran bodoh itu!! Apa itu mimpimu?! Menjadi penyanyi
solo!!”
“Aku.. aku..”
“Kau ini EGOIS!” Yunho kembali berteriak, dia semakin
mempererat pegangannya, men-cengkram kerah baju Junsu.
“Kau pikir kau tidak egois?!” Junsu berteriak. “Aku
meyesal telah mengenal kalian semua! Aku menyesal pernah tergabung dalam group
Dong Bang Shin Ki! Aku SANGAT MENYESAL.”
Yunho sudah mengepalkan tanganya, bersiap meninju Junsu.
“Apa?!!” Junsu berkata, dia melihat Yunho mengepalkan
tangannya. “Kau ingin memukulku?! Silahkan!!”
“Kau!!!”
BUKKKK! Yunho telah melayangkan tinjunya.
Junsu membuka mata, dia bersumpah bahwa dia mendengar
sesuatu dipukul, tetapi dia tidak merasa sakit sedikitpun.
Junsu menatap wajah Yunho hyung, matanya memancarkan
kemarahan yang luar biasa.
Yunho? Dia tidak melayangkan pukulannya ke Junsu, melainkan ke tembok. Junsu menatap ngeri. Tangan Yunho mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Tembok yang terkena pukulan Yunho terlihat retak dan meninggalkan bekas yang cukup dalam.
Yunho? Dia tidak melayangkan pukulannya ke Junsu, melainkan ke tembok. Junsu menatap ngeri. Tangan Yunho mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Tembok yang terkena pukulan Yunho terlihat retak dan meninggalkan bekas yang cukup dalam.
Aliran darah itu tidak berhenti, mengalir melewati
jemarinya. Yunho? Apa dia tidak merasa sakit.
***
Hana POV
BRUKK! Suara pintu ditutup. Yoochun oppa sudah pergi,
sekarang hanya ada aku dan Jaejoong oppa.
“Hana, maafkan aku.” Jaejoong oppa mencoba meraih
jemariku, tapi aku tak mau menyentuh tangannya.
Aku merasa perutku sangat mual. Tiba-tiba kepalaku
merasa pusing.
“Hana. Dengarkan aku.” Jaejoong hyung membelai
rambutku, aku tak dapat menjawab karena aku benar-benar merasa mual.
Aku menutup mulutku. “Hana?” Jaejoong oppa terlihat
khawatir. “Kau baik-baik saja?”
“Huekss.” Aku menutup mulutku.
“Aku akan memanggilkan Dokter.” Dia berkata sambil
berdiri, aku memegang tangannya dan menggelengan kepalaku. Memberi tanda
kepadanya bahwa aku tak membutuhkan Dokter saat ini, yang aku butuhkan hanya
dia berada di sampingku.
Dia kembali duduk di sampingku. Aku meletakan jepalaku
di bahunya, dan dia membelai rambutku.
“Hana, aku minta maaf.” Dia mulai berbicara kembali.
“Aku tau, aku telah bersikap kasar padamu.”
“Huekkss…” Aku masih menutup rapat mulutku dengan
kedua tanganku.
“Hana?” Dia menatap wajahku. “Kau ingin muntah?”
“Huekkks…” aku sudah tidak kuat lagi, aku berlari
menuju kamar mandi,
“Hana? Hana? Jawab aku!” Jaejoong hyung mengetuk pintu
dengan sangat keras.
“Huekkss…. Huekss….. Huekksss….” Aku memuntahkan
semuanya, walaupun tak ada yang keluar aku tetap merasa mual. Aku lemas, dan
aku tidak dapat merasakan tubuhku lagi. aku merasa sangat lemah.
“HANA!!!” Jaejoong oppa melihatku tergeletak antara
sadar dan tidak sadar, dia meng-gendongku dan segera memangigil dokter.
Selama Dokter itu memeriksaku, Jaejoong oppa
menggenggam erat jemariku dan membelai rambutku. Membisikan kata-kata yang membuatku
sedikit tenang.
“Hana, kau harus kuat demi anak kita.” Jaejoong oppa
berkata di dekat telinganku. “Aku berjanji aku akan selalu di sampingmu.”
Setelah beberapa saat Dokter selesai memeriksakku,
Jaejoong oppa berdiri dan menghampiri Dokter itu, aku masih sempat mendengar
pembicaraan antara Dokter dengan Jaejoong oppa.
“Bagaimana keadaan istri saya Dok?”
“Kondisi kesehatan istri anda sangat lemah. kurasa dia
mengalami tekanan batin.” Dokter itu berkata. “Kau harus lebih sering
memperhatikan istri anda Tuan Kim. Jangan membuatnya stress dan banyak pikiran
karena akan mempengaruhi janin yang ada dalam kandungannya.”
“Baiklah Dokter. Terima kasih.” Jaejoong oppa
membungkuk sopan.
***
Author POV
Masih ada sedikit perasaan kesal di hati Yoochun atas
sikap Jaejoong tadi. Sedikit? Ah, entahlah. Perasaan kesal itu masih membumbung
tinggi dalam dadanya. Ia tidak tahu apa yang dilakukan Jaejoong pada Hana
setelah ia keluar dari kamar itu. Mungkin mereka berbaikan, atau mungkin juga
mereka bertengkar semakin hebat. Yoochun benar-benar tidak bisa mengerti jalan
pikiran Jaejoong. Bagaimana bisa dia membentak istrinya yang sedang hamil,
sementara Hana tidak salah apa-apa? Yoochun memukul tembok lift saat dia bermaksud
ke kamar Yunho. Dia akan pamit pulang pada Yunho. Kepalanya sudah benar-benar
pusing memikirkan semua hal yang terjadi hari ini. Dia tidak ingin menambah
beban pikirannya lagi.
Tapi saat dia sampai di depan pintu kamar Yunho, ia
mendengar suara Junsu. Ia langsung tercekat dan membuka pintu kamar dengan ganas.
Dilihatnya Yunho dan Junsu tengah saling bertatapan dengan sinis. Tapi tatapan
itu tertuju padanya saat ia masuk ke dalam kamar.
“Junsu?” ucap Yoochun sambil berjalan mendekat. Ia
merasa gemetar di sekujur tubuhnya.
“Baguslah kau datang, Yoochun. Kurasa Junsu ingin
menyampaikan sesuatu padamu.” Ucap Yunho. Kini Yoochun mengalihkan pandangannya
pada Junsu, menunggu Junsu membuka suara. Tapi setelah beberapa saat, Junsu tak
juga membuka mulutnya. “Cepat katakan hal itu padanya! Kenapa? Kau tidak berani?!”
Yunho tiba-tiba memecah keheningan.
Junsu mengangkat wajahnya, memandang Yoochun dengan
tatapan bersalah. Bahkan di saat Junsu belum mengatakan apa-apa, Yoochun sudah
bisa merasakan kedua bola mata itu berbicara. Memberitahunya sebuah kabar yang
membuat ia nyaris menangis tanpa tahu apa yang ditangisinya. Perlahan Junsu
membuka mulutnya, tapi tak ada suara yang terdengar.
Apa? Apa, Junsu? Apa yang ingin kau katakan? Yoochun
bertanya-tanya dalam hati.
“Hyung…” Junsu akhirnya mengeluarkan kata pertamanya. Yoochun
menelan ludah, rasa takut dan cemas menyelimuti sekujur tubuhnya. “Aku akan
menjadi penyanyi solo…”
Tik tok tik tok
Suara jam dinding di dalam kamar itu mengisi bait-bait
waktu yang terasa hilang. Yoochun masih tak bereaksi. Dia hanya berdiri mematung,
menatap wajah Junsu yang sudah sembab karena menangis. Sementara Yunho? Dia
hanya sedang mencoba menenangkan dirinya dengan menarik napas panjang beberapa
kali. Tak ada… tak ada yang bisa dikatakan Yoochun untuk menanggapi apa yang
baru saja didengarnya.
“Aku minta maaf…” Junsu berkata lagi. “Aku tahu tak
seharusnya aku…”
“KAU PENGKHIANAT!!” Yoochun tiba-tiba berteriak.
Suaranya menggema di seisi kamar. “Enak sekali kau bilang kalau kau akan
menjadi penyanyi solo. Kau menggunakan otakmu tidak?!”
Junsu tak menjawab. Dia hanya menunduk menatap lantai
di antara pijakan kakinya.
“Aku tidak percaya ternyata kau sangat licik. Baiklah,
kalau memang ini yang kau inginkan. Aku akan menemui produser, dan mengatakan
bahwa aku bersedia membentuk kembali DBSK. Dengan, atau tanpa kalian berempat!”
Yoochun melesat pergi begitu saja dan mem-banting pintu.
Suasana hening sejenak.
“Kau puas sekarang?” tanya Yunho memojokkan. “Membuat
keadaan semakin kacau. Apa kau sudah puas?! Aku bertanya padamu, Kim Junsu!!”
“Aku sudah puas, hyung. Sangat puas. Lantas kenapa?”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar