Welcome

Rabu, 16 Mei 2012

DBSK comeback? (part 14)


Author POV

TOK! TOK! TOK.

Junsu mengetuk pintu kamar Yunho.

“Masuk.” Itu suara Yunho, Junsu membuka pintu dan masuk kedalamnya.

“Junsu?” Yunho berkata sambil memegangi keningnya yang dibalut perban.

“Ya ini aku hyung.”

“Kau melihat Yoochun?”

“Tidak, aku belum bertemu dengannya.” Jawab Junsu malas. “Hyung, aku minta maaf.”

“Sudahlah.” Yunho tersenyum. “Ada keperluan apa kau kemari?”

“Aku..” Junsu tak melanjutkan kalimatnya.

“Ya?” Yunho berkata, dia menaikan sebelah alisnya.

“Aku, akan segera terikat kontrak.”

“Apa?! Apa maksudmu?” Sekarang Yunho berdiri, terdengar nada tidak percaya pada suaranya.

“Aku akan memulai debut-ku sebagai penyanyi solo.”

“JUNSU!! Apa kau sudah gila?!” Yunho berteriak kearah Junsu.

“Aku tidak gila hyung!” Junsu kembali berteriak.

“Ada apa denganmu?!” Yunho semakin tidak dapat mengendalikan emosinya, dia berteriak.

“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu!! Kenapa?! Kenapa kau bersikap seperti ini?!” Yunho mulai membentak Junsu. “Kenapa?! Kenapa masalah ini berawal dari KEEGOISANMU!!! Kenapa kau tidak bisa mengesampingkan egomu dan memaafkan orang lain?!”

“Sampai kapanpun akku tak akan sudi meminta maaf kepada SM!” junsu berteriak. “Sampai kapanpun, bahkan sampai aku mati!”

“Kau harus menolak tawaran untuk bernyanyi solo!”

“Kau pikir kau ini siapa?!” Kata Junsu. “Kau tak berhak mengaturku!!!”

“Tak bisakah kau memikirkan perasaan yang lain?!” Mata Yunho mulai berkaca-kaca. “Tak maukah kau membentuk kembali group yang telah lama beristirahat ?! Tak bisakah kau memikirkan perasaan Cassiopeia?!”

“Aku berusaha memikirkan perasaan yang lain!” Junsu terdiam sebentar. “Tapi kalian tak bisa memahami perasaanku!!”

“Kau ini.” Yunho menarik kerah baju Junsu dan mendorongnya ke tembok. “Kenapa kau melakukan hal ini?! kau mau menghancurkana persahabatan kita?!”

“Hyung, aku lelah dengan semua ini. Aku tak mau persahaban kita hancur.” Kata Junsu, dia terisak. “Aku mau membentuk kembali DBSK, tetapi tidak dibawah kekuasaan SM.”

“Kita bisa membicarakan ini bersama! Tapi apa yang kau lakukan?! Menerima tawaran bodoh itu!! Apa itu mimpimu?! Menjadi penyanyi solo!!”

“Aku.. aku..”

“Kau ini EGOIS!” Yunho kembali berteriak, dia semakin mempererat pegangannya, men-cengkram kerah baju Junsu.

“Kau pikir kau tidak egois?!” Junsu berteriak. “Aku meyesal telah mengenal kalian semua! Aku menyesal pernah tergabung dalam group Dong Bang Shin Ki! Aku SANGAT MENYESAL.”

Yunho sudah mengepalkan tanganya, bersiap meninju Junsu.

“Apa?!!” Junsu berkata, dia melihat Yunho mengepalkan tangannya. “Kau ingin memukulku?! Silahkan!!”

“Kau!!!”

BUKKKK! Yunho telah melayangkan tinjunya.

Junsu membuka mata, dia bersumpah bahwa dia mendengar sesuatu dipukul, tetapi dia tidak merasa sakit sedikitpun.

Junsu menatap wajah Yunho hyung, matanya memancarkan kemarahan yang luar biasa.
Yunho? Dia tidak melayangkan pukulannya ke Junsu, melainkan ke tembok. Junsu menatap ngeri. Tangan Yunho mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Tembok yang terkena pukulan Yunho terlihat retak dan meninggalkan bekas yang cukup dalam.

Aliran darah itu tidak berhenti, mengalir melewati jemarinya. Yunho? Apa dia tidak merasa sakit.

***

Hana POV

BRUKK! Suara pintu ditutup. Yoochun oppa sudah pergi, sekarang hanya ada aku dan Jaejoong oppa.

“Hana, maafkan aku.” Jaejoong oppa mencoba meraih jemariku, tapi aku tak mau menyentuh tangannya.
Aku merasa perutku sangat mual. Tiba-tiba kepalaku merasa pusing.

“Hana. Dengarkan aku.” Jaejoong hyung membelai rambutku, aku tak dapat menjawab karena aku benar-benar merasa mual.

Aku menutup mulutku. “Hana?” Jaejoong oppa terlihat khawatir. “Kau baik-baik saja?”

“Huekss.” Aku menutup mulutku.

“Aku akan memanggilkan Dokter.” Dia berkata sambil berdiri, aku memegang tangannya dan menggelengan kepalaku. Memberi tanda kepadanya bahwa aku tak membutuhkan Dokter saat ini, yang aku butuhkan hanya dia berada di sampingku.

Dia kembali duduk di sampingku. Aku meletakan jepalaku di bahunya, dan dia membelai rambutku.

“Hana, aku minta maaf.” Dia mulai berbicara kembali. “Aku tau, aku telah bersikap kasar padamu.”

“Huekkss…” Aku masih menutup rapat mulutku dengan kedua tanganku.

“Hana?” Dia menatap wajahku. “Kau ingin muntah?”

“Huekkks…” aku sudah tidak kuat lagi, aku berlari menuju kamar mandi,

“Hana? Hana? Jawab aku!” Jaejoong hyung mengetuk pintu dengan sangat keras.

“Huekkss…. Huekss….. Huekksss….” Aku memuntahkan semuanya, walaupun tak ada yang keluar aku tetap merasa mual. Aku lemas, dan aku tidak dapat merasakan tubuhku lagi. aku merasa sangat lemah.

“HANA!!!” Jaejoong oppa melihatku tergeletak antara sadar dan tidak sadar, dia meng-gendongku dan segera memangigil dokter.

Selama Dokter itu memeriksaku, Jaejoong oppa menggenggam erat jemariku dan membelai rambutku. Membisikan kata-kata yang membuatku sedikit tenang.

“Hana, kau harus kuat demi anak kita.” Jaejoong oppa berkata di dekat telinganku. “Aku berjanji aku akan selalu di sampingmu.”

Setelah beberapa saat Dokter selesai memeriksakku, Jaejoong oppa berdiri dan menghampiri Dokter itu, aku masih sempat mendengar pembicaraan antara Dokter dengan Jaejoong oppa.

“Bagaimana keadaan istri saya Dok?”

“Kondisi kesehatan istri anda sangat lemah. kurasa dia mengalami tekanan batin.” Dokter itu berkata. “Kau harus lebih sering memperhatikan istri anda Tuan Kim. Jangan membuatnya stress dan banyak pikiran karena akan mempengaruhi janin yang ada dalam kandungannya.”

“Baiklah Dokter. Terima kasih.” Jaejoong oppa membungkuk sopan.

***

Author POV

Masih ada sedikit perasaan kesal di hati Yoochun atas sikap Jaejoong tadi. Sedikit? Ah, entahlah. Perasaan kesal itu masih membumbung tinggi dalam dadanya. Ia tidak tahu apa yang dilakukan Jaejoong pada Hana setelah ia keluar dari kamar itu. Mungkin mereka berbaikan, atau mungkin juga mereka bertengkar semakin hebat. Yoochun benar-benar tidak bisa mengerti jalan pikiran Jaejoong. Bagaimana bisa dia membentak istrinya yang sedang hamil, sementara Hana tidak salah apa-apa? Yoochun memukul tembok lift saat dia bermaksud ke kamar Yunho. Dia akan pamit pulang pada Yunho. Kepalanya sudah benar-benar pusing memikirkan semua hal yang terjadi hari ini. Dia tidak ingin menambah beban pikirannya lagi.

Tapi saat dia sampai di depan pintu kamar Yunho, ia mendengar suara Junsu. Ia langsung tercekat dan membuka pintu kamar dengan ganas. Dilihatnya Yunho dan Junsu tengah saling bertatapan dengan sinis. Tapi tatapan itu tertuju padanya saat ia masuk ke dalam kamar.

“Junsu?” ucap Yoochun sambil berjalan mendekat. Ia merasa gemetar di sekujur tubuhnya.

“Baguslah kau datang, Yoochun. Kurasa Junsu ingin menyampaikan sesuatu padamu.” Ucap Yunho. Kini Yoochun mengalihkan pandangannya pada Junsu, menunggu Junsu membuka suara. Tapi setelah beberapa saat, Junsu tak juga membuka mulutnya. “Cepat katakan hal itu padanya! Kenapa? Kau tidak berani?!” Yunho tiba-tiba memecah keheningan.

Junsu mengangkat wajahnya, memandang Yoochun dengan tatapan bersalah. Bahkan di saat Junsu belum mengatakan apa-apa, Yoochun sudah bisa merasakan kedua bola mata itu berbicara. Memberitahunya sebuah kabar yang membuat ia nyaris menangis tanpa tahu apa yang ditangisinya. Perlahan Junsu membuka mulutnya, tapi tak ada suara yang terdengar.

Apa? Apa, Junsu? Apa yang ingin kau katakan? Yoochun bertanya-tanya dalam hati.

“Hyung…” Junsu akhirnya mengeluarkan kata pertamanya. Yoochun menelan ludah, rasa takut dan cemas menyelimuti sekujur tubuhnya. “Aku akan menjadi penyanyi solo…”

Tik tok tik tok

Suara jam dinding di dalam kamar itu mengisi bait-bait waktu yang terasa hilang. Yoochun masih tak bereaksi. Dia hanya berdiri mematung, menatap wajah Junsu yang sudah sembab karena menangis. Sementara Yunho? Dia hanya sedang mencoba menenangkan dirinya dengan menarik napas panjang beberapa kali. Tak ada… tak ada yang bisa dikatakan Yoochun untuk menanggapi apa yang baru saja didengarnya.

“Aku minta maaf…” Junsu berkata lagi. “Aku tahu tak seharusnya aku…”

“KAU PENGKHIANAT!!” Yoochun tiba-tiba berteriak. Suaranya menggema di seisi kamar. “Enak sekali kau bilang kalau kau akan menjadi penyanyi solo. Kau menggunakan otakmu tidak?!”

Junsu tak menjawab. Dia hanya menunduk menatap lantai di antara pijakan kakinya.

“Aku tidak percaya ternyata kau sangat licik. Baiklah, kalau memang ini yang kau inginkan. Aku akan menemui produser, dan mengatakan bahwa aku bersedia membentuk kembali DBSK. Dengan, atau tanpa kalian berempat!” Yoochun melesat pergi begitu saja dan mem-banting pintu.

Suasana hening sejenak.

“Kau puas sekarang?” tanya Yunho memojokkan. “Membuat keadaan semakin kacau. Apa kau sudah puas?! Aku bertanya padamu, Kim Junsu!!”

“Aku sudah puas, hyung. Sangat puas. Lantas kenapa?”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar